Tuesday, May 20, 2014

// // Leave a Comment

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah [Goresan Pena Tanya Syiah Part 12]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Najd yang merupakan tempat keluarnya Tanduk Setan, pada era belakangan ini telah menjadi suatu hal yang kontroversial dan mengundang polemik. Ada yang mengatakan Najd itu adalah Najd yang berada di Saudi Arabia, dan ada juga yang menyatakan Najd tersebut adalah Najd yang berada di Irak. Padahal para ulama terdahulu yang shalih telah mengemukakan pendapatnya mengenai permasalahan Najd ini.

Sebenarnya polemik Najd wilayah timur Madinah ini bagi Tanya Syiah tidaklah bermasalah, selama timurnya Madinah tersebut bukanlah Jakarta dan daerah sekitarnya, dikarenakan domisili Tanya Syiah berada di daerah sekitar Jakarta yang mempunyai wilayah timur Indonesia terbentang dari Maluku Utara, Maluku, Papua Barat hingga Papua.
[http://id[.]wikipedia[.]org/wiki/Waktu_Indonesia_Timur]

Meskipun para simpatisan Syiah Rafidhah dari Isfahan, Khuza, Karman, Sijan, Khurasan Tehran, Khurasan Utara, Khurasan Razavi maupun Khurasan Selatan yang nantinya akan memaksakan pendapatnya bahwasanya wilayah timur Jakarta adalah Papua Nugini dikarenakan harus ditarik garis lurus secara horizontal dari wilayah Jakarta menuju timur. Namun Tanya Syiah tidak akan bergeming sedikitpun dalam mempertahankan pendapat bahwa wilayah timur Jakarta adalah terbentang dari Maluku Utara, Maluku, Papua Barat hingga Papua meskipun menyimpang 23.5o dari garis horizontal.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Goresan Pena Tanya Syiah “Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah ini akan dibagi menjadi beberapa pembahasan, di antaranya yaitu :

[1] Timur Masyriq Arah Terbitnya Tanduk Matahari
[2] Najd Irak & Gempa Bumi
[3] Pusat Kekufuran Tempat Turunnya Dajjal
[4] Rabi’ah & Mudhar Penggembala Kuda, Unta & Sapi
[5] Fitnah & Bid’ah

So let’s start it…

[1] Timur Masyriq Arah Terbitnya Tanduk Matahari


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا ويَمَنِنَا مَرَّتَيْنِ فَقَالَ رَجُلٌ وَفِي مَشْرِقِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هُنَالِكَ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ وَلَهَا تِسْعَةُ أَعْشَارِ الشَّرِّ
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Ya Allah, berkahilah di Syam kami dan Yaman kami.” beliau mengucapkannya dua kali. Kemudian seorang laki-laki berkata, ‘Dan di Timur [مَشْرِقِنَا] kami, wahai Rasulullah.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Dari sana-lah akan muncul Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ], dan baginya sembilan persepuluh [تِسْعَةُ أَعْشَارِ] keburukan.”
[Ahmad no.5384, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.5642, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

Namun ada sebuah agama yang berasal dari Timur [مَشْرِقِ] dan menjadikan sembilan persepuluh [تِسْعَةُ أَعْشَارِ] keburukan menjadi sebuah agama kebaikan yaitu salah satunya adalah dusta yang dikemas dengan nama Taqiyyah, ia adalah agama Syiah Rafidhah Persia al-Majusi.

قال لي أبو عبد الله (عليه السلام): يا أبا عمر إن تسعة أعشار الدين في التقية ولا دين لمن لا تقية له والتقية في كل شئ إلا في النبيذ والمسح على الخفين
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٢ - الصفحة ٢١٧
Abu Abdillah ‘alaihi Salam berkata kepadaku, “Wahai Abu Umar, sesungguhnya sembilan persepuluh [تسعة أعشار] agama (Syiah Rafidhah Persia al-Majusi Pusat Kekufuran) merupakan Taqiyyah [التقية]. Tidak ada agama bagi yang tidak mengamalkan Taqiyyah, serta Taqiyyah pada setiap perkara kecuali pada nabidz dan mengusap atas kedua khuf.”
[al-Kaafi 2/217, al-Kulainy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1123_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٢/الصفحة_0?pageno=217]

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تُفْتَحُ الْيَمَنُ فَيَأْتِي قَوْمٌ يُبِسُّونَ فَيَتَحَمَّلُونَ بِأَهْلِهِمْ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَتُفْتَحُ الشَّأْمُ فَيَأْتِي قَوْمٌ يُبِسُّونَ فَيَتَحَمَّلُونَ بِأَهْلِيهِمْ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَتُفْتَحُ الْعِرَاقُ فَيَأْتِي قَوْمٌ يُبِسُّونَ فَيَتَحَمَّلُونَ بِأَهْلِيهِمْ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Yaman ditaklukkan kemudian suatu kaum datang sambil menceritakan keindahan negeri itu dengan membawa keluarga dan pengikutnya, padahal Madinah lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahui. Kemudian Syam ditaklukkan kemudian suatu kaum datang sambil menceritakan keindahan negeri itu dengan membawa keluarga dan pengikutnya, padahal Madinah lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahui. Kemudian ‘Iraq ditaklukkan kemudian suatu kaum datang sambil menceritakan keindahan negeri itu dengan membawa keluarga dan pengikutnya, padahal Madinah lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahui.” [Bukhari no.1742]

Sehingga Yaman menjadi Yaman kami (milik kaum Muslimin), dan Syam menjadi Syam kami (milik kaum Muslimin), serta Irak menjadi Irak kami (milik kaum Muslimin). Semoga keberkahan pada Syam kami (milik kaum Muslimin) dan keberkahan pada Yaman kami (milik kaum Muslimin). Sedangkan Irak saat ini telah dikuasai oleh Syiah Rafidhah al-Majusi Pusat Kekufuran yang berada di arah Timur, yang di mana Najd (Dataran Tinggi)-nya (wilayah Irak kuno) telah ditimpa bencana gempa bumi, pedalamannya didatangi gelombang Fitnah-Fitnah seperti perang Jamal & Shiffin, Pembunuhan Ali dan Hushain Radhiyallahu ‘anhuma, Bid’ah-Bid’ah Khawarij & Rafidhah, bahkan Qadariyyah yang akan ditenggelamkan / dirubah bentuk / dilempar (batu), dan tempat turunnya Dajjal (wilayah Irak kuno), serta Tanduk Setan.

Pada masa Nabi Muhammad Shallalllahu ‘alaihi wa Sallam telah terdapat 2 (dua) kerajaan besar yang saling bertempur untuk menguatkan hegemoninya di daerah Maghrib dan Masyriq, mereka adalah Kaisar sang Penguasa Maghrib dengan Istana di Syam, dan Kisra sang Penguasa Timur dengan Istana di Irak.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا، وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ،
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,  “Sesungguhnya Allah telah menggulung bumi untukku, sehingga aku bisa melihat penjuru bumi belahan timur dan barat, dan sesungguhnya umatku, kerajaan mereka akan mencapai wilayah bumi yang dihimpun untukku. Dan diberikan kepadaku dua simpanan kekayaan merah dan putih. [Muslim no.5144]

[2889] قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (إِنَّ اللَّهَ قَدْ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وان أمتى سيبلغ ملكها مازوى لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرِ وَالْأَبْيَضِ) أَمَّا زُوِيَ فَمَعْنَاهُ جُمِعَ وَهَذَا الْحَدِيثُ فِيهِ مُعْجِزَاتٌ ظَاهِرَةٌ وَقَدْ وَقَعَتْ كُلُّهَا بِحَمْدِ اللَّهِ كَمَا أَخْبَرَ بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعُلَمَاءُ الْمُرَادُ بِالْكَنْزَيْنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْمُرَادُ كَنْزَيْ كسرى وقيصر ملكى العراق الشام فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ مُلْكَ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَكُونُ مُعْظَمُ امْتِدَادِهِ فِي جِهَتَيِ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَهَكَذَا وَقَعَ وَأَمَّا فِي جِهَتَيِ الْجَنُوبِ وَالشِّمَالِ فَقَلِيلٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَصَلَوَاتُ اللَّهِ وسلامه على رسوله الصادق الذى لاينطق عن الهوى ان هو الاوحى يُوحَى
(2889) Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam [إِنَّ اللَّهَ قَدْ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وان أمتى سيبلغ ملكها مازوى لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرِ وَالْأَبْيَضِ] “Sesungguhnya Allah telah menggulung bumi untukku, sehingga aku bisa melihat penjuru bumi belahan timur dan barat, dan sesungguhnya umatku, kerajaan mereka akan mencapai wilayah bumi yang dihimpun untukku. Dan diberikan kepadaku dua simpanan kekayaan merah dan putih.” Makna [زوى] ialah dihimpun. Di dalam hadits ini terdapat mukjizat yang sangat nyata, dan semuanya telah terwujud, segala puji hanya milik Allah, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Para ulama berkata, “Yang dimaksud dengan dua simpanan kekayaan adalah emas dan perak, maksudnya adalah simpanan kekayaan Kisra Raja Irak, dan Kaisar Raja Syam.” Di dalam hadits terdapat isyarat bahwa kerajaan umat ini sebagian besar kekuasaannya berada di wilayah timur dan barat, dan demikianlah yang terjadi. Adapun kekuasaan di wilayah selatan dan utara lebih sedikit bila dibandingkan dengan wilayah timur dan barat. Semoga shalawat dan salam Allah tetap terlimpah kepada Rasul-Nya yang jujur, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, ucapan beliau tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan kepada beliau.
[Syarah Shahih Muslim 18/13, Imam an-Nawawi]

Sehingga Syam dikatakan Maghrib dan Irak dikatakan Timur.
Oleh karena itu Imam Ahmad mengatakan :
“Ahli Gharb adalah penduduk Syam.” Dan jawaban ini disepakati oleh Ibnu Taimiyah dalam Manaqibisy-Syam wa Ahlihi, halaman 76-77
[http://almanhaj.or.id/content/2433/slash/0/keberkahan-bumi-syam/]

وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ نَجْدٌ مِنْ جِهَةِ الْمَشْرِقِ وَمَنْ كَانَ بِالْمَدِينَةِ كَانَ نَجْدُهُ بَادِيَةَ الْعِرَاقِ وَنَوَاحِيهَا وَهِيَ مَشْرِقُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ
Berkata al-Khaththabi, “Najd [نَجْدٌ] berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ] dan siapa saja yang berada di Madinah, maka Najdnya [بَادِيَةَ] adalah pedalaman Irak [الْعِرَاقِ] dan sekitarnya, dan ia (pedalaman Irak dan sekitarnya) adalah Timurnya [مَشْرِقُ] penduduk Madinah.”
[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 13/47, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Karena pada waktu zaman “baheula” Maghrib/Barat direpresentasikan/diwakilkan oleh Kaisar Romawi dan Masyriq/Timur direpresentasikan/diwakilkan oleh Kisra Persia. Kekuasaan Kisra sang Penguasa Timur terbentang dari Irak hingga Khurasan yang mayoritas penduduknya adalah beragama Majusi/Zoroaster.

Khurasan dari dulu hingga sekarang terkenal dengan sebutan sebagai “Tanah Matahari Terbit” atau disebut juga sebagai “Land Where The Sun Rises” atau “The Eastern Land”, dan wilayahnya membentang dari Negara Iran, Afghanistan, Pakistan, Tajikistan, Uzbekistan dan Turkmenistan.


KhurasanTanah Matahari Terbit” yang berada di Timur :
- Mashhad, Nishapur, Sabzevar and Kashmar (Iran)
- Balkh and Herat (Afghanistan)
- Merv, Nisa and Abiward (Turkmenistan)
- Samarqand and Bukhara (Uzbekistan)
- Transoxiana, Soghdiana, Sistan
- Kandahar, Zabulistan, Ghazni, Kabulistan
- Gurgan and Damghan
- Faryab, Taloqan, Badghis, Gharjistan, Tus or Susia, Sarakhs
- Sanjan (Turkmenistan)
- Khujand dan Panjakent (Tajikistan)
- Balochistan (Pakistan, Afghanistan, Iran)
[en.wikipedia.org/wiki/Greater_Khorasan]
[www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/03/m1whtm-khurasan-tanah-matahari-terbit-1]

Namun saat ini nama daerah Khurasan tersebut masih tertera abadi di dalam sebuah Negara, yaitu Negara Iran Syiah Rafidhah al-Majusi dengan masing-masing daerahnya bernama, Khurasan Tehran Iran, Khurasan Utara Iran, Khurasan Razavi Iran, Khurasan Selatan Iran.


Tanya Syiah pun telah membuat simulasi Matahari Terbit dari Timur dalam 4 kondisi yaitu Northern/Southern Solstice dan Northward/Southward Equinox, maka apa yang terjadi? Ternyata daerah yang tersinari matahari terlebih dahulu adalah wilayah Khurasan.

UT date and time of equinoxes and solstices on the earth
event
Northward
equinox
Northern
solstice
Southward
equinox
Southern
solstice
month
March
June
September
December
year
day
time
day
Time
day
time
day
Time
2013
20
11:02
21
05:04
22
20:44
21
17:11

[en.wikipedia.org/wiki/Equinox]
[en.wikipedia.org/wiki/Solstice]

Northward equinox [note : gambar berbentuk gif yang dapat bergerak]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Northern solstice [note : gambar berbentuk gif yang dapat bergerak]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Southward equinox [note : gambar berbentuk gif yang dapat bergerak]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Southern solstice [note : gambar berbentuk gif yang dapat bergerak]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Hal ini bisa terjadi dikarenakan The Greater Khurasan merupakan wilayah yang sangat luas membentang dari Barat (Iran) hingga Timur (Afghanistan), Utara (Turkmenistan, Tajikistan & Uzbekistan) hingga Selatan (Pakistan), sehingga matahari akan menyinari daerah Khurasan terlebih dahulu baru kemudian daerah setelahnya, oleh karena itu Khurasan dijuluki sebagai Tanah Matahari Terbit atau Land Where The Sun Rises atau juga “The Eastern Land”.

Rasulullah Shallalllahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan Khurasan adalah Timur. Sedangkan Rasulullah Shallalllahu ‘alaihi wa Sallam pun berisyarat ke arah Timur serta menghadap ke arah Terbitnya Matahari seraya mengatakan Timur adalah Tempat Fitnah dan Terbitnya Tanduk Setan atau Tanduk Matahari, dikarenakan Matahari Terbit di Tanduk Setan.

قَالَحَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدَّجَّالُ يَخْرُجُ مِنْ أَرْضٍ بِالْمَشْرِقِ يُقَالُ لَهَا خُرَاسَانُ يَتْبَعُهُ أَقْوَامٌ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah menceritakan kepada kami, beliau bersabda, “Dajjal akan muncul dari Bumi (Tanah) [أَرْضٍ] yang berada di Timur [بِالْمَشْرِقِ] bernama Khurasan, ia diikuti oleh kaum-kaum yang wajah mereka bagai perisai besi yang ditempa.”
[Tirmidzi no.2163, Shahih Tirmidzi no.2237, Syaikh al-Albani]

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ إِلَى الْمَشْرِقِ فَقَالَ هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berisyarat ke arah Timur [الْمَشْرِقِ] seraya bersabda, “Di sana, sesungguhnya Fitnah dari sana. Sesungguhnya Fitnah dari sana, yaitu dari tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ].” [Bukhari no.3037]

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ ثُمَّ سَلَّمَ فَاسْتَقْبَلَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ فَقَالَ أَلَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا أَلَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam shalat fajar kemudian salam lalu beliau menghadap ke arah Terbitnya Matahari [الشَّمْسِ] seraya bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya Fitnah dari sana, ketahuilah sesungguhnya Fitnah dari sana, yaitu dari tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ].”
[Ahmad no.5153, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.5410, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَامَ إِلَى جَنْبِ الْمِنْبَرِ فَقَالَ الْفِتْنَةُ هَا هُنَا الْفِتْنَةُ هَا هُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ أَوْ قَالَ قَرْنُ الشَّمْسِ
Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau berdiri ke samping mimbar seraya bersabda, “Fitnah dari sana, Fitnah dari sana, yaitu dari tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ],” atau beliau bersabda, “Tanduk Matahari [قَرْنُ الشَّمْسِ].” [Bukhari no.6563]

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ بِقَرْنِ شَيْطَانٍ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Matahari [الشَّمْسَ] Terbit pada Tanduk Setan [بِقَرْنِ شَيْطَانٍ].”
[Ahmad no.5329, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.5586, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

Lalu apakah permasalahan ini (Daerah Timur yang bernama Khurasan, yang menjadi Sumber Fitnah dan Tanduk Setan) bertentangan dengan ilmu pengetahuan manusia pada saat ini? Tanya Syiah akan menjelaskan simulasi Timur Matahari Terbit.

So let’s begin...

Di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ
“Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Rabb yang memelihara kedua tempat terbenamnya.” [QS. Ar-Rahmaan : 17]

Dengan adanya dua tempat yang berbeda mengenai terbitnya matahari, maka akan mengakibatkan pergantian musim di beberapa negara. Ada negara yang mempunyai 2 musim yaitu musim panas (summer) dan musim dingin (winter), bahkan ada yang mempunyai 4 musim yaitu dengan tambahan 2 musim lagi, yakni musim semi (spring) dan musim gugur (autumn).

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Untuk mempermudah penjelasan di atas, teman-teman dapat menonton video di bawah ini dalam menerangkan kejadian musim-musim tersebut.


Penjelasan tentang Musim-Musim.
[https://www.youtube.com/watch?v=k6Ma18knMKY]

Dalam video tersebut di atas dijelaskan bahwa posisi terbitnya matahari berpindah-pindah dari Selatan ke Utara dan begitu sebaliknya, seperti yang akan disimulasikan dengan video di bawah berikut.


Simulasi terbit Matahari dari Timur berpindah-pindah dari Selatan ke Utara dan begitu pula sebaliknya.
[https://www.youtube.com/watch?v=LUAe0__0tYs]

Gambar Matahari Terbit terhadap Bumi

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Gambar Posisi Sinar Matahari Menyinari Bumi

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Gambar posisi Axis Rotation (garis lurus yang menghubungkan Utara & Selatan) menyimpang 23.5o dari Pependicular to Orbit.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Gambar posisi Axis Rotation disesuaikan dengan posisi utara dan selatan agar mempermudah menganalisa di peta. [note : gambar berbentuk gif yang dapat bergerak]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Pada posisi Northward/Southward Equinox, maka posisi matahari terbit tepat pada 90o pada garis Axis Rotation atau bisa juga di buat garis lurus di peta secara Horizontal dari view point (misal : Madinah) menuju timur.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Sedangkan pada posisi Northern/Southern Solstice, maka posisi matahari terbit tepat pada 90o pada garis Pependicular to Orbit, sehingga terdapat penyimpangan sebesar 23.5o ke Utara/Selatan dari Axis Rotation yang sebagai implikasinya terdapat penyimpangan juga sebesar 23.5o ke Utara & Selatan dari garis lurus di peta secara Horizontal dari view point (misal : Madinah) menuju timur.

Dari penjabaran tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ada dua tempat matahari terbit yaitu pada posisi Northern & Southern Solstice, sedangkan diantara keduanya terdapat posisi Northward/Southward Equinox. Lalu posisi manakah yang dimaksud dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengenai Timur Masyriq Arah Terbitnya Tanduk Matahari?

Tentunya dengan penjabaran hadits sebelumnya mengenai Khurasan tersebut di atas sudah dapat terjawab yaitu Khurasan adalah Timur Tanah Matahari Terbit, namun Tanya Syiah akan menguatkan lagi dengan menganalisa beberapa hadits.

Ada sebuah hadits yang menjadi pegangan Syiah Rafidhah dalam mencela Sayyidah Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha (Ahlul Bait : Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam). Padahal Sayyidah Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha (Ahlul Bait : Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) adalah seorang wanita mulia yang tidak boleh seorangpun boleh mencelanya, karena Allah telah berfirman mengenai Sayyidah Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha (Ahlul Bait : Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) yaitu ketika terjadi peristiwa yang dikenal sebagai hadits ifki pada saat orang-orang Munafiq telah menghembuskan fitnah keji terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Tanya Syiah juga telah mengGoreskan Pena part [6] Kemuliaan Ahlul Bait Rasulullah untuk membela para Ahlul Bait.

Hadits yang digunakan oleh Syiah Rafidhah mengenai Tanduk Setan dalam menyerang kemuliaan Sayyidah Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha (Ahlul Bait : Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) sebagai Tanduk Setan adalah sebagaimana yang digunakan oleh seorang Syiah Rafidhah di Indonesia

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا فَأَشَارَ نَحْوَ مَسْكَنِ عَائِشَةَ فَقَالَ هُنَا الْفِتْنَةُ ثَلَاثًا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdiri menyampaikan khutbah lalu berisyarat ke arah [فَأَشَارَ نَحْوَ  ] rumah ‘Aisyah seraya bersabda, “Di sana ada fitnah, sebanyak tiga kali, yaitu tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ].” [Bukhari no.2873]

Apakah hadits tersebut di atas dapat dipahami bahwasannya rumah Sayyidah Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha (Ahlul Bait : Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) beserta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam baik pada masa hidupnya atau sesudah wafatnya merupakan Tempat Fitnah dan Tanduk Setan?

Maka perhatikanlah hadits-hadits lainnya di bawah ini :

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ أَلَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا يُشِيرُ إِلَى الْمَشْرِقِ مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda saat beliau berdiri di atas mimbar, “Ketahuilah, sesungguhnya fitnah dari sana.” Beliau berisyarat ke arah Timur [الْمَشْرِقِ], yaitu tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ]. [Bukhari no.3249]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عِنْدَ بَابِ حَفْصَةَ فَقَالَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ الْفِتْنَةُ هَاهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا
و قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ فِي رِوَايَتِهِ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ بَابِ عَائِشَةَ
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berdiri di dekat pintu Hafshah lalu berisyarat dengan tangannya ke arah Timur [الْمَشْرِقِ], beliau bersabda, “Fitnah dari sana, yaitu tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ].” Beliau mengucapkannya dua atau tiga kali.
Ubaidullah bin Sa'id berkata dalam riwayatnya, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berdiri di dekat pintu ‘Aisyah.” [Muslim no.5168]

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا عِنْدَ بَابِ عَائِشَةَ فَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فَقَالَ الْفِتْنَةُ هَاهُنَا حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, bahwa beliau pernah berdiri di pintu rumah ‘Aisyah, kemudian beliau berisyarat dengan tangannya ke arah Timur [الْمَشْرِقِ] seraya bersabda, “Fitnah dari sana, yaitu tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ].”
[Ahmad no.4450, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.4679, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِ عَائِشَةَ فَقَالَ رَأْسُ الْكُفْرِ مِنْ هَاهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ يَعْنِي الْمَشْرِقَ
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam keluar dari rumah ‘Aisyah seraya bersabda, “Pusat kekufuran dari sana, yaitu tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ].” Yakni Timur [الْمَشْرِقَ]. [Muslim no.5170]

 [3301] قَوْلُهُ رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فِي رِوَايَةِ الْكُشْمِيهَنِيِّ قِبَلَ الْمَشْرِقِ
وَفِي ذَلِكَ إِشَارَةٌ إِلَى شِدَّةِ كُفْرِ الْمَجُوسِ لِأَنَّ مَمْلَكَةَ الْفُرْسِ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ مِنَ الْعَرَبِ كَانَتْ مِنْ جِهَةِ الْمَشْرِقِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْمَدِينَةِ وَكَانُوا فِي غَايَةِ الْقَسْوَةِ وَالتَّكَبُّرِ وَالتَّجَبُّرِ حَتَّى مَزَّقَ مَلِكُهُمْ كِتَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا سَيَأْتِي فِي مَوْضِعِهِ وَاسْتَمَرَّتِ الْفِتَنُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ وَاضِحًا فِي الْفِتَنِ
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, [رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ] “Pusat kekufuran berada di arah Timur [نَحْوَ الْمَشْرِقِ]” Dalam riwayat al-Kusymihaniy [قِبَلَ الْمَشْرِقِ] “Ke arah Timur.”
Hal tersebut memberikan isyarat akan kerasnya kekufuran kaum Majusi, karena sesungguhnya kerajaan Persia dan orang-orang yang mentaatinya dari bangsa ‘Arab yang merupakan berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ] ketika dilihat dari kota Madinah [الْمَدِينَةِ]. Dan mereka berada pada puncak kekerasan hati, kesombongan dan keangkuhan hingga raja mereka merobek-robek surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana yang akan disebutkan pada tempatnya nanti. Dan berlangsungnya Fitnah [الْفِتَنُ] secara terus menerus dari arah Timur [الْمَشْرِقِ] sebagaimana yang akan dijelaskan pada pembahasan tentang fitnah.
[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 6/352, al-Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Perhatikan 5 hadits dan 1 syarah hadits tersebut di atas yang telah Tanya Syiah cantumkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikan khutbah berdiri di atas mimbar, lalu berisyarat ke arah timur rumahnya ‘Aisyah yang diteruskan arahnya dari Pintu rumah ‘Aisyah menuju langsung ke arah Timur Tempat Fitnah dan Tanduk Setan Pusat kekufuran, yaitu Persia al-Majusi.

Di bawah adalah satelit Masjid Madinah berikut denahnya yang terdapat posisi mimbar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam menyampaikan khutbahnya beserta posisi rumah Sayyidah Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha (Ahlul Bait : Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) yang terdapat makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beserta al-Khalifah Sayyidina Imam Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Sedangkan di antara mimbar dan ruangan makam terdapat Raudhah, sebagaimana di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengenai keutamaannya.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي
Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Di antara rumahku dan mimbarku adalah Raudhah (taman) di antara taman-taman surga dan mimbarku berada pada Telagaku (di surga).” [Bukhari no.1755]

Satelit Masjid Madinah

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Denah Masjid Nabawi

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

1.    Makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
2.    Makam Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu
3.    Makam Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu
4.    Tempat yang menurut suatu riwayat disediakan untuk Nabi Isa ‘alaihi Salam, ada 2 kemungkinan yaitu berada luruh dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam atau berada di belakang Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu
5.    Tempat peristirahatan Aisyah Radhiyallahu ‘anha
6.    Tempat kedatangan malaikat Jibril ketika menyampaikan wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
7.    Dinding kamar Aisyah Radhiyallahu ‘anha, yang dibengun sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, hingga saat ini tembok tersebut masih berdiri kokoh
8.    Dinding makam berbentuk segilima, yang dibangun oleh Umar bin Abdul Aziz, agar makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menyerupai ka’bah dan terlalu dikultuskan oleh umat Islam.
9.    Dinding segi lima lapis kedua yang dibangun oleh sultan Qait bay dari Mesir
10. Tiang-tiang yang memperkuat dinding segilima lapis kedua
11. Bagian dari raudhah yang terdapat di bagian dalam tembok kamar makam.
12. Bagian dari raudhah yang terdapat di luar kamar makam, (nomor 12 tidak terdapat pada detail gambar, area ini adalah tempat yang biasanya dijadikan rebutan oleh umat Islam)
13. Area dengan nomor 13 adalah bukan bagian dari raudhah.
14. Kediaman Fathimah Radhiyallahu ‘anha
15. Mihrab di dalam kediaman Fathimah Radhiyallahu ‘anha, yang dibangun oleh sultan Qait bay
16. Mihrab tempat tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seringkali bertahajud seorang diri
17. Tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam shalat tahajud berjamaah bersama ahlus suffah, tempat ini berada di belakang kediaman Fathimah Radhiyallahu ‘anha
18. Lubang besar terletak di bagian depan, lubang ini lurus searah dengan makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
19. Lubang kecil terletak di bagian depan searah dengan makam Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu
20. Lubang kecil di bagian depan searah dengan makam Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu
21. Tempat beberapa batu sisa-sisa kediaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang kemudian dibuang pada masa Khalifah al-Walid bin Abdul Malik
22. Usthuwanah al+Sarir, tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beristirahat ketika terlalu capai beribadah
23. Usthuwanah al-Wufud, tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seringkali menerima tamu-tamu penting
24. Usthuwanah al-Hirs, tempat para shahabat bersiaga menjaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, seringkali Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu bersiaga di tempat tersebut
25. Bab at-Taubah, pintu masuk makam di bagian depan
26. Bab Aisyah Radhiyallahu ‘anha, pintu masuk makam di bagian samping dari arah raudhah
27. Lubang kisi-kisi yang lurus searah dengan kepala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia.
28. Lubang kisi-kisi yang lurus searah dengan kaki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia
29. Beberapa pintu masuk menuju makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
30. Lingkaran kubah kecil yang berada tepat diatas makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
31. Lingkaran kubah lapis kedua, yang disebut kubah al-Zarqa’
32. Lingkaran kubah lapis ketiga, atau kubah al-Khadra’ (kubah hijau) yang terlihat dari bagian luar makam.
33. Bagian dari kamar makam (tertulis dengan nomor 32)
34. Panggung setinggi kurang lebih 30 cm, tempat para ahlus suffah berjamaah shalat tahajud bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
35. Panggung setinggi kurang lebih 60 cm, tempat ahlus suffah biasa berkumpul
36. Usthuwanah at-taubah
37. Usthuwanah Aisyah
38. Mihrab tempat shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
39. Usthuwanah al-Mukhallaqah
40. Mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
41. Panggung tempat adzan

Miniatur Masjid Nabawi

Najd Irak Tanduk Setan Timur MadinahNajd Irak Tanduk Setan Timur Madinah
  
Simulasi Denah 15m x 22m yang merupakan Raudhah antara mimbar dan rumah yang sesuai dengan informasi di atas baik denah ataupun miniatur Masjid Nabawi, maka dapat dilihat antara mimbar dan rumah Sayyidah Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha (Ahlul Bait : Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) tidak tegak lurus secara horizontal namun terdapat penyimpangan beberapa derajat, yaitu :

-1- Mempunyai batas atas sebesar 20o dan batas bawah sebesar 10o ketika diukur terhadap kamar/makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
-2- Namun jika diukur terhadap pintu masjid Nabawi yang terhubung langsung ke pintu rumah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha maka mempunyai batas atas sebesar 23.5o dan batas bawah sebesar 10o

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Simulasi berdasarkan skala luas Raudhah 15m x 22m

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Jika berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas, maka ada beberapa keyword di antaranya adalah Khutbah, Mimbar, Pintu, Rumah Sayyidah Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha (Ahlul Bait : Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) dan Timur Pusat Kekufuran serta Persia al-Majusi.

Jika Tanya Syiah menarik garis lurus dari mimbar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menuju rumahnya ‘Aisyah yang diteruskan arahnya dari Pintu rumah ‘Aisyah menuju langsung ke arah Timur Tempat Fitnah dan Tanduk Setan, maka berdasarkan pengukuran Tanya Syiah terdapat penyimpangan sekitar 23.5o dari garis lurus Horizontal menuju Timur yang menembus langsung ke Khurasan yaitu Pusat Kekufuran Persia al-Majusi Syiah Rafidhah.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Maka dapat disimpulkan Timur Madinah Arah Terbitnya Matahari menyimpang 23.5o dari garis lurus Horizontal yaitu pada posisi Northern Solstice atau bisa dikatakan tegak lurus 90o dari Pependicular to Orbit.

Oleh karena itu pada posisi Northern Solstice, terbitnya matahari akan menyinari terlebih dahulu daerah Khurasan – Persia – Bashrah Irak – Arab Saudi [note : gambar berbentuk gif yang dapat bergerak]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Dan jika posisi peta disesuaikan dengan arah matahari terbit baik pada saat Equinox dan Solstice, maka secara garis bujur pun Khurasan, Persia Iran dan Bashrah Irak merupakan Timur Madinah yang akan tersinari Sinar Matahari terlebih dahulu ketika Terbit.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Sehingga teman-teman dapat mengetahui dengan pasti bahwa Timur Masyriq Arah Terbitnya Tanduk Matahari dengan penjabaran di atas, yaitu Mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tempat untuk berkhutbah dijadikan starting point arah Timurnya Terbit Matahari menuju rumah ‘Aisyah yang diteruskan kembali menuju Timur Pusat Kekufuran Persia Syiah Rafidhah al-Majusi melewati Bashrah Irak serta Khuza Ahwaz dan langsung menembus daerah Khurasan Tanah Matahari Terbit dengan posisi Northern Solstice menyimpang 23.5o dari garis lurus Horizontal.

[2] Najd Irak & Gempa Bumi


ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah berdoa, “Ya Allah, berkahilah di Syam kami, ya Allah, berkahilah di Yaman kami.” Para Shahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, dan di Najd [نَجْدِ] kami.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdoa, “Ya Allah, berkahilah di Syam kami, ya Allah, berkahilah di Yaman kami.” Para Shahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, dan di Najd [نَجْدِ] kami.’ dan seingatku pada kali ketiga, beliau bersabda, “Di sana akan terjadi Gempa Bumi [الزَّلَازِلُ] dan Fitnah-Fitnah [الْفِتَنُ], dan di sana akan muncul Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ].” [Bukhari no.6565]

وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ نَجْدٌ مِنْ جِهَةِ الْمَشْرِقِ وَمَنْ كَانَ بِالْمَدِينَةِ كَانَ نَجْدُهُ بَادِيَةَ الْعِرَاقِ وَنَوَاحِيهَا وَهِيَ مَشْرِقُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَأَصْلُ النَّجْدِ مَا ارْتَفَعَ مِنَ الْأَرْضِ وَهُوَ خِلَافُ الْغَوْرِ فَإِنَّهُ مَا انْخَفَضَ مِنْهَا وَتِهَامَةُ كُلُّهَا مِنَ الْغَوْرِ وَمَكَّةُ مِنْ تِهَامَةَ
Berkata al-Khaththabi, “Najd [نَجْدٌ] berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ] dan siapa saja yang berada di Madinah, maka Najdnya [بَادِيَةَ] adalah pedalaman Irak [الْعِرَاقِ] dan sekitarnya, dan ia (pedalaman Irak dan sekitarnya) adalah Timurnya [مَشْرِقُ] penduduk Madinah [الْمَدِينَةِ]. Asal kata Najd [النَّجْدِ] adalah tanah yang tinggi yang berbeda dengan Ghaur [الْغَوْرِ] yang berarti tanah yang rendah serta Tihamah [وَتِهَامَةُ] seluruhnya adalah Ghaur [الْغَوْرِ] dan Mekkah merupakan bagian dari Tihamah [تِهَامَةَ].”
[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 13/47, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Tanya Syiah pun juga mencoba melihat arti Najd di kamus al-Munawwir
[نجد ونجاد ونجود وانجاد] = Tanah yang tinggi

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Namun ada sebuah wilayah di Arab Saudi yang bernama Najd. Lalu apakah Najd yang berada di Arab Saudi tersebut merupakan tempat yang dimaksud oleh hadits tersebut di atas? Oleh karena itu perlu disimak Goresan Pena Tanya Syiah hingga akhir.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah
[http://en.wikipedia.org/wiki/Najd]

Sedangkan Najd juga berada di Gaza Palestina

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah
[http://en.wikipedia.org/wiki/Najd,_Gaza]

Dan ada Najd pula di Timur Arab Saudi yaitu di Jubail

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Bahkan ada sebuah hadits yang membedakan Irak dengan Najd, yaitu :

وَمُهَلُّ أَهْلِ الْعِرَاقِ مِنْ ذَاتِ عِرْقٍ وَمُهَلُّ أَهْلِ نَجْدٍ مِنْ قَرْنٍ
“Dan Muhallu (tempat memulai Ihram) bagi penduduk Irak adalah dari Dzatu ‘Irq, dan bagi penduduk Najd adalah dari Qarn,” [Muslim no.2028]

Namun ada hadits yang menafsirkan bahwa yang dimaksud Najd tersebut adalah Najd yang berada di Irak.

2494 - " ألا إن الفتنة ههنا، ألا إن الفتنة ههنا [قالها مرتين أو ثلاثا] ، من حيث
يطلع قرن الشيطان، [يشير [بيده] إلى المشرق، وفي رواية: العراق] ".
Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan muncul di sini! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan muncul di sini!” Beliau mengucapkannya dua atau tiga kali, yaitu dari tempat munculnya Tanduk Setan [قرن الشيطان]. Beliau mengarahkan (tangannya) ke Timur [المشرق]. Dalam sebuah riwayat disebutkan Irak [العراق].
[Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no.2494, Syaikh al-Albani]

سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ يَقُولُا يَا أَهْلَ الْعِرَاقِ مَا أَسْأَلَكُمْ عَنْ الصَّغِيرَةِ وَأَرْكَبَكُمْ لِلْكَبِيرَةِ سَمِعْتُ أَبِي عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُا
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْفِتْنَةَ تَجِيءُ مِنْ هَاهُنَا وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ وَأَنْتُمْ يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
Aku mendengar Salim bin Abdullah bin Umar berkata, “Wahai penduduk Irak [الْعِرَاقِ], aku tidak bertanya kepada kalian tentang perkara kecil dan tidak menempatkan kalian pada perkara besar.”
Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya fitnah akan muncul di sini -beliau menunjuk dengan tangannya ke arah Timur [الْمَشْرِقِ]- yaitu dari tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنَا الشَّيْطَانِ]. Sedangkan kalian saling menebas leher sebagian yang lain.” [Muslim no.5172]

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ بِيَدِهِ يَؤُمُّ الْعِرَاقَ هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berisyarat dengan tangannya menuju Irak [الْعِرَاقَ], “Di sanalah, sesungguhnya Fitnah dari sana, di sanalah, sesungguhnya Fitnah dari sana.” Beliau mengatakannya sampai tiga kali, yaitu tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ].”
[Ahmad no.6020, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.6302, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Kata al-‘Iraq berarti tempat asal tumbuh-tumbuhan, seakan-akan merupakan bentuk jamak dari ‘Irqu. Ada yang mengatakan, dinamakan Irak, karena dekat dengan laut, karena penduduk Hijaz menamai sesuatu yang dekat laut dengan sebutan Irak. Ada juga yang mengatakan, dinamai Irak karena tanahnya datar, jarang terdapat pegunungan yang tinggi, sebagai penunjuk ke tanah datar di antara sungai Tigris (Dijlah) dan Eufrat atau negeri as-Sawad dan al-Jazirah.
Irak : negeri terkenal, negeri Babilonia, negeri ar-Rafidin, al-Jazirah, dan as-Sawad.
Dua Irak : Kufah dan Basrah
Irak di Persia adalah daerah pegunungan, Hamadan dan sekitarnya.
[Raudhah al-Mi’thar 315, 410, 596] [al-Qamus al-Islam 5/317] [Mu’jam al-Buldan 4/93]
[Atlas Hadits an-Nabawiy min al-Kitab ash-Shahih as-Sittah 259, Syauqi Abu Khalil]

أَمَّا خُوزٌ فَمِنْ بِلَادِ الْأَهْوَازِ وَهِيَ مِنْ عِرَاقِ الْعَجَمِ وَقِيلَ الْخُوزُ صِنْفٌ مِنَ الْأَعَاجِمِ
Adapun Khuza berasal dari negeri Ahwaz, yaitu wilayah Irak yang masuk negeri ‘Ajam, ada pula yang berpendapat bahwa Khuza adalah satu rumpun dengan bangsa ‘Ajam.
[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 6/607, al-Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Kemudian, istilah Mesopotamia itu lebih umum diterapkan untuk semua tanah antara sungai Eufrat dan Tigris, sehingga menggabungkan tidak hanya bagian dari Suriah tetapi juga hampir semua Irak dan Turki tenggara. Dataran stepa di sebelah barat sungai Eufrat dan bagian barat Pegunungan Zagros juga sering termasuk dalam istilah yang lebih luas Mesopotamia. Perbedaan lebih lanjut biasanya dibuat antara atas atau Utara Mesopotamia dan dataran yang rendah atau Selatan Mesopotamia. Atas Mesopotamia, juga dikenal sebagai Jazirah, adalah daerah antara Eufrat dan Tigris dari sumber-sumber mereka ke Baghdad. Lebih rendah, bagian Mesopotamia terdiri dari selatan Irak, Kuwait, dan Iran bagian barat.
[id.wikipedia.org/wiki/Mesopotamia]

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa wilayah Irak Kuno yang dikenal sebagai Mesopotamia memiliki wilayah yang sangat luas, terbentang dari al-Jazirah (Turki Tenggara, sebagian Suriah dan Irak), Bashrah Irak hingga Hamadan Iran serta Ahwaz Khuza / Khuzestan Iran.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Sedangkan Najd Irak di wilayah Hamadan Iran dan bagian barat pegunungan Zagros Iran termasuk dataran tinggi yang seringkali tertimpa bencana gempa bumi, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Begitu pula di Najd Irak merupakan tempat munculnya fitnah-fitnah yang akan dijelaskan pada tempatnya nanti.

Najd Irak Tanduk Setan Timur MadinahNajd Irak Tanduk Setan Timur Madinah


ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah berdoa, “Ya Allah, berkahilah di Syam kami, ya Allah, berkahilah di Yaman kami.” Para Shahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, dan di Najd [نَجْدِ] kami.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdoa, “Ya Allah, berkahilah di Syam kami, ya Allah, berkahilah di Yaman kami.” Para Shahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, dan di Najd [نَجْدِ] kami.’ dan seingatku pada kali ketiga, beliau bersabda, “Di sana akan terjadi Gempa Bumi [الزَّلَازِلُ] dan Fitnah-Fitnah [الْفِتَنُ], dan di sana akan muncul Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ].” [Bukhari no.6565]

Peta Peristiwa Gempa Bumi di Timur Tengah dari tahun 1900 sampai Maret 2012

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah
[earthquake.usgs.gov/earthquakes/world/middle_east/seismicity.php]

Saat ini wilayah Irak kuno di bagian Barat Pegunungan Zagros (Iran) dan Hamadan (Iran) telah dikuasai oleh Syiah Rafidhah al-Majusi pengikut paham al-Qadariyyah yang menempuh jalan Filsafat dalam membahas masalah takdir. Sehingga negerinya pun sering dilanda bencana Gempa Bumi.

هذا الذى قاله بن عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ظَاهِرٌ فِي تَكْفِيرِهِ الْقَدَرِيَّةَ قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ رَحِمَهُ اللَّهُ هَذَا فِي الْقَدَرِيَّةِ الْأُوَلِ الَّذِينَ نَفَوْا تَقَدُّمَ عِلْمِ اللَّهِ تَعَالَى بِالْكَائِنَاتِ قَالَ وَالْقَائِلُ بِهَذَا كَافِرٌ بِلَا خِلَافٍ وَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُنْكِرُونَ الْقَدَرَ هُمُ الْفَلَاسِفَةُ فِي الْحَقِيقَةِ
Yang dikatakan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma adalah jelas menunjukkan pengkafirannya terhadap kaum al-Qadariyyah.” Al-Qadhi Iyadh Rahimahullah berkata, “Hal tersebut berlaku pada kaum al-Qadariyyah pertama yang menafikan Ilmu Allah Ta’ala terhadap alam semesta.” Dia juga menambahkan bahwa orang yang mengatakan demikian adalah kafir tanpa ada perselisihan. Orang-orang yang mengingkari takdir, pada hakikatnya mereka adalah orang-orang Filsafat.”
[Syarah Shahih Muslim 1/153-156, Imam an-Nawawi]

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تَشْهَدُوهُمْ
Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Kaum al-Qadariyyah adalah Majusi umat ini, jika mereka sakit maka janganlah kalian jenguk, dan jika mereka mati maka janganlah kalian menghadirinya [تَشْهَدُوهُمْ].”
[Abu Daud no.4071, Hasan : Shahih Abu Dawud no.4691, Syaikh al-Albani]

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَكُونُ فِي أُمَّتِي أَوْ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ مَسْخٌ وَخَسْفٌ وَقَذْفٌ وَذَلِكَ فِي أَهْلِ الْقَدَرِ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Akan terjadi pada umatku atau di umat ini perubahan bentuk [مَسْخٌ], penenggelaman [خَسْفٌ] dan dilempari (batu) [قَذْفٌ]. Hal tersebut terjadi pada pengikut paham al-Qadariyah.”
[Ibnu Majah no.4051, Hasan : Shahih Ibnu Majah no.3298, Syaikh al-Albani]

Sehingga teman-teman dapat mengetahui dengan pasti bahwa Najd Timur Madinah adalah Najd Irak wilayah kuno yang terbentang dari Dataran Tinggi Pegunungan Hamadan Iran hingga Dataran Tinggi bagian Barat Pengunungan Zagros Iran yang sering tertimpa bencana Gempa Bumi.

[3] Pusat Kekufuran Tempat Turunnya Dajjal


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْإِبِلِ وَالْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, “Pusat kekufuran berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ]. Kebanggaan diri dan kesombongan terletak pada para pemilik kuda dan unta. Serta al-Faddadin berada pada penduduk al-Wabar, sedangkan ketenangan ada pada para pemilik kambing.” [Bukhari no.3056]

 [3301] قَوْلُهُ رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فِي رِوَايَةِ الْكُشْمِيهَنِيِّ قِبَلَ الْمَشْرِقِ
وَفِي ذَلِكَ إِشَارَةٌ إِلَى شِدَّةِ كُفْرِ الْمَجُوسِ لِأَنَّ مَمْلَكَةَ الْفُرْسِ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ مِنَ الْعَرَبِ كَانَتْ مِنْ جِهَةِ الْمَشْرِقِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْمَدِينَةِ وَكَانُوا فِي غَايَةِ الْقَسْوَةِ وَالتَّكَبُّرِ وَالتَّجَبُّرِ حَتَّى مَزَّقَ مَلِكُهُمْ كِتَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا سَيَأْتِي فِي مَوْضِعِهِ وَاسْتَمَرَّتِ الْفِتَنُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ وَاضِحًا فِي الْفِتَنِ
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, [رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ] “Pusat kekufuran berada di arah Timur [نَحْوَ الْمَشْرِقِ]” Dalam riwayat al-Kusymihaniy [قِبَلَ الْمَشْرِقِ] “Ke arah Timur.”
Hal tersebut memberikan isyarat akan kerasnya kekufuran kaum Majusi, karena sesungguhnya kerajaan Persia dan orang-orang yang mentaatinya dari bangsa ‘Arab yang merupakan berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ] ketika dilihat dari kota Madinah [الْمَدِينَةِ]. Dan mereka berada pada puncak kekerasan hati, kesombongan dan keangkuhan hingga raja mereka merobek-robek surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana yang akan disebutkan pada tempatnya nanti. Dan berlangsungnya Fitnah [الْفِتَنُ] secara terus menerus dari arah Timur [الْمَشْرِقِ] sebagaimana yang akan dijelaskan pada pembahasan tentang fitnah.
[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 6/352, al-Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Sedangkan Aqidah Majusi / Zoroaster berada pada kaum al-Qadariyyah yang di mana saat ini telah dijadikan keyakinan oleh Syiah Rafidhah al-Majusi, Tanya Syiah telah menggoreskan pena di Goresan Pena Tanya Syiah Part [11] Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi. Oleh karena itu Tanya Syiah akan mempersingkatnya dengan 2 point saja :

[-] Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme dengan Ahura Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui.

Begitupula dengan agama Syiah Rafidhah al-Majusi, meskipun mengajarkan monoteisme dengan Allah sebagai satu-satunya Rabb yang harus disembah namun keberadaan Rabb-Rabb lainnya pun tetap diakui untuk mengatur urusan makhluk di dunia.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Khomeini Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi,

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu.” [QS. Ar-Ra’d : 2]
Yakni Rabbmu [رَبِّكُمْ] adalah Imam.

Sehingga para Imam Syiah Rafidhah al-Majusi yang sebagai Rabb yang memiliki sifat Rububiyyah, yaitu dapat mengatur urusan makhluk di dunia, yaitu seperti al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi yang sedang dalam masa Ghaibah al-Kubra.


Ahmadi Nejad al-Yahudi Presiden Iran Syiah Rafidhah al-Majusi
Menit 00:10 – 00:35
Beberapa orang percaya bahwa sang Imam Ghaib (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) sedang hidup di suatu tempat, tanpa memperhatikan sama sekali terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia. Jika ini terjadi, maka tidak akan ada keberadaan (Imam Ghaib) sama sekali. Semuanya akan berada dalam kekacauan. Sang Imam Ghaib mengatur semua urusan dunia.
[https://www.youtube.com/watch?v=fPaJZxALUvA]

[-] Majusi mempercayai akan datangnya Saoshayant yaitu seorang penyelamat dan memerintah serta memelihara bumi, yang akan memimpin manusia melawan Ahriman yang menciptakan Kejahatan beserta pengikutnya. Dan dia (Saoshayant) akan membangkitkan orang yang telah mati di bumi.

Begitupula dengan agama Syiah Rafidhah al-Majusi, mempercayai akan datangnya sang Imam Ghaib (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) yaitu seorang penyelamat dan memerintah serta memelihara bumi, Dan dia (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) akan membangkitkan orang yang telah mati di bumi.

Imam Ghaib (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) akan memerintahkan bumi untuk mengeluarkan minuman air dan susu serta makanan dan tanaman sehingga menjadi menggununglah makanan tersebut.

Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika Imam Mahdi af. muncul di Mekah dan hendak berangkat menuju Kufah, ia memerintahkan pasukannya untuk tidak membawa bekal makanan dan minuman. Ketika itu, Imam Mahdi af. membawa sebuah batu yang pernah digunakan oleh Nabi Musa as. untuk mengeluarkan dua belas mata air dari tanah. Setiap kali berhenti berjalan untuk istirahat, ia menggunakan batu itu untuk mengeluarkan mata air dari tanah. Setiap orang yang lapar akan menjadi kenyang dengan meminum air itu, dan setiap orang yang haus dapat melepas rasa haus dengan meminumnya.
Seperti ini makanan dan minuman selalu tersedia bagi pasukannya sampai ia sampai ke kota Najaf. Di sana ia meletakkan batu itu di atas tanah lalu dari tanah keluar air dan susu yang dapat mengenyangkan setiap orang yang lapar.”
[Bashairud Darajat, hal. 188; Kafi, jil. 1, hal. 231; Nu’mani, Ghaibah, hal. 238; Kharaij, jil. 2, hal. 690; Nurut Tsaqalain, jil. 1, hal. 84; Bihar al-Anwar, jil. 13, hal. 185, dan jil. 52, hal. 324 -Kitab Syiah Rafidhah-]

Imam Baqir as. bersabda, “Ketika al-Qaim (af.) muncul, ia membawa bendera Rasulullah Saw., cincin Nabi Sulaiman as., batu, dan tongkat Nabi Musa as. Kemudian, ia memerintahkan pasukannya untuk tidak membawa bekal makanan dan minuman untuk diri mereka dan hewan kendaraannya. Sebagian orang, ada yang ragu dan berkata, ‘Ia ingin membuat kita celaka dan membunuh hewan kendaraan kita dengan membiarkannya kelaparan!’ Akhirnya mereka pun berangkat memulai perjalanan. Setibanya di suatu tempat, Imam Mahdi af melemparkan batu yang dibawanya, lalu muncul makananminuman, dan rumput-rumputan dari tanah tersebut. Kemudian pasukannya memanfaatkan makanan dan minuman itu sampai mereka tiba di kota Najaf.”
[Kamaluddin, hal. 670; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 351; Wafi, jil. 2, hal. 112 -Kitab Syiah Rafidhah-]

Serta Imam Ghaib (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) akan membangkitkan orang yang telah mati yang dikenal dengan nama Raj’ah.

Imam Ali as. bersabda, “… Al-Mahdi (af.) akan mengibarkan benderanya dan menampakkan berbagai mukjizatnya. Dengan izin Allah, ia akan melakukan sesuatu dari yang tidak terjadi sebelumnya. Ia akan menyembuhkan orang-orang yang terkena penyakit Lepra dan menghidupkan orang-orang yang mati, juga mematikan orang-orang yang hidup.”
[As Syi’ah wa Ar Raj’ah, jil. 1, hal. 169 -Kitab Syiah Rafidhah-]

Imam Shadiq as. bersabda, “Najm bin A’yan adalah salah satu orang yang akan mengalami Raj’ah (dibangkitkan dari kematian) dan hidup untuk kedua kalinya untuk berjihad.”
[Al-Iyqadz minal Haj’ah, hal. 269 -Kitab Syiah Rafidhah-]

Imam Shadiq as. kembali bersabda, “Ruh orang-orang yang beriman akan melihat keluarga Muhammad Saw. di gunung Radhwa (salah satu gunung Madinah). Mereka memakan makanannya dan meminum minumannya. Mereka berkumpul dan berbincang-bincang dengannya sampai Imam Mahdi af. muncul. Ketika Allah membangkitkan mereka, secara berkelompok mereka menyambut ajakan Imam Mahdi af. dan menyertai beliau. Di jaman itu, orang-orang yang memiliki akidah yang batil akan mengalami keraguan. Kelompok-kelompok dan partai-partai akan berpecah belah, dan hanya orang-orang yang mendekatkan dirinya kepada Allah yang akan selamat.”
[Kafi, jil. 3, hal. 131; Al-Iyqadz, hal. 290; Bihar al-Anwar, jil. 27, hal. 308 -Kitab Syiah Rafidhah-]

Sehingga muncullah al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi yang dapat menghidupkan orang yang telah mati dan mengeluarkan makanan dari dalam tanah hingga menggunung serta mengatur alam yang muncul di arah Timur Madinah yaitu Khurasan (Khurasan Tehran, Khurasan Utara, Khurasan Razavi & Khurasan Selatan), Isfahan, Sijan, Khuza dan Karman yang seluruhnya berada di wilayah Iran Sarang Dajjal Pusat Kekufuran. Sedangkan Iman berada pada penduduk Hijaz yaitu Mekkah, Madinah dan Yaman.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْإِبِلِ الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, “Pusat kekufuran berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ]. Kebanggaan diri dan kesombongan terletak pada para pemilik kuda dan unta. Serta al-Faddadin berada pada penduduk al-Wabar, sedangkan ketenangan ada pada para pemilik kambing.” [Muslim no.75]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْكُفْرُ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ وَالْفَخْرُ وَالرِّيَاءُ فِي الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْوَبَرِ
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Iman terletak pada Yaman, Kekufuran berada pada arah Timur [الْمَشْرِقِ], ketenangan ada pada para pemilik kambing dan kesombongan serta riya' ada pada al-Faddadin yaitu para pemilik kuda dan unta.” [Muslim no.76]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غِلَظُ الْقُلُوبِ وَالْجَفَاءُ فِي الْمَشْرِقِ وَالْإِيمَانُ فِي أَهْلِ الْحِجَازِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Hati yang keras dan kasar terdapat di arah Timur [الْمَشْرِقِ], sedangkan Iman berada pada penduduk Hijaz.” [Muslim no.80]

وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ اخْتِصَاصُ الْمَشْرِقِ بِمَزِيدٍ مِنْ تَسَلُّطِ الشَّيْطَانِ وَمِنَ الْكُفْرِ كَمَا قَالَ فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ وَكَانَ ذَلِكَ فِي عَهْدِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالَ ذَلِكَ وَيَكُونُ حِينَ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مِنَ الْمَشْرِقِ وَهُوَ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ مَنْشَأُ الْفِتَنِ الْعَظِيمَةِ وَمَثَارُ الْكَفَرَةِ التُّرْكِ الْغَاشِمَةِ الْعَاتِيَةِ الشَّدِيدَةِ الْبَأْسِ
Sedangkan pengkhususan daerah Timur [الْمَشْرِقِ] dengan tambahan Setan [الشَّيْطَانِ] dan Kekafiran telah menguasainya, sebagaimana beliau bersabda dalam hadits yang lain, [رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ] “Pusat kekufuran berada di arah Timur,” pada saat diucapkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seperti ini terjadi pada saat Dajjal [الدَّجَّالُ] keluar dari Timur [الْمَشْرِقِ] dan di antara waktu itu adalah munculnya banyak fitnah-fitnah besar, munculnya kekafiran, kezhaliman yang sangat dahsyat.
[Syarah Shahih Muslim 2/34, Imam an-Nawawi]

Maka muncullah al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi sang Imam Zaman yang dapat menghidupkan orang yang telah mati dan mengeluarkan makanan dari dalam tanah hingga menggunung serta mengatur alam yang muncul di arah Timur Madinah yaitu Khurasan (Khurasan Tehran, Khurasan Utara, Khurasan Razavi, Khurasan Selatan), Isfahan, Khuza, Karman, Sijan, yang semua wilayah tersebut saat ini berada di negeri Iran Sarang Dajjal Pusat Kekufuran.

قُلْتُ لِأَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّ مَعَهُ جَبَلَ خُبْزٍ وَنَهَرَ مَاءٍ قَالَ هُوَ أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ ذَلِكَ
Aku katakan, “Karena mereka mengatakan bahwa (Dajjal) bersamanya gunung roti dan sungai air.” Beliau bersabda, “Itu semua lebih mudah bagi Allah.” [Bukhari no.6589]

فَيَأْتِي عَلَى الْقَوْمِ فَيَدْعُوهُمْ فَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَجِيبُونَ لَهُ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ وَالْأَرْضَ فَتُنْبِتُ فَتَرُوحُ عَلَيْهِمْ سَارِحَتُهُمْ أَطْوَلَ مَا كَانَتْ ذُرًا وَأَسْبَغَهُ ضُرُوعًا وَأَمَدَّهُ خَوَاصِرَ
Ia (Dajjal) datang kepada suatu kaum dan menyeru mereka untuk beriman kepadanya, maka mereka menerimanya, lalu (Dajjal) memerintahkan langit maka turunlah hujan, dan memerintahkan bumi maka tumbuhlah tanam-tanaman, sehingga pada sore hari binatang ternak mereka pulang dengan badan lebih besar, lebih banyak air susunya dan lebih kenyang perutnya.” [Muslim no.5228]

فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيهِ
“(Dajjal) membunuhnya, kemudian menghidupkannya kembali.” [Muslim no.5229]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمْ الطَّيَالِسَةُ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dajjal diikuti oleh Yahudi Ashbahan [أَصْبَهَانَ] sebanyak tujuh puluh ribu orang, mereka mengenakan pakaian ath-Thayalisah [الطَّيَالِسَةُ]. [Muslim no.5237]

وَأَصْبَهَانُ بِفَتْحِ الْهَمْزَةِ وَكَسْرِهَا وبالياء وَالْفَاءِ
[أصبهان], (diriwayatkan) dengan fathah pada hamzah [أَصْبَهَانُ] (Ashbahan) dan juga dengan kasrah pada hamzah [إِصْبَهَانُ(Ishbahan). Begitu pula dengan huruf ba-nya [لياء], (juga diriwayatkan) dengan huruf fa [إِصْفَهَانُ] (Ishfahan).
[Syarah Shahih Muslim 18/86, Imam an-Nawawi]

Isfahan (Persia: [اصفهان] Esfahan), secara historis juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Ispahan, Sepahan, Esfahan atau Hispahan, adalah ibu kota Provinsi Isfahan di Iran, yang terletak sekitar 340 kilometer (211 mil) selatan Teheran. Yang memiliki populasi 1.583.609 dan merupakan kota terbesar ketiga Iran setelah Teheran dan Mashhad. Wilayah The Greater Isfahan memiliki populasi 3.793.101 sesuai sensus di tahun 2011, yang merupakan wilayah metropolitan terpadat kedua di Iran setelah Teheran.
[en.wikipedia.org/wiki/Isfahan]

رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدَّجَّالُ يَخْرُجُ مِنْ أَرْضٍ بِالْمَشْرِقِ يُقَالُ لَهَا خُرَاسَانُ يَتْبَعُهُ أَقْوَامٌ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Dajjal akan muncul dari suatu negeri di timur yang bernama Khurasan [خُرَاسَانُ], ia diikuti oleh kaum-kaum, wajah mereka seperti perisai yang ditempa.”
[Tirmidzi no.2163, Shahih : Shahih Tirmidzi no.2237, Syaikh al-Albani]

Khurasan (Persia: [استان خراسان]) (juga tercantum sebagai Khurasan dan Khorassan, yang pada zaman dahulu disebut dengan Traxiane yaitu selama periode Helenistik dan Parthia) (Khurasan) adalah sebuah provinsi di timur laut Iran, namun secara historis mengacu kepada daerah timur yang jauh lebih luas hingga timur laut Kekaisaran Persia. Nama Khurasan adalah bahasa Persia yang berartiLand Where The Sun Rises.” Nama itu diberikan kepada provinsi timur Persia selama periode Kekaisaran Sassanid.
Khurasan adalah provinsi terbesar Iran sampai ia (Khurasan) dibagi menjadi tiga provinsi pada bulan September 2004 :
Khurasan Utara, dengan ibu kotanya : Bojnourd, daerah lainnya : Shirvan, Esfarayen, Garmeh dan Jajarm, dan Maneh dan Samalgan.
Khurasan Selatan, dengan ibu kotanya : Birjand, daerah lainnya : Ferdows, Qaen, Nehbandan, Sarayan, Sarbisheh dan Darmian.
Khurasan Razavi, dengan ibu kotanya : Masyhad, daerah lainnya: Sabzevar, Neyshabour, Torbat-e-Heydariyeh, Quchan, Torbat-e Jam, Ziegler, Taybad, Gonabad, Dargaz, Sarakhs, Chenaran, Fariman, Khaf, Roshtkhar, Bardaskan, Kalat dan Khalil Abad.
[en.wikipedia.org/wiki/Khorasan_Province]

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَنْزِلَنَّ الدَّجَّالُ خُوزَ وَكَرْمَانَ فِي سَبْعِينَ أَلْفًا وُجُوهُهُمْ كَالْمَجَانِّ الْمُطْرَقَةِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Bersabda: “Sungguh Dajjal akan turun di Khuza [خُوزَ] dan Karman [كَرْمَانَ] kepada tujuh puluh ribu orang, wajah mereka seperti perisai yang ditempa.”
[Ahmad no.8099, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.8434, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

Provinsi Khuzestan (Persia: [استان خوزستان], Ostan-e Khuzestan), adalah salah satu dari 31 provinsi di Iran. Yang berada di barat daya negara tersebut (Iran), berbatasan dengan Provinsi Basra Irak dan Teluk Persia. Ibukotanya adalah Ahvaz (Ahwaz) yang meliputi area seluas 63.238 km².
Kalimat "Khouzi" mengacu pada orang-orang yang membuat gula mentah dari ladang tebu yang berasal dari dataran Sassania utara sampai ke sisi Sungai Dez di Dezful. Khouzhestan telah (berubah) menjadi tanah Khouzhies yang mengolah tebu hingga hari ini di Haft Tepe. Nama Khuzestan berarti "The Land of the Khuzi", yang mengacu pada penduduk asli provinsi ini, yaitu orang-orang "Susian" (Persia periode kuno dikenal sebagai "Huza" , Persia periode pertengahan dikenal sebagai "Khuzi" ((sedangkan) nama “Shushan” bersumber dari bahasa Ibrani)) di saat yang sama dalam perubahan (kalimat) yang beragam, bahwa Persia kuno (juga) berubah nama dari “Sindh” menjadi “Hind").
[en.wikipedia.org/wiki/Khuzestan_Province]

Provinsi Kerman (Persia: [استان کرمان], Ostan-e Kerman) adalah salah satu dari 31 provinsi di Iran. Kerman berada di sebelah tenggara Iran dengan pusat administrasinya di kota Kerman. Disebut pada zaman kuno sebagai Achamenid satrapy dari Carmania, yang merupakan provinsi terbesar kedua Iran dengan luas 180.726 km².
[en.wikipedia.org/wiki/Kerman_Province]

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَكُونُ لِلْمُسْلِمِينَ ثَلَاثَةُ أَمْصَارٍ مِصْرٌ بِمُلْتَقَى الْبَحْرَيْنِ وَمِصْرٌ بِالْحِيرَةِ وَمِصْرٌ بِالشَّامِ فَيَفْزَعُ النَّاسُ ثَلَاثَ فَزَعَاتٍ فَيَخْرُجُ الدَّجَّالُ فِي أَعْرَاضِ النَّاسِ فَيَهْزِمُ مَنْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ فَأَوَّلُ مِصْرٍ يَرِدُهُ الْمِصْرُ الَّذِي بِمُلْتَقَى الْبَحْرَيْنِ فَيَصِيرُ أَهْلُهُ ثَلَاثَ فِرَقٍ فِرْقَةٌ تَقُولُ نُشَامُّهُ نَنْظُرُ مَا هُوَ وَفِرْقَةٌ تَلْحَقُ بالْأَعْرَابِ وَفِرْقَةٌ تَلْحَقُ بِالْمِصْرِ الَّذِي يَلِيهِمْ وَمَعَ الدَّجَّالِ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمْ السِّيجَانُ وَأَكْثَرُ تَبَعِهِ الْيَهُودُ وَالنِّسَاءُ ثُمَّ يَأْتِي الْمِصْرَ الَّذِي يَلِيهِ فَيَصِيرُ أَهْلُهُ ثَلَاثَ فِرَقٍ فِرْقَةٌ تَقُولُ نُشَامُّهُ وَنَنْظُرُ مَا هُوَ وَفِرْقَةٌ تَلْحَقُ بالْأَعْرَابِ وَفِرْقَةٌ تَلْحَقُ بِالْمِصْرِ الَّذِي يَلِيهِمْ بِغَرْبِيِّ الشَّامِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Kaum muslimin akan memiliki tiga negeri, satu negeri di pertemuan dua laut [بِمُلْتَقَى الْبَحْرَيْنِ], satu di Hirah (Irak) dan satu negeri di Syam. Lalu manusia akan mengalami tiga kali masa ketakutan. Kemudian keluarlah Dajjal di hadapan manusia, dan ia akan membuat kerusakan dari arah timur. Negeri yang pertama kali dimasukinya adalah negeri yang ada di pertemuan dua laut, hingga penduduk negeri itu akan terpecah menjadi tiga kelompok; kelompok pertama akan mengatakan, ‘Kita akan menguji dan melihatnya siapa sebenarnya dia.’ Kelompok kedua akan bergabung orang-orang Arab dusun. Dan kelompok ketiga akan bergabung dengan negeri setelahnya. Adapun Dajjal, maka yang akan bergabung bersama sebanyak tujuh puluh ribu orang yang semuanya mengenakan [السِّيجَانُ]. Kebanyakan pengikutnya adalah orang-orang Yahudi dan para wanita. Kemudian Dajjal memasuki negeri yang kedua, lalu penduduk itu pun menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama akan berkata, ‘Kita akan menguji dan melihatnya siapa sebenarnya dia.’ Kemudian kelompok kedua ikut bergabung dengan orang-orang Arab dusun. Dan kelompok ketiga akan bergabung dengan negeri setelahnya di sebelah barat wilayah Syam.”
[Ahmad no.17226, Hasan : Musnad Imam Ahmad no.17826, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

Kalimat [السِّيجَانُ] “Sijan” yang jika dilihat di peta maka dapat ditemukan di dalam sebuah wilayah di Iran dekat dengan Teheran Iran. Namun dalam riwayat lain diriwayatkan [التِّيجَانُ] “Mahkota”.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مِنْ يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنْ الْيَهُودِ عَلَيْهِمْ التِّيجَانُ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Dajjal keluar dari Yahudi Ashbahan bersama dengannya tujuh puluh ribu orang Yahudi yang memakai mahkota [التِّيجَانُ].”
[Ahmad no.12865, Hasan : Musnad Imam Ahmad no.13277, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

Jika dilihat dari hadits-hadits di atas mengenai tempat keluarnya Dajjal yaitu, Khurasan, Isfahan, Khuza, Karman dan Sijan, maka ada satu wilayah yang dulunya merupakan masuk ke dalam wilayah Irak kuno, ia adalah Khuza yang berasal dari negeri Ahwaz.

أَمَّا خُوزٌ فَمِنْ بِلَادِ الْأَهْوَازِ وَهِيَ مِنْ عِرَاقِ الْعَجَمِ وَقِيلَ الْخُوزُ صِنْفٌ مِنَ الْأَعَاجِمِ وَأَمَّا كِرْمَانُ فَبَلْدَةٌ مَشْهُورَةٌ مِنْ بِلَادِ الْعَجَمِ أَيْضًا بَيْنَ خُرَاسَانَ وَبَحْرِ الْهِنْدِ
Adapun Khuza berasal dari negeri Ahwaz, yaitu wilayah Irak yang masuk negeri ‘Ajam, ada pula yang berpendapat bahwa Khuza adalah satu rumpun dengan bangsa ‘Ajam. Sedangkan Kirman adalah satu negeri yang masyhur di wilayah Ajam, terletak di antara Khurasan dan laut Hindia.
[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 6/607, al-Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Sehingga teman-teman dapat mengetahui dengan pasti bahwa Dajjal akan turun di wilayah Irak kuno yaitu di Khuza atau Khuzestan Ahwaz yang saat ini merupakan bagian dari Iran negeri Syiah Rafidhah al-Majusi yang merupakan Pusat Kekufuran di arah Timur.

[4] Rabi’ah & Mudhar Penggembala Kuda, Unta & Sapi


أَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْيَمَنِ فَقَالَ الْإِيمَانُ يَمَانٍ هَا هُنَا أَلَا إِنَّ الْقَسْوَةَ وَغِلَظَ الْقُلُوبِ فِي الْفَدَّادِينَ عِنْدَ أُصُولِ أَذْنَابِ الْإِبِلِ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ فِي رَبِيعَةَ وَمُضَرَ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menunjuk dengan tangannya ke arah Yaman seraya bersabda, “Keimanan berada pada Yaman di arah sana, ketahuilah kekerasan dan kerasnya hati terletak pada al-Faddadin, di sisi ekor-ekor Unta, yaitu tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنَا الشَّيْطَانِ], pada Rabi'ah dan Mudhar.” [Bukhari no.3057]

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ جَاءَ أَهْلُ الْيَمَنِ هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَضْعَفُ قُلُوبًا الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ السَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْيَمَنِ وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ قِبَلَ مَطْلِعِ الشَّمْسِ
Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah kaum yang paling lembut hatinya, dan paling lemah hatinya. Iman ada pada Yaman, hikmah ada pada Yaman dan ketenangan ada pada Yaman. Sedangkan kebanggaan diri dan kesombongan terletak pada al-Faddadin, penduduk al-Wabar, yaitu arah terbitnya Matahari [الشَّمْسِ].” [Muslim no.78]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah
Note : Merah adalah Rabi’ah dan Biru adalah Mudhar

Sedangkan dari Rabi'ah lahir Asad bin Rabi'ah, Anzah, Abdul-Qais, dua putra Wa’il yaitu Bakr dan Taghlib, Hanifah dan lain-lainnya.

Sedangkan kabilah Mudhar bercabang menjadi dua kelompok besar, yaitu Qais ‘Ailan bin Mudhar dan marga-marga Ilyas bin Mudhar. Dari Qais ‘Ailan muncul Bani Sulaim, Bani Hawazin, dan Bani Ghathafan. Kemudian dari Ghathafan muncul ‘Abs, Dzubyan, Asyja’ dan Ghany bin A’shar.

Dari Ilyas bin Mudhar muncul pula Tamim bin Murrah, Hudzail bin Mudrikah, Bani Asad bin Khuzaimah dan marga-marga Kinanah bin Khuzaimah. Dan dari Kinanah muncul Quraisy, yaitu anak keturunan Fihr bin Malik bin an-Nadzar bin Kinanah.

Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah, di antara yang terkenal adalah Jumh, Sahm, ‘Ady, Makhzum, Taim, Zahrah dan marga-marga Qushay bin Kilab, yaitu Abdud Dar bin Qushay, Asad bin Abdul 'Uzza bin Qushay dan Abdu Manaf bin Qushay. 

Sedangkan dari Abdu Manaf terdapat empat anak: ‘Abdu Syams, Naufal, al-Muththalib dan Hasyim. Dari keluarga Hasyim inilah Allah pilih Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hasyim.

Setelah anak-anak ‘Adnan beranak-pinak, mereka berpencar di berbagai tempat di penjuru jazirah Arab, menjelajahi tempat-tempat yang banyak curah hujannya dan ditumbuhi oleh rerumputan.

Abdul Qais dan marga-marga Bakr bin Wa’il serta marga-marga Tamim pindah ke Bahrain dan menetap di sana. Sedangkan Bani Hanifah bin Sha'b bin Ali bin Bakr bergerak menuju Yamamah dan singgah di Hijr, ibukota Yamamah. Semua keluarga Bakr bin Wa’il mendiami sepanjang tanah Jazirah, mulai dari Yamamah, Bahrain, Saif Kazhimah hingga mencapai laut, kemudian pinggiran tanah bebas Iraq, terus ke al-Ablah hingga Haita.

Taghlib menetap di Jazirah dekat kawasan Eufrat, di antaranya terdapat marga-marga yang pernah menjadi tetangga (kabilah) Bakr sedangkan Bani Tamim menetap di daerah pedalaman Bashrah.

Bani Sulaim menetap dekat Madinah, dari lembah (Wadi) al-Qura hingga ke Khaibar, terus ke bagian timur Madinah mencapai batas dua bukit hingga berakhir di kawasan perbukitan Harrah.

Sementara Tsaqif menetap di Tha’if, sedangkan Hawazin di timur Mekkah di pinggiran Authas yaitu dalam perjalanan antara Mekkah dan Bashrah.

Dan Bani Asad bermukim di timur Taima’ dan barat Kufah. Mereka dan Taima’ di antarai perkampungan Buhtur dari suku Thayyi’. Sedangkan jarak antara mereka dan Kufah sejauh perjalanan lima hari. Ada lagi suku Dzubyan yang bermukim di dekat Taima’ menuju Hauran.

Di Tihamah tersisa beberapa marga Kinanah, sedangkan di Mekkah tinggal marga-marga Quraisy. [Muhadharat Tarikh al-Umam al-Islamiyyah, al-Khudhary, I/15,16]

[Ar-Rahiq al-Makhtum 19-21, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury]

النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مِنْ هَا هُنَا جَاءَتْ الْفِتَنُ نَحْوَ الْمَشْرِقِ وَالْجَفَاءُ وَغِلَظُ الْقُلُوبِ فِي الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ عِنْدَ أُصُولِ أَذْنَابِ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ فِي رَبِيعَةَ وَمُضَرَ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Dari arah sana datangnya Fitnah yaitu arah Timur [الْمَشْرِقِ]. Dan Hati yang Kasar serta Keras terletak pada al-Faddadin penduduk al-Wabar, di sisi ekor-ekor Unta dan Sapi pada Rabi'ah dan Mudhar.” [Bukhari no.3237]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْإِبِلِ وَالْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, “Pusat kekufuran berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ]. Kebanggaan diri dan kesombongan terletak pada para pemilik Kuda dan Unta. Serta al-Faddadin berada pada penduduk al-Wabar, sedangkan ketenangan ada pada para pemilik kambing.” [Bukhari no.3056]

قَوْلُهُ الْفَدَّادِينَ بِتَشْدِيدِ الدَّالِ عِنْدَ الْأَكْثَرِ وَحَكَى أَبُو عُبَيْدٍ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ أَنَّهُ خَفَّفَهَا وَقَالَ إِنَّهُ جَمْعُ فَدَّانٍ وَالْمُرَادُ بِهِ الْبَقَرُ الَّتِي يُحْرَثُ عَلَيْهَا وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ الْفَدَّانُ آلَةُ الْحَرْثِ
Sabdanya, [الْفَدَّادِينَ] dengan tasydid pada [د], adalah yang dinukil oleh kebanyakan perawi. Abu Ubaid meriwayatkan dari Abu Ammar asy-Syaibani bahwa ia membacanya mentakhfifkannya, dan berkata sesungguhnya ia adalah bentuk jamak [فَدَّانٍ], maksudnya sapi yang digunakan untuk membajak tanah. Al-Khaththabi berkata, “al-Faddan adalah alat untuk membajak tanah.”

وَالسِّكَّةِ فَعَلَى الْأَوَّلِ فَالْفَدَّادُونَ جَمْعُ فَدَّانٍ وَهُوَ مَنْ يَعْلُو صَوْتُهُ فِي إِبِلِهِ وَخَيْلِهِ وَحَرْثِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالْفَدِيدُ هُوَ الصَّوْتُ الشَّدِيدُ
Berdasarkan riwayat pertama, maka al-Faddadin adalah bentuk jamak dari kata Faddan [فَدَّانٍ], artinya orang yang mengeraskan suara pada untanya dan kudanya serta ladangnya maupun selainnya. [الْفَدِيدُ] artinya suara yang keras.

وَحَكَى أَبُو عُبَيْدَةَ مَعْمَرُ بْنُ الْمُثَنَّى أَنَّ الْفَدَّادِينَ هُمْ أَصْحَابُ الْإِبِلِ الْكَثِيرَةِ مِنَ الْمِائَتَيْنِ إِلَى الْأَلْفِ وَعَلَى مَا حَكَاهُ أَبُو عَمْرٍو الشَّيْبَانِيُّ مِنَ التَّخْفِيفِ فَالْمُرَادُ أَصْحَابُ الْفَدَّادِينَ
Abu Ubaidah Ma’mar bin al-Mutsanna meriwayatkan bahwa [الْفَدَّادِينَ] adalah para pemilik unta yang banyak, antara 200 sampai 1000 ekor. Sedangkan menurut riwayat Abu Ammar asy-Syaibani yang mentakhfifkannya, maka maksudnya adalah para pemilik [الْفَدَّادِينَ] (sapi untuk membajak tanah).

وَقَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ الْفَدَّادُونَ هُمُ الرُّعَاةُ وَالْجَمَّالُونَ وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ إِنَّمَا ذَمَّ هَؤُلَاءِ لِاشْتِغَالِهِمْ بِمُعَالَجَةِ مَا هُمْ فِيهِ عَنْ أُمُورِ دِينِهِمْ وَذَلِكَ يُفْضِي إِلَى قَسَاوَةِ الْقَلْبِ
Abu al-Abbas berkata, “[الْفَدَّادُونَ] adalah para penggembala dan pemilik unta.” Al-Khaththabi berkata, “Hanya saja mereka dicela karena sikap mereka yang hanya menyibukkan diri mengurus urusan mereka dan melalaikan urusan agama, dan hal ini mengakibatkan hati mereka menjadi keras.”

قَوْلُهُ أَهْلُ الْوَبَرِ بِفَتْحِ الْوَاوِ وَالْمُوَحَّدَةِ أَيْ لَيْسُوا مِنْ أَهْلِ الْمَدَرِ لِأَنَّ الْعَرَبَ تُعَبِّرُ عَنْ أَهْلِ الْحَضَرِ بِأَهْلِ الْمَدَرِ وَعَنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ بِأَهْلِ الْوَبَرِ
Sabdanya, “[أَهْلُ الْوَبَرِ] “Penduduk al-Wabar” dengan fathah huruf [و] dan begitu pula huruf selanjutnya, yakni mereka yang bukan penduduk menetap [الْمَدَرِ]. Karena bangsa Arab mengatakan untuk para pemilik peradaban sebagai penduduk [الْمَدَرِ] “madar” sedangkan untuk pedusunan disebut penduduk [الْوَبَرِ] “wabar” (nomaden/berpindah-pindah).

[3302] فِي آخِرِ الْحَدِيثِ فِي رَبِيعَةَ وَمُضَرَ أَيِ فِي الْفَدَّادِينَ مِنْهُمْ
Adapun lafazh di akhir hadits, “pada Rabi’ah dan Mudhar”, maksudnya [الْفَدَّادِينَ] itu berasal dari mereka.

[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 6/352, al-Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Dari penjelasan al-Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqalani di atas dapat diketahui bahwa Rabi’ah dan Mudhar adalah berasal dari al-Faddadin, yaitu pemilik unta, sapi dan kuda yang memiliki suara keras ketika sibuk di ladangnya tanpa memperhatikan urusan agama, sehingga menjadi keras hatinya.

Di Irak atau di Semenanjung Arab, kuda dan unta sudah terbiasa di gembalakan oleh bangsa Arab. Namun sapi digunakan untuk membajak ladang yang di mana ladang tersebut membutuhkan perairan yang cukup untuk irigasi, sehingga harus dicari tempat yang berada di dekat sungai agar mudah dalam pengairan.

Tanya Syiah akan menampilkan Topograpi Arab Saudi dan Irak untuk mengetahui daerah rendah yang berada disekitar sungai.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Dari gambar Topograpi di atas dapat diketahui bahwa dataran rendah yang berada di sekitar sungai dan berada di arah timur Madinah adalah Bashrah Irak - Kufah Irak sepanjang sungai Dijlah (Tigris) dan sungai Eufrat atau yang dikenal dengan nama Mesopotamia Irak, di mana mereka telah menggunakan unta, kuda dan sapi untuk kendaraan atau untuk membajak ladang.

Kata al-‘Iraq berarti tempat asal tumbuh-tumbuhan, seakan-akan merupakan bentuk jamak dari ‘Irqu. Ada yang mengatakan, dinamakan Irak, karena dekat dengan laut, karena penduduk Hijaz menamai sesuatu yang dekat laut dengan sebutan Irak. Ada juga yang mengatakan, dinamai Irak karena tanahnya datar, jarang terdapat pegunungan yang tinggi, sebagai penunjuk ke tanah datar di antara sungai Tigris (Dijlah) dan Eufrat atau negeri as-Sawad dan al-Jazirah.
[Atlas Hadits an-Nabawiy min al-Kitab ash-Shahih as-Sittah 259, Syauqi Abu Khalil]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Pertanian di seluruh wilayah tersebut telah dilengkapi dengan pastoralism nomaden, di mana tenda untuk tempat tinggal (dibangun) secara nomaden untuk menggembala domba dan kambing (serta unta kemudian) dari padang rumput sungai di musim panas yang kering, ke tanah penggembalaan musiman di pinggiran padang pasir di musim dingin yang basah.
[http://en.wikipedia.org/wiki/Mesopotamia]

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Abdul Qais dan marga-marga Bakr bin Wa’il serta marga-marga Tamim pindah ke Bahrain dan menetap di sana. Sedangkan Bani Hanifah bin Sha'b bin Ali bin Bakr bergerak menuju Yamamah dan singgah di Hijr, ibukota Yamamah. Semua keluarga Bakr bin Wa’il mendiami sepanjang tanah Jazirah, mulai dari Yamamah, Bahrain, Saif Kazhimah hingga mencapai laut, kemudian pinggiran tanah bebas Iraq, terus ke al-Ablah hingga Haita.
Taghlib menetap di Jazirah dekat kawasan Eufrat, di antaranya terdapat marga-marga yang pernah menjadi tetangga (kabilah) Bakr sedangkan Bani Tamim menetap di daerah pedalaman Bashrah.
[Ar-Rahiq al-Makhtum 20-21, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury]

وَتُفْتَحُ الْعِرَاقُ فَيَأْتِي قَوْمٌ يُبِسُّونَ فَيَتَحَمَّلُونَ بِأَهْلِيهِمْ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Kemudian ‘Iraq ditaklukkan kemudian suatu kaum datang sambil menceritakan keindahan negeri itu dengan membawa keluarga dan pengikutnya, padahal Madinah lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahui.” [Bukhari no.1742]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي بِغَائِطٍ يُسَمُّونَهُ الْبَصْرَةَ عِنْدَ نَهْرٍ يُقَالُ لَهُ دِجْلَةُ يَكُونُ عَلَيْهِ جِسْرٌ يَكْثُرُ أَهْلُهَا وَتَكُونُ مِنْ أَمْصَارِ الْمُهَاجِرِينَ قَالَ ابْنُ يَحْيَى قَالَ أَبُو مَعْمَرٍ وَتَكُونُ مِنْ أَمْصَارِ الْمُسْلِمِينَ فَإِذَا كَانَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ جَاءَ بَنُو قَنْطُورَاءَ عِرَاضُ الْوُجُوهِ صِغَارُ الْأَعْيُنِ حَتَّى يَنْزِلُوا عَلَى شَطِّ النَّهْرِ فَيَتَفَرَّقُ أَهْلُهَا ثَلَاثَ فِرَقٍ فِرْقَةٌ يَأْخُذُونَ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَالْبَرِّيَّةِ وَهَلَكُوا
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Beberapa orang dari umatku akan beristirahat di suatu tempat luas, mereka menamakannya Bashrah. Yakni di sisi sungai yang bernama Dijlah, sungai itu mempunyai jembatan. Tempat itu penduduknya sangat banyak, dan mayoritas berasal dari orang-orang yang hijrah.” -Ibnu Ishaq berkata, Abu Ma’mar menyebutkan,- “Penduduk tempat itu berasal dari penjuru kaum Muslimin. Di akhir zaman nanti akan datang suatu kaum yang bernama Qanthura, wajah mereka lebar dan matanya kecil (sipit), hingga kaum itu sampai ke daerah tepian sungai lalu para penduduknya terpecah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok pergi mengikuti ekor Sapi dan binatang ternak hingga mereka hancur.”
[Abu Daud no.3752, Hasan : Shahih Abu Daud no.4306, Syaikh al-Albani]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَنْزِلَنَّ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي أَرْضًا يُقَالُ لَهَا الْبَصْرَةُ يَكْثُرُ بِهَا عَدَدُهُمْ وَيَكْثُرُ بِهَا نَخْلُهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ بَنُو قَنْطُورَاءَ عِرَاضُ الْوُجُوهِ صِغَارُ الْعُيُونِ حَتَّى يَنْزِلُوا عَلَى جِسْرٍ لَهُمْ يُقَالُ لَهُ دِجْلَةُ فَيَتَفَرَّقُ الْمُسْلِمُونَ ثَلَاثَ فِرَقٍ فَأَمَّا فِرْقَةٌ فَيَأْخُذُونَ بِأَذْنَابِ الْإِبِلِ وَتَلْحَقُ بِالْبَادِيَةِ وَهَلَكَتْ
Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh dari sekelompok umatku akan menempati di suatu tempat yang disebut Bashrah, tempat tersebut penduduknya sangat banyak, pohon kurmanya juga sangat banyak, setelah itu datanglah Bani Qanthura yang berwajah lebar dan bermata kecil (sipit) hingga menuruni jembatannya yang disebut Dijlah, sementara kaum muslimin terpecah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok pergi mengikuti ekor-ekor Unta hingga sampai di perkampungan-perkampungan mereka binasa.”
[Ahmad no. 19553, Hasan : Musnad Imam Ahmad no. 20330, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

Oleh karena itu, Dalam Kitab Ansharul Husain karangan Muhammad Mahdi syamsuddin halaman 218 disebutkan  “ kami mengetahui bahwa kebanyakan penduduk Bashrah  berasal dari Kabilah Rabiah dan Mudhar”
[http://syaikhulislam.wordpress.com/2011/02/21/fitnah-dari-timur/]

Sehingga teman-teman dapat mengetahui dengan pasti bahwa Rabi’ah dan Mudhar yang berasal dari al-Faddadin, yaitu pemilik unta, sapi dan kuda yang memiliki suara keras ketika sibuk di ladangnya yang berada di sisi sungai Dijlah (Tigris) sehingga banyak pohon kurmanya tanpa memperhatikan urusan agama sehingga menjadi keras hatinya, adalah Bashrah Irak yang merupakan tempat hijrah ketika Irak ditaklukkan di mana salah satu kelompok penduduknya pergi mengikuti ekor Sapi dan Unta ketika bangsa Qanthura datang menyerang.

[5] Fitnah & Bid’ah




سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ أَلَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا يُشِيرُ إِلَى الْمَشْرِقِ مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda saat beliau berdiri di atas mimbar, “Ketahuilah, sesungguhnya fitnah dari sana.” Beliau berisyarat ke arah Timur [الْمَشْرِقِ], yaitu tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ]. [Bukhari no.3249]

أَشْرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ فَقَالَ هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى قَالُوا لَا قَالَ فَإِنِّي لَأَرَى الْفِتَنَ تَقَعُ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ كَوَقْعِ الْقَطْرِ
Pernah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menaiki sebuah benteng Madinah seraya bersabda, “Apakah kalian melihat apa yang kulihat?” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Sungguh aku melihat fitnah jatuh di tengah-tengah rumah kalian sebagaimana turunnya hujan.” [Bukhari no.6536]

وَإِنَّمَا اخْتُصَّتِ الْمَدِينَةُ بِذَلِكَ لِأَنَّ قَتْلَ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ بِهَا ثُمَّ انْتَشَرَتِ الْفِتَنُ فِي الْبِلَادِ بَعْدَ ذَلِكَ فَالْقِتَالُ بِالْجَمَلِ وَبِصِفِّينَ كَانَ بِسَبَبِ قتل عُثْمَان والقتال بالنهروان كمان بِسَبَبِ التَّحْكِيمِ بِصِفِّينَ وَكُلُّ قِتَالٍ وَقَعَ فِي ذَلِكَ الْعَصْرِ إِنَّمَا تَوَلَّدَ عَنْ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ أَوْ عَنْ شَيْءٍ تَوَلَّدَ عَنْهُ ثُمَّ إِنَّ قَتْلَ عُثْمَانَ كَانَ أَشَدَّ أَسْبَابِهِ الطَّعْنُ عَلَى أُمَرَائِهِ ثُمَّ عَلَيْهِ بِتَوْلِيَتِهِ لَهُمْ وَأَوَّلُ مَا نَشَأَ ذَلِكَ مِنَ الْعِرَاقِ وَهِيَ مِنْ جِهَةِ الْمَشْرِقِ
Dan sesungguhnya pengkhususan kota Madinah dalam masalah ini disebabkan pembunuhanUtsman Radhiyallahu ‘anhu terjadi di sana (Madinah). Selanjutnya fitnah tersebar ke seluruh penjuru negeri setelahnya, yaitu peperangan Jamal dan Shiffin yang merupakan akibat dari pembunuhan Utsman, kemudian peperangan di Nahrawan yang merupakan akibat tahkim di perang Shiffin. Semua perang terjadi di masa itu sesungguhnya merupakan dampak dari pembunuhan Utsman atau yang berkaitan dengannya. Pembunuhan Utsman menjadi sebab yang paling kuat untuk menghujat kepemimpinan dan para pembantunya yang diangkatnya. Pertama kali kejadian itu muncul dari Irak yang berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ]
[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 13/13, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

وَأَوَّلُ الْفِتَنِ كَانَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَكَانَ ذَلِكَ سَبَبًا لِلْفُرْقَةِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَذَلِكَ مِمَّا يُحِبُّهُ الشَّيْطَانُ وَيَفْرَحُ بِهِ وَكَذَلِكَ الْبِدَعُ نَشَأَتْ مِنْ تِلْكَ الْجِهَةِ
Fitnah yang pertama kali muncul sumbernya dari arah Timur [الْمَشْرِقِ]. Fitnah itu sebagai sebab terjadinya perpecahan di antara kaum Muslimin, dan itulah di antara hal yang menyenangkan setan dan menjadikannya bergembira, demikian pula bid’ah-bid’ah timbul dari arah tersebut.
[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 13/47, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

[-] Terbunuhnya Khalifah Sayyidina Imam Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu oleh Abu Lu’luah al-Majusi yang berasal dari Timur Pusat Kekufuran, sehingga terbukalah pintu Fitnah yang bagai gelombang ombak di lautan.

Tahun 23 Hijriyah

كَمَا ثَبَتَ عَنْهُ فِي الصَّحِيحِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَمَوْتًا فِي بَلَدِ رَسُولِكَ،
Sebagaimana yang terdapat di dalam ash-Shahih bahwa Umar pernah berdoa : “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mendapatkan syahadah di atas jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu.” [Bukhari no.1757]

فاستجاب له الله هَذَا الدُّعَاءَ، وَجَمَعَ لَهُ بَيْنَ هَذَيْنَ الْأَمْرَيْنِ الشَّهَادَةِ فِي الْمَدِينَةِ النَّبَوِيَّةِ وَهَذَا عَزِيزٌ جِدًّا، ولكن الله لطيف بما يَشَاءُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَاتَّفَقَ لَهُ أَنْ ضَرَبَهُ أَبُو لُؤْلُؤَةَ فَيْرُوزُ الْمَجُوسِيُّ الْأَصْلِ، الرُّومِيُّ الدَّارِ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ، صَلَاةَ الصُّبْحِ مِنْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ، لِأَرْبَعٍ بَقِينَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ بِخِنْجَرٍ ذَاتِ طَرَفَيْنِ،
Maka Allah mengabulkan doa beliau dan memberikan kedua permohonannya tersebut, yaitu mati syahid di Madinah an-Nabawi. Ini adalah perkara yang sulit namun Allah Tabaraka wa Ta’ala Mahalembut kepada hamba-Nya. Akhirnya beliau ditikam oleh Abu Lu’luah Fairuz –seorang yang asalnya beragama Majusi dan tinggal di Romawi- ketika Umar shalat di Mihrab pada waktu shalat Shubuh di hari Rabu, 4 hari terakhir bulan Dzulhijah pada tahun ini (23 H) dengan belati yang memiliki dua mata.

[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/155, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَقَالَ عُمَرُ لَيْسَ هَذَا أُرِيدُ إِنَّمَا أُرِيدُ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ قَالَ فَقُلْتُ مَا لَكَ وَلَهَا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا قَالَ أَفَيُكْسَرُ الْبَابُ أَمْ يُفْتَحُ قَالَ قُلْتُ لَا بَلْ يُكْسَرُ قَالَ ذَلِكَ أَحْرَى أَنْ لَا يُغْلَقَ أَبَدًا قَالَ فَقُلْنَا لِحُذَيْفَةَ هَلْ كَانَ عُمَرُ يَعْلَمُ مَنْ الْبَابُ قَالَ نَعَمْ كَمَا يَعْلَمُ أَنَّ دُونَ غَدٍ اللَّيْلَةَ إِنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ قَالَ فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَ حُذَيْفَةَ مَنْ الْبَابُ فَقُلْنَا لِمَسْرُوقٍ سَلْهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ عُمَرُ
Umar berkata, “Bukan yang ini, tapi (fitnah) yang bergelombang seperti ombak di lautan.” Aku berkata, “Wahai Amirul Mu`minin, hal itu tidak jadi masalah bagi anda, sesungguhnya di antara engkau dengannya ada pintu yang tertutup.” Umar bertanya, “Apakah pintunya dirusak atau dibuka?” Aku menjawab, “Tidak, bahkan Dirusak.” Beliau berkata, “Pintu itu pantas untuk tidak ditutup selamanya.” Kami bertanya kepada Hudzaifah, “Apakah Umar tahu siapakah pintu itu?” Hudzaifah menjawab, “Iya betul, sebagaimana (ia tahu) bahwa setelah esok hari ada malam.” Sesungguhnya aku meriwayatkan hadits yang tidak keliru. Lalu kami sungkan untuk bertanya kepada Hudzaifah dan kami berkata kepada Masruq, “Tanyakan kepadanya.” Ia pun bertanya lalu dijawab, “Umar.” [Muslim no.5150]

[-] Rabi’ah & Mudhar Irak Timur Madinah yang keras hatinya yang berasal dari Kufah & Bashrah Irak serta Mesir berkomplot mengepung dan membunuh Utsman Radhiyallahu ‘anhu.

Tahun 35 Hijriyah

تكاتب أَهْلُ مِصْرَ وَأَهْلُ الْكُوفَةِ وَأَهْلُ الْبَصْرَةِ وَتَرَاسَلُوا،
يَدْعُونَ النَّاسَ إِلَى قِتَالِ عُثْمَانَ وَنَصْرِ الدِّينِ
Penduduk Mesir, Kufah dan Bashrah saling mengirim surat.
Menyeru manusia untuk memerangi Utsman dan menolong agama.

خرج أهل مصر في أربع رقاق عَلَى أَرْبَعَةِ أُمَرَاءَ، الْمُقَلِّلُ لَهُمْ يَقُولُ سِتُّمِائَةٍ، وَالْمُكَثِّرُ يَقُولُ: أَلْفٌ.
Penduduk Mesir keluar dalam empat kelompok dan di bawah empat pemimpin, jumlah mereka antara 600 hingga 1000 orang.

وَخَرَجَ أَهْلُ الكوفة في عدتهم في أربع رفاق أيضا، وَأُمَرَاؤُهُمْ: زَيْدُ بْنُ صُوحَانَ، وَالْأَشْتَرُ النَّخَعِيُّ، وَزِيَادُ بْنُ النَّضْرِ الْحَارِثِيُّ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْأَصَمِّ، وَعَلَى الْجَمِيعِ عَمْرُو بْنُ الْأَصَمِّ
Penduduk Kufah keluar dengan empat kelompok yang dipimpin oleh Zaid bin Sauhan, al-Asytar an-Nakha’i, Ziyad bin nadhar al-Haritsi, Abdullah bin al-Asham dan pemimpin mereka adalah Amr bin al-Asham.

وَخَرَجَ أَهْلُ البصرة في عدتهم أَيْضًا فِي أَرْبَعِ رَايَاتٍ مَعَ حُكيم بْنِ جَبَلَةَ الْعَبْدِيِّ، وَبِشْرِ بْنِ شُرَيْحِ بْنِ ضُبَيْعَةَ القيسي، وذريح بن عباد العبدي ، وَعَلَيْهِمْ كُلِّهِمْ حُرْقُوصُ بْنُ زُهَيْرٍ السَّعْدِيُّ،
Begitu juga dengan penduduk Bashrah keluar di bawah empat panji yang dipimipin oleh Hukaim bin Jabalah al-‘Abdi, Bisyr bin Syuraih bin Dhubai’ah al-Qaisi, Dzarij bin al-Abbad al-Abdi dan pimpinan tertinggi mereka adalah Hurqush bin Zuhair as-Sa’di.

[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/194, al-Hafizh Ibnu Katsir]

كانت مدة حصار عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي دَارِهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا عَلَى الْمَشْهُورِ، وَقِيلَ كَانَتْ بِضْعًا وَأَرْبَعِينَ يَوْمًا.
وَقَالَ الشَّعْبِيُّ: كَانَتْ ثِنْتَيْنِ وَعِشْرِينَ لَيْلَةً. ثُمَّ كَانَ قَتْلُهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ بِلَا خِلَافٍ.
Masa pengepungan Utsman Radhiyallahu ‘anhu di rumahnya selama 40 hari menurut berita yang masyhur, ada juga yang mengatakan lebih dari 40 hari.
Asy-Sya’bi berkata, “(Pengepungan) berlangsung selama 20 hari. Kemudian mereka membunuhnya Radhiyallahu ‘anhu di hari Jum’at tanpa ada perbedaan.”
[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/212, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وَذَكَرَ الْفِتَنَ فَقَرَّبَهَا فَمَرَّ رَجُلٌ مُقَنَّعٌ فِي ثَوْبٍ فَقَالَ هَذَا يَوْمَئِذٍ عَلَى الْهُدَى فَقُمْتُ إِلَيْهِ فَإِذَا هُوَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ قَالَ فَأَقْبَلْتُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ فَقُلْتُ هَذَا قَالَ نَعَمْ
Lalu beliau (Rasulullah) menyebutkan beberapa fitnah yang telah dekat masa terjadinya, kemudian berlalulah seorang laki-laki yang bertutupkan kain, beliau berkata, “Orang inilah yang pada hari tersebut berada di atas petunjuk.” Maka aku bergegas menuju kepadanya, ternyata dia adalah Utsman bin ‘Affan. lalu aku menatap wajahnya dan berkata, “Apakah orang ini?” beliau menjawab, “Iya, benar.”
[Tirmidzi no.3637, Shahih : Shahih Tirmidzi no.3704, Syaikh al-Albani]

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا عُثْمَانُ إِنَّهُ لَعَلَّ اللَّهَ يُقَمِّصُكَ قَمِيصًا فَإِنْ أَرَادُوكَ عَلَى خَلْعِهِ فَلَا تَخْلَعْهُ لَهُمْ
Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai Utsman, sesungguhnya Allah akan memakaikan pakaian kepadamu. Jika mereka menginginkan engkau untuk melepaskannya, maka janganlah engkau melepaskannya untuk mereka.”
[Tirmidzi no.3638, Shahih : Shahih Tirmidzi no.3705, Syaikh al-Albani]

[-] Rabi’ah & Mudhar Irak Timur Madinah yang keras hatinya yang berasal dari Kufah & Bashrah Irak setelah membunuh Khalifah Imam Sayyidina Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu kembali ke Irak Timur Madinah. Sehingga Aisyah dan beberapa Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pergi ke Bashrah untuk menuntut darah Khalifah Imam Sayyidina Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, ketika Khalifah Imam Sayyidina Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu sedang dibaiat di Madinah.

لَمَّا سَارَ طَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَعَائِشَةُ إِلَى الْبَصْرَةِ بَعَثَ عَلِيٌّ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ وَحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ فَقَدِمَا عَلَيْنَا الْكُوفَةَ فَصَعِدَا الْمِنْبَرَ فَكَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَوْقَ الْمِنْبَرِ فِي أَعْلَاهُ وَقَامَ عَمَّارٌ أَسْفَلَ مِنْ الْحَسَنِ فَاجْتَمَعْنَا إِلَيْهِ فَسَمِعْتُ عَمَّارًا يَقُولُ إِنَّ عَائِشَةَ قَدْ سَارَتْ إِلَى الْبَصْرَةِ وَ وَاللَّهِ إِنَّهَا لَزَوْجَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ابْتَلَاكُمْ لِيَعْلَمَ إِيَّاهُ تُطِيعُونَ أَمْ هِيَ
Tatkala Thalhah, Zubair dan ‘Aisyah berangkat ke Bashrah, Ali mengutus ‘Ammar bin Yasir dan Hasan bin Ali untuk mendatangi kami di Kufah, lantas keduanya naik mimbar. Ketika itu Hasan bin Ali di atas mimbar di tangga paling atas, sedangkan ‘Ammar berdiri di bawah Hasan, kami berkumpul di sekelilingnya, dan aku mendengar ‘Ammar mengatakan, “Aisyah sedang berangkat ke Bashrah, demi Allah, ia adalah isteri Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di dunia dan di akhirat, namun Allah Tabaraka wa Ta'ala menguji kalian agar Dia mengetahui, apakah kalian taat kepada-Nya atau kepada ‘Aisyah.” [Bukhari no.6571]

Tahun 36 Hijriyah

كَانَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عليه وسلم أمهات المؤمنين قَدْ خَرَجْنَ إِلَى الْحَجِّ فِي هَذَا الْعَامِ فِرَارًا مِنَ الْفِتْنَةِ، فَلَمَّا بَلَغَ النَّاسَ أَنَّ عثمان قد قتل، أقمن بمكة بعدما خرجوا منها، ورجعوا إليها وأقاموا بها وجعلوا ينتظرون ما يصنع الناس ويتجسسون الأخبار فلما بويع لعلي وصار حظ النَّاسِ عِنْدَهُ
أُولَئِكَ الْخَوَارِجِ الَّذِينَ قَتَلُوا عُثْمَانَ، مَعَ إنَّ عَلِيًّا فِي نَفْسِ الْأَمْرِ يَكْرَهُهُمْ، وَلَكِنَّهُ تَرَبَّصَ بِهِمُ الدَّوَائِرَ، وَيَوَدُّ لَوْ تَمَكَّنَ مِنْهُمْ لِيَأْخُذَ حَقَّ اللَّهِ مِنْهُمْ،
Istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Ummahatul Mukminin berangkat menunaikan haji pada tahun ini untuk menghindari fitnah. Ketika sampai berita ke orang banyak Utsman telah terbunuh, yaitu ketika mereka hendak pulang dari haji, mereka kembali lagi ke Makkah dan menetap di sana. Mereka menunggu apa yang akan dilakukan oleh manusia dan mencari kabar. Dibai’atnya Ali dan orang-orang yang paling berpengaruh di sekitar beliau. Adalah para pemimpin Khawarij yang telah membunuh Utsman, padahal Aliy sangat membenci mereka, akan tetapi beliau menunggu kehancuran mereka dan sangat ingin jika berhasil menguasai mereka, maka beliau akan mengambil hak Allah.

فَقَامَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي النَّاسِ تَخْطُبُهُمْ وَتَحُثُّهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِطَلَبِ دَمِ عُثْمَانَ، وَذَكَرَتْ مَا افْتَاتَ بِهِ أُولَئِكَ مِنْ قَتْلِهِ فِي بَلَدٍ حَرَامٍ وَشَهْرٍ حرام، ولم يراقبوا جِوَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ سَفَكُوا الدِّمَاءَ، وَأَخَذُوا الْأَمْوَالَ.
Berdirilah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berbicara dan mengajak orang-orang agar menuntut balas atas tertumpahnya darah Utsman. ‘Aisyah menyebutkan kelaliman yang telah membunuh Utsman di tanah Haram dan di bulan Haram serta tidak mempedulikan kehormatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka telah menumpahkan darah dan menjarah harta.

فَاسْتَجَابَ النَّاسُ لَهَا، وَطَاوَعُوهَا عَلَى مَا تَرَاهُ مِنَ الْأَمْرِ بالمصلحة، وقالوا لها: حيثما ما سِرْتِ سِرْنَا مَعَكِ، فَقَالَ قَائِلٌ نَذْهَبُ إِلَى الشَّامِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّ مُعَاوِيَةَ قَدْ كَفَاكُمْ أَمْرَهَا، وَلَوْ قَدِمُوهَا لَغَلَبُوا، وَاجْتَمَعَ الْأَمْرُ كُلُّهُ لَهُمْ، لِأَنَّ أَكَابِرَ الصَّحَابَةِ مَعَهُمْ وَقَالَ آخَرُونَ: نَذْهَبُ إِلَى الْمَدِينَةِ فَنَطْلُبُ مِنْ عَلِيٍّ أَنْ يُسَلِّمَ إِلَيْنَا قَتَلَةَ عُثْمَانَ فَيُقْتَلُوا، وَقَالَ آخَرُونَ: بل نذهب إلى البصرة فنتقوى من هنالك بالخيل والرجال، ونبدأ بمن هناك من قتلة عثمان. فاتفق الرأي على ذلك
Orang-orang pun menyambut seruan ‘Aisyah dan bersedia mengikuti apa yang menurut ‘Aisyah membawa maslahat.
Mereka berkata kepadanya, “Ke mana pun anda pergi, kami akan ikut bersama anda.”
Sebagian mereka berkata, “Mari kita berangkat ke Syam.”
Sebagian dari mereka berkata, “Sesungguhnya Mu’awiyyah bisa mengurus masalah di sana, sekiranya mereka datang ke sana niscaya mereka akan kalah. Penduduk Syam pasti akan bersatu, karena Shahabat-Shahabat besar berada di Syam bersama mereka.”
Yang lainnya berkata, “Mari kita berangkat ke Madinah dan menuntut Ali agar menyerahkan para pembunuh Utsman untuk dibunuh.”
Dan sebagian lainnya mengusulkan, “Lebih baik kita berangkat ke Bashrah untuk menggalang kekuatan di sana dengan kuda-kuda dan pasukan. Kita mulai dari sana dengan mencari para pembunuh Utsman.” Lalu mereka pun sepakat atas usulan tersebut.

[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/257-258, al-Hafizh Ibnu Katsir]


فَلَمَّا بَلَغَهُ قَصْدُ طَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ الْبَصْرَةَ، خَطَبَ النَّاسَ وَحَثَّهُمْ عَلَى الْمَسِيرِ إِلَى الْبَصْرَةِ لِيَمْنَعَ أُولَئِكَ مِنْ دُخُولِهَا، إِنْ أَمْكَنَ، أَوْ يَطْرُدَهُمْ عَنْهَا إِنْ كَانُوا قَدْ دخلوها، فتثاقل عنه أكثر أهل المدينة، وَاسْتَجَابَ لَهُ بَعْضُهُمْ
Tatkala (‘Aliy) menerima berita bahwasanya Thalhah dan Zubair hendak menuju Bashrah, (‘Aliy) langsung berkhutbah kepada manusia dengan memberikan perintah agar menuju ke Bashrah untuk mencegah (Thalhah dan Zubair) memasuki (Bashrah) sebisa mungkin, atau mengusir mereka darinya jika mereka sudah memasukinya. Mayoritas penduduk Madinah merasa keberatan (dengan perintah ‘Aliy), namun sebagiannya lagi menerimanya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 7/261, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ إِلَى أَبِيهِ فِي الطَّريق فَقَالَ: لَقَدْ نَهَيْتُكَ فَعَصَيْتَنِي تُقْتَلُ غَدًا بِمَضْيَعَةٍ لَا نَاصِرَ لَكَ.
Datanglah al-Hasan bin ‘Aliy (mencegat) ayahnya di tengah jalan seraya berkata, “Sungguh aku telah melarangmu, namun engkau mengabaikan (saran)-ku. Besok engkau akan diserang di tempat terpencil tanpa penolong bagimu.”

فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ: إِنَّكَ لَا تَزَالُ تَحِنُّ عَلَىَّ حَنِينَ الْجَارِيَةِ، وَمَا الَّذِي نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَعَصَيْتُكَ؟
Lantas ‘Aliy bertanya kepadanya, “Sesungguhnya engkau senantiasa merasa kasihan kepadaku seperti belas kasihnya seorang anak gadis. Perkara apa yang engkau melarangku darinya sehingga aku mengabaikan (saran)-mu?”

فَقَالَ: أَلَمْ آمُرْكَ قَبْلَ مَقْتَلِ عُثْمَانَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْهَا لِئَلَّا يُقْتَلَ وَأَنْتَ بِهَا، فَيَقُولُ قَائِلٌ أَوْ يَتَحَدَّثُ مُتَحَدِّثٌ؟ أَلَمْ آمُرْكَ أَنْ لَا تُبَايِعَ النَّاسَ بَعْدَ قَتْلِ عُثْمَانَ حتَّى يَبْعَثَ إِلَيْكَ أَهْلُ كُلِّ مِصْرٍ ببيعتهم؟ وَأَمَرْتُكَ حِينَ خَرَجَتْ هَذِهِ الْمَرْأَةُ وَهَذَانِ الرَّجُلَانِ أَنْ تَجْلِسَ فِي بَيْتِكَ حَتَّى يَصْطَلِحُوا فَعَصَيْتَنِي فِي ذَلِكَ كُلِّهِ؟
Lalu (al-Hasan) menjawab, “Bukankah aku telah menyarankan engkau sebelum terbunuhnya ‘Utsman untuk pergi keluar dari (Madinah) agar kalau-kalau ia (‘Utsman) terbunuh maka engkau sedang berada di sana (di luar Madinah), sehingga mereka tidak berkata yang macam-macam? Bukankah aku telah menyarankan engkau untuk menolak bai’atnya manusia setelah terbunuhnya ‘Utsman hingga seluruh penduduk kota mengirimkan bai’at mereka? Dan aku telah menyarankan engkau ketika wanita ini (‘Aisyah) dan kedua orang laki-laki ini (Thalhah dan Zubair) berangkat (ke Bashrah) agar engkau tetap berada di dalam rumahmu hingga (kondisinya) membaik, namun engkau mengabaikan (saran)-ku seluruhnya.”
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 7/261, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَبَعَثَ عَلِيٌّ الْقَعْقَاعَ رَسُولًا إِلَى طَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ بِالْبَصْرَةِ يَدْعُوهُمَا إِلَى الْأُلْفَةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَيُعَظِّمُ عَلَيْهِمَا الْفُرْقَةَ وَالِاخْتِلَافَ، فَذَهَبَ الْقَعْقَاعُ إِلَى الْبَصْرَةِ فبدأ بعائشة أم المؤمنين. فقال: أي أماه! ما أقدمك هذا البلد؟ فَقَالَتْ: أَيْ بُنَيَّ! الْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ، فَسَأَلَهَا أَنْ تَبْعَثَ إِلَى طَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ لِيَحْضُرَا عِنْدَهَا، فَحَضَرَا فَقَالَ الْقَعْقَاعُ: إِنِّي سَأَلْتُ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ ما أقدمها؟ فقالت إنما جئت للإصلاح بَيْنَ النَّاسِ، فَقَالَا: وَنَحْنُ كَذَلِكَ قَالَ: فَأَخْبِرَانِي ما وجه هذا الإصلاح؟ وعلى أي شئ يكون؟ فَوَاللَّهِ لَئِنْ عَرَفْنَاهُ لِنَصْطَلِحَنَّ، وَلَئِنْ أَنْكَرْنَاهُ لَا نَصْطَلِحَنَّ، قَالَا: قَتَلَةُ عُثْمَانَ، فَإِنَّ هَذَا إِنْ ترك كان تركاً للقرآن
(Lalu) ‘Aliy mengutus al-Qa’qa’ untuk menemui Thalhah dan Zubair di Bashrah dengan mengajak keduanya untuk bersatu serta mengingatkan bahayanya perpecahan dan perselisihan. Lantas berangkatlah al-Qa’qa’ menuju Bashrah, (orang) pertama yang ditemuinya adalah ‘Aisyah Ummul Mukminin, seraya berkata, “Wahai Ibunda, apa tujuan anda datang ke negeri ini?”
(‘Aisyah) menjawab, “Wahai anakku, (tujuanku) adalah mendamaikan manusia. Lalu (al-Qa’qa’) memohon kepada (‘Aisyah) untuk mengutus (seseorang) menuju Thalhah dan Zubair untuk hadir di hadapan (‘Aisyah), maka hadirlah mereka (Thalhah dan Zubair).
Kemudian al-Qa’qa’ berkata, “Sesungguhnya aku telah bertanya kepada Ummul Mukminin mengenai tujuan beliau? Lalu beliau menjawab, “Sesungguhnya aku datang untuk mendamaikan manusia.” (Thalhah dan Zubair) pun berkata, “Kami juga demikian.”
(Al-Qa’qa’) berkata, “Kalau begitu khabarkanlah kepadaku bentuk perdamaiannya? Demi Allah, jika kami menyetujuinya maka kami akan berdamai, namun jika kami mengingkarinya maka niscaya kami tidak akan berdamai.”
(Thalhah dan Zubair) menjawab, “Pembunuhan ‘Utsman, jika masalah ini dibiarkan maka berarti kita telah meninggalkan Al-Qur’an.”
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 7/264-265, al-Hafizh Ibnu Katsir]

أَنَّ الَّذِي تريدونه مِنْ قَتْلِ قَتَلَةِ عُثْمَانَ مَصْلَحَةٌ، وَلَكِنَّهُ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مَفْسَدَةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْهَا - وَكَمَا أَنَّكُمْ عَجَزْتُمْ عَنِ الْأَخْذِ بِثَأْرِ عُثْمَانَ مِنْ حُرْقُوصِ بْنِ زُهَيْرٍ، لِقِيَامِ سِتَّةِ آلَافٍ فِي مَنْعِهِ مِمَّنْ يُرِيدُ قَتْلَهُ، فَعَلِيٌّ أَعْذَرُ فِي تَرْكِهِ الْآنَ قَتْلَ قَتَلَةِ عُثْمَانَ، وَإِنَّمَا أَخَّرَ قَتْلَ قتلة عثمان إلى أن يتمكن منهم، فإن الكلمة في جميع الأمصار مختلفة، ثُمَّ أَعْلَمَهُمْ أَنَّ خَلْقًا مِنْ رَبِيعَةَ وَمُضَرَ قد اجتمعوا لِحَرْبِهِمْ بِسَبَبِ هَذَا الْأَمْرِ الَّذِي وَقَعَ.
(Al-Qa’qa’ berkata), “Bahwa keinginanmu untuk membunuh pembunuh ‘Utsman memiliki sebuah mashlahat, namun mengakibatkan mafsadat yang lebih besar darinya. Sebagaimana tekad kalian untuk menuntut balas (darah) ‘Utsman terhadap Hurqush bin Zuhair yang berdampak pada bangkitnya 6.000 orang demi melindunginya (Hurqush bin Zuhair) dari orang yang ingin membunuhnya.”
Sebenarnya ‘Aliy memiliki alasan untuk meninggalkan hukuman mati bagi pembunuh ‘Utsman sekarang. Oleh karena itu, ia (‘Aliy) menangguhkan hukuman mati bagi pembunuh ‘Utsman tersebut hingga (kondisinya) memungkinkan untuk (menghukum mati) mereka. Dan karena juga, suara-suara seluruh pemimpin kota masih berselisih.
Kemudian mereka mengetahui bahwa terdapat sejumlah gerombolan yang berasal dari Rabi’ah dan Mudhar telah berkumpul untuk menyerang mereka (‘Aisyah, Thalhah & Zubair), akibat dari kejadian yang telah terjadi (yakni terbunuhnya orang yang melindungi Hurqush bin Zuhair pembunuh ‘Utsman).
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 7/265, al-Hafizh Ibnu Katsir]

ثُمَّ بَعَثَ عَلِيٌّ إِلَى طَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ يَقُولُ: إِنْ كُنْتُمْ عَلَى مَا فَارَقْتُمْ عَلَيْهِ الْقَعْقَاعَ بْنَ عَمْرٍو فَكُفُّوا حَتَّى نَنْزِلَ فَنَنْظُرَ فِي هَذَا الْأَمْرِ،
Kemudian Ali mengirim utusan kepada Thalhah dan az-Zubair untuk menyampaikan, “Jika kalian berbeda dengan apa yang telah disampaikan oleh al-Qa’qa’ bin Amr, maka tahanlah hingga kami datang untuk mempelajari masalah ini.”

فَأَرْسَلَا إِلَيْهِ فِي جَوَابِ
رِسَالَتِهِ: إِنَّا عَلَى ما فارقنا الْقَعْقَاعَ بْنَ عَمْرٍو مِنَ الصُّلْحِ بَيْنَ النَّاسِ،
Kemudian Thalhah dan az-Zubair mengirim jawaban, “Kami pada permasalahan yang berbeda dengan al-Qa’qa’ memilih berdamai.”

فَاطْمَأَنَّتِ النُّفُوسُ وَسَكَنَتْ، وَاجْتَمَعَ كُلُّ فَرِيقٍ بِأَصْحَابِهِ مِنَ الْجَيْشَيْنِ، فَلَمَّا أَمْسَوْا بَعَثَ عَلِيٌّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ إِلَيْهِمْ، وَبَعَثُوا إِلَيْهِ مُحَمَّدَ بن طليحة السَّجَّادَ وَبَاتَ النَّاسُ بِخَيْرِ لَيْلَةٍ، وَبَاتَ قَتَلَةُ عُثْمَانَ بِشَرِّ لَيْلَةٍ، وَبَاتُوا يَتَشَاوَرُونَ وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنْ يُثِيرُوا الْحَرْبَ مِنَ الْغَلَسِ، فَنَهَضُوا مِنْ قَبْلِ طُلُوعِ الْفَجْرِ وَهُمْ قَرِيبٌ مَنْ أَلْفَيْ رَجُلٍ فَانْصَرَفَ كُلُّ فَرِيقٍ إِلَى قَرَابَاتِهِمْ فَهَجَمُوا عليهم بالسيوف، فثارت كُلُّ طَائِفَةٍ إِلَى قَوْمِهِمْ لِيَمْنَعُوهُمْ، وَقَامَ النَّاسُ من منامهم إلى السلاح، فقالوا طرقتنا أَهْلُ الْكُوفَةِ لَيْلًا، وَبَيَّتُونَا وَغَدَرُوا بِنَا، وَظَنُّوا أَنَّ هَذَا عَنْ مَلَأٍ مِنْ أَصْحَابِ عَلِيٍّ فَبَلَغَ الْأَمْرُ عَلِيًّا فَقَالَ: مَا لِلنَّاسِ؟ فَقَالُوا، بَيَّتَنَا أَهْلُ الْبَصْرَةِ، فَثَارَ كُلُّ فَرِيقٍ إِلَى سلاحه وَلَبِسُوا اللَّأْمَةَ وَرَكِبُوا الْخُيُولَ، وَلَا يَشْعُرُ أَحَدٌ مِنْهُمْ بِمَا وَقَعَ الْأَمْرُ عَلَيْهِ فِي نَفْسِ الأمر، وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قدراً مقدوراً
Orang-orang pun merasa tenang jiwanya. Tiap-tiap orang bergabung bersama sahabatnya di dalam pasukannya. Keesokan sore Ali mengutus Abdullah bin Abbas kepada mereka, lalu mereka mengirim Muhammad bin Thalhah as-Sajjad. Malam itu kedua pihak bermalam dalam keadaan baik-baik saja, akan tetapi para pembunuh Utsman melalui malam itu dengan seburuk-buruk keadaan. Mereka berunding dan sepakat untuk mengobarkan peperangan pada gelapnya pagi esok hari, mereka bangun sebelum terbit fajar, jumlah mereka sekitar ribuan orang. Masing-masing kelompok bergabung bersama kerabatnya lalu menyerang (pasukan Thalhah dan az-Zubair) dengan pedang, maka setiap golongan bergegas menuju kaumnya untuk melindungi mereka. Orang-orang bangun dari tidurnya dan langsung mengambil senjata seraya berteriak, “Penduduk Kufah menyerbu kami pada malam hari, mereka mengkhianati kita.”
Mereka mengira bahwa para penyerang itu berasal dari pasukan Ali. Sampailah kabar itu kepada Ali, beliau berkata, “Ada apa dengan mereka?”
Para pembunuh Utsman menjawab, “Penduduk Bashrah menyerbu kami.”
Maka kedua belah pihak mengambil senjata masing-masing, mengenakan baju perang dan mengendarai kuda-kuda. Tidak ada seorang pun yang menyadari apa yang sebenarnya yang telah terjadi, itulah ketetapan Allah yang berlaku.

[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/267, al-Hafizh Ibnu Katsir]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ إِنَّهُ سَيَكُونُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ عَائِشَةَ أَمْرٌ قَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَنَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَنَا أَشْقَاهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَكِنْ إِذَا كَانَ ذَلِكَ فَارْدُدْهَا إِلَى مَأْمَنِهَا
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada ‘Ali bin Abu Thalib, “Antara engkau dan ‘Aisyah akan terjadi sesuatu,” ‘Ali berkata, “Aku wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Iya benar.” Ali berkata lagi, “Aku?” Beliau menjawab, “Iya benar.” Ali berkata, “Akankah aku menyakiti mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Jangan, jika itu terjadi maka kembalikanlah ia ke tempat tinggalnya."
[Ahmad no.25943, Hasan : Musnad Imam Ahmad no.27076, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

[-] Perang Shiffin terjadi di perbatasan Irak kuno (al-Jazirah) dan Syam yaitu di Raqqah (saat ini menjadi bagian Suriah), di sisi sungai Eufrat.

Najd Irak Tanduk Setan Timur Madinah

Al-Jazirah terletak di antara dua sungai; Tigris (Dijlah) dan Eufrat. Ia pun berdampingan dengan Syam. Daerah ini mencakup Diyar Mudhar, Diyar Bakr. Di antara kota-kotanya yang terkenal Harran, ar-Ruha, ar-Raqqa, Ras al-‘Ain, Nashibin, Mardin, Amd, Miyafarqain, dan Mosul. Uqur adalah nama wilayah semenanjung, yaitu semenanjung di antara Mosul dan Eufrat secara keseluruhan.
[Atlas Hadits an-Nabawiy min al-Kitab ash-Shahih as-Sittah 117, Syauqi Abu Khalil]

فَلَمَّا انْتَهَى إِلَيْهِ جَرِيرُ بن عبد الله أعطاه الكتاب فطلب معاوية عمرو بن العاص ورؤوس أَهْلِ الشَّامِ فَاسْتَشَارَهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُبَايِعُوا حَتَّى يَقْتُلَ قَتَلَةَ عُثْمَانَ، أَوْ أَنْ يُسلم إِلَيْهِمْ قَتَلَةَ عُثْمَانَ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ
قَاتَلُوهُ وَلَمْ يبايعوه حتى يقتل قتلة عثمان بن عفان رضي الله عنه.
Ketika Jarir bin Abdillah sampai di hadapan Muawiyyah, maka dia menyerahkan surat (Ali) kepadanya, Muawiyyah memanggil Amr bin al-Ash dan tokoh-tokoh negeri Syam untuk bermusyawarah. Mereka menolak berbaiat (kepada Ali) hingga para pembunuh Utsman dibunuh atau (Ali) menyerahkan kepada mereka para pembunuh Utsman tersebut. Jika dia tidak memenuhi permintaan ini maka mereka akan memerangi beliau dan menolak berbaiat kepada belaiu hingga mereka berhasil membunuh pembunuh Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.
[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/282, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وَتَهَيَّأَ أَهْلُ الشَّامِ وَتَأَهَّبُوا، وَخَرَجُوا أَيْضًا إِلَى نَحْوِ الْفُرَاتِ مِنْ نَاحِيَةِ صفين  وَسَارَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمَنْ مَعَهُ من الجنود مِنَ النُّخَيْلَةِ قَاصِدًا أَرْضَ الشَّامِ.
Pasukan Syam telah bersiap-siap berangkat, mereka bergerak menuju Eufrat dari arah Shiffin. Sementara Ali Radhiyallahu ‘anhu bersama pasukan bergerak dari an-Nukhailah menuju bumi Syam.
[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/283, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَلَمَّا كَانَ صَبَاحُ الْيَوْمِ الثَّالِثِ أَقْبَلَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي جُيُوشِهِ، وَجَاءَ مُعَاوِيَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي جُنُودِهِ، فتواجه الفريقان وتقابل الطائفتان فبالله الْمُسْتَعَانُ،
وَذَلِكَ بِمَكَانٍ يُقَالُ لَهُ: صِفِّينَ وَذَلِكَ فِي أَوَائِلِ ذِي الْحِجَّةِ،
Pada paginya di hari ketiga, Ali Radhiyallahu ‘anhu tiba bersama pasukannya, kemudian Mu’awiyyah Radhiyallahu ‘anhu juga tiba bersama pasukannya. Lalu kedua pasukan saling berhadapan -hanya kepada Allah kami memohon pertolongan- di tempat yang bernama Shiffin di mana terjadinya di awal bulan Dzulhijjah.
[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/284, al-Hafizh Ibnu Katsir]

[-] Munculnya Syiah al-Khawarij dari Irak Timur Madinah tempat munculnya Tanduk Setan pada Rabi’ah & Mudhar yang keras hatinya.

هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْخَوَارِجَ فَقَالَ سَمِعْتُهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ
“Apakah engkau pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan tentang Khawarij?” ia pun menjawab, “Aku telah mendengar beliau -Ia sambil berisyarat ke arah Timur [الْمَشْرِقِ]- bersabda, “Mereka adalah kaum yang membaca al-Qur’an dengan lisan-lisan mereka, namun bacaan mereka hanya sampai kerongkongan mereka. mereka meluncur (keluar) dari agama (Islam), sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya.” [Muslim no.1776]

هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ
“Apakah engkau pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang Khawarij?” Ia menjawab, “aku mendengar beliau bersabda -sambil mengarahkan tangannya ke arah Irak [الْعِرَاقِ]-, “Dari sanalah akan keluar suatu kaum yang membaca al-Qur’an tidak melewati kerongkongan mereka, mereka meluncur (keluar) dari Islam meluncurnya anak panah dari busurnya.” [Bukhari no.6422]

[-] Terbunuhnya Aliy bin Abi Thalib oleh Syiah Khawarij di Kufah Irak Timur Madinah tempat munculnya Tanduk Setan pada Rabi’ah & Mudhar yang keras hatinya.

[-] Terbunuhnya Hushain bin Aliy oleh Syimr Syiah di Karbala Irak Timur Madinah tempat munculnya Tanduk Setan pada Rabi’ah & Mudhar yang keras hatinya.

[-] Munculnya Syiah Rafidhah dari Kufah Irak Timur Madinah tempat munculnya Tanduk Setan pada Rabi’ah & Mudhar yang keras hatinya.

[-] Munculnya al-Qadariyyah di Bashrah Irak Timur Madinah tempat munculnya Tanduk Setan yang akan terjadi penenggelaman dan perubahan bentuk.

كَانَ يُجَالِسُ الْحَسَنَ الْبَصْرِيَّ وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ تَكَلَّمَ فِي الْبَصْرَةِ بِالْقَدَرِ فَسَلَكَ أَهْلُ الْبَصْرَةِ بَعْدَهُ مَسْلَكَهُ لَمَّا رَأَوْا عَمْرَو بْنَ عُبَيْدٍ يَنْتَحِلُهُ
Dahulu dia (Ma’bad al-Juhani) sering bermajelis dengan al-Hasan al-Bashri, dan dialah orang yang pertama berbicara tentang takdir di negeri Bashrah. Setelah sepeninggalannya, penduduk Bashrah mengikuti jejaknya ketika mereka melihat Amr bin Ubaid menganutnya.

وَأَمَّا الْبَصْرَةُ فَبِفَتْحِ الْبَاءِ وَضَمِّهَا وَكَسْرِهَا ثَلَاثُ لُغَاتٍ حَكَاهَا الْأَزْهَرِيُّ وَالْمَشْهُورُ الْفَتْحُ وَيُقَالُ لَهَا الْبُصَيْرَةُ
Adapun (cara membaca) [بصرة] ada tiga riwayat, yaitu dengan memfathahkan “ba” [بَصرة] “Bashrah” dan mendhammahkannya [بُصرة] “Bushrah” serta mengkasrahkannya [بِصرة] “Bishrah”. Al-Azhari meriwayatkan, yang masyhur adalah dengan memfathahkannya [بَصرة] “Bashrah”, ada juga yang menyebutnya [الْبُصَيْرَةُ] “Bushairah”.

[Syarah Shahih Muslim 1/153, Imam an-Nawawi]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا أَنَسُ إِنَّ النَّاسَ يُمَصِّرُونَ أَمْصَارًا وَإِنَّ مِصْرًا مِنْهَا يُقَالُ لَهُ الْبَصْرَةُ أَوْ الْبُصَيْرَةُ فَإِنْ أَنْتَ مَرَرْتَ بِهَا أَوْ دَخَلْتَهَا فَإِيَّاكَ وَسِبَاخَهَا وَكِلَاءَهَا وَسُوقَهَا وَبَابَ أُمَرَائِهَا وَعَلَيْكَ بِضَوَاحِيهَا فَإِنَّهُ يَكُونُ بِهَا خَسْفٌ وَقَذْفٌ وَرَجْفٌ وَقَوْمٌ يَبِيتُونَ يُصْبِحُونَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda kepadanya, “Wahai Anas, sesungguhnya manusia akan menempati banyak tempat, dan salah satu tempat tersebut dinamakan Bashrah [الْبَصْرَةُ], atau Bushairah [الْبُصَيْرَةُ]. Jika engkau melewati tempat tersebut, atau masuk ke dalamnya, maka hindarilah tempat-tempat yang tanahnya asin, beserta dermaganya, serta pasar-pasar dan para penguasanya. Hendaknya engkau menyusuri pinggiran tepi wilayahnya, karena di sana akan terjadi penenggelaman [خَسْفٌ], dilempar (batu) [قَذْفٌ] dan cuaca dingin [رَجْفٌ]. Suatu kaum bermalam di sana dan pagi harinya telah (dirubah bentuknya) menjadi Kera [قِرَدَةً] dan Babi [خَنَازِيرَ].”
[Abu Daud no.3753, Shahih : Shahih Abu Dawud no.4307, Syaikh al-Albani]

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي مَسْخٌ وَقَذْفٌ وَهُوَ فِي الزِّنْدِيقِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ”Akan terjadi pada umatku perubahan bentuk [مَسْخٌ] dan dilempari (batu) [قَذْفٌ]. Yaitu pada orang-orang Zindiq dan al-Qadariyah.”
[Ahmad no.5931, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.6208, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

Sehingga teman-teman dapat mengetahui dengan pasti bahwa Irak Timur Madinah merupakan tempat Fitnah dimulai dari pembunuhan Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu di Madinah oleh sekelompok Khawarij dari Bashrah dan Kufah Irak, berlanjut dengan penyelinapan pembunuh Utsman bin Affan di pasukan Ali Radhiyallahu ‘anhuma sehingga terjadi perang Jamal di Bashrah Irak, kemudian perang Shiffin di perbatasan al-Jazirah Irak dalam menuntut balas atas darah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, dan keluarnya Syiah al-Khawarij & Syiah Rafidhah di Kufah Irak yang mengakibatkan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib & Hushain bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma di Kufah & Karbala Irak oleh Syiah al-Khawarij & Syiah Syimr, serta munculnya paham al-Qadariyyah di Bashrah Irak yang akhirnya akan ditenggelamkan dan dirubah bentuk menjadi Kera & Babi.