Tuesday, March 04, 2014

// // Leave a Comment

Mulia Dengan Manhaj Sahabat Nabi [Goresan Pena Tanya Syiah Part 2]

Mulia Dengan Manhaj Sahabat Nabi [Goresan Pena Tanya Syiah Part 2]

Sesungguhnya setiap umat itu memiliki pendahulu (salaf) yang shalih di mana orang-orang setelah mereka mencontohi mereka, berjalan pada langkah-langkah mereka, mengikuti jejak-jejak mereka, menempuh jalan mereka, meneladani pada seluruh keadaan mereka, dan sesungguhnya pendahulu (salaf) yang shalih pada umat ini adalah para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Mereka para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah diberi nikmat oleh Allah Ta’ala dengan meneguk ilmu langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tanpa perantara, yang merupakan kelebihan bagi mereka (Shahabat), tidak ada sebuah generasi yang dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam selain para Shahabat. Dengan demikian generasi Shahabat adalah generasi yang mendapatkan ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, di mana sanad mereka (Shahabat) langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari Jibril ‘alaihi Sallam dan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah sanad yang shahih. Mereka (Shahabat) menyampaikan wasiat dan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada para Tabi’in, kemudian diteruskan kepada Tabi’ut Tabi’in yang menempuh jalan yang lurus.

Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Shiddiqin seperti Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, orang-orang yang mati syahid seperti ‘Umar bin al-Khatthab asy-Syahid Radhiyallahu ‘anhu dan orang-orang shalih. Karena ilmu dan amal mereka yang senantiasa ditujukan demi kepentingan Islam.

Orang yang mengikuti jejak dua Khalifah setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan ‘Umar bin al-Khatthab asy-Syahid Radhiyallahu ‘anhuma, maka ia telah mengikuti kebenaran, dan siapa yang mengikuti kebenaran berarti ia telah mengikuti Islam, dan siapa yang mengikuti Islam berarti ia telah mengikuti al-Qur’an, al-Qur’an adalah Kitabullah dan tali Allah yang kokoh, jalan-Nya yang lurus [الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ].

Sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam al-Qur’an,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَصِراطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus.
(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [QS. Al-Faatihah : 6-7]

وَأَمَّا الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ فَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو جَعْفَرِ بْنُ جَرِيرٍ
Sedangkan mengenai [الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ] “jalan yang lurus,” berkata Imam Abu Ja’far bin Jarir :

أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ مِنْ أَهْلِ التَّأْوِيلِ جَمِيعًا عَلَى أَنَّ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ هُوَ الطَّرِيقُ الْوَاضِحُ الَّذِي لَا اعْوِجَاجَ فيه وكذلك فِي لُغَةِ جَمِيعِ الْعَرَبِ، فَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ جرير بن عطية الخطفي
Seluruh ahli tafsir bersepakat bahwa maksud [الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ] adalah jalan yang terang dan lurus, tidak ada kebengkokan padanya. Demikian yang dikenal dalam bahasa seluruh bangsa Arab. Di antaranya adalah perkataan Jarir bin ‘Athiyyah al-Khathfi :

أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى صِرَاطٍإِذَا اعْوَجَّ الْمَوَارِدُ مُسْتَقِيمُ
Amirul Mukminin berada di atas jalan yang lurus
Manakala persimpangan-persimpangan mulai bengkok

قَالَ: وَالشَّوَاهِدُ عَلَى ذَلِكَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ. قَالَ: ثُمَّ تَسْتَعِيرُ الْعَرَبُ الصِّرَاطَ فَتَسْتَعْمِلُهُ فِي كُلِّ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وُصِفَ بِاسْتِقَامَةٍ أَوِ اعْوِجَاجٍ فَتَصِفُ الْمُسْتَقِيمَ بِاسْتِقَامَتِهِ وَالْمُعْوَجَّ بِاعْوِجَاجِهِ
Ibnu Jarir berkata : Pendukung-pendukung bagi makna ini sangat banyak sehingga tidak bisa disebutkan satu persatu. Kemudian, orang Arab menggunakan kata [الصِّرَاطَ] untuk makna-makna lain, di antaranya adalah untuk setiap ucapan, perbuatan atau sifat yang lurus atau bengkok. Disifatkan [الْمُسْتَقِيمَ] karena kelurusannya dan disebut [الْمُعْوَجَّ] karena kebengkokannya.

قال: هو الإسلام. وفي هَذَا الْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ
Yang dimaksud (jalan yang lurus) adalah Islam. Seperti yang ada di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya :

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا ولا تتفرّجوا ، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ- فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ- فَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ»
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah telah membuat sebuah perumpamaan [صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا] jalan yang lurus, di mana di dua sisi [الصِّرَاطِ] “shirath” terdapat dua pagar. Di pagar tersebut terdapat pintu-pintu yang terbuka. Dan di pintu-pintu itu terdapat tirai-tirai yang terurai. Di depan [الصِّرَاطِ] “shirath” terdapat seorang yang berseru : ‘Wahai manusia, masuklah kalian semua ke dalam [الصِّرَاطَ] “shirath” ini dan janganlah berbelok.’ Dan di atas [الصِّرَاطِ] “shirath” terdapat penyeru yang akan berseru, apabila ada seorang manusia yang ingin membuka pintu-pintu tersebut, penyeru tersebut berkata : ‘Celaka (hati-hatilah) kamu, janganlah engkau membukanya –Jika engkau membukanya, niscaya engkau akan terperosok masuk ke dalamnya-‘. [فَالصِّرَاطُ] “shirath” tersebut adalah Islam. Pagar-pagar itu adalah batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkara-perkara yang diharamkan Allah. Penyeru di depan [الصِّرَاطِ] “shirath” adalah Kitabullah. Dan penyeru di atas [الصِّرَاطِ] “shirath” adalah pemberi peringatan dari Allah yang ada di dalam hati setiap muslim.’”
[Ahmad no.16976, Shahih : Musnad Imam Ahmad no. 17566, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

وقوله تعالى: صِراطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مُفَسِّرٌ لِلصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ وَهُوَ بَدَلٌ مِنْهُ عِنْدَ النُّحَاةِ وَيَجُوزُ أَنْ يكون عطف بيان والله أعلم
Firman Allah Ta’ala [صِراطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ] “(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka,” adalah tafsir dari firman-Nya [الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ] “Jalan yang lurus,” dan merupakan badal menurut ahli nahwu dan boleh juga sebagai ‘athaf bayan. Wallahu a’lam.

الذين أنعم الله عَلَيْهِمْ هُمُ الْمَذْكُورُونَ فِي سُورَةِ النِّسَاءِ حَيْثُ قَالَ تَعَالَى:
Orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah itu adalah mereka yang tersebut dalam surat an-Nisaa’, Dia Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَداءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيقاً. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفى بِاللَّهِ عَلِيماً
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Semua itu adalah karunia dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui.” [QS. An-Nisaa’ : 69-70]

[Tafsir Ibnu Katsir 1/51-53, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Al-Hafizh Ibnu Katsir menafsirkan QS. An-Nisaa’ : 69-70 tersebut di atas dengan penafsiran sebagai berikut :

أَيْ مَنْ عمل بما أمره الله به وَتَرَكَ مَا نَهَاهُ اللَّهُ عَنْهُ وَرَسُولُهُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُسْكِنُهُ دَارَ كَرَامَتِهِ وَيَجْعَلُهُ مُرَافِقًا لِلْأَنْبِيَاءِ ثُمَّ لِمَنْ بَعْدَهُمْ فِي الرُّتْبَةِ وهم الصديقون، ثم الشهداء والصالحون الَّذِينَ صَلُحَتْ سَرَائِرُهُمْ وَعَلَانِيَتُهُمْ ثُمَّ أَثْنَى عَلَيْهِمْ تَعَالَى فَقَالَ: وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيقاً
Yakni, barangsiapa yang melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan menempatkannya di tempat yang mulia (Surga) sebagai pedamping para Nabi, dan orang-orang yang derajatnya di bawah mereka. Yaitu para shiddiqin, para syuhada’. Berikutnya adalah kaum Mukminin secara umum, yaitu orang-orang shalih. Mereka adalah orang-orang yang lahiriyah baik, demikian pula bathin atau yang tersembunyi pada diri mereka. Kemudian Allah Ta’ala memuji mereka dengan firman-Nya [وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيقاً] “Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.

وَقَالَ الْبُخَارِيُّرَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَا مِنْ نَبِيٍّ يَمْرَضُ إِلَّا خُيِّرَ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ» وكان في شكواه التي قبض فيها أخذته بُحَّةٌ شَدِيدَةٌ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ» فَعَلِمْتُ أَنَّهُ خُيِّرَ
Al-Bukhari meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Tidak ada seorang Nabi pun yang menderita sakit, kecuali akan disuruh memilih antara dunia atau akhirat.” Dan pada saat menderita sakit, menjelang wafatnya, tiba-tiba ada suara yang keras (dari kerongkongan beliau), aku dengar beliau melantunkan firman Allah : “bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih.” Maka aku pun tahu, bahwa beliau telah disuruh untuk memilih. [Bukhari no.4220]

وَكَذَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ شُعْبَةَ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بِهِ. وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَدِيثِ الآخر «اللهم الرَّفِيقِ الْأَعْلَى» ثَلَاثًا ثُمَّ قَضَى، عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ

Demikian juga diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Syu’bah dari Sa’di bin Ibrahim dengan hadits yang serupa. Inilah makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam hadits yang lain, “Ya Allah, (aku memilih bersama) [الرَّفِيقِ الْأَعْلَى]” [Muslim no.4475]
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengucapkan kalimat itu tiga kali. Kemudian beliau wafat. Semoga Shalawat dan Sallam yang paling utama terlimpah atas beliau.

ذِكْرُ سَبَبِ نُزُولِ هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ:قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ :
جَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأنصار إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وَهُوَ مَحْزُونٌ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا فُلَانُ مَا لِي أَرَاكَ محزونا؟» فقال: يا نبي الله شيء فكرت فيه، فقال: مَا هُوَ؟قَالَ: نَحْنُ نَغْدُو عَلَيْكَ وَنَرُوحُ نَنْظُرُ إِلَى وَجْهِكَ وَنُجَالِسُكَ وَغَدًا تُرْفَعُ مَعَ النَّبِيِّينَ فَلَا نَصِلُ إِلَيْكَ، فَلَمْ يَرُدَّ النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلّم شَيْئًا، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ بِهَذِهِ الْآيَةِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ الآية، فَبَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَشَّرَهُ.
Sebab turunnya ayat yang mulia ini, Ibnu Jarir meriwayatkan : Ada seorang laki-laki dari Anshar yang terlihat sedih datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Hai fulan mengapa aku melihat engkau bersedih?” Ia berkata, “Wahai Nabi Allah, ada sesuatu yang sedang aku pikirkan.” “Apa itu?” Tanya Rasulullah. Ia berkata : “Kami datang dan pergi menemuimu, kami melihat wajahmu dan bermajelis denganmu. Suatu saat (di Surga) engkau akan naik bersama para Nabi, sementara kami tidak bisa mencapai kedudukanmu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak membalas perkataanya. Lalu Jibril datang kepada beliau, membawa ayat ini :
[وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ] “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi” Hingga akhir ayat. Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengutus seseorang untuk menemui orang Anshar tadi dan menyampaikan kabar gembira kepadanya.” [Shahih : Shahih Asbabun Nuzul QS. An-Nisaa’ : 69, Syaikh Muqbil]

وَثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍعَنْ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ أَبِيتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوُضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي «سَلْ» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ، فَقَالَ: «أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ؟» قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ. قَالَ: «فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ»
Dan telah tsabit dalam shahih Muslim, Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami bahwa ia berkata : “Aku pernah bermalam di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu dan keperluannya. Beliau berkata kepadaku : “Mintalah” Aku menjawab : “Ya Rasulullah, aku meminta agar bersamamu di dalam Surga.” Beliau bertanya, 'Ataukah ada selain itu?'. Aku menjawab, 'Itu saja.’ Beliau pun bersabda : “Bantulah aku agar dirimu (memperoleh apa yang engkau inginkan) dengan memperbanyak sujud.” [Musllim no.754]

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ:جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَهِدْتُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ، وَصَلَّيْتُ الْخَمْسَ، وَأَدَّيْتُ زَكَاةَ مَالِي. وَصُمْتُ شَهْرَ رَمَضَانَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ مَاتَ عَلَى ذلك كَانَ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصَّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وهكذا- وَنَصَبَ أُصْبُعَيْهِ- مَا لَمْ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ» تَفَرَّدَ بِهِ أَحْمَدُ
Imam Ahmad meriwayatkan : Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata : “Ya Rasulullah, aku bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak (diibadahi dengan benar) kecuali Allah dan bahwa engkau adalah Rasulullah. Aku mengerjakan shalat lima waktu, menunaikan zakat hartaku, dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
Barangsiapa mati dalam keadaan seperti itu, maka ia akan bersama para Nabi, orang-orang shiddiqin, dan para syuhada’ pada hari Kiamat seperti ini –beliau berisyarat dengan jari-jemarinya- selama ia tidak mendurhakai kedua orang tuanya.” [Zawaa’idul Musnad no.2822. al-Haitsami berkata : “Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani dengan dua sanad, di mana salah satu sanad tersebut, para perawinya adalah perawi kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim (Majma’uz Zawaa’id no.13429)]
Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad.

وَأَعْظَمُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ بِشَارَةً مَا ثَبَتَ في الصحيح وَالْمَسَانِيدِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ طُرُقٍ مُتَوَاتِرَةٍ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ، فَقَالَ:«الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ» ، قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحَ الْمُسْلِمُونَ فَرَحَهُمْ بِهَذَا الْحَدِيثِ. وَفِي رِوَايَةٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قال: إني لأحب رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأُحِبُّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَأَرْجُو أن الله يبعثني معهم وإن لم أعمل كعملهم
Berita yang lebih menggembirakan semua itu adalah hadits dalam kitab Shahih, kitab Musnad dan lain-lain dari jalan mutawatir dari sejumlah Shahabat, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum dan apa yang ada pada mereka, lalu beliau menjawab :
“Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.”
Anas berkata : “Tidak ada sesuatu pun yang lebih menggembirakan kaum Muslimin, daripada kegembiraan mereka (mendengar) hadits ini.”
Dalam sebuah riwayat dari Anas, ia berkata : “Sesungguhnya aku mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Abu Bakar dan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Dan aku berharap semoga Allah membangkitkan aku bersama mereka, meskipun aku tidak mampu beramal seperti amal mereka.” [Muslim no.4777]

[Tafsir Ibnu Katsir 2/310-312, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mencintai Abu Bakar dan Umar, sebagaimana riwayat di dalam Shahih Muslim :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السَّلَاسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالًا
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengutusnya (Amru bin al-Ash) untuk memimpin pasukan Dzatus Salasil. Aku (Amru bin al-Ash) menemui beliau seraya bertanya; Siapakah orang yang paling engkau cintai? Rasulullah menjawab; 'Aisyah.' Lalu aku tanyakan lagi; Kalau dari kaum laki-laki? Rasulullah menjawab: Ayah Aisyah (Abu Bakr).' Aku bertanya lagi; kemudian siapa? Rasulullah menjawab: 'Umar.' Kemudian beliau menyebutkan beberapa orang sahabat lainnya. [Muslim no.4396]

Oleh karena itu Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu mengharapkan agar para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dapat bersama dengan Abu Bakar dan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma karena keutamaan keduanya dalam menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

رَحِمَكَ اللَّهُ إِنْ كُنْتُ لَأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ لِأَنِّي كَثِيرًا مَا كُنْتُ أَسْمَعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُنْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَفَعَلْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَانْطَلَقْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَإِنْ كُنْتُ لَأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَهُمَا فَالْتَفَتُّ فَإِذَا هُوَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ
"Semoga Allah merahmatimu. Sungguh aku berharap Allah akan menjadikan engkau bersama kedua shahabatmu (Abu Bakar dan Umar) dikarenakan aku sering mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku bersama Abu Bakr dan 'Umar. Aku, Abu Bakr dan 'Umar mengerjakan sesuatu dan Aku, Abu Bakr dan 'Umar berangkat (bepergian) ". Maka, sungguh aku berharap Allah menjadikan kamu bersama keduanya (di pemakaman). Kemudian aku menoleh, ternyata orang itu adalah 'Aliy bin Abi Thalib". [Bukhari no.3401]

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika dibolehkan untuk memiliki seorang kekasih, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih, dikarenakan kesetiaannya dalam mendermakan harta dan persahabatan.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ عَبْدٌ خَيَّرَهُ اللَّهُ بَيْنَ أَنْ يُؤْتِيَهُ زَهْرَةَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَهُ فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ وَبَكَى فَقَالَ فَدَيْنَاكَ بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا قَالَ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْمُخَيَّرُ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ أَعْلَمَنَا بِهِ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي مَالِهِ وَصُحْبَتِهِ أَبُو بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ لَا تُبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ خَوْخَةٌ إِلَّا خَوْخَةَ أَبِي بَكْرٍ
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada suatu hari berada di atas mimbar lalu beliau bersabda, “Ada seorang hamba yang diberikan pilihan oleh Allah antara diberikan kemewahan dunia oleh-Nya atau memberi pahala yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba tersebut memilih pahala yang ada di sisi-Nya.” Setelah itu Abu Bakar tampak menangis dan menangis. Kemudian ia berkata, “Kami bersedia menebus engkau dengan ayah dan ibu kami.” Abu Said al-Khudri mengatakan, “Rasulullah-lah hamba yang telah diberikan pilihan itu. Dan Abu Bakar sendiri yang meberitahukan hal itu kepada kami.” Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling setia kepadaku baik dalam hartanya maupun dalam persahabatannya adalah Abu Bakar. Kalau saja aku boleh memilih seorang kekasih, niscaya aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi dia adalah saudaraku di dalam Islam. Janganlah ada sebuah pintu kecil pun pada masjid ini kecuali pintunya milik Abu Bakar. [Muslim no.4390]

Karena Abu Bakar adalah seorang Khalilullah (Kekasih Allah).

النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ ابْنَ أَبِي قُحَافَةَ خَلِيلًا وَلَكِنْ صَاحِبُكُمْ خَلِيلُ اللَّهِ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Kalau saja aku boleh mengangkat seorang dari penduduk bumi menjadi kekasih, niscaya aku akan memilih Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar) sebagai kekasih. Akan tetapi, sahabat kalian ini adalah [خَلِيلُ اللَّهِ] kekasih Allah.[Muslim no.4394]

Dan Abu Bakar-lah seorang Shahabat yang setia dalam menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam hijrahnya, mereka berdua berlindung di gua Tsur, sedangkan yang ketiganya adalah Allah yang akan melindunginya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsir QS. At-Taubah : 40, menjelaskan kisah hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersama Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu.

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah), sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya : “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan al-Qur’an menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. [QS. At-Taubah : 40]

يَقُولُ تَعَالَى: إِلَّا تَنْصُرُوهُ أَيْ تَنْصُرُوا رَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ نَاصِرُهُ وَمُؤَيِّدُهُ وَكَافِيهِ وَحَافِظُهُ كَمَا تَوَلَّى نَصْرَهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثانِيَ اثْنَيْنِ أَيْ عَامَ الْهِجْرَةِ لَمَّا هَمَّ الْمُشْرِكُونَ بِقَتْلِهِ أَوْ حَبْسِهِ أَوْ نَفْيِهِ فَخَرَجَ مِنْهُمْ هَارِبًا بصحبة صِدِّيقِهِ وَصَاحِبِهِ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي قُحَافَةَ فَلَجَأَ إِلَى غَارِ ثَوْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ لِيَرْجِعَ الطلب الذين خرجوا في آثارهم ثم يسيروا نَحْوَ الْمَدِينَةِ فَجَعَلَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَجْزَعُ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِمْ أَحَدٌ فَيَخْلُصَ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم مِنْهُمْ أَذًى فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَكِّنُهُ وَيُثَبِّتُهُ وَيَقُولُ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا»
Allah Ta’ala berfirman : [إِلَّا تَنْصُرُوهُ] “Jikalau kamu tidak menolongnya” Yakni, menolong Rasul-Nya, maka Allah selalu menolongnya, membantunya, menjaga dan melindunginya, sebagaimana Dia telah menolongya. [إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثانِيَ اثْنَيْنِ] “(yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah), sedang dia salah seorang dari dua orang” Yakni pada peristiwa hijrah, di mana kaum Musyrikin berambisi untuk membunuhnya, memenjarakan atau mengasingkannya. Beliau pun hijrah dengan ditemani Shahabatnya, yakni Abu Bakar bin Abi Quhafah, hingga keduanya berlindung ke gua Tsur selama tiga hari, supaya orang-orang yang mengejar beliau kembali. Kemudian mereka pergi menuju Madinah. (Saat di gua tersebut) Abu Bakar sangat khawatir jika salah seorang musuh melihat keduanya, sehingga mereka menyiksa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menenteramkan dan meneguhkan hati Abu Bakar, seraya bersabda :
Wahai Abu Bakar, apa sangkaanmu terhadap (keadaan) dua orang, padahal yang ketiganya adalah Allah.” [Bukhari no.4295]

كَمَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُعَنْ أَنَسٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ حَدَّثَهُ قَالَ: قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِي الْغَارِ: لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ إِلَى قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا تَحْتَ قَدَمَيْهِ قَالَ:فَقَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا»أَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dari Anas, Abu Bakar menuturkan kepadanya : “Aku berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam saat kami berada di dalam gua : ‘Jika salah seorang dari mereka menoleh ke arah kedua kakinya (melihat sambil jongkok), niscaya mereka akan dapat melihat kami, karena kami berada di bawah kedua kakinya. Lalu beliau bersabda : ‘Wahai Abu Bakar, apa sangkaanmu terhadap (keadaan) dua orang, padahal Allah adalah pihak ke tiga (yang akan melindunginya).
[Ahmad no.11, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.11, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]
Hadits ini tercantum juga dalam ash-Shahihain. [Bukhari no.3629 & Muslim no.4389]

وَلِهَذَا قَالَ تَعَالَى:فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ أَيْ تَأْيِيدَهُ وَنَصْرَهُ عليه أي على الرسول صلى الله عليه وسلم فِي أَشْهَرِ الْقَوْلَيْنِ وَقِيلَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ
Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman :
[فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ] “Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad)” Yakni dengan pertolongan dan bantuan-Nya kepada beliau. Ada pula yang berpendapat bahwa ketenangan itu turun kepada Abu Bakar.

[Tafsir Ibnu Katsir 4/136, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Dan Allah-lah yang bersama mereka (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu) ketika ada orang yang mengejarnya pada saat melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah.

اشْتَرَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ عَازِبٍ رَحْلًا بِثَلَاثَةَ عَشَرَ دِرْهَمًا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعَازِبٍ مُرْ الْبَرَاءَ فَلْيَحْمِلْ إِلَيَّ رَحْلِي فَقَالَ عَازِبٌ لَا حَتَّى تُحَدِّثَنَا كَيْفَ صَنَعْتَ أَنْتَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ خَرَجْتُمَا مِنْ مَكَّةَ وَالْمُشْرِكُونَ يَطْلُبُونَكُمْ قَالَ ارْتَحَلْنَا مِنْ مَكَّةَ فَأَحْيَيْنَا أَوْ سَرَيْنَا لَيْلَتَنَا وَيَوْمَنَا حَتَّى أَظْهَرْنَا وَقَامَ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ فَرَمَيْتُ بِبَصَرِي هَلْ أَرَى مِنْ ظِلٍّ فَآوِيَ إِلَيْهِ فَإِذَا صَخْرَةٌ أَتَيْتُهَا فَنَظَرْتُ بَقِيَّةَ ظِلٍّ لَهَا فَسَوَّيْتُهُ ثُمَّ فَرَشْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ ثُمَّ قُلْتُ لَهُ اضْطَجِعْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ فَاضْطَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقْتُ أَنْظُرُ مَا حَوْلِي هَلْ أَرَى مِنْ الطَّلَبِ أَحَدًا فَإِذَا أَنَا بِرَاعِي غَنَمٍ يَسُوقُ غَنَمَهُ إِلَى الصَّخْرَةِ يُرِيدُ مِنْهَا الَّذِي أَرَدْنَا فَسَأَلْتُهُ فَقُلْتُ لَهُ لِمَنْ أَنْتَ يَا غُلَامُ قَالَ لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ سَمَّاهُ فَعَرَفْتُهُ فَقُلْتُ هَلْ فِي غَنَمِكَ مِنْ لَبَنٍ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَهَلْ أَنْتَ حَالِبٌ لَنَا قَالَ نَعَمْ فَأَمَرْتُهُ فَاعْتَقَلَ شَاةً مِنْ غَنَمِهِ ثُمَّ أَمَرْتُهُ أَنْ يَنْفُضَ ضَرْعَهَا مِنْ الْغُبَارِ ثُمَّ أَمَرْتُهُ أَنْ يَنْفُضَ كَفَّيْهِ فَقَالَ هَكَذَا ضَرَبَ إِحْدَى كَفَّيْهِ بِالْأُخْرَى فَحَلَبَ لِي كُثْبَةً مِنْ لَبَنٍ وَقَدْ جَعَلْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِدَاوَةً عَلَى فَمِهَا خِرْقَةٌ فَصَبَبْتُ عَلَى اللَّبَنِ حَتَّى بَرَدَ أَسْفَلُهُ فَانْطَلَقْتُ بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَافَقْتُهُ قَدْ اسْتَيْقَظَ فَقُلْتُ اشْرَبْ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَشَرِبَ حَتَّى رَضِيتُ ثُمَّ قُلْتُ قَدْ آنَ الرَّحِيلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بَلَى فَارْتَحَلْنَا وَالْقَوْمُ يَطْلُبُونَنَا فَلَمْ يُدْرِكْنَا أَحَدٌ مِنْهُمْ غَيْرُ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ عَلَى فَرَسٍ لَهُ فَقُلْتُ هَذَا الطَّلَبُ قَدْ لَحِقَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ{ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا }
Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu membeli dari 'Azib seperangkat pelana unta dengan harga tiga belas dirham lalu Abu Bakr berkata kepada 'Azib; "Perintahkanlah Al Bara' untuk membawa pelana ini kepadaku". Tapi 'Azib berkata; "Tidak, kecuali engkau mau menceritakan apa yang engkau dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam lakukan saat kalian berdua keluar untuk berhijrah dari Makkah sementara orang-orang musyrikin mencari-cari kalian". Abu Bakr berkata; "Baiklah. Kami berangkat dari Makkah lalu kami melalui perjalanan atau menempuh perjalanan siang dan malam hingga ketika di siang hari saat sangat panas aku mencoba mengarahkan pandanganku untuk melihat-lihat apakah ada naungan untuk tempat berteduh. Akhirnya ada sebuah batu lalu aku datangi dan aku lihat dibaliknya ada tempat untuk berteduh. Maka (kami singgah di batu tersebut) lalu aku meratakan tempat dengan tanganku sendiri dan menghamparkan tikar untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lalu aku katakan kepada beliau; "Berbaringlah, wahai Nabi Allah". Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berbaring lalu aku beranjak sejenak untuk mengamati keadaan sekeliling tempat itu apakah ada orang yang membuntuti kami. Ternyata aku bertemu dengan seorang anak kecil pengembala kambing yang sedang menggiring kambingnya menuju batu tersebut untuk bernaung sebagaimana yang kami lakukan. Aku bertanya kepadanya; "Milik siapakah kamu ini wahai ghulam (anak kecil)?". Anak kecil pengembala itu menjawab; "Aku ini milik seseorang dari suku Quraisy". Dia menyebutkan nama tuan-nya yang aku mengenalnya. Aku bertanya lagi; "Apakah kambingmu ini menghasilkan air susu?". Anak gembala itu menjawab; "Ya". Aku tanya lagi; "Apakah kamu bersedia memeras susunya?". Anak gembala itu kembali menjawab; "Ya". Maka aku memerintahkannya lalu dia menarik seekor kambing gembalaannya dan kuperintahkan agar dia membersihkan puting susu kambingnya dari debu kemudian aku memerintahkannya untuk membersihkan telapak tangannya". Perawi (Abu Ishaq) berkata; "Aku melihat Al Bara' memukulkan salah satu telapak tangannya kepada yang lainnya untuk memberi contoh membersihkan puting susu kambing. (Abu Bakr) melanjutkan; "Kemudian anak gembala itu memeras sedikit susu dan memasukkannya ke dalam sebuah gelas sedangkan aku membawa wadah kecil yang aku siapkan untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang biasanya beliau gunakan untuk minum. Aku menuangkan (air) ke dalam susu itu agar dingin pada bagian bawahnya lalu aku beranjak menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan aku dapatkan beliau sudah terbangun lalu aku katakan; "Minumlah, wahai Rasulullah". Abu Bakr berkata; "Maka beliaupun meminumnya hingga aku puas (melihatnya)". Kemudian aku bertanya; "Apakah sudah waktunya kita melanjutkan perjalanan, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab; "Ya". Maka kami berangkat meneruskan perjalanan sementara kaum musyrikin mencari-cari kami namun tidak seorangpun dari mereka yang mendapatkan kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju'syam yang menunggang kudanya lalu aku berkata; "Itu orang yang mengejar kita, dia akan menangkap kita, wahai Rasulullah". Maka beliau bersabda: "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita [لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا]." [Bukhari no.3379]

Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu termasuk Shahabat yang menafkahkan hartanya untuk digunakan di jalan Allah, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya.

إِنَّ عَلَيْنا لَلْهُدى (12) وَإِنَّ لَنا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولى (13) فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى (14) لَا يَصْلاها إِلاَّ الْأَشْقَى (15) الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى (16)وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى (17) الَّذِي يُؤْتِي مالَهُ يَتَزَكَّى (18) وَما لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزى (19) إِلاَّ ابْتِغاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلى (20) وَلَسَوْفَ يَرْضى (21)
Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk (12) dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia (13) Maka Kami memperingatkan kamu dengan Neraka yang menyala-nyala (14) Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka (15) yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman) (16) Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari Neraka itu (17) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya (18) padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya (19) tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabb-nya Yang Mahatinggi (20) Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan (21). [QS. Al-Lail : 12-21]

وَقَدْ ذَكَرَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْمُفَسِّرِينَ أَنَّ هَذِهِ الْآيَاتِ نَزَلَتْ فِي أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ حَكَى الْإِجْمَاعَ مِنَ الْمُفَسِّرِينَ عَلَى ذَلِكَ، وَلَا شَكَّ أَنَّهُ دَاخِلٌ فِيهَا وَأَوْلَى الْأُمَّةِ بِعُمُومِهَا فَإِنَّ لَفْظَهَا لَفْظُ الْعُمُومِ، وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى الَّذِي يُؤْتِي مالَهُ يَتَزَكَّى وَما لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزى
Banyak ulama tafsir yang menyebutkan bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, bahkan sebagian ulama tafsir menyatakan adanya ijma’ dari para ahli tafsir atas perkara ini.
Tidak diragukan lagi bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang dituju dalam ayat ini. Ia termasuk salah seorang umat yang paling berhak mendapatkan keumuman ayat ini, karena (memang) lafaznya bersifat umum, yaitu firman Allah Ta’ala :
[وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى الَّذِي يُؤْتِي مالَهُ يَتَزَكَّى وَما لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزى] “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari Neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya”

وَلَكِنَّهُ مُقَدَّمُ الْأُمَّةِ وَسَابِقُهُمْ فِي جَمِيعِ هَذِهِ الْأَوْصَافِ وَسَائِرِ الْأَوْصَافِ الْحَمِيدَةِ، فَإِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا تَقِيًا كَرِيمًا جَوَادًا بَذَّالًا لِأَمْوَالِهِ فِي طَاعَةِ مَوْلَاهُ وَنُصْرَةِ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم، فَكَمْ مِنْ دَرَاهِمَ وَدَنَانِيرَ بَذَلَهَا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْكَرِيمِ
Abu Bakar merupakan pelopor dan pendahulu umat ini dalam semua sifat tersebut dan sifat-sifat yang terpuji lainnya. Dialah orang yang sangat benar dalam ucapannya dan tindakannya. Ia orang yang bertakwa, mulia, gemar berderma, dan suka membelanjakan harta bendanya dalam ketaatan kepada Rabb-nya, termasuk untuk menolong Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Berapa banyak dinar dan dirham yang telah ia infakkan demi mengharapkan keridhaan Rabb-nya yang Maha Dermawan.

وَلَمْ يَكُنْ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ عِنْدَهُ مِنَّةٌ يَحْتَاجُ إِلَى أَنْ يُكَافِئَهُ بِهَا، وَلَكِنْ كَانَ فَضْلُهُ وَإِحْسَانُهُ عَلَى السَّادَاتِ وَالرُّؤَسَاءِ مِنْ سَائِرِ الْقَبَائِلِ، وَلِهَذَا قَالَ لَهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ وَهُوَ سَيِّدُ ثَقِيفٍ يَوْمَ صُلْحِ الحديبية: أما والله لولا يدلك كَانَتْ عِنْدِي لَمْ أَجْزِكَ بِهَا لَأَجَبْتُكَ
Tidak ada seorang pun yang mempunyai jasa baik kepada Abu Bakar, sehingga dia harus membalas budi kepadanya. Justru sebaliknya, ia mempunyai banyak jasa dan kebaikan kepada para tokoh dan pemimpin dari semua kabilah. Karena itulah, ‘Urwah bin Mas’ud, tokoh suku Tsaqif berkata kepadanya di hari perjanjian Hudaibiyyah, “Demi Allah, seandainya engkau tidak mempunyai jasa baik atasku, di mana (sampai saat ini) aku belum bisa membalasnya kepadamu, niscaya aku akan menjawab ucapanmu.”

وَكَانَ الصديق قد أغلظ له في المقالة، فإن كَانَ هَذَا حَالُهُ مَعَ سَادَاتِ الْعَرَبِ وَرُؤَسَاءِ القبائل فكيف بمن عداهم، ولهذا قال تعالى: وَما لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزى إِلَّا ابْتِغاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلى وَلَسَوْفَ يَرْضى
Saat itu Abu Bakar telah mengucapkan kata-kata keras kepadanya. Demikian tinggi kedudukan Abu Bakar di antara para tokoh pemuka Arab dan para pemimpin kabilah. Maka apalagi di hadapan orang-orang selain para tokoh dan pemimpin itu.
Karena itulah Allah Ta’ala berfirman,
[وَما لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزى إِلَّا ابْتِغاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلى وَلَسَوْفَ يَرْضى] “padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabb-nya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”

وَفِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ دَعَتْهُ خَزَنَةُ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ يُدْعَى مِنْهَا ضَرُورَةٌ فَهَلْ يُدْعَى مِنْهَا كُلِّهَا أَحَدٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ»
Dalam Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
Barangsiapa yang menginfakkan dua macam harta, maka para Malaikat penjaga Surga memanggilnya, “Wahai hamba Allah, inilah suatu kebaikan yang utama.”
Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, seseorang mungkin dipanggil oleh seorang Malaikat penjaga Surga, lalu apakah ada seorang yang dipanggil oleh seluruh Malaikat penjaga Surga?
Beliau Menjawab : “Ya, dan aku berharap engkau termasuk salah seorang di antara mereka.” [Bukhari no.3393 & Muslim no.1705]

[Tafsir Ibnu Katsir 8/409, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tak seorang-pun dari kalangan Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang dapat menyaingi keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahkan oleh seorang al-Faruq sekalipun.

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَكُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَقْبَلَ أَبُو بَكْرٍ آخِذًا بِطَرَفِ ثَوْبِهِ حَتَّى أَبْدَى عَنْ رُكْبَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا صَاحِبُكُمْ فَقَدْ غَامَرَ فَسَلَّمَ وَقَالَ إِنِّي كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ ابْنِ الْخَطَّابِ شَيْءٌ فَأَسْرَعْتُ إِلَيْهِ ثُمَّ نَدِمْتُ فَسَأَلْتُهُ أَنْ يَغْفِرَ لِي فَأَبَى عَلَيَّ فَأَقْبَلْتُ إِلَيْكَ فَقَالَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ ثَلَاثًا ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ نَدِمَ فَأَتَى مَنْزِلَ أَبِي بَكْرٍ فَسَأَلَ أَثَّمَ أَبُو بَكْرٍ فَقَالُوا لَا فَأَتَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ فَجَعَلَ وَجْهُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَمَعَّرُ حَتَّى أَشْفَقَ أَبُو بَكْرٍ فَجَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ أَنَا كُنْتُ أَظْلَمَ مَرَّتَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُوا لِي صَاحِبِي مَرَّتَيْنِ فَمَا أُوذِيَ بَعْدَهَا
Dari Abu ad-Darda' Radhiyallahu 'anhu berkata; "Aku duduk di samping Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, tiba-tiba Abu Bakr datang sambil memegang tepi baju beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam hingga merapat pada lutut beliau. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bertanya: "Apakah teman kalian telah marah?". Maka Abu Bakr memberi salam lalu berkata; "Aku punya masalah dengan Ibnu Al Khaththab lalu aku terlanjur marah kepadanya namun kemudian aku menyesal, aku pun datang menemuinya untuk meminta maaf namun dia enggan memaafkan aku. Maka itu aku datang kepada engkau". Maka beliau bersabda: "Allah akan mengampunimu, wahai Abu Bakr". Beliau mengucapkan kalimat ini tiga kali. Kemudian 'Umar menyesal lalu mendatangi kediaman Abu Bakr dan bertanya; "Apakah ada Abu Bakr?". Orang-orang menjawab; "Tidak ada". Kemudian 'Umar menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang kedatangannya ini membuat wajah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam nampak marah namun ketegangan itu berhenti karena kedatangan Abu Bakr yang langsung duduk bersimpuh pada lutut beliau seraya berkata; "Wahai Rasulullah, aku sudah berbuat aniaya dua kali". Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mengutus aku kepada kalian namun kalian mengatakan; "Kamu pendusta" sedangkan Abu Bakr berkata; "Dia orang yang jujur' dan dia berjuang mengorbankan dirinya dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan kepadaku sahabatku?" -Beliau mengulangi dua kali-. Maka sejak saat itu Abu Bakr tidak disakiti lagi. [Bukhari no.3388]

Abu Bakar dan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma senantiasa berlomba-lomba dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah.

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَسْلَمَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَأَلَنِي ابْنُ عُمَرَعَنْ بَعْضِ شَأْنِهِ يَعْنِي عُمَرَ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا قَطُّ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حِينَ قُبِضَ كَانَ أَجَدَّ وَأَجْوَدَ حَتَّى انْتَهَى مِنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ
Bahwasannya Zaid bin Aslam bercerita kepadanya dari bapaknya berkata, Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma bertanya kepadaku tentang sebagian aktifitas yang biasa dilakukannya, maksudnya 'Umar radliallahu 'anhu, maka dia mengabarkan aku, katanya; "Tidak pernah aku melihat seorangpun setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang lebih bersungguh-sungguh dan lebih dermawan (dalam harta) hingga meninggal dunia daripada 'Umar bin Al Khaththab". [Bukhari no.3411]

سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ عِنْدِي مَالًا فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا قَالَ فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًاقَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Aku mendenganr ‘Umar bin al-Khattab berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kepada kami untuk bersedekah, bertepatan dengan itu, aku mempunyai harta, aku berkata (dalam hati); "pada hari ini, aku lebih unggul dari pada Abu Bakar, jika aku lebih dulu, Umar berkata; lalu aku datang dengan setengah dari hartaku." Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Apa yang kamu sisakan buat keluargamu?", jawabku; "(Sama) seperti itu (setengahnya)." Lalu Abu Bakar datang dengan membawa seluruh yang ia punyai. beliau bertanya: "Apa yang kamu sisakan buat keluargamu?" Dia menjawab; "Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya." Maka aku berkata; "Demi Allah. aku tidak pernah bisa mengunggulinya terhadap sesuatupun selamanya." Perawi (Abu Isa) berkata; "Hadits ini derajatnya adalah hasan shahih."
[Tirmidzi no.3608, Shahih : Shahih at-Tirmidzi no.3675, Syaikh al-Albani]

Abu Bakar dan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma senantiasa membenarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بَيْنَمَا رَاعٍ فِي غَنَمِهِ عَدَا عَلَيْهِ الذِّئْبُ فَأَخَذَ مِنْهَا شَاةً فَطَلَبَهُ الرَّاعِي فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ الذِّئْبُ فَقَالَ مَنْ لَهَا يَوْمَ السَّبُعِ يَوْمَ لَيْسَ لَهَا رَاعٍ غَيْرِي وَبَيْنَمَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً قَدْ حَمَلَ عَلَيْهَا فَالْتَفَتَتْ إِلَيْهِ فَكَلَّمَتْهُ فَقَالَتْ إِنِّي لَمْ أُخْلَقْ لِهَذَا وَلَكِنِّي خُلِقْتُ لِلْحَرْثِ قَالَ النَّاسُ سُبْحَانَ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنِّي أُومِنُ بِذَلِكَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketika seorang pengembala sedang bersama kambing-kambing gembalaannya tiba-tiba datang seekor serigala lalu menerkam satu ekor kambing tersebut. Kemudian pengembala mencarinya lalu dia dihampiri oleh serigala itu dan serigala itu berbicara; "Siapa yang menjaga kambing tersebut pada hari berburu, ketika tidak ada yang mengembalakannya kecuali aku?. Dan ada pula seseorang yang sedang menggiring sapi betina lalu ketika ditungganginya (membawa beban yang banyak) sapi tersebut menoleh dan berbicara kepadanya. Kata sapi itu; "Aku diciptakan bukan untuk ini, tapi aku diciptakan untuk membantu pengelolaan sawah ladang". Lalu orang-orang berkata; "Maha suci Allah". Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sungguh, aku beriman tentang kejadian itu, begitu juga Abu Bakar dan 'Umar radliallahu 'anhu". [Bukhari no.3390]

Karena Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang ash-Shiddiq dan Umar serta Utsman Radhiyallahu ‘anhuma adalah dua orang yang syahid.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعِدَ أُحُدًا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ فَقَالَ اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ
Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam mendaki bukit Uhud, yang diikuti oleh Abu Bakr, 'Umar dan 'Utsman. Lalu gunung Uhud itu bergetar, maka beliau bersabda: "Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu sekarang ada Nabi, as-Shiddiq (orang yang jujur, maksudnya Abu Bakar) dan dua orang (yang akan mati) syahid". [Bukhari no.3399]

Pada saat Isra’ Mi’raj, Abu Bakar dijuluki sebagai ash-Shiddiq (orang yang selalu membenarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) karena dia membenarkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj manakala orang-orang mendustakannya. [Ibnu Hisyam 399]
[Ar-Rahiq al-Makhtum 195-196, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury]

Oleh karena itu Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman Radhiyallahu ‘anhum diberikan kabar gembira dengan Surga dan kesyahidan bagi ‘Umar dan ‘Utsman.

أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّأَنَّهُ تَوَضَّأَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ خَرَجَ فَقُلْتُ لَأَلْزَمَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَأَكُونَنَّ مَعَهُ يَوْمِي هَذَا قَالَ فَجَاءَ الْمَسْجِدَ فَسَأَلَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا خَرَجَ وَوَجَّهَ هَا هُنَا فَخَرَجْتُ عَلَى إِثْرِهِ أَسْأَلُ عَنْهُ حَتَّى دَخَلَ بِئْرَ أَرِيسٍ فَجَلَسْتُ عِنْدَ الْبَابِ وَبَابُهَا مِنْ جَرِيدٍ حَتَّى قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَاجَتَهُ فَتَوَضَّأَ فَقُمْتُ إِلَيْهِ فَإِذَا هُوَ جَالِسٌ عَلَى بِئْرِ أَرِيسٍ وَتَوَسَّطَ قُفَّهَا وَكَشَفَ عَنْ سَاقَيْهِ وَدَلَّاهُمَا فِي الْبِئْرِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ ثُمَّ انْصَرَفْتُ فَجَلَسْتُ عِنْدَ الْبَابِ فَقُلْتُ لَأَكُونَنَّ بَوَّابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْيَوْمَ فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ فَدَفَعَ الْبَابَ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ فَقُلْتُ عَلَى رِسْلِكَ ثُمَّ ذَهَبْتُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا أَبُو بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ فَقَالَ ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ فَأَقْبَلْتُ حَتَّى قُلْتُ لِأَبِي بَكْرٍ ادْخُلْ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُكَ بِالْجَنَّةِ فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَجَلَسَ عَنْ يَمِينِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ فِي الْقُفِّ وَدَلَّى رِجْلَيْهِ فِي الْبِئْرِ كَمَا صَنَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَشَفَ عَنْ سَاقَيْهِ ثُمَّ رَجَعْتُ فَجَلَسْتُ وَقَدْ تَرَكْتُ أَخِي يَتَوَضَّأُ وَيَلْحَقُنِي فَقُلْتُ إِنْ يُرِدْ اللَّهُ بِفُلَانٍ خَيْرًا يُرِيدُ أَخَاهُ يَأْتِ بِهِ فَإِذَا إِنْسَانٌ يُحَرِّكُ الْبَابَ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقُلْتُ عَلَى رِسْلِكَ ثُمَّ جِئْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقُلْتُ هَذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَسْتَأْذِنُ فَقَالَ ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ فَجِئْتُ فَقُلْتُ ادْخُلْ وَبَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ فَدَخَلَ فَجَلَسَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقُفِّ عَنْ يَسَارِهِ وَدَلَّى رِجْلَيْهِ فِي الْبِئْرِ ثُمَّ رَجَعْتُ فَجَلَسْتُ فَقُلْتُ إِنْ يُرِدْ اللَّهُ بِفُلَانٍ خَيْرًا يَأْتِ بِهِ فَجَاءَ إِنْسَانٌ يُحَرِّكُ الْبَابَ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فَقُلْتُ عَلَى رِسْلِكَ فَجِئْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى تُصِيبُهُ فَجِئْتُهُ فَقُلْتُ لَهُ ادْخُلْ وَبَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى تُصِيبُكَ فَدَخَلَ فَوَجَدَ الْقُفَّ قَدْ مُلِئَ فَجَلَسَ وِجَاهَهُ مِنْ الشَّقِّ الْآخَرِقَالَ شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ فَأَوَّلْتُهَا قُبُورَهُمْ
Abu Musa Al Asy'ariy berwudlu' di rumahnya lalu keluar. (Lalu dia bercerita); Aku berkata; 'Aku akan mendampingi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan bersamanya hari ini". Dia berkata; "Maka dia menuju masjid lalu bertanya tentang keberadaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Orang-orang menjawab; "Beliau keluar dan menuju ke arah sana". Maka aku keluar menelusuri bekas jejak beliau mencari keberadaannya hingga (aku lihat) beliau memasuki sebuah sumur Aris (di suatu ladang pusat kota Madinah). Aku duduk di samping pintu yang terbuat dari pelepah kurma hingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam menyelesaikan keperluannya kemudian berwudlu'. Aku segera menghampiri beliau yang ternyata beliau sedang duduk dekat sumur Aris tersebut dan berada di tengah-tengah tepi sumur tersebut. Beliau menyingkap (pakaiannya) hingga kedua betisnya dan mengulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Aku memberi salam kepada beliau lalu berpaling dan kembali duduk di samping pintu. Aku berkata; "Sungguh aku menjadi penjaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada hari ini". Kemudian Abu Bakr datang dan mengetuk pintu. Aku tanya; "Siapakah ini?. Dia berkata; "Abu Bakr". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui (beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) lalu aku katakan; "Wahai Rasulullah, ada Abu Bakr minta izin masuk". Beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan Surga". Aku kembali lalu aku katakan kepada Abu Bakr; "Masuklah, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan Surga". Maka Abu Bakr masuk lalu duduk di samping kanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan mengangkat pakaiannya setinggi kedua betisnya. Kemudian aku kembali dan duduk. Aku telah meninggalkan saudaraku berwudlu' dan menyusulku. Aku berkata; "Seandainya Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, - yang dia maksud saudaranya, - pasti Allah memberinya". Tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan pintu, aku bertanya; "Siapakah ini?". Orang itu menjawab; "Aku 'Umar bin Al Khaththab". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan memberi salam kepada beliau lalu aku katakan; "Wahai Rasulullah, ada 'Umar bin Al Khaththab minta izin masuk". Beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan Surga". Maka aku temui lalu aku katakan; "Masuklah, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan Surga". Maka 'Umar masuk lalu duduk di samping kiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Kemudian aku kembali dan duduk. Aku berkata; "Seandainya Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, pasti Allah memberinya". Tiba-tiba ada lagi orang yang menggerak-gerakkan pintu, aku bertanya; "Siapakah ini?". Oang itu menjawab; "'Utsman bin 'Affan". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu aku kabarkan kepada beliau, maka beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan Surga, dengan berbagai cobaan yang menimpanya". Maka aku menemuinya lalu aku katakan kepadanya; "Masuklah, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan Surga, sekaligus berbagai cobaan yang menimpamu". Maka 'Utsman masuk namun dia dapatkan tepi sumur telah penuh. Akhirnya dia duduk di hadapan beliau dari sisi yang lain". Berkata Syarik bin Abdullah, berkata Sa'id bin Al Musayyab; "Aku tafsirkan posisi duduk mereka bertiga sebagai posisi kuburan mereka sedangkan kuburan 'Utsman terpisah dari mereka". [Bukhari no.3398]

Karena Abu Bakar termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Agama Islam.

سَمِعْتُ عَمَّارًا يَقُولُرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا مَعَهُ إِلَّا خَمْسَةُ أَعْبُدٍ وَامْرَأَتَانِ وَأَبُو بَكْرٍ
Aku mendengar 'Ammar berkata; "Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan tidak ada orang yang bersama beliau (pertama kali memeluk Islam) kecuali lima orang budak, dua orang wanita dan Abu Bakr". [Bukhari no.3387]

Mereka ini dalam sejarah Islam dikenal sebagai as-Sabiqun al-Awwallun (orang-orang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam). Di barisan depan terdaftar istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid; disusul maula (mantan budak) beliau, Zaid bin Haritsah bin Syarahil al-Kalbiy; keponakan beliau, ‘Aliy bin Abi Thalib –yang ketika itu masih kanak-kanak dan hidup di bawah asuhan beliau- serta Shahabat karib beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq. Mereka semua memeluk Islam pada permulaan dakwah.
Kemudian, Abu Bakar dengan sangat giat mengajak orang-orang kepada agama Islam. Beliau merupakan sosok laki-laki yang lembut, disenangi, dan berbudi luhur serta suka berbuat baik. Para tokoh kaumnya selalu mengunjunginya dan sudah tidak asing dengan kepribadiannya karena kecerdasan, kesuksesan dalam berdagang dan pergaulannya yang luas. Beliau terus berdakwah kepada orang-orang dari kaumnya yang dia percayai dan selalu berinteraksi dan bermajelis dengannya. Berkat hal itu, maka masuk Islamlah ‘Utsman bin ‘Affan al-Umawiy, az-Zubair bin al-‘Awwam al-Asadiy, ‘Abdurrahman bin ‘Auf az-Zuhriy, Sa’ad bin Abi Waqqash az-Zuhriy dan Thalhah bin ‘Ubaidillah at-Taimiy. Kedelapan orang inilah yang terlebih dahulu masuk Islam serta merupakan gelombang pertama dan garda Islam.
[Ar-Rahiq al-Makhtum 96-97, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury]

Sehingga mereka as-Sabiqun al-Awwallun (orang-orang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam) diganjar dengan Surga.

فَقَامَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ فَقَالَ أَشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي سَمِعْتُهُ وَهُوَ يَقُولُ عَشْرَةٌ فِي الْجَنَّةِ النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَلَوْ شِئْتُ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ
Sa'id bin Zaid berdiri dan berkata, "Aku bersaksi atas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bahwa aku mendengar beliau bersabda: "Ada sepuluh orang (akan) masuk Surga (tanpa hisab) ' Nabi berada di Surga, Abu Bakar berada di Surga, Umar berada di Surga, Utsman berada di Surga, Aliy berada di Surga, Thalhah berada di Surga, Az Zubair Ibnul Awwam berada di Surga, Sa'd bin Malik berada di Surga, 'Abdurrahman bin Auf berada di Surga." (Said bin Zaid berkata;) dan jika aku mau maka akan aku sebutkan yang kesepuluh." 'Abdurrahman berkata, "Orang-orang lalu bertanya, "Siapa orangnya?" Sa'id diam. 'Abdurrahman berkata, "Orang-orang bertanya lagi, "Siapa orangnya?" Sa'id menjawab, "Dia adalah Sa'id bin Zaid."
[Abu Daud no.4031, Shahih : Shahih Abu Daud no.4649, Syaikh al-Albani]

Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa membela beliau dari perlakuan orang-orang Kafir, yaitu seperti Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu.

رَأَيْتُ عُقْبَةَ بْنَ أَبِي مُعَيْطٍ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي فَوَضَعَ رِدَاءَهُ فِي عُنُقِهِ فَخَنَقَهُ بِهِ خَنْقًا شَدِيدًا فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَفَعَهُ عَنْهُ فَقَالَ{ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ }
"Aku pernah melihat 'Uqbah bin Abu Mu'ith mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam saat beliau sedang shalat lalu dia meletakkan selendangnya pada leher beliau lalu dia menariknya dengan sekuat-kuatnya. Kemudian Abu Bakr datang lalu melepaskan selendang tersebut dari leher beliau seraya berkata,
{Apakah kalian akan membunuh seseorang karena dia mengatakan Rabbku Allah?. Sungguh dia telah datang dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas dari Rabb kalian} [Bukhari no.3402]

Namun semenjak IslamnyaUmar bin al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu, kaum Mu’minin memiliki izzah dalam menampakkan ke-Islamannya.

مَازِلْنَا أَعِزَّةً مُنْذُ أَسْلَمَ عُمَرُ
Kami senantiasa mulia sejak 'Umar masuk Islam. [Bukhari no.3408]

Hal ini terjadi, berkat doa dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ وَكَانَ أَحَبَّهُمَا إِلَيْهِ عُمَرُقَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ
Bahwasannya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah berdoa: "Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu diantara kedua orang yang paling Engkau cintai, Abu Jahal atau Umar bin Khaththab." Ibnu Umar berkata; "Dan ternyata yang lebih Allah cintai di antara keduanya adalah Umar bin Khaththab." Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib dari hadits Ibnu Umar."
[Tirmidzi no.3614, Shahih : Shahih at-Tirmidzi no.3681, Syaikh al-Albani]

Diriwayatkan oleh Imam Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, “Aku bertanya kepada ‘Umar. ‘Kenapa engkau dijuluki al-Faruq?.’
Dia berkata, ‘Hamzah masuk Islam tiga hari lebih dahulu dariku –selanjutnya dia menceritakan kisah keislamannya, dan di akhirnya dia berkata- lalu aku berkata (saat aku sudah masuk Islam),
“Wahai Rasulullah! Bukankah kita berada di atas kebenaran; mati ataupun hidup?.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Tentu saja! Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya kalian berada di atas kebenaran; mati maupun hidup.”
Lalu aku berkata, “lantas untuk apa (kita) harus bersembunyi? Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sungguh kita harus keluar (menampakkan diri). Lalu kami membawa beliau keluar, kami terbagi dalam dua barisan; salah satunya dipimpin oleh Hamzah dan yang lainnya dipimpin olehku. Deru debu yang diakibatkannya ibarat ceceran tepung. Akhirnya kami memasuki al-Masjid al-Haram. Kemudian kaum musyrikin Quraisy menoleh ke arahku dan Hamzah; mereka tampak diliputi oleh kesedihan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Sejak saat itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menamaiku al-Faruq.” [Tarikh Umar 6-7]
Ibnu Mas’ud sering berkata, “Sebelumnya, kami tak berani melakukan shalat di sisi Ka’bah hingga ‘Umar masuk Islam.” [Mukhtashar Siratir Rasul 103]
Dari Shuhaib bin Sinan ar-Rumiy Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ketika Umar masuk Islam, barulah Islam menampakkan diri dan dakwah kepadanya dilakukan secara terang-terangan. Kami juga berani duduk-duduk secara melingkar di sekitar Baitullah, melakukan thawaf, mengimbangi perlakuan orang yang kasar kepada kami serta membalas sebagaian yang diperbuatnya.” [Tarikh Umar 13]
[Ar-Rahiq al-Makhtum 140-141, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury]

Bahkan setanpun akan menghindari jalan yang sama ketika berpapasan dengan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu dikarenakan kewibawaanya.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيهًا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada satu setanpun yang berjumpa denganmu pada suatu lorong melainkan dia akan mencari lorong lain selain lorong yang kamu (‘Umar) lalui". [Bukhari no.3407]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat memuji ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu dengan perkataannya yang selalu benar.

الَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رِجَالٌ يُكَلَّمُونَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونُوا أَنْبِيَاءَ فَإِنْ يَكُنْ مِنْ أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ فَعُمَرُ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Sungguh telah ada pada orang-orang sebelum kalian dari kalangan Bani Isra'il mereka yang dianugerahkan perkataannya selalu benar padahal mereka bukanlah dari kalangan para Nabi. Dan seandainya ada pada umatku ini seorang dari mereka, maka tentu dia adalah 'Umar." [Bukhari no.3413]

Karena Allah memberikan ‘Umar Ilham dan Ilmu Agama.

نْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَدْ كَانَ يَكُونُ فِي الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُنْ فِي أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ فَإِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ مِنْهُمْقَالَ ابْنُ وَهْبٍ تَفْسِيرُ مُحَدَّثُونَ مُلْهَمُونَ
Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda: "Di kalangan umat-umat yang terdahulu sebelum kalian, terkadang ada orang-orang yang mendapat ilham. Apabila di kalangan umatku terdapat beberapa orang yang mendapat ilham, maka Umar-lah salah satunya." lbnu Wahab berkata; "Yang dimaksud dengan muhaddatsuun dalam hadits tersebut adalah orang-orang yang mendapat ilham." [Muslim no.4411]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ شَرِبْتُ يَعْنِي اللَّبَنَ حَتَّى أَنْظُرَ إِلَى الرِّيِّ يَجْرِي فِي ظُفُرِي أَوْ فِي أَظْفَارِي ثُمَّ نَاوَلْتُ عُمَرَ فَقَالُوا فَمَا أَوَّلْتَهُ قَالَ الْعِلْمَ
Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketika tidur, aku bermimpi meminum (segelas) susu hingga aku dapat melihat aliran air dari kukuku atau kuku-kukuku, kemudian aku berikan (sisanya kepada) 'Umar". Orang-orang bertanya; "Apa maknanya (susu tersebut)?. Beliau menjawab: "Ilmu". [Bukhari no.3405]

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ النَّاسَ عُرِضُوا عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ فَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثَّدْيَ وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ دُونَ ذَلِكَ وَعُرِضَ عَلَيَّ عُمَرُ وَعَلَيْهِ قَمِيصٌ اجْتَرَّهُ قَالُوا فَمَا أَوَّلْتَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الدِّينَ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketika tidur, aku bermimpi melihat orang-orang dihadapkan kepadaku. Mereka mengenakan baju, diantaranya ada yang sampai kepada dada dan ada yang kurang dari itu. Dan dihadapkan pula kepadaku 'Umar bin Al Khaththab juga dengan mengenakan baju menyeretnya. Para shahabat bertanya; "Apa maksudnya hal demikian, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: "Itulah Ad-Din (agama) ". [Bukhari no.3415]

Allah Ta’ala pernah menyetujui pendapat ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu dalam tiga perkara.

قَالَ عُمَرُ وَافَقْتُ رَبِّي فِي ثَلَاثٍ فِي مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ وَفِي الْحِجَابِ وَفِي أُسَارَى بَدْرٍ
Umar bin Khaththab pernah berkata; 'Sesungguhnya pendapatku pernah disetujui oleh Rabb dalam tiga hal, yaitu; tentang maqam Ibrahim. tentang peristiwa hijab, dan tentang tawanan perang Badar. [Muslim no.4412]

Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memberikan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu istana di Surga.

بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالُوا لِعُمَرَ فَذَكَرْتُ غَيْرَتَهُ فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا فَبَكَى عُمَرُ وَقَالَ أَعَلَيْكَ أَغَارُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
Ketika kami sedang bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda: "Ketika tidur, aku bermimpi diriku berada di dalam Surga, disana ada seorang wanita yang sedang berwudlu' di samping istana. Aku bertanya: "Untuk siapakah istana itu?". Mereka menjawab; "Untuk 'Umar". Namun aku teringat kecemburuanmu, maka aku berpaling". Seketika itu 'Umar menangis dan berkata; "Apakah patut aku cemburu kepadamu, wahai Rasulullah?". [Bukhari no.3404]

Betapa mulianya para Khalifah yang empat, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman serta Aliy Radhiyallahu ‘anhum dalam mengikuti Manhaj Nubuwwah.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 'Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung kekhilafahan menurut manhaj nubuwwah selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung kerajaan yang bengis selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya.  Kemudian berlangsung pemerintahan yang menindas (diktator) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian akan berlangsung kembali kekhalifahan menurut manhaj nubuwwah. Kemudian beliau berhenti”.
[Ahmad no.17680, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.18319, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِقَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta'at meskipun terhadap seorang budak habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham."
Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih
[Tirmidzi no.2600, Shahih : Shahih at-Tirmidzi no.2676, Syaikh al-Albani]


Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan, yaitu bahwa siapa saja yang mencari kebenaran, maka kebenaran itu ada pada agama Islam, sedangkan Islam itu sumbernya Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib dipahami sesuai dengan pemahaman para Shahabat dan terkhusus lagi Khulafaur-Rasyidin yang empat yang telah mendapat petunjuk, yaitu Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman serta ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhum, di mana mereka telah dijamin Surga oleh Allah karena Manhaj mereka yang lurus yang berdasarkan Manhaj Nubuwwah.

Firman Allah Ta’ala,

اهْدِنَا الصِّراطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)
Tunjukilah kami jalan yang lurus,” [QS. Al-Faatihah : 6]

Ayat ini mencakup rukun pertama (al-Qur’an) dan rukun kedua (As-Sunnah), yakni merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

صِراطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (7)
“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” [QS. Al-Faatihah : 7]

Ayat ini mencakup rukun ketiga, yakni merujuk kepada pemahaman Salafush Shalih dalam meniti jalan yang lurus tersebut. Padahal sudah tidak diragukan bahwa siapa saja yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah pasti telah mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus. Oleh karena metode manusia dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah berbeda-beda, ada yang benar dan ada yang salah, maka haruslah memenuhi rukun ketiga untuk menghilangkan perbedaan tersebut, yakni merujuk kepada pemahaman Salafush Shalih.
[Madaarikun Nazhar fis Siyaasah baina Tathbiiqaatisy Syar’iyyah wa Infi’aalaatil Hamaasiyyah 41-42, Abdul Malik bin Ahmad bin al-Mubarak Ramadhani Aljazairi]

Ibnul Qayyim berkata,

فَكُلُّ مَنْ كَانَ أَعْرَفَ لِلْحَقِّ، وَأَتْبَعَ لَهُ كَانَ أَوْلَى بِالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ.وَلَا رَيْبَ أَنَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ هُمْ أَوْلَى بِهَذِهِ الصِّفَةِ مِنَ الرَّوَافِضِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمُحَالِ أَنْ يَكُونَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ جَهِلُوا الْحَقَّ وَعَرَفَهُ الرَّوَافِضُ، أَوْ رَفَضُوهُ وَتَمَسَّكَ بِهِ الرَّوَافِضُ.
Setiap orang yang paling mengetahui kebenaran, dan mengikutinya maka ia lebih berhak berada di atas Shirathal Mustaqim.
Tidak diragukan lagi bahwa para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam -Radhiyallahu ‘anhum- lebih berhak menyandang sifat ini daripada Rafidhah (Syiah). Karena mustahil jika para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam -Radhiyallahu ‘anhum-  tidak mengetahui kebenaran dan kebenaran itu diketahui oleh Rafidhah (Syiah), atau mereka menolaknya sedang Rafidhahlah (Syiah) yang memegangnya.

وَلِهَذَا فَسَّرَ السَّلَفُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ وَأَهْلَهُ: بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَأَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَهُوَ كَمَا فَسَّرُوهُ
Oleh karena itulah, para ulama Salaf menafsirkan Shirathal Mustaqim dan orang yang berjalan di atasnya dengan : Abu Bakar, ‘Umar dan para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam -Radhiyallahu ‘anhum-, sebagaimana penafsiran mereka.

وَلَا رَيْبَ أَنَّ الْمُنْعَمَ عَلَيْهِمْ هُمْ أَتْبَاعُهُ، وَالْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ هُمُ الْخَارِجُونَ عَنِ اتِّبَاعِهِ، وَأَتْبَعُ الْأُمَّةِ لَهُ وَأَطْوَعَهُمْ أَصْحَابُهُ وَأَهْلُ بَيْتِهِ، وَأَتْبَعُ الصَّحَابَةِ لَهُ السَّمْعُ وَالْبَصَرُ، أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَأَشَدُّ الْأُمَّةِ مُخَالَفَةً لَهُ هُمُ الرَّافِضَةُ، فَخِلَافُهُمْ لَهُ مَعْلُومٌ عِنْدَ جَمِيعِ فِرَقِ الْأُمَّةِ، وَلِهَذَا يُبْغِضُونَ السُّنَّةَ وَأَهْلَهَا، وَيُعَادُونَهَا وَيُعَادُونَ أَهْلَهَا، فَهُمْ أَعْدَاءُ سُنَّتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَهْلِ بَيْتِهِ وَأَتْبَاعُهُ
Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang diberikan nikmat adalah orang-orang yang ittiba’ kepada beliau, sedang orang yang dimurkai adalah orang-orang yang keluar dari ittiba’ kepada beliau. Umat yang paling ittiba’ dan paling taat kepada beliau adalah para Shahabat beliau dan Ahlul Bayt beliau. Dan Shahabat yang paling ittiba’ kepada beliau ialah Abu Bakar dan ‘Umar. Sedangkan umat yang paling menentang beliau adalah Rafidhah (Syiah), dan penentangan mereka sudah dikenal oleh seluruh golongan dari umat ini. Karena itulah mereka murka terhadap Sunnah, memusuhinya, dan memusuhi orang-orang yang berpegang padanya. Mereka adalah musuh Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Ahlul Bayt beliau, dan para pengikutnya.

فَقَدْ تَبَيَّنَ أَنَّ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ طَرِيقُ أَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ، وَطَرِيقُ أَهْلِ الْغَضَبِ وَالضَّلَالِ طَرِيقُ الرَّافِضَةِ.وَبِهَذِهِ الطَّرِيقِ بِعَيْنِهَا يُرَدُّ عَلَى الْخَوَارِجِ، فَإِنَّ مُعَادَاتَهُمُ الصَّحَابَةَ مَعْرُوفَةٌ.
Telah jelas bahwa Shirathal Mustaqim adalah jalannya para Shahabat dan orang-orang yang mengikutinya. Sedangkan jalannya orang yang dimurkai dan sesat adalah jalannya Rafidhah (Syiah). Dan dengan jalan inilah dibantahnya kaum Khawarij karena permusuhan mereka terhadap para Shahabat sudah dikenal.

[Madaarijus Saalikiin 1/94-95, Ibnul Qayyim]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang paling jelas jalannya, ‘aqidahnya, manhajnya, amalnya, dan dakwahnya. Dan Kesepakatan (ijma’) para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hujjah yang wajib diikuti setelah al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan Mengikuti manhaj para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah jaminan mendapat keselamatan dunia dan akhirat.

Sebagaimana Firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يُشاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَساءَتْ مَصِيراً
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [QS. An-Nisaa’ : 115]

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya,

وَقَوْلُهُ: وَمَنْ يُشاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدى أَيْ وَمَنْ سَلَكَ غَيْرَ طَرِيقِ الشَّرِيعَةِ الَّتِي جَاءَ بِهَا الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَارَ فِي شِقٍّ، وَالشَّرْعُ فِي شِقٍّ، وَذَلِكَ عَنْ عَمْدٍ منه بعد ما ظَهَرَ لَهُ الْحَقُّ وَتَبَيَّنَ لَهُ وَاتَّضَحَ لَهُ.
Dan firman Allah Ta’ala : [وَمَنْ يُشاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدى] “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya.” Artinya yang menempuh selain jalur syari’at yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Ia berada di satu sisi, sedangkan syari’at berada di sisi yang lain. Ia lakukan hal itu dengan sengaja setelah jelas dan nyata kebenaran baginya.

وَقَوْلُهُ: وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ هَذَا مُلَازِمٌ لِلصِّفَةِ الْأُولَى، وَلَكِنْ قَدْ تَكُونُ الْمُخَالَفَةُ لِنَصِّ الشارع، وقد تكون لما اجتمعت عَلَيْهِ الْأُمَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ فِيمَا عُلِمَ اتِّفَاقُهُمْ عَلَيْهِ تَحْقِيقًا، فَإِنَّهُ قَدْ ضُمِنَتْ لَهُمُ الْعِصْمَةُ فِي اجْتِمَاعِهِمْ مِنَ الْخَطَأِ تَشْرِيفًا لَهُمْ وَتَعْظِيمًا لِنَبِيِّهِمْ، وقد وردت أحاديث صحيحة كثيرة في ذلك
Firman Allah Ta’ala : [وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِين] “dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin,” Ini tidak lepas dari sifat yang pertama di atas (yakni menentang Rasul). Terkadang penyelisihan itu dilakukan terhadap nash dari pembuat syari’at (Allah) dan kadang terhadap perkara yang telah disepakati oleh umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (ijma’ Shahabat), padahal kesepakatan tersebut telah diketahui secara pasti. Ayat ini mengandung jaminan bahwa apa yang telah mereka (para Shahabat) sepakati tidak akan keliru, sebagai kehormatan untuk mereka dan kehormatan untuk Nabi mereka. Dan banyak sekali hadits shahih yang menjelaskan tentang hal itu.

[Tafsir Ibnu Katsir 2/365, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Imam Ibnu Abi Jamrah mengatakan, “Para ulama telah berkata mengenai makna dalam firman Allah, [وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِين] “dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin,” yang dimaksud adalah (jalan) para Shahabat generasi pertama karena mereka adalah orang-orang yang mengambil kitab wahyu langsung melalui diri-diri mereka dan mereka mengobati musykilah (ketidakjelasan) yang terjadi di dalam diri mereka dengan bertanya (kepada Rasulullah) secara baik, maka beliau menjawab pertanyaan mereka dengan sebaik-baik jawaban dan menjelaskan kepada mereka dengan penjelasan yang paling sempurna, sehingga mereka pun mendengarnya, memahaminya, mengamalkannya, memperbaikinya, menghafalnya, menetapkannya, menukilkannya, dan membenarkannya, mereka memiliki keutamaan yang agung atas kita. Sebab, karena merekalah dihubungkannya tali kita dengan tali Nabi Muhammad dan dengan tali (Allah) Penolong kita Jalla Jalaaluhu.”
[Da’watuna Syaikh al-Albani 45, tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi]

Dan firman Allah Ta’ala,

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (31) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِما لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (32)
Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (31) Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (32) [QS. Ar-Ruum : 31-32]

وقوله تعالى: مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِما لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ أَيْ لَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ قَدْ فَرَّقُوا دِينَهُمْ أَيْ بَدَّلُوهُ وَغَيَّرُوهُ، وَآمَنُوا بِبَعْضٍ وَكَفَرُوا بِبَعْضٍ، وَقَرَأَ بَعْضُهُمْ: فَارَقُوا دِينَهُمْ، أَيْ تَرَكُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ، وَهَؤُلَاءِ كَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسِ وَعَبَدَةِ الْأَوْثَانِ وَسَائِرِ أَهْلِ الْأَدْيَانِ الْبَاطِلَةِ مِمَّا عَدَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى:
Firman Allah Ta’ala : [مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِما لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ] “Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” Maksudnya, janganlah kalian menjadi orang-orang musyrik yang memecah-belah agama mereka, yakni mengganti dan mengubah-ubah agama mereka. Mereka mengimani sebagian ajaran-ajarannya dan mengingkari sebagian lainnya. Sebagian ahli qira-ah membacanya dengan bunyi [فَارَقُوا دِينَهُمْ] Artinya, mereka meninggalkan ajaran agama di belakang punggung mereka. Mereka itu adalah orang-orang Yahudi, Nashrani, Majusi, penyembah-penyembah berhala dan seluruh pemeluk agama bathil, selain pemeluk agama Islam. Sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكانُوا شِيَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّما أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ [الأنعام: 159]
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. [QS. Al-An’aam : 159]

فَأَهْلُ الْأَدْيَانِ قَبْلَنَا اخْتَلَفُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ عَلَى آراء ومثل بَاطِلَةٍ، وَكُلُّ فُرْقَةٍ مِنْهُمْ تَزْعُمُ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ، وَهَذِهِ الْأُمَّةُ أَيْضًا اخْتَلَفُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ عَلَى نَحِلٍ كُلُّهَا ضَلَالَةٌ إِلَّا وَاحِدَةً وَهُمْ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، الْمُتَمَسِّكُونَ بِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَبِمَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّدْرُ الْأَوَّلُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعَيْنِ وَأَئِمَّةُ الْمُسْلِمِينَ فِي قَدِيمِ الدَّهْرِ وَحَدِيثِهِ، كَمَا رواه الحاكم في مستدركه أنه سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ مِنْهُمْ فَقَالَ
Jadi, pemeluk agama-agama sebelum kita (Islam), mereka berselisih paham dalam beberapa pendapat dan sekte-sekte bathil. Setiap golongan mengklaim bahwa golongannyalah yang paling benar. Umat ini (Islam) juga berselisih paham di antara mereka. Kesemua golongan tersebut sesat, terkecuali satu golongan saja, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka memegang erat kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka berpedoman dengan generasi awal dari kalangan Shahabat, Tabi’in dan imam-imam kaum Muslimin yang ada di waktu lampau maupun di waktu setelahnya. Hal ini sesuai sebagaimana dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadraknya, saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya tentang siapa golongan yang selamat dari kalangan kaum Muslimin, beliau menjawab :

«مَا أَنَا عليه وأصحابي»
(Yaitu golognan yang mengikuti) apa-apa yang aku tempuh bersama Shahabatku hari ini.
[Silsilah al-Ahaadits Ash-Shahiihah no.202, Syaikh al-Albani]

[Tafsir Ibnu Katsir 6/285, al-Hafizh Ibnu Katsir]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Islam yang berarti mereka telah mendapat petunjuk, dengan demikian mengikuti mereka adalah wajib.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقاً مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمانِكُمْ كافِرِينَ (100) وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلى عَلَيْكُمْ آياتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلى صِراطٍ مُسْتَقِيمٍ (101)
Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang yang kafir sesudah kalian beriman.
Bagaimana kalian (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus. [QS. Ali ‘Imran : 100-101]

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut di atas dengan penafsiran sebagai berikut,

يحذر تبارك وتعالى عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ عَنْ أَنْ يُطِيعُوا طَائِفَةً مِنَ أهل الْكِتَابَ الَّذِينَ يَحْسُدُونَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَمَا مَنَحَهُمْ بِهِ مِنْ إِرْسَالِ رَسُولِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى:
Allah Tabaraka wa Ta’ala mengingatkan orang-orang mukmin agar tidak mentaati golongan Ahli Kitab yang dengki terhadap orang-orang yang beriman atas keutamaan yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala serta diutusnya Rasul kepada mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ [الْبَقَرَةِ: 109]
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [QS. Al-Baqarah : 109]

وَهَكَذَا قَالَ هَاهُنَا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقاً مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمانِكُمْ كافِرِينَ ثم قال تعالى:
Demikian juga di sini (QS. Ali ‘Imran : 100) Allah berfirman : [إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقاً مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمانِكُمْ كافِرِينَ] “Jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang yang kafir sesudah kalian beriman.”
Kemudian Allah Ta’ala berfirman :

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلى عَلَيْكُمْ آياتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ
Bagaimana kalian (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian?

يَعْنِي أَنَّ الْكُفْرَ بَعِيدٌ مِنْكُمْ وَحَاشَاكُمْ مِنْهُ، فَإِنَّ آيَاتِ اللَّهِ تَنْزِلُ عَلَى رَسُولِهِ لَيْلًا وَنَهَارًا، وَهُوَ يَتْلُوهَا عَلَيْكُمْ وَيُبَلِّغُهَا إِلَيْكُمْ، وَهَذَا كَقَوْلِهِ تَعَالَى:
Yakni, kekafiran jauh dari kalian dan tidak mungkin kalian lakukan, karena ayat-ayat Allah masih turun kepada Rasul-Nya pada malam hari dan siang hari, dan Nabi pun membacakan serta menyampaikannya kepada kalian. Ini persis seperti firman-Nya :

وَما لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ أَخَذَ مِيثاقَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [الحديد: 8]
“Dan mengapa kalian tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kalian supaya beriman kepada Rabb kalian. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” [QS. Al-Hadid : 8]

وكما جاء فِي الْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لأصحابه يوما «أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟» قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ. قَالَ: «وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ» ؟ وَذَكَرُوا الْأَنْبِيَاءَ، قَالَ «وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ؟» قَالُوا: فَنَحْنُ. قَالَ «وَكَيْفَ لَا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟» قَالُوا: فَأَيُّ النَّاسِ أَعْجَبُ إِيمَانًا؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَجِيئُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ يَجِدُونَ صُحُفًا يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا»
Dan sebagaimana telah datang dalam sebuah hadits. bahwa pada suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepada para Shahabat,
“Kaum Mukminin manakah yang keimanannya paling menakjubkan kalian?” Mereka menjawab: “Para Malaikat.” Beliau bersabda: “Bagaimana mereka tidak beriman sedangkan Rabb mereka di sisi mereka.” Lalu para Shahabat menyebutkan para Nabi, maka beliau bersabda: “Bagaimana mereka tidak beriman sementara wahyu turun kepada mereka.” Lalu mereka berkata: “Kami (Shahabat).” Maka Nabi bersabda: “Bagaimana kalian tidak beriman sementara aku berada di tengah-tengah kalian.” Lalu para Shahabat berkata: “Lalu siapakah manusia yang paling menkajubkan keimanannya?” Nabi menjawab: “suatu kaum yang datang setelah kalian dan mereka mendapati shuhuf (al-Qur’an) dan mereka mengimani apa yang terkandung di dalamnya.”
[Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no.3215]

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلى صِراطٍ مُسْتَقِيمٍ أَيْ وَمَعَ هَذَا فَالِاعْتِصَامُ بِاللَّهِ وَالتَّوَكُّلُ عَلَيْهِ هُوَ الْعُمْدَةُ فِي الْهِدَايَةِ، وَالْعُدَّةُ فِي مُبَاعَدَةِ الْغَوَايَةِ، وَالْوَسِيلَةُ إِلَى الرَّشَادِ، وَطَرِيقِ السَّدَادِ وحصول المراد.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman (QS. Ali ‘Imran : 101) : [وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلى صِراطٍ مُسْتَقِيمٍ] “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus” Karena itulah, berpegang teguh kepada Allah dan tawakkal kepada-Nya merupakan sendi dalam memperoleh hidayah, bekal untuk menjauhi kesesatan, sarana menuju kebenaran dan jalan yang lurus untuk sampai kepada tujuan.

[Tafsir Ibnu Katsir 2/74, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Ibnul Qayyim berkata,

وَوَجْهُ الِاسْتِدْلَالِ بِالْآيَةِ أَنَّهُ تَعَالَى أَخْبَرَ عَنْ الْمُعْتَصِمِينَ بِهِ بِأَنَّهُمْ قَدْ هُدُوا إلَى الْحَقِّ؛ فَنَقُولُ: الصَّحَابَةُ - رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ - مُعْتَصِمُونَ بِاَللَّهِ فَهُمْ مُهْتَدُونَ، فَاتِّبَاعُهُمْ وَاجِبٌ
Sisi pengambilan dalil dari ayat ini (QS. Ali ‘Imran : 101) ialah bahwa Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang yang berpegang teguh kepada (agama)-Nya bahwa mereka adalah orang yang telah mendapat petunjuk kepada kebenaran. Maka kita katakan: Para Shahabat Ridhwanullahi ‘alaihim adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka mereka adalah orang yang mendapat petunjuk sehingga mengikuti mereka adalah wajib.
[I’laamul Muwaqi’in 4/103, Ibnul Qayyim]

Dan firman Allah Ta’ala,

لَا إِكْراهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقى لَا انْفِصامَ لَها وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah : 256]

وَقَوْلُهُ: فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقى لَا انْفِصامَ لَها أَيْ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ مِنَ الدِّينِ بِأَقْوَى سَبَبٍ، وشبه ذلك بالعروة القوية التي لا تنفصم، هي فِي نَفْسِهَا مُحْكَمَةٌ مُبْرَمَةٌ قَوِيَّةٌ وَرَبْطُهَا قَوِيٌّ شَدِيدٌ، وَلِهَذَا قَالَ
Firman Allah Ta’ala, [فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقى لَا انْفِصامَ لَها] “maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus.” Artinya, ia telah berpegang teguh kepada agama dengan sesuatu yang sangat kuat. Dan Allah Ta’ala menyerupakan hal itu dengan tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Tali tersebut sangatlah kokoh, kuat, dan ikatannya sangat kencang. Oleh karena itu Allah berfirman :

فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقى لَا انْفِصامَ لَها الآية،
“maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus.”

قال مجاهد: العروة الْوُثْقَى يَعْنِي الْإِيمَانُ، وَقَالَ السُّدِّيُّ: هُوَ الْإِسْلَامُ،
Mujahid mengatakan : “Yang dimaksud dengan [العروة الْوُثْقَى] adalah Iman, sedangkan as-Suddi mengatakan : “Yaitu Islam.”

[Tafsir Ibnu Katsir 1/523, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Dan firman Allah Ta’ala,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْداءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْواناً وَكُنْتُمْ عَلى شَفا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْها كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آياتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. [QS. Ali ‘Imraan : 103]

وقوله تعالى: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا قِيلَ بِحَبْلِ اللَّهِ أَيْ بِعَهْدِ اللَّهِ، كَمَا قَالَ في الآية بعدها
Firman-Nya Ta’ala, [وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا] “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai,” Ada yang berpendapat, [بِحَبْلِ اللَّهِ] “Kepada tali (agama) Allah,” maksudnya adalah kepada janji Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya pada ayat yang akan disebutkan nanti :

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ [آلِ عِمْرَانَ: 112] أَيْ بِعَهْدٍ وَذِمَّةٍ،
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,” [QS. Ali ‘Imraan: 112], yakni dengan perjanjian dan perlindungan.

وقوله تعالى: وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْداءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْواناً إِلَى آخِرِ الْآيَةِ، وَهَذَا السِّيَاقُ فِي شَأْنِ الأوس والخزرج، فإنه قد كان بَيْنَهُمْ حُرُوبٌ كَثِيرَةٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَعَدَاوَةٌ شَدِيدَةٌ وَضَغَائِنُ وَإِحَنٌ وَذُحُولٌ ، طَالَ بِسَبَبِهَا قِتَالُهُمْ وَالْوَقَائِعُ بَيْنَهُمْ،
Firman Allah Ta’ala, [وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْداءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْواناً] “dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara,” hingga akhir ayat.
Ayat ini berkenaan dengan kaum Aus dan Khazraj (kaum Anshar), sebab pada masa jahiliyah dahulu, di antara mereka telah terjadi banyak peperangan, permusuhan yang sangat sengit, rasa dengki dan dendam yang menyebabkan terjadi pembunuhan dan berbagai pertempuran di antara mereka.

فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، فَدَخَلَ فِيهِ مَنْ دَخَلَ مِنْهُمْ، صَارُوا إِخْوَانًا مُتَحَابِّينَ بِجَلَالِ اللَّهِ، مُتَوَاصِلِينَ فِي ذَاتِ اللَّهِ، مُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
Maka ketika Allah mendatangkan Islam, mereka pun memeluknya, dan jadilah mereka bersaudara, saling mencintai karena Allah, saling menyambung hubungan, dan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman :

هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَلكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ [الأنفال: 63] إلى آخر الآية،
Allah-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi ini, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah-lah yang telah mempersatukan hati mereka. [QS. Al-Anfaal : 63] hingga akhir ayat.

وَكَانُوا عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ بِسَبَبِ كفرهم، فأنقذهم اللَّهُ مِنْهَا أَنْ هَدَاهُمْ لِلْإِيمَانِ، وَقَدِ امْتَنَّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ، فَعَتَبَ مَنْ عتب منهم، بما فضل عليهم في القسم، بِمَا أَرَاهُ اللَّهُ فَخَطَبَهُمْ فَقَالَ
Dahulu mereka berada di tepi jurang Neraka disebabkan kekufuran mereka. Kemudian Allah menyelamatkan mereka dengan memberikan hidayah keimanan. Mereka telah diungkit-ungkit oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada hari pembagian ghanimah (harta rampasan perang) Hunain. Ini terjadi pada saat salah seorang di antara mereka menegur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, karena beliau melebihkan yang lain dalam pembagian ghanimah, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukannya sesuai dengan petunjuk Allah. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berseru kepada mereka :

«يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَمْ أَجِدْكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ بِي، وَكُنْتُمْ مُتَفَرِّقِينَ فَأَلَّفَكُمُ اللَّهُ بِي، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ الله بي؟» فكلما قَالَ شَيْئًا قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمَنُّ.
“Wahai sekalian kaum Anshar, bukankah aku mendapati kalian dalam kesesatan, lalu Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui diriku, dan dahulu kalian dalam keadaan terpecah-belah, kemudian Allah menyatukan hati kalian melalui diriku, dan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah menjadikan kalian kaya melalui diriku?” Setiap kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan sesuatu, maka mereka menjawab : “Allah dan Rasul-Nya telah memberikan karunia.” [Bukhari no.3985]

[Tafsir Ibnu Katsir 2/77, al-Hafizh Ibnu Katsir]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang pertama kali beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sehingga selain mereka diperintahkan untuk beriman seperti keimanan para Shahabat. Dan keimanan para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah sebagai tolak ukur bagi keimanan orang selain mereka. Dan Hanya orang-orang Munafik saja yang berani mengatakan bahwa para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bodoh dan kurang akalnya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِذا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَما آمَنَ النَّاسُ قالُوا أَنُؤْمِنُ كَما آمَنَ السُّفَهاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهاءُ وَلكِنْ لا يَعْلَمُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!’ Mereka menjawab, ‘Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, akan tetapi mereka tidak tahu.” [QS. Al-Baqarah : 13]

قالُوا أَنُؤْمِنُ كَما آمَنَ السُّفَهاءُ يَعْنُونَ- لَعَنَهُمُ اللَّهُ- أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، قَالَهُ أَبُو الْعَالِيَةِ وَالسُّدِّيُّ فِي تَفْسِيرِهِ بِسَنَدِهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَغَيْرِ وَاحِدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، وَبِهِ يَقُولُ الرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بن أَسْلَمَ وَغَيْرُهُمْ
Mengenai firman Allah Ta’ala, [أَنُؤْمِنُ كَما آمَنَ السُّفَهاءُ] “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” yakni, yang mereka (orang munafik) –Semoga Allah melaknat mereka- maksudkan di sini adalah para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam –Radhiyallahu ‘anhum-, Demikian menurut pendapat Abul ‘Aliyah, as-Suddi dalam tafsirnya dengan sanad dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud serta beberapa orang Shahabat. Hal yang sama juga dikatakan oleh ar-Rabi’ bin Anas, ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan selain mereka.

وَالسُّفَهَاءُ جَمْعُ سَفِيهٍ كَمَا أَنَّ الْحُكَمَاءَ جَمْعُ حَكِيمٍ وَالْحُلَمَاءَ جَمْعُ حَلِيمٍ، وَالسَّفِيهُ هُوَ الْجَاهِلُ الضَّعِيفُ الرَّأْيِ الْقَلِيلُ الْمَعْرِفَةِ بِمَوَاضِعِ الْمَصَالِحِ وَالْمَضَارِّ
Kata [السُّفَهَاءُ] merupakan bentuk jamak dari [سَفِيهٍ] seperti kata [الْحُكَمَاءَ] adalah bentuk jamak dari [حَكِيمٍ] dan [الْحُلَمَاءَ] bentuk jamak dari [حَلِيمٍ]. Makna sufaha adalah bodoh, kurang akal, dan sedikit pengetahuannya tentang hal-hal yang bermaslahat dan bermudharat.

وَقَدْ تَوَلَّى اللَّهُ سُبْحَانَهُ جَوَابَهُمْ فِي هَذِهِ الْمَوَاطِنِ كُلِّهَا فَقَالَ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهاءُ فَأَكَّدَ وَحَصَرَ السَّفَاهَةَ فِيهِمْ وَلكِنْ لَا يَعْلَمُونَ يَعْنِي: وَمِنْ تَمَامِ جَهْلِهِمْ أَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ بِحَالِهِمْ فِي الضَّلَالَةِ وَالْجَهْلِ وَذَلِكَ أَرْدَى لَهُمْ وَأَبْلَغُ فِي الْعَمَى وَالْبُعْدِ عن الهدى
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan jawaban mengenai semua hal yang berkenaan dengan itu kepada mereka melalui firman-Nya, [أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهاءُ] " Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal”. Lalu Allah Ta’ala menegaskan kebodohan mereka itu dengan firman-Nya, [وَلكِنْ لَا يَعْلَمُونَ] “akan tetapi mereka tidak tahu.” Maknanya, termasuk tanda dari kebodohan mereka yang sempurna bahwa mereka tidak mengetahui keberadaan dirinya dalam kesesatan dan kebodohan. Dan yang demikian itu lebih menghinakan bagi mereka dan lebih menunjukkan mereka berada dalam kebutaan dan jauh dari petunjuk.

[Tafsir Ibnu Katsir 1/92-93, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Dan begitu pula dengan firman Allah Ta’ala,

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّما هُمْ فِي شِقاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Maha mendengar, Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah : 137]

يقول تعالى: فإن آمنوا، يعني الْكُفَّارُ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَغَيْرِهِمْ، بِمِثْلِ مَا آمنتم به يا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنَ الْإِيمَانِ بِجَمِيعِ كُتُبِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ فَقَدِ اهْتَدَوْا أَيْ فَقَدْ أَصَابُوا الْحَقَّ وَأَرْشَدُوا إِلَيْهِ وَإِنْ تَوَلَّوْا أَيْ عَنِ الْحَقِّ إِلَى الْبَاطِلِ بَعْدَ قِيَامِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِمْ فَإِنَّما هُمْ فِي شِقاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ، أَيْ فَسَيَنْصُرُكَ عَلَيْهِمْ وَيُظْفِرُكَ بهم وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
Allah Ta’ala berfirman, [فإن آمنوا] “Maka jika mereka beriman,” maksudnya yaitu orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan yang lainnya, [بِمِثْلِ مَا آمنتم به] “kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya,” yakni kamu hai orang-orang yang beriman, yaitu iman kepada seluruh Kitab Allah, para Rasul-Nya, serta tidak membedakan antara satu Nabi dengan Nabi lainnya, [فَقَدِ اهْتَدَوْا] “sungguh mereka telah mendapat petunjuk,” maksudnya, jika demikian niscaya mereka berada di atas kebenaran dan memperoleh jalan menuju kepada-Nya. [وَإِنْ تَوَلَّوْا] “dan jika mereka berpaling,” yaitu dari kebenaran kepada kebathilan setelah adanya hujjah atas diri mereka, [فَإِنَّما هُمْ فِي شِقاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ] “sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka,” yakni Allah Ta’ala akan menolongmu dari mereka serta memenangkanmu atas mereka. [وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ] “Dan Dia-lah Maha mendengar, maha Mengetahui.”

[Tafsir Ibnu Katsir 1/322, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Melalui ayat ini (QS. Al-Baqarah : 137) Allah menjadikan iman para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai timbangan (tolak ukur) untuk membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebathilan. Apabila Ahlul Kitab beriman sebagaimana berimannya para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka sungguh, mereka mendapat hidayah (petunjuk) yang mutlak dan sempurna. Jika mereka (Ahlul Kitab) berpaling (tidak beriman) sebagaimana berimannya para Shahabat, maka mereka jatuh ke dalam perpecahan, perselisihan, dan kesesatan yang sangat jauh.
Memohon hidayah dan iman adalah sebesar-besar kewajiban, menjauhkan perselisihan dan kesesatan adalah wajib; jadi mengikuti (manhaj) Shahabat Rasul Radhiyallahu ‘anhum adalah kewajiban yang paling wajib.
[Bashaa-ir Dzawii Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajis Salaf 53, Syaikh Salim bin ‘ied al-Hilali]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan orang yang paling sempurna imannya (sebenar-benarnya iman).

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ زادَتْهُمْ إِيماناً وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (4)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakal. (2) (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. (3) Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb-nya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia. (4) [QS. Al-Anfaal : 2-4]

وَقَوْلُهُ أُولئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا، أَي الْمُتَّصِفُونَ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقَّ الْإِيمَانِ.
Dan firman-Nya Ta’ala, [أُولئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا] “Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” Artinya, mereka yang memiliki sifat-sifat seperti ini adalah orang-orang Mukmin yang beriman dengan sebenar-benarnya.

وَقَوْلُهُ لَهُمْ دَرَجاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ أَيْ مَنَازِلُ وَمَقَامَاتٌ وَدَرَجَاتٌ فِي الْجَنَّاتِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: هُمْ دَرَجاتٌ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِما يَعْمَلُونَ [آلِ عِمْرَانَ: 163] وَمَغْفِرَةٌ أَيْ يَغْفِرُ لَهُمُ السَّيِّئَاتِ وَيَشْكُرُ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ.
Firman-Nya, [لَهُمْ دَرَجاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ] “Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb-nya,” Artinya, mereka memperoleh tempat-tempat tinggal, kedudukan, atau derajat di dalam Surga Allah. Sebagaimana firman-Nya : [هُمْ دَرَجاتٌ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِما يَعْمَلُونَ] “(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” [QS. Ali ‘Imraan : 163] Dan firman-Nya, [وَمَغْفِرَةٌ] “Dan ampunan.” Yakni, Allah mengampuni kesalahan-kesalahan mereka serta membalas kebaikan-kebaikan mereka.

وَلِهَذَا جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
Oleh karenanya dalam kitab Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

«إِنَّ أَهْلَ عِلِّيِّينَ لَيَرَاهُمْ مَنْ أَسْفَلُ مِنْهُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْكَوْكَبَ الْغَابِرَ فِي أُفُقٍ مِنْ آفَاقِ السَّمَاءِ» . قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تِلْكَ مَنَازِلُ الْأَنْبِيَاءِ لَا يَنَالُهَا غَيْرُهُمْ فقال: «بلى والذي نفسي بيده، لرجال آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ»
“Sesungguhnya penduduk Surga yang paling tinggi dapat dilihat oleh penduduk Surga yang di bawah mereka dengan jelas, sejelas kalian melihat bintang yang sering melintas di ufuk langit.” Para Shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, itukah derajat para Nabi yang tidak bisa dicapai oleh selain mereka?” Maka beliau bersabda : “Tentu saja (akan dicapai oleh selain mereka). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul.” [Bukhari no.3016 & Muslim no.5059]

وَفِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ مِنْ حديث أبي عطية عن ابن أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم «إن أهل الجنة ليتراؤون أَهْلَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى كَمَا تَرَوْنَ الْكَوْكَبَ الْغَابِرَ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ منهم وأنعما»
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para pemilik kitab Sunan, yaitu hadits Abi ‘Athiyah dari Ibnu abi S’aid, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya penduduk Surga benar-benar dapat melihat penduduk Surga yang paling atas, sebagaimana jelasnya kalian melihat bintang-bintang melintas di atas ufuk langit. Dan sesungguhnya Abu Bakar dan ‘Umar termasuk penghuninya dan diberi kenikmatan. [Shahiihul Jaami’ no.2030, Syaikh al-Albani]

[Tafsir Ibnu Katsir 4/10-11, al-Hafizh Ibnu Katsir]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah Ta’ala.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

هُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ وَالْهَدْيَ مَعْكُوفاً أَنْ يَبْلُغَ مَحِلَّهُ وَلَوْلا رِجالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِساءٌ مُؤْمِناتٌ لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَؤُهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشاءُ لَوْ تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذاباً أَلِيماً (25) إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوى وَكانُوا أَحَقَّ بِها وَأَهْلَها وَكانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً (26)
Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang Mukmin dan perempuan-perempuan yang Mukmin yang tidak kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafir di antara mereka dengan adzab yang pedih. (25) Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang Mukmin, dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (26) [QS. Al-Fath : 25-26]

وَقَوْلُهُ عز وجل: إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجاهِلِيَّةِ وَذَلِكَ حِينَ أَبَوْا أَنْ يَكْتُبُوا بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَأَبَوْا أَنْ يَكْتُبُوا هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
Firman Allah ‘Azza wa Jalla : [إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجاهِلِيَّةِ] “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah,” hal itu terjadi ketika mereka (orang-orang kafir) menolak penulisan kata [بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ] dan mereka menolak pula penulisan “Ini adalah janji yang disetujui oleh Muhammad utusan Allah.” (Dalam perjanjian Hudaibiyah)

فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوى
“lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang Mukmin, dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: كَلِمَةَ التَّقْوَى الْإِخْلَاصُ، وَقَالَ عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ هِيَ «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ» وَقَالَ يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنِ الْمِسْوَرِ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوى قَالَ «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ»
Mujahid berkata : “Kalimat takwa adalah keikhlasan.” Sedangkan ‘Atha bin Abi Rabah berkata, “Kalimat takwa adalah Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq dari az-Zuhri dari ‘Urwah dari al-Miswar, [وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوى] “dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa” Ia berkata, “Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.”

[Tafsir Ibnu Katsir 7/320, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Sedangkan orang-orang yang bertakwa tersebut berangkat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ مِنْ الْمَدِينَةِ فِي بِضْعَ عَشْرَةَ مِائَةً مِنْ أَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا كَانُوا بِذِي الْحُلَيْفَةِ قَلَّدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْهَدْيَ وَأَشْعَرَ وَأَحْرَمَ بِالْعُمْرَةِ
Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berangkat saat perjanjian Hudaibiyah dari Madinah bersama sekitar seribu orang Shahabat Beliau hingga ketika sampai di Dzul Hulaifah, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam mengikatnya dan menandai hewan qurban Beliau, lalu berihram untuk 'umrah". [Bukhari no.1580]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan generasi terbaik yang telah dididik langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan mereka (Shahabat) adalah imam bagi manusia dalam hal ilmu. Dan Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang telah melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan sebaik-baiknya sehingga mereka berhak menjadi sebaik-baik umat Islam ini.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. [QS. Ali ‘Imran : 110]

يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ بِأَنَّهُمْ خير الأمم، فقال تعالى: كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
Allah Ta’ala mengabarkan tentang umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwa mereka adalah sebaik-baik umat, Dia Ta’ala berfirman, [كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ] “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”

قَالَ الْبُخَارِيُّ:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عنه كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ قَالَ: خَيْرَ النَّاسِ لِلنَّاسِ تَأْتُونَ بِهِمْ فِي السَّلَاسِلِ فِي أَعْنَاقِهِمْ حَتَّى يَدْخُلُوا فِي الْإِسْلَامِ
Imam al-bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, [كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ] “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Ia berkata, “Kalian adalah manusia terbaik untuk menyelamatkan yang lainnya. Ketika kalian datang, belenggu-belenggu melilit di leher mereka. Kemudian belenggu-belenggu itu akan terlepas, begitu mereka masuk Islam. [Bukhari no.4191]

وَهَكَذَا قَالَ ابن عباس ومجاهد وعطية العوفي وعكرمة وعطاء والربيع بن أنس كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ يَعْنِي خَيْرَ النَّاسِ لِلنَّاسِ، وَالْمَعْنَى أَنَّهُمْ خَيْرُ الْأُمَمِ وَأَنْفَعُ النَّاسِ لِلنَّاسِ، وَلِهَذَا قَالَ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ.
Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Athiyyah al-‘Aufi, ‘Ikrimah, ‘Atha’, dan ar-Rabi’ bin Anas: [كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ] “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilhairkan untuk manusia.” Yaitu sebaik-baik manusia bagi manusia lainnya. [Ibnu Abi Hatim 2/472,473]

Maknanya, bahwa mereka adalah umat terbaik dan manusia yang paling bermanfaat bagi yang lainnya. Karena itu Allah berfirman [تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ] “menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

[Tafsir Ibnu Katsir 2/80, al-Hafizh Ibnu Katsir]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍفِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ{ كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنْكَرِ }قَالَ هُمْ الَّذِينَ هَاجَرُوا مَعَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ قَالَ أَبُو نُعَيْمٍ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah Azza wa Jalla: [كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنْكَرِ] “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar”. ia berkata; "Mereka adalah orang-orang yang berhijrah bersama Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam ke Madinah." Sedangkan menurut Abu Nu'aim berkata; "Bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam."
[Ahmad no.2334, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.2463, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

Imam al-Qurthubi berkata mengenai QS. Ali ‘Imran : 110,

وَإِذَا ثَبَتَ بِنَصِّ التَّنْزِيلِ أَنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ خَيْرُ الْأُمَمِ، فَقَدْ رَوَى الْأَئِمَّةُ مِنْ حَدِيثِ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: (خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ) . [الْحَدِيثَ]
Apabila telah tetap berdasarkan nash Al-Qur’an bahwa umat ini adalah sebaik-baik umat; maka para imam telah meriwayatkan hadits dari ‘Imran bin Husain, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya,’ al-hadits.

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَوَّلَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَفْضَلُ مِمَّنْ بَعْدَهُمْ، وَإِلَى هَذَا ذَهَبَ مُعْظَمُ الْعُلَمَاءِ، وَإِنَّ مَنْ صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَآهُ وَلَوْ مَرَّةً فِي عُمْرِهِ أَفْضَلُ مِمَّنْ يَأْتِي بَعْدَهُ، وَإِنَّ فَضِيلَةَ الصُّحْبَةِ لَا يَعْدِلُهَا عَمَلٌ
Ini menunjukkan bahwa generasi pertama dari umat ini lebih utama daripada orang-orang yang datang setelahnya. Oleh karena itulah sebagian besar ulama berpendapat bahwa orang yang pernah bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan melihat beliau meskipun sekali dalam seumur hidup, itu lebih baik daripada orang yang datang setelahnya karena keutamaan bersahabat dengan beliau tidak dapat disamai dengan amalan apapun.

[Tafsir al-Qurthubi 4/171, Imam al-Qurthubi]

Imam Ibnul Qayyim berkata berkenaan dengan QS. Ali ‘Imran : 110,

شَهِدَ لَهُمْ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُمْ يَأْمُرُونَ بِكُلِّ مَعْرُوفٍ، وَيَنْهَوْنَ عَنْ كُلِّ مُنْكَرٍ، فَلَوْ كَانَتْ الْحَادِثَةُ فِي زَمَانِهِمْ لَمْ يُفْتِ فِيهَا إلَّا مَنْ أَخْطَأَ مِنْهُمْ لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْهُمْ قَدْ أَمَرَ فِيهَا بِمَعْرُوفٍ وَلَا نَهَى فِيهَا عَنْ مُنْكَرٍ؛ إذْ الصَّوَابُ مَعْرُوفٌ بِلَا شَكٍّ، وَالْخَطَأُ مُنْكَرٌ مِنْ بَعْضِ الْوُجُوهِ، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَمَا صَحَّ التَّمَسُّكُ بِهَذِهِ الْآيَةِ عَلَى كَوْنِ الْإِجْمَاعِ حُجَّةً، وَإِذَا كَانَ هَذَا بَاطِلًا عُلِمَ أَنَّ خَطَأَ مَنْ يَعْلَمُ مِنْهُمْ فِي الْعِلْمِ إذَا لَمْ يُخَالِفْهُ غَيْرُهُ مُمْتَنِعٌ، وَذَلِكَ يَقْتَضِي أَنَّ قَوْلَهُ حُجَّةٌ.
Allah bersaksi bagi mereka, bahwa mereka selalu menyuruh kepada segala sesuatu yang ma’ruf dan mencegah dari segala sesuatu yang mungkar. Apabila ada suatu kejadian di zaman mereka, kemudian tidak ada yang berfatwa dalam kejadian tersebut kecuali orang yang melakukan kesalahan (dalam fatwa itu) di antara mereka, maka berarti tidak ada seorang pun di antara mereka yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dalam hal kejadian itu, karena kebenaran adalah sesuatu yang ma’ruf tanpa keraguan, dan kesalahan adalah sesuatu yang mungkar ditinjau dari beberapa sisi. Seandainya tidak demikian, maka tidak benar untuk berpegang teguh dengan ayat ini untuk menyatakan bahwa ijma’ adalah hujjah. Dan apabila hal ini tidak benar, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebuah kesalahan dari orang yang mengetahui ilmu di antara mereka, apabila tidak ada Shahabat lain yang menentang, maka itu adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Hal ini membuktikan bahwa pendapat mereka adalah hujjah.
[I’laamul Muwaqi’in 4/100-101, Ibnul Qayyim]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Naqdul Mantiq menjelaskan: kaum muslimin telah sepakat bahwa umat ini adalah sebaik-baik umat dan paling sempurna, dan umat yang paling sempurna dan paling utama adalah generasi yang terdahulu yaitu generasi para Shahabat. Generasi para Shahabat adalah orang yang paling tahu dan paling ittiba’ kepada Rasulullah, kemudian yang mengikuti mereka dari Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah, karena itu Imam Ahmad bin Hanbal berkata dalam risalah ‘Abdus bin Malik,

أُصُولُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ , وَتَرْكُ الْبِدَعِ , وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلَالَةٌ
Prinsip Ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan oleh para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. [Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/175 no.317, al-Lalika-i]

[-] Para Shahabat adalah orang-orang yang diajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah beserta tafsirnya keduanya langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

كَما أَرْسَلْنا فِيكُمْ رَسُولاً مِنْكُمْ يَتْلُوا عَلَيْكُمْ آياتِنا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, mensucikan dan mengajarimu al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [QS. Al-Baqarah : 151]

يُذَكِّرُ تَعَالَى عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْهِمْ مِنْ بِعْثَةِ الرَّسُولِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ، وَيُزَكِّيهِمْ، أَيْ يُطَهِّرُهُمْ مِنْ رَذَائِلِ الْأَخْلَاقِ وَدَنَسِ النُّفُوسِ وَأَفْعَالِ الْجَاهِلِيَّةِ، وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلَمَاتِ إِلَى النُّورِ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ، وَهُوَ الْقُرْآنُ، وَالْحِكْمَةَ وَهِيَ السُّنَّةُ، وَيُعَلِّمُهُمْ مَا لَمْ يَكُونُوا يَعْلَمُونَ، فَكَانُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ الْجَهْلَاءَ يسفهون بالعقول الغراء، فَانْتَقَلُوا بِبَرَكَةِ رِسَالَتِهِ، وَيُمْنِ سِفَارَتِهِ، إِلَى حَالِ الْأَوْلِيَاءِ، وَسَجَايَا الْعُلَمَاءِ. فَصَارُوا أَعْمَقَ النَّاسِ عِلْمًا، وَأَبَرَّهُمْ قُلُوبًا، وَأَقَلَّهُمْ تَكَلُّفًا، وَأَصْدَقَهُمْ لَهْجَةً. وَقَالَ تَعَالَى:
Dia Ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman terhadap nikmat yang telah Di karuniakan kepada mereka berupa diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah Ta’ala kepada mereka secara jelas. Lalu Allah menyucikan mereka dari berbagai keburukan akhlak, kotoran jiwa, dan setiap perbuatan kaum Jahiliyah. Allah pun mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju alam terang benderang. Dia mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah), dan mengajarkan kepada mereka apa yang belum mereka ketahui. Padahal sebelumnya mereka hidup dalam kebodohan (Jahiliyah) dan tidak mempunyai tata kesopanan dalam berbicara. Berkat risalah yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan perjalanannya yang penuh berkah, mereka berpindah ke derajat para wali dan tingkatan para ulama. Akhirnya mereka menjadi manusia yang ilmunya paling dalam, hatinya paling baik, sikapnya paling bersahaja dan paling jujur dalam ucapannya. Allah Ta’ala berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ [آلِ عِمْرَانَ: 164]
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka,” [QS. Ali ‘Imran : 164]

[Tafsir Ibnu Katsir 1/335, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Firman Allah Ta’ala,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [QS. Al-Jumu’ah : 2]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diutus untuk mendidik dan mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada umat ini, dan hal ini termasuk sebesar-besar tujuan dari kerasulan dan kenabian. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkannya hanya kepada Shahabat. Adapun orang-orang setelah mereka mendapatkan ilmu dari jalannya para Shahabat. Cukuplah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan Al-Qur’an dengan nash dan maknanya, kaidah dan ketentuannya sebagaimana beliau mengajarkan as-Sunnah kepada mereka dengan sebaik-baik pengajaran. Dan tidak ada seorang pun yang ikut serta dalam menimba ilmu bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka tidak ada seorang pun yang menyamai para Shahabat dalam ilmu dan pemahamannya. Orang yang belajar berhadapan langsung dengan beliau tidak sama seperti orang yang belajar dari selain beliau. Sebab, tidak ada seorang pun yang menyamai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam menjelaskan dan mengajarkan Islam.
Sesungguhnya orang yang paling utama untuk kita ikuti adalah orang yang paling sempurna ilmu dan pemahamannya. Sesungguhnya para Shahabat adalah orang yang paling sempurna ilmu dan pemahamannya.
[Bashaa-ir Dzawii Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajis Salaf 58-59, Syaikh Salim bin ‘ied al-Hilali]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling dalam ilmu dan hujjahnya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ
Dan orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabb-mu itulah yang benar. [QS. Saba’ : 6]

عن قتادة (وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ) قال: أصحاب محمد
Dari Qatadah (mengenai firman Allah Ta’ala), [وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ] “Dan orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabb-mu itulah yang benar.” (Mereka adalah) Shahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
[Tafsir ath-Thabari 20/352, Imam ath-Thabari]

أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى شَهِدَ لَهُمْ بِأَنَّهُمْ أُوتُوا الْعِلْمَ بِقَوْلِهِ:
Sesungguhnya Allah Ta’ala bersaksi bahwa mereka (para Shahabat) adalah orang-orang yang telah diberi ilmu, yaitu dengan firman-Nya :

{وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ} [سبأ: 6]
Dan orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabb-mu itulah yang benar. [QS. Saba’ : 6]

وَقَوْلِهِ: {حَتَّى إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفًا} [محمد: 16]
Dan firman Allah Ta’ala, “Tetapi apabila mereka telah keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu (para Shahabat Nabi), “Apakah yang dikatakannya tadi?” [QS. Muhammad : 16]

وَقَوْلِهِ: {يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ} [المجادلة: 11]
Dan firman Allah Ta’ala, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [QS. Al-Mujaadilah : 11]

وَاللَّامُ فِي " الْعِلْمِ " لَيْسَتْ لِلِاسْتِغْرَاقِ، وَإِنَّمَا هِيَ لِلْعَهْدِ، أَيْ الْعِلْمِ الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ بِهِ نَبِيَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَإِذَا كَانُوا أُوتُوا هَذَا الْعِلْمَ كَانَ اتِّبَاعُهُمْ وَاجِبًا.
Huruf laam dalam fafazh [الْعِلْمِ] bukanlah untuk menunjukkan [اسْتِغْرَاق] “seluruh ilmu”, tetapi untuk [الْعَهْد] “ilmu tertentu”. Maksudnya ialah ilmu yang dengannya Allah mengutus Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan apabila mereka telah diberikan ilmu semacam ini maka mengikuti mereka (para Shahabat) adalah wajib.

[I’laamul Muwaqi’in 4/100, Ibnul Qayyim]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah umat adil dan pertengahan dalam ucapan, perbuatan, kehendak, serta niat mereka. Maka dengan sifat-sifat ini mereka berhak menjadi saksi bagi para Rasul atas umat-umat mereka pada hari Kiamat. Dan Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang telah dinyatakan langsung oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sebagai orang-orang yang adil.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَكَذلِكَ جَعَلْناكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِتَكُونُوا شُهَداءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً
“Dan demikian juga Kami telah menjadikanmu (umat Islam) umat yang adil dan juga pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatanmu.” [QS. Al-Baqarah : 143]

يَقُولُ تَعَالَى: إِنَّمَا حَوَّلْنَاكُمْ إِلَى قِبْلَةِ إِبْرَاهِيمَ عليه السلام، واخترناها لكم لَنَجْعَلَكُمْ خِيَارَ الْأُمَمِ لِتَكُونُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُهَدَاءَ عَلَى الْأُمَمِ، لِأَنَّ الْجَمِيعَ مُعْتَرِفُونَ لَكُمْ بِالْفَضْلِ
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengubah kiblat kalian ke kiblat Ibrahim ‘alaihi Sallam (Ka’bah). Kami pilih kiblat itu untuk kalian supaya Kami menjadikan kalian sebagai umat pilihan, dan pada hari Kiamat kelak kalian akan menjadi saksi atas umat-umat yang lain, karena seluruh umat mengakui keutamaan kalian.”

وَالْوَسَطُ هَاهُنَا الْخِيَارُ وَالْأَجْوَدُ كَمَا يُقَالُ: قُرَيْشٌ أَوْسَطُ الْعَرَبِ نَسَبًا وَدَارًا، أَيْ خَيْرُهَا، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَطًا فِي قَوْمِهِ، أَيْ أَشْرَفُهُمْ نَسَبًا
Maksud kata [الْوَسَطُ] “wasath” di sini adalah pilihan yang terbaik, seperti dalam ungkapan, [قُرَيْشٌ أَوْسَطُ الْعَرَبِ نَسَبًا وَدَارًا] “Quraisy adalah suku Arab pilihan dalam nasab maupun tempat tinggal).” Artinya, yang terbaik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam [وَسَطًا فِي قَوْمِهِ] maksudnya, beliau adalah orang yang nasabnya paling baik dan paling mulia.

وَمِنْهُ الصَّلَاةُ الْوُسْطَى التِي هِيَ أَفْضَلُ الصَّلَوَاتِ وَهِيَ الْعَصْرُ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصِّحَاحِ وَغَيْرِهَا
Demikian juga kalimat shalat Wustha, yang merupakan shalat terbaik, yaitu shalat ‘Ashar, sebagaimana ditegaskan dalam kitab-kitab shahih dan kitab-kitab hadits lainnya.

وَلَمَّا جَعَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ وَسَطًا، خَصَّهَا بِأَكْمَلِ الشَّرَائِعِ وَأَقْوَمِ الْمَنَاهِجِ وَأَوْضَحِ الْمَذَاهِبِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى:
Ketika Allah Ta’ala menjadikan umat ini sebagai [وَسَطًا] maka Dia memberikan kekhususan kepadanya dengan syari’at yang paling sempurna, jalan yang paling lurus, dan faham yang paling jelas. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala :

هُوَ اجْتَباكُمْ وَما جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْراهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَداءَ عَلَى النَّاسِ [الْحَجِّ: 78]
Dia telah memilihmu dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas mu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas seluruh manusia.” [QS. Al-Hajj : 78]

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُعَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُدْعَى نُوحٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُقَالُ لَهُ: هَلْ بَلَّغْتَ؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، فَيُدْعَى قَوْمُهُ فَيُقَالُ لَهُمْ: هَلْ بَلَّغَكُمْ فَيَقُولُونَ: مَا أَتَانَا مِنْ نَذِيرٍ وَمَا أَتَانَا مِنْ أَحَدٍ، فَيُقَالُ لِنُوحٍ: مَنْ يَشْهَدُ لَكَ؟فَيَقُولُ: مُحَمَّدٌ وَأُمَّتُهُ، قَالَ فَذَلِكَ قوله: وَكَذلِكَ جَعَلْناكُمْ أُمَّةً وَسَطاً قال: والوسط الْعَدْلُ، فَتُدْعَوْنَ فَتَشْهَدُونَ لَهُ بِالْبَلَاغِ ثُمَّ أَشْهَدُ عَلَيْكُمْ
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Pada hari Kiamat, Nuh ‘alaihi Sallam akan dipanggil dan ditanya: ‘Apakah engkau telah menyampaikan (risalah)?’ Nuh menjawab, ‘Sudah.’ Kemudian kaumnya diseru dan ditanya: ‘Apakah Nuh telah menyampaikan (risalahnya) kepada kalian?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak ada pemberi peringatan dan tidak ada seorang pun yang datang kepada kami.’ Kemudian Nabi Nuh ditanya: ‘Siapakah yang dapat bersaksi untukmu?’ Nuh menjawab, ‘Muhammad dan umatnya.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Yang demikian itulah firman Allah, ‘Dan demikian juga Kami telah menjadikanmu (umat Islam) umat [وَسَطاً].’ Beliau bersabda, ‘[الوسط] berarti adil. Lalu kalian diseru dan diminta memberi kesaksian bagi Nuh tentang penyampaian risalah. Lalu aku pun memberikan kesaksian atas diri kalian.’” [Ahmad no.10853, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.11222, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ
Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah. [Bukhari no.3091, at-Tirmidzi no.2887]

[Tafsir Ibnu Katsir 1/326-327, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Ibnul Qayyim berkata mengenai QS. Al-Baqarah : 143,

وَجْهُ الِاسْتِدْلَالِ بِالْآيَةِ أَنَّهُ تَعَالَى أَخْبَرَ أَنَّهُ جَعَلَهُمْ أُمَّةً خِيَارًا عُدُولًا، هَذَا حَقِيقَةُ الْوَسَطِ، فَهُمْ خَيْرُ الْأُمَمِ، وَأَعْدَلُهَا فِي أَقْوَالِهِمْ، وَأَعْمَالِهِمْ، وَإِرَادَتِهِمْ وَنِيَّاتِهِمْ، وَبِهَذَا اسْتَحَقُّوا أَنْ يَكُونُوا شُهَدَاءَ لِلرُّسُلِ عَلَى أُمَمِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاَللَّهُ تَعَالَى يَقْبَلُ شَهَادَتَهُمْ عَلَيْهِمْ، فَهُمْ شُهَدَاؤُهُ، وَلِهَذَا نَوَّهَ بِهِمْ وَرَفَعَ ذِكْرَهُمْ، وَأَثْنَى عَلَيْهِمْ؛ لِأَنَّهُ تَعَالَى لَمَّا اتَّخَذَهُمْ شُهَدَاءَ أَعْلَمَ خَلْقَهُ مِنْ الْمَلَائِكَةِ وَغَيْرِهِمْ بِحَالِ هَؤُلَاءِ الشُّهَدَاءِ، وَأَمَرَ مَلَائِكَتَهُ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَيْهِمْ وَتَدْعُوَ لَهُمْ وَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ، وَالشَّاهِدُ الْمَقْبُولُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ الَّذِي يَشْهَدُ بِعِلْمٍ وَصِدْقٍ فَيُخْبِرُ بِالْحَقِّ مُسْتَنِدًا إلَى عِلْمِهِ بِهِ كَمَا قَالَ تَعَالَى
Sisi pengambilan dalil dari ayat ini ialah Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita bahwa Dia telah menjadikan mereka (Shahabat sebagai umat pertengahan), yaitu umat  pilihan yang adil, inilah hakikat pertengahan. Mereka adalah umat pertengahan dalam ucapan, perbuatan, kehendak, serta niat mereka. Maka dengan sifat-sifat ini mereka berhak menjadi saksi bagi para Rasul atas umatnya pada hari Kiamat. Dan Allah menerima persaksian mereka, dan mereka adalah para saksi-Nya. Oleh karena itu Allah menyanjung, meninggikan penyebutan mereka, dan memuji mereka, karena ketika Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai saksi, Dia memberitahukan keadaan para saksi ini kepada semua makhluk-Nya baik dari kalangan para Malaikat dan selain mereka, dan memerintahkan para Malaikat agar bershalawat untuk mereka, mendo’akan kebaikan untuk mereka, dan memohonkan ampunan untuk mereka. Saksi yang diterima di sisi Allah adalah orang yang bersaksi dengan ilmu dan kejujuran sehingga ia mengabarkan kebenaran yang disandarkan kepada pengetahuannya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

{إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ} [الزخرف: 86]
“Kecuali orang yang mengakui [شَهِدَ] yang haq (tauhid) [بِالْحَقِّ] dan mereka meyakini [يَعْلَمُونَ].” [QS. Az-Zukhruuf : 86]

 [I’laamul Muwaqi’in 4/101-102, Ibnul Qayyim]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah para pemimpin orang-orang yang jujur (benar), dan orang jujur yang datang sepeninggal mereka hanyalah mencontoh kejujuran mereka. Bahkan, hakikat dari kejujuran orang tersebut adalah ittiba’nya terhadap mereka dan kebersamaannya dengan mereka.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar [الصَّادِقِينَ]. [QS. At-Taubah : 119]

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam beliau bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke Surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta." [Bukhari no.5629]

Ibnul Qayyim menjelaskan QS. At-Taubah : 119, sebagai berikut :

قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ السَّلَفِ: هُمْ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَلَا رَيْبَ أَنَّهُمْ أَئِمَّةُ الصَّادِقِينَ، وَكُلُّ صَادِقٍ بَعْدَهُمْ فِيهِمْ يَأْتَمُّ فِي صِدْقِهِ، بَلْ حَقِيقَةُ صِدْقِهِ اتِّبَاعُهُ لَهُمْ وَكَوْنُهُ مَعَهُمْ
Lebih dari seorang generasi Salaf mengatakan : “Mereka (orang-orang yang benar) adalah para Shahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan Allah telah meridhai mereka. Tidak diragukan lagi bahwa mereka (para Shahabat) adalah pemimpin orang-orang yang jujur (benar), dan orang jujur yang datang sepeninggal mereka adalah mencontoh kejujuran mereka. Bahkan, hakikat dari kejujuran orang tersebut adalah ittiba’nya terhadap mereka dan kebersamaannya dengan mereka.

[I’laamul Muwaqi’in 4/100-101, Ibnul Qayyim]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang Mukmin yang pertama kali berdakwah. Dan dakwah para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah haq dan lurus di bawah bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala,

قُلْ هذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ عَلى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحانَ اللَّهِ وَما أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik. [QS. Yusuf : 108]

يَقُولُ تَعَالَى لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الثَّقَلَيْنِ: الْإِنْسِ وَالْجِنِّ، آمِرًا لَهُ أَنْ يخبر الناس أن هذه سبيله أي طريقته وَمَسْلَكُهُ وَسُنَّتُهُ، وَهِيَ الدَّعْوَةُ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، يَدْعُو إِلَى اللَّهِ بِهَا عَلَى بَصِيرَةٍ مِنْ ذَلِكَ وَيَقِينٍ وَبُرْهَانٍ هُوَ وَكُلُّ مَنِ اتَّبَعَهُ يَدْعُو إِلَى مَا دَعَا إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَصِيرَةٍ ويقين وبرهان عقلي وشرعي
Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada jin dan manusia, untuk memberitahukan manusia bahwa ini adalah jalannya, yaitu metodenya, jejaknya, contohnya, adalah dakwah kepada kesaksian bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan kesaksian ini ia (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) menyeru kepada Allah Ta’ala dengan bashirah, keyakinan dan bukti yang nyata. Setiap orang yang mengikutinya, juga mendakwahkan apa yang didakwahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan bashirah, keyakinan, burhan serta dalil aqli dan syar’i.

[Tafsir Ibnu Katsir 4/361-362, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَأَخْبَرَ تَعَالَى أَنَّ مَنْ اتَّبَعَ الرَّسُولَ يَدْعُو إلَى اللَّهِ، وَمَنْ دَعَا إلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ وَجَبَ اتِّبَاعُهُ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى فِيمَا حَكَاهُ عَنْ الْجِنِّ وَرَضِيَهُ :

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa orang-orang yang mengikuti Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyeru kepada Allah, sedangkan orang yang menyeru kepada Allah di atas bashirah (ilmu) maka wajib diikuti, berdasarkan firman Allah yang menceritakan tentang jin yang diridhai-Nya :

{يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ} [الأحقاف: 31]
“Wahai kaum kami! Terimalah (seruan) orang (Muhammad) yang menyeru kepada Allah. Dan berimanlah kepada-Nya.” [QS. Al-Ahqaaf : 31]

وَلِأَنَّ مَنْ دَعَا إلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ فَقَدْ دَعَا إلَى الْحَقِّ عَالِمًا بِهِ، وَالدُّعَاءُ إلَى أَحْكَامِ اللَّهِ دُعَاءٌ إلَى اللَّهِ؛ لِأَنَّهُ دُعَاءٌ إلَى طَاعَتِهِ فِيمَا أَمَرَ وَنَهَى، وَإِذًا فَالصَّحَابَةُ - رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ - قَدْ اتَّبَعُوا الرَّسُولَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَيَجِبُ اتِّبَاعُهُمْ إذَا دَعَوْا إلَى اللَّهِ
Sedangkan orang yang menyeru kepada Allah di atas bashirah maka ia telah menyeru kepada kebenaran yang telah diketahuinya, dan menyeru kepada hukum-hukum Allah berarti menyeru kepada Allah, karena ia adalah seruan untuk mentaati segala apa yang diperintah dan dilarang-Nya. Para Shahabat Ridhwanullahi ‘alaihim telah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka wajib mengikuti mereka apabila mereka menyeru kepada Allah.

[I’laamul Muwaqi’in 4/100, Ibnul Qayyim]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan generasi yang dipilih Allah Ta’ala untuk menemani dan membela Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan Para Shahabat adalah orang-orang yang berjihad menegakkan agama Islam dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلى عِبادِهِ الَّذِينَ اصْطَفى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ
Katakanlah, “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?” [QS. An-Naml : 59-60]

وَهَكَذَا قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ وَغَيْرُهُ: إِنَّ الْمُرَادَ بِعِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى، هُمُ الأنبياء، قال: وهو كقوله:
Dalam hal ini ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ulama selainnya berkata : “Yang dimaksud dengan [بِعِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى] “hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” Adalah para Nabi. Ia melanjutkan, sebagaimana di dalam firman-Nya :

سُبْحانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ [الصَّافَّاتِ: 180- 182]
Mahasuci Rabb-mu yang mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” [QS. Ash-Shaaffaat : 180-182]

وَقَالَ الثَّوْرِيُّ وَالسُّدِّيُّ: هُمْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَضِيَ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ، وَرُوِيَ نَحْوُهُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أيضا، وَلَا مُنَافَاةَ فَإِنَّهُمْ إِذَا كَانُوا مِنْ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ اصْطَفَى فَالْأَنْبِيَاءُ بِطَرِيقِ الْأَوْلَى وَالْأَحْرَى
Ats-Tsauri dan as-Suddi berkata, “Mereka itu (hamba-hamba yang dipilih-Nya) adalah para Shahabat Muhammad Shallallahu a’alaihi wa Sallam –Radhiyallahu ‘anhum ajma’in-“ Dan begitu pula diriwayatkan juga yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. (Kedua penafsiran ini) tidak bertentangan, karena bila para Shahabat disebut sebagai hamba-hamba pilihan Allah, maka para Nabi sudah pasti lebih berhak menyandang predikat tersebut.

[Tafsir Ibnu Katsir 6/181, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Kemudian firman Allah Ta’ala,

وَجاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهادِهِ هُوَ اجْتَباكُمْ وَما جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْراهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَداءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-sekali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim, Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah, Dia adalah Pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. [QS. Al-Hajj : 78]

وَقَوْلُهُ: وَجاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهادِهِ أَيْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ [آلِ عِمْرَانَ:102]
Firman-Nya, [وَجاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهادِهِ] “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” Maksudnya dengan harta, lisan, dan jiwamu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: [اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ] “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya.” [QS. Ali ‘Imran : 102]

وَقَوْلُهُ: هُوَ اجْتَباكُمْ أَيْ يَا هَذِهِ الْأُمَّةُ اللَّهُ اصْطَفَاكُمْ وَاخْتَارَكُمْ عَلَى سَائِرِ الْأُمَمِ، وَفَضَّلَكُمْ وَشَرَّفَكُمْ وَخَصَّكُمْ بِأَكْرَمِ رَسُولٍ وَأَكْمَلِ شَرْعٍ
Dan firman-Nya: [هُوَ اجْتَباكُمْ] “Dia telah memilih kamu.” Maksudnya wahai umat ini, Allah telah memilih kalian dan mengutamakan kalian atas seluruh umat. Allah telah mengutamakan, memuliakan, dan mengkhususkan kalian dengan Rasul yang paling mulia dan syari’at yang paling sempurna.

وَقَوْلِهِ: هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا قَالَ الْإِمَامُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ قَالَ: اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَكَذَا قَالَ مجاهد وعطاء والضحاك والسدي ومقاتل بن حيان وَقَتَادَةُ
Firman-Nya, [هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ] “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu,” Dalam hal ini Imam Abdullah bin Mubarak mengatakan dari Ibnu Juraij dari ‘Atha’ dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman-Nya, [هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ] “Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu,” Beliau mengatakan, “Dia (di sini maksudnya) Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, ‘Atha’, adh-Dhahhak, as-Suddi, Muqatil bin Hayyan, dan Qatadah.

قَالَ مُجَاهِدٌ: اللَّهُ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ فِي الْكُتُبِ الْمُتَقَدِّمَةِ وَفِي الذِّكْرِ، وَفِي هَذَا يَعْنِي الْقُرْآنَ، وَكَذَا قَالَ غَيْرُهُ
Mujahid mengatakan : Allah yang menamakan kalian sebagai orang-orang muslim sejak dulu dalam kitab-kitab terdahulu dan dalam adz-Dzikr (Lauhul Mahfuzh), [وَفِي هَذَا] “Dan (begitu pula) dalam ini.” Yakni al-Qur’an. Demikian pula yang dikatakan oleh selainnya.

ثُمَّ ذَكَرَ مِنَّتَهُ تَعَالَى عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ بِمَا نَوَّهَ بِهِ مِنْ ذِكْرِهَا وَالثَّنَاءِ عَلَيْهَا فِي سَالِفِ الدَّهْرِ وَقَدِيمِ الزَّمَانِ فِي كُتُبِ الْأَنْبِيَاءِ يُتْلَى عَلَى الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ، فَقَالَ: هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ أَيْ مِنْ قَبْلِ هَذَا الْقُرْآنِ وَفِي هذا روى النَّسَائِيُّ عِنْدَ تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ:
Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan karunia-Nya kepada umat ini, bahwa mereka telah disebutkan dan dipuji sejak dahulu dalam Kitab-Kitab para Nabi, yang dibacakan kepada para pendeta dan rahib. Seraya berfirman, [هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَ] “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu,” Maksudnya sebelum al-Qur’an ini. Di dalam riwayat an-Nasa-i yaitu dalam tafsirnya mengenai ayat ini :

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ «مَنْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ فَإِنَّهُ مِنْ جِثِيِّ جَهَنَّمَ» قَالَ رجل: يا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّ صَامَ وَصَلَّى؟
Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang menyeru dengan seruan jahiliyyah, maka dia termasuk orang yang berlutut di Jahannam.” Seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam meskipun dia puasa dan shalat?”

قَالَ «نَعَمْ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى» فَادْعُوَا بِدَعْوَةِ اللَّهِ الَّتِي سَمَّاكُمْ بِهَا الْمُسْلِمِينَ الْمُؤْمِنِينَ عِبَادَ اللَّهِ
Beliau menjawab : “Iya, meskipun dia puasa dan shalat. Maka serulah dengan seruan Allah yang dengannya Allah telah menamakanmu orang-orang muslim, orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah. [Shahiihul Jaami’ no.1724, Syaikh al-Albani]

وَلِهَذَا قَالَ لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَداءَ عَلَى النَّاسِ أَيْ إِنَّمَا جَعَلْنَاكُمْ هَكَذَا أُمَّةً وَسَطًا عُدُولًا خِيَارًا مَشْهُودًا بِعَدَالَتِكُمْ عِنْدَ جَمِيعِ الْأُمَمِ، لِتَكُونُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُهَداءَ عَلَى النَّاسِ لِأَنَّ جَمِيعَ الْأُمَمِ مُعْتَرِفَةٌ يَوْمَئِذٍ بِسِيَادَتِهَا وَفَضْلِهَا عَلَى كُلِّ أُمَّةٍ سِوَاهَا، فَلِهَذَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُمْ عَلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي أَنَّ الرُّسُلَ بَلَّغَتْهُمْ رِسَالَةَ رَبِّهِمْ، وَالرَّسُولُ يَشْهَدُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ أَنَّهُ بَلَّغَهَا ذَلِكَ
Dan di dalam firman-Nya, [لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَداءَ عَلَى النَّاسِ] “supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia,” Maksudnya Kami menjadikan kalian sebagai umat pertengahan yang adil, umat pilihan, dan disaksikan keadilan kalian oleh seluruh umat. Pada hari Kiamat kalian menjadi [شُهَداءَ عَلَى النَّاسِ] “saksi atas segenap manusia,” Karena seluruh umat pada hari itu mengakui kepemimpinan dan keutamaan umat ini di atas seluruh umat yang lainnya. Maka dari itu, kesaksian mereka (kaum muslimin) atas seluruh manusia akan diterima pada hari Kiamat. Umat Muslimin ini akan bersaksi bahwa para Rasul telah menyampaikan risalah Rabb mereka, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun menjadi saksi atas umat ini, bahwa beliau telah menyampaikan risalah itu kepada mereka.

[Tafsir Ibnu Katsir 5/398-400, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَأَخْبَرَ تَعَالَى أَنَّهُ اجْتَبَاهُمْ، وَالِاجْتِبَاءُ كَالِاصْطِفَاءِ، وَهُوَ افْتِعَالٌ مِنْ " اجْتَبَى الشَّيْءَ يَجْتَبِيه " إذَا ضَمَّهُ إلَيْهِ وَحَازَهُ إلَى نَفْسِهِ، فَهُمْ الْمُجْتَبُونَ الَّذِينَ اجْتَبَاهُمْ اللَّهُ إلَيْهِ وَجَعَلَهُمْ أَهْلَهُ وَخَاصَّتَهُ وَصَفْوَتَهُ مِنْ خَلْقِهِ بَعْدَ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، وَلِهَذَا أَمَرَهُمْ تَعَالَى أَنْ يُجَاهِدُوا فِيهِ حَقَّ جِهَادِهِ، فَيَبْذُلُوا لَهُ أَنْفُسَهُمْ، وَيُفْرِدُوهُ بِالْمَحَبَّةِ وَالْعُبُودِيَّةِ، وَيَخْتَارُوهُ وَحْدَهُ إلَهًا مَعْبُودًا مَحْبُوبًا عَلَى كُلِّ مَا سِوَاهُ كَمَا اخْتَارَهُمْ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ، فَيَتَّخِذُونَهُ وَحْدَهُ إلَهَهُمْ وَمَعْبُودَهُمْ الَّذِي يَتَقَرَّبُونَ إلَيْهِ بِأَلْسِنَتِهِمْ وَجَوَارِحِهِمْ وَقُلُوبِهِمْ وَمَحَبَّتِهِمْ، وَإِرَادَتِهِمْ، فَيُؤْثِرُونَهُ فِي كُلِّ حَالٍ عَلَى مَنْ سِوَاهُ، كَمَا اتَّخَذَهُمْ عَبِيدَهُ، وَأَوْلِيَاءَهُ، وَأَحِبَّاءَهُ وَآثَرَهُمْ بِذَلِكَ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ
Dalam ayat ini (QS. Al-Hajj : 78) Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah memilih mereka (para Shahabat). [الِاجْتِبَاءُ] sama dengan [الِاصْطِفَاء], yaitu bentuk [افْتِعَالٌ] dari kata [اجْتَبَى الشَّيْءَ يَجْتَبِيه] yang artinya merangkul dan memeluknya. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dipilih langsung oleh Allah Ta’ala dan Dia menjadikan mereka orang-orang khusus dan pilihan dari makhluk-Nya setelah para Nabi dan Rasul. Oleh karena itulah, Allah ta’ala menyuruh mereka berjihad di jalan-Nya dengan sebenar-benar jihad, maka mereka mengorbankan jiwa-jiwa mereka untuk Allah serta mengesakan-Nya dalam kecintaan dan ibadah, dan mereka hanya memilih Allah Ta’ala semata sebagai ilah yang diibadahi dengan benar dan dicintai daripada selain-Nya, sebagaimana Dia memilih mereka (para Shahabat) daripada selain mereka sehingga mereka (para Shahabat) menjadikan Allah sebagai ilah mereka dan satu-satunya yang diibadahi, yang mereka bertaqarrub kepada-Nya dengan lisan mereka, anggota tubuh mereka, hati mereka, cinta mereka, dan kehendak (tujuan/niat) mereka. Dalam setiap keadaan, mereka selalu mendahulukan Allah daripada selain-Nya, sebagaimana Allah telah menjadikan mereka sebagai hamba-Nya, para wali dan para kekasih-Nya, serta mendahulukan mereka atas selain mereka.

ثُمَّ أَخْبَرَ تَعَالَى أَنَّهُ نَوَّهَ بِهِمْ وَسَمَّاهُمْ كَذَلِكَ بَعْدَ أَنْ أَوْجَدَهُمْ اعْتِنَاءً بِهِمْ وَرِفْعَةً لِشَأْنِهِمْ، وَإِعْلَاءً لِقَدْرِهِمْ، ثُمَّ أَخْبَرَ تَعَالَى أَنَّهُ فَعَلَ ذَلِكَ لِيُشْهِدَ عَلَيْهِمْ رَسُولُهُ وَيَشْهَدُوا هُمْ عَلَى النَّاسِ؛ فَيَكُونُونَ مَشْهُودًا لَهُمْ بِشَهَادَةِ الرَّسُولِ شَاهِدِينَ عَلَى الْأُمَمِ بِقِيَامِ حُجَّةِ اللَّهِ عَلَيْهِمْ
Kemudian Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menyebut dan memuji mereka sebelum menciptakan mereka dan menamakannya sebagai hamba-hamba yang muslim sebelum mereka muncul. Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan mereka setelah menciptakan mereka sebagai sanjungan untuk mereka serta mengangkat urusan dan kedudukan mereka. Kemudian Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia melakukan itu semua agar Rasul mereka menjadi saksi atas mereka, dan agar mereka menjadi saksi atas manusia, sehingga mereka dipersaksikan dengan persaksian Rasul dan menjadi saksi atas semua umat dengan adanya hujjah dari Allah atas mereka.

[I’laamul Muwaqi’in 4/102, Ibnul Qayyim]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang terlebih dahulu melaksanakan shalat, menunaikan zakat, amar ma’ruf dan nahi munkar. Dan Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan, mereka menjadikan kehidupan dunia sebagai bekal kehidupan akhirat.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ (39) الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلاَّ أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ (40)
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. (39) (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata : “Rabb kami hanyalah Allah.” [QS. Al-Hajj : 39-40]

قَالَ العَوْفِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: نَزَلَتْ فِي مُحَمَّدٍ وَأَصْحَابِهِ حِينَ أُخْرِجُوا من مكة. وقال مجاهد والضحاك، وغير واحد من السلف كابن عباس ومجاهد وعروة بن الزبير وَزَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ وَمُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ وَقَتَادَةَ وغيرهم: هَذِهِ أَوَّلُ آيَةٍ نَزَلَتْ فِي الْجِهَادِ،
Al-‘Aufi menuturkan dari Ibnu ‘Abbas, (ayat ini) turun terkait dengan Muhammad dan para Shahabat beliau saat mereka dikeluarkan dari Makkah. Mujahid, adh-Dhahak dan lebih dari satu ulam salaf seperti Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Urwah bin Zubair, Zaid bin Aslam, Muqatil bin Hayyan, Qatadah, dan lainnya. Ini adalah ayat pertama yang turun mengenai jihad.

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍعَنِ ابْنِ عباس قال: لَمَّا أُخْرِجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَكَّةَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَخْرَجُوا نَبِيَّهُمْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ لَيُهْلَكُنَّ.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : “Bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dikeluarkan dari Makkah, Abu Bakar berkata, “Mereka telah mengusir Nabi mereka, [إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ], sungguh mereka akan binasa.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ قال أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: فَعَرَفْتُ أنه سيكون قتال.
Ibnu ‘Abbas mengatakan, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan (ayat) [أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ] “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu.” Abu Bakar Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata, “Maka aku pun mengetahui bahwa nanti akan ada peperangan.”

وقال الْإِمَامُ أَحْمَدُوَزَادَ: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَهِيَ أَوَّلُ آيَةٍ نَزَلَتْ فِي الْقِتَالِ. وَرَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ فِي التَّفْسِيرِ مِنْ سُنَنَيْهِمَاوَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ،
Berkata Imam Ahmad, ia menambahkan : Ibnu Abbas mengatakan bahwa itu adalah ayat pertama yang turun terkait dengan perang. At-Tirmidzi dan an-Nasa-i meriwayatkannya dalam Kitabut Tafsir dari kitab Sunan keduanya. At-Tirmidzi mengatakan, hadits hasan.

وَلِهَذَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: وَإِنَّ اللَّهَ عَلى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ وَقَدْ فَعَلَ، وَإِنَّمَا شَرَعَ تَعَالَى الْجِهَادَ فِي الْوَقْتِ الْأَلْيَقِ بِهِ، لِأَنَّهُمْ لَمَّا كَانُوا بِمَكَّةَ كَانَ الْمُشْرِكُونَ أَكْثَرَ عَدَدًا فَلَوْ أَمَرَ الْمُسْلِمِينَ وَهُمْ أَقَلُّ مِنَ الْعُشْرِ بِقِتَالِ الْبَاقِينَ لَشَقَّ عَلَيْهِمْ، وَلِهَذَا لَمَّا بَايَعَ أَهْلُ يَثْرِبَ لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَكَانُوا نَيِّفًا وَثَمَانِينَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَمِيلُ عَلَى أَهْلِ الْوَادِي، يَعْنُونَ أَهْلَ مِنًى، لَيَالِيَ مِنًى فَنَقْتُلُهُمْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Maka dari itu mengenai firman-Nya, [وَإِنَّ اللَّهَ عَلى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ] “Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu.” Ibnu Abbas mengatakan dan Allah telah melakukannya. Sesungguhnya Allah Ta’ala mensyari’atkan jihad pada waktu yang sangat tepat, karena ketika mereka berada di Makkah, jumlah orang-orang musyrik lebih banyak. Seandainya Allah memerintahkan kaum Muslimin yang saat itu berjumlah kurang dari sepersepuluh (dari jumlah mereka) untuk memerangi mereka, niscaya hal itu berat bagi mereka. Maka dari itu ketika penduduk Yastrib (Madinah) dibai’at (disumpah setia) oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada malam ‘Aqabah dan jumlah mereka delapan puluh orang lebih, mereka berkata, “Ya Rasulullah, mengapa kita tidak mendekati penduduk lembah ini, (maksud mereka menyerang penduduk Mina) di waktu malam, lalu kita bunuh mereka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

«إني لم أومر بِهَذَا»
“Aku belum diperintahkan untuk ini.”

فَلَمَّا بَغَى الْمُشْرِكُونَ وَأَخْرَجُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِهِمْ وَهَمُّوا بِقَتْلِهِ، وَشَرَّدُوا أَصْحَابَهُ شَذَرَ مَذَرَ، فَذَهَبَ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ إِلَى الْحَبَشَةِ وَآخَرُونَ إِلَى الْمَدِينَةِ، فَلَمَّا اسْتَقَرُّوا بِالْمَدِينَةِ وَوَافَاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاجْتَمَعُوا عَلَيْهِ، وَقَامُوا بِنَصْرِهِ وَصَارَتْ لَهُمْ دَارُ إِسْلَامٍ وَمَعْقِلًا يَلْجَئُونَ إِلَيْهِ، شَرَعَ اللَّهُ جِهَادَ الْأَعْدَاءِ، فَكَانَتْ هَذِهِ الْآيَةُ أَوَّلَ مَا نَزَلَ فِي ذَلِكَ، فَقَالَ تَعَالَى:
Ketika kaum musyrikin bertindak sewenang-wenang dan mengusir Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari komunitas mereka dan berupaya untuk membunuh beliau, para Shahabat beliau melarikan diri secara terpencar, sebagian mereka pergi ke Habasyah dan sebagian lainnya ke Madinah. Begitu mereka berada di Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyusul mereka dan mereka pun lantas berkumpul menuju beliau, mereka bangkit untuk menolong beliau, lalu mereka pun memiliki negara Islam serta benteng pertahanan bagi mereka. Saat itulah Allah mensyari’atkan jihad melawan musuh. Ayat inilah yang pertama kali turun terkait dengan hal itu. Allah berfirman :

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ.
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yagn benar,”

قَالَ العَوْفِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أُخْرِجُوا مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ بِغَيْرِ حَقٍّ، يَعْنِي محمدا وأصحابه
Al-‘Aufi menuturkan dari Ibnu ‘Abbas, mereka dikeluarkan dari Makkah ke Madinah tanpa hak, yakni Muhammad dan para Shahabat beliau.

[Tafsir Ibnu Katsir 5/380-381, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Dan firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عاقِبَةُ الْأُمُورِ
(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urursan. [QS. Al-Hajj : 41]

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ:قَالَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ: فِينَا نَزَلَتْ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِفَأُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ قُلْنَا: رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ مُكِّنَّا فِي الْأَرْضِ، فَأَقَمْنَا الصَّلَاةَ وَآتَيْنَا الزَّكَاةَ، وَأَمَرْنَا بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهَيْنَا عَنِ الْمُنْكَرِ، وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ فَهِيَ لِي وَلِأَصْحَابِي. وَقَالَ أَبُو الْعَالِيَةِ: هُمْ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia mengatakan : “Mengenai kami-lah diturunkan ayat, [الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ] “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.
Kami diusir dari kampung halaman kami tanpa alasan yang benar, kecuali karena kami menyatakan, bahwa Rabb kami adalah Allah. Kemudian Allah memberi kami kedudukan dan berkuasa di muka bumi. Maka kami (bertugas) melaksanakan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat baik, dan mencegah perbuatan mungkar. Hanya kepada Allah kesudahan yang baik bagi segala urusan; bagiku dan bagi para Shahabatku. [Ibnu Abi Hatim VIII/2496,2497]
Abul ‘Aliyah mengatakan, mereka adalah para Shahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

[Tafsir Ibnu Katsir 5/383, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Firman Allah Ta’ala,

وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ
Dan orang-orang yang paling dahulu berimanmerekalah yang paling dahulu (masuk Surga) [QS. Al-Waaqi’ah : 10]

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: السَّابِقُونَ إِلَى الْهِجْرَةِ هُمُ السَّابِقُونَ فِي الْآخِرَةِ.
Ibnu Abbas berkata, “Orang-orang yang lebih dahulu berhijrahmerekalah yang lebih dahulu (masuk Surga) di akhirat.”

قَالَ الرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ: السَّابِقُونَ إِلَى إِجَابَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدُّنْيَا هُمُ السَّابِقُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي الْعُقْبَى
Rabi’ bin Anas berkata, “Mereka adalah orang yang lebih dahulu menjawab (dakwahRasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di dunia, dan di akhirat mereka adalah orang yang paling dahulu masuk Surga.”

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: إِلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ
Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata, “Mereka adalah yang paling dahulu menuju shalat yang lima waktu.”

[Tafsir al-Baghawi 7/8-9]

وقال مجاهد وغيره: هم السابقون إلى الجهاد، وأول الناس رواحا إلى الصلاة
Mujahid dan selainnya berkata, “Mereka adalah orang-orang yang paling dahulu berjihad, dan yang pertama kali orang yang berangkat menuju shalat (berjama’ah).”
[Tafsir al-Qurthubi 17/199]

عَنِ ابْنِ سِيرِينَ وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ الذين صلوا إلى القبلتين
Dari Ibnu Sirin (mengenai firman Allah Ta’ala) [وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ], “(Mereka adalah) orang-orang yang pernah shalat menghadap dua kiblat.”
[Tafsir Ibnu Katsir 8/6]

وَهُمُ الزَّوْجُ الثَّالِثُ وَهُمُ الَّذِينَ سَبَقُوا إِلَى الْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَهُمُ الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ
(Ibnu Jarir ath-Thabari berkata), “Mereka adalah golongan yang ketiga, mereka adalah orang-orang yang lebih dahulu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka adalah orang-orang yang pertama kali berhijrah.”
[Tafsir ath-Thabari 22/287]

[-] Hanya orang-orang Kafir dan Zindiq saja yang marah dan membenci para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَماءُ بَيْنَهُمْ تَراهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَرِضْواناً سِيماهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْراةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوى عَلى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. [QS. Al-Fath : 29]

يُخْبِرُ تَعَالَى عن محمد صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ رَسُولُهُ حَقًّا بِلَا شَكٍّ وَلَا رَيْبٍ فَقَالَ: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَهَذَا مُبْتَدَأٌ وَخَبَرٌ، وَهُوَ مُشْتَمِلٌ عَلَى كُلِّ وَصْفٍ جَمِيلٍ، ثُمَّ ثنى بالثناء على أصحابه رضي الله عنهم فَقَالَ:
Allah Ta’ala memberitahukan tentang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa dia adalah utusan-Nya yang benar tanpa diragukan lagi. Firman Allah, [مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ] “Muhammad itu adalah utusan Allah,” terdiri dari mubtada’ dan khabar, mencakup seluruh sifat yang indah. Selanjutnya Allah Ta’ala memberikan pujian untuk para Shahabatnya Radhiyallahu ‘anhum,

وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَماءُ بَيْنَهُمْ
“Dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”

كما قال عز وجل: فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكافِرِينَ [الْمَائِدَةِ: 54]
Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang Kafir.” [QS. Al-Maa-idah : 54]

وَهَذِهِ صِفَةُ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمْ شَدِيدًا عَنِيفًا عَلَى الْكَفَّارِ، رَحِيمًا بَرًّا بِالْأَخْيَارِ، غَضُوبًا عَبُوسًا فِي وَجْهِ الْكَافِرِ ضَحُوكًا بَشُوشًا فِي وَجْهِ أَخِيهِ الْمُؤْمِنِ كَمَا قَالَ تَعَالَى:
Itulah sifat orang-orang yang beriman. Mereka bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir, namun bersikap lemah lembut dan baik terhadap orang-orang pilihan. Selalu menampakkan muka yang masam dan kemarahan di hadapan wajah orang Kafir, tapi di hadapan saudaranya yang Mukmin selalu tersenyum dan penuh keceriaan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً [التَّوْبَةِ: 123]
“Hai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang Kafir yang ada di sekitar kamu itu dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu.” [QS. At-Taubah : 123]

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ»
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda, “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam kasih sayang dan kecintaan di antara sesama mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuh hingga terasa demam dan tidak dapat tidur. [Bukhari no.5552 & Muslim no.4685]

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: «الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» «2» . وَشَبَّكَ صلى الله عليه وسلم بَيْنَ أَصَابِعِهِ، كِلَا الْحَدِيثَيْنِ فِي الصَّحِيحِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda, “Orang Mukmin yang satu terhadap orang Mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan, yang satu sama lainnya saling menguatkan.” Beliau mengatakan demikian sambil menjalinkan jari-jemarinya. [Bukhari no.459]
Kedua hadits tersebut terdapat dalam kitab Shahih.

وَقَوْلُهُ سبحانه وتعالى: تَراهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْواناً وَصَفَهُمْ بِكَثْرَةِ الْعَمَلِ وَكَثْرَةِ الصَّلَاةِ وَهِيَ خَيْرُ الْأَعْمَالِ، وَوَصَفَهُمْ بِالْإِخْلَاصِ فِيهَا لِلَّهِ عَزَّ وجل والاحتساب عند الله تعالى جَزِيلَ الثَّوَابِ، وَهُوَ الْجَنَّةُ الْمُشْتَمِلَةُ عَلَى فَضْلِ الله عز وجل وَهُوَ سَعَةُ الرِّزْقِ عَلَيْهِمْ وَرِضَاهُ تَعَالَى عَنْهُمْ، وهو أكبر من الأول كما قال جل وعلا: وَرِضْوانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ [التوبة: 72]
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, [تَراهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْواناً] “Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,” Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifatkan mereka dengan banyak amal dan banyak shalat yang merupakan amal terbaik. Di antara sifat mereka yang lain adalah ikhlas untuk Allah ‘Azza wa Jalla semata serta selalu mengharapkan pahal yang banyak di sisi Allah Ta’ala, yaitu Surga yang mencakup seluruh karunia Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu keluasan rizki atas mereka serta ridha Allah Ta’ala terhadap mereka. Dan keridhaan Allah jauh lebih lebih besar dari segalanya, sebagaimana firman-Nya Jalla wa ‘Ala, [وَرِضْوانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ] “Dan keridhaan Allah lebih besar,” [QS. At-Taubah : 72]

وقوله جل جلاله: سِيماهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ عَنِ ابْنِ عباس رضي الله عنهما: سِيماهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ يَعْنِي السَّمْتَ الْحَسَنَ. وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَغَيْرُ وَاحِدٍ: يَعْنِي الْخُشُوعَ وَالتَّوَاضُعَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّ لِلْحَسَنَةِ نُورًا فِي الْقَلْبِ وَضِيَاءً فِي الْوَجْهِ وَسَعَةً فِي الرِّزْقِ وَمَحَبَّةً فِي قُلُوبِ النَّاسِ.
Firman Allah Jalla Jalalahu, [سِيماهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ] “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” ‘Aliy bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, [سِيماهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ] “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka,” yakni tanda baik. Mujahid dan lainnya berkata, “Maksudnya adalah khusyu’ dan tawadhu’.” Ada juga yang mengatakan, “Kebaikan itu memiliki cahaya di hati dan wajah, keluasan dalam rizki dan kecintaan di hati manusia.”

وَقَالَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا أَسَرَّ أَحَدٌ سَرِيرَةً إلا أبداها الله تعالى عَلَى صَفَحَاتِ وَجْهِهِ وَفَلَتَاتِ لِسَانِهِ
Amirul Mukminin, ‘Utsman Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Tidaklah seseorang yang menyembunyikan rahasia, melainkan Allah Ta’ala menampakkannya melalui mimik wajahnya dan kekeliruan-kekeliruan lisannya.”

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ عن ابن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الْهَدْيَ الصَّالِحَ وَالسَّمْتَ الصَّالِحَ وَالِاقْتِصَادَ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ» وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya petunjuk dan tampilan yang baik serta kesederhanaan adalah satu bagian dari dua puluh lima tanda kenabian.” [Ahmad no.2565, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.2698, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]
Abu Dawud juga meriwayatkan hadits serupa. [Abu Daud no.4146, Hasan : Shahiihul Jaami’ no.1992, Syaikh al-Albani]

فَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ خَلُصَتْ نِيَّاتُهُمْ وَحَسُنَتْ أَعْمَالُهُمْ فَكُلُّ مَنْ نَظَرَ إِلَيْهِمْ أَعْجَبُوهُ فِي سَمْتِهِمْ وَهَدْيِهِمْ
Para Shahabat adalah orang-orang yang niatnya ikhlas dan baik perilakunya sehingga siapa pun yang memandang mereka akan terkesima melalui tampilan dan petunjuk mereka.

وَقَالَ مالك رضي الله عنه: بَلَغَنِي أَنَّ النَّصَارَى كَانُوا إِذَا رَأَوُا الصَّحَابَةَ رضي الله عنهم الَّذِينَ فَتَحُوا الشَّامَ يَقُولُونَ: وَاللَّهِ لَهَؤُلَاءِ خَيْرٌ مِنَ الْحَوَارِيِّينَ فِيمَا بَلَغَنَا
Imam Malik berkata, “Ada berita yang sampai kepadaku bahwa orang-orang Nashrani ketika melihat para Shahabat tatkala menaklukkan Syam berkata, ‘Demi Allah! Sungguh mereka itu lebih baik dari kaum Hawariyyun (yakni Shahabat setia Nabi ‘Isa ‘alaihi Sallam), sebagaimana kabar yang telah sampai kepada kami.”

وَصَدَقُوا فِي ذَلِكَ فَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ مُعَظَّمَةٌ فِي الْكُتُبِ الْمُتَقَدِّمَةِ، وَأَعْظَمُهَا وَأَفْضَلُهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم، وقد نوه الله تبارك وتعالى بِذِكْرِهِمْ فِي الْكُتُبِ الْمُنَزَّلَةِ وَالْأَخْبَارِ الْمُتَدَاوَلَةِ، وَلِهَذَا قال سبحانه وتعالى هَاهُنَا: ذلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْراةِ ثُمَّ قَالَ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ أَيْ فِرَاخَهُ فَآزَرَهُ أَيْ شَدَّهُ فَاسْتَغْلَظَ أَيْ شَبَّ وَطَالَ فَاسْتَوى عَلى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ أَيْ فَكَذَلِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آزَرُوهُ وَأَيَّدُوهُ وَنَصَرُوهُ فَهُمْ مَعَهُ كَالشَّطْءِ مَعَ الزَّرْعِ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ.
(Apa yang dikatakan oleh orang-orang Nashrani) ini adalah benar, karena umat ini adalah golongan yang diagungkan dan dimuliakan dalam Kitab-Kitab sebelumnya. Dan di kalangan umat ini, yang paling agung dan yang terbaik adalah para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka banyak disebutkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala di dalam Kitab-Kitab yang diturunkan dan diberitakan serta banyak beredar. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, [ذلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْراةِ] “Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat” Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman, [وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ] “dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya” yakni bertunas, [فَآزَرَهُ أَيْ شَدَّهُ فَاسْتَغْلَظَ] “maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia” yakni tumbuh tinggi, [فَاسْتَوى عَلى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ] “dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya” Yakni, dan seperti itulah para Shahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang membela, memperkuat serta menolong beliau, sama seperti tunas dengan tanaman. [لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ] “karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin).”

وَمِنْ هَذِهِ الْآيَةِ انْتَزَعَ الْإِمَامُ مَالِكٌ رَحِمَهُ الله عليه فِي رِوَايَةٍ عَنْهُ، بِتَكْفِيرِ الرَّوَافِضِ الَّذِينَ يُبْغِضُونَ الصحابة رضي الله عنهم قال: لأنهم يغيظونهم ومن غاظ الصحابة رضي الله عنهم فَهُوَ كَافِرٌ لِهَذِهِ الْآيَةِ، وَوَافَقَهُ طَائِفَةٌ مِنَ العلماء رضي الله عنهم على ذلك،
Berdasarkan ayat ini, Imam Malik sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian riwayat darinya, beliau mengkafirkan orang-orang Rafidhah (Syiah) yang membenci dan memusuhi para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum. Beliau berkata : “Karena mereka membenci para Shahabat. Barangsiapa yang membenci para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum, maka ia telah menjadi Kafir berdasarkan ayat yang mulia ini.” Pendapatnya ini disetujui oleh sebagian ulama lainnya, semoga Allah meridhai mereka atas kesimpulan ini.

والأحاديث في فضائل الصحابة رضي الله عنهم وَالنَّهْيِ عَنِ التَّعَرُّضِ لَهُمْ بِمَسَاءَةٍ كَثِيرَةٌ، وَيَكْفِيهِمْ ثَنَاءُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَرِضَاهُ عَنْهُمْ:
Hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan para Shahabat serta larangan untuk mencela mereka tidak terhitung jumlahnya. Cukuplah pujian yang diberikan Allah kepada mereka serta keridhaan-Nya (sebagai bukti).

ثُمَّ قَالَ تبارك وتعالى: وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً أَيْ لِذُنُوبِهِمْ وَأَجْراً عَظِيماً أَيْ ثَوَابًا جَزِيلًا وَرِزْقًا كَرِيمًا. وَوَعْدُ اللَّهِ حَقٌّ وَصِدْقٌ لَا يُخْلَفُ وَلَا يُبَدَّلُ، وَكُلُّ مَنِ اقتفى أثر الصحابة رضي الله عنهم فَهُوَ فِي حُكْمِهِمْ
Selanjutnya Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman : [وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً] “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan” Yakni atas segala dosa-dosa mereka, [وَأَجْراً عَظِيماً] “dan pahala yang besar.” Pahala agung dan rizki yang mulia. Dan janji Allah adalah benar karena Allah tidak akan pernah mengingkari serta mengubah janji. Siapa pun yang mengikuti jejak para Shahabat maka bisa dimasukkan dalam kategori mereka.

وَلَهُمُ الْفَضْلُ وَالسَّبْقُ وَالْكَمَالُ الَّذِي لَا يَلْحَقُهُمْ فِيهِ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ وَجَعَلَ جَنَّاتِ الْفِرْدَوْسِ مَأْوَاهُمْ، وَقَدْ فَعَلَ
Mereka (para Shahabat) adalah generasi yang memiliki keutamaan. Mereka (para Shahabat) menjadi orang-orang yang pertama kali masuk Islam [السَّبْقُ]. Mereka pun (para Shahabat) memiliki kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari kalangan umat ini. Semoga keridhaan Allah tetap meliputi mereka semua dan semoga Surga Firdaus akan menjadi tempat kembali mereka. Dan Allah pasti mewujudkannya untuk mereka.

قَالَ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «لا تسبوا أصحابي فو الذي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ»
Imam Muslim dalam kitab Shahihnya meriwayatkan dari Abu hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela para Shahabatku. Janganlah kalian mencela para Shahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, andai salah satu dari kalian menginfakkan emas sebesar bukit Uhud, tentu tidak akan bisa menyamai satu mud (shadaqah) seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. [Muslim no.4611]

[Tafsir Ibnu Katsir 7/336-339, al-Hafizh Ibnu Katsir]

[-] Secara umum para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang diridhai oleh Allah Ta’ala dan telah dijanjikan Surga oleh-Nya. Dan Keridhaan Allah Ta’ala dapat diperoleh dengan mengikuti para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, baik secara kelompok maupun individu.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهاجِرِينَ وَالْأَنْصارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهارُ خالِدِينَ فِيها أَبَداً ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [QS. At-Taubah : 100]

يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ رِضَاهُ عَنِ السَّابِقَيْنِ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَرِضَاهُمْ عَنْهُ بِمَا أَعَدَّ لَهُمْ مِنْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ

Allah Ta’ala memberitahukan tentang keridhaan-Nya terhadap orang-orang yang pertama kali masuk Islam [السَّابِقَيْنِ] dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Selain itu, Allah mengabarkan tentang keridhaan mereka terhadap-Nya, juga keridhaan mereka pada apa yang telah Dia siapkan bagi mereka berupa Surga-Surga yang dipenuhi kenikmatan yang abadi.

قَالَ الشَّعْبِيُّ: السابقون الأولون من الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مَنْ أَدْرَكَ بَيْعَةَ الرِّضْوَانِ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ ، وَقَالَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَمُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ وَالْحَسَنُ وَقَتَادَةُ، هُمُ الَّذِينَ صَلَّوْا إِلَى الْقِبْلَتَيْنِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Asy-Sya’bi berkata : “Orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar adalah orang-orang yang ikut serta dalam bai’atur ridhwan pada peristiwa Hudaibiyyah.” [Tafsir ath-Thabari 6/453]
Abu Musa al-Asy’ari, Sa’id bin al-Musayyab, Muhammad bin Sirin, al-Hasan (al-Bashri) dan Qatadah berkata, “Mereka adalah orang-orang yang shalat menghadap dua kiblat (Baitul Maqdis dan Ka’bah) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. [Tafsir ath-Thabari 6/454]

فَقَدْ أَخْبَرَ اللَّهُ الْعَظِيمُ أَنَّهُ قَدْ رَضِيَ عَنِ السَّابِقِينَ الْأَوَّلِينَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ، فَيَا وَيْلُ مَنْ أَبْغَضَهُمْ أَوْ سَبَّهُمْ أَوْ أَبْغَضَ أَوْ سَبَّ بَعْضَهُمْ، وَلَا سِيَّمَا سَيِّدُ الصَّحَابَةِ بَعْدَ الرَّسُولِ وَخَيْرُهُمْ وَأَفْضَلُهُمْ أَعْنِي الصِّدِّيقَ الْأَكْبَرَ وَالْخَلِيفَةَ الْأَعْظَمَ أَبَا بَكْرِ بْنَ أَبِي قُحَافَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَإِنَّ الطَّائِفَةَ الْمَخْذُولَةَ مِنَ الرَّافِضَةِ يُعَادُونَ أَفْضَلَ الصَّحَابَةِ وَيُبْغِضُونَهُمْ وَيَسُبُّونَهُمْ. عِياذًا بِاللَّهِ مِنْ ذَلِكَ. وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ عُقُولَهُمْ مَعْكُوسَةٌ وَقُلُوبَهُمْ مَنْكُوسَةٌ، فَأَيْنَ هَؤُلَاءِ مِنَ الْإِيمَانِ بِالْقُرْآنِ إِذْ يَسُبُّونَ مَنْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ؟ وَأَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ فَإِنَّهُمْ يَتَرَضُّونَ عَمَّنْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَيَسُبُّونَ مَنْ سَبَّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ، وَيُوَالُونَ مَنْ يُوَالِي اللَّهَ وَيُعَادُونَ مَنْ يُعَادِي اللَّهَ وهم متبعون لا مبتدعون ويقتدون ولا يبتدئون، وَلِهَذَا هُمْ حِزْبُ اللَّهِ الْمُفْلِحُونَ وَعِبَادُهُ الْمُؤْمِنُونَ.
Allah Yang Mahaagung telah memberitahukan bahwa Ia meridhai orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka alangkah celakanya orang-orang yang membenci mereka dan mencela mereka, atau membenci dan mencela sebagian dari mereka, terlebih lagi terhadap pemuka para Shahabat setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sekaligus orang terbaik dan terutama di antara mereka, yaitu seorang [الصِّدِّيقَ] dan seorang Khalifah yang mulia Abu Bakar bin Abi Quhafah. Sebab golongan yang merugi dari kalangan Rafidhah (Syiah), mereka memusuhi Shahabat-Shahabat yang paling utama, membenci dan mencaci maki mereka. Semoga kita dijauhkan dari perbuatan yang mereka lakukan. Ini menunjukkan bahwa akal mereka telah terbalik dan hati mereka telah terjungkir. Lalu, mana keimanan mereka terhadap al-Qur’an, pada saat mereka mencaci maki orang-orang yang telah diridhai Allah? Adapun Ahlus Sunnah, mereka meridhai orang-orang yang telah diridhai Allah, dan mereka mencela orang-orang yang telah dicela Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah orang-orang yang selalu ittiba’ (mengikuti), bukan orang-orang yang suka ibtida’ (berbuat bid’ah). Ahlus Sunnah adalah golongan Allah yang berbahagia dan hamba-hamba-Nya yang beriman.

[Tafsir Ibnu Katsir 4/177-178, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Firman Allah Ta’ala,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً (18) وَمَغانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَها وَكانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً (19)
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (18) Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (19) [QS. Al-Fath : 18-19]

يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ رِضَاهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ بَايَعُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ، وَقَدْ تَقَدَّمَ ذِكْرُ عِدَّتِهِمْ وَأَنَّهُمْ كَانُوا أَلْفًا وَأَرْبَعَمِائَةٍ، وَأَنَّ الشَّجَرَةَ كَانَتْ سَمُرَةً بِأَرْضِ الْحُدَيْبِيَةِ،
Allah Ta’ala memberitahukan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang Mukmin yang berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di bawah pohon. Tentang jumlah mereka, telah disebutkan sebelumnya, mencapai seribu empat ratus orang. Pohon yang dimaksud adalah pohon Samurah yang ada di kawasan Hudaibiyah.

وَقَوْلُهُ تعالى: فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ أَيْ مِنَ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ وَهِيَ الطُّمَأْنِينَةُ عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً وَهُوَ مَا أَجْرَى الله عز وجل عَلَى أَيْدِيهِمْ مِنَ الصُّلْحِ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَعْدَائِهِمْ، وَمَا حَصَلَ بِذَلِكَ مِنَ الْخَيْرِ الْعَامِّ الْمُسْتَمِرِّ الْمُتَّصِلِ بِفَتْحِ خَيْبَرَ وَفَتْحِ مَكَّةَ،
Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman : [فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ] “maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka,” yakni Allah mengetahui kebenaran, kesetiaan dan ketaatan mereka. [فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ] “lalu menurunkan ketenangan,” artinya ketenangan (thuma’ninah). [عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً] “atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” Yaitu perjanjian yang diberlakukan Allah ‘Azza wa Jalla di atas tangan mereka terhadap para musuh mereka, dan akibat baik yang menyeluruh yang timbul dan terus berlangsung sebagai hasil dari perjanjian tersebut, yakni berupa penaklukkan Khaibar dan pembebasan kota Makkah.

ثُمَّ فَتْحِ سَائِرِ الْبِلَادِ وَالْأَقَالِيمِ عَلَيْهِمْ وَمَا حَصَلَ لَهُمْ مِنَ الْعِزِّ وَالنَّصْرِ وَالرِّفْعَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، ولهذا قال تعالى: وَمَغانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَها وَكانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً.
Selanjutnya, banyak negeri-negeri dan berbagai kawasan yang ditaklukkan oleh Allah  untuk kaum Muslimin. Mereka memperoleh kejayaan, kemenangan dan derajat yang tinggi, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itulah Allah Ta’ala berfirman, [وَمَغانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَها وَكانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً] “Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.”

[Tafsir Ibnu Katsir 7/315, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Firman Allah Ta’ala,

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقاتَلَ أُولئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقاتَلُوا وَكُلاًّ وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنى وَاللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukkan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-Hadiid : 10]

وقوله تعالى: لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقاتَلَ أَيْ لَا يَسْتَوِي هَذَا وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ كَفِعْلِهِ، وَذَلِكَ أَنَّ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ كَانَ الْحَالُ شَدِيدًا فَلَمْ يَكُنْ يُؤْمِنُ حِينَئِذٍ إِلَّا الصِّدِّيقُونَ، وَأَمَّا بَعْدَ الْفَتْحِ فَإِنَّهُ ظَهَرَ الْإِسْلَامُ ظُهُورًا عَظِيمًا وَدَخَلَ النَّاسُ فِي دين الله أفواجا. ولهذا قال تعالى:
Firman Allah Ta’ala : [لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقاتَلَ] “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukkan (Makkah).” Yaitu tidaklah sama orang tersebut dengan orang yang tidak berbuat sepertinya, karena keadaan sebelum penaklukkan Makkah sangatlah berat. Pada masa itu yang beriman hanyalah orang-orang yang berpredikat [الصِّدِّيقُونَ] saja. Lain halnya sesudah masa penaklukkan kota Makkah. Saat itu islam telah jaya. Pengaruhnya pun sudah sangat besar dan luas. Manusia mulai berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah. Mengenai hal itu Allah Ta’ala berfirman,

أُولئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنى
Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.

وَالْجُمْهُورُ على أن المراد بالفتح هاهنا فَتْحُ مَكَّةَ، وَعَنِ الشَّعْبِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ الْمُرَادَ بالفتح هاهنا صُلْحُ الْحُدَيْبِيَةِ، وَقَدْ يُسْتَدَلُّ لِهَذَا الْقَوْلِ بِمَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ
Mayoritas ulama mengartikan penaklukkan dalam ayat di atas adalah penaklukkan kota Makkah. Namun diriwayatkan dari asy-Sya’bi dan lainnya, bahwa yang dimaksud dengan penaklukkan di dalam ayat ini adalah perjanjian Hudaibiyah. Sandaran dalil ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ كَلَامٌ، فَقَالَ خَالِدٌ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ: تَسْتَطِيلُونَ عَلَيْنَا بِأَيَّامٍ سَبَقْتُمُونَا بِهَا، فَبَلَغَنَا أَنَّ ذَلِكَ ذَكَرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «دَعُوا لِي أَصْحَابِي، فو الذي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقْتُمْ مِثْلَ أُحُدٍ أَوْ مِثْلَ الْجِبَالِ ذَهَبًا مَا بَلَغْتُمْ أَعْمَالَهُمْ» .وَمَعْلُومٌ أَنَّ إِسْلَامَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ الْمُوَاجِهِ بِهَذَا الْخِطَابِ كَانَ بَيْنَ صُلْحِ الْحُدَيْبِيَةِ وَفَتْحِ مَكَّةَ
Khalid bin al-Walid dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf terlibat dalam suatu perdebatan. Khalid berkata kepada ‘Abdurrahman, ‘Kalian merasa lebih tinggi atas kami berkat masa-masa yang dengannya kalian mendahului kami.’ Lalu kami mendengar bahwa hal tersebut diceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka beliau bersabda, “Biarkanlah Shahabat-Shahabatku untukku, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya kalian berinfak berupa emas sebesar gunung Uhud atau sebesar gunung-gunung, maka kalian tetap tidak dapat menandingi (pahala) amal mereka.
[Ahmad no.13310, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.13746, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]
Dan telah dimaklumi bahwa Islamnya Khalid di mana hadits ini berbicara (ditujukan) kepadanya, terjadi di masa antara perjanjian Hudaibiyah dan penaklukkan kota Mekkah.

وَالَّذِي فِي الصَّحِيحِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قال: «لا تسبوا أصحابي فو الذي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ»
Dan dalam ash-Shahih disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
Janganlah kalian mencaci Shahabat-Shahabatku, karena demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang dari kalian menginfakkan emas sebesar bukit uhud niscaya tidak dapat menyamai (pahala infak) satu mud mereka, dan tidak pula separuhnya. [Muslim no.4610]

وقوله تعالى: وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنى يَعْنِي الْمُنْفِقِينَ قَبْلَ الْفَتْحِ وَبَعْدَهُ، كُلُّهُمْ لَهُمْ ثَوَابٌ عَلَى مَا عَمِلُوا، وَإِنْ كَانَ بَيْنَهُمْ تَفَاوُتٌ فِي تُفَاضُلِ الجزاء كما قال تعالى:
Firman Allah Ta’ala : [وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنى] “Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.” Yaitu orang-orang yang berinfak sebelum dan sesudah penaklukkan, semuanya akan mendapat pahala atas amalan yang mereka kerjakan meskipun terdapat perbedaan tingkat pahala di antara mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

لَا يَسْتَوِي الْقاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجاهِدِينَ بِأَمْوالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجاهِدِينَ عَلَى الْقاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً [النِّسَاءِ: 95]
Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (Surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. [QS. An-Nisaa’ : 95]

وَهَكَذَا الْحَدِيثُ الَّذِي فِي الصَّحِيحِ «الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ»
Begitu juga dengan hadits yang disebutkan dalam ash-Shahih, “Orang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang Mukmin yang lemah, dan terdapat kebaikan pada masing-masing (dari keduanya). [Muslim no.4816]

وَإِنَّمَا نَبَّهَ بِهَذَا لِئَلَّا يُهْدَرَ جَانِبُ الْآخَرِ بِمَدْحِ الْأَوَّلِ دُونَ الْآخَرِ، فَيَتَوَهَّمُ مُتَوَهِّمٌ ذَمَّهُ، فَلِهَذَا عَطَفَ بِمَدْحِ الْآخَرِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ مَعَ تَفْضِيلِ الْأَوَّلِ عَلَيْهِ،
Dikatakan demikian agar pihak yang kedua tidak diremehkan dengan dipujinya pihak pertama yang berakibat timbulnya dugaan bahwa pihak kedua adalah tercela. Oleh karena itu Rasulullah menyusulkan pujian dan sanjungan kepada pihak kedua, walalupun beliau tetap mengunggulkan pihak pertama.

وَلِهَذَا قَالَ تعالى: وَاللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ أَيْ فَلِخِبْرَتِهِ فَاوَتَ بَيْنَ ثَوَابِ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ وَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ بَعْدَ ذَلِكَ وَمَا ذاك إِلَّا لِعِلْمِهِ بِقَصْدِ الْأَوَّلِ وَإِخْلَاصِهِ التَّامِّ وَإِنْفَاقِهِ فِي حَالِ الْجُهْدِ وَالْقِلَّةِ وَالضِّيقِ، وَفِي الْحَدِيثِ
Karena itu Allah Ta’ala berfirman : [وَاللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ] “Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Maksudnya, berdasarkan pengetahuan-Nya-lah, maka Dia membedakan antara pahala orang yang menginfakkan hartanya sebelum penaklukkan Makkah dan berperang di jalan-Nya, dengan orang yang melakukan hal tersebut sesudah itu. Hal tersebut tidak lain karena Allah mengetahui niat golongan pertama dan keikhlasan mereka yang sempurna serta infak mereka di masa sulit, susah dan sempit. Dalam salah satu hadits disebutkan,

«سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفٍ»
“(Shadaqah) satu dirham mengalahkan (shadaqah) seratus ribu (dirham).” [Shahiihul Jaami’ no.3606]

وَلَا شَكَّ عِنْدَ أَهْلِ الْإِيمَانِ أَنَّ الصِّدِّيقَ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَهُ الْحَظُّ الْأَوْفَرُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ، فَإِنَّهُ سَيِّدُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ سائر أمم الأنبياء، فإنه أَنْفَقَ مَالَهُ كُلَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَمْ يَكُنْ لِأَحَدٍ عِنْدَهُ نِعْمَةٌ يَجْزِيهِ بِهَا.
Tidak diragukan lagi di kalangan ahlul Iman bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu meraih bagian terbesar dari ayat ini. Karena dialah penghulu orang yang beramal demikian di antara umat para Nabi lain. Abu Bakar menginfakkan semua hartanya demi meraih keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak ada seorang pun yang pernah memberi jasa kepada Abu Bakar yang harus dia balas.

[Tafsir Ibnu Katsir 8/47-48, al-Hafizh Ibnu Katsir]


بقوله: {وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى} أي: الذين أسلموا وقاتلوا وأنفقوا من قبل الفتح وبعده، كلهم وعده الله الجنة، وهذا يدل على فضل الصحابة [كلهم] ، رضي الله عنهم، حيث شهد الله لهم بالإيمان، ووعدهم الجنة
Mengenai firman Allah, [وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى] “Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.” Maksudnya, orang-orang yang masuk Islam, berperang, dan berinfak sebelum pembebasan kota Makkah dan setelahnya, semuanya telah dijanjikan Surga oleh Allah, dan ini menunjukkan keutamaan para Shahabat (seluruhnya) Radhiyallahu ‘anhum, karena Allah mempersaksikan mereka dengan keimanan dan menjanjikan Surga untuk mereka.

[Tafsir as-Sa’di 1/838]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diterima taubatnya oleh Allah dikarenakan mengikuti Nabi dalam masa kesulitan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

لَقَدْ تابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهاجِرِينَ وَالْأَنْصارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي ساعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُفٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha penyayang kepada mereka. [QS. At-Taubah : 117]

قَالَ مُجَاهِدٌ وَغَيْرُ وَاحِدٍ: نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، وَذَلِكَ أَنَّهُمْ خَرَجُوا إِلَيْهَا فِي شِدَّةٍ مِنَ الْأَمْرِ فِي سَنَةٍ مُجْدِبَةٍ وَحَرٍّ شَدِيدٍ وَعُسْرٍ مِنَ الزَّادِ وَالْمَاءِ، قَالَ قَتَادَةُ: خَرَجُوا إِلَى الشَّامِ عَامَ تَبُوكَ فِي لَهَبَانِ الْحَرِّ عَلَى مَا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنَ الْجَهْدِ، أَصَابَهُمْ فِيهَا جَهْدٌ شَدِيدٌ حَتَّى لَقَدْ ذُكِرَ لَنَا أَنَّ الرَّجُلَيْنِ كَانَا يَشُقَّانِ التَّمْرَةَ بَيْنَهُمَا، وَكَانَ النَّفَرُ يَتَدَاوَلُونَ التَّمْرَةَ بَيْنَهُمْ يَمُصُّهَا هَذَا ثُمَّ يَشْرَبُ عَلَيْهَا ثُمَّ يَمُصُّهَا هَذَا ثُمَّ يَشْرَبُ عَلَيْهَا، فَتَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَأَقْفَلَهُمْ مِنْ غَزْوَتِهِمْ.
Mujahid dan selainnya berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan perang Tabuk. Pada saat itu para Shahabat berangkat ke Tabuk pada kondisi yang sangat sulit. Kala itu musim kering, cuaca sangat panas dan sulit mendapatkan perbekalan dan air. Qatadah berkata : “Mereka berangkat menuju Syam pada tahun peristiwa perang Tabuk dalam cuaca yang amat panas. Hanya Allah sendiri yang tahu kadar kesulitannya. Mereka tertimpa kesusahan yang sangat parah, sampai-sampai diceritakan kepada kami bahwa dua orang di antara mereka membagi sebutir kurma (masing-masing memakan sebelah). Ada juga beberapa orang yang secara bergantian mengisap-isap sebutir kurma untuk menelan airnya saja. Kemudian kurma tadi diisap lagi oleh yang lainnya. Maka Allah menerima taubat mereka dan mengembalikan mereka dari peperangan tersebut.”

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ فِي قَوْلِهِ لَقَدْ تابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهاجِرِينَ وَالْأَنْصارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي ساعَةِ الْعُسْرَةِ أي من النفقة والطهر وَالزَّادِ وَالْمَاءِ مِنْ بَعْدِ مَا كادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ أَيْ عَنِ الْحَقِّ، وَيَشُكُّ في دين الرسول صلى الله عليه وسلم ويرتاب للذي نالهم من المشقة والشدة في سفرهم وغزوهم ثُمَّ تابَ عَلَيْهِمْ يَقُولُ: ثُمَّ رَزَقَهُمُ الْإِنَابَةَ إِلَى رَبِّهِمْ وَالرُّجُوعَ إِلَى الثَّبَاتِ عَلَى دِينِهِ إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُفٌ رَحِيمٌ.
Ibnu Jarir berkata tentang firman Allah Ta’ala, [قَوْلِهِ لَقَدْ تابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهاجِرِينَ وَالْأَنْصارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي ساعَةِ الْعُسْرَةِ] “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan,” Yakni kesulitan dalam hal nafkah, tunggangan, perbekalan dan air. [مِنْ بَعْدِ مَا كادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ] “setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling,” Maksudnya berpaling dari kebenaran, dan meragukan agama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika mereka mendapat kesusahan dan kepayahan dalam perjalanan dan peperangan mereka. [ثُمَّ تابَ عَلَيْهِمْ] “kemudian Allah menerima taubat mereka itu.” (Ibnu Jarir) berkata : “Kemudian Allah menganugerahkan mereka kesempatan untuk bertaubat kepada Rabb mereka dan kembali kepada keteguhan di atas agama-Nya, [إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُفٌ رَحِيمٌ] “Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha penyayang kepada mereka.”

[Tafsir Ibnu Katsir 4/199-200, al-Hafizh Ibnu Katsir]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berhijrah dan berjihad di jalan Allah akan dihapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan dimasukan ke dalam Surga. Dan Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang kita diperintahkan untuk memohonkan ampunan untuk mereka, demikian pula para Malaikat diperintahkan untuk bershalawat, mendo’akan, dan memohonkan ampunan untuk mereka, karena mereka (para Shahabat) adalah orang-orang yang jujur dengan sebenar-benarnya iman.

Firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هاجَرُوا وَجاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Baqarah : 218]

Firman Allah Ta’ala,

فَاسْتَجابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَالَّذِينَ هاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ ثَواباً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوابِ
Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman) : “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah, pada sisi-Nya (terdapat) pahal yang baik. [QS. Ali-‘Imraan : 195]

Firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهاجَرُوا وَجاهَدُوا بِأَمْوالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهاجِرُوا وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلاَّ عَلى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثاقٌ وَاللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-Anfaal : 72]

ذَكَرَ تَعَالَى أَصْنَافَ الْمُؤْمِنِينَ وَقَسَمَهُمْ إِلَى مُهَاجِرِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ وَجَاءُوا لِنَصْرِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِقَامَةِ دِينِهِ وَبَذَلُوا أَمْوَالَهُمْ وَأَنْفُسَهُمْ فِي ذَلِكَ، وَإِلَى أَنْصَارٍ وَهُمُ الْمُسْلِمُونَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ إِذْ ذَاكَ آوَوْا إِخْوَانَهُمُ الْمُهَاجِرِينَ فِي مَنَازِلِهِمْ وَوَاسَوْهُمْ فِي أَمْوَالِهِمْ وَنَصَرُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ بِالْقِتَالِ مَعَهُمْ فَهَؤُلَاءِ بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ أَيْ كُلٌّ مِنْهُمْ أَحَقُّ بِالْآخَرِ مِنْ كُلِّ أَحَدٍ،
Dalam ayat di atas Allah Ta’ala menyebutkan golongan orang-orang yang beriman dan mengelompokkan mereka menjadi kaum Muhajirin, yaitu kaum yang pergi meninggalkan tanah kelahiran dan harta mereka dalam rangka membela Allah dan Rasul-Nya serta menegakkan agama-Nya, yang dalam hal itu mereka rela mengorbankan harta dan jiwa mereka. Dan kaum Anshar, yaitu orang-orang yang beriman dari penduduk Madinah, di mana mereka menolong saudara-saudara mereka kaum Muhajirin dengan memberikan tempat tinggal di rumah-rumah mereka. Selain itu mereka juga membela Allah dan Rasul-Nya dengan ikut berjihad bersama mereka. Maka dari itu, kaum Muhajirin dan Anshar (sebagaimana firman-Nya) [بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ] “mereka itu satu sama lain saling melindungi.” Maksudnya, setiap satu dari kedua kelompok ini lebih berhak untuk mendapatkan perlindungan dari selainnya.

[Tafsir Ibnu Katsir 4/84, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهاجَرُوا وَجاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia. [QS. Al-Anfaal : 74]

الَّذِينَ آمَنُوا وَهاجَرُوا وَجاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولئِكَ هُمُ الْفائِزُونَ (20) يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيها نَعِيمٌ مُقِيمٌ (21)
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. (20) Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan Surga. Mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. (21) [QS. At-Taubah : 20-21]

Firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ هاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كانُوا يَعْلَمُونَ (41) الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (42)
Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (41) (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Rabb saja mereka bertawakal. (42) [QS. An-Nahl : 41-42]

يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ جَزَائِهِ لِلْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِهِ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِهِ، الَّذِينَ فَارَقُوا الدَّارَ وَالْإِخْوَانَ وَالْخُلَّانَ رَجَاءَ ثَوَابِ اللَّهِ وَجَزَائِهِ
Pada ayat di atas, Allah Ta’ala mengabarkan tentang ganjaran yang Dia siapkan untuk orang-orang yang berhijrah di jalan-Nya demi mencari ridha-Nya, yaitu orang-orang yang meninggalkan kampung halaman dan kerabat karena mengharap pahala dan balasan dari Allah.

وَيُحْتَمَلُ أن يكون سبب نزولها فِي مُهَاجَرَةِ الْحَبَشَةِ الَّذِينَ اشْتَدَّ أَذَى قَوْمِهِمْ لَهُمْ بِمَكَّةَ حَتَّى خَرَجُوا مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِهِمْ إِلَى بِلَادِ الْحَبَشَةِ لِيَتَمَكَّنُوا مِنْ عِبَادَةِ رَبِّهِمْ
Kemungkinan penyebab turunnya ayat ini adalah hijrahnya (Shahabat) menuju negeri Habasyah setelah mereka merasakan betapa berat dan dahsyatnya penyiksaan kaumnya (orang-orang kafir) Makkah yang memaksa mereka harus meninggalkan kampung halaman menuju Habasyah dengan harapan agar dapat beribadah kepada Rabb-nya.

وَمِنْ أَشْرَافِهِمْ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ وَمَعَهُ زَوْجَتُهُ رُقَيَّةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ابْنُ عَمِّ الرسول، وأبو سلمة بن عبد الأسود فِي جَمَاعَةٍ قَرِيبٍ مِنْ ثَمَانِينَ مَا بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ صِدِّيقٍ وَصِدِّيقَةٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ، وَقَدْ فَعَلَ فَوَعَدَهُمْ تَعَالَى بِالْمُجَازَاةِ الْحَسَنَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَقَالَ: لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيا حَسَنَةً
Di antara pemuka (Shahabat) yang turut hijrah adalah ‘Utsman bin ‘Affan beserta isterinya Ruqayyah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam; Ja’far bin Abu Thalib, anak paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam; Abu Salamah bin ‘Abdul Aswad bersama anggota rombongan lainnya, kurang lebih berjumlah 80 orang shiddiq baik dari kalangan laki-laki dan perempuan Radhiyallahu ‘anhum wa Ardhahum. Karena mereka telah membuktikan perintah Allah, maka Allah Ta’ala pun menjanjikan balasan yang baik untuk mereka di dunia dan di akhirat. Dalam firman-Nya : [لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيا حَسَنَةً] “pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia.”

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَالشَّعْبِيُّ وَقَتَادَةُ: الْمَدِينَةُ، وَقِيلَ: الرِّزْقُ الطَّيِّبُ، قَالَهُ مُجَاهِدٌ.
Ibnu Abbas, asy-Sya’bi dan Qatadah berkata, “(Yang dimaksud tempat yang baik) adalah kota Madinah. Sedangkan Mujahid mengatakan, “rizki yang baik”.

[Tafsir Ibnu Katsir 4/491, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ هاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ ماتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقاً حَسَناً وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (58) لَيُدْخِلَنَّهُمْ مُدْخَلاً يَرْضَوْنَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَلِيمٌ حَلِيمٌ (59)
Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik (Surga). Dan sesungguhnya Allah adalah Sebaik-baik pemberi rizki. (58) Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (Surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (59) [QS. Al-Hajj : 58-59]

Firman Allah Ta’ala,

لِلْفُقَراءِ الْمُهاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَرِضْواناً وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (8) وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَالْإِيمانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9) وَالَّذِينَ جاؤُ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَلِإِخْوانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونا بِالْإِيمانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ (10)
(Juga) bagi para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (8) Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yakni kaum Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (yakni kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka (kaum Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (9) Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a : “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (10) [QS. Al-Hasyr : 8-10]

يَقُولُ تَعَالَى مُبَيِّنًا حَالَ الْفُقَرَاءِ الْمُسْتَحِقِّينَ لِمَالِ الْفَيْءِ أَنَّهُمْ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْواناً أَيْ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَخَالَفُوا قَوْمَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ أَيْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ صَدَّقُوا قَوْلَهُمْ بِفِعْلِهِمْ وَهَؤُلَاءِ هُمْ سَادَاتُ الْمُهَاجِرِينَ
Dalam firman-Nya, Allah menjelaskan orang-orang fakir yang berhak mendapatkan bagian harta rampasan fai, mereka adalah [الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْواناً] “yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya)” Yakni, yang telah keluar dari rumahnya dan meninggalkan keluarganya demi untuk mendapatkan keridhaan Allah. [وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ] “dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” Yakni mereka adalah orang-orang yang merealisasikan ucapannya dengan perbuatan dan merekalah para petinggi kaum Muhajirin.

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى مَادِحًا لِلْأَنْصَارِ وَمُبَيِّنًا فَضْلَهُمْ وَشَرَفَهُمْ وَكَرَمَهُمْ، وَعَدَمَ حسدهم وإيثارهم مع الحاجة فقال تعالى: وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَالْإِيمانَ مِنْ قَبْلِهِمْ أَيْ سَكَنُوا دَارَ الْهِجْرَةِ مِنْ قَبْلِ الْمُهَاجِرِينَ وَآمَنُوا قَبْلَ كَثِيرٍ منهم
Kemudian Allah Ta’ala berfirman memuji kaum Anshar seraya menjelaskan keutamaan, kemuliaan dan kedermawanan mereka. Mereka tidak iri hati kepada orang-orang Muhajirin. Mereka berani berkorban dengan mendahulukan kepentingan orang lain atas diri mereka sendiri, padahal mereka sendiri membutuhkannya. Oleh karena itu, maka Allah Ta’ala berfirman, [وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَالْإِيمانَ مِنْ قَبْلِهِمْ] “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yakni kaum Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (yakni kaum Muhajirin),” Yakni, orang-orang yang telah menempati kota tempat berhijrah (Madinah) sebelum kaum Muhajirin, dan orang-orang Madinah ini telah lebih dahulu beriman sebelum kedatangan kaum Muhajirin.

قال عمر:وأوصي الخليفة بَعْدِي بِالْمُهَاجِرِينَ الْأَوَّلِينَ أَنْ يَعْرِفَ لَهُمْ حَقَّهُمْ وَيَحْفَظَ لَهُمْ كَرَامَتَهُمْ، وَأُوصِيهِ بِالْأَنْصَارِ خَيْرًا الَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلُ، أَنْ يَقْبَلَ مِنْ مُحْسِنِهِمْ وَأَنْ يَعْفُوَ عَنْ مُسِيئِهِمْ رَوَاهُ البخاري
‘Umar berkata, “Aku mewasiatkan khalifah setelahku agar menjaga kehormatan kaum Muhajirin dari generasi yang pertama. Hendaklah ia mengetahui hak-hak mereka. Aku pun berwasiat agar ia berbuat kebaikan kepada kaum Anshar yang telah tinggal (di Madinah) dan telah beriman sebelum kaum Muhajirin (datang kepada mereka). Caranya adalah dengan menerima budi baik mereka serta mengampuni kesalahan mereka.” Hadits ini pun telah diriwayatkan oleh al-Bukhari. [Bukhari no.1305]

قوله تعالى: يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ أَيْ مِنْ كَرَمِهِمْ وَشَرَفَ أَنْفُسِهِمْ يُحِبُّونَ الْمُهَاجِرِينَ وَيُوَاسُونَهُمْ بِأَمْوَالِهِمْ
Firman-Nya, [يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ] “mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.” Disebabkan keutamaan dan keagungan jiwa mereka. Kaum Anshar ini rela membagi-bagikan harta mereka untuk kaum Muhajirin.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُعَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ الْمُهَاجِرُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا رَأَيْنَا مِثْلَ قَوْمٍ قَدِمْنَا عَلَيْهِمْ أَحْسَنَ مُوَاسَاةً فِي قَلِيلٍ وَلَا أَحْسَنَ بَذْلًا فِي كَثِيرٍ، لَقَدْ كَفَوْنَا الْمُؤْنَةَ وَأَشْرَكُونَا فِي الْمُهَنَّإِ حَتَّى لَقَدْ خَشِينَا أَنْ يَذْهَبُوا بِالْأَجْرِ كُلِّهِ. قَالَ «لَا مَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِمْ وَدَعَوْتُمُ اللَّهَ لَهُمْ»
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas, ia berkata, “Kaum Muhajirin berkata, “Wahai Rasulullah, tidak pernah kami menemukan kaum yang sangat baik menerima kami, baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Mereka telah membantu mencukupi kebutuhan rumah dan pangan kami. Mereka pun menjadikan kami sebagai saudara dalam pemenuhan segala kebutuhan, sehingga kami takut kalau mereka menghabiskan semua pahala.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : ‘Tidak, selama kalian berterimakasih atas (kebaikan) mereka dan kalian mendoakan mereka kepada Allah.’”
[Ahmad no.12602, Syaikh al-Arnauth berkata : “Sanadnya shahih berdasarkan syarat Bukhari Muslim”]

وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا أَيْ وَلَا يَجِدُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ حَسَدًا لِلْمُهَاجِرِينَ فِيمَا فَضَّلَهُمُ اللَّهُ بِهِ مِنَ الْمَنْزِلَةِ وَالشَّرَفِ وَالتَّقْدِيمِ فِي الذِّكْرِ وَالرُّتْبَةِ
Firman-Nya, [وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا] “Dan mereka (kaum Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum muhajirin),” Yakni, (kaum Anshar) tidak iri kepada kaum Muhajirin atas keutamaan yang Allah karuniakan kepada mereka berupa kedudukan, kemuliaan, penyebutan yang lebih awal serta derajat yang melebihi mereka.

وَيُؤْثِرُونَ عَلى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ يَعْنِي حَاجَةً أَيْ يُقَدِّمُونَ الْمَحَاوِيجَ عَلَى حَاجَةِ أنفسهم
Firman-Nya, [وَيُؤْثِرُونَ عَلى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ] “dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” Artinya kebutuhan. Maksudnya, mereka tetap membantu meskipun diri mereka memerlukan.

وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جَهْدُ الْمُقِلِّ»
Telah tercantum dalam hadits shahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Shadaqah terbaik adalah ketika dalam kesempitan.” [Shahiihul Jaami’ no.1112, Syaikh al-Albani]

وَهَذَا الْمَقَامُ أَعْلَى مِنْ حال الذين وصف الله تعالى: وَيُطْعِمُونَ الطَّعامَ عَلى حُبِّهِ [الْإِنْسَانِ: 8] وَقَوْلُهُ وَآتَى الْمالَ عَلى حُبِّهِ [البقرة: 177] فإن هؤلاء تصدقوا وَهُمْ يُحِبُّونَ مَا تَصَدَّقُوا بِهِ، وَقَدْ لَا يَكُونُ لَهُمْ حَاجَةٌ إِلَيْهِ وَلَا ضَرُورَةَ بِهِ، وَهَؤُلَاءِ آثَرُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ مَعَ خَصَاصَتِهِمْ وَحَاجَتِهِمْ إِلَى مَا أَنْفَقُوهُ، وَمِنْ هَذَا الْمَقَامِ تَصَدَّقَ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِجَمِيعِ مَالِهِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Posisi ini adalah lebih tinggi dari orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, [وَيُطْعِمُونَ الطَّعامَ عَلى حُبِّهِ] “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya.” [QS. Al-Insaan : 8] Dan firman-Nya, [الْمالَ عَلى حُبِّهِ] “Dan memberikan harta yang dicintainya.” [QS. Al-Baqarah : 177] Mereka adalah orang yang menshadaqahkan harta yang mereka cintai. Mereka yang dimaksud ayat ini, termasuk orang yang memang memerlukan harta tersebut, atau mereka yang tidak memerlukannya. Dan yang terjadi pada mereka (para Shahabat) adalah : Mereka lebih mengutamakan orang lain, sekalipun mereka sangat membutuhkannya. Di antara contohnya adalah ketika (Abu Bakar) ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu menshadaqahkan seluruh hartanya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

«ما أبقيت لأهلك؟» فقال رضي الله عنه: أبقيت لهم الله ورسوله
Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar ash-shiddiq Radhiyallahu ‘anhu menjawab : “Aku menyisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
[Tirmidzi no.3608, Shahih : Misykaatul Mashabiih no.6021]

وهكذا الْمَاءُ الَّذِي عُرِضَ عَلَى عِكْرِمَةَ وَأَصْحَابِهِ يَوْمَ الْيَرْمُوكِ فَكُلٌّ مِنْهُمْ يَأْمُرُ بِدَفْعِهِ إِلَى صَاحِبِهِ، وَهُوَ جَرِيحٌ مُثْقَلٌ أَحْوَجُ مَا يَكُونُ إِلَى الْمَاءِ، فَرَدَّهُ الْآخَرُ إِلَى الثَّالِثِ فَمَا وَصَلَ إِلَى الثَّالِثِ حَتَّى مَاتُوا عَنْ آخِرِهِمْ وَلَمْ يَشْرَبْهُ أَحَدٌ مِنْهُمْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ
(Contoh lain) adalah kisah air minum yang ditawarkan kepada ‘ikrimah dan para shahabatnya pada saat perang yarmuk, setiap orang mengutamakan shahabatnya dari dirinya sendiri sementara dirinya terluka dan sangat memerlukan air. Kemudian air itu diserahkan lagi kepada yang ketiga, sehingga tidak sampai kepada yang ketiga. Mereka pun meninggal dunia tanpa seorang pun meminumnya.

وَقَالَ الْبُخَارِيُّ:عَنْ أَبِي هريرة قال: أتى رَجُلٌ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَصَابَنِي الْجُهْدُ، فَأَرْسَلَ إِلَى نِسَائِهِ فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَهُنَّ شَيْئًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَا رَجُلٌ يُضَيِّفُ هذه اللَّيْلَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ» فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ فَقَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَذَهَبَ إِلَى أهله فقال لامرأته:
Dan telah diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Abu Hurairah, ia menceritakan bahwa seseorang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seraya berkata : “Wahai Rasulullah, saya tertimpa kesulitan.” Maka beliau pun mengutus seseorang kepada isterinya. Ketika tidak mendapatkan apa-apa, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Ketahuilah, siapa yang bersedia menjamunya malam ini, maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya?” Seorang laki-laki dari Anshar bangkit dan berkata, “Saya, ya Rasulullah.” Dia pun pergi memberitahu keluarganya dan berkata kepada isterinya,

هذا ضَيْفُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدَّخِرِيهِ شَيْئًا، فَقَالَتْ: وَاللَّهِ مَا عِنْدِي إِلَّا قُوتُ الصِّبْيَةِ. قَالَ: فَإِذَا أَرَادَ الصِّبْيَةُ العشاء فنوميهم، وتعالي فأطفئ السِّرَاجَ وَنَطْوِي بُطُونَنَا اللَّيْلَةَ، فَفَعَلَتْ ثُمَّ غَدَا الرَّجُلُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «لَقَدْ عَجِبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ- أَوْ ضَحِكَ- مِنْ فُلَانٍ وَفُلَانَةٍ»
Dia adalah tamu Rasulullah, jadi jangan menyembunyikan makanan apa pun. “Sang isteri berkata, “Demi Allah, kita hanya punya makanan untuk anak kita.” Sang suami berkata, “Apabila anak kita ingin makan malam maka tidurkanlah dia. Kemarilah kamu, matikanlah lampu dan kita berpuasa malam ini.” Sang isteri pun menurutinya. Keesokan harinya laki-laki itu menghadap Rasulullah, maka beliau bersabda :”Sungguh Allah telah takjub –atau tertawa- (perawi ragu antara dua kata tersebut) dengan fulan dan fulanah.” [Bukhari no.4510]

وَأَنْزَلَ اللَّهُ تعالى: وَيُؤْثِرُونَ عَلى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ
Dan Allah pun menurunkan ayat, [وَيُؤْثِرُونَ عَلى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ] “dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).”

وقوله تعالى: وَالَّذِينَ جاؤُ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَلِإِخْوانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونا بِالْإِيمانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ هَؤُلَاءِ هُمُ الْقِسْمُ الثَّالِثُ مِمَّنْ يَسْتَحِقُّ فُقَرَاؤُهُمْ مِنْ مَالِ الْفَيْءِ وَهُمُ الْمُهَاجِرُونَ ثُمَّ الأنصار ثم التابعون لهم بِإِحْسَانٍ كَمَا قَالَ فِي آيَةِ بَرَاءَةٌ
Firman-Nya Ta’ala, [وَالَّذِينَ جاؤُ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَلِإِخْوانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونا بِالْإِيمانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ] “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a : “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” Mereka adalah golongan ketiga dari orang fakir yang berhak menerima harta rampasan (fai). Setelah kaum Muhajirin dan kaum Anshar, maka kemudian disusul oleh orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, sebagaimana yang Allah sinyalir dalam surat at-Taubah,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهاجِرِينَ وَالْأَنْصارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ [التَّوْبَةِ: 100]
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. [QS. At-Taubah : 100]

فَالتَّابِعُونَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ هُمُ الْمُتَّبِعُونَ لِآثَارِهِمُ الْحَسَنَةِ وَأَوْصَافِهِمُ الْجَمِيلَةِ الدَّاعُونَ لَهُمْ فِي السِّرِّ والعلانية، ولهذا قال تعالى: في هذه الآية الكريمة وَالَّذِينَ جاؤُ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ أَيْ قَائِلِينَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَلِإِخْوانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونا بِالْإِيمانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنا غِلًّا أَيْ بُغْضًا وَحَسَدًا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ
Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah orang-orang yang mengikuti sifat-sifat baik mereka dan senatiasa mendoakan mereka, baik di kala sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Oleh karena itu pada ayat yang mulia ini Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a : “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

وَمَا أَحْسَنَ مَا اسْتَنْبَطَ الْإِمَامُ مَالِكٌ رحمه الله مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ أَنَّ الرَّافِضِيَّ الَّذِي يَسُبُّ الصَّحَابَةَ لَيْسَ لَهُ فِي مَالِ الْفَيْءِ نَصِيبٌ، لِعَدَمِ اتِّصَافِهِ بِمَا مَدَحَ اللَّهُ بِهِ هَؤُلَاءِ فِي قَوْلِهِمْ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَلِإِخْوانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونا بِالْإِيمانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ
Betapa bagusnya kesimpulan yang dilakukan oleh Imam Malik ketika mengatakan bahwa Rafidhah (Syiah), yang telah mencaci dan menghina para Shahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak berhak mendapatkan bagian dari harta rampasan (fai) tersebut, karena dia tidak memiliki sifat terpuji sebagaimana orang-orang yang telah dipuji Allah Ta’ala. Allah Ta’ala memuji mereka yang telah berdoa, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ:عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: أُمِرُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لَهُمْ فَسَبُّوهُمْ ثُمَّ قَرَأْتُ هَذِهِ الآية وَالَّذِينَ جاؤُ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَلِإِخْوانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونا بِالْإِيمانِ
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari ‘Aisyah, ia berkata : “Mereka diperintahkan untuk mendoakan para Shahabat, tapi mereka justru mencaci maki mereka, “ Lalu ia membacakan firman Allah, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a : “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.[Muslim no.5344]

[Tafsir Ibnu Katsir 8/98-102, al-Hafizh Ibnu Katsir]

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: " النَّاسُ عَلَى ثَلَاثِ مَنَازِلَ، فَمَضَتْ مَنْزِلَتَانِ، وَبَقِيَتْ وَاحِدَةٌ، فَأَحْسَنُ مَا أَنْتُمْ كَائِنُونَ عَلَيْهِ أَنْ تَكُونُوا عَلَى الَّتِي بَقِيَتْ. قَالَ: ثُمَّ قَرَأَ:
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash berkata : “Manusia itu ada tiga tingkatan. Dua tingkatan telah berlalu dan tinggal satu tingkatan. Dan jadilah kalian yang terbaik dari tingkatan yang masih tersisa.” Kemudian ia membaca ayat :

{لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا} [الحشر: 8]
(Juga) bagi para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya).

هَؤُلَاءِ الْمُهَاجِرُونَ، وَهَذِهِ مَنْزِلَةٌ، ثُمَّ قَرَأَ:
Sa’ad berkata : “Mereka itu adalah kaum Muhajirin, dan tingkatan ini sudah berlalu.” Kemudian beliau membaca ayat,

{وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ}
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yakni kaum Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (yakni kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka (kaum Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).

قَالَ: وَهَؤُلَاءِ الْأَنْصَارُ، وَهَذِهِ مَنْزِلَةٌ قَدْ مَضَتْ، ثُمَّ قَرَأَ:
Sa’ad berkata : “Mereka adalah kaum Anshar, dan tingkatan ini telah berlalu.” Kemudian ia membaca ayat,

{وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ}
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a : “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

قَدْ مَضَتْ هَاتَانِ، وَبَقِيَتْ هَذِهِ الْمَنْزِلَةُ، فَأَحْسَنُ مَا أَنْتُمْ كَائِنُونَ عَلَيْهِ أَنْ تَكُونُوا بِهَذِهِ الْمَنْزِلَةِ الَّتِي قَدْ بَقِيَتْ، يَقُولُ: أَنْ تَسْتَغْفِرُوا لَهُمْ
Sa’ad berkata : “Dua tingkatan ini telah berlalu, dan masih tersisa satu tingkatan ini. Dan jadilah kalian yang terbaik dari tingkatan yang masih tersisa.” Ia berkata, “Yaitu, kalian memohonkan ampunan untuk mereka.”

[Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 7/1324 no.2354, al-Lalika-i]

Firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْماً فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذابَ الْجَحِيمِ (7) رَبَّنا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبائِهِمْ وَأَزْواجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (8) وَقِهِمُ السَّيِّئاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (9)
(Malaikat-Malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb-nya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan) : “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan Neraka yang menyala-nyala. (7) Ya Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam Surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, (8) dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” [QS. Al-Mu’min : 7-9]

[-] Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berhasil menguasai dunia.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesuah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. [QS. An-Nuur : 55]

[Mulia Dengan Manhaj Salaf, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas]