Tuesday, April 01, 2014

// // Leave a Comment

Khilafah Nubuwwah Menaklukkan Dunia [Goresan Pena Tanya Syiah Part 4]

Khilafah Nubuwwah Menaklukkan Dunia

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memilih hamba-hamba-Nya yang shalih dari umat-Nya untuk menemani para Nabi-Nya dalam rangka membelanya, berdakwah dan berjihad bersamanya, dengan mengorbankan harta dan jiwa demi menegakkan kalimat Tauhid ke seluruh penjuru dunia. Mereka dikenal sebagai Hawariyyun, dan Hawariyyun pada umat ini adalah para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Mereka (Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) merupakan generasi yang dipilih Allah Ta’ala untuk menemani dan membela Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka (Shahabat) adalah orang-orang pilihan yang dipilih langsung oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dan Dia Ta’ala menjadikan mereka (Shahabat) orang-orang khusus dan pilihan dari makhluk-Nya setelah para Nabi dan Rasul.

Allah Ta’ala telah memilih mereka (Shahabat) dan mengutamakan mereka (Shahabat) atas seluruh umat. Allah telah mengutamakan, memuliakan, dan mengkhususkan mereka (Shahabat) dengan Rasul yang paling mulia dan syari’at yang paling sempurna.

Karena keimanan dan amal shalih mereka-lah (Shahabat), maka Allah Ta’ala menjanjikan kepada mereka (Shahabat) akan dapat menaklukkan dunia. Sehingga semakin dengki-lah kaum Zindiq dan Munafiq terhadap Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala bahwasannya para Shahabat Rasulullah akan menaklukkan dunia,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesuah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. [QS. An-Nuur : 55]

Al-Hafizh Ibnu Katsir menafsirkan QS. An-Nuur : 55 tersebut di atas dengan penafsiran sebagai berikut :

Khilafah Nubuwwah Menaklukkan Dunia

هَذَا وَعْدٌ مِنَ اللَّهِ تعالى لرسوله صلوات الله وسلامه عليه بأنه سيجعل أمته خلفاء الأرض، أَيْ أَئِمَّةَ النَّاسِ وَالْوُلَاةَ عَلَيْهِمْ، وَبِهِمْ تَصْلُحُ البلاد، وتخضع لهم العباد. وليبدلنهم من بَعْدَ خَوْفِهِمْ مِنَ النَّاسِ أَمْنًا وَحُكْمًا فِيهِمْ،
Ini merupakan janji Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya –Shalawat serta Sallam semoga tercurah kepadanya- bahwa Dia Ta’ala akan menjadikan umat-Nya sebagai Khalifah di muka bumi, yakni menjadi pemimpin dan penguasa umat manusia. Mereka akan mensejahterakan negeri dan serta menaklukkan umat manusia. Niscaya Allah akan mengubah keadaan mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi manusia-manusia yang merasa aman dan berkuasa.

وقد فعله تبارك وتعالى، وله الحمد والمنة، فإنه صلى الله عليه وسلم لم يمت حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ مَكَّةَ وَخَيْبَرَ وَالْبَحْرَيْنِ وَسَائِرَ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَأَرْضَ الْيَمَنِ بِكَمَالِهَا، وَأَخَذَ الْجِزْيَةَ مِنْ مَجُوسِ هَجَرَ وَمِنْ بَعْضِ أَطْرَافِ الشَّامِ، وَهَادَاهُ هِرَقْلُ مَلِكُ الرُّومِ وَصَاحِبُ مِصْرَ وإسكندرية وَهُوَ الْمُقَوْقِسُ، وَمُلُوكُ عُمَانَ وَالنَّجَاشِيُّ مَلِكُ الْحَبَشَةِ الَّذِي تَمَلَّكَ بَعْدَ أصْحَمَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ وَأَكْرَمَهُ.
Dan ternyata Allah Tabaraka wa Ta’ala mewujudkan hal itu. Bagi-Nya segala puji dan dari-Nya segala anugerah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebelum wafatnya telah berhasil menaklukkan Makkah, Khaibar, Bahrain, berikut seluruh Jazirah Arab dan negeri Yaman secara keseluruhan. Beliau mengambil jizyah dari golongan Majusi daerah Hajar (salah satu kawasan di daerah Bahrain) dan dari sebagian kecil negeri Syam. Beliau pun menerima hadiah (sebagai ungkapan perdamaian) dari Heraklius Raja Romawi, dan shahabatnya Muqauqis Raja Mesir dan Iskandariyah, penguasa-penguasa Oman dan Najasyi Raja Habasyah yang berkuasa setelah Ash-hamah (nama asli dari Raja an-Najasyi yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam), semoga Allah merahmati dan memuliakannya.

ثُمَّ لَمَّا مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاخْتَارَ اللَّهُ لَهُ مَا عِنْدَهُ مِنَ الْكَرَامَةِ، قَامَ بِالْأَمْرِ بَعْدَهُ خَلِيفَتُهُ أَبُو بكر الصديق، فلمّ شعث ما وهي بعد موته صلى الله عليه وسلم، وَأَطَّدَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ وَمَهَّدَهَا،
Ketika Allah memanggil Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ke haribaan-Nya dengan berbagai kemuliaan yang dianugerahkan kepadanya, maka tampuk kepemimpinan diserahkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia mempersatukan kembali keadaan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat, dan meneguhkan serta merampungkan penaklukkan Jazirah Arab.

وَبَعَثَ الْجُيُوشَ الْإِسْلَامِيَّةَ إِلَى بِلَادِ فَارِسَ صُحْبَةَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَفَتَحُوا طَرَفًا مِنْهَا، وَقَتَلُوا خَلْقًا مِنْ أَهْلِهَا. وَجَيْشًا آخَرَ صُحْبَةَ أَبِي عبيدة رضي الله عنه ومن اتبعه مِنَ الْأُمَرَاءِ إِلَى أَرْضِ الشَّامِ، وَثَالِثًا صُحْبَةَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى بِلَادِ مِصْرَ، فَفَتَحَ اللَّهُ لِلْجَيْشِ الشَّامِيِّ فِي أَيَّامِهِ بُصْرَى وَدِمَشْقَ ومَخَالِيفَهُمَا مِنْ بِلَادِ حَوْرَانَ وَمَا وَالَاهَا وَتَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَاخْتَارَ لَهُ مَا عِنْدَهُ مِنَ الْكَرَامَةِ.
Selanjutnya ia mengutus bala tentara kaum muslimin di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu untuk menaklukkan negeri Persia. Mereka pun berhasil menaklukkan sebagian kecil negeri tersebut dan mengalahkan bala tentaranya. Ia juga mengirim bala tentara lain yang dipimpin oleh Abu ‘Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu dan diikuti oleh panglima-panglima setelahnya ke bumi Syam. Bala tentara ketiga dipimpin oleh ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu (dikirim) untuk menaklukkan negeri Mesir. Maka Allah menggariskan penaklukkan bagi bala tentara Syam pada masa kekhalifahannya yaitu atas daerah Bashrah, Damaskus dan negeri-negeri yang berada di belakangnya, seperti Hauran dan daerah sekitarnya. Akhirnya Allah ‘Azza wa Jalla memanggil Abu Bakar ke haribaan-Nya dan Dia Ta’ala memberikan baginya kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada-Nya.

وَمَنَّ عَلَى أهل الإسلام بأن ألهم الصديق أن يستخلف عمر الفاروق، فقام بالأمر بَعْدَهُ قِيَامًا تَامًّا، لَمْ يَدُرِ الْفُلْكُ بَعْدَ الأنبياء عَلَى مِثْلِهِ فِي قُوَّةِ سِيرَتِهِ وَكَمَالِ عَدْلِهِ.
Adalah sebuah anugerah Allah kepada umat Islam, bahwa Allah memberikan ilham kepada Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu agar (mewasiatkan) ‘Umar al-Faruq untuk meneruskan kekhalifahan. Maka ‘Umar pun melaksanakan tugas khalifah setelahnya dengan sangat sempurna. Setelah masa demi masa berlalu akan kepemimpinan setelah para Nabi, maka tidak ada yang menyamai ketangguhan ‘Umar dalam kemajuan kekhalifahannya dan kesempurnaan dalam keadilan hukumnya.

وَتَمَّ فِي أَيَّامِهِ فَتْحُ الْبِلَادِ الشَّامِيَّةِ بِكَمَالِهَا وَدِيَارِ مِصْرَ إِلَى آخِرِهَا وَأَكْثَرِ إِقْلِيمِ فَارِسَ. وَكَسَرَ كِسْرَى وَأَهَانَهُ غَايَةَ الْهَوَانِ وَتَقَهْقَرَ إِلَى أَقْصَى مَمْلَكَتِهِ، وَقَصَّرَ قَيْصَرَ، وَانْتَزَعَ يَدَهُ عَنْ بلاد الشام، وانحدر إلى القسطنطينية، وَأَنْفَقَ أَمْوَالَهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، كَمَا أَخْبَرَ بِذَلِكَ وَوَعَدَ بِهِ رَسُولَ اللَّهِ، عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ أَتَمُّ سَلَامٍ وَأَزْكَى صَلَاةٍ.
Pada masa kekhalifahannya, sempurnalah penaklukkan negeri Syam, negeri Mesir dan lainnya serta sebagian besar negeri Persia. Ia berhasil menghancurkan Kisra dan menghinakannya dengan sangat hina serta memukul mundur telak hingga ke kerajaannya. Dan mengurangi daerah kekuasaan Kaisar dengan mengambil alih kekuasaanya atas negeri Syam hingga meluas ke Konstantinopel. Harta ghanimah dari kedua negeri tersebut diinfakkan di jalan Allah, sebagaimana yang telah dikabarkan dan dijanjikan sendiri oleh Rasulullah –Semoga Allah senantiasa mencurahkan Shalawat dan Salam kepada beliau-

ثُمَّ لَمَّا كانت الدولة العثمانية امتدت الممالك الْإِسْلَامِيَّةُ إِلَى أَقْصَى مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا، فَفُتِحَتْ بِلَادُ الْمَغْرِبِ إِلَى أَقْصَى مَا هُنَالِكَ الْأَنْدَلُسُ وَقُبْرُصُ، وَبِلَادُ الْقَيْرَوَانِ، وَبِلَادُ سَبْتَةَ مِمَّا يَلِي الْبَحْرَ الْمُحِيطَ، وَمِنْ نَاحِيَةِ الْمَشْرِقِ إِلَى أَقْصَى بِلَادِ الصِّينِ،
Selanjutnya, ketika tampuk kekhilafahan dipegang oleh ‘Utsman, maka daerah kekuasaan Islam telah meluas sampai ke penjuru bumi bagian timur dan penjuru bumi bagian baratnya. Ia berhasil menaklukkan negeri Maghrib hingga Andalusia (Spanyol), Cyprus, negeri Qairuwan dan negeri Sabtah yang berada di sebelah samudera. Sementara daerah timur (yang telah ditaklukkan) telah sampai ke negeri Cina.

وَقُتِلَ كِسْرَى وَبَادَ مُلْكُهُ بِالْكُلِّيَّةِ، وَفُتِحَتْ مَدَائِنُ الْعِرَاقِ وَخُرَاسَانُ وَالْأَهْوَازُ، وَقَتَلَ الْمُسْلِمُونَ مِنَ التُّرْكِ مَقْتَلَةً عَظِيمَةً جِدًّا، وَخَذَلَ اللَّهُ مَلِكَهُمُ الْأَعْظَمَ خَاقَانَ، وَجُبِيَ الْخَرَاجُ مِنَ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِلَى حَضْرَةِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَذَلِكَ بِبَرَكَةِ تِلَاوَتِهِ وَدِرَاسَتِهِ وَجَمْعِهِ الْأُمَّةَ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ، وَلِهَذَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
Serta terbunuhnya Kisra, maka dengan sendirinya kerajaannya jatuh secara keseluruhan. Ditaklukkan pula daerah-daerah di Irak, Khurasan dan Ahwaz. Dan terjadi pertempuran antara kaum muslimin dengan orang-orang Turk dengan peperangan yang dahsyat. Allah pun menggariskan kekalahan raja besar mereka (Turk) yaitu Khaqan. Maka upeti yang dikumpulkan dari negeri timur dan barat mengalir ke hadapan Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu. Hal ini berkat keberkahan tilawah al-Qur’annya, kajian-kajian al-Qur’annya yang dibentuknya serta menginstruksikan rakyatnya untuk mengumpulkan al-Qur’an. Penaklukkan tersebut telah termaktub di dalam ash-Shahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

«إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مشارقها ومغاربها، ويبلغ مُلْكُ أُمَّتِي مَا زُوِيَ لِيَ مِنْهَا»
Sesungguhnya Allah telah menghimpunkan untukku sebidang bumi. Kemudian aku melihat bagian timur dan bagian barat penjuru bumi tersebut. Kelak kerajaan (daerah kekuasaan) umatku akan sampai pada daratan bumi di mana Allah telah menghimpunkannya untukku. [Muslim no.5144]

فَهَا نَحْنُ نَتَقَلَّبُ فِيمَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ، وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَنَسْأَلُ اللَّهَ الْإِيمَانَ بِهِ وَبِرَسُولِهِ، والقيام بشكره على الوجه الذي يُرْضِيهِ عَنَّا.
Dari sini kita dapat menilai kebenaran janji Allah dan Rasul-Nya, Maha benar Allah dan Rasul-Nya. Kita memohon kepada Allah supaya Dia selalu melimpahkan kepada kita keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya serta kekuatan untuk mensyukurinya sesuai dengan apa yang diridhai-Nya.

وَقَالَ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ فِي قَوْلِهِ
Ar-Rabi’ bin Anas telah meriwayatkan dari Abul ‘Aliyah dalam menafsirkan firman Allah,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً الْآيَةَ،
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Al-ayat.

قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ بِمَكَّةَ نَحْوًا مِنْ عشر سنين يدعون إلى الله وحده وإلى عبادته وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ سرًّا، وَهُمْ خَائِفُونَ لَا يُؤْمَرُونَ بِالْقِتَالِ حَتَّى أُمِرُوا بَعْدُ بِالْهِجْرَةِ إلى المدينة، فقدموها فَأَمَرَهُمُ اللَّهُ بِالْقِتَالِ،
Berkata Abul ‘Aliyah : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para Shahabatnya tinggal di Makkah sekitar 10 tahun. Mereka berdakwah, menyeru kepada Allah dan beribadah kepada-Nya serta mentauhidkan-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dakwah yang dijalaninya dengan diam-diam. Karena saat itu belum ada perintah berperang. Perintah berperang baru muncul setelah mereka hijrah ke Madinah. Di saat mereka hijrah, barulah Allah memerintahkan kepada mereka untuk berperang.

فَكَانُوا بِهَا خَائِفِينَ يُمْسُونَ في السلاح ويصبحون في السلاح، فصبروا بِذَلِكَ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا من الصحابة قَالَ:
Pada awalnya mereka merasa takut, sehingga baik pagi maupun sore mereka selalu menyandang senjata. Mereka berada dalam keadaan seperti itu hingga waktu yang dikehendaki Allah. Selanjutnya seorang Shahabat berkata :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبَدَ الدَّهْرِ نَحْنُ خَائِفُونَ هَكَذَا؟ أَمَا يَأْتِي عَلَيْنَا يَوْمٌ نَأْمَنُ فيه ونضع عنا السِّلَاحَ؟
Wahai Rasulullah apakah selamanya akan seperti ini yaitu kami dalam ketakutan? Akankah datang kepada kami suatu hari di mana kami merasa aman dan dapat meletakkan senjata?

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «لن تصبروا إِلَّا يَسِيرًا حَتَّى يَجْلِسَ الرَّجُلُ مِنْكُمْ فِي الملأ العظيم محتبيا ليست فيه حَدِيدَةٌ» وَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ،
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Kalian tidak akan berlalu (dalam keadaan seperti ini) melainkan hanya sebentar saja. Sehingga (saking merasa amannya), salah seorang laki-laki di antara kalian duduk di antara para pembesar dalam keadaan tenang, tidak ada satupun peralatan perang yang ia sandang.” Dan Allah pun menurunkan ayat ini (QS. An-Nuur : 55)

فَأَظْهَرَ اللَّهُ نَبِيَّهُ عَلَى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، فَأَمِنُوا وَوَضَعُوا السِّلَاحَ.
Maka Allah menjadikan Nabi-Nya mempu menguasai Jazirah Arab, sehingga mereka pun merasa aman dan tidak harus selalu menyandang senjata.

ثم إن الله تعالى قَبَضَ نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانُوا كَذَلِكَ آمِنِينَ فِي إِمَارَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وعثمان حتى وقعوا فيما وقعوا فيه، فأدخل عَلَيْهِمُ الْخَوْفَ فَاتَّخَذُوا الْحَجَزَةَ وَالشُّرَطَ وَغَيَّرُوا فَغُيِّرَ ما بِهِمْ ، وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا حق في كتاب الله، ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ.
Kemudian setelah Allah mewafatkan Nabi-Nya, mereka pun tetap merasa aman pada masa pemerintahan Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, hingga terjadilah apa yang telah terjadi (yakni terbunuhnya Khalifah ‘Utsman). Maka masuklah ke dalam hati mereka kekhawatiran dan rasa takut. Mereka pun lantas membuat pengawal dan pasukan penjaga. Karena mereka berubah, maka keadaan mereka pun berubah. Sebagian ulama Salaf berkata, “Masa kekhalifahan Abu Bakar dan ‘Umar adalah haq dalam pandangan Kitabullah.” Kemudian mereka membaca ayat ini (QS. An-Nuur : 55) [Ath-Thabari 19/209]

وَقَالَ الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ: نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ وَنَحْنُ فِي خَوْفٍ شَدِيدٍ، وَهَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى:
Al-Bara’ bin ‘Azib berkata : “Ayat ini turun sementara kami tengah merasakan ketakutan yang sangat besar (di awal-awal masa Islam). Ayat yang mulia ini (QS. An-Nuur : 55) seperti firman-Nya :

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ- إلى قوله- لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [الأنفال: 26]
Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya, dan diberi-Nya kamu rizki yang baik-baik agar kamu bersyukur. [QS. Al-Anfaal : 26]

وقوله تعالى: كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَمَا قَالَ تَعَالَى عَنْ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ لِقَوْمِهِ: عَسى رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ [الأعراف:
129] الآية، وَقَالَ تَعَالَى:
Sedangkan firman Allah Ta’ala, [كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ] “sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa,” hal ini sebagaimana firman-Nya Ta’ala, mengenai Musa ‘alaihi Sallam bahwasannya ia berkata kepada kaumnya, [عَسى رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ] “Mudah-mudahan Rabb-mu membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi.” [QS. Al-A’raaf : 129] al-ayat, dan firman Allah Ta’ala :

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ [القصص: 5- 6] الآيتين.
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) [QS. Al-Qashash : 5-6] dua ayat.

وَقَوْلُهُ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى لَهُمْ الآية، كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَدَيِّ بْنِ حَاتِمٍ حِينَ وَفَدَ عَلَيْهِ
Adapun firman Allah, [وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى لَهُمْ] “dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,” al-ayat. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada ‘Adi bin Hatim di saat ia diutus (oleh kaumnya) kepada beliau.

«أَتَعْرِفُ الْحِيرَةَ؟»
Apakah kamu tahu Hirah?

قَالَ: لَمْ أَعْرِفْهَا، وَلَكِنْ قَدْ سمعت بها. قال
Ia menjawab : “Tidak, aku tidak mengetahuinya, namun aku pernah mendengarnya.” Beliau bersabda,

«فو الذي نَفْسِي بِيَدِهِ لِيُتِمَّنَّ اللَّهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى تَخْرُجَ الظَّعِينَةُ مِنَ الْحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالْبَيْتِ فِي غَيْرِ جِوَارِ أَحَدٍ، وَلَتَفْتَحُنَّ كُنُوزَ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ»
Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Niscaya Allah akan menyempurnakan urusan ini, hingga keluarlah para wanita dari kota Hirah (dekat Kufah Irak). Mereka thawaf di Baitullah tanpa harus ditemani oleh siapa pun. Dan sungguh, harta karun Kisra bin Hurmuz akan dibuka.

قُلْتُ: كِسْرَى بْنُ هُرْمُزَ، قَالَ
Aku berkata : “Kisra bin Hurmuz?” Nabi menjawab,

«نَعَمْ كِسْرَى بْنُ هُرْمُزَ، وَلَيُبْذَلَنَّ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ»
Benar, Kisra bin Hurmuz, niscaya akan dilimpahkan harta sampai tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.

قَالَ عَدِيُّ بْنُ حَاتِمٍ: فَهَذِهِ الظَّعِينَةُ تَخْرُجُ مِنْ الْحِيرَةِ فَتَطُوفُ بِالْبَيْتِ فِي غَيْرِ جِوَارِ أَحَدٍ، وَلَقَدْ كُنْتُ فِيمَنْ افْتَتَحَ كُنُوزَ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَكُونَنَّ الثَّالِثَةَ، لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَهَا
‘Adi bin Hatim berkata : “Ternyata benar, wanita-wanita itu keluar dari daerah Hirah, kemudian mereka thawaf tanpa harus ditemani oleh siapa pun. Dan aku pun termasuk orang yang turut serta dalam membuka harta karun Kisra bin Hurmuz. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh akan terjadi peristiwa yang ketiga (yakni akan dilimpahkan harta sampai tidak ada seorang pun yang mau menerimanya), karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengatakan hal ini.
[Ahmad no.17548, Dhaif : Musnad Imam Ahmad no.18176 namun terdapat hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari 4/239 dalam kitab al-Manaqib bab tanda-tanda Kenabian, Syaikh Hamzah Ahmad Zain & Hadits tersebut berada di Shahih al-Bukhari no.3328]

وقوله تعالى: يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ
Dan mengenai firman-Nya Ta’ala : [يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً] “Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” Imam Ahmad telah meriwayatkan,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ حَدَّثَهُ قال: بينا أنا رديف النبي صلى الله عليه وسلم على حمار لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ إِلَّا آخِرَةَ الرَّحْلِ، قَالَ «يَا مُعَاذُ» . قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وسَعْدَيْكَ، قَالَ: ثُمَّ سَارَ سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ «يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ» . قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ، ثُمَّ سَارَ سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ «يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ» . قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ
Dari Anas bahwa Mu’adz bin Jabal menyampaikan hadits kepadanya. Ia berkata, “Ketika aku dibonceng oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di atas keledai, dan jarak antara aku dan beliau sangat dekat sekali, beliau bersabda, “Wahai Mu’adz!” aku menjawab, “Iya, aku memenuhi panggilanmu wahai Rasulullah, dan aku siap membantumu.” Sesaat kemudian beliau berjalan, setelah itu bersabda, “Wahai Mu’adz bin Jabal” Aku menjawab, “Iya, aku memenuhi panggilanmu wahai Rasulullah, dan aku siap membantumu!” Selanjutnya beliau bersabda, “Wahai Mu’adz bin Jabal!” Aku menjawab, “Iya, aku memenuhi panggilanmu wahai Rasulullah dan aku siap membantumu!” beliau bersabda,

«هَلْ تَدْرِي ما حق الله على الْعِبَادِ؟
“Apakah kamu mengetahui apa hak Allah yang wajib dilaksanakan oleh hamba-Nya?”

قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.. قَالَ
Aku menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui akan hal itu.” Beliau bersabda,

«فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا»
“Sesungguhnya hak Allah yang wajib dilaksanakan oleh hamba-hamba-Nya adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun.”

قَالَ: ثُمَّ سَارَ سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ «يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ» . قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ
Kemudian beliau pun berjalan beberapa saat. Selanjutnya beliau bersabda, “Wahai Mu’adz bin Jabal!” Aku menjawab, “Iya, aku memenuhi panggilanmu wahai Rasulullah dan aku siap membantumu.”

قَالَ «فَهَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟»
Beliau bersabda, “Tahukah kamu apa hak manusia yang diberikan oleh Allah apabila mereka melakukan hal tadi?

قَالَ: قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ
Aku menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui akan hal itu.” Beliau bersabda,

«فَإِنَّ حَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ»
“Hak hamba yang diberikan oleh Allah adalah Dia tidak akan mengadzab mereka.”

أَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ قتادة
Hadits ini dikeluarkan oleh ash-Shahihain dari Qatadah. [Bukhari no.5510 & Muslim no.43]

وقوله تعالى: وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ أَيْ فَمَنْ خَرَجَ عَنْ طَاعَتِي بَعْدَ ذَلِكَ فقد خرج عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ، وَكَفَى بِذَلِكَ ذَنْبًا عَظِيمًا،
Firman Allah Ta’ala, [وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ] “Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesuah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” Maksudnya, barangsiapa yang keluar dari ketaatan terhadap-Ku setelah janji itu, maka berarti ia telah keluar dari perintah Rabb-Nya. Cukuplah bagi mereka (dengan sebab hal itu) mendapatkan dosa yang sangat besar.

فَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ لَمَّا كَانُوا أَقْوَمَ النَّاسِ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَوَامِرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَطْوَعَهُمْ لِلَّهِ، كَانَ نصرهم بحسبهم أظهروا كَلِمَةَ اللَّهِ فِي الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ، وَأَيَّدَهُمْ تَأْيِيدًا عظيما، وحكموا فِي سَائِرِ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ، وَلَمَّا قَصَّرَ النَّاسُ بَعْدَهُمْ فِي بَعْضِ الْأَوَامِرِ نَقُصَ ظُهُورُهُمْ بِحَسَبِهِمْ، وَلَكِنْ قَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ
Adalah para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum, karena mereka merupakan kelompok manusia yang paling mentaati perintah Allah ‘Azza wa Jalla setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat dengan penuh keikhlasan kepada Allah, maka kejayaan yang mereka raih itu sesuai dengan (keikhlasan) mereka dalam menegakkan kalimat Allah di (penjuru bumi) bagian timur maupun bagian barat. Oleh karena itu, Allah menguatkan kejayaan mereka sekuat-kuatnya, hingga mereka mampu menjadi penguasa penduduk negeri yang mereka taklukkan. Namun ketika manusia setelah mereka lalai dalam menjalankan (perintah Allah), maka menjadi pudarlah kejayaan mereka. Namun dalam sebuah hadits yang termaktub di dalam kitab ash-Shahihain (Bukhari & Muslim) dan riwayat lainnya, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

«لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ- وَفِي رِوَايَةٍ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ- وَفِي رِوَايَةٍ- حَتَّى يُقَاتِلُوا الدَّجَّالَ- وَفِي رِوَايَةٍ- حَتَّى يَنْزِلَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَهُمْ ظَاهِرُونَ»
“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menampakkan kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menghina dan yang menyelisihi mereka, hingga datang hari Kiamat” [Muslim no.225] Dalam suatu riwayat, “Hingga sampai datang keputusan Allah (hari Kiamat) mereka masih seperti itu (menampakkan kebenaran)” [Muslim no.3544] Dan dalam riwayat lain, “Sampai mereka memerangi Dajjal” [Ahmad no.19073, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.19806, Syaikh Hamzah Ahmad Zain] Dan dalam riwayat lainnya, “Sampai turunnya ‘Isa bin Maryam, mereka masih saja menampakkan kebenaran.”

الرِّوَايَاتِ صَحِيحَةٌ، وَلَا تَعَارُضَ بينها.
Semua riwayat yang disebutkan di atas dinyatakan shahih dan tidak ada kontradiksi antara riwayat-riwayat tersebut.

[Tafsir Ibnu Katsir 6/70-74]

Begitu pula yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa para Shahabat akan menaklukkan dunia.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنْ النَّاسِ فَيَقُولُونَ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنْ النَّاسِ فَيُقَالُ هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنْ النَّاسِ فَيُقَالُ هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Akan datang kepada manusia suatu zaman yang ketika itu ada sekelompok orang yang berperang lalu orang-orang bertanya kepada mereka; "Apakah diantara kalian ada orang yang bersahabat (mendampingi) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam?". Kelompok itu menjawab; "Ya ada". Maka mereka diberi kemenangan. Kemudian akan datang lagi kepada manusia suatu zaman yang ketika itu ada sekelompok orang yang berperang lalu ditanyakan kepada mereka; "Apakah diantara kalian ada orang yang bershahabat dengan Shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam?". Mereka menjawab; "Ya ada". Maka mereka diberi kemenangan. Kemudian akan datang lagi kepada manusia suatu zaman yang ketika itu ada sekelompok orang yang berperang lalu ditanyakan kepada mereka; "Apakah diantara kalian ada orang yang bershahabat dengan orang yang bershahabat dengan Shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam?". Mereka menjawab; "Ya ada". Maka mereka diberi kemenangan". [Bukhari no.3376]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sebaik-baik ummatku adalah pada zamanku (Shahabat Nabi), kemudian orang-orang setelah mereka (yaitu Tabi’in), kemudian lagi orang-orang setelah mereka (yaitu Tabi’ut Tabi’in)". [Bukhari no.3377]

وَالْمُرَادُ بِقَرْنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ الصَّحَابَةُ
Yang dimaksudkan [بِقَرْنِ] “ZamanNabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam hadits tersebut adalah para Shahabat.

قَوْلُهُ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ أَيِ الْقَرْنُ الَّذِي بَعْدَهُمْ وَهُمُ التَّابِعُونَ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ وَهُمْ أَتْبَاعُ التَّابِعِينَ
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, [ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ] “kemudian orang-orang setelah mereka” Maksudnya, zaman sesudah mereka (para Shahabat) yaitu para Tabi’in. [ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ] “kemudian lagi orang-orang setelah mereka” maksudnya, mereka adalah Tabi’ut Tabi’in.

[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 7/5-6, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا، وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ،
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggulung bumi untukku, sehingga aku bisa melihat penjuru bumi belahan timur dan barat, dan sesungguhnya umatku, kerajaan mereka akan mencapai wilayah bumi yang dihimpun untukku. Dan diberikan kepadaku dua simpanan kekayaan merah dan putih. [Muslim no.5144]

[2889] قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (إِنَّ اللَّهَ قَدْ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وان أمتى سيبلغ ملكها مازوى لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرِ وَالْأَبْيَضِ) أَمَّا زُوِيَ فَمَعْنَاهُ جُمِعَ وَهَذَا الْحَدِيثُ فِيهِ مُعْجِزَاتٌ ظَاهِرَةٌ وَقَدْ وَقَعَتْ كُلُّهَا بِحَمْدِ اللَّهِ كَمَا أَخْبَرَ بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعُلَمَاءُ الْمُرَادُ بِالْكَنْزَيْنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْمُرَادُ كَنْزَيْ كسرى وقيصر ملكى العراق الشام فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ مُلْكَ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَكُونُ مُعْظَمُ امْتِدَادِهِ فِي جِهَتَيِ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَهَكَذَا وَقَعَ وَأَمَّا فِي جِهَتَيِ الْجَنُوبِ وَالشِّمَالِ فَقَلِيلٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَصَلَوَاتُ اللَّهِ وسلامه على رسوله الصادق الذى لاينطق عن الهوى ان هو الاوحى يُوحَى
(2889) Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam [إِنَّ اللَّهَ قَدْ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وان أمتى سيبلغ ملكها مازوى لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرِ وَالْأَبْيَضِ] “Sesungguhnya Allah telah menggulung bumi untukku, sehingga aku bisa melihat penjuru bumi belahan timur dan barat, dan sesungguhnya umatku, kerajaan mereka akan mencapai wilayah bumi yang dihimpun untukku. Dan diberikan kepadaku dua simpanan kekayaan merah dan putih.” Makna [زوى] ialah dihimpun. Di dalam hadits ini terdapat mukjizat yang sangat nyata, dan semuanya telah terwujud, segala puji hanya milik Allah, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Para ulama berkata, “Yang dimaksud dengan dua simpanan kekayaan adalah emas dan perak, maksudnya adalah simpanan kekayaan Kisra Raja Irak, dan Kaisar Raja Syam.” Di dalam hadits terdapat isyarat bahwa kerajaan umat ini sebagian besar kekuasaannya berada di wilayah timur dan barat, dan demikianlah yang terjadi. Adapun kekuasaan di wilayah selatan dan utara lebih sedikit bila dibandingkan dengan wilayah timur dan barat. Semoga shalawat dan salam Allah tetap terlimpah kepada Rasul-Nya yang jujur, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, ucapan beliau tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan kepada beliau.

[Syarah Shahih Muslim 18/13, Imam an-Nawawi]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ مَاتَ كِسْرَى فَلَا كِسْرَى بَعْدَهُ وَإِذَا هَلَكَ قَيْصَرُ فَلَا قَيْصَرَ بَعْدَهُ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُنْفَقَنَّ كُنُوزُهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Kisra telah meninggal dan tidak ada Kisra sesudahnya, dan apabila Kaisar telah meninggal maka tidak ada kaisar sesudahnya. Dan demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sungguh harta simpanan keduanya akan diinfakkan di jalan Allah. [Muslim no.5196]

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلَكَ كِسْرَى ثُمَّ لَا يَكُونُ كِسْرَى بَعْدَهُ وَقَيْصَرُ لَيَهْلِكَنَّ ثُمَّ لَا يَكُونُ قَيْصَرُ بَعْدَهُ وَلَتُقْسَمَنَّ كُنُوزُهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Kisra telah binasa kemudian tidak ada lagi Kisra sesudahnya, dan Kaisar sungguh akan celaka kemudian tidak akan ada lagi Kaisar sesudahnya. Dan sungguh harta simpanan keduanya akan dibagi di jalan Allah. [Muslim no.5197]

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَتَفْتَحَنَّ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ أَوْ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ كَنْزَ آلِ كِسْرَى الَّذِي فِي الْأَبْيَضِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh satu golongan dari kaum muslimin atau dari kaum mukminin akan menaklukkan simpanan harta kekayaan keluarga Kisra yang ada di (istana) putih.” [Muslim no.5198]

[2918] قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (قَدْ مَاتَ كسرى فلاكسرى بَعْدَهُ وَإِذَا هَلَكَ قَيْصَرُ فَلَا قَيْصَرَ بَعْدَهُ وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُنْفِقُنَّ كُنُوزَهُمَا فِي سَبِيلِ الله) قال الشافعى وسائر العلماء معناه لايكون كسرى بالعراق ولاقيصر بِالشَّامِ كَمَا كَانَ فِي زَمَنِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَّمَنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِانْقِطَاعِ مُلْكِهِمَا فِي هَذَيْنِ الْإِقْلِيمَيْنِ فَكَانَ كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(2918) Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, [قَدْ مَاتَ كسرى فلاكسرى بَعْدَهُ وَإِذَا هَلَكَ قَيْصَرُ فَلَا قَيْصَرَ بَعْدَهُ وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُنْفِقُنَّ كُنُوزَهُمَا فِي سَبِيلِ الله] “Kisra telah meninggal dan tidak ada Kisra sesudahnya, dan apabila Kaisar telah meninggal maka tidak ada Kaisar sesudahnya. Dan demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sungguh harta simpanan keduanya akan diinfakkan di jalan Allah.” Asy-Syafi’i dan segenap ulama berkata, “Maknanya, tidak akan ada lagi Kisra di Irak dan Kaisar di Syam seperti yang ada pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberitahukan kepada kita terputusnya kekuasaan keduanya pada dua wilayah ini. Dan memang demikian yang terjadi seperti yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

فَأَمَّا كِسْرَى فَانْقَطَعَ مُلْكُهُ وَزَالَ بِالْكُلِّيَّةِ مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ وَتَمَزَّقَ مُلْكُهُ كُلَّ مُمَزَّقٍ وَاضْمَحَلَّ بِدَعْوَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَّا قَيْصَرُ فَانْهَزَمَ مِنَ الشَّامِ وَدَخَلَ أَقَاصِي بِلَادِهِ فَافْتَتَحَ الْمُسْلِمُونَ بِلَادَهُمَا وَاسْتَقَرَّتْ لِلْمُسْلِمِينَ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ وَأَنْفَقَ الْمُسْلِمُونَ كُنُوزَهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَا أَخْبَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ
Adapun Kisra, kekuasaannya runtuh dan hilang secara keseluruhan dari segenap muka bumi, kerajaannya terpecah belah sejadi-jadinya dan luluh oleh dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sedangkan Kaisar lengser dari Syam dan masuk ke wilayah-wilayah pinggir negerinya. Kaum muslimin berhasil menaklukkan negeri keduanya dan negeri-negeri itupun tunduk kepada kaum muslimin, segala puji hanya milik Allah. Dan kaum muslimin menginfakkan harta kekayaan keduanya di jalan Allah sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

مُعْجِزَاتٌ ظَاهِرَةٌ وَكِسْرَى بِفَتْحِ الْكَافِ وَكَسْرِهَا لُغَتَانِ مَشْهُورَتَانِ وَفِي رِوَايَةٍ لَتُنْفِقُنَّ كُنُوزَهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَفِي رِوَايَةٍ لَتُقَسِّمُنَّ كُنُوزَهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَفِي رِوَايَةٍ كَنْزًا لِكِسْرَى الَّذِي فِي الْأَبْيَضِ أَيِ الَّذِي فِي قَصْرِهِ الْأَبْيَضِ أَوْ قُصُورِهِ وَدُورِهِ الْبِيضِ
Ini merupakan mu’jizat yang sangat tampak. dan [كسر] dengan fathah pada huruf kaf [كَسْرَ] atau dengan kasrah pada huruf kaf [كِسْرَ], merupakan dua versi bacaan yang masyhur. Di dalam satu riwayat disebutkan, [لَتُنْفِقُنَّ كُنُوزَهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ] “sungguh harta simpanan keduanya akan diinfakkan di jalan Allah.” Di dalam riwayat lain disebutkan, [لَتُقَسِّمُنَّ كُنُوزَهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ] “Dan sungguh harta simpanan keduanya akan dibagi di jalan Allah.” Di dalam riwayat lain disebutkan, [كَنْزًا لِكِسْرَى الَّذِي فِي الْأَبْيَضِ] “simpanan harta kekayaan keluarga Kisra yang ada di (istana) putih.” Yakni, di istana putihnya, atau di istana-istana dan rumah-rumahnya yang berwarna putih.

[Syarah Shahih Muslim 18/42-43, Imam an-Nawawi]

Khilafah Nubuwwah bermula dari masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, Tanya Syiah akan membawakan beberapa episode dari masing-masing Khalifah yang empat secara ringkas yang disarikan dari kitab [البداية والنهاية] al-Bidayah wa an-Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir.

Tahun 11 Hijriyah

فبايع النَّاس أبا بكر بعد بيعة السَّقِيفَةِ، ثُمَّ تَكَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ بِالَّذِي هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ:
Orang-orang pun membai’at Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu setelah sebelumnya dibai’at di Tsaqifah. Kemudian ia berbicara, memuji, dan menyanjung Allah, yang Dia berhak dengan pujian itu, lalu berkata : 

أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنِّي قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِينُونِي وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُونِي، الصِّدْقُ أَمَانَةٌ، وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ، والضَّعيف فيكم عندي حتى أرجِّع عَلَيْهِ حقَّه إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَالْقَوِيُّ فِيكُمْ ضعيف [عندي] حَتَّى آخُذَ الْحَقَّ مِنْهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، أَطِيعُونِي مَا أَطَعْتُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، فَإِذَا عَصَيْتُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَلَا طَاعَةَ لِي عَلَيْكُمْ
“Amma ba’du... wahai manusia, sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pemimpin atas kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik. Jika aku berbuat kebaikan, bantulah aku dan jika aku berbuat keburukan, luruskanlah aku. Kejujuran itu adalah amanah, sedangkan dusta adalah suatu pengkhinatan. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya, insya Allah. Sebaliknya, orang yang kuat di antara kalian adalah lemah hingga aku mengambil yang merupakan kewajiban baginya, insya Allah. Taatilah aku sepanjang aku mentaati Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban taat atas kalian terhadapku. [al-Bidayah wa an-Nihayah 6/332-333, al-Hafizh Ibnu Katsir]


Penaklukkan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu


Penaklukkan Khalifah Abu Bakar

Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan ekspedisi pasukan Usamah, 

لَّذِينَ كَانُوا قَدْ أَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلَّم بِالْمَسِيرِ إِلَى تُخُومِ الْبَلْقَاءِ مِنَ الشَّام، حَيْثُ قُتِلَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ، وَجَعْفَرٌ وَابْنُ رَوَاحَةَ: فيغتزوا عَلَى تِلْكَ الْأَرَاضِي، فَخَرَجُوا إِلَى الجُّرف فخيَّموا به،
(Pasukan Usamah bin Zaid) yang sebelumnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memerintahkan mereka agar berjalan menuju tanah al-Balqa yang berada di wilayah Syam tempat di mana Zaid bin Haritsah, Ja’far, dan Ibnu Rawahah terbunuh. (Misinya) adalah melakukan penaklukkan wilayah tersebut. Maka Pasukan Usamah pun bergerak ke al-Jurf, lalu mendirikan tenda di sana.

فلمَّا مَاتَ عَظُمَ الْخُطَبُ واشتدَّ الْحَالُ وَنَجَمَ النِّفاق بِالْمَدِينَةِ، وارتدَّ مَنِ ارتدَّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ حَوْلَ الْمَدِينَةِ، وَامْتَنَعَ آخَرُونَ مِنْ أَدَاءِ الزَّكاة إِلَى الصِّديق، ولم يبق للجمعة مقام فِي بَلَدٍ سِوَى مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ،
Setelah (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) wafat, maka keadaan menjadi kacau, kemunafikan mulai terlihat di Madinah. Bahkan terjadi kemurtadan dari suku-suku Arab sekitar Madinah, sedang yang lainnya menolak membayar zakat kepada (Abu Bakar) ash-Shiddiq. Dan ketika itu shalat Jum’at tidak lagi didirikan kecuali di Makkah dan Madinah. [al-Bidayah wa an-Nihayah 6/335, al-Hafizh Ibnu Katsir]

مقتل الأسود العنسي، المتنبِّي الكذَّاب
Terbunuhnya al-Aswad al-‘Ansi sang nabi palsu. [al-Bidayah wa an-Nihayah 6/337, al-Hafizh Ibnu Katsir]

تصدِّي الصِّديق لِقِتَالِ أَهْلِ الرِّدَّةِ وَمَانِعِي الزَّكاة
(Abu Bakar) ash-Shiddiq menumpas kaum murtad dan orang-orang yang menolak membayar zakat. [al-Bidayah wa an-Nihayah 6/342, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَعَقَدَ أَحَدَ عَشَرَ لِوَاءً،
Abu Bakar ash-Shiddiq melantik sebelas brigade,

عَقَدَ لِخَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَأَمَرَهُ بِطُلَيْحَةَ بْنِ خُوَيْلِدٍ، فَإِذَا فَرَغَ سَارَ إِلَى مَالِكِ بْنِ نُوَيْرَةٍ بِالْبِطَاحِ إِنْ أَقَامَ لَهُ.
1.  Melantik Khalid bin Walid, bertugas menumpaskan Thulaihah bin Khuwailid, dan apabila telah selesai, ia selanjutnya bertugas menumpas Malik bin Nuwairah di Buthah jika mereka melakukan perlawanan terhadapnya.

وَلِعِكْرِمَةَ بْنِ أَبِي جَهْلٍ، وَأَمَرَهُ بِمُسَيْلِمَةَ
2. Ikrimah bin Abu Jahal, ditugaskan menumpas Musailamah.

وَبَعَثَ شرحبيل بن حَسَنَةَ فِي أَثَرِهِ إِلَى مُسَيْلِمَةَ الكذَّاب، ثمَّ إِلَى بَنِي قُضَاعَةَ.
3. Mengutus Syurahbil bin Hasanah untuk membantu Ikrimah menumpas Musailamah al-Kadzdzab, kemudian bani Qudha’ah.

وَلِلْمُهَاجِرِ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ، وَأَمَرَهُ بِجُنُودِ الْعَنْسِيِّ وَمَعُونَةِ الْأَبْنَاءِ عَلَى قَيْسِ بْنِ مَكْشُوحٍ: وَذَلِكَ لأنَّه كَانَ قَدْ نَزَعَ يَدَهُ مِنَ الطَّاعة
4. Muhajir bin Abi Umayyah, bertugas menumpas pasukan ‘Ansi dan sebagai bala bantuan bagi para anak-anak (raja Yaman) untuk menundukkan Qais bin Maksyuh : karena ia telah melepaskan diri dari ketaatan.

وَلِخَالِدِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ إِلَى مَشَارِفِ الشَّام.
5. Khalid bin Sa’id bin al-Ash (diperintahkan) berangkat menuju perbatasan kota Syam.

وَلِعَمْرِو بْنِ الْعَاصِ إِلَى جِمَاعِ قُضَاعَةَ وَوَدِيعَةَ وَالْحَارِثِ.
6. Amr bin al-Ash (diperintahkan) berangkat menuju Juma’ Qudha’ah, Wadi’ah dan al-Harits. (Tabuk & Dumatul Jandal di mana tempat Qudha’ah, Wadi’ah dan al-Harits berada)

وَلِحُذَيْفَةَ بْنِ مِحْصَنٍ الْغَطَفَانِيِّ وأمره بأهل دبا
7. Hudzaifah bin Mihsan al-Ghathafan yang diperintahkan (berangkat) menuju Daba.

ولعرفجة بن هرثمة وأمره بمهرة.
8. Arfajah bin Hartsamah yang diperintahkan (berangkat) menuju Mahrah.

لطرفة بن حاجز وَأَمَرَهُ بِبَنِي سُلَيْمٍ وَمَنْ مَعَهُمْ مِنْ هَوَازِنَ.
9. Thuraifah bin Hajiz yang diperintahkan (berangkat) menuju bani Sulaim dan yang bersama mereka dari suku Hawazin.

وَلِسُوَيْدِ بْنِ مُقَرِّنٍ، وَأَمَرَهُ بِتِهَامَةِ الْيَمَنِ.
10. Suwaid bin Muqarrin yang diperintahkan (berangkat) menuju Tihamah al-Yaman.

وَلِلْعَلَاءِ بْنِ الْحَضْرَمِيِّ، وَأَمَرَهُ بِالْبَحْرَيْنِ
11. Al-‘Ala bin al-Hadhrami yang diperintahkan (berangkat) menuju Bahrain.

[al-Bidayah wa an-Nihayah 6/347, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فِي مَسِيرَةِ الْأُمَرَاءَ مِنْ ذِي القصَّة عَلَى مَا عُوهِدُوا عَلَيْهِ
Perjalanan panglima (Khalid bin al-Walid) dari Dzil Qashshah untuk memerangi mereka (kaum murtad)

رَوَى الْإِمَامُ أَحْمَدُ مِنْ طَرِيقِ وَحْشِيِّ بْنِ حَرْبٍ، أنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّديق لمَّا عَقَدَ لِخَالِدِ بن الوليد عل قتال أهل الردة، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
Imam Ahmad meriwayatkan dari jalan Wahsyi bin Harb, bahwasanya Abu Bakar ash-Shiddiq melantik Khalid bin al-Walid sebagai panglima perang operasi penumpasan orang-orang murtad, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

نِعْمَ عَبْدُ اللَّهِ وَأَخُو الْعَشِيرَةِ، خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ، سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ سله الله عَلَى الكفَّار وَالْمُنَافِقِينَ،
Sebaik-baik hamba Allah dan sebaik-baik sanak famili adalah Khalid bin al-Walid, dan dia adalah sebilah pedang dari pedang-pedang Allah yang Allah hunuskan atas orang-orang kafir dan orang-orang munafik.’” [Ahmad no.42, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.43, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

[al-Bidayah wa an-Nihayah 6/348-349, al-Hafizh Ibnu Katsir]

مقتل مسيلمة الكذَّاب لعنه الله
Terbunuhnya Musailamah al-Kadzdzab laknatullah. [al-Bidayah wa an-Nihayah 6/355, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 12 Hijriyah

بَعْثُ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ إِلَى الْعِرَاقِ
لمَّا فَرَغَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ مِنَ الْيَمَامَةِ، بَعَثَ إِلَيْهِ الصِّديق أَنْ يَسِيرَ إِلَى الْعِرَاقِ، وَأَنْ يبدأ بفرج الهند، وفي الْأُبُلَّةُ، وَيَأْتِي الْعِرَاقَ مِنْ أَعَالِيهَا، وَأَنْ يتألَّف النَّاس وَيَدْعُوَهُمْ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وجلَّ، فَإِنْ أَجَابُوا وَإِلَّا أَخَذَ مِنْهُمُ الْجِزْيَةَ فَإِنِ امْتَنَعُوا عن ذلك قاتلهم،
Pengiriman Khalid bin al-Walid ke negeri Irak
Selesai penaklukkan (Musailamah al-Kadzdzab) Yamamah, Abu Bakar ash-Shiddiq memerintahkan Khalid bin al-Walid berangkat menuju Irak dan memulai penaklukkan selat Hindia yang dikenal dengan nama al-Ubullah, kemudian barulah menyisir Irak dari arah bawah. Dan menarik hati masyarakat serta mendakwahi mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jika mereka tidak menerima maka diambillah jizyah dari mereka, dan jika mereka menolak (jizyah) maka diperangilah mereka. [al-Bidayah wa an-Nihayah 6/376, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فتح خالد للأنبار
Khalid menaklukkan al-Anbar. [al-Bidayah wa an-Nihayah 6/384, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 13 Hijriyah

وَقْعَةُ الْيَرْمُوكِ
Peristiwa Yarmuk


وَخَرَجَ جَرَجَةُ أَحَدُ الْأُمَرَاءِ الْكِبَارِ مِنَ الصَّفِّ وَاسْتَدْعَى خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ فَجَاءَ إِلَيْهِ حَتَّى اخْتَلَفَتْ أَعْنَاقُ فَرَسَيْهِمَا، فَقَالَ جَرَجَةُ: يَا خَالِدُ أَخْبِرْنِي فَاصْدُقْنِي وَلَا تَكْذِبْنِي، فَإِنَّ الْحُرَّ لَا يَكْذِبُ، وَلَا تُخَادِعْنِي فَإِنَّ الْكَرِيمَ لَا يُخَادِعُ الْمُسْتَرْسِلَ بِاللَّهِ، هَلْ أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى نَبِيِّكُمْ سَيْفًا مِنَ السَّمَاءِ فَأَعْطَاكَهُ فَلَا تَسُلُّهُ عَلَى أَحَدٍ إِلَّا هَزَمْتَهُمْ؟
Salah seorang panglima besar (Romawi) yang bernama Jarajah (George) keluar dari barisannya dan meminta kepada Khalid bin al-Walid agar mau menemuinya. Khalid segera menemuinya hingga kedua kuda mereka berhadap-hadapan leher. Jarajah (George) berkata : “Wahai Khalid, khabarkanlah kepadaku dan jujurlah, sebab orang merdeka tidak akan berdusta, dan janganlah engkau membohongiku, karena sesungguhnya orang yang mulia tidak akan berbohong terhadap orang yang ingin berhubungan dengan Allah. Apakah Allah pernah menurunkan kepada Nabi kalian sebilah pedang dari langit yang diberikannya kepadamu sehingga engkau tidak menghunuskannya pada seseorang melainkan mereka pasti kalah?

قَالَ: لَا!
Khalid menjawab : “Tidak!”

قَالَ: فَبِمَ سُمِّيتَ سَيْفَ اللَّهِ؟
Jarajah (George) kembali bertanya : “Jadi kenapa engkau dijuluki pedang Allah [سَيْفَ اللَّهِ]?”

قَالَ: إن الله بعث فينا نبيه فَدَعَانَا فَنَفَرْنَا مِنْهُ وَنَأَيْنَا عَنْهُ جَمِيعًا، ثُمَّ إِنَّ بَعْضَنَا صَدَّقَهُ وَتَابَعَهُ، وَبَعْضَنَا كَذَّبَهُ وَبَاعَدَهُ، فَكُنْتُ فِيمَنْ كَذَّبَهُ وَبَاعَدَهُ، ثُمَّ إِنَّ اللَّهَ أَخَذَ بِقُلُوبِنَا وَنَوَاصِينَا فَهَدَانَا بِهِ وَبَايَعْنَاهُ ، فَقَالَ لِي: أَنْتَ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ سَلَّهُ اللَّهُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ.
وَدَعَا لِي بِالنَّصْرِ، فَسُمِّيتُ سَيْفَ اللَّهِ بِذَلِكَ فَأَنَا مِنْ أَشَدِّ الْمُسْلِمِينَ على المشركين.
Khalid menjawab : “Sesungguhnya Allah telah mengutus Nabi-Nya kepada kami. Menyeru kami, tetapi kami malah berlari menjauhinya. Kemudian sebagian dari kami membenarkannya serta mengikutinya dan sebagian mendustakannya serta menjauhinya. Sedangkan aku termasuk salah seorang yang mendustakannya dan menjauhinya hingga Allah kemudian menunjuki hati kami untuk beriman kepadanya dan membai’atnya. Lalu beliau berkata kepadaku, ‘Engkau adalah sebilah pedang dari Pedang-Pedang Allah yang terhunus terhadap kaum Musyrikin. [Rasulullah menamai Khalid bin al-Walid sebagai Pedang Allah [سيف اللَّهِ] dalam Bukhari no.3929]
Beliau juga mendoakan agar aku diberi kemenangan. Sejak itulah aku disebut dengan Pedang Allah. Maka aku menjadi orang dari kalangan kaum muslimin yang paling keras terhadap orang-orang musyrik.”

فقال جرجه: يا خالد إلى ما تَدْعُونَ؟
Jarajah (George) berkata : “Wahai Khalid, apa yang kalian serukan?”

قَالَ: إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عبده وَرَسُولُهُ وَالْإِقْرَارِ بِمَا جَاءَ بِهِ مِنْ عِنْدِ الله عز وجل.
Khalid menjawab : “Kami menyeru agar bersaksi tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan agar membenarkan seluruh syari’at yang beliau bawa dari Allah ‘Azza wa Jalla.”

قال: فمن لم يجيكم؟
Jarajah (George) berkata : “Bagaimana jika orang itu tidak mau menerima seruan kalian?”

قَالَ: فَالْجِزْيَةُ وَنَمْنَعُهُمْ.
Khalid menjawab : “Maka kami serukan mereka agar membayar upeti, dan kami akan melindungi mereka.”

قَالَ: فَإِنْ لَمْ يُعْطِهَا
Jarajah (George) berkata : “Jika mereka tidak mau membayar upeti?”

قَالَ: نُؤْذِنُهُ بِالْحَرْبِ ثُمَّ نُقَاتِلُهُ.
Khalid menjawab : “Kami diizinkan berperang dan memerangi mereka.”

قَالَ: فَمَا منزلة من يجيكم وَيَدْخُلُ فِي هَذَا الْأَمْرِ الْيَوْمَ؟
Jarajah (George) berkata : “Bagaimana kedudukan bagi orang yang menerima seruan kalian dan masuk ke dalam agama kalian pada hari ini?”

قَالَ مَنْزِلَتُنَا وَاحِدَةٌ فِيمَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْنَا، شَرِيفُنَا وَوَضِيعُنَا وَأَوَّلُنَا وَآخِرُنَا.
Khalid menjawab : “Kedudukannya sama dengan kami dalam seluruh kewajiban yang dibebankan Allah kepada kami. Orang yang mulia di antara kami, orang biasa, orang yang pertama masuk Islam dan yang terakhir seluruhnya sama kedudukannya.”

قَالَ جَرَجَةُ: فَلِمَنْ دَخَلَ فِيكُمُ الْيَوْمَ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ مَا لَكُمْ مِنْ الْأَجْرِ وَالذُّخْرِ؟
Jarajah (George) berkata : “Apakah orang yang hari ini masuk ke dalam agama kalian akan memiliki ganjaran yang sama dengan yang masuk sebelumnya?”

قَالَ: نَعَمْ وَأَفْضَلُ.
Khalid menjawab : “Iya, bahkan lebih utama.”

قَالَ: وَكَيْفَ يساويكم وقد سبقتموه؟
Jarajah (George) berkata : “Bagaimana bisa sama, sementara kalian telah mendahuluinya?”

فقال خالد: إنا قبلنا هذا الأمر عنوة وبايعنا نبينا وَهُوَ حَيٌّ بَيْنَ أَظْهُرِنَا تَأْتِيهِ أَخْبَارُ السَّمَاءِ ويخبرنا بالكتاب وَيُرِينَا الْآيَاتِ، وَحُقَّ لِمَنْ رَأَى مَا رَأَيْنَا، وَسَمِعَ مَا سَمِعْنَا أَنْ يُسْلِمَ وَيُبَايِعَ، وَإِنَّكُمْ أَنْتُمْ لَمْ تَرَوْا مَا رَأَيْنَا، وَلَمْ تَسْمَعُوا مَا سَمِعْنَا مِنَ الْعَجَائِبِ وَالْحُجَجِ، فَمَنْ دَخَلَ فِي هَذَا الْأَمْرِ مِنْكُمْ بِحَقِيقَةٍ وَنِيَّةٍ كَانَ أَفْضَلَ مِنَّا
Khalid menjawab : “Sesungguhnya kami menerima Islam dengan peperangan dan kami membai’at Nabi kami, sementara beliau hidup di tengah-tengah kami. Selalu datang kepadanya berita dari langit dan beliau memberitakannya kepada kami dengan al-Qur’an, menunjukkan kepada kami mukjizat-mukjizat. Maka pasti orang yang melihat apa yang telah kami lihat dan mendengar apa yang telah kami dengar maka akan masuk Islam dan membai’at beliau. Namun kalian tidak melihat apa yang telah kami lihat, dan belum pernah mendengar apa yang telah kami dengar mengenai mukjizatnya dan perkara-perkara luar biasa lainnya. Maka barangsiapa di antara kalian yang masuk agama kami dengan niat yang benar maka akan lebih utama dari kami.”

فَقَالَ جَرَجَةُ: بِاللَّهِ لَقَدْ صَدَقْتَنِي ولم تخادعني؟
Jarajah (George) berkata : “Demi Allah, apakah engkau menjawab pertanyaanku dengan jujur dan tidak berbohong kepadaku?”

قال: تالله لَقَدْ صَدَقْتُكَ وَإِنَّ اللَّهَ وَلِيُّ مَا سَأَلَتْ عَنْهُ.
Khalid menjawab : “Demi Allah, aku telah menjawab pertanyaanmu dengan jujur dan Allah sebagai saksi atas apa yang engkau tanyakan.”

فَعِنْدَ ذَلِكَ قَلَبَ جَرَجَةُ التُّرْسَ وَمَالَ مَعَ خَالِدٍ وَقَالَ: عَلِّمْنِي الْإِسْلَامَ، فَمَالَ بِهِ خالد إلى فسطاطه فسن عَلَيْهِ قِرْبَةً مِنْ ماءٍ ثُمَّ صَلَّى بِهِ رَكْعَتَيْنِ.
Ketika itu Jarajah (George) membalikkan sisi perisainya dan masuk ke dalam barisan Khalid, sambil berkata, “Ajarkan aku Islam.” Khalid segera membawanya ke tenda dan menyediakan satu bejana air, kemudian shalat bersamanya 2 raka’at.

فَرَكِبَ خَالِدٌ وَجَرَجَةُ مَعَهُ وَالرُّومُ خِلَالَ الْمُسْلِمِينَ، فَتَنَادَى النَّاسُ وَثَابُوا وَتَرَاجَعَتِ الرُّومُ إِلَى مَوَاقِفِهِمْ وَزَحَفَ خَالِدٌ بِالْمُسْلِمِينَ حَتَّى تَصَافَحُوا بِالسُّيُوفِ فَضَرَبَ فِيهِمْ خَالِدٌ وَجَرَجَةُ مِنْ لَدُنِ ارْتِفَاعِ النَّهَارِ إِلَى جُنُوحِ الشَّمْسِ لِلْغُرُوبِ.
وَصَلَّى الْمُسْلِمُونَ صَلَاةَ الظُّهْرِ وَصَلَاةَ الْعَصْرِ إِيمَاءً، وَأُصِيبَ جَرَجَةُ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَمْ يُصَلِّ لِلَّهِ إِلَّا تِلْكَ الرَّكْعَتَيْنِ مَعَ خَالِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.
وضعضعت الرُّومُ عِنْدَ ذَلِكَ.
Ketika itu Khalid beserta Jarajah (George) bergerak menyerbu pasukan Romawi yang berlari di antara pasukan kaum Muslimin. Pasukan Romawi berusaha mengumpulkan kembali tentaranya yang berlarian hingga sebagian pasukan Romawi kembali berkumpul dan menempati posisi masing-masing. Ketika itu khalid dengan kaum Muslimin berusaha menumpas mereka hingga pedang mereka saling bertemu, Khalid dan Jarajah (George) terus menerus memerangi mereka dari siang hari hingga matahari akan tenggelam. Waktu itu kaum Muslimin hanya dapat melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan isyarat. Jarajah (George) akhirnya terluka dan meninggal dunia –semoga Allah merahmatinya- padahal dia belum pernah shalat menyembah Allah kecuali 2 raka’at yang dikerjakannya bersama Khalid Radhiyallahu ‘anhuma, tak berapa lama setelah itu pasukan Romawi melemah.

[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/16-17, al-Hafizh Ibnu Katsir]

عن أبي إسحق قَالَ: كَانَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَثْبُتُ لَهُمُ الْعَدُوُّ فُوَاقَ نَاقَةٍ عِنْدَ اللِّقَاءِ، فَقَالَ هِرَقْلُ وَهُوَ عَلَى أَنْطَاكِيَةَ لَمَّا قَدِمَتْ مُنْهَزِمَةُ الرُّومِ: وَيَلَكُمُ أَخْبِرُونِي عَنْ هؤلاء القوم الذين يقاتلونكم أليسوا بَشَرًا مِثْلَكُمْ؟
Diriwayatkan dari Abu Ishaq, ia berkata : “Ketika berhadapan dengan Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tidak satu pun musuh yang dapat duduk tegar di atas untanya.” Heraklius yang ketika itu berada di Anthakiyah bertanya kepada pasukan Romawi yang datang dalam keadaan kalah perang, “Celakalah kalian, beritahukan kepadaku tentang musuh yang kalian perangi. Bukankah mereka manusia seperti kalian juga?”

قَالُوا: بَلَى.
Mereka menjawab, “Benar.”

قَالَ: فَأَنْتُمْ أَكْثَرُ أَمْ هُمْ؟
Heraklius kembali bertanya, “Apakah jumlah mereka lebih banyak daripada jumlah kalian atau sebaliknya?”

قَالُوا: بَلْ نَحْنُ أَكْثَرُ مِنْهُمْ أَضْعَافًا فِي كُلِّ مَوْطِنٍ.
Mereka menjawab, “Jumlah kami lebih banyak berlipat ganda dari jumlah mereka di setiap tempat.”

قَالَ: فَمَا بَالُكُمْ تنهزمون؟
Heraklius berkata, “Lalu kenapa kalian kalah pada setiap kali bertemu dengan mereka.”

فَقَالَ شَيْخٌ مِنْ عُظَمَائِهِمْ: مِنْ أَجْلِ أَنَّهُمْ يقومون الليل ويصومون النَّهَارَ، وَيُوفُونَ بِالْعَهْدِ، وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ، وَيَنْهَوْنَ عَنِ المنكر، ويتناصفون بينهم، من أَجْلِ أَنَّا نَشْرَبُ الْخَمْرَ، وَنَزْنِي، وَنَرْكَبُ الْحَرَامَ، وننقض العهد، ونغضب ونظلم ونأمر بالسخط وَنَنْهَى عَمَّا يُرْضِي اللَّهَ وَنُفْسِدُ فِي الْأَرْضِ.
Maka salah seorang yang berusia sepuh dari kalangan pembesar mereka berkata, “Mereka menang karena mereka senantiasa mengerjakan shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, memenuhi janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang mungkar, dan saling menasehati antara mereka. Sementara kita gemar minum khamr, berzina, mengerjakan perbuatan haram, membatalkan perjanjian, menjarah harta, memerintahkan perbuatan yang dimurkai oleh Allah, melarang dari apa yang diridhai-Nya, dan berbuat kerusakan di muka bumi.”

فَقَالَ: أَنْتَ صَدَقْتَنِي.
Heraklius berkata, “Engkau telah berkata benar kepadaku.”

[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/19-20, al-Hafizh Ibnu Katsir]

كَانَتْ وَفَاةُ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي يَوْمِ الِاثْنَيْنِ عَشِيَّةً، وَقِيلَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَدُفِنَ مِنْ لَيْلَتِهِ، وَذَلِكَ لِثَمَانٍ بَقِينَ مِنْ جُمَادَى الْآخِرَةِ سَنَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ بَعْدَ مَرَضٍ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا، وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يُصَلِّي عَنْهُ فِيهَا بِالْمُسْلِمِينَ، وَفِي أَثْنَاءِ هَذَا الْمَرَضِ عَهِدَ بِالْأَمْرِ مِنْ بَعْدِهِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخِطَابِ، وَكَانَ الَّذِي كَتَبَ الْعَهْدَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانِ، وَقُرِئَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَأَقَرُّوا بِهِ وَسَمِعُوا لَهُ وَأَطَاعُوا، فَكَانَتْ خِلَافَةُ الصِّدِّيقِ سَنَتَيْنِ وَثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ ، وَكَانَ عُمُرُهُ يَوْمَ تُوُفِّيَ ثَلَاثًا وَسِتِّينَ سَنَةً، لِلسِّنِّ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ بَيْنَهُمَا فِي التُّرْبَةِ، كَمَا جَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي الْحَيَاةِ،
Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu wafat pada hari malam Senin, ada yang mengatakan bahwa Abu Bakar wafat setelah Maghrib (malam Selasa) dan dikebumikan pada malam itu juga yaitu tepatnya 8 hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir tahun 13 H, setelah beliau mengalami sakit selama 15 hari. Pada waktu itu Umar bin al-Khaththab menggantikan posisinya sebagai imam kaum Muslimin dalam shalat. Ketika sakit, beliau menuliskan wasiat agar tampuk pemerintahan kelak diberikan kepada Umar bin al-Khaththab, dan yang menjadi juru tulis waktu itu adalah Utsman bin Affan. Yang dibacakan kepada segenap kaum Muslimin, dan mereka menerimanya dengan segala kepatuhan dan ketundukan. Masa kekhalifahan Abu Bakar berlangsung selama 2 tahun 3 bulan. Beliau wafat pada usia 63 tahun, persis dengan usia wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Akhirnya Allah mengumpulkan jasad mereka dalam satu tanah, sebagaimana Allah mengumpulkan mereka dalam kehidupan.
[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/22, al-Hafizh Ibnu Katsir]


Penaklukkan Khalifah Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu

Penaklukkan Khalifah Umar

فَتَحِ دِمَشْقَ
Penaklukkan Damaskus. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/24, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وَاسْتَخْلَفَ أبو عبيدة على الأردن شرحبيل بن حَسَنَةَ، فَسَارَ شُرَحْبِيلُ وَمَعَهُ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ فَحَاصَرَ بَيْسَانَ فَخَرَجُوا إِلَيْهِ فَقَتَلَ مِنْهُمْ مَقْتَلَةً عَظِيمَةً، ثُمَّ صَالَحُوهُ عَلَى مِثْلِ مَا صَالَحَتْ عَلَيْهِ دِمَشْقُ، وَضَرَبَ عَلَيْهِمُ الْجِزْيَةَ وَالْخَرَاجَ عَلَى أَرَاضِيهِمْ وَكَذَلِكَ فَعَلَ أَبُو الْأَعْوَرِ السَّلَمِيُّ بِأَهْلِ طبرية سواء.
Abu Ubaidah memilih Syurahbil bin Hasanah sebagai panglima pasukan untuk menaklukkan wilayah Yordania [الأردن]. Syurahbil segera berangkat bersama Amr bin al-Ash. Mereka mengepung Baisan, tentara Syurahbil berhasil membunuh pasukan musuh dalam jumlah yang sangat besar. Setelah itu mereka meminta perdamaian sebagaimana yang terjadi di Damaskus yaitu mereka berkewajiban membayar jizyah (upeti) dan kharaj (pajak bumi), demikian pula yang dilakukan oleh Abu al-A’war as-Sulami terhadap penduduk Thabariyah. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/31, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 15 Hijriyah

فَتْحُ بَيْتِ المقدس عَلَى يَدَيْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ
Penaklukkan Baitul Maqdis pada saat kekhalifahan Umar bin al-Khaththab. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/64, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 16 Hijriyah

فتح المدائن
Penaklukkan al-Madain. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/74, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتْحِ حُلْوَانَ
Penaklukkan Hulwan. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/82, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتْحُ تَكْرِيتَ وَالْمَوْصِلِ
Penaklukkan Tikrit dan Mosul. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/82, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتْحُ مَاسَبَذَانَ مِنْ أَرْضِ الْعِرَاقَ
Penaklukkan Masabadzan di bumi Irak. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/84, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فتح قرقيسيا وَهِيتَ
Penaklukkan Qarqisa dan Hit. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/84, al-Hafizh Ibnu Katsir]


Tahun 17 Hijriyah

فَتْحُ الْجَزِيرَةِ
Penaklukkan Jazirah. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/88, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتْحُ الْأَهْوَازِ وَمَنَاذِرَ وَنَهْرِ تِيرَى
Penaklukkan al-Ahwaz, Manadzir dan Sungai Tira. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/95, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتْحُ تستُر الْمَرَّةُ الْأُولَى صُلْحًا
Penaklukkan Tustar yang pertama kali dengan perdamaian. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/96, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فتح تستر ثانية وَأَسْرِ الْهُرْمُزَانِ وَبَعْثِهِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخِطَابِ
Penaklukkan Tustar yang kedua dan menangkap Hurmuzan serta mengirimnya ke Umar bin al-Khaththab. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/98, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتْحُ السويس
Penaklukkan as-Sus. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/100, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وأمر عمر زر ابن عبد الله بن العقيمي - وهو صحابي - أن يسير إلى جندسابور،
(Amirul Mukminin) Umar memerintahkan Ibnu Abdillah bin al-Fuqaimi –seorang Shahabat- dan berhasil menaklukkan Jundai Sabur. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/100, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 20 Hijriyah

فتح مصر
Penaklukkan Mesir. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/111, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 21 Hijriyah

وقعة نهاوند
Pertempuran (penaklukkan) Nahawand. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/120, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 22 Hijriyah

فتح همدان ثَانِيَةً ثُمَّ الرَّيِّ
Penaklukkan Hamadzan yang kedua, kemudian menaklukkan ar-Rayy. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/136, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتْحُ قَوْمِسَ
Penaklukkan Qumis. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/138, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتْحُ جُرْجَانَ
Penaklukkan Jurjan. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/138, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتْحُ أَذْرَبِيجَانَ
Penaklukkan Azerbaijan. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/138, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتْحُ الْبَابِ
Penaklukkan al-Bab. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/139, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 23 Hijriyah

فَتْحُ إِصْطِخْرَ
Penaklukkan Ishthakhr. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/146, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فتح فسا ودار أبجرد
Penaklukkan Fasa dan Darabijard. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/146, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فتح كرمان وسجستان ومكران
Penaklukkan Karman dan Sajistan serta Mukran. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/148, al-Hafizh Ibnu Katsir]


أن عمرو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا فَرَغَ مِنَ الْحَجِّ سَنَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَنَزَلَ بِالْأَبْطَحِ دَعَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَشَكَا إِلَيْهِ أَنَّهُ قَدْ كَبِرَتْ سِنُّهُ وَضَعُفَتْ قُوَّتُهُ، وَانْتَشَرَتْ رَعِيَّتُهُ، وَخَافَ مِنَ التَّقْصِيرِ، وَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يَقْبِضَهُ إِلَيْهِ، وَأَنْ يَمُنَّ عَلَيْهِ بِالشَّهَادَةِ فِي بَلَدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
Ketika Umar Radhiyallahu ‘anhu selesai melaksanakan ibadah haji pada tahun 23 H, beliau sempat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla di al-Abthah, mengadu kepada Allah tentang usianya yang telah senja, kekuatannya telah melemah, sementara rakyatnya tersebar luas, dan ia takut tidak dapat menjalankan tugas dengan sempurna. Ia berdoa kepada Allah agar Allah mewafatkannya, dan berdoa agar Allah memberikan syahadah serta dimakamkan di kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

كَمَا ثَبَتَ عَنْهُ فِي الصَّحِيحِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَمَوْتًا فِي بَلَدِ رَسُولِكَ،
Sebagaimana yang terdapat di dalam ash-Shahih bahwa Umar pernah berdoa : “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mendapatkan syahadah di atas jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu.” [Bukhari no.1757]

فاستجاب له الله هَذَا الدُّعَاءَ، وَجَمَعَ لَهُ بَيْنَ هَذَيْنَ الْأَمْرَيْنِ الشَّهَادَةِ فِي الْمَدِينَةِ النَّبَوِيَّةِ وَهَذَا عَزِيزٌ جِدًّا، ولكن الله لطيف بما يَشَاءُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَاتَّفَقَ لَهُ أَنْ ضَرَبَهُ أَبُو لُؤْلُؤَةَ فَيْرُوزُ الْمَجُوسِيُّ الْأَصْلِ، الرُّومِيُّ الدَّارِ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ، صَلَاةَ الصُّبْحِ مِنْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ، لِأَرْبَعٍ بَقِينَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ بِخِنْجَرٍ ذَاتِ طَرَفَيْنِ، فَضَرَبَهُ ثَلَاثَ ضَرَبَاتٍ، وَقِيلَ سِتَّ ضَرَبَاتٍ، إِحْدَاهُنَّ تحت سرته قطعت السفاق فَخَرَّ مِنْ قَامَتِهِ، وَاسْتَخْلَفَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ، وَرَجَعَ الْعِلْجُ بِخِنْجَرِهِ لَا يَمُرُّ بِأَحَدٍ إِلَّا ضَرَبَهُ، حَتَّى ضَرَبَ ثَلَاثَةَ عَشَرَ رَجُلًا مَاتَ مِنْهُمْ سِتَّةٌ، فَأَلْقَى عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بن عَوْفٍ بُرْنُسًا فَانْتَحَرَ نَفْسَهُ لَعَنَهُ اللَّهُ،
Maka Allah mengabulkan doa beliau dan memberikan kedua permohonannya tersebut, yaitu mati syahid di Madinah an-Nabawi. Ini adalah perkara yang sulit namun Allah Tabaraka wa Ta’ala Mahalembut kepada hamba-Nya. Akhirnya beliau ditikam oleh Abu Lu’luah Fairuz –seorang yang asalnya beragama Majusi dan tinggal di Romawi- ketika Umar shalat di Mihrab pada waktu shalat Shubuh di hari Rabu yaitu 4 hari terakhir menuju penghabisan bulan Dzulhijjah (25 Dzulhijjah) pada tahun ini (23 H) dengan belati yang memiliki dua mata. Abu Lu’luah menikamnya tiga tikaman –ada yang mengatakan enam tikaman-, satu di bawah pusarnya hingga terputus urat-urat dalam perut beliau, akhirnya Umar jatuh tersungkur dan menyuruh Abdurrahman bin Auf agar menggantikannya menjadi imam shalat. Kemudian ia (Abu Lu’luah) berlari ke belakang sambil menikam seluruh orang yang dilaluinya. Dalam peristiwa itu sebanyak 13 orang terluka dan 6 orang dari mereka tewas [Bukhari no.3424 menjelaskan yang tewas 7 orang]. Maka segera Abdullah bin Auf menangkapnya dengan melemparkan pakaian burnus untuk menjeratnya, kemudian Abu Lu’luah bunuh diri, semoga Allah melaknatnya.

وَحُمِلَ عُمَرُ إِلَى مَنْزِلِهِ وَالدَّمُ يَسِيلُ مَنْ جُرْحِهِ - وَذَلِكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ - فَجَعَلَ يُفِيقُ ثُمَّ يُغْمَى عَلَيْهِ، ثُمَّ يُذَكِّرُونَهُ بِالصَّلَاةِ فَيُفِيقُ وَيَقُولُ: نعم، ولاحظ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَهَا.
ثُمَّ صَلَّى فِي الْوَقْتِ، ثُمَّ سَأَلَ عَمَّنْ قَتَلَهُ مَنْ هُوَ؟ فقالوا له: هو أَبُو لُؤْلُؤَةَ غُلَامُ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ.
فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَجْعَلْ مَنِيَّتِي عَلَى يَدَيْ رَجُلٍ يَدَّعِي الْإِيمَانَ وَلَمْ يَسْجُدْ لِلَّهِ
سَجْدَةً.
Umar segera dibawa ke rumahnya sementara darah mengalir deras dari luka-lukanya. Hal itu terjadi sebelum matahari terbit. Umar berkali-kali jatuh pingsan dan sadar, kemudian orang-orang mengingatkannya shalat, beliau sadar sambil berkata, “Ya aku akan shalat dan tidak ada bagian dari Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Kemudian beliau shalat, setelah shalat beliau bertanya siapa yang menikamnya. Mereka menjawab, “Abu Lu’luah budak al-Mughirah bin Syu’bah.” Beliau berkata, “Alhamdulillah yang telah menentukan kematianku di tangan seseorang yang tidak beriman dan tidak pernah sujud kepada Allah sekalipun.”

وَأَوْصَى عُمَرُ أَنْ يَكُونَ الْأَمْرُ شُورَى بَعْدَهُ فِي سِتَّةٍ مِمَّنْ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَنْهُمْ رَاضٍ.
وَهُمْ عُثْمَانُ، وَعَلِيٌّ، وَطَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، وَلَمْ يَذْكُرْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ الْعَدَوِيَّ فِيهِمْ، لِكَوْنِهِ مِنْ قَبِيلَتِهِ، خَشْيَةَ أَنْ يُرَاعَى فِي الْإِمَارَةِ بِسَبَبِهِ، وَأَوْصَى مَنْ يُسْتَخْلَفُ بَعْدَهُ بِالنَّاسِ خَيْرًا عَلَى طَبَقَاتِهِمْ وَمَرَاتِبِهِمْ،
Umar kemudian berwasiat agar penggantinya yang menjadi Khalifah dimusyawarahkan oleh enam orang yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat dalam keadaan ridha kepada mereka, yaitu : Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhum. Beliau tidak menyebutkan Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail al-Adawi, sebab Sa’id berasal dari kabilahnya (Umar) dan dikhawatirkan kelak dirinya terpilih disebabkan kekerabatannya yang dekat dengan Umar. Umar mewasiatkan kepada siapa yang akan menggantikannya untuk melakukan yang terbaik kepada seluruh manusia dengan berbagai macam tingkatan mereka.

وَمَاتَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ ثلاث، ودفن في يَوْمَ الْأَحَدِ مُسْتَهَلَّ الْمُحَرَّمِ مِنْ سَنَةِ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ بِالْحُجْرَةِ النَّبَوِيَّةِ، إِلَى جَانِبِ الصِّدِّيقِ، عَنْ إِذْنِ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي ذَلِكَ،
Akhirnya Umar Radhiyallahu ‘anhu wafat tiga hari setelah peristiwa tersebut, beliau dikebumikan pada hari Ahad di awal Muharram 24 H dan dikebumikan di kamar Nabi di samping (Abu Bakar) ash-Shiddiq, setelah mendapat izin dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha.
[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/155, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَتَحَ مِنَ الشَّامِ الْيَرْمُوكَ وَبُصْرَى وَدِمَشْقَ وَالْأُرْدُنَّ، وَبَيْسَانَ، وَطَبَرِيَّةَ، وَالْجَابِيَةَ، وَفِلَسْطِينَ وَالرَّمْلَةَ، وَعَسْقَلَانَ وَغَزَّةَ وَالسَّوَاحِلَ وَالْقُدْسَ
(Umar) telah Menaklukkan Syam seperti Yarmuk, Bushra, Damaskus, Yordania, Baisan, Thabariyah, al-Jabiyah, Palestina, Ramalah, ‘Asqalan, daerah pesisir [السَّوَاحِلَ] dan al-Quds.

وَفَتَحَ مِصْرَ وَإِسْكَنْدَرِيَّةَ وَطَرَابُلُسَ الْغَرْبِ وَبَرْقَةَ،
Menaklukkan Mesir, Iskandariyah, Tripoli Barat dan Burqah.

وَمِنْ مُدُنِ الشَّامِ بَعْلَبَكَّ وَحِمْصَ وَقِنَّسْرِينَ وَحَلَبَ وَأَنْطَاكِيَةَ
Dan dari daerah Syam, yaitu Ba’labak, Homs, Qinsirin, Halab dan Anthakiyah.

وَفَتَحَ الْجَزِيرَةَ وَحَرَّانَ وَالرُّهَا وَالرَّقَّةَ وَنَصِيبِينَ وَرَأْسَ عَيْنٍ وَشِمْشَاطَ وَعَيْنَ وَرْدَةَ وَدِيَارَ بَكْرٍ وَدِيَارَ رَبِيعَةَ وَبِلَادَ الْمَوْصِلِ وأرمينية جميعها.
Menaklukkan Jazirah, seperti Harran, ar-Raha, ar-Raqqah, Nusaibin, Ra’s al-‘Ain, Syimsyath, ‘Ain Wardah, Perkampungan Bakr, Perkampungan Rabi’ah, negeri Mosul dan wilayah-wilayah sekitarnya.

وبالعراق القادسية والحيرة ونهر سير وَسَابَاطَ، وَمَدَائِنَ كِسْرَى وَكُورَةَ الْفُرَاتِ وَدِجْلَةَ وَالْأَبُلَّةَ وَالْبَصْرَةَ وَالْأَهْوَازَ وَفَارِسَ وَنَهَاوَنْدَ وَهَمَذَانَ وَالرَّيَّ وَقُومِسَ وَخُرَاسَانَ وَإِصْطَخْرَ وَأَصْبَهَانَ وَالسُّوسَ وَمَرْوَ وَنَيْسَابُورَ وَجُرْجَانَ وَأَذْرَبِيجَانَ وَغَيْرَ ذَلِكَ،
Dan wilayah Irak, seperti Qadisiyyah, al-Hirah, Sungai Sair, Sabath, al-Madain Kisra, Eufrat, Dijlah, Ubullah, Bashrah, Ahwaz, Persia, Nahawand, Hamadzan, ar-Rayy, Qumis, Khurasan, Isthakhr, Ashbahan, as-Sus, Marwu, Naisaburi, Jurjan, Azerbaijan dan lain-lain.

[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/151, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 24 Hijriyah

خلافة أمير المؤمنين عثمان بن عفان
Kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Utsman din ‘Affan. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/163, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَلَمَّا فُرِغَ مِنْ دَفْنِهِ اجْتَمَعَ هَؤُلَاءِ الرَّهْطُ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ اجْعَلُوا أَمْرَكُمْ إِلَى ثَلَاثَةٍ مِنْكُمْ فَقَالَ الزُّبَيْرُ قَدْ جَعَلْتُ أَمْرِي إِلَى عَلِيٍّ فَقَالَ طَلْحَةُ قَدْ جَعَلْتُ أَمْرِي إِلَى عُثْمَانَ وَقَالَ سَعْدٌ قَدْ جَعَلْتُ أَمْرِي إِلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَيُّكُمَا تَبَرَّأَ مِنْ هَذَا الْأَمْرِ فَنَجْعَلُهُ إِلَيْهِ وَاللَّهُ عَلَيْهِ وَالْإِسْلَامُ لَيَنْظُرَنَّ أَفْضَلَهُمْ فِي نَفْسِهِ فَأُسْكِتَ الشَّيْخَانِ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَفَتَجْعَلُونَهُ إِلَيَّ وَاللَّهُ عَلَيَّ أَنْ لَا آلُ عَنْ أَفْضَلِكُمْ قَالَا نَعَمْ فَأَخَذَ بِيَدِ أَحَدِهِمَا فَقَالَ لَكَ قَرَابَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْقَدَمُ فِي الْإِسْلَامِ مَا قَدْ عَلِمْتَ فَاللَّهُ عَلَيْكَ لَئِنْ أَمَّرْتُكَ لَتَعْدِلَنَّ وَلَئِنْ أَمَّرْتُ عُثْمَانَ لَتَسْمَعَنَّ وَلَتُطِيعَنَّ ثُمَّ خَلَا بِالْآخَرِ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَلَمَّا أَخَذَ الْمِيثَاقَ قَالَ ارْفَعْ يَدَكَ يَا عُثْمَانُ فَبَايَعَهُ فَبَايَعَ لَهُ عَلِيٌّ وَوَلَجَ أَهْلُ الدَّارِ فَبَايَعُوهُ
Setelah selesai menguburkan jenazah 'Umar, orang-orang (yang telah ditunjuk untuk mencari pengganti khalifah) berkumpul. 'Abdur Rahman bin 'Auf berkata; "Jadikanlah urusan kalian ini kepada tiga orang diantara kalian. Maka az-Zubair berkata; "Aku serahkan urusanku kepada 'Ali. Sementara Thalhah berkata; "Aku serahkan urusanku kepada 'Utsman. Sedangkan Sa'ad berkata; "Aku serahkan urusanku kepada 'Abdur Rahman bin 'Auf. Kemudian 'Abdur Rahman bin 'Auf berkata; "Siapa diantara kalian berdua yang mau melepaskan urusan ini maka kami akan serahkan kepada yang satunya lagi, Allah dan Islam akan mengawasinya. Sungguh seseorang dapat melihat siapa yang terbaik diantara mereka menurut pandangannya sendiri. Dua pembesar ('Utsman dan 'Ali) terdiam. Lalu 'Abdur Rahman berkata; "Apakah kalian menyerahkan urusan ini kepadaku. Allah tentu mengawasiku dan aku tidak akan semena-mena dalam memilih siapa yang terbaik diantara kalian". Keduanya berkata; "Baiklah". Maka 'Abdur Rahman memegang tangan salah seorang dari keduanya seraya berkata; "Engkau adalah kerabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan dari kalangan pendahulu dalam Islam sebagaimana yang kamu ketahui dan Allah akan mengawasimu. Seandainya aku serahkan urusan ini kepadamu tentu kamu akan berbuat adil dan seandainya aku serahkan urusan ini kepada 'Utsman tentu kamu akan mendengar dan menta'atinya". Kemudian dia berbicara menyendiri dengan 'Utsman dan berkata sebagaimana yang dikatakannya kepada 'Ali. Ketika dia mengambil perjanjian bai'at, 'Abdur Rahman berkata; "Angkatlah tanganmu wahai 'Utsman". Maka Abdur Rahman membai'at 'Utsman lalu 'Ali ikut membai'atnya kemudian para penduduk masuk untuk membai'at 'Utsman". [Bukhari no.3424]

Penaklukkan Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu

Penaklukkan Khalifah Utsman

أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ عُقْبَةَ سَارَ بِجَيْشِ الْكُوفَةِ نَحْوَ أَذْرَبِيجَانَ وَأَرْمِينِيَةَ،
Bahwasanya al-Walid bin Uqbah bersama pasukan Kufah pergi (menaklukkan) menuju Azerbaijan dan Armenia. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/168, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 25 Hijriyah

وفيها نقض أهل الإسكندرية الْعَهْدَ، وَذَلِكَ أَنَّ مَلِكَ الرُّومِ بَعَثَ إِلَيْهِمْ معويل الْخَصِيَّ فِي مَرَاكِبَ مِنَ الْبَحْرِ فَطَمِعُوا فِي النُّصْرَةِ وَنَقَضُوا ذِمَّتَهُمْ ، فَغَزَاهُمْ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ في ربيع الأول، فَافْتَتَحَ الْأَرْضَ عَنْوَةً وَافْتَتَحَ الْمَدِينَةَ صُلْحًا.
Penduduk Iskandariyah melanggar perjanjian damai pada tahun ini. Sebabnya karena raja Romawi mengirimkan kepada mereka alat pelempar batu melalui transportasi laut sehingga mereka sangat menginginkan kemenangan dan melanggar perjanjian tersebut. Maka pasukan Amr bin al-Ash datang menggempur mereka pada bulan Rabi’ul Awwal dengan peperangan dan kota Iskandariyah dapat dikuasai kembali dengan perjanjian damai. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/169, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 27 Hijriyah

غزوة إفريقية
Pertempuran Afrika. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/170, al-Hafizh Ibnu Katsir]

غَزْوَةُ الْأَنْدَلُسِ لَمَّا افْتُتِحَتْ إِفْرِيقِيَّةُ
Pertempuran Andalusia (Spanyol) setelah penaklukkan Afrika. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/171, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 28 Hijriyah

فتح قبرص
Penaklukkan Cyprus. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/172, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 30 Hijriyah

افتتح سعد بْنُ الْعَاصِ طَبَرِسْتَانَ
Penaklukkan oleh Sa’id bin al-Ash atas Thabaristan. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/173, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 31 Hijriyah

مَا صَالَحَ عَلَيْهِ بَعْضُ الْمَدَائِنِ وَهِيَ مَرْوُ
Dan di antara kota yang ditaklukkan tidak dengan perjanjian adalah kota Marwu. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/179, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 32 Hijriyah

وَفِيهَا فَتَحَ ابْنُ عَامِرٍ مَرْوَ الرُّوذِ وَالطَّالِقَانَ وَالْفَارِيَابَ وَالْجُوزَجَانَ وطخارستان.
Pada tahun ini Ibnu Amir menaklukkan Marwu ar-Rudz, Thalaqan, Faryab, Juzajan dan Thukharistan. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/180, al-Hafizh Ibnu Katsir]

لَمَّا كانت الدولة العثمانية امتدت الممالك الْإِسْلَامِيَّةُ إِلَى أَقْصَى مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا، فَفُتِحَتْ بِلَادُ الْمَغْرِبِ إِلَى أَقْصَى مَا هُنَالِكَ الْأَنْدَلُسُ وَقُبْرُصُ، وَبِلَادُ الْقَيْرَوَانِ، وَبِلَادُ سَبْتَةَ مِمَّا يَلِي الْبَحْرَ الْمُحِيطَ، وَمِنْ نَاحِيَةِ الْمَشْرِقِ إِلَى أَقْصَى بِلَادِ الصِّينِ،
Ketika tampuk kekhilafahan dipegang oleh ‘Utsman, maka daerah kekuasaan Islam telah meluas sampai ke penjuru bumi bagian timur dan penjuru bumi bagian baratnya. Ia berhasil menaklukkan negeri Maghrib hingga Andalusia (Spanyol), Cyprus, negeri Qairuwan dan negeri Sabtah yang berada di sebelah samudera. Sementara daerah timur (yang telah ditaklukkan) telah sampai ke negeri Cina.
[Tafsir Ibnu Katsir 6/71]

Tahun 35 Hijriyah

فَلَمَّا قُتِلَ عُثْمَانُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ لِثَمَانِ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ سَنَةَ خَمْسَةٍ وَثَلَاثِينَ عَلَى الْمَشْهُورِ.
عَدَلَ النَّاس إِلَى عَلِيٍّ فَبَايَعُوهُ، قَبْلَ أَنْ يُدْفَنَ عُثْمَانُ، وَقِيلَ بَعْدَ دَفْنِهِ كَمَا تقدَّم ، وَقَدِ امْتَنَعَ عَلِيٌّ مِنْ إجابتهم إلى قبول الإمارة حتى تكرر قولهم له وَفَرَّ مِنْهُمْ إِلَى حَائِطِ بَنِي عَمْرِو بْنِ مبذول ، وأغلق بابه فجاء الناس فطرقوا الباب وولجوا عليه، وجاؤوا مَعَهُمْ بِطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ، فَقَالُوا لَهُ: إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ لَا يُمْكِنُ بَقَاؤُهُ بِلَا أَمِيرٍ، وَلَمْ يَزَالُوا بِهِ حَتَّى أَجَابَ.
Setelah terbunuhnya ‘Utsman pada hari Jum’at 18 Dzulhijah 35 H, berdasarkan pendapat yang masyhur. Orang-orang mendatangi ‘Aliy dan membai’at beliau sebelum jenazah ‘Utsman dimakamkan, ada yang mengatakan setelah jenazah ‘Utsman dimakamkan. ‘Aliy menolak bai’at mereka dalam menerima jabatan tersebut, beliau menghindar ke kebun milik bani Amr bin Mabdzul dan beliau menutup pintunya. Orang-orang datang mengetuk pintu dan terus mendesaknya. Mereka membawa serta Thalhah dan az-Zubair, mereka berkata, “Sesungguhnya urusan (khilafah) ini tidak akan bertahan tanpa amir.” Mereka terus mendesak hingga akhirnya ‘Aliy bersedia menerimanya. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/252-253, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Fitnah berkobar semakin besar hingga terbunuhnya ‘Aliy bin Abi Thalib oleh Khawarij

Tahun 40 Hijriyah

مَقْتَلِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طالب
Terbunuhnya Amirul Mukminin ‘Aliy bin Abi Thalib. [al-Bidayah wa an-Nihayah 7/357, al-Hafizh Ibnu Katsir]