Sunday, May 04, 2014

// // Leave a Comment

Kronologis Awal Tragedi Suriah

Kronologis Awal Tragedi Suriah

Tragedi di Suriah telah memedihkan hati setiap Muslim, dikarenakan Saudara-Saudara Muslimnya telah dizhalimi dengan dibunuh, diculik, disiksa, diperkosa, dibakar dan dikubur hidup-hidup.
Sebagian Manusia yang tidak mengetahui kronologis awal tragedi Suriah tersebut hanya bisa membeo mengikuti berita-berita propaganda Syiah Rafidhah tanpa mau melihat akar permasalahan tersebut.

Oleh karena itu, Tanya Syiah akan menghadirkan Kronologis Awal Tragedi Suriah dengan referensi Koran Republika sebagai sumber, dikarenakan Koran Republika merupakan media Islami yang dianggap Kredibel dan mempunyai tingkat Validitas yang cukup tinggi di mata para simpatisan Syiah Rafidhah di Indonesia.

Pesan AS untuk Suriah Saat Menghadapi Demonstran
Kamis, 17 Maret 2011, 11:22 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, WASHNGTON - Amerika Serikat (AS) telah minta pada Suriah untuk melakukan pengendalian diri dan untuk tidak melakukan kekerasan menyusul laporan-laporan Rabu (16/3) bahwa sejumlah demonstran telah dilukai oleh polisi-polisi yang berpakaian preman di Damaskus. "Kami prihatin dengan laporan hari ini mengenai pemrotes-pemrotes yang terluka dan ditahan di Suriah dan kami minta pada pemerintah Suriah untuk melakukan pengekangan diri dan untuk tidak melakukan kekerasan," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner.

Lebih dari 20 demonstran telah ditangkap di ibu kota Damaskus pada hari kedua demonstrasi yang jarang terjadi karena dilarang menurut undang-undang darurat Suriah yang telah diberlakukan sejak 1963. Puluhan keluarga para tawanan politik berdemonstrasi untuk meminta pembebasan mereka Rabu, sehari setelah sekitar 200 orang turun ke jalan untuk meminta keleluasaan dan kebebasan politik.

"Bebaskan tawanan," para demonstran bernyanyi di Lapangan Marjeh di Damaskus pusat ketika beberapa aktivis hak asasi manusia bergabung dengan mereka, kata wartawan AFP dan beberapa saksi.

Polisi dan agen-agen keamanan dalam pakaian sipil telah menjaring pengunjuk rasa, dan empat demonstran muda ditangkap dan dibawa dengan cepat dengan mobil, kata sumber-sumber itu. Amnesty International mengatakan agen-agen keamanan berpakaian biasa telah memukuli beberapa demonstran dan menangkap sedikitnya 30 orang. Wanita, anak-anak dan orang tua termasuk di antara mereka yang dipukul, menurut Amnesty.

[http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/03/17/170179-pesan-as-untuk-suriah-saat-menghadapi-demonstran]

Demo Rusuh di Suria, Bakar Gedung Pengadilan dan Perkantoran
Senin, 21 Maret 2011, 11:31 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DARAA-- Ratusan demonstran membakar gedung pengadilan, beberapa bangunan lainnya, dan mobil di kota Daraa di Suriah selatan, Ahad, dalam sebuah aksi demonstrasi yang panas. Kekerasan itu terjadi setelah sedikitnya satu orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka, termasuk dua orang dalam keadaan kritis, ketika pasukan keamanan menggunakan rentetan peluru tajam terhadap ribuan demonstran pada hari ketiga langsung demonstrasi di kota tersebut, kata beberapa aktivis hak asasi manusia.

Para demonstran di Daraa, menurut kelompok-kelompok hak asasi manusia, menuntut diakhirinya 48 tahun undang-undang darurat, pembebasan para tawanan politik dan kebebasan yang lebih besar. Empat orang yang tewas dalam demonstrasi Jumat, menurut kelompok HAM, adalah Akram al-Jawabra, Hossam Abdulwali Ayash, Ayham al-Harri dan seorang anggota keluarga Abu Aoun.

Wartawan di Daraa menuturkan para demonstran juga telah membakar kantor penyedia telpon genggam MTN dan Syriatel serta berupaya untuk berunjuk rasa di rumah gubernur kota itu. Tapi pasukan keamanan telah menggunakan tembakan peringatan dan gas air mata untuk menghentikan mereka.

Sementara ratusan demonstran berangkat dari sebuah kota tua di kota itu dan mulai membakar bangunan, mobil dan gedung pengadilan, meskipun ada upaya oleh pasukan keamanan untuk membubarkan mereka. Tidak dapat berunjuk rasa di rumah gubenur, sekelompok demonstran membakat pohon di luar tempat kediaman itu, kata beberapa saksi.

Daraa, 100 kilometer di selatan ibukota Suriah, Damaskus, telah menjadi tempat demonstrasi hebat dan jarang terjadi sejak Jumat. Diilhami oleh demonstasi rakyat untuk pembaruan dan demokrasi di Tunisia dan Mesir, seruan untuk demonstrasi di Suriah telah dilancarkan di halaman-halaman Facebook.

Demonstrasi mendadak telah meletus sejak Selasa ketika keluarga para tawanan politik mengadakan unjuk rasa di dekat kementerian dalam negeri di Damaskus tengah untuk meminta pembebasan mereka.

[http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/03/21/171087-demo-rusuh-di-suria-bakar-gedung-pengadilan-dan-perkantoran]

Liput Aksi Protes, Stasiun Televisi Arab Diancam
Selasa, 22 Maret 2011, 11:25 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DUBAI-Stasiun televisi yang bermarkas di Dubai, Orient TV, mengaku menerima ancaman dari pembesar di Suriah karena pemberitaan soal aksi protes di negara tersebut.

Pemilik televisi Orient yang berdomisili di Suriah, Ghassan Abboud, mengatakan telah menerima panggilan telepon dari seorang pejabat keamanan senior Suriah yang mengancam para karyawannya agar meninggalkan pekerjaan di saluran televisi yang bermarkas di Dubai tersebut, atau keluarga mereka akan menghadapi tuntutan dan penculikan. Ancaman telepon ini ditengarai akibat pemberitaan Orient yang meliput aksi protes massa di kota Dara’a dan kota-kota Suriah lainnya.

Menurut Abboud, setelah menerima panggilan telepon, ia kemudian memberitahukan kepada para pegawainya. Akibatnya tiga orang karyawan Orient langsung mengajukan pengunduran diri. Kecemasan dan ketegangan melanda stasiun televisi yang bermarkas di Dubai tersebut. Untuk sementara Orient TV menghentikan tayangan aksi unjuk rasa hingga semangat para karyawan kembali seperti semula.

Abboud menjelaskan, dirinya menerima ancaman setelah melakukan wawancara dengan kelompok oposisi di Suriah, sebagai bagian dari komitmen untuk memberikan pandangan yang berbeda dengan apa yang disiarkan oleh media-media lainnya. Orient TV adalah kanal khusus yang disiarkan dari Dubai dan meraih sukses besar di Suriah. Orient termasuk dalam kategori 10 saluran televisi Arab terbaik. 

Namun Abboud menolak untuk membocorkan nama-nama pejabat yang mengancamnya lewat telepon. “Mereka lebih tinggi kedudukannya dari Assef Shawkat, tetapi mereka bukan Asef Shawkat," kata Abboud. Mayor Jenderal Assef Shawkat adalah suami dari adik Presiden Suriah Bashar al-Assad dan salah seorang tokoh paling penting di militer Suriah. 

Abboud juga membantah telah menerima tekanan dari pihak berwenang UAE yang menghalanginya untuk menyiarkan segala peristiwa yang terjadi di Suriah.

[http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/03/22/171379-liput-aksi-protes-stasiun-televisi-arab-diancam]

Pasukan Keamanan Suriah Serbu Demonstran di Luar Masjid, 4 Tewas
Rabu, 23 Maret 2011, 21:41 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DERAA-Sekurangnya enam orang tewas setelah pasukan keamanan menembaki para demonstran di luar sebuah masjid di kota Deraa, Suriah, Rabu.

Ratusan demontran berkumpul di jalan di luar masjid Omari guna mencegah pasukan keamanan menyerbu masjid tersebut. Masjid Omari selama ini menjadi pusat demonstrasi antipemerintah. Setidaknya sepuluh orang tewas sejak pecahnya aksi protes di sini.

Pemerintah menyalahkan sebuah kelompok bersenjata atas pecahnya bentrokan pada Rabu, dan mengatakan senjata tersimpan di dalam masjid.

Pada Selasa, setelah empat hari bentrokan, Deraa dalam kondisi relatif tenang. Ratusan orang berkumpul di sekitar masjid Omari di kawasan kota tua. Pada sore hari, sejumlah demonstran mulai mendirikan tenda di luar masjid, dan mengatakan akan tetap bertahan hingga tuntutan dipenuhi, yakni kebebasan politik yang lebih luas dan diakhirinya korupsi.

Namun, tak lama selepas tengah malam, aliran listrik dan telepon di kawasan tersebut diputus. Saksi mata mengatakan polisi kemudian menembakkan gas air mata dan peluru tajam kepada massa demontran di luar masjid.

Reuters melaporkan, Ali Ghassab al-Mahamid, seorang dokter yang menolong para korban kekerasan, terbunuh dalam peristiwa ini. Seorang saksi mata lainnya mengatakan ia ditembak mati oleh sniper.

Seorang aktivis mengatakan kawasan tersebut dalam kondisi gelap gulita. “Sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Sementara itu, pemerintah menyalahkan kelompok bersenjata, yang dikatakan menyerang tim medis dalam sebuah ambulan, membunuh seorang dokter, seorang petugas paramedis, dan supir. Televisi pemerintah melaporkan seorang petugas keamana juga tewas dalam peristiwa itu.

Televisi pemerintah kemudian menyiarkan gambar senjata yang diklaim disimpan di dalam masjid.

Pemerintah baru-baru ini menuduh para demonsran merupakan agen Israel dan para penyusup.

Demonstrasi di Deraa dipandang pemerintah sebagai ancaman serius, meski para demonstran tak menuntut mundur Presiden Bashar al-Assad yang menggantikan ayahnya 11 tahun lalu. Pemerintah telah memecat Gubernur wilayah Deraa, Faisal Kalthoum, yang merupakan salah satu tuntutan demonstran.

[http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/03/23/171882-pasukan-keamanan-suriah-serbu-demonstran-di-luar-masjid-4-tewas]

Enam Pemrotes Tewas di Tangan Pasukan Suriah
Rabu, 23 Maret 2011, 12:47 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS - Pasukan Suriah menewaskan sedikitnya enam orang, Rabu (23/3) dalam serangan terhadap satu kompleks masjid di kota selatan Deraa, lokasi protes-protes menentang pemerintah Baath yang dipimpin Presiden Bashar al Assad, kata penduduk. Mereka yang tewas itu termasuk Ali Ghassab al Mahamid, seorang dokter dari keluarga terkemuka Deraa yang pergi ke masjid Omari di bagian kota tua Deraa, yang terjadi persis setelah tengah malam, kata penduduk yang menolak menyebut namanya.

Sebelum serangan itu listrik dimatikan di daerah itu dan layanan telpon dihentikan. Teriakan 'Allahu Akbar' terdengar di seluruh lokasi permukiman di Deraa ketika tembakan itu dimulai. Tidak segera jelas apakah para pemerotes memiliki senjata.

Serangan itu menambah jumlah warga sipil yang tewas menjadi 10 orang akibat serangan pasukan Suriah dalam enam hari unjuk rasa yang menuntut kebebasan politik dan pemberantasan korupsi di negara yang berpenduduk 20 juta jiwa itu. Partai Baath yang berkuasa melarang oposisi dan memberlakukan undang-undang darurat sejak tahun 1963.

Tidak diperoleh segera komentar dari pemerintah Bashar, yang menghadapi tantangan terbesar terhadap pemerintahnya sejak menggantikan ayahnya Hafez al Assad tahun 2000. Gelombang kerusuhan di negara-negara Arab telah menggulingkan para pemimpin di Tunisia dan Mesir. Dokter Mohamid ditembak oleh seorang penembak jitu.

Jaringan telepon putus tetapi kami dapat menghubungi penduduk dekat masjid itu melalui jaringan telepon seluler Jordania," kata seorang penduduk. Deraa terletak di perbatasan dengan Jordania. Seorang aktivis politik, yang juga menolak menyebutkan namanya mengatakan "Kota tua itu gelap gulita dan masih sulit untuk mengetahui secara jelas apa yang terjadi." Serangan itu terjadi sehari setelah Kantor Hak Asasi Manusia PBB mengatakan pihak berwenang "harus menghentikan segera penggunaan kekuatan militer yang berlebihan terhadap para pemrotes damai, terutama penggunaan peluru tajam.

Para pemrotes, yang memasang tenda-tenda di kompleks masjid itu sebelumnya mengatakan mereka akan tetap di lokasi itu sampai tuntutan-tuntutan mereka dipenuhi. Imam masjid itu, Ahmad Siasneh mengemukakan kepada stasiun televisi Arabiya, Selasa bahwa protes di masjid itu berlangsung damai.

Para pemrotes juga berkumpul di kota terdekat Nawa. Pada Selasa, Wakil Presiden Farouq al Shara mengatakan Bashar berjanji akan "melanjutkan reformasi dan modernisasi di Suriah," kata stasiun televisi Al Manar.

Tuntutan utama para pemrotes adalah diakhirinya apa yang mereka sebut penindasan oleh polisi rahasia provinsi Deraa yang dipimpin saudara sepupu Bashar. Pihak berwenang menahan seorang aktivis terkemuka yang mendukung para pemrotes, kata Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah. 

Organisasi itu mengatakan Loay Hussein, seorang tahanan politik dari tahun 1984 sampai 1991, diciduk dari rumahnya dekat Damaskus. Suriah berada dalam undang-undang darurat sejak Partai Baath berkuasa tahun 1963, melarang oposisi dan menyebabkan kemunduran ekonmi dalam puluhan tahun yang ditandai dengan nasionalisasi.

Bashar mencabut beberapa larangan pada perusahaan-perusahaan swasta tetapi mengabaikan tuntutan-tuntutan untuk mencabut undang-undang darurat, membebaskan tahanan politik, membangun norma hukum, mengizinkan kebebasan menyatakan pendapat dan mengungkapkan nasib puluhan ribu orang pembangkang yang hilang pada tahun 1980-an.

Ia keluar dari pengucilan Barat dalam empat tahun belakangan ini menyangkut perang Suriah di Lebanon dan Irak dan mendukung kelompok-kelompok garis keras Palestina. Bashar memperkuat hubungan Suriah dengan Iran sementara ia berusaha memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat dan melakukan upaya perdamaian dengan Israel untuk merebut kembali Dataran Tinggi Golan yang direbut Israel dalam Perang Timur Tengah tahun 1967.

[http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/03/23/171698-enam-pemrotes-tewas-di-tangan-pasukan-suriah]

Memanasnya Perang Online di Suriah
Rabu, 23 Maret 2011, 12:02 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DUBAI – Aktivis online di Suriah mencemooh sikap pemerintah yang mencap demonstran anti-rezim sebagai "penyusup" atau "penyabot". Dan, mereka mengaku siap siaga menghadapi tipu daya pemerintah yang melacak para aktivis melalui penciptaan situs-situs palsu untuk mengambil IP address dan menangkap mereka.

Seorang pengamat Suriah, yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan kepada Al-Arabiya bahwa pemerintah menggunakan cookie dan membuat link internet palsu untuk melacak alamat individu-individu yang online.

"Kadang-kadang mereka (pemerintah) bergabung dengan kelompok online dan pura-pura menjadi aktivis anti-rezim hanya untuk mengumpulkan lebih banyak nama dan melacak lebih banyak orang," kata sang pengamat, Selasa (22/3).

Para aktivis memperingatkan tentang adanya upaya pemerintah yang bertujuan mengerdilkan kemurnian gerakan mereka. Aktivis mengklaim bahwa tayangan video yang disiarkan pemerintah, yang menunjukkan sejumlah pengunjuk rasa damai—termasuk seorang wanita berjilbab—yang diserang oleh polisi berpakaian biasa, telah direkam sebelumnya.

Para aktivis menuding pemerintah berusaha menayangkan video tersebut untuk menunjukkan kegiatan mereka yang penuh kebohongan. "Seperti drama teater, beberapa ekor anjing rezim pemerintah berkeliaran di jalanan," kata seorang aktivis di Youtube.

[http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/03/23/171688-memanasnya-perang-online-di-suriah]

Empat Demonstran Suriah Tewas Tertembak Peluru
Rabu, 23 Maret 2011, 09:48 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DAMASKUS - Sedikitnya empat orang tewas setelah pasukan keamanan menembak para demonstran yang berkumpul di depan Masjid di Kota Deraa Suriah. Aktivis HAM mengatakan ratusan orang berkumpul di jalanan di luar Masjid Omari untuk mencegah serangan tentara. Aliran listrik dimatikan.

Masjid itu menjadi tempat berkumpul para demonstran anti-pemerintah yang dilakukan sejak Jumat (19/3) lalu. Jumlah korban tewas setidaknya mencapai 10 orang dalam peristiwa serangan pasukan tentara.

Komisioner HAM PBB, Navi Pillay, mendesak pemerintah Suriah untuk melakukan investigasi yang transparan atas peristiwa kekerasan itu. "Kami sangat peduli dengan tewasnya para pemrotes di Suriah dan mengulangi pernyataan agar tidak menurunkan pasukan dalam jumlah besar untuk menghadapi demonstrasi damai, apalagi menggunakan amunisi (peluru) tajam," katanya. "Masyarakat memiliki hak yang sah untuk mengekspresikan keluhan dan permintaan kepada pemerintah. Kami mendesak Pemerintah Suriah melakukan dialog dengan para pemrotes."

Sementara itu, Uni Eropa sangat mengutuk kekerasan yang terjadi di Suriah. Laporan menyebutkan Gubernur wilayah Deraa, Faisal Kalthoum, telah dipecat sesuai dengan salah satu permintaan para demonstran.

Otoritas Suriah juga membebaskan 15 anak-anak yang ditahan karena menulis grafiti tentang pro-demokrasi yang mengundang orang-orang untuk berkumpul di Masjid Omari setelah sholat Jumat untuk meminta kemerdekaan politik. Meski demonstrasi yang terjadi di Suriah ini tidak meminta Presiden Assad mundur, tetapi kerusuhan ini merupakan tantangan serius bagi pemerintahannya yang telah berjalan selama 11 tahun.

[http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/03/23/171648-empat-demonstran-suriah-tewas-tertembak-peluru]

Paris Serukan Damaskus Kurangi Kekuatan Militer
Kamis, 24 Maret 2011, 20:16 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI – Tiga orang tewas pada Rabu Sore (23/3), termasuk bocah perempuan berusia 11 tahun, ketika terjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan di Suriah. Jumlah korban tewas akibat protes massa sejak Jumat pekan lalu menjadi 15 orang. Sementara ratusan lainnya luka-luka, dan sebagian dalam kondisi kritis.

Situs berita Al-Arabiya melaporkan, warga Damaskus keluar ke jalan dan meneriakkan slogan-slogan dukungan terhadap saudara mereka di kota Dara’a. Sejumlah saksi mata mengatakan warga-warga desa juga turun ke ibukota dalam rangka mendukung unjuk rasa yang menentang Presiden Suriah, Bashar al-Asad.

Dalam perkembangan lain, Bashar al-Assad mengeluarkan dekrit pemecatan Ahmed Faisal Kalthoum dari jabatannya sebagai gubernur Dara’a, akibat pecahnya kerusuhan Jumat lalu.

Sementara itu, Perancis meminta Suriah agar menahan diri dari penggunaan kekuatan berlebihan terhadap demonstran, terutama sejak tewasnya enam warga oleh serangan pasukan keamanan Suriah di Dara’a.

Saat ini suasana di kota Dara’a tegang dan lengang. Warga enggan keluar rumah dan kebanyakan toko tutup. Hanya aparat keamanan yang terlihat lalu-lalang di beberapa sudut kota.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/24/likcuy-paris-serukan-damaskus-kurangi-kekuatan-militer]

Demo Suriah Diwarnai Serangan Tentara ke Masjid
Kamis, 24 Maret 2011, 15:16 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Aksi demonstrasi di kota Dara’a, Suriah, Rabu (23/3) berbuah petaka. Sedikitnya 15 orang tewas, termasuk dokter, ketika pasukan keamanan Suriah melancarkan serangan menjelang fajar di Masjid Umari.

Para saksi mengatakan, puluhan orang tewas dan terluka, dan ratusan lainnya ditangkap. “Pasukan keamanan Suriah menyerbu kota Dara’a dan mulai menembakkan senjata kecil dan senapan mesin ketika saya tiba di Masjid Umari. Mereka menggunakan penutup mata ketika melakukan serangan di gelapnya malam,” tutur saksi tersebut.

Saksi lain menuturkan, pasukan keamanan juga mengevakuasi jenazah warga maupun korban yang terluka dari halaman Masjid Umari. Pihak berwenang menuduh ‘gerombolan bersenjata’ yang terlibat dalam serangan tersebut.

Washington mengutuk kekerasan terhadap demonstran di Suriah, sebagaimana dikatakan Kementerian Luar Negeri AS. Sekretaris-Jenderal PBB Ban Ki-moon, juga menyerukan penyelidikan mendalam untuk menahan mereka yang bertanggung jawab secara hukum. Presiden Suriah juga disarankan untuk melakukan reformasi politik.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/24/lijyz9-serangan-tentara-ke-masjid-warnai-demo-suriah]

Suriah Terus Tangkapi Demonstran
Kamis, 24 Maret 2011, 14:13 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DAMASKUS - Pengadilan Suriah memutuskan membebaskan enam orang tahanantermasuk wanitadari 32 tahanan yang ditangkap karena melakukan protes pada Rabu (23/3). Para tahanan ini melakukan protes dengan duduk-duduk di depan kantor Kementerian Dalam Negeri.

Mereka yang dibebaskan adalah Leila Labwani, Saba Hasan,  Ruba Labwani, Nasreen Khalid Hassan, Wafa Al-Hami dan Sirin Khoury. Namun, seperti dikutip situs Al-Sharq Al-Awsat, pembebasan ini tidaklah gratis. Pihak pengacara harus memberikan uang jaminan sebesar 5.000 pound Suriah (Rp 872 ribu) per kepala. 

Sebelumnya, enam orang tahanan yang dibebaskan ini berkumpul di depan gedung Departemen Dalam Negeri bersama puluhan warga lain untuk memprotes pemerintah. Mereka menyampaikan pesan dan memohon pihak berwenang agar membebaskan anak-anak mereka yang ditangkap ketika terjadi unjuk rasa pada 16 Maret lalu. Pasukan keamanan kemudian membubarkan aksi tersebut dan menangkap mereka.

Meskipun Suriah telah membebaskan keenam orang tersebut, organisasi-organisasi hak asasi manusia (HAM) di Suriah tetap mengecam pemerintah Suriah karena terus melakukan penangkapan secara sewenang-wenang. “Mereka melakukan unjuk rasa dengan damai, tapi pemerintah menangkap dan menahan mereka,” kecam salah satu kelompok HAM.  “Hingga kini pemerintah juga terus menahan sejumlah warga dari berbagai kota di Suriah. Sebagian besar tahanan berusia antara 17 tahun dan 25 tahun.”

Kelompok-kelompok pembela HAM ini juga prihatin dengan perkembangan yang terjadi di Suriah, apalagi dengan pemberlakuan keadaan darurat. “Penggunaan keadaan darurat tidak seperti yang diklaim pihak berwenang. Keadaan menjadi darurat karena negara yang memberlakukan aturan tersebut,” demikian pernyataan kelompok ini.

Mereka juga menuntut pemerintah Suriah segera melakukan reformasi politik dan mengakhiri korupsi di lembaga-lembaga pemerintahan.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/24/lijw3b-suriah-terus-tangkapi-demonstran]

Astagfirullah.. Tentara Suriah Tembaki Demonstran Hingga Dalam Masjid
Kamis, 24 Maret 2011, 13:45 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DAMASKUS – Aksi demonstrasi di kota Dara’a, Suriah, Kamis (24/3) berbuah petaka. Sedikitnya 15 orang tewas, termasuk dokter, ketika pasukan keamanan Suriah melancarkan serangan menjelang fajar di Masjid Umari. 

Para saksi mengatakan bahwa puluhan orang tewas dan terluka. Ratusan lainnya ditangkap.

Pasukan keamanan Suriah menyerbu kota Dara’a dan mulai menembakkan senjata kecil dan senapan mesin ketika aku tiba di Masjid Umari. Mereka menggunakan penutup mata ketika melakukan serangan di gelapnya malam,” tutur saksi tersebut seperti dikutip situs Al-Sharq Al-Awsat.

Saksi lain menuturkan, pasukan keamanan juga mengevakuasi jenazah warga maupun korban yang terluka dari halaman Masjid Umari. Pihak berwenang menuduh ‘gerombolan bersenjata’ yang terlibat dalam serangan tersebut. 

Washington mengutuk kekerasan terhadap demonstran di Suriah, sebagaimana dikatakan Kementerian Luar Negeri AS. Sekretaris-Jenderal PBB, Ban Ki-moon, juga menyerukan penyelidikan mendalam untuk menahan mereka yang bertanggung jawab secara hukum. Presiden Suriah juga disarankan untuk melakukan reformasi politik.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/24/lijusm-astagfirullah-tentara-suriah-tembaki-demonstran-hingga-dalam-masjid]

Suriah Rusuh, Seorang Gadis Cilik Tewas
Kamis, 24 Maret 2011, 12:27 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DUBAI - Tiga orang tewas, termasuk bocah perempuan berusia 11 tahun, ketika terjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan di Suriah pada Rabu (23/3) sore. Jumlah korban tewas akibat protes massa sejak Jumat pekan lalu menjadi 15 orang. Sementara, ratusan lainnya luka-luka dan sebagian dalam kondisi kritis.

Situs berita Al-Arabiya melaporkan, warga Damaskus keluar ke jalan dan meneriakkan slogan-slogan dukungan terhadap saudara mereka di kota Dara’a. Sejumlah saksi mata mengatakan warga-warga desa juga turun ke ibukota dalam rangka mendukung unjuk rasa yang menentang Presiden Suriah Bashar al-Asad.

Dalam perkembangan lain, Bashar al-Assad mengeluarkan dekrit pemecatan Ahmed Faisal Kalthoum dari jabatannya sebagai gubernur Dara’a. Pemecatan tersebut sebagai akibat pecahnya kerusuhan Jumat lalu. 

Sementara itu, Prancis meminta Suriah agar menahan diri dari penggunaan kekuatan berlebihan terhadap demonstran. Terutama sejak tewasnya enam warga oleh serangan pasukan keamanan Suriah di Dara’a.

Saat ini suasana di kota Dara’a tegang dan lengang. Warga enggan keluar rumah dan kebanyakan toko tutup. Hanya aparat keamanan yang terlihat lalu-lalang di beberapa sudut kota.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/24/lijr5r-suriah-rusuh-seorang-gadis-cilik-tewas]

Sekjen PBB Serukan Investigasi atas Kekerasan di Suriah
Kamis, 24 Maret 2011, 07:59 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon berharap investigasi dilakukan terhadap kekerasan di Suriah, menyusul laporan yang menyebutkan tewasnya sejumlah pengunjuk rasa Suriah penentang pemerintah.

"Investigasi yang transparan harus dilakukan terhadap kasus pembunuhan itu dan para pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Ban seperti dikutip juru bicaranya Martin Nesirky di Markas Besar PBB, New York, Rabu.

Laporan-laporan media mengungkapkan setidaknya sudah enam orang tewas dan sejumlah warga lainnya luka-luka setelah pasukan keamanan melancarkan tembakan ke arah para pengunjuk rasa di luar Masjid Omari di Daraa, kota di Suriah bagian selatan.

Sekjen, ujar Nesirky, menegaskan imbauannya agar pihak berwenang Suriah menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan dan meminta pihak berwenang untuk mematuhi komitmen internasional menyangkut hak asasi manusia, termasuk hak warganya untuk berserikat secara damai.

Kecaman juga dilontarkan Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri dari Washington, DC. AS menyatakan sangat prihatin atas terjadinya kekerasan serta tewasnya sejumlah warga sipil oleh pasukan keamanan di Daraa. "Kami prihatin terhadap penggunaan kekerasan, intimidasi serta penahanan sewenang-wenang oleh Pemerintah Suriah dalam merintangi rakyatnya untuk menjalankan hak-hak universal mereka secara bebas," kata juru bicara Deplu-AS, Mark C Toner.

"Kami mengimbau Pemerintah Surian untuk menahan diri agar melakukan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa damai," tambah Mark Toner. Suriah saat ini menjadi salah satu negara di wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah yang sedang menghadapi pemberontakan warganya yang menuntut kebebasan dan reformasi demokratis.

Gelombang protes dimulai di Tunisia pada Januari lalu, yang akhirnya berhasil menggulingkan pemimpin yang telah berkuasa sekian lama, Zine El Abidine Ben Ali.

Setelah itu, gelombang yang sama juga melanda Mesir hingga memaksa Presiden Hosni Mubarak mundur dari jabatannya.

Gelombang unjuk rasa juga melanda Libya sejak Januari lalu, mendesak Muamar Gaddafi untuk turun dari jabatannya sebagai pemimpin Libya. Daraa, kota yang terletak sekitar 100 kilometer di selatan ibu kota Suriah, Damaskus, sejak akhir pekan lalu menjadi tempat demonstrasi hebat dan jarang terjadi di negara tersebut.

Media melaporkan, unjuk rasa di Suriah itu diilhami oleh demonstrasi rakyat menuntut pembaruan dan demokrasi di Tunisia serta Mesir. Demonstrasi meletus sejak Selasa (22/3) setelah keluarga para tawanan politik mengadakan unjuk rasa di dekat kementerian dalam negeri di Damaskus tengah untuk meminta pembebasan mereka.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/24/lijeqq-sekjen-pbb-serukan-investigasi-atas-kekerasan-di-suriah]

Oposisi Suriah di Pengasingan Desak Prancis Tekan Presiden Bashar
Jumat, 25 Maret 2011, 19:47 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,PARIS--Para pemimpin oposisi Suriah di pengasingan di Paris menyerukan penggulingan Presiden Bashar al Assad, dan meminta Prancis tetap menekan pemimpin Suriah itu "menghentikan pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah." "Negara Suriah harus tetap bediri, tetapi rezim itu harus jatuh," kata Anas Al Abdeh, pemimpin Gerakan untuk Keadilan dan Pembangunan yang berpusat di London kepada wartawan, Kamis.

Dipihaknya ada dua pemimpin oposisi lainnya, Sarkis Sarkis dari Gerakan Sosialis Arab, dan Abdulhamid Alatassi dari Partai Rakyat Demokratik Suriah. "Eropa, dan Prancis khususnya Prancis memiliki tanggung jawab untuk melakukan tekanan langsung dan keras terhadap rezim Suriah agar menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak bersalah," kata Al Abdeh, yang berbicara dalam bahasa Arab.

Uni Eropa dan Prancis harus segera melakukan pertemuan dengan para duta besar Suriah untuk menyampaikan pesan ini kepada Bashar, tambahnya. Beberapa hari sebelumnya sekitar 100 orang tewas dalam protes-protes di kota Deraa.

Pada hari Kamis pemerintah Suriah mengumumkan pembebasan semua aktivis yaang ditahan sejak protes-protes di jalan yang dimulai sebulan lalu, dan mengatakan pihaknya mungkin mencabut undang-undang darurat yang diberlakukan sejak tahun 1963. "Kezaliman yang dilakukan rezim Suriah dalam puluhan tahun belakangan ini luar biasa," kata Alatassi yang berbicara dalam bahasa Prancis.

Alatassi, yang meninggalkan Suriah tahun 1976, dan Al Abdeh adalah para penandatangan "Deklarasi Damaskus" tahun 2006 yang menyerukan sistem multi partai dan pencabutan keadaan darurat. Para aktivis di Suriah berikrar Jumat akan melanjutkan unjuk-unjuk rasa menentang "ketidak adilan dan penindasan" setelah sholat Jumat, menolak janji-janji reformasi yang diumumkan pihak penguasa pada hari sebelumnya.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/25/lim67m-oposisi-suriah-di-pengasingan-desak-prancis-tekan-presiden-bashar]

Korban Tewas dalam Serangan di Dara'a Jadi 45 Orang
Jumat, 25 Maret 2011, 18:08 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DARA'A - Sekitar 20.000 orang turun ke jalan sambil meneriakkan yel-yel yang menuntut kemerdekaan di kota Dara'a, Suriah, Jumat (25/3). Warga Dara'a melakukan unjuk rasa di sela-sela pemakaman para korban yang tewas akibat serangan pasukan keamanan di Masjid Umari sehari sebelumnya.

Imam Masjid Umari Syekh Ahmad Sayasanah mengatakan, sebanyak 45 orang meninggal dunia dan 60 lainnya luka-luka. "Mengantarkan jenazah para korban yang meninggal dunia ini bagaikan mimpi buruk, dan hingga kini proses pemakaman masih belum usai," kata Sayasanah sebagaimana dikutip koran Al-Sharq Al-Awsat.

Menurut sejumlah saksi mata, sebanyak 18 orang korban yang meninggal adalah orang-orang ternama, di antaranya insinyur dan kontraktor terkemuka di Dara'a, Horan Ashraf Al-Masri.

Sayasanah menambahkan, ia telah berkunjung ke Damaskus untuk menemui kepala keamanan setempat, meminta pembebasan warga yang ditahan. "Mulai saat ini warga diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati," ujarnya, merujuk pada situasi  keamanan yang kian mencekam.

Sementara itu, para aktivis hak asasi manusia (HAM) dan sejumlah saksi mata yang  dikonfirmasi menyebut korban yang meninggal akibat serangan brutal aparat keamanan Suriah tak kurang dari seratus orang. "Bahkan mungkin lebih dari seratus orang  yang tewas," kata Ayman Al-Aswad, salah seorang aktivis.

Ia menambahkan, dibutuhkan waktu hingga sepekan lamanya untuk mengubur para korban.  "Pembantaian di Dara'a mengingatkan kita tentang apa yang terjadi di Zawiyah dan  Misurata (Libya). Di mana rakyat dibantai secara keji oleh rezim Qaddafi, setelah  kedua kota itu jatuh ke tangan pemberontak," tandasnya.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/25/lim1lq-korban-tewas-dalam-serangan-di-daraa-jadi-45-orang]

Bujuk Demonstran, Suriah Bakal Hapus Keadaan Darurat
Jumat, 25 Maret 2011, 09:28 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DERAA - Sebuah komite dibentuk Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk mempelajari kemungkinan penghapusan keadaan darurat di negara itu. Demikian disampaikan penasihat presiden Kamis (24/3).

Komite tersebut juga harus mempelajari bagaimana cara meningkatkan standar hidup rakyat Suriah. Disamping  itu, Assad juga berjanji akan merombak hukum untuk memberi kebebasan kepada media dan ruang bagi lebih banyak partai politik, tambah penasehat Assad.

Presiden juga menunjukkan komitmen untuk melakukan penyelidikan terhadap kekerasan yang terjadi di Deraa. Di kota sebelah selatan Suriah tersebut, beberapa hari terakhir terjadi bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan yang menewaskan puluhan orang. 

Menurut Assad, dia tidak memberi mandat untuk menggunakan kekerasan terhadap para pendemo. Keadaan darurat pertama kali diberlakukan pada 1963. Dengan keputusan tersebut, membuat tentara atau polisi dapat campur tangan ketika terjadi demonstrasi. 

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/25/lildjw-bujuk-demonstran-suriah-bakal-hapus-keadaan-darurat]

17 Tewas dalam Serangan Terhadap Demonstran di Suriah
Sabtu, 26 Maret 2011, 07:48 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DAMASKUS--Sebanyak 17 orang tewas Jumat ketika massa demonstran yang bergerak menuju kota protes Daraa, Suriah, diserang tembakan, kata seorang aktivis hak asasi manusia. "Tujuh-belas pemrotes tewas dalam penembakan di desa Sanamen ketika mereka bergerak menuju Daraa," sebuah kota suku 100 kilometer sebelah selatan Damaskus, kata aktivis yang tidak bersedia disebutkan namanya itu kepada AFP.

Laporan itu tidak bisa dikonfirmasi oleh sumber-sumber independen atau rumah sakit di daerah tersebut. Aktivis yang berkantor di Daraa itu mengatakan, pasukan keamanan Jumat juga menembaki pemrotes yang berkumpul di kota itu di dekat rumah gubernur, yang dipecat sebelumnya pekan ini.

Aktivis menuduh pasukan keamanan membunuh lebih dari 100 orang pada Rabu saja di kota itu, yang menjadi tempat tinggal sekitar 75.000 orang. Wartawan pada Jumat diminta meninggalkan Daraa, sebuah kota suku dekat perbatasan Suriah-Yordania, tak lama setelah pemakaman dua orang yang tewas dalam penembakan terhadap pemrotes pada pekan ini.

Sejumlah wartawan AFP melihat pasukan militer ditempatkan di jalan-jalan yang menuju Daraa ketika para jurnalis itu dikawal keluar dari kota tersebut. Suriah bulan ini mulai dilanda protes yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menuntut reformasi besar-besaran di negara yang dikuasai Partai Baath selama hampir 50 tahun itu.

Aktivis pro-demokrasi di sejumlah negara Arab, termasuk Suriah, terinspirasi oleh pemberontakan di Tunisia dan Mesir yang berhasil menumbangkan pemerintah yang telah berkuasa puluhan tahun. Buntut dari demonstrasi mematikan selama lebih dari dua pekan di Mesir, Presiden Hosni Mubarak mengundurkan diri Jumat (11/2) setelah berkuasa 30 tahun dan menyerahkan kekuasaan kepada Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata, sebuah badan yang mencakup sekitar 20 jendral yang sebagian besar tidak dikenal umum sebelum pemberontakan yang menjatuhkan pemimpin Mesir itu.

Sampai pemilu dilaksanakan, dewan militer Mesir menjadi badan eksekutif negara, yang mengawasi pemerintah sementara yang dipimpin perdana menteri. Di Tunisia, demonstran juga menjatuhkan kekuasaan Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali pada Januari.

Ben Ali meninggalkan negaranya pertengahan Januari setelah berkuasa 23 tahun di tengah tuntutan yang meningkat agar ia mengundurkan diri meski ia telah menyatakan tidak akan mengupayakan perpanjangan masa jabatan setelah 2014. Ia dikabarkan berada di Arab Saudi. Ia dan istrinya serta anggota-anggota lain keluarganya kini menjadi buronan dan Tunisia telah meminta bantuan Interpol untuk menangkap mereka.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/26/lin1ru-17-tewas-dalam-serangan-terhadap-demonstran-di-suriah]

Pasukan Suriah Serbu Kota Latakia
Minggu, 27 Maret 2011, 19:06 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS-- Pasukan Suriah, Ahad, memasuki kota Latakia di utara tempat para penembak gelap membunuh empat orang yang meningkatkan ketegangan di negara itu kendatipun pemeritah berjanji akan melakukan reformasi.

"Tentara memasuki Latakia... untuk menghentikan perusakan dan pembunuhan," kata surat kabar Al Watan yang pro pemerintah. Al Watan memberitakan dua personil badan keamanan tewas, Sabtu dan 70 tentara cedera di Latakia, 350km barat laut ibu kota Damaskus.

Pejabat tinggi Suriah mengatakan para penembak gelap menembak dan membunuh dua orang yang sedang lewat Sabtu di pelabuhan yang indah itu, salah satu dari daerah-daerah Suriah yang paling maju dan kota berpenduduk dari berbagai agama dan etnik.

Pihak berwenang menuduh para pengungsi Palestina dari satu kamp terdekat ingin meningkatkan kerusuhan sektarian di Latakia, tempat tinggal 450.000 warga Kristen, Muslim Sunni dan Syiah. Pertumpahan darah Sabtu adalah yang terbaru dalam aksi-aksi kekerasan yang melanda Suriah sejak protes-protes meletus 15 Maret dengan para pengunjuk rasa menuntut reformasi-reformasi besar di Suriah.

Protes-protes itu membuat tertekan Presiden Bashar al Assad dan Partai Baath yang dipimpinnya yang menguasai Suriah dengan tangan besi hampir lima dasa warsa. Para pejabat mengonfirmasikan 28 orang tewaa setelah unjuk-unjuk rasa dimulai tetapi para aktivis mengatakan lebih dari 126 orang meninggal, dengan 100 orang tewas pada hari Rabu saja dalam tindakan keras berdarah terhadap para pemrotes di Daraa, kota suku di selatan yang menjadi simbol protes-protes.

Surat-surat kabar Suriah di halaman depan menampilkan berita utama Ahad pertumpahan darah di Latakia, dan surat kabar pemerintah Tishrin mengatakan 150 orang cedera di kota itu akibat kerusuhan Jumat dan Sabtu.

Al Watan menyalahkan "para penjahat kejam" dan mengatakan "identitas mereka akan segera diungkapkan."

Penasehat presiden Buthaina Shaaban mneyalahkan warga Palestina dari kamp pengungsi Raml, di pinggrian Latakia. "Sejumlah pengungsi Palestina dari kamp Raml ingin memprovokasi bentrokan sektarian dengan melepaskan tembakan ke pasukan keamanan dan ke para pemrotes," katanya kepada wartawan, Sabtu.

Di kota Daraa, di perbatasan Jordania , sekitar 300 pemuda Sabtu menaiki puing sebuah patung almarhum Hafez al Assad, ayah Bashar meneriakkan sloga-slogan anti rezim, kata para saksi mata. Para pengunjuk rasa di Daraa, Jumat merubuhkan patung itu dan membakar rumah gubernur yang dipecat setelah unjuk rasa terhadapnya awal bulan ini.

Daraa menjadi pusat protes-protes dam mengalami korban terbanyak sementara penduduk terus datang untuk ikut berdemonstrasi. Pihak berwenang pekan lalu mengumumkan serangkaain reformasi dalam usaha meredakan para pemrotes yang marah, yang menempatkan Bashar dalam tekanan domestik yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak ia berkuasa 11 tahun lalu.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/27/liptmb-pasukan-suriah-serbu-kota-latakia]

Syekh Qaradhawi Kecam Serangan ke Masjid di Suriah
Minggu, 27 Maret 2011, 11:26 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DOHA  - Ulama ternama asal Mesir yang kini bermukim di Qatar, Syekh Yusuf Qaradhawi, menyatakan dukungannya terhadap revolusi yang terjadi di Suriah. “Kereta revolusi kini tiba di stasiunnya,” kata Qaradhawi, Sabtu (26/3).

Syekh Qaradhawi mengecam keras penyerbuan yang dilakukan aparat keamanan Suriah terhadap warga Dara’a yang akan menewaskan puluhan orang tak bersalah di Masjid Umari. “Serangan terhadap kesucian rumah Allah itu tak lepas dari keterlibatan Syiah Alawi,” kata ulama kharismatis ini. “Bashar memiliki hubungan dengan Syiahdia adalah tawanan Syiah!

Ketua Persatuan Ulama Internasional ini mengatakan, aparat keamanan tidak peduli dengan kesucian rumah Allah sehingga seenaknya melakukan pembunuhan di dalamnya. “Warga hanya melakukan revolusi damai, tanpa senjata, batu atau tongkat. Namun mereka dibantai secara keji dengan senapan mesin. Tidak hanya membunuh di masjid, aparat juga membunuh warga di rumah-rumah mereka,” ungkapnya. 

Ulama yang dikenal tegas ini mengutuk langkah-langkah yang diambil pemerintah Suriah dalam menghadapi gelombang revolusi. Dia menyebut Presiden Suriah Bashar Al-Assad sebagai sosok sektarian yang dikendalikan oleh kekuatan Syiah. “Dia muda dan terpelajar, dan memiliki waktu panjang untuk belajar dan berbuat banyak. Namun dia menjadi tawanan dan bujang golongan Alawi,” ujarnya. 

Menurut Qaradhawi, Suriah tak dapat dipisahkan dari sejarah bangsa Arab, sehingga tak mungkin kebal terhadap revolusi. “Sebagian mereka mengatakan Suriah kebal terhadap revolusi ini, bagaimana bisa? Bukankah Suriah juga bagian dari bangsa Arab? Apakah hukum Allah tidak berlaku pada bangsa dan masyarakatnya? Suriah sama seperti yang lain, ia termasuk bagian pertama revolusi,” tegasnya.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/27/lip8co-syekh-qaradhawi-kecam-serangan-ke-masjid-di-suriah]

PM Turki Desak Suriah Dengarkan Permintaan Reformasi
Senin, 28 Maret 2011, 19:56 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,ANKARA--Turki menyarankan Suriah "menanggapi positif" permintaan rakyat mengenai reformasi, kata Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan pada Senin. "Kami menyarankan Tuan Assad menanggapi positif permintaan rakyat dengan pendekatan reformis. Itu akan membantu Suriah mengatasi masalah dengan lebih mudah," kata Erdogan kepada wartawan sebelum meninggalkan Ankara untuk kunjungan ke Irak.

Erdogan mengatakan berbicara dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad dua kali dalam tiga hari belakangan dan berbicara mengenai "kepekaan" Turki mengenai kejadian di Suriah. "Kami memiliki perbatasan 800 kilometer (dengan Suriah) dan kami memiliki hubungan kekeluargaan. Kami tidak dapat tetap diam," kata Erdogan.

Ia mengatakan Assad tidak menyatakan "tidak" atas permintaannya melakukan reformasi dan ia berharap Assad pribadi yang mengumumkan kepada rakyat mengenai rencana reformasi di Suriah, "baik hari ini maupun besok". Erdogan mengatakan bahwa kepala Badan Intelijen Nasional Turki (MIT) mengunjungi Suriah pada Minggu untuk membahas dan menunjukkan bahwa Turki memperhatikan dengan cermat perkembangan di negara itu.

Suriah diguncang unjuk rasa menentang pemerintahan selama dua pekan, memicu pemerintah Suriah pada Minggu mengumumkan akan menghakhiri masa Undang-undang darurat, yang berlaku selama beberapa dasawarsa. Pencabutan undang-undang darurat di negara itu akan mengakhiri keadaan ketat, yang ditetapkan sejak Partai Baath berkuasa pada Maret 1963.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/28/lirqmy-pm-turki-desak-suriah-dengarkan-permintaan-reformasi]

China Khawatir Perkembangan di Timur Tengah
Senin, 28 Maret 2011, 09:20 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS-- Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moallem, Ahad, bertemu di Damaskus dengan utusan khusus China untuk Timur Tengah Wu Sike. Keduanya saling bertukar pandangan mengenai hubungan bilateral, proses perdamaian Timur Tengah serta masalah regional.

Wu Sike mengatakan, China sangat prihatin dengan dampak perkembangan-perkembangan di kawasan itu saat ini terhadap proses perdamaian Timur Tengah, dan bahwa masyarakat internasional harus tidak mengabaikan proses perdamaian termasuk isu Dataran Tinggi Golan Suriah karena perubahan baru itu.

Sementara itu, al-Moallem menyampaikan penghargaan Suriah atas dukungan sejak lama China kepada Suriah dan negara-negara Arab lainnya dalam mengembalikan hak mereka yang sah.

Ia juga menyatakan kesediaan Suriah untuk mencapai perdamaian melalui negosiasi, dan mengatakan jika Israel mengembalikan Dataran Tinggi Golan yang direbut pada tahun 1976, Suriah bersedia untuk berbicara dengan Israel tentang isu-isu lainnya.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/28/liqx5d-china-khawatir-perkembangan-di-timur-tengah]

Pulihkan Situasi Latakia, Suriah Kerahkan Pasukan Besar-besaran
Senin, 28 Maret 2011, 08:18 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,Pasukan keamanan Suriah berjuang memulihkan keadaan di kota Latakia di bagian utara negeri itu, Ahad (27/3), setelah dua hari kekacauan yang menewaskan 14 orang dan melukai lebih dari 150 orang.

Tentara telah digelar dalam jumlah besar di Latakia, kota pelabuhan yang memiliki warga dengan beragam agama dan terletak 350 kilometer di sebelah barat-laut Damaskus, sebagai reaksi atas gelombang kerusuhan yang telah membuat Presiden Bashar Al-Assad menghadapi tekanan yang tak pernah ada sebelumnya.

Pemerintah telah menuduh kelompok fundamentalis berusaha menyulut kerusuhan sektarian di kota tersebut. Sebanyak 13 orang secara resmi telah dikonfirmasi tewas akibat luka tembak yang melibatkan penembak jitu sejak Jumat (25/3). Dua korban dikuburkan pada Ahad.

Beberapa pejabat telah mengatakan lebih dari 30 orang telah dikonfirmasi tewas dalam kerusuhan itu, sejak gelombang kerusuhan mulai meletus awal Maret, di tengah seruan bagi pembaruan besar di negeri tersebut, yang dikuasai oleh partai Baath sejak 1963.

Namun para pegiat mengatakan lebih dari 126 orang telah tewas, dan penambahan 100 korban tewas pada Rabu (23/3) saja dalam penindasan terhadap pemrotes di Dara'a, kota suku di bagian selatan negeri itu yang telah jadi lambang ketidak-puasan.

Jalan-jalan di Latakia, tempat tinggal 450.000 orang, sepi sama sekal pada Ahad dan semua toko tetap tutup. Bangunan di pusat perdagangan memperlihatkan tanda kerusakan dan bekas terbakar, sementara penduduk mengatakan mereka tinggal di dalam rumah karena khawatir terhadap babak baru kerusuhan mematikan yang mencengkeram kota tersebut pada akhir pekan.

"Putriku dan suaminya berjalan menyusuri jalan di dekat Masjid Khaled ibn Walid di sini di kota kami, ketika lututnya cedera oleh peluru penembak gelap," kata seorang perempuan di samping ranjang putrinya di rumah sakit yang dikelola pemerintah. "Kaki kirinya telah diamputasi," katanya.

Penduduk juga berbicara mengenai gerombolan penjarah yang bersenjatakan tongkat dan pisau, penembakan dari dalam kendaraan yang melaju ke rumah sakit yang dikelola pemerintah tersebut Ahad pagi dan penjahat ganas yang memukuli orang di jalan.

Kerusuhan di seluruh Suriah telah membuat Presiden Bashar Al-Assad menghadapi tekanan berat. Bashar menggantikan ayahnya Hafez Al-Assad setelah ayahnya meninggal pada 2000, dan Presiden yang berusia 45 tahun itu dijadwalkan menyampaikan pidato terbuka dalam beberapa hari ke depan.

Pemerintah telah mengumumkan serangkaian pembaruan dalam upaya menarik hati pemrotes, termasuk pembebasan tahanan dan rencana memperbarui hukum mengenai media dan pemberian izin kepada partai politik.

Suriah juga telah memutuskan untuk mencabut peraturan darurat di negeri tersebut, yang ditetapkan pada Desember 1962 dan berlaku sejak Partai Baath berkuasa pada Maret 1963.

Partai itu menerapkan pembatasan bagi gerakan dan pertemuan terbuka dan mensahkan penangkapan "tersangka atau orang yang mengancam keamanan".

Peraturan tersebut juga mensahkan interogasi terhadap setiap orang dan pengawasan komunikasi perorangan serta pengendalian resmi isi surat kabar dan media lain sebelum diterbitkan.

Tapi pemrotes telah berikrar akan terus turun ke jalan sampai semua tuntutan mereka bagi kebebasan lebih besar dipenuhi.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/28/liqubc-pulihkan-situasi-latakia-suriah-kerahkan-pasukan-besarbesaran]

Puluhan Aktivis Demonstrasi Suriah Ditangkap
Senin, 28 Maret 2011, 07:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON - Puluhan aktivis telah ditahan dalam demonstrasi di seluruh Suriah (25/3), Jumat, kata kelompok hak asasi manusia Syrian Observatory for Human Rights yang bermarkas di London, Ahad (27/3).

"Kami telah diberi informasi bahwa puluhan demonstran telah ditahan dalam demonstrasi Jumat di berbagai kota dan (kami) memiliki daftar nama mereka," tutur kelompok itu dalam keterangan pers.

Kelompok itu menyusuli keterangan persnya dengan daftar 41 nama orang yang menurut laporan telah ditahan di dan sekitar Damaskus, Homs, Deir al-Zor dan kota lainnya. "Pasukan keamanan di Damaskus juga telah menahan Doha Hasan dan Zahet Almein hari ini, Ahad," mereka menambahkan.

Amnesty International telah menyusun daftar 93 orang yang ditangkap bulan ini, beberapa orang ditangkap karena kegiatan mereka di Internet, di kota antara lain Damaskus, Aleppo, Banias, Daraa, Hama dan Homs.

Demonstrasi telah meletus di Suriah dalam dua pekan terakhir dengan kota Daraa di selatan muncul sebagai pusat gerakan yang meminta pembaruan besar itu.

Beberapa aktivis mengatakan bahwa lebih dari 120 orang telah tewas dalam kekacauan itu. Berbeda dengan mereka, para pejabat hanya mengkonfimasi sekitar 30 kematian.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/28/liqqog-puluhan-aktivis-demonstrasi-suriah-ditangkap]

12 Tewas dalam Bentrokan di Latakia Suriah
Senin, 28 Maret 2011, 06:59 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DAMASKUS--Duabelas orang tewas dalam bentrokan Sabtu di kota Latakia, Suriah utara, kata penasihat presiden Buthaina Shaaban kepada AFP, Minggu. "Jumlah resmi kematian di Latakia pada Sabtu adalah 10 orang -- warga dan anggota pasukan keamanan -- dan dua orang bersenjata," kata Shaaban.

Pasukan Suriah memasuki kota pelabuhan Latakia, 350 kilometer sebelah baratlaut Damaskus, sehari setelah seorang pejabat mengatakan bahwa dua orang yang lewat dibunuh oleh penembak gelap. Bentrokan mematikan Sabtu itu merupakan yang terakhir dari rangkaian kekerasan yang melanda Suriah sejak protes meletus pada 15 Maret, dimana demonstran menuntut reformasi besar-besaran.

Lebih dari 30 orang secara resmi dinyatakan tewas dalam lingkaran kekerasan itu. Namun, sejumlah aktivis mengatakan, 126 orang tewas dalam kekerasan itu -- 100 orang tewas pada Rabu saja dalam protes di Daraa, kota suku wilayah selatan yang menjadi simbol penentangan para pemrotes.

Pemerintah mengumumkan serangkaian langkah reformasi dalam upaya menenangkan pemrotes, termasuk pembebasan tahanan dan rencana membuat undang-undang baru mengenai media dan perizinan bagi partai politik. Suriah juga memutuskan pencabutan undang-undang darurat, yang disusun pada Desember 1962 dan diberlakukan sejak Partai Baath berkuasa pada Maret 1963.

Suriah bulan ini mulai dilanda protes yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menuntut reformasi besar-besaran di negara yang dikuasai Partai Baath selama hampir 50 tahun itu.

Aktivis pro-demokrasi di sejumlah negara Arab, termasuk Suriah, terinspirasi oleh pemberontakan di Tunisia dan Mesir yang berhasil menumbangkan pemerintah yang telah berkuasa puluhan tahun.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/28/liqqjs-12-tewas-dalam-bentrokan-di-latakia-suriah]

Perdana Menteri Baru Suriah Mundur
Selasa, 29 Maret 2011, 21:08 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS - Perdana Menteri Suriah Mohammad Naji Otri pada Selasa mengajukan undur diri kepada Presiden Suriah Bashar Al Assad. Ia sebelumnya ditunjuk sebagai pejabat sementara perdana menteri, kata media setempat.

"Presiden Assad hari ini menerima undur diri pemerintahan Muhammad Naji Otri dan menunjuknya sebagai pengurus jabatan itu sambil menunggu kabinet baru," kata laporan kantor berita resmi SANA.

Pemerintahan baru, yang diperkirakan dibentuk pada hari selanjutnya, akan menghadapi pelaksanaan rangkaian reformasi, yang dijanjikan negara setelah unjuk rasa, yang menginginkan lebih banyak kebebasan di negara berpemerintahan Baath itu pada pertengahan Maret.

Reformasi diperkirakan mengakhiri undang-undang darurat, yang diberlakukan sejak partai Baath berkuasa pada 1963 dan memberikan kebebasan bagi media serta partai poltik.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/29/litom0-perdana-menteri-baru-suriah-mundur]

Pendukung Presiden Suriah Gelar Aksi Tandingan
Selasa, 29 Maret 2011, 21:07 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS - Puluhan ribu warga Suriah berkumpul di ibu kota Damaskus dan kota lain untuk melakukan gerakan besar mendukung Presiden Suriah, Bashar Al Assad.

Dalam gerakan disiarkan langsung oleh televisi tersebut, pengunjuk rasa mengibarkan bendera Suriah dan berteriak mendukung Assad.

Unjuk rasa dukungan lain juga dilakukan di kota utara, Aleppo, tempat Assad menghadapi tantangan terbesar atas 11 tahun kepemimpinannya setelah unjuk rasa terkenal meminta kebebasan.

Sejumlah unjuk rasa menentang pemerintah di kota selatan, Daraa, pada dua pekan lalu menyebar ke beberapa kota di Suriah, termasuk Aleppo, Damaskus dan pelabuhan utama negara itu, Latakia.

Menurut pemantau hak asasi manusia, setidak-tidaknya 61 orang tewas sejak 18 Maret akibat pasukan keamanan Suriah melakukan kekerasan serta mengepung pengunjuk rasa.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/29/litojw-pendukung-presiden-suriah-gelar-aksi-tandingan]

Assad Akan Pidato, Rakyat tak Ambil Pusing
Selasa, 29 Maret 2011, 18:11 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DAMASKUS - Wakil Presiden Suriah, Farouq Al-Shara, mengumumkan bahwa Presiden Bashar Al-Assad dalam dua hari ini akan berbicara kepada rakyatnya. "Presiden Assad akan menyampaikan pidato penting dalam dua hari berikutnya, untuk meyakinkan dan menenangkan seluruh rakyat,” kata Shara kepada wartawan di Damaskus, Senin (28/3), tanpa menjelaskan lebih lanjut maksud pidato tersebut.

Tapi bagi Muhammad Habash, anggota Dewan Majelis Rakyat Suriah, yang diharapkan rakyat dari pidato Presiden Assad adalah pengumuman pencabutan undang-undang darurat yang telah menghambat kehidupan negara, dan menghalangi kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat. "Kami juga menunggu pemutihan dan pembebasan semua tahanan politik, sehingga seluruh rakyat tenang dan dapat mengubah tuntutan mereka menjadi permintaan yang wajar,” ujarnya.

Sementara itu, Hassan Abdul Azim, Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Sosialis dan juru bicara oposisi Aliansi Nasional Demokratik mengatakan, jalan-jalan kota Suriah telah mendidih dan kaum muda telah bergerak. “Ini membutuhkan inisiatif cepat untuk meyakinkan rakyat dan menjamin kebebasan berkumpul dan demonstrasi damai dalam mengekspresikan tuntutan mereka yang sah,” katanya.

Azim juga meminta rezim Suriah segera membebaskan seluruh tahanan politik dan mencabut status darurat. “Rakyat Suriah menjadi sudah bosan dan tak percaya lagi dengan segudang janji. Mereka butuh bukti konkret di lapangan,” tegasnya.

Menurut Azim, belum ada kontak resmi ajakan dialog kepada kelompok oposisi untuk menyelesaikan krisis hingga saat ini. Padahal yang dibutuhkan adalah undangan secara terbuka dan terang-terangan kepada semua pihak melalui sebuah komite formal untuk melakukan dialog nasional.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/29/litgeo-assad-akan-pidato-rakyat-tak-ambil-pusing]

AS Desak Rezim Suriah Bebaskan 3 Warganya
Rabu, 30 Maret 2011, 20:34 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Presiden Suriah Bashar Al-Asad direncanakan akan memberikan pidato resmi kepada rakyatnya hari ini. Demikian dilaporkan kantor berita pemerintah Suriah, SANA, Rabu (30/3).

Pidato ini merupakan pernyataan resmi Asad untuk pertama kalinya sejak terjadi pembantaian di Dara’a, selatan Suriah, yang menyulut aksi protes di berbagai belahan negeri. Aksi massa yang menentang rezim berkuasa di Suriah dalam beberapa hari terakhir merupakan yang terbesar sejak tahun 2000.

Di lain pihak, pemerintah AS kini menyebut pemimpin Suriah “di persimpangan jalan”, dan menuntut Asad segera melakukan reformasi secara mendalam. “Sejak dulu Asad mengaku reformis. Namun ia tidak berbuat apa-apa dalam melakukan reformasi politik,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Mark Toner. 

“Kami memintanya segera menjawab dan memenuhi tuntutan rakyat Suriah,” tegas Toner seraya menekankan bahwa pemerintah AS khawatir dengan aksi-aksi kekerasan yang terjadi di Suriah.

Untuk itu, kata Toner, pemerintah AS meminta tiga warganya yang ditahan di Damaskus segera dibebaskan. Pejabat konsuler kedutaan AS di Damaskus juga telah meminta penguasa Suriah agar segera membebaskan tahanan. “Namun permintaan itu belum terpenuhi hingga saat ini.” 

Saluran televisi Suriah, Ahad lalu, menyiarkan “pengakuan” warga negara AS keturunan Mesir yang terlibat dalam protes massa yang menentang rezim Suriah, Bashar Al-Asad.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/30/livhpn-as-desak-rezim-suriah-bebaskan-3-warganya]

Kabinet Suriah Mundur, Bashar Al Assad Dijadwalkan Berpidato
Rabu, 30 Maret 2011, 09:04 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS - Presiden Suriah, Bashar Al Assad, dijadwalkan berpidato kepada rakyat negerinya, Rabu (30/1), dalam pidato pertama selama dua pekan unjuk rasa dan satu hari setelah kabinetnya mundur, kata seorang pejabat senior. Hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. 

Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton mendesak "penerapan pembaruan tepat pada waktunya". Namun para pemimpin Kongres mengesampingkan pembicaraan apa pun mengenai perubahan rezim di Suriah, musuh lama dari sekutu regional Washington, Israel.

"Presiden akan berpidato kepada rakyat besok, Rabu, dari parlemen," kata pejabat tersebut, tanpa memberi perincian lebih lanjut. Berita itu beredar tak lama setelah Perdana Menteri Mohammed Naji Otri mengajukan pengunduran diri pemerintahnya dan diberi tugas sebagai penjabat sampai kabinet baru terbentuk.

Presiden diperkirakan menjelaskan serangkaian pembaruan yang diumumkan pekan lalu, yang muncul sebagai reaksi terhadap dua pekan protes guna menuntut pembaruan dan kebebasan lebih besar di negeri tersebut. Suriah telah diperintah oleh Partai Baath sejak 1963.

Penasehat presiden Buthaina Shaaban telah mengatakan pemerintah memutuskan untuk mencabut keadaan darurat, yang telah diberlakukan sejak partai Baath merebut kekuasaan.

Pemerintah Suriah juga sedang mempelajari liberalisasi peraturan media massa dan partai politik serta tindakan anti-korupsi. Kabinet baru, yang diperkirakan diumumkan akhir pekan ini, akan menghadapi tugas penerapan pembaruan itu.

Perdana Menteri Otri telah membentuk pemerintahnya pada 2003. Pemerintah tersebut telah beberapa kali diubah, yang paling akhir pada Oktober 2010.

Bashar Al-Assad, yang naik jabatan setelah ayahnya Hafez Al-Assad meninggal pada 2000, menghadapi tekanan kuat di dalam negeri, saat protes makin berubah jadi kekerasan.

Pemerintah Suriah telah menuduh kelompok fanatik dan "gerombolan bersenjata" bermaksud menghasut kerusuhan di negeri itu, terutama di Provinsi Daraa di bagian selatan dan kota pelabuhan di bagian utaranya, Latakia. Keduanya telah muncul sebagai titik panas ketidakpuasan.

Unjuk rasa kecil guna menuntut "kebebasan" juga terjadi di ibukota Suriah, Damaskus, awal Maret, tapi aksi itu dengan cepat dipadamkan oleh pasukan keamanan.

Banyak pegiat mengatakan lebih dari 130 orang telah tewas dan banyak orang lagi cedera dalam beberapa bentrokan dengan pasukan keamanan saat berlangsungnya pertemuan terbuka di Daraa dan Latakia. Para pejabat menyebutkan jumlah korban tewas 30.

Washington menyatakan Amerika Serikat menunggu dan melihat apa hasil dari pembaruan yang dijanjikan tersebut. "Kami sedang ... menunggu dan menyaksikan untuk melihat apa yang akan diberikan oleh pemerintah Suriah," kata Menlu Hillary.

"Kami mendukung penerapan pembaruan tepat pada waktunya sehingga memenuhi tuntutan yang diajukan rakyat Suriah kepada pemerintah mereka, seperti penghapusan peraturan keadaan darurat," tambahnya.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/30/liulr3-kabinet-suriah-mundur-bashar-al-assad-dijadwalkan-berpidato]

Wanita Nekat Cegat Mobil Bashar Al Asad
Kamis, 31 Maret 2011, 20:12 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Seorang wanita mencegat mobil yang dikendarai Presiden Suriah Bashar Al-Asad, ketika yang bersangkutan baru saja menyampaikan pidatonya di Majelis Rakyat, Rabu (30/3).

Wanita tersebut menghadang di depan mobil ketika mesin baru saja dihidupkan dan mobil baru berjalan beberapa putaran. Kejadian tiba-tiba ini membuat mobil berhenti mendadak, dan pasukan pengamanan presiden langsung mengamankan lokasi. 

Pada saat yang sama, kru stasiun televisi pemerintah baru saja mulai meliput kepergian Asad dari gedung Majelis Rakyat. Beberapa anggota pasukan keamanan juga langsung menghalau warga yang berkerumun di kedua tepi jalan, khawatir dengan adanya serangan terhadap presiden dan rombongan.

Sebelumnya, Asad baru saja berbicara di depan anggota dewan tentang kemelut yang terjadi di negerinya. Dalam pidatonya, Asad mengulang kembali pernyataan-pernyataannya yang lalu, bahwa negaranya diserang oleh sejumlah pihak yang melakukan kolusi dan konspirasi. “Fitnah yang terjadi di Suriah sejak beberapa pekan lalu dihasut melalui saluran televisi satelit,” ujarnya.

Asad mengatakan, memang Suriah tidak terlepas dari apa yang terjadi di dunia Arab, dan ia mengaku sedih dan berduka dengan jatuhnya banyak korban akibat kejadian baru-baru ini. Walau demikian, ia mengaku tidak takut menghadapi revolusi besar yang terjadi sejak beberapa bulan ini.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/31/lixbc8-wanita-nekat-cegat-mobil-bashar-al-asad]

Asad Menolak Mundur, Demo Jalan Terus
Kamis, 31 Maret 2011, 19:58 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Presiden Suriah Bashar Al-Asad menyampaikan pidatonya yang ditunggu-tunggu, Rabu (30/3). Dalam pidato yang disampaikan di hadapan Majelis Rakyat, ia tidak mengumumkan jadwal sementara reformasi dan tidak berniat mencabut keadaan darurat.

Dalam pidato pendeknya, Asad menyebut adanya konspirasi besar dari negara-negara jauh dan dekat, yang berkomplot dengan kekuatan dalam negeri untuk melakukan provokasi menciptakan krisis. Ia juga menolak mundur dari jabatannya, namun akan berupaya melakukan reformasi.

Tak lama setelah berakhirnya pidato, ratusan warga Latakia turun ke jalan meneriakkan slogan-slogan “merdeka, merdeka” dan “damai, damai”. Aparat keamanan dan polisi merespons dengan menembakkan senjata ke arah mereka. Belum ada informasi tentang jumlah korban, namun saksi mata menuturkan, sekitar 300 orang turun ke jalan untuk memprotes pidato Asad dan disambut tembakan aparat keamanan. 

Asad menegaskan, tidak ada reformasi baru karena proses tersebut sudah ada. “Tidak ada hambatan-hambatan dalam reformasi, yang ada hanyalah keterlambatan. Siapa saja yang menentang reformasi, maka mereka adalah juru damai sekaligus pembuat kerusakan,” ujarnya. 

Ia juga mengecam revolusi Arab yang disebutnya “kebablasan”. “Revolusi yang terjadi saat ini adalah revolusi baru yang kebablasan. Dan kami tidak mau seperti itu, tidak mau dengan cara-cara seperti itu. Itu adalah bentuk sabotase,” tegasnya.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/03/31/lixaox-asad-menolak-mundur-demo-jalan-terus]

Jaringan Telekomunikasi Suriah Terputus
Minggu, 03 April 2011, 18:50 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS-- Jaringan komunikasi putus di Suriah, Ahad sehari setelah pihak berwenang menahan puluhan aktivis pro demokrasi dalam satu tindakan keras terhadap protes-protes anti pemerintah. "Ada satu operasi penahanan dan jaringan telepon putus jadi orsng menduga ada campur tangan tetapi pemerintah mengatakan itu akibat masalah teknis," kata seorang penduduk Douma, utara Damaskus.

Di ibu kota itu, komunikasi internet dan telepon seluler praktis tidak mungkin. Seorang wakil pelanggan dari penyedia telepon dan internet Suriah mengemukakan masalah itu adalah "karena pemakaian melampui batas" tanpa merinci lebih jauh.

Syriatel dan MTN, dua perusahan telepon Suriah, menawarkan kepada para pelanggan satu jam bicara gratiso yang berlaku 2 da 6 April "untuk menghargai orang yang mendukung Presiden(Bashar al Assad) pada hari bermartabat itu."

Mereka mengacu pada unjuk-unjuk rasa pro-rezim di ibu kota itu, Selasa. Tetapi pada Jumat,ribuan warga Suriah bergerak di seluruh negara itu menyerukan reformasi, kecewa dengan satu pidato presiden yang tidak mencabut keadaan darurat yang diberlakukan sejak tahun 1963.

Dalam satu pernyataan bersama, delapan kelompok hak asasi manusia mengatakan 46 orang ditahan dalam operasi-operasi yang dilakukan di kota Daraa di selatan, salah satu dari tiga pusat utama unjuk rasa lebih dari dua minggu serta Douma di utara Damaskus dan kota industri Homs.

"Kami mengecam sangat keras dan cara yang tidak pada tempatnya oleh pasukan keamanan Suriah dalam menghadapi unjuk rasa damai di Douma dan polisi mengguanakan kekuatan yang berlebihan terhadap para pengunjuk rasa," kata pernyataan itu.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/04/03/lj2rjp-jaringan-telekomunikasi-suriah-terputus]

Presiden Assad akan Dialog dengan Oposisi?
Rabu, 06 April 2011, 17:29 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Kelompok oposisi Suriah mengatakan Presiden Bashar al-Assad telah memberi lampu hijau untuk berdialog dengan oposisi. Dialog itu sebagai upaya memadamkan protes dan situasi yang bergejolak di dalam negeri.

Sumber tersebut mengatakan, pihak berwenang Suriah dan pejabat keamanan senior  mengisyaratkan kepada mediator untuk menentukan tanggal pertemuan dengan tokoh oposisi. Dalam pertemuan pemerintah berharap mengetahui tuntutan mereka.

Tanda-tanda ketenangan mulai nampak ketika Assad bertemu dengan para pekerja sosial di wilayah Hasaka, di mana minoritas Kurdi terkonsentrasi. Sinyal ini kian menguat ketika mereka bertemu kedua kalinya di istana Assad di Damaskus, Selasa (5/4). Dalam pertemuan di istananya, Assad juga mengucapkan selamat liburan Nowruz kepada tokoh-tokoh Kurdi.

Namun salah seorang pemimpin Kurdi mengatakan, beberapa pemimpin terkemuka Kurdi memboikot pertemuan antara delegasinya dengan Bashar al-Assad dan sejumlah pemimpin suku. “Para pemimpin oposisi tidak ingin tuntutan rakyat mereka dikurangi dengan cara diberikan layanan sosial,” ujarnya.

Dalam konteks gencatan senjata, menurut informasi yang bocor, Departemen Pendidikan telah mengeluarkan keputusan untuk mengembalikan para wanita berkerudung agar kembali pada pekerjaan mereka di sekolah-sekolah.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/04/06/lj87sn-presiden-assad-akan-dialog-dengan-oposisi]

Bentrokan di Suriah, 19 Polisi Tewas
Sabtu, 09 April 2011, 10:37 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DAMASKUS--Media Suriah melaporkan 19 polisi dan anggota pasukan keamanan tewas dalam bentrokan-bentrokan di kota selatan Daraa pada Jumat. Kekacauan dimulai ketika orang bersenjata tak dikenal menembaki polisi dan penduduk sipil yang menggelar protes damai anti-pemerintah setelah shalat Jumat, kata kantor berita resmi Suriah Sana.

Sumber oposisi mengatakan bahwa polisi yang mulai menembaki para demonstran dalam upaya untuk membubarkan pertemuan mereka. Para penggiat melakukan aksi protes massa di Daraa, yang menyebut diri Revolusi Suriah - 2011. Mereka telah menyiarkan daftar berisi nama-nama 14 orang yang tewas dalam bentrokan hari Jumat di Facebook.

Pihak berwenang di Daraa mengatakan mereka tidak menghalangi para demonstran untuk berpartisipasi dalam demonstrasi dan menjaga peristiwa itu berada di bawah kontrol pada saat bentrokan dan tembak-menembak itu dimulai. Di wilayah timur, ribuan warga etnik Kurdi berdemonstrasi menuntut reformasi meski presiden pekan ini telah menawarkan mengendurkan aturan-aturan yang membuat banyak warga Kurdi tidak memperoleh kewarganegaraan, kata sejumlah aktivis.

Protes melanda negara berpenduduk 20 juta orang itu, dari kota pelabuhan Laut Tengah Latakia hingga Albu Kamal di perbatasan dengan Irak, ketika demonstrasi memasuki pekan keempat dengan mengabaikan operasi pasukan keamanan dan meningkatnya janji reformasi oleh pemerintah. "Kebebasan, kebebasan, kami ingin kebebasan," teriak ribuan pemrotes di banyak kota Suriah. Beberapa orang meneriakkan, "Kami mengorbankan darah dan jiwa kami bagimu, Daraa."

Penduduk mengatakan, pasukan keamanan menggunakan meriam air dan bom asap untuk membubarkan protes sekitar 2.000 orang di Hama, kota di mana ribuan orang tewas pada 1982. Mereka menembaki ribuan pemrotes di Daraa, tempat demonstrasi meletus pertama kali pada Maret, kata penduduk. Menurut mereka, pemrotes membakar sebuah bangunan milik Partai Baath yang berkuasa dan menghancurkan patung saudara presiden, Basil.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/04/09/ljd8q3-bentrokan-di-suriah-19-polisi-tewas]

Lebih dari 37 Pemrotes Tewas dalam Revolusi Suriah
Minggu, 10 April 2011, 12:57 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Puluhan ribu aparat keamanan dan tentara Suriah mulai memperketat keamanan terhadap para penduduk yang akan melakukan unjuk rasa, Sabtu (9/4). 

Dalam beberapa jam terakhir warga menyaksikan serangan dan penembakan secara acak ke rumah-rumah warga. Sebuah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak awal protes 15 Maret lalu. 

Organisasi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) di Suriah mengatakan, pasukan keamanan Suriah menewaskan sedikitnya 37 orang selama protes  sejak Jumat. “Sedikitnya 30 orang tewas di kota Dara’a selatan, dan 3 tewas di Homs dan Harasta, pinggiran kota Damaskus,” kata sebuah pernyataan.

Kementerian Dalam Negeri Suriah memperingatkan bahwa tidak ada ruang untuk kepuasan atau toleransi penerapan hukum. “Aparat akan menjaga keamanan tanah air dan warga negara, dan memberikan perlindungan umum. Dan akan bertindak tegas terhadap mereka yang melakukan tindakan sabotase dan menabur perpecahan dan merusak persatuan nasional,” demikian pernyataan kementerian dalam negeri.

Selain itu, negara juga akan merespons tuntutan para demonstran, dan telah mengumumkan serangkaian tindakan dan keputusan dalam proses pembangunan dan modernisasi Suriah. 

Kementerian itu juga mengatakan beberapa orang dibayar oleh pihak ketiga untuk melakukan makar. Dan pihak berwenang Suriah akan menembak kelompok bersenjata tanpa pandang bulu jika melawan pasukan keamanan.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/04/10/ljf9v4-lebih-dari-37-pemrotes-tewas-dalam-revolusi-suriah]

Jurnalis Maroko Tuntut Pembebasan Jurnalis Norwegia
Selasa, 12 April 2011, 15:03 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, RABAT - Sekelompok wartawan Maroko, jurnalis asing dan mahasiswa jurnalistik, sore waktu setempat (Selasa, 12/4), akan menggelar protes di depan Kedutaan Besar Suriah di Rabat, ibukota Maroko. 

Mereka memprotes penahanan lanjutan pihak berwenang Suriah terhadap wartawan  kebangsaan Norwegia Zeid Masto yang ditangkap karena meliput peristiwa yang tengah terjadi di Suriah.

Masto adalah peraih gelar sarjana dalam jurnalisme dari Sekolah Tinggi Media dan Komunikasi di Rabat. Ia digelandang pasukan keamanan Suriah, Rabu (6 April), dari sebuah kafe internet (warnet), tanpa dapat membantah. 

Hal terakhir sempat ditulis Masto dalam status Facebook-nya adalah, "Aku sekarang di kafe internet. Pemilik kafe mengatakan padaku bahwa aku berada di tempat terlarang karena meliput aksi massa, maka harus segera pergi.” 

Menyusul penangkapan Masto, sekelompok jurnalis dan rekan-rekannya di perguruan tinggi membentuk halaman di Facebook yang meminta pembebasannya. Hingga kini tak diketahui pasti di mana Masto berada.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/04/12/ljj51t-jurnalis-maroko-tuntut-pembebasan-jurnalis-norwegia]

Oposisi Suriah: 200 Demonstran Tewas
Selasa, 12 April 2011, 10:16 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,AMMAN--Satu gerakan hak asasi manusia penting Suriah mengatakan korban tewas setelah kurang dari sebulan demonstrasi di negara itu telah mencapai 200 dan meminta Liga Arab untuk menjatuhkan sanksi terhadap hirarki yang berkuasa. "Pemberontakan di Suriah telah meningkat, sementara 200 orang tewas, ratusan luka-luka dan sejumlah sama ditangkap," kata kelompok Deklarasi Damaskus dalam sepucuk surat yang dikirim Senin ke sekretariat jendral Liga Arab.

"Rezim itu telah mengerahkan pasukannya untuk mengepung kota-kota dan menteror warga sipil, sementara demonstran di seluruh Suriah meneriakkan nyanyian yang sama 'damai, damai'," kelompok itu menambahkan.

"Kami minta anda untuk ... menjatuhkan sanksi politik, diplomatik dan ekonomi terhadap rezim Suriah, yang terus menjadi pelindung terpercaya warisan Hafez al-Assad," katanya. Ia merujuk kepada pemerintah bertangan besi Hafez al-Assad, ayah Presiden Bashar al-Assad.

Bashar, yang menghadapi demonstrasi terhadap pemerintahannya yang berusia 11 tahun, telah menanggapi dengan cara yang bercampur -- pasukannya telah menembak demonstran tak bersenjata, menurut oposisi -- dan janji tak jelas untuk mengurangi larangan terhadap kebebasan, dan juga mengganti undang-undang darurat dengan undang-undang antiterorisme.

Demonstrasi itu, yang meletus di kota Deraa di Suriah selatan bulan lalu --sebelum meluas, meminta kebebasan berekspresi dan berkumpul serta diakhirinya korupsi. Pemerintah mengatakan kelompok-kelompok bersenjata dan para "penyusup" bertanggungjawab atas kekerasan itu dan bahwa tentara dan polisi juga telah tewas. 

"Presiden Bashar hanya memberi janji selama 11 tahun terakhir. Sebagai pengganti ia membicarakan, seperti yang rezim itu selalu lakukan, mengenai konspirasi pihak luar," kata surat itu.

Kelompok itu dinamai Deklarasi Damaskus karena dokumen yang ditandatangani pada 2005 oleh sejumlah pemimpin sipil, Islam dan liberal yang meminta diakhirinya pemerintahan 41 tahun keluarga al-Assad dan penggantiannya dengan sistem yang demokratis.

Dokumen itu meminta pencabutan larangan terhadap kebebasan berbicara dan berkumpul serta pencabutan undang-undang darurat, berdasar mana Suriah telah memerintah sejak 1963 ketika Partai Baath berkuasa melalui kudeta dan melarang semua oposisi.

Sebagian besar dari anggotanya telah menghabiskan waktu lama sebagai tawanan politik, termasuk tokoh oposisi penting Raid al-Turk, yang telah menghabiskan 17 tahun dalam kurungan tersendiri pada masa Hafez al-Assad.

Fayez Sara, seorang wartawan yang telah dipenjarakan selama dua setengah tahun bersama dengan 11 anggota Deklarasi Damaskus dan dibebaskan pada 2010, ditangkap lagi Ahad, kata aktivis-aktivis hak asasi manusia.

Bashar mengatakan demonstrasi itu merupakan bagian dari konspirasi asing untuk menyebarkan perselisihan sektarian. Ayahnya menggunakan bahasa yang sama ketika ia menghancurkan tantangan sayap kiri dan Islam garis keras terhadap pemeritahannya pada 1980-an, yang menewaskan ribuan orang.

Pasukan keamanan Suriah telah menutup kota pantai Banias, Senin, menyusul demonstrasi pro-demokrasi dan pembunuhan oleh pasukan yang setia pada Bashar al-Assad, kata beberapa warga.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/04/12/ljirs6-oposisi-suriah-200-demonstran-tewas]

Protes Pemerintah, Mahasiswa Suriah Unjuk Rasa Depan Kampus
Selasa, 12 April 2011, 05:51 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS - Ratusan mahasiswa berkumpul di luar kampus Universitas Damaskus di ibukota Suriah, Senin (11/4), untuk mengungkapkan solidaritas terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi  yang tewas selama akhir pekan. 

Menurut sejumlah saksi mata, demonstrasi jarang terjadi pada hari Senin di Universitas Damaskus. Unjuk rasa tersebut berubah menjadi kekerasan ketika pasukan keamanan memukuli dan menangkap beberapa demonstran yang meneriakkan kata-kata kebebasan dan persatuan.

Kepala Organisasi Nasional Hak Asasi Manusia Suriah, Ammar Qurabi, mengatakan kepada seorang mahasiswa tewas setelah ditembak dalam demonstrasi. Rekaman video yang diposting online menunjukkan pasukan keamanan berpakaian preman memukuli para pemrotes dan  membubarkan paksa pemrotes yang berbaris di dalam kampus.

Seorang aktivis yang menyaksikan demonstrasi membenarkan rekaman video, namun menolak disebutkan namanya karena takut menjadi korban. "Warga Suriah adalah satu!'' teriak mahasiswa dalam video tersebut berulang kali.

Sementara itu, Kepala Liga Hak Asasi Manusia Suriah Abdul-Karim Rihawi mengatakan, seorang jurnalis dan penulis terkenal Suriah (Fayez Sara) ditahan di rumahnya pada hari Senin, sementara beberapa aktivis lainnya ditangkap di beberapa hari sebelumnya.

Pemberontakan tiga pekan melawan pemerintah Suriah, Presiden Bashar Al-Assad, terus berlanjut dan semakin menguat meskipun pemerintah kian bertindak keras.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/04/12/ljifi5-protes-pemerintah-mahasiswa-suriah-unjuk-rasa-depan-kampus]

Perempuan Suriah Memprotes Penangkapan 350 orang Warga Desa Beida
Rabu, 13 April 2011, 20:45 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS - Para pembela hak asasi manusia (HAM) mengatakan ratusan perempuan Suriah yang melihat penangkapan massal para pria penduduk desa Beida, turun ke jalan raya utama di kota pesisir Suriah, Rabu (13/4). Mereka menuntut pembebasan para tahanan.

Lembaga HAM Suriah menyebutkan setidaknya 350 orang ditangkap, dan para perempuan Beida, sekitar sepuluh kilometer di sebelah selatan kota Banias, turun ke jalan meminta dibebaskan keluarga mereka yang ditangkap aparat keamanan dan para pendukung rezim Bashar Al-Asad.

Para pengacara di Damaskus menyatakan aksi yang dilakukan kaum perempuan Beida sebagai adegan luar biasa yang menentang pemerintahan totaliter Bashar Al-Asad, dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara itu, sumber resmi Suriah membantah tuduhan yang dialamatkan ke pihak berwenang Suriah, yang disebutnya sebagai upaya untuk mencegah kedatangan korban yang terluka ke rumah sakit agar mendapatkan pertolongan. Aparat keamanan Suriah justru melemparkan tuduhan bahwa penangkapan warga Beida dilakukan oleh kelompok "bersenjata".

Organisasi Human Rights Watch (HRW) menyatakan pasukan keamanan Suriah mencegah tim medis di dua kota yang mencoba membawa korban yang terluka dalam bentrokan selama demonstrasi menentang pemerintah pekan lalu, untuk mendapatkan perawatan.

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/04/13/ljlfj2-perempuan-suriah-memprotes-penangkapan-350-orang-warga-desa-beida]

Banias Memanas, Aparat Keamanan Siap Siaga
Rabu, 13 April 2011, 19:41 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BANIAS - Pasukan keamanan Suriah memperketat pengepungan atas kota pesisir Banias dan menyerang desa-desa dan rumah-rumah warga di sekitarnya, Rabu (13/4). 

Pada saat yang sama, demonstran memperbarui panggilan turun ke jalan menentang Presiden Bashar Al-Asad melalui situs-situs internet.

Sebuah kantor berita internasional melaporkan, sebuah desa yang terletak tenggara Banias diserbu aparat keamanan dan orang-orang bersenjata, yang mengakibatkan sedikitnya lima orang terluka.

Kantor berita ini mengutip kesaksian warga setempat, bahwa desa mereka diserang dengan senapan mesin secara acak oleh aparat keamanan dan “As-Shabihah”, sebuah istilah yang disematkan para demonstran terhadap warga Suriah yang mendukung pemerintahan Al-Asad. “Peluru yang mereka tembakkan ke arah kami bagaikan hujan,” kata seorang warga.

Pasukan keamanan Suriah juga telah menangkap puluhan orang dan menggelandang mereka ke sebuah tanah lapang di tengah desa lalu memaksa mereka meneriakkan yel-yel yang mendukung Presiden Asad: “Nyawa dan darah kami korbankan untukmu, wahai Bashar!”

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/04/13/ljlclb-banias-memanas-aparat-keamanan-siap-siaga]

As Tuduh Iran Sokong Suriah Tindak Para Pemrotes
Jumat, 15 April 2011, 14:13 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON  - Amerika Serikat, Kamis waktu setempat, menuduh Iran membantu Suriah dalam usahanya menindak para pemrotes pro-emokrasi. "Kami yakin bahwa ada informasi yang dapat dipercaya Iran membantu Suriah ... dalam menumpas para pemrotes," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner, yang menyebut perkembangan itu sesuatu "yang sangat memprihatinkan."

"Jika Suriah meminta bantuan kepada Iran, ini merupakan hal yang serius bagi reformasi-reformasi yang riil." Surat kabar The Wall Street Journal memberitakan bahwa Teheran membantu Suriah dengan peralatan untuk menumpas protes dan memantau kelompok oposisi, dengan mengirim lebih banyak peralatan, mengutip pernyataan para pejabat AS.

"Kami yakin bahwa Iran membantu pemerintah Suriah dalam usaha-usahanya menekan rakyat mereka sendiri," kata para pejabat itu kepada surat kabar tersebut. Ia menambahkan bahwa Teheran berbagi pengalamannya dalam melakukan tindakan keras pasca-pemilihan presiden tahun 2009 terhadap berbagai unjuk rasa yang berusaha menggulingkan Preesiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Pihak penguasa juga memberikan bantuan teknis kepada Damaskus untuk memantau komunikasi langsung dari kelompok-klompok oposisi untuk menyelenggarakan protes-protes, kata para pejabat pertahanan AS kepada surat kabar itu.

Tetapi Menteri Keuangan Iran Shamseddin Hosseini, yang berbicara di sela-sela pertemuan-pertemuan IMF dan World Bank di Washington, membantah semua tuduhan itu.

"Kami tidak terlibat dalam urusan negara-negara ini," katanya. Ia membandingkan gelombang unjuk rasa baru-baru ini yang terjadi di Afrika Utara dan Timur Tengah pada revolusi yang membawa kelompok Islam berkuasa di Teheran 32 tahun lalu.

Kementerian Luar Negeri Suriah juga membantah tuduhan AS itu sebagai "tanpa dasar". "Jika Depertemen Luar Negeri memiliki bukti serahkan itu kepada kami," kata seorang pejabat kementerian itu kepada AFP di Damaskus."

Pada Selasa, Gedung Putih mengecam tidakan keras yang meningkat terhadap unjuk-unjuk rasadi Suriah sebagai "menyakitkan hati" dan menyatakan cemas tentang laporan-laporan bahwa mereka yang cedera ditolak bagi perawatan medis.

Gedung Putih juga mengimbau pemerintah Presiden Bashar al Assad menghormati "hak asasi manusia universal rakyat Suriah."

[http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/04/15/ljomql-as-tuduh-iran-sokong-suriah-tindak-para-pemrotes]

Umat di Indonesia dan Fitnah di Seputar Suriah
Jumat, 28 Juni 2013, 07:01 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Nasihin Masha
Pertempuran di Suriah tak hanya membakar negeri itu, tapi juga memanaskan Timur Tengah. Bahkan, di Indonesia. Di Suriah tak hanya membuat mereka saling membunuh, tapi juga saling menggunakan dalil agama. Di dunia Arab, juga ada seruan mengirim relawan perang serta perang fatwa dan opini. Di Indonesia, yang ada hanyalah followers, ikut-ikutan. Kasus Suriah menjadi begitu sensitif dan panas masuk ke ranah agama.

Sejatinya rezim Assad adalah rezim sekuler dan otoriter dengan segala represinya. Nama partainya pun Partai Sosialis. Mirip dengan rezim Saddam. Namun, Arab Spring membuat dunia Arab bergolak. Awalnya, adalah program demokratisasi George W Bush untuk Timur Tengah. Sejak pidato pada 6 November 2003 itu, Amerika Serikat menebarkan dolar ke wilayah itu.

Panennya terjadi pada masa Obama ini. Tentu, gelombang demokratisasi tak akan terjadi jika tanpa dukungan sosial. Arus internasional berpadu dengan arus bawah. Awalnya Tunisia, lalu Yaman, Mesir, Libya, dan kini sedang menunggu akhir pertarungan di Suriah. Apakah di negeri ini akan gagal seperti halnya di Bahrain? Arab Spring memang tak berlaku di negeri-negeri kerajaan, termasuk Bahrain, yang justru menjadi sekutu Amerika Serikat selama ini.

Gelombang demokratisasi di Suriah seolah sedang buntu. Secara geopolitik, negeri ini menjadi simpul kepentingan Rusia dan Iran. Bahkan, Cina ikut mendukung rezim Assad karena Cina memiliki perjanjian untuk saling mendukung dengan Rusia. NATO dan sekutunya terlibat aktif untuk menggulingkan Assad walau tak mengirim pasukan secara langsung. 

Dimensi konflik di Suriah menjadi rumit. Apalagi di negeri ini, ada rivalitas antara Syiah dan Suni. Ketika kemenangan tak kunjung diraih salah satu pihak, paling gampang adalah memanfaatkan kekuatan nilai yang berlaku di masyarakat. Agama adalah salah satunya. Kelompok Sunni-seperti Ikhwanul Muslimin, kaum salaf/Wahabi, juga Alqaidah-yang selama ini tertekan di bawah rezim Assad menjadi kekuatan utama perlawanan. Sedangkan, kelompok Syiah menjadi pendukung rezim Assad. Negeri-negeri di sekitar Suriah, termasuk ulama dan masyarakatnya, menjadi terlibat secara emosional.

Indonesia tak punya kepentingan apa pun secara langsung terhadap situasi di Suriah. Yang ada adalah rasa persaudaraan sesama Muslim. Tentu, kita berharap ada demokrasi di Suriah. Jalan demokrasi membuat umat bisa lebih mudah mengembangkan diri. Namun, penguasa selalu lebih cerdik. Umat diadu domba. Perbedaan Suni-Syiah menjadi jalan untuk membelah umat. Apalagi, kemudian terjadi perang fatwa dan opini. Dalil agama saling dilontarkan. Fitnah pun bertebaran.

Terjadi saling tuduh di antara umat pun terjadi di Indonesia. Kita harus benar-benar berhati-hati. Salah memilih diksi saja bisa menjadi kobaran api. Kita harus cermat memilih kata sebutan untuk kelompok yang melawan rezim Assad. Kata “pemberontak” pasti akan dikecam. Paling netral adalah “kelompok perlawanan bersenjata”. Bahkan, kata “oposisi” pun bisa dinilai tak tepat. Pilihan kata “gerilyawan” dan “pejuang” sudah menjadi usang dalam dimensi kekinian. Sejak Bush mengenalkan aksi multilateral tanpa melibatkan PBB, tata nilai dunia mulai bergeser. Diksi pun menjadi kacau.

Para penebar fitnah bukan hanya orang awam, melainkan aktivis keagamaan dan dai, bahkan ustaz. Tentu saja, yang namanya fitnah pasti salah, pasti bohong, pasti jahat, pasti buruk. Akan tetapi, ketika itu ditebarkan di mimbar keagamaan seolah menjadi positif. Lainnya melalui SMS berantai, mailing list, dan media sosial. Kita seolah kehilangan pegangan, lupa pada moral agama yang kita kukuhi. Kita menjadi tercerabut dari akar kita sendiri. Kesalehan pribadi seakan sesuatu yang terpisah dari kesalehan sosial. Solidaritas kelompok seolah menjadi berbeda dengan solidaritas umat. Tentu, itu bukan akhlaqul karimah. Pada titik ini, kita makin sadar bahwa pengetahuan, gelar, atau profesi tak berbanding lurus dengan kualitas seseorang.

Pada dimensi lain, umat Islam begitu mudah berpecah belah. Juga, begitu mudah dipantik sentimen agamanya. Padahal, kasus Suriah adalah peristiwa politik. Kasus Suriah tak kering dari beragam kepentingan yang begitu rumit. Kasus Suriah makin menegaskan pada kita bahwa umat tak memiliki kepemimpinan dan inisiatif.

Sebaiknya, energi kita difokuskan untuk memperbaiki kualitas diri kita. Hanya dengan itu kita bisa membangun dan memajukan diri. Indonesia adalah tempat terbaik untuk itu. Jangan jadikan dunia Arab sebagai titik pusat. Betul Islam lahir di sana, tapi bukan berarti apa yang dari sana pasti lebih baik. Islam Indonesia dengan segala kekhasannya jauh lebih menarik untuk zaman ini.

Mari kita merapikan diri di segala lini. Jauh lebih produktif berdaya kreasi daripada bersiasat. Misi suci akan berisi jika dari hati yang bersih, bukan dari hati yang sesat.

[http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/06/27/mp1z7l-umat-di-indonesia-dan-fitnah-di-seputar-suriah]

Kesimpulan :

Sejatinya rezim Assad adalah rezim sekuler dan otoriter dengan segala represinya. Nama partainya pun Partai Sosialis. Mirip dengan rezim Saddam.
Secara geopolitik, negeri ini menjadi simpul kepentingan Rusia dan Iran. Bahkan, Cina ikut mendukung rezim Assad karena Cina memiliki perjanjian untuk saling mendukung dengan Rusia.
Indonesia tak punya kepentingan apa pun secara langsung terhadap situasi di Suriah. Yang ada adalah rasa persaudaraan sesama Muslim.
Bashar mencabut beberapa larangan pada perusahaan-perusahaan swasta tetapi mengabaikan tuntutan-tuntutan untuk mencabut undang-undang darurat, membebaskan tahanan politik, membangun norma hukum, mengizinkan kebebasan menyatakan pendapat dan mengungkapkan nasib puluhan ribu orang pembangkang yang hilang pada tahun 1980-an.
Bashar mengatakan demonstrasi itu merupakan bagian dari konspirasi asing untuk menyebarkan perselisihan sektarian. Ayahnya menggunakan bahasa yang sama ketika ia menghancurkan tantangan sayap kiri dan Islam garis keras terhadap pemeritahannya pada 1980-an, yang menewaskan ribuan orang.
Bashar memperkuat hubungan Suriah dengan Iran sementara ia berusaha memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat dan melakukan upaya perdamaian dengan Israel
Gelombang protes dimulai di Tunisia pada Januari lalu, yang akhirnya berhasil menggulingkan pemimpin yang telah berkuasa sekian lama, Zine El Abidine Ben Ali.

Setelah itu, gelombang yang sama juga melanda Mesir hingga memaksa Presiden Hosni Mubarak mundur dari jabatannya.

Gelombang unjuk rasa juga melanda Libya sejak Januari lalu, mendesak Muamar Gaddafi untuk turun dari jabatannya sebagai pemimpin Libya. Daraa, kota yang terletak sekitar 100 kilometer di selatan ibu kota Suriah, Damaskus, sejak akhir pekan lalu menjadi tempat demonstrasi hebat dan jarang terjadi di negara tersebut.

Media melaporkan, unjuk rasa di Suriah itu diilhami oleh demonstrasi rakyat menuntut pembaruan dan demokrasi di Tunisia serta Mesir.

Selasa, 15 Maret 2011
Demonstrasi Damai sekitar 200 orang turun ke jalan untuk meminta keleluasaan dan kebebasan politik di Ibu Kota Damaskus, Suriah. Mereka (Warga Suriah) dilukai oleh polisi-polisi yang berpakaian preman di Damaskus, pemrotes-pemrotes yang terluka dan ditahan di Suriah.
Polisi dan agen-agen keamanan dalam pakaian sipil telah menjaring pengunjuk rasa, dan empat demonstran muda ditangkap dan dibawa dengan cepat dengan mobil, kata sumber-sumber itu. Amnesty International mengatakan agen-agen keamanan berpakaian biasa telah memukuli beberapa demonstran dan menangkap sedikitnya 30 orang. Wanita, anak-anak dan orang tua termasuk di antara mereka yang dipukul

Rabu, 16 Maret 2011
Lebih dari 20 demonstran telah ditangkap di ibu kota Damaskus pada hari kedua.

Kamis, 17 Maret 2011
sedikitnya satu orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka, termasuk dua orang dalam keadaan kritis, ketika pasukan keamanan menggunakan rentetan peluru tajam terhadap ribuan demonstran pada hari ketiga langsung demonstrasi di kota tersebut.

Jum’at, 18 Maret 2011
Empat orang yang tewas dalam demonstrasi Jumat, menurut kelompok HAM, adalah Akram al-Jawabra, Hossam Abdulwali Ayash, Ayham al-Harri dan seorang anggota keluarga Abu Aoun.

Ahad, 20 Maret 2011
kota Daraa di Suriah selatan, Ahad, dalam sebuah aksi demonstrasi yang panas.

Senin, 21 Maret 2011
Stasiun televisi yang bermarkas di Dubai, Orient TV, mengaku menerima ancaman dari pembesar di Suriah karena pemberitaan soal aksi protes di negara tersebut.
Pemilik televisi Orient yang berdomisili di Suriah, Ghassan Abboud, mengatakan telah menerima panggilan telepon dari seorang pejabat keamanan senior Suriah yang mengancam para karyawannya agar meninggalkan pekerjaan di saluran televisi yang bermarkas di Dubai tersebut, atau keluarga mereka akan menghadapi tuntutan dan penculikan. Ancaman telepon ini ditengarai akibat pemberitaan Orient yang meliput aksi protes massa di kota Dara’a dan kota-kota Suriah lainnya.

Selasa, 22 Maret 2011
"Kadang-kadang mereka (pemerintah) bergabung dengan kelompokonline dan pura-pura menjadi aktivis anti-rezim hanya untuk mengumpulkan lebih banyak nama dan melacak lebih banyak orang," kata sang pengamat, Selasa (22/3)

Rabu, 23 Maret 2011
Sekurangnya enam orang tewas setelah pasukan keamanan menembaki para demonstran di luar sebuah masjid di kota Deraa, Suriah, Rabu.
Ratusan demontran berkumpul di jalan di luar masjid Omari guna mencegah pasukan keamanan menyerbu masjid tersebut. Masjid Omari selama ini menjadi pusat demonstrasi antipemerintah. Setidaknya sepuluh orang tewas sejak pecahnya aksi protes di sini.
Namun, tak lama selepas tengah malam, aliran listrik dan telepon di kawasan tersebut diputus. Saksi mata mengatakan polisi kemudian menembakkan gas air mata dan peluru tajam kepada massa demontran di luar masjid.
Reuters melaporkan, Ali Ghassab al-Mahamid, seorang dokter yang menolong para korban kekerasan, terbunuh dalam peristiwa ini. Seorang saksi mata lainnya mengatakan ia ditembak mati oleh sniper.

Pasukan Suriah menewaskan sedikitnya enam orang, Rabu (23/3) dalam serangan terhadap satu kompleks masjid di kota selatan Deraa, lokasi protes-protes menentang pemerintah Baath yang dipimpin Presiden Bashar al Assad, kata penduduk. Mereka yang tewas itu termasuk Ali Ghassab al Mahamid, seorang dokter dari keluarga terkemuka Deraa yang pergi ke masjid Omari di bagian kota tua Deraa, yang terjadi persis setelah tengah malam.
Sebelum serangan itu listrik dimatikan di daerah itu dan layanan telpon dihentikan. Teriakan 'Allahu Akbar' terdengar di seluruh lokasi permukiman di Deraa ketika tembakan itu dimulai.
Serangan itu menambah jumlah warga sipil yang tewas menjadi 10 orang akibat serangan pasukan Suriah dalam enam hari.

Sedikitnya empat orang tewas setelah pasukan keamanan menembak para demonstran yang berkumpul di depan Masjid di Kota Deraa Suriah. Aktivis HAM mengatakan ratusan orang berkumpul di jalanan di luar Masjid Omari untuk mencegah serangan tentara. Aliran listrik dimatikan.

Masjid itu menjadi tempat berkumpul para demonstran anti-pemerintah yang dilakukan sejak Jumat (19/3) lalu. Jumlah korban tewas setidaknya mencapai 10 orang dalam peristiwa serangan pasukan tentara.
Otoritas Suriah juga membebaskan 15 anak-anak yang ditahan karena menulis grafiti tentang pro-demokrasi.

Tiga orang tewas pada Rabu Sore (23/3), termasuk bocah perempuan berusia 11 tahun, ketika terjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan di Suriah. Jumlah korban tewas akibat protes massa sejak Jumat pekan lalu menjadi 15 orang. Sementara ratusan lainnya luka-luka, dan sebagian dalam kondisi kritis.

Aksi demonstrasi di kota Dara’a, Suriah, Rabu (23/3) berbuah petaka. Sedikitnya 15 orang tewas, termasuk dokter, ketika pasukan keamanan Suriah melancarkan serangan menjelang fajar di Masjid Umari.

Para saksi mengatakan, puluhan orang tewas dan terluka, dan ratusan lainnya ditangkap. “Pasukan keamanan Suriah menyerbu kota Dara’a dan mulai menembakkan senjata kecil dan senapan mesin ketika saya tiba di Masjid Umari.

Kamis, 24 Maret 2011
Pengadilan Suriah memutuskan membebaskan enam orang tahanantermasuk wanitadari 32 tahanan yang ditangkap karena melakukan protes pada Rabu (23/3).
pemerintah Suriah karena terus melakukan penangkapan secara sewenang-wenang. “Mereka melakukan unjuk rasa dengan damai, tapi pemerintah menangkap dan menahan mereka,” kecam salah satu kelompok HAM.  “Hingga kini pemerintah juga terus menahan sejumlah warga dari berbagai kota di Suriah. Sebagian besar tahanan berusia antara 17 tahun dan 25 tahun.”

Aksi demonstrasi di kota Dara’a, Suriah, Kamis (24/3) berbuah petaka. Sedikitnya 15 orang tewas, termasuk dokter, ketika pasukan keamanan Suriah melancarkan serangan menjelang fajar di Masjid Umari. 

Para saksi mengatakan bahwa puluhan orang tewas dan terluka. Ratusan lainnya ditangkap.
Pasukan keamanan Suriah menyerbu kota Dara’a dan mulai menembakkan senjata kecil dan senapan mesin ketika aku tiba di Masjid Umari.

Tiga orang tewas, termasuk bocah perempuan berusia 11 tahun, ketika terjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan di Suriah pada Rabu (23/3) sore. Jumlah korban tewas akibat protes massa sejak Jumat pekan lalu menjadi 15 orang. Sementara, ratusan lainnya luka-luka dan sebagian dalam kondisi kritis.

"Investigasi yang transparan harus dilakukan terhadap kasus pembunuhan itu dan para pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Ban seperti dikutip juru bicaranya Martin Nesirky di Markas Besar PBB, New York, Rabu.

Laporan-laporan media mengungkapkan setidaknya sudah enam orang tewas dan sejumlah warga lainnya luka-luka setelah pasukan keamanan melancarkan tembakan ke arah para pengunjuk rasa di luar Masjid Omari di Daraa, kota di Suriah bagian selatan.

Sekjen, ujar Nesirky, menegaskan imbauannya agar pihak berwenang Suriah menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan dan meminta pihak berwenang untuk mematuhi komitmen internasional menyangkut hak asasi manusia, termasuk hak warganya untuk berserikat secara damai.

Pada hari Kamis pemerintah Suriah mengumumkan pembebasan semua aktivis yaang ditahan sejak protes-protes di jalan yang dimulai sebulan lalu, dan mengatakan pihaknya mungkin mencabut undang-undang darurat yang diberlakukan sejak tahun 1963.

Jum’at, 25 Maret 2011
Sekitar 20.000 orang turun ke jalan sambil meneriakkan yel-yel yang menuntut kemerdekaan di kota Dara'a, Suriah, Jumat (25/3). Warga Dara'a melakukan unjuk rasa di sela-sela pemakaman para korban yang tewas akibat serangan pasukan keamanan di Masjid Umari sehari sebelumnya.
Imam Masjid Umari Syekh Ahmad Sayasanah mengatakan, sebanyak 45 orang meninggal dunia dan 60 lainnya luka-luka. "Mengantarkan jenazah para korban yang meninggal dunia ini bagaikan mimpi buruk, dan hingga kini proses pemakaman masih belum usai," kata Sayasanah sebagaimana dikutip koran Al-Sharq Al-Awsat.
Menurut sejumlah saksi mata, sebanyak 18 orang korban yang meninggal adalah orang-orang ternama, di antaranya insinyur dan kontraktor terkemuka di Dara'a, Horan Ashraf Al-Masri.
korban yang meninggal akibat serangan brutal aparat keamanan Suriah tak kurang dari seratus orang. "Bahkan mungkin lebih dari seratus orang  yang tewas,"

Sebuah komite dibentuk Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk mempelajari kemungkinan penghapusan keadaan darurat di negara itu. Demikian disampaikan penasihat presiden Kamis (24/3).

Komite tersebut juga harus mempelajari bagaimana cara meningkatkan standar hidup rakyat Suriah. Disamping  itu, Assad juga berjanji akan merombak hukum untuk memberi kebebasan kepada media dan ruang bagi lebih banyak partai politik, tambah penasehat Assad.

Puluhan aktivis telah ditahan dalam demonstrasi di seluruh Suriah (25/3), Jumat.

Sabtu, 26 Maret 2011
Sebanyak 17 orang tewas Jumat ketika massa demonstran yang bergerak menuju kota protes Daraa, Suriah, diserang tembakan, kata seorang aktivis hak asasi manusia. "Tujuh-belas pemrotes tewas dalam penembakan di desa Sanamen ketika mereka bergerak menuju Daraa," sebuah kota suku 100 kilometer sebelah selatan Damaskus, kata aktivis yang tidak bersedia disebutkan namanya itu kepada AFP.

Laporan itu tidak bisa dikonfirmasi oleh sumber-sumber independen atau rumah sakit di daerah tersebut. Aktivis yang berkantor di Daraa itu mengatakan, pasukan keamanan Jumat juga menembaki pemrotes yang berkumpul di kota itu di dekat rumah gubernur, yang dipecat sebelumnya pekan ini.

Aktivis menuduh pasukan keamanan membunuh lebih dari 100 orang pada Rabu saja di kota itu, yang menjadi tempat tinggal sekitar 75.000 orang. Wartawan pada Jumat diminta meninggalkan Daraa, sebuah kota suku dekat perbatasan Suriah-Yordania, tak lama setelah pemakaman dua orang yang tewas dalam penembakan terhadap pemrotes pada pekan ini.

Sejumlah wartawan AFP melihat pasukan militer ditempatkan di jalan-jalan yang menuju Daraa.

Pasukan keamanan Suriah berjuang memulihkan keadaan di kota Latakia di bagian utara negeri itu, Ahad (27/3), setelah dua hari kekacauan yang menewaskan 14 orang dan melukai lebih dari 150 orang.

Tentara telah digelar dalam jumlah besar di Latakia.

Minggu, 27 Maret 2011
Pasukan Suriah, Ahad, memasuki kota Latakia di utara tempat para penembak gelap membunuh empat orang yang meningkatkan ketegangan di negara itu kendatipun pemeritah berjanji akan melakukan reformasi.
"Tentara memasuki Latakia... untuk menghentikan perusakan dan pembunuhan,"
Pihak berwenang menuduh para pengungsi Palestina dari satu kamp terdekat ingin meningkatkan kerusuhan sektarian di Latakia.
berita utama Ahad pertumpahan darah di Latakia, dan surat kabar pemerintah Tishrin mengatakan 150 orang cedera di kota itu akibat kerusuhan Jumat dan Sabtu.
Penasehat presiden Buthaina Shaaban mneyalahkan warga Palestina dari kamp pengungsi Raml, di pinggrian Latakia. "Sejumlah pengungsi Palestina dari kamp Raml ingin memprovokasi bentrokan sektarian dengan melepaskan tembakan ke pasukan keamanan dan ke para pemrotes,"

Syekh Yusuf Qaradhawi, menyatakan dukungannya terhadap revolusi yang terjadi di Suriah. “Kereta revolusi kini tiba di stasiunnya,” kata Qaradhawi, Sabtu (26/3).

Syekh Qaradhawi mengecam keras penyerbuan yang dilakukan aparat keamanan Suriah terhadap warga Dara’a yang akan menewaskan puluhan orang tak bersalah di Masjid Umari. “Serangan terhadap kesucian rumah Allah itu tak lepas dari keterlibatan Syiah Alawi,” kata ulama kharismatis ini. “Bashar memiliki hubungan dengan Syiahdia adalah tawanan Syiah!

Ketua Persatuan Ulama Internasional ini mengatakan, aparat keamanan tidak peduli dengan kesucian rumah Allah sehingga seenaknya melakukan pembunuhan di dalamnya. “Warga hanya melakukan revolusi damai, tanpa senjata, batu atau tongkat. Namun mereka dibantai secara keji dengan senapan mesin. Tidak hanya membunuh di masjid, aparat juga membunuh warga di rumah-rumah mereka,” ungkapnya.
 

Ulama yang dikenal tegas ini mengutuk langkah-langkah yang diambil pemerintah Suriah dalam menghadapi gelombang revolusi. Dia menyebut Presiden Suriah Bashar Al-Assad sebagai sosok sektarian yang dikendalikan oleh kekuatan Syiah. “Dia muda dan terpelajar, dan memiliki waktu panjang untuk belajar dan berbuat banyak. Namun dia menjadi tawanan dan bujang golongan Alawi,” ujarnya.
 

Senin, 28 Maret 2011
Turki menyarankan Suriah "menanggapi positif" permintaan rakyat mengenai reformasi, kata Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan pada Senin. "Kami menyarankan Tuan Assad menanggapi positif permintaan rakyat dengan pendekatan reformis.
China sangat prihatin dengan dampak perkembangan-perkembangan di kawasan itu saat ini terhadap proses perdamaian Timur Tengah.

Sebanyak 13 orang secara resmi telah dikonfirmasi tewas akibat luka tembak yang melibatkan penembak jitu sejak Jumat (25/3). Dua korban dikuburkan pada Ahad.
Namun para pegiat mengatakan lebih dari 126 orang telah tewas, dan penambahan 100 korban tewas pada Rabu (23/3)

Beberapa aktivis mengatakan bahwa lebih dari 120 orang telah tewas dalam kekacauan itu.

Selasa, 29 Maret 2011
Perdana Menteri Suriah Mohammad Naji Otri pada Selasa mengajukan undur diri kepada Presiden Suriah Bashar Al Assad. Ia sebelumnya ditunjuk sebagai pejabat sementara perdana menteri, kata media setempat.

"Presiden Assad hari ini menerima undur diri pemerintahan Muhammad Naji Otri dan menunjuknya sebagai pengurus jabatan itu sambil menunggu kabinet baru," kata laporan kantor berita resmi SANA.

Puluhan ribu warga Suriah berkumpul di ibu kota Damaskus dan kota lain untuk melakukan gerakan besar mendukung Presiden Suriah, Bashar Al Assad.

Dalam gerakan disiarkan langsung oleh televisi tersebut, pengunjuk rasa mengibarkan bendera Suriah dan berteriak mendukung Assad.

Unjuk rasa dukungan lain juga dilakukan di kota utara, Aleppo, tempat Assad menghadapi tantangan terbesar atas 11 tahun kepemimpinannya setelah unjuk rasa terkenal meminta kebebasan.

Sejumlah unjuk rasa menentang pemerintah di kota selatan, Daraa, pada dua pekan lalu menyebar ke beberapa kota di Suriah, termasuk Aleppo, Damaskus dan pelabuhan utama negara itu, Latakia.

Wakil Presiden Suriah, Farouq Al-Shara, mengumumkan bahwa Presiden Bashar Al-Assad dalam dua hari ini akan berbicara kepada rakyatnya. "Presiden Assad akan menyampaikan pidato penting dalam dua hari berikutnya, untuk meyakinkan dan menenangkan seluruh rakyat,”

Rabu, 30 Maret 2011
Presiden Suriah Bashar Al-Asad direncanakan akan memberikan pidato resmi kepada rakyatnya hari ini. Demikian dilaporkan kantor berita pemerintah Suriah, SANA, Rabu (30/3).

Pidato ini merupakan pernyataan resmi Asad untuk pertama kalinya sejak terjadi pembantaian di Dara’a, selatan Suriah, yang menyulut aksi protes di berbagai belahan negeri.

Kamis, 31 Maret 2011
Asad baru saja berbicara di depan anggota dewan tentang kemelut yang terjadi di negerinya. Dalam pidatonya, Asad mengulang kembali pernyataan-pernyataannya yang lalu, bahwa negaranya diserang oleh sejumlah pihak yang melakukan kolusi dan konspirasi. “Fitnah yang terjadi di Suriah sejak beberapa pekan lalu dihasut melalui saluran televisi satelit,” ujarnya.

Asad mengatakan, memang Suriah tidak terlepas dari apa yang terjadi di dunia Arab, dan ia mengaku sedih dan berduka dengan jatuhnya banyak korban akibat kejadian baru-baru ini. Walau demikian, ia mengaku tidak takut menghadapi revolusi besar yang terjadi sejak beberapa bulan ini.

Presiden Suriah Bashar Al-Asad menyampaikan pidatonya yang ditunggu-tunggu, Rabu (30/3). Dalam pidato yang disampaikan di hadapan Majelis Rakyat, ia tidak mengumumkan jadwal sementara reformasi dan tidak berniat mencabut keadaan darurat.

Dalam pidato pendeknya, Asad menyebut adanya konspirasi besar dari negara-negara jauh dan dekat, yang berkomplot dengan kekuatan dalam negeri untuk melakukan provokasi menciptakan krisis. Ia juga menolak mundur dari jabatannya, namun akan berupaya melakukan reformasi.

Tak lama setelah berakhirnya pidato, ratusan warga Latakia turun ke jalan meneriakkan slogan-slogan “merdeka, merdeka” dan “damai, damai”. Aparat keamanan dan polisi merespons dengan menembakkan senjata ke arah mereka. Belum ada informasi tentang jumlah korban, namun saksi mata menuturkan, sekitar 300 orang turun ke jalan untuk memprotes pidato Asad dan disambut tembakan aparat keamanan.
 

Asad menegaskan, tidak ada reformasi baru.

Minggu, 3 April 2011
Jaringan komunikasi putus di Suriah, Ahad sehari setelah pihak berwenang menahan puluhan aktivis pro demokrasi dalam satu tindakan keras terhadap protes-protes anti pemerintah. "Ada satu operasi penahanan dan jaringan telepon putus jadi orsng menduga ada campur tangan tetapi pemerintah mengatakan itu akibat masalah teknis," kata seorang penduduk Douma, utara Damaskus.
Di ibu kota itu, komunikasi internet dan telepon seluler praktis tidak mungkin.

Selasa, 5 April 2011
Kelompok oposisi Suriah mengatakan Presiden Bashar al-Assad telah memberi lampu hijau untuk berdialog dengan oposisi. Dialog itu sebagai upaya memadamkan protes dan situasi yang bergejolak di dalam negeri.

Sumber tersebut mengatakan, pihak berwenang Suriah dan pejabat keamanan senior  mengisyaratkan kepada mediator untuk menentukan tanggal pertemuan dengan tokoh oposisi. Dalam pertemuan pemerintah berharap mengetahui tuntutan mereka.

Tanda-tanda ketenangan mulai nampak ketika Assad bertemu dengan para pekerja sosial di wilayah Hasaka, di mana minoritas Kurdi terkonsentrasi. Sinyal ini kian menguat ketika mereka bertemu kedua kalinya di istana Assad di Damaskus, Selasa (5/4). Dalam pertemuan di istananya, Assad juga mengucapkan selamat liburan Nowruz kepada tokoh-tokoh Kurdi.

Sabtu, 9 April 2011
Puluhan ribu aparat keamanan dan tentara Suriah mulai memperketat keamanan terhadap para penduduk yang akan melakukan unjuk rasa, Sabtu (9/4). 

Dalam beberapa jam terakhir warga menyaksikan serangan dan penembakan secara acak ke rumah-rumah warga. Sebuah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak awal protes 15 Maret lalu.
 

Organisasi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) di Suriah mengatakan, pasukan keamanan Suriah menewaskan sedikitnya 37 orang selama protes  sejak Jumat. “Sedikitnya 30 orang tewas di kota Dara’a selatan, dan 3 tewas di Homs dan Harasta, pinggiran kota Damaskus,”

Senin, 11 April 2011
Ratusan mahasiswa berkumpul di luar kampus Universitas Damaskus di ibukota Suriah, Senin (11/4), untuk mengungkapkan solidaritas terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi  yang tewas selama akhir pekan. 

Menurut sejumlah saksi mata, demonstrasi jarang terjadi pada hari Senin di Universitas Damaskus. Unjuk rasa tersebut berubah menjadi kekerasan ketika pasukan keamanan memukuli dan menangkap beberapa demonstran yang meneriakkan kata-kata kebebasan dan persatuan.

Kepala Organisasi Nasional Hak Asasi Manusia Suriah, Ammar Qurabi, mengatakan kepada seorang mahasiswa tewas setelah ditembak dalam demonstrasi. Rekaman video yang diposting online menunjukkan pasukan keamanan berpakaian preman memukuli para pemrotes dan  membubarkan paksa pemrotes yang berbaris di dalam kampus.

Selasa, 12 April 2011
Sekelompok wartawan Maroko, jurnalis asing dan mahasiswa jurnalistik, sore waktu setempat (Selasa, 12/4), akan menggelar protes di depan Kedutaan Besar Suriah di Rabat, ibukota Maroko. 

Mereka memprotes penahanan lanjutan pihak berwenang Suriah terhadap wartawan  kebangsaan Norwegia Zeid Masto yang ditangkap karena meliput peristiwa yang tengah terjadi di Suriah.

"Pemberontakan di Suriah telah meningkat, sementara 200 orang tewas, ratusan luka-luka dan sejumlah sama ditangkap," kata kelompok Deklarasi Damaskus dalam sepucuk surat yang dikirim Senin ke sekretariat jendral Liga Arab.

"Rezim itu telah mengerahkan pasukannya untuk mengepung kota-kota dan menteror warga sipil.


Rabu, 13 April 2011
ratusan perempuan Suriah yang melihat penangkapan massal para pria penduduk desa Beida, turun ke jalan raya utama di kota pesisir Suriah, Rabu (13/4). Mereka menuntut pembebasan para tahanan.

Lembaga HAM Suriah menyebutkan setidaknya 350 orang ditangkap.
pasukan keamanan Suriah mencegah tim medis di dua kota yang mencoba membawa korban yang terluka dalam bentrokan selama demonstrasi menentang pemerintah pekan lalu, untuk mendapatkan perawatan.

Pasukan keamanan Suriah memperketat pengepungan atas kota pesisir Banias dan menyerang desa-desa dan rumah-rumah warga di sekitarnya, Rabu (13/4).
sebuah desa yang terletak tenggara Banias diserbu aparat keamanan dan orang-orang bersenjata, yang mengakibatkan sedikitnya lima orang terluka.
desa mereka diserang dengan senapan mesin secara acak oleh aparat keamanan dan “As-Shabihah”, “Peluru yang mereka tembakkan ke arah kami bagaikan hujan,”
Pasukan keamanan Suriah juga telah menangkap puluhan orang.

Jum’at, 15 April 2011
Iran membantu Suriah dalam usahanya menindak para pemrotes pro-emokrasi.
Suriah meminta bantuan kepada Iran.
Iran membantu pemerintah Suriah.

Ketika Iran dengan terang-terangan membantu Bashar Assad Suriah, maka sudah bisa dipastikan media Islami Koran Republika selanjutnya akan memberitakan tragedi Suriah dengan mencondongkan diri ke Negara Syiah Rafidhah Iran.