Friday, May 16, 2014

// // Leave a Comment

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi [Goresan Pena Tanya Syiah Part 11]

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi


Syiah Rafidhah al-Majusi adalah sebuah Agama yang dianut oleh penduduk negeri Iran yang merupakan Pusat Kekufuran yang berada di arah Timur di mana kaum Majusi berasal darinya, dan kaum Majusi tersebut biasa dikenal dalam bahasa Yunani dengan nama Zoroaster.


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْإِبِلِ وَالْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, “Pusat kekufuran berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ]. Kebanggaan diri dan kesombongan terletak pada para pemilik kuda dan unta. Serta al-Faddadin berada pada penduduk al-Wabar, sedangkan ketenangan ada pada para pemilik kambing.” [Bukhari no.3056]

 [3301] قَوْلُهُ رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فِي رِوَايَةِ الْكُشْمِيهَنِيِّ قِبَلَ الْمَشْرِقِ
وَفِي ذَلِكَ إِشَارَةٌ إِلَى شِدَّةِ كُفْرِ الْمَجُوسِ لِأَنَّ مَمْلَكَةَ الْفُرْسِ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ مِنَ الْعَرَبِ كَانَتْ مِنْ جِهَةِ الْمَشْرِقِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْمَدِينَةِ وَكَانُوا فِي غَايَةِ الْقَسْوَةِ وَالتَّكَبُّرِ وَالتَّجَبُّرِ حَتَّى مَزَّقَ مَلِكُهُمْ كِتَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا سَيَأْتِي فِي مَوْضِعِهِ وَاسْتَمَرَّتِ الْفِتَنُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ وَاضِحًا فِي الْفِتَنِ
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, [رَأْسُ الْكُفْرِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ]Pusat kekufuran berada di arah Timur [نَحْوَ الْمَشْرِقِ]” Dalam riwayat al-Kusymihaniy [قِبَلَ الْمَشْرِقِ] “Ke arah Timur.”
Hal tersebut memberikan isyarat akan kerasnya kekufuran kaum Majusi, karena sesungguhnya kerajaan Persia dan orang-orang yang mentaatinya dari bangsa ‘Arab yang merupakan berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ] ketika dilihat dari kota Madinah [الْمَدِينَةِ]. Dan mereka berada pada puncak kekerasan hati, kesombongan dan keangkuhan hingga raja mereka merobek-robek surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana yang akan disebutkan pada tempatnya nanti. Dan berlangsungnya Fitnah [الْفِتَنُ] secara terus menerus dari arah Timur [الْمَشْرِقِ] sebagaimana yang akan dijelaskan pada pembahasan tentang fitnah.
[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 6/352, al-Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqalani]

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
إِنَّ أَهْلَ فَارِسَ لَمَّا مَاتَ نَبِيُّهُمْ كَتَبَ لَهُمْ إِبْلِيسُ الْمَجُوسِيَّةَ
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Sesungguhnya penduduk Persia tatkala wafatnya Nabi mereka, maka Iblis Majusi menuliskan (kitab) untuk mereka.
[Abu Daud no.2645, Hasan Mauquf : Shahih Abu Daud no.3042, Syaikh al-Albani]

Zoroastrianisme adalah sebuah agama dan ajaran filosofi yang didasari oleh ajaran Zarathustra yang dalam bahasa Yunani disebut Zoroaster. Zoroastrianisme dahulu kala adalah sebuah agama yang berasal dari daerah Persia Kuno atau kini dikenal dengan Iran. Di Iran, Zoroastrianisme dikenal dengan sebutan Mazdayasna yaitu kepercayaan yang menyembah kepada Ahura Mazda atau “Tuhan yang bijaksana”.

Zoroastrianisme mempunyai prinsip dualisme yang mempercayai bahwa ada dua kekuatan yang bertentangan dan saling beradu yakni kekuatan kebaikan dan kejahatan. Dalam tradisi Zoroastrianisme, yang jahat diwakili oleh Angra Mainyu atau Ahriman, sedangkan yang baik diwakili oleh Spenta Mainyu. Manusia harus selalu memilih akan berpihak pada kebaikan atau kejahatan selama hidupnya. Akan tetapi, dengan paham dualisme ini tidak berarti bahwa Zoroastrianisme tidak mengakui monoteisme karena Ahura Mazdalah satu-satunya Tuhan yang disembah. Ahura Mazda, pada saatnya akan mengalahkan kekuatan yang jahat dan berkuasa penuh. Ahriman dan para pengikutnya akan dimusnahkan untuk selamanya. Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme dengan Ahura Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui.

Periode 3000 tahun terakhir, yaitu masa munculnya seorang Saoshayant setiap seribu tahun, yang diyakini sebagai penyelamat yang akan memerintah dan memelihara bumi. Ketiga Saoshayant yang akan datang itu adalah keturunan Zarathustra yang pada akhirnya akan memimpin manusia untuk melawan dan menghancurkan Ahriman serta para pengikutnya. Barulah setelah itu perdamaian dunia akan terwujud.

Menurut ajaran Zoroastrianisme, dunia akan mengalami pembaruan menuju kesempuranaan dan jiwa-jiwa baik yang masih hidup dan sudah mati akan dibebaskan selamanya dari kuasa jahat. Pembaruan dunia dan kebangkitan kembali seluruh ciptaan disebut Frashokeveti.

Mereka meyakini bahwa tidak ada yang ditakdirkan atau dikodratkan sebelumnya. Apa yang dilakukan, dikatakan dan dipikirkan selama hidup akan menentukan apa yang akan terjadi setelah Kematian.

Para penganut Zoroastrianisme beribadah di dalam kuil yang disebut dengan Kuil Api.

Zoroastrianisme mempunyai beberapa hari raya atau disebut Gahambars. Perayaan Tahun Baru (Naw Ruz atau Noruz) merupakan hari raya yang dirayakan paling meriah. Selain itu, ada juga Festival Seribu Hari (Sada) yang dirayakan di dekat sungai, dan perayaan Ulang Tahun Zoroaster.

[id.wikipedia.org/wiki/Zoroastrianisme]

Saoshyant [sou-shyuhnt] adalah tokoh eskatologi Zoroaster yang membawa ajaran pembaruan dunia, Frashokereti. Dalam bahasa Avesta secara harfiah yang memiliki arti “orang yang membawa manfaat.”
[en.wikipedia.org/wiki/Saoshyant]

Di bumi, Saoshyant akan membangkitkan orang yang telah mati di dalam tubuh mereka (dalam keadaan utuh dan hidup) ketika mereka sebelum Mati.
[en.wikipedia.org/wiki/Frashokereti]

Berikut adalah kesimpulan dari keterangan yang di dapat mengenai ajaran Majusi atau yang dikenal sebagai Zoroaster di atas, sebagai berikut :

[1] Majusi berasal dari Persia Iran.

[2] Majusi mempercayai terdapat kedua kekuatan yaitu Kebaikan dan Kejahatan, di mana Spenta Mainyu hanyalah menciptakan Kebaikan, sedangkan Kejahatan diciptakan oleh musuhnya yaitu Ahriman.

[3] Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme dengan Ahura Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui.

[4] Majusi mempercayai akan datangnya Saoshayant yaitu seorang penyelamat dan memerintah serta memelihara bumi, yang akan memimpin manusia melawan Ahriman yang menciptakan Kejahatan beserta pengikutnya. Dan dia (Saoshayant) akan membangkitkan orang yang telah mati di bumi.

[5] Majusi meyakini bahwa tidak ada yang ditakdirkan atau dikodratkan sebelumnya.

[6] Majusi beribadah di Kuil Api.

[7] Majusi merayakan hari raya Gahambars. Perayaan Tahun Baru (Naw Ruz atau Noruz), Festival Seribu Hari (Sada), Ulang Tahun Zoroaster.

Penulisan istilah Nowruz pertama kali muncul dalam catatan sejarah Persia di abad ke-2 Masehi, namun Nowruz juga termasuk merupakan hari penting selama masa Achaemenids (c.550-330SM), di mana raja dari berbagai negara di bawah Kekaisaran Persia biasanya membawa hadiah kepada raja, yang juga disebut sebagai rajanya para raja (Shahanshah), dari Persia pada hari raya Nowruz.
[en.wikipedia.org/wiki/Nowruz]

Kerajaan Kisra Persia al-Majusi yang berada di arah Timur, telah diluluh-lantakkan oleh Khalifah Rasyidah yaitu al-Khalifah Sayyidina Imam ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana yang telah Tanya Syiah Goreskan pada Goresan Pena Tanya Syiah Part 4, yaitu “Khilafah Nubuwwah Menaklukkan Dunia.”

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi

وَتَمَّ فِي أَيَّامِهِ فَتْحُ الْبِلَادِ الشَّامِيَّةِ بِكَمَالِهَا وَدِيَارِ مِصْرَ إِلَى آخِرِهَا وَأَكْثَرِ إِقْلِيمِ فَارِسَ. وَكَسَرَ كِسْرَى وَأَهَانَهُ غَايَةَ الْهَوَانِ وَتَقَهْقَرَ إِلَى أَقْصَى مَمْلَكَتِهِ،
Pada masa kekhalifahannya (‘Umar), sempurnalah penaklukkan negeri Syam, negeri Mesir dan lainnya serta sebagian besar negeri Persia. Ia berhasil menghancurkan Kisra dan menghinakannya dengan sangat hina serta memukul mundur telak hingga ke kerajaannya.
[Tafsir Ibnu Katsir 6/71]

وبالعراق القادسية والحيرة ونهر سير وَسَابَاطَ، وَمَدَائِنَ كِسْرَى وَكُورَةَ الْفُرَاتِ وَدِجْلَةَ وَالْأَبُلَّةَ وَالْبَصْرَةَ وَالْأَهْوَازَ وَفَارِسَ وَنَهَاوَنْدَ وَهَمَذَانَ وَالرَّيَّ وَقُومِسَ وَخُرَاسَانَ وَإِصْطَخْرَ وَأَصْبَهَانَ وَالسُّوسَ وَمَرْوَ وَنَيْسَابُورَ وَجُرْجَانَ وَأَذْرَبِيجَانَ وَغَيْرَ ذَلِكَ،
(Umar menaklukkan) wilayah Irak, seperti Qadisiyyah, al-Hirah, Sungai Sair, Sabath, al-Madain Kisra, Eufrat, Dijlah, Ubullah, Bashrah, Ahwaz, Persia, Nahawand, Hamadzan, ar-Rayy, Qumis, Khurasan, Isthakhr, Ashbahan, as-Sus, Marwu, Naisaburi, Jurjan, Azerbaijan dan lain-lain.
[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/151, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Sehingga muncullah dendam Persia al-Majusi terhadap al-Khalifah Sayyidina Imam ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu dengan menikamnya secara pengecut, yaitu penikaman tersebut dilakukan oleh Abu Lu’lu’ah al-Majusi ketika ditegakkannya shalat Shubuh berjama’ah di Madinah.

أن عمرو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا فَرَغَ مِنَ الْحَجِّ سَنَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَنَزَلَ بِالْأَبْطَحِ دَعَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَشَكَا إِلَيْهِ أَنَّهُ قَدْ كَبِرَتْ سِنُّهُ وَضَعُفَتْ قُوَّتُهُ، وَانْتَشَرَتْ رَعِيَّتُهُ، وَخَافَ مِنَ التَّقْصِيرِ، وَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يَقْبِضَهُ إِلَيْهِ، وَأَنْ يَمُنَّ عَلَيْهِ بِالشَّهَادَةِ فِي بَلَدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
Ketika Umar Radhiyallahu ‘anhu selesai melaksanakan ibadah haji pada tahun 23 H, beliau sempat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla di al-Abthah, mengadu kepada Allah tentang usianya yang telah senja, kekuatannya telah melemah, sementara rakyatnya tersebar luas, dan ia takut tidak dapat menjalankan tugas dengan sempurna. Ia berdoa kepada Allah agar Allah mewafatkannya, dan berdoa agar Allah memberikan syahadah serta dimakamkan di kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

كَمَا ثَبَتَ عَنْهُ فِي الصَّحِيحِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَمَوْتًا فِي بَلَدِ رَسُولِكَ،
Sebagaimana yang terdapat di dalam ash-Shahih bahwa Umar pernah berdoa : “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mendapatkan syahadah di atas jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu.” [Bukhari no.1757]

فاستجاب له الله هَذَا الدُّعَاءَ، وَجَمَعَ لَهُ بَيْنَ هَذَيْنَ الْأَمْرَيْنِ الشَّهَادَةِ فِي الْمَدِينَةِ النَّبَوِيَّةِ وَهَذَا عَزِيزٌ جِدًّا، ولكن الله لطيف بما يَشَاءُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَاتَّفَقَ لَهُ أَنْ ضَرَبَهُ أَبُو لُؤْلُؤَةَ فَيْرُوزُ الْمَجُوسِيُّ الْأَصْلِ، الرُّومِيُّ الدَّارِ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ، صَلَاةَ الصُّبْحِ مِنْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ، لِأَرْبَعٍ بَقِينَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ بِخِنْجَرٍ ذَاتِ طَرَفَيْنِ، فَضَرَبَهُ ثَلَاثَ ضَرَبَاتٍ، وَقِيلَ سِتَّ ضَرَبَاتٍ، إِحْدَاهُنَّ تحت سرته قطعت السفاق فَخَرَّ مِنْ قَامَتِهِ، وَاسْتَخْلَفَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ، وَرَجَعَ الْعِلْجُ بِخِنْجَرِهِ لَا يَمُرُّ بِأَحَدٍ إِلَّا ضَرَبَهُ، حَتَّى ضَرَبَ ثَلَاثَةَ عَشَرَ رَجُلًا مَاتَ مِنْهُمْ سِتَّةٌ، فَأَلْقَى عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بن عَوْفٍ بُرْنُسًا فَانْتَحَرَ نَفْسَهُ لَعَنَهُ اللَّهُ،
Maka Allah mengabulkan doa beliau dan memberikan kedua permohonannya tersebut, yaitu mati syahid di Madinah an-Nabawi. Ini adalah perkara yang sulit, namun Allah Tabaraka wa Ta’ala Mahalembut kepada hamba-Nya. Akhirnya beliau ditikam oleh Abu Lu’luah Fairuz –seorang yang asalnya beragama Majusi dan tinggal di Romawi- ketika Umar shalat di Mihrab pada waktu shalat Shubuh di hari Rabu, 4 hari terakhir bulan Dzulhijah pada tahun ini (23 H) dengan belati yang memiliki dua mata. Abu Lu’luah menikamnya tiga tikaman –ada yang mengatakan enam tikaman-, satu di bawah pusarnya hingga terputus urat-urat dalam perut beliau, akhirnya Umar jatuh tersungkur dan menyuruh Abdurrahman bin Auf agar menggantikannya menjadi imam shalat. Kemudian ia (Abu Lu’luah) berlari ke belakang sambil menikam seluruh orang yang dilaluinya. Dalam peristiwa itu sebanyak 13 orang terluka dan 6 orang dari mereka tewas. Maka segera Abdullah bin Auf menangkapnya dengan melemparkan pakaian burnus untuk menjeratnya, kemudian Abu Lu’luah bunuh diri, semoga Allah melaknatnya.

وَحُمِلَ عُمَرُ إِلَى مَنْزِلِهِ وَالدَّمُ يَسِيلُ مَنْ جُرْحِهِ - وَذَلِكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ - فَجَعَلَ يُفِيقُ ثُمَّ يُغْمَى عَلَيْهِ، ثُمَّ يُذَكِّرُونَهُ بِالصَّلَاةِ فَيُفِيقُ وَيَقُولُ: نعم، ولاحظ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَهَا.
ثُمَّ صَلَّى فِي الْوَقْتِ، ثُمَّ سَأَلَ عَمَّنْ قَتَلَهُ مَنْ هُوَ؟ فقالوا له: هو أَبُو لُؤْلُؤَةَ غُلَامُ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ.
فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَجْعَلْ مَنِيَّتِي عَلَى يَدَيْ رَجُلٍ يَدَّعِي الْإِيمَانَ وَلَمْ يَسْجُدْ لِلَّهِ
سَجْدَةً.
Umar segera dibawa ke rumahnya sementara darah mengalir deras dari luka-lukanya. Hal itu terjadi sebelum matahari terbit. Umar berkali-kali jatuh pingsan dan sadar, kemudian orang-orang mengingatkannya shalat, beliau sadar sambil berkata, “Ya aku akan shalat dan tidak ada bagian dari Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Kemudian beliau shalat, setelah shalat beliau bertanya siapa yang menikamnya. Mereka menjawab, “Abu Lu’luah budak al-Mughirah bin Syu’bah.” Beliau berkata, “Alhamdulillah yang telah menentukan kematianku di tangan seseorang yang tidak beriman dan tidak pernah sujud kepada Allah sekalipun.”

[al-Bidayah wa an-Nihayah 7/155, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Oleh karena dendamnya kaum Majusi terhadap al-Khalifah Sayyidina Imam ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, maka Syiah Rafidhah al-Majusi pun memperingati Abu Lu’lu’ah al-Majusi dengan menari-nari dengan mengenakan pakaian wanita, dikarenakan pendeta mereka membolehkan seorang Syiah Rafidhah al-Majusi untuk mengenakan pakaian wanita.


Pendeta Syiah
Menit 00:33
Pakaian yang umum (biasa yang dipakai) antara pria dan wanita diperbolehkan untuk dipakai (oleh keduanya secara bertukaran) sedangkan pakaian khusus yang berkaitan dengan salah satu dari kedua gender tersebut, jika dipakai sementara, maka tidak mengapa.”

Sehingga Syiah Rafidhah al-Majusi memperingati Abu Lu’lu’ah al-Majusi dengan menari-nari dengan mengenakan pakaian wanita.

[https://www.youtube.com/watch?v=csm-vE0TZNQ]

Bahkan negeri Persia yang saat ini bernama Iran negeri Syiah Rafidhah al-Majusi telah mendirikan kuburan fiktif Abu Lu’luah al-Majusi.

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi


Kuburan / Makam Abu Lulu’ah al-Majusi di Kasyan Iran Syiah Rafidhah al-Majusi
[www.youtube.com/watch?v=Ip5dyPRtJC4]

Pemuliaan Iran terhadapnya :
Disebutkan bahwa Iran, mulai melakukan pekerjaan restorasi atas tempat ziarah yang mereka sebut dengan Marqad Baba Syuja’uddin (Tempat Peristirahatan Baba Syuja’uddin) pada tahun 2003 M, dan menganggap tempat ziarah tersebut adalah tempat ziarah bersejarah yang wajib dilestarikan. Dan menamakan jalan Marqad tersebut yang ada di sana dengan namanya; Jalan al-Fairuziy. Mereka membaca keutamaan-keutamaan orang zindiq tersebut. Mereka menyebutnya dengan Hadharat Baba Syuja’uddin. Mereka juga berkata kepada manusia, ‘Ziarahilah dia, dengan menziarahinya, seluruh dosa kalian akan diampuni.’

Di antara do’a-do’a mereka :

الَّلهُمَّ ارْضَ عَنْ أَبِيْ لُؤْلُؤَةَ وَاحْشُرْنِيْ مَعَهُ
“Ya Allah, ridhailah Abu Lu`lu`ah, dan kumpulkanlah aku bersamanya.”

[qiblati.com/kuburan-abu-luluah-al-majusi.html]

Tapi pada tahun 2007 Ayatullah (Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi) Muhammad Ali Taskhiri, Sekjen Majelis Dunia yang berbasis di Teheran untuk Pendekatan Pemikiran Ulama Islam, mengirim surat ke Persatuan Internasional Ulama Muslim dengan mengatakan bahwa otoritas Iran telah menutup makam.

Front Aksi Islam, kepanjang-tanganan Ikhwanul Muslimin di Yordania telah mengirim surat kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatullah (Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi) Khamenei untuk menghancurkan makam untuk meredakan hubungan Sunni-Syiah.

[www.al-ahwaz.com/english/2010/news/8-10-2010-1-world.html]

Jika dilihat dari tahun dimulainya pekerjaan restorasi atas tempat ziarah yang mereka sebut dengan Marqad Baba Syuja’uddin (Tempat Peristirahatan Baba Syuja’uddin) pada tahun 2003 M, dan menganggap tempat ziarah tersebut adalah tempat ziarah bersejarah yang wajib dilestarikan. Dan menamakan jalan Marqad tersebut yang ada di sana dengan namanya; Jalan al-Fairuziy. Hingga tahun 2007 otoritas Iran telah menutup makam tersebut, maka dapat diketahui bahwa pemerintah Iran Syiah Rafidhah al-Majusi tidak memiliki inisiatif sama sekali untuk menutup makam tersebut melainkan setelah banyak adanya desakan dari kaum Muslimin.

Hal ini dikarenakan, Syiah Rafidhah al-Majusi memiliki ikatan batin dengan agama Majusi / Zoroaster baik dalam hal Muamalah ataupun Aqidah.

Majusi / Zoroaster, eksistensinya telah diakui oleh negara Iran Syiah Rafidhah al-Majusi, bahkan Majusi / Zoroaster telah memiliki wakil dalam Parlemen Iran negeri Syiah Rafidhah al-Majusi.

Gubernur Teheran mengumumkan hasil akhir untuk perwakilan agama minoritas sedang berjalan untuk putaran ke-8 dalam pemilihan (anggota) parlemen di Iran.

Esfandiar Ekhtiari Kassnavieh dari minoritas Majusi telah memenangkan 3.607 suara untuk mendapatkan kursi di parlemen, diikuti oleh Rostam Khosroyani dan Aflatoun Ziafat yang memenangkan 1.951 dan 1.478 suara untuk menduduki (kursi parlemen) runner-up dan tempat ketiga.

Siamak Mare-Sedq telah memenangkan 2.374 suara untuk berdiri di papan teratas sebagai wakil Yahudi, yang diikuti oleh Masoud David yang memenangkan 374 suara untuk menduduki (kursi parlemen) sebagai runner-up.

[edition.presstv.ir/detail/47657.html]

Majusi / Zoroaster telah diberikan kebebasan dalam menjalankan ibadahnya di dalam Kuil Api Majusi, dan salah satu Kuil Api Majusi yang terkenal di Iran adalah Kuil Api Majusi yang berada di kota Yazd, Iran negeri Syiah Rafidhah al-Majusi.

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi


Menit 03:25 – 03:45
Pembawa Acara
Di kota Yazd, sama seperti banyak kota Iran (Syiah Rafidhah al-Majusi) lainnya, yaitu masyarakatnya berasal dari berbagai budaya dan agama. Aku akan mengunjungi sebuah bangunan yang termasuk dalam agama lainnya (non Syiah Rafidhah al-Majusi).

Sebelum Islam, masyarakat di wilayah ini telah mengamalkan salah satu agama tertua di dunia. Agama mereka adalah Majusi, agama (Majusi) didirikan pada abad ke-6 SM.

Menit 03:45 – 04:10
Pembawa Acara
Aku akan pergi masuk ke dalam (Kuil Api Majusi) [yang terdapat] salah satu tempat lubang Api Majusi, untuk melihat peran apa yang dimiliki oleh api tersebut di dalam agama mereka.

Di Iran (Syiah Rafidhah al-Majusi) masih terdapat 25.000 orang yang menganut agama (Majusi) ini dan juga memiliki perwakilan di Parlemen untuk mendukung hak-hak mereka.

Mereka mengatakan kepadaku bahwa mereka (Majusi) tidak menyembah api, namun mereka percaya unsur-unsur yang murni dapat memurnikan wilayah yang berada di sekitarnya.

Menit 04:10 – 04:20
Pembawa Acara
Kita harus memakai topi ini dikarenakan ada dua hal yang tidak diizinkan di dalam yaitu perhiasan orang yang telah mati atau tubuh orang yang telah mati. Karena rambutkulah (termasuk perhiasan manusia) yang menyebabkan aku memakai topi ini.

Menit 04:20 – 04:40
Pendeta Kuil Api Majusi
Tempat lubang api telah ada semenjak api ditemukan, tempat lubang api tidak ada hubungannya sama sekali dengan Majusi atau agama mereka. Karena meterial untuk menyalakan api belum ada (ketika agama Majusi didirikan), sedangkan tempat lubang api dibuat untuk melindungi dan menjaga agar api tetap menyala.

Menit 04:40 – 04:45
Pembawa Acara
Majusi di Iran (Syiah Rafidhah al-Majusi) terkenal dengan pakaian mereka yang penuh dengan warna, aku bertanya mengenai warna tersebut serta alasan di baliknya.

Menit 04:45 05:00
Penganut Agama Majusi
(Alasan pakaian yang pernuh warna), karena orang-orang lebih menghormati alam dan warna alam, serta keindahan yang diletakkan di dalam bunga-bunga dan rerumputan.

Menit 05:00 - 05:05
Pembawa Acara
Umur Kuil Api ini adalah sekitar 100 tahun, namun apinya tetap menyala selama tahun tersebut. Pada saat perang, api ini disembunyikan di sebuah goa.

Menit 05:05 – 05:35
Pendeta Kuil Api Majusi
Kami telah merawat dan menjaga api ini, kami telah melindungi api ini sejak tahun 1539. Tapi jika berdasarkan hal tersebut (merawat dan menjaga api) dianggap sebagai menyembah api, maka sama sekali tidak. Doa dan penyembahan hanya ditujukan kepada Tuhan satu-satunya.

[https://www.youtube.com/watch?v=fqLE1oJ2C2Q]

Sehingga dengan kebebasan yang didapati oleh Majusi / Zoroaster dalam menjalankan keyakinannya, maka terjadilah pemurtadan orang-orang yang beragama Syiah Rafidhah al-Majusi murtad menjadi beragama Majusi / Zoroaster.


Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi

Misi kita tahun ini adalah bukan untuk mengubah (memurtadkan) Sunni menjadi Syiah (Rafidhah al-Majusi) lagi, jangan biarkan mereka (Sunni) berubah (murtad) menjadi Syiah (Rafidhah al-Majusi). Biarkan mereka tetap menjadi Sunni sebagaimana mereka sekarang, setidaknya hanya hal tersebut yang dapat mereka lakukan.

Tahun ini, kita tidak menginginkan orang-orang Kristen berubah (murtad) menjadi Syiah (Rafidhah al-Majusi) juga.

Kita tidak peduli dengan pengrekrutan (pemurtadan) orang-orang Kristen, Sunni, ataupun Majusi.

Namun setidaknya aku mengetahui, semenjak aku pergi berkeliling ke seluruh penjuru negeri Iran (Syiah al-Majusi). Ancaman terbesar dari ini semua adalah ketika pemuda Syiah (Rafidhah al-Majusi) kita berubah (murtad) menjadi Majusi.

Jangan biarkan pemuda Syiah (Rafidhah al-Majusi) kita meninggalkan (murtad) keyakinan kita (Syiah Rafidhah al-Majusi).

[https://www.youtube.com/watch?v=zCRl_fbbgwY]

Sehingga, melonjaklah jumlah penganut agama Majusi / Zoroaster di Iran negeri Syiah Rafidhah al-Majusi yang sebelumnya di tahun 2006 berjumlah 19.823 orang, meningkat menjadi 25.271 orang di tahun 2011. Dan jumlah ini merupakan jumlah yang telah teridentifikasi agamanya, sedangkan jumlah yang tidak dinyatakan agamanya pada tahun 2011 sebanyak 265.995 orang.

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi

Table 3 – Population by Religion : 2006 and 2011
Deskripsi
2006
2011
Jumlah
Jumlah
Total
70.495.782
75.149.669
Islam (+- 90% Syiah Rafidhah al-Majusi)
70.097.741
74.682.842
Kristen
109.415
117.704
Yahudi
9.252
8.756
Majusi / Zoroaster
19.823
25.271
Lainnya
54.234
49.101
Tidak dinyatakan agamanya
205.317
265.995
[http://iran.unfpa.org/Documents/Census2011/2011%20Census%20Selected%20Results%20-%20Eng.pdf]

Hal ini (murtadnya Syiah Rafidhah al-Majusi menjadi Majusi / Zoroaster) bukanlah termasuk fenomena yang aneh, dikarenakan keyakinan agama Majusi / Zoroaster telah diadopsi juga oleh Syiah Rafidhah al-Majusi untuk dijadikan Aqidahnya, sehingga Majusi / Zoroaster tidak perlu bersusah payah untuk memurtadkan para penganut agama Syiah Rafidhah al-Majusi untuk menjadi penganut agama Majusi / Zoroaster.

Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi yaitu Kamal al-Haydari bahwa Syiah Rafidhah al-Majusi telah disusupi oleh Majusi.


Pendeta Syiah Kamal al-Haydari
Menit 07:40

Diasumsikan bahwa ada seseorang yang bukan berasal dari madrasah Ahlul Bait yang memiliki pertanyaan-pertanyaan ini untuk Kalian.

Wahai ulama-ulama Syiah, wahai khatib-khatib Syiah, wahai pemilik mimbar-mimbar Syiah, wahai maraji' dari Najaf, orang ini memiliki pertanyaan-pertanyaan berikut untuk Kalian.

Kalian menyebut diri Kalian sebagai Maraji' agama! Yaitu antara diri Kalian dan Allah. Aku memiliki pertanyaan untuk Kalian, sehingga Kalian dapat menjawab pertanyaanku.

Jika Kalian tidak dapat keluar dan berbicara karena dengan beberapa alasan, kemudian mengirimkan murid-murid yang Kalian mengajarinya selama 70-40-90 tahun di Hawzah ilmu. Padahal saluran-saluran satelit Syiah tersedia bagi mereka untuk berbicara.

Dan hal ini memungkinkan bagi Kalian untuk menjawab pertanyaanku.

Aku menyatakan bahwa banyak riwayat-riwayat Syiah yang telah disusupi dan dinukil dari Ka'ab al-Ahbaar dari Yahudi, Nashrani dan Majusi. Bahkan tafsir al-Qummi! (tersusupi juga).

Kalian mungkin bertanya-tanya, "Wahai sayyid Kami! Bahkan tafsir al-Qummi yang dianggap kitab tafsir yang paling shahih sekalipun (tersusupi juga)?.

Aku akan buktikan bahwa ada sejumlah riwayat yang telah dinukil dari jalan (agama) lain dengan judul bahwa itu adalah dari tafsirnya Syiah.

Tentu saja Kalian telah terdoktrin bahwasanya tafsir al-Qummi adalah satu-satunya kitab yang seluruh riwayatnya telah dishahihkan oleh sayyid dan guru kita yaitu al-Khui.

Dengan berpendapat seperti ini (yaitu pentashihan oleh al-Khui), yaitu kitab ini (tafsir al-Qummi) berisi penyusupan, kepalsuan, berlebih-lebihan, kedustaan dan pembohongan, Masya Allah.

Jika Kalian berkata, "Sayyid-ku bukankah dia (al-Khui) memperhatikan hal ini?" Aku akan mengatakan, “Hal ini adalah penelitian berbasiskan ilmu”.

[http://www.youtube.com/watch?v=Fh2MMEdlQMM]

Sehingga terdapatlah keyakinan-keyakinan agama Majusi / Zoroaster yang telah diadopsi oleh Syiah Rafidhah al-Majusi, di antaranya adalah sebagai berikut :

[1] Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme dengan Ahura Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui.

Begitupula dengan agama Syiah Rafidhah al-Majusi, meskipun mengajarkan monoteisme dengan Allah sebagai satu-satunya Rabb yang harus disembah namun keberadaan Rabb-Rabb lainnya pun tetap diakui untuk mengatur urusan makhluk di dunia.

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi

Khomeini Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi,

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu.” [QS. Ar-Ra’d : 2]

Yakni Rabbmu [رَبِّكُمْ] adalah Imam.

Sehingga para Imam Syiah Rafidhah al-Majusi yang sebagai Rabb yang memiliki sifat Rububiyyah, yaitu dapat mengatur urusan makhluk di dunia, yaitu seperti al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi yang sedang dalam masa Ghaibah al-Kubra.


Ahmadi Nejad al-Yahudi Presiden Iran Syiah Rafidhah al-Majusi
Menit 00:10 – 00:35

Beberapa orang percaya bahwa sang Imam Ghaib (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) sedang hidup di suatu tempat, tanpa memperhatikan sama sekali terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia. Jika ini terjadi, maka tidak akan ada keberadaan (Imam Ghaib) sama sekali. Semuanya akan berada dalam kekacauan. Sang Imam Ghaib mengatur semua urusan dunia.

[https://www.youtube.com/watch?v=fPaJZxALUvA]

[2] Majusi mempercayai akan datangnya Saoshayant yaitu seorang penyelamat dan memerintah serta memelihara bumi, yang akan memimpin manusia melawan Ahriman yang menciptakan Kejahatan beserta pengikutnya. Dan dia (Saoshayant) akan membangkitkan orang yang telah mati di bumi.

Begitupula dengan agama Syiah Rafidhah al-Majusi, mempercayai akan datangnya sang Imam Ghaib (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) yaitu seorang penyelamat dan memerintah serta memelihara bumi, Dan dia (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) akan membangkitkan orang yang telah mati di bumi.

Imam Ghaib (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) akan memerintahkan bumi untuk mengeluarkan minuman air dan susu serta makanan dan tanaman sehingga menjadi menggununglah makanan tersebut.

Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika Imam Mahdi af. muncul di Mekah dan hendak berangkat menuju Kufah, ia memerintahkan pasukannya untuk tidak membawa bekal makanan dan minuman. Ketika itu, Imam Mahdi af. membawa sebuah batu yang pernah digunakan oleh Nabi Musa as. untuk mengeluarkan dua belas mata air dari tanah. Setiap kali berhenti berjalan untuk istirahat, ia menggunakan batu itu untuk mengeluarkan mata air dari tanah. Setiap orang yang lapar akan menjadi kenyang dengan meminum air itu, dan setiap orang yang haus dapat melepas rasa haus dengan meminumnya.
Seperti ini makanan dan minuman selalu tersedia bagi pasukannya sampai ia sampai ke kota Najaf. Di sana ia meletakkan batu itu di atas tanah lalu dari tanah keluar air dan susu yang dapat mengenyangkan setiap orang yang lapar.”
[Bashairud Darajat, hal. 188; Kafi, jil. 1, hal. 231; Nu’mani, Ghaibah, hal. 238; Kharaij, jil. 2, hal. 690; Nurut Tsaqalain, jil. 1, hal. 84; Bihar al-Anwar, jil. 13, hal. 185, dan jil. 52, hal. 324 -Kitab Syiah Rafidhah-]

Imam Baqir as. bersabda, “Ketika al-Qaim (af.) muncul, ia membawa bendera Rasulullah Saw., cincin Nabi Sulaiman as., batu, dan tongkat Nabi Musa as. Kemudian, ia memerintahkan pasukannya untuk tidak membawa bekal makanan dan minuman untuk diri mereka dan hewan kendaraannya. Sebagian orang, ada yang ragu dan berkata, ‘Ia ingin membuat kita celaka dan membunuh hewan kendaraan kita dengan membiarkannya kelaparan!’ Akhirnya mereka pun berangkat memulai perjalanan. Setibanya di suatu tempat, Imam Mahdi af melemparkan batu yang dibawanya, lalu muncul makananminuman, dan rumput-rumputan dari tanah tersebut. Kemudian pasukannya memanfaatkan makanan dan minuman itu sampai mereka tiba di kota Najaf.”
[Kamaluddin, hal. 670; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 351; Wafi, jil. 2, hal. 112 -Kitab Syiah Rafidhah-]

Serta Imam Ghaib (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) akan membangkitkan orang yang telah mati yang dikenal dengan nama Raj’ah.

Imam Ali as. bersabda, “… Al-Mahdi (af.) akan mengibarkan benderanya dan menampakkan berbagai mukjizatnya. Dengan izin Allah, ia akan melakukan sesuatu dari yang tidak terjadi sebelumnya. Ia akan menyembuhkan orang-orang yang terkena penyakit Lepra dan menghidupkan orang-orang yang mati, juga mematikan orang-orang yang hidup.”
[As Syi’ah wa Ar Raj’ah, jil. 1, hal. 169 -Kitab Syiah Rafidhah-]

Imam Shadiq as. bersabda, “Najm bin A’yan adalah salah satu orang yang akan mengalami Raj’ah (dibangkitkan dari kematian) dan hidup untuk kedua kalinya untuk berjihad.”
[Al-Iyqadz minal Haj’ah, hal. 269 -Kitab Syiah Rafidhah-]

Imam Shadiq as. kembali bersabda, “Ruh orang-orang yang beriman akan melihat keluarga Muhammad Saw. di gunung Radhwa (salah satu gunung Madinah). Mereka memakan makanannya dan meminum minumannya. Mereka berkumpul dan berbincang-bincang dengannya sampai Imam Mahdi af. muncul. Ketika Allah membangkitkan mereka, secara berkelompok mereka menyambut ajakan Imam Mahdi af. dan menyertai beliau. Di jaman itu, orang-orang yang memiliki akidah yang batil akan mengalami keraguan. Kelompok-kelompok dan partai-partai akan berpecah belah, dan hanya orang-orang yang mendekatkan dirinya kepada Allah yang akan selamat.”
[Kafi, jil. 3, hal. 131; Al-Iyqadz, hal. 290; Bihar al-Anwar, jil. 27, hal. 308 -Kitab Syiah Rafidhah-]

[3] Majusi merayakan hari raya Gahambars. Perayaan Tahun Baru (Naw Ruz atau Noruz), Festival Seribu Hari (Sada), Ulang Tahun Zoroaster.

Begitupula dengan agama Syiah Rafidhah al-Majusi, merayakan Perayaan Tahun Baru (Naw Ruz atau Noruz).


Menit 00:05 - 03:05
Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi

Nowruz / Nairuz (hari raya Majusi) adalah hari raya Islam (Syiah Rafidhah al-Majusi). Tidak ada keraguan mengenai hal tersebut, beberapa naskah di dalam agama (Syiah Rafidhah al-Majusi) telah diriwayatkan mengenai hal tersebut. Memang benar bahwa orang Persia, sebelum Islam, di masa Majusi (Zoroastrianisme), biasa menggunakan hari Nowruz / Nairuz sebagai hari ‘Ied (hari raya).

Hal tersebut bukanlah masalah, bahwasanya tidak semuanya yang berasal dari kafir yang telah diambil [sebagai 'Ied (hari raya)] dianggap bukan bagian dari Illahi. Hal tersebut disebabkan ada beberapa hal yang berasal dari kafir adalah berasal dari Illahi dan ada juga yang tidak yang berasal dari Illahi.

Lagipula, Nowruz / Nairuz adalah hari raya Islam (Syiah Rafidhah al-Majusi).

Menit 1:35 - 02:00
Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi

Sebenarnya, Nowruz / Nairuz merupakan sesuatu yang penting dalam riwayat kami (Syiah Rafidhah al-Majusi). Kami memiliki sejumlah riwayat mengenai hari pertama musim semi yang merupakan hari Nowruz / Nairuz. Ada satu riwayat yang berasal dari Imam Ja’far ash-Shaddiq, yang juga telah diriwayatkan oleh Amirul Mukminin [Ali], biarkan aku membacakannya untuk anda.

Tidak ada hari selain hari Nowruz/Nairuz kecuali kami akan menunggu munculnya kembali [al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi]

Menit 02:10 - 02:35
Sejarawan Iran Syiah Rafidhah al-Majusi
Kita mengetahui dengan sangat –seperti yang engkau tampilkan sebelumnya- bahwa Nowruz / Nairuz telah “dimurnikan” dan bahkan dianggap berasal dari Ali bin Abi Thalib. Terutama pada masa pemerintahan Dinasti Safawi yang telah menempatkan banyak upaya ke dalam rekonsiliasi dan perdamaian antara Persia dan Islam (Syiah Rafidhah al-Majusi). Sehingga mereka [Persia dan Islam (Syiah Rafidhah al-Majusi)] menjadi satu kesatuan dalam dua budaya besar.

[https://www.youtube.com/watch?v=6kffX6NoKnc]

Sehingga para Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi akan mengucapkan selamat dan keberkahan atas Perayaan Tahun Baru (Naw Ruz atau Noruz) serta beribadah pada hari raya tersebut.




Menit 01:45 – 02:20
Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi Pimpinan Tertinggi Rahbar Iran (Syiah Rafidhah al-Majusi) Khamenei

Hari ini, hari Nowruz adalah hari ‘ied (perayaan) nasional Iran (Syiah Rafidhah al-Majusi), aku hendak mengirimkan salamku kepada Baqiatullah (al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi) dan selamat atasnya akan keberkahan hari Nowruz ini.

Aku juga ingin mengucapkan selamat kepada negara Iran secara umum dan kepada Syiah (Rafidhah al-Majusi) seluruhnya serta kepada seluruh pecinta Ahlul Bait (Ahlul Bait berlepas diri dari Syiah Rafidhah al-Majusi).

Menit 02:20 – 02:45
Presiden Iran (Syiah Rafidhah al-Majusi) Ahmadi Nejad al-Yahudi

Aku ingin mengucapkan selamat kepada seluruh rakyat Iran (Syiah Rafidhah al-Majusi) pada kesempatan ini yaitu hari raya Nowruz tercinta dan kepada seluruh rakyat yang menghargai dan yang merayakan hari Nowruz ini.

Aku ingin mengucapkan kepada seluruh manusia pada kesempatan ini yaitu Nowruz adalah peristiwa khusus yang berhubungan dengan agama (Syiah al-Majusi).

Menit 04:15 – 07:05
Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi Musthafa Fasihi
Diskusi ini akan membahas mengenai hari raya Nowruz, hari raya ini biasanya dihubungkan dengan rakyat Iran, yaitu pada hari pertama setiap tahunnya yang berdasarkan penanggalan kalender Matahari yang dirayakan sebagai hari raya oleh rakyat Iran.

Banyak teman-teman yang bertanya kepadaku, apakah hari ini adalah hari raya Nowruz yang memiliki alasan sejarah atau tidak, sehingga dijadikan hari raya?

Mu’alla bin Khunayth mendatangi Imam ash-Shadiq ‘alaihi Sallam dan Imam ash-Shadiq ‘alaihi Sallam berkata, “Wahai Mu’alla, apakah engkau mengetahui hari apakah ini?” Mu’alla menjawab, “Tidak, wahai cucu Nabi yang mulia, aku tidak mengetahuinya”. Imam ash-Shadiq ‘alaihi Sallam berkata, “Hari ini adalah hari di mana yang disamakan (kedudukannya) dengan hari ketika Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa Sallam dipilih sebagai Nabi.”

Yakni, Hari ini adalah hari raya Nowruz dan Nowruz disamakan (kedudukannya) dengan hari ketika Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa Sallam dipilih sebagai Nabi.

Dan juga hari Nowruz merupakan hari dimana ayat [الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ] “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu,” telah diturunkan.

Serta juga hari Nowruz merupakan hari di mana kepemimpinan Ali ‘alaihi Sallam diumumkan pada hari Ghadir (Khum).

Mu’alla bertanya, “Wahai cucu Nabi yang mulia, apakah di hari tersebut terjadi banyak hal?” Imam ash-Shadiq ‘alaihi Sallam menjawab, “Benar, wahai Mu’alla. Hari ini adalah hari di mana Tuhan menerima kalimat “Iya” dari orang-orang di Alam-e-Zarr. Tuhan bertanya, “Apakah Aku adalah Tuhan-mu?” Mereka menjawab, “Iya”, sehingga hari tersebut menjadi Yaume-Alast.

Pada hari ini, terdapat amalan yang ditulis dalam “Mafaatii al-Jinan” karya Pendeta Syiah (Rafidhah al-Majusi) Abbas al-Qummi, yang menyarankan kita aagar mengamalkannya pada saat hari Nowruz. Salah satu amalan tersebut adalah sunnahnya mandi di hari raya Nowruz, dan juga berdoa pada hari raya Nowruz, serta juga menziarahi makam yang suci yaitu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib di kota suci Najaf, dan begitu juga shalat di hari raya Nowruz.

[https://www.youtube.com/watch?v=fRQNzawVcTA]

 والخميني يحتفي بعيد النيروز فيجعل الغسل فيه مستحب والصوم فيه مشروع " ومنها – أي الاغسال المندوبة – غسل يومي العيدين، ومنها يوم النيروز
Khomeini (Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi) Merayakan hari raya Nairuz dengan menjadikannya mandi di dalamnya termasuk yang disunnahkan, dan puasa di hari raya Nairuz adalah disyari’atkan, –dan di antara mandi-mandi yang disunnahkan- adalah mandi (Sunnah) pada dua hari raya (Idul Fitri & Idul Adha) serta mandi (Sunnah) pada hari raya Nairuz.
[المصدر السابق 1/ 98-99]

فيجعل النيروز في مصاف عيدي المسلمين، وكذلك يجعله مثيل يوم الغدير الذي قالوا عنه أنه جزء من الإسلام " ومنها يوم الغدير وهو الثامن عشر من ذي الحجة – يعني مندوبات الصوم – ومنها يوم النيروز
(Khomeini Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi berkata), “Dan menjadikan Nairuz sebagai bagian dari hari raya kaum Muslimin (Syiah Rafidhah al-Majusi), yaitu menjadikannya (Nairuz) seperti hari Ghadir (Khum) yang dikatakan mengenainya bahwa ia (Ghadir Khum) adalah bagian dari Islam (Syiah Rafidhah al-Majusi). Dan menjadikannya (Nairuz) seperti hari Ghadir (Khum) yaitu pada tanggal 18 Dzulhijah –yakni disunnahkan berpuasa- dan begitupula dengan hari Nairuz (disunnahkan berpuasa).”
[تحرير الوسيلة 1/203-303]

[4] Majusi meyakini bahwa tidak ada yang ditakdirkan atau dikodratkan sebelumnya. Dan Majusi mempercayai terdapat kedua kekuatan yaitu Kebaikan dan Kejahatan, di mana Spenta Mainyu hanyalah menciptakan Kebaikan, sedangkan Kejahatan diciptakan oleh musuhnya yaitu Ahriman.

Begitupula dengan agama Syiah Rafidhah al-Majusi, meyakini bahwa Allah memiliki sifat al-Badaa’, yaitu memiliki pendapat baru dalam takdir-Nya. Sehingga menafikan Ilmu Allah yang Maha Luas, dan mencakup segala sesuatu.

واتفقت الإمامية على وجوب رجعة كثير من الأموات إلى الدنيا قبل يوم القيمة وإن كان بينهم في معنى الرجعة اختلاف.
واتفقوا على إطلاق لفظ (البداء) في وصف الله تعالى وأن ذلك من جهة السمع دون القياس.
- أوائل المقالات - الشيخ المفيد ص 46:
Syiah Imamiyyah telah sepakat bahwa banyak dari orang-orang yang telah mati akan dihidupkannya kembali [رجعة] ke dunia sebelum datangnya hari Kiamat, walaupun terjadi perbedaan pendapat antara mereka tentang makna dari dihidupkannya kembali [رجعة]. Sebagaimana mereka juga telah bersepakat untuk menggunakan kata al-Badaa’ dalam mensifati Allah Ta’ala, dan sesungguhnya penggunaan ini berdasarkan kepada dalil-dalil sam’i (riwayat) dan bukan dengan qiyas.”
[Awa’ilul Maqalat 46, al-Mufid Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi]
[www.aqaedalshia.com/mofid/02%20adyan/13/index.htm]

عن أبي هاشم الجعفري قال: كنت عند أبي الحسن عليه السلام بعد ما مضى ابنه أبو جعفر وإني لافكر في نفسي أريد أن أقول: كأنهما أعني أبا جعفر وأبا محمد في هذا الوقت كأبي الحسن موسى وإسماعيل ابني جعفر ابن محمد عليهم السلام وإن قصتهما كقصتهما، إذ كان أبو محمد المرجى بعد أبي جعفر عليه السلام فأقبل علي أبو الحسن قبل أن أنطق فقال: نعم يا أبا هاشم بدا لله في أبي محمد بعد أبي جعفر ما لم يكن يعرف له، كما بدا له في موسى بعد مضي إسماعيل ما كشف به عن حاله وهو كما حدثتك نفسك وإن كره المبطلون،
الكافي - الشيخ الكليني - ج ١ - الصفحة ٣٢٧
Dari Abu Hasyim al-Ja’fary menuturkan : “Pada suatu hari aku berkunjung ke rumah Abu al-Hasan ‘alaihi Salam sepeninggal putranya Abu Ja’far, dikala itu aku hendak mengatakan :
Sepertinya kejadian yang menimpa Abu Ja’far dan Abu Muhammad pada saat ini serupa dengan yang dialami oleh al-Hasan Musa dan Ismail bin Ja’far bin Muhammad ‘alaihi Salam. Kisah keduanya (Abu Ja’far dan Abu Muhammad) serupa dengan kisah keduanya (al-Hasan Musa dan Ismail bin Ja’far), dikarenakan Abu Muhammad al-Murji menjadi imam sepeninggal Abu Ja’far ‘alaihi Salam. Tiba-tiba Abu al-Hasan menatapku sebelum aku sempat mengucapkan sepatah katapun, lalu ia berkata :
‘Benar, wahai Abu Hasyim, Allah memiliki pendapat baru [بدا] tentang Abu Muhammad sepeninggal Abu Ja’far yang sebelumnya tidak Dia ketahui [ما لم يكن يعرف له], Sebagaimana sebelumnya muncul pendapat baru [بدا] tentang Musa sepeninggal Ismail yang sama dengan keadaannya. Kejadian ini sebagaimana yang terbetik dalam jiwamu, walaupun orang-orang yang sesat tidak menyukainya.’”
[al-Kaafi 1/327, al-Kulainy Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1122_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-١/الصفحة_375]

عن مالك الجهني، قال: سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقول: لو علم الناس ما في القول بالبداء من الأجر ما فتروا عن الكلام فيه.
شرح أصول الكافي - مولي محمد صالح المازندراني - ج ٤ - الصفحة ٢٥٢
Dari Malik al-Juhani, ia menuturkan : “Aku pernah mendengar Abu Abdullah ‘alaihi Salam berkata : ‘Andai manusia mengetahui pahala yang didapat dengan membahas permasalahan al-Badaa’, niscaya mereka tidak akan pernah lelah untuk membicarakannya.
[Syarah Ushul al-Kaafi al-Kulainy 4/252, Maula Muhammad Shalih Mazandarani Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1177_شرح-أصول-الكافي-مولي-محمد-صالح-المازندراني-ج-٤/الصفحة_252]

ما عبد الله بشيء مثل البداء
وفي رواية
ما عظم الله بمثل البداء.
شرح أصول الكافي - مولي محمد صالح المازندراني - ج ٤ - الصفحة ٢٤٠
Tidaklah Allah pernah diibadahi dengan suatu amalan (yang lebih besar) dibanding meyakini al-Badaa’.”
Pada riwayat lain :
Tidaklah Allah pernah diagungkan dengan suatu hal (yang lebih besar) dibandingkan meyakini al-Badaa’.”
[Syarah Ushul al-Kaafi al-Kulainy 4/240, Maula Muhammad Shalih Mazandarani Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1177_شرح-أصول-الكافي-مولي-محمد-صالح-المازندراني-ج-٤/الصفحة_240]

Sehingga Syiah Rafidhah al-Majusi termasuk pengikut kaum al-Qadariyyah Majusi-nya umat ini yang meniadakan takdir yang pada periode belakangan kaum al-Qadariyyah telah berubah, yakni meyakini takdir dengan catatan bahwa Allah tidak menciptakan keburukan.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada seorang anak pun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Namun kedua orang tua-nya yang akan menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.” [Bukhari no.1270]

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تَشْهَدُوهُمْ
Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Kaum al-Qadariyyah adalah Majusi umat ini, jika mereka sakit maka janganlah kalian jenguk, dan jika mereka mati maka janganlah kalian menghadirinya [تَشْهَدُوهُمْ].”
[Abu Daud no.4071, Hasan : Shahih Abu Dawud no.4691, Syaikh al-Albani]

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ قَالَ كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَاجَّيْنِ أَوْ مُعْتَمِرَيْنِ فَقُلْنَا لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلَاءِ فِي الْقَدَرِ فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ دَاخِلًا الْمَسْجِدَ فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِي أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ وَالْآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِي سَيَكِلُ الْكَلَامَ إِلَيَّ فَقُلْتُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ قَالَ فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
ثُمَّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ
Dari Yahya bin Ya’mar, dia berkata, “Orang yang paling pertama berbicara tentang takdir di kota Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani.” Aku (Yahya) dan Humaid bin Abdurrahman al-Himyari pergi berhaji atau umrah. Kami berkata, “Apabila kita berjumpa dengan salah seorang Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka kita harus bertanya kepadanya tentang apa yang mereka katakan pada masalah takdir.” Kebetulan kami bertemu dengan Abdullah bin Umar bin al-Khaththab sedang masuk masjid. Lalu aku dan temanku mengapitnya; seorang dari kami di sebelah kanannya, sedang yang lain di sebelah kirinya, Aku merasa bahwa temanku akan menyerahkan pembicaraan padaku. Lalu aku pun berkata, “Wahai Abu Abdurrahman, sesungguhnya kami telah melihat dari kalangan kami sekelompok manusia yang selalu membaca al-Qur’an dan membicarakan ilmu” –lalu dia menjelaskan tentang kondisi mereka-. “Mereka beranggapan bahwa takdir tidak ada dan bahwa segala sesuatu yang terjadi bukanlah berdasarkan ketentuan Allah.” Maka dia (Abdullah bin Umar) berkata, “Apabila kamu berjumpa dengan mereka, maka kabarkan kepada mereka bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari mereka, dan sesungguhnya mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, jika sekiranya salah seorang mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu menginfakkannya, niscaya Allah tidak akan menerima sampai dia beriman kepada takdir.” Selanjutnya dia berkata, “Ayahku, Umar bin al-Khaththab, telah memberitahukan kepadaku, dia berkata, “Pada suatu hari, ketika kami sedang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tiba-tiba datang kepada kami seorang lelaki; pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya bekas perjalanan jauh, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Kemudian dia pun duduk di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dia sandarkan kedua lututnya kepada kedua lutut beliau; dan dia meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, seraya berkata, “Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Illah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji jika mampu melaksanakannya.” Dia (lelaki itu) berkata, “Engkau benar.” Dia (Umar bin al-Khaththab) berkata, “Kami pun heran terhadapnya, dia bertanya kepada beliau, namun dia pun membenarkannya.” Dia (lelaki itu) berkata, “Kabarkanlah kepadaku tentang Iman.” Beliau bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman kepada Takdir yang Baik dan yang Buruk.” Dia (lelaki itu) berkata, “Engkau benar.” [Muslim no.9]

كَانَ يُجَالِسُ الْحَسَنَ الْبَصْرِيَّ وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ تَكَلَّمَ فِي الْبَصْرَةِ بِالْقَدَرِ فَسَلَكَ أَهْلُ الْبَصْرَةِ بَعْدَهُ مَسْلَكَهُ لَمَّا رَأَوْا عَمْرَو بْنَ عُبَيْدٍ يَنْتَحِلُهُ
Dahulu dia (Ma’bad al-Juhani) sering bermajelis dengan al-Hasan al-Bashri, dan dialah orang yang pertama berbicara tentang takdir di negeri Bashrah. Setelah sepeninggalannya, penduduk Bashrah mengikuti jejaknya ketika mereka melihat Amr bin Ubaid menganutnya.

وَأَمَّا الْبَصْرَةُ فَبِفَتْحِ الْبَاءِ وَضَمِّهَا وَكَسْرِهَا ثَلَاثُ لُغَاتٍ حَكَاهَا الْأَزْهَرِيُّ وَالْمَشْهُورُ الْفَتْحُ وَيُقَالُ لَهَا الْبُصَيْرَةُ
Adapun (cara membaca) [بصرة] ada tiga riwayat, yaitu dengan memfathahkan “ba” [بَصرة] “Bashrah” dan mendhammahkannya [بُصرة] “Bushrah” serta mengkasrahkannya [بِصرة] “Bishrah”. Al-Azhari meriwayatkan, yang masyhur adalah dengan memfathahkannya [بَصرة] “Bashrah”, ada juga yang menyebutnya [الْبُصَيْرَةُ] “Bushairah”.

وَاعْلَمْ أَنَّ مَذْهَبَ أَهْلِ الْحَقِّ إِثْبَاتُ الْقَدَرِ وَمَعْنَاهُ أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدَّرَ الْأَشْيَاءَ فِي الْقِدَمِ وَعَلِمَ سُبْحَانَهُ أَنَّهَا سَتَقَعُ فِي أَوْقَاتٍ مَعْلُومَةٍ عِنْدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَعَلَى صِفَاتٍ مَخْصُوصَةٍ فَهِيَ تَقَعُ عَلَى حَسَبِ مَا قَدَّرَهَا سُبْحَانُهُ وَتَعَالَى
Ketahuilah, bahwa Madzhab Ahlul Haq adalah menetapkan adanya takdir. Maknanya adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala menakdirkan segala sesuatu sejak dahulu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah mengetahui bahwa segala sesuatu akan terjadi pada waktu-waktu yang telah ditentukan-Nya di sisi-Nya Subhanahu wa Ta’ala, dan dengan sifat-sifat yang telah ditentukan. Segala sesuatu itu akan terjadi sesuai dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan.

وَأَنْكَرَتِ الْقَدَرِيَّةُ هَذَا وَزَعَمَتْ أَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَمْ يُقَدِّرْهَا وَلَمْ يَتَقَدَّمْ عِلْمُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهَا وَأَنَّهَا مُسْتَأْنَفَةُ الْعِلْمِ أَيْ إِنَّمَا يَعْلَمُهَا سُبْحَانَهُ بَعْدَ وُقُوعِهَا وَكَذَبُوا عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَلَّ عَنْ أَقْوَالِهِمُ الْبَاطِلَةَ عُلُوًّا كَبِيرًا وَسُمِّيَتْ هَذِهِ الْفِرْقَةُ قَدَرِيَّةً لِإِنْكَارِهِمُ الْقَدَرَ
Namun, kaum al-Qadariyyah mengingkari hal tersebut, mereka beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menakdirkannya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah mengetahuinya sejak awal, dan sesungguhnya segala sesuatu adalah [مُسْتَأْنَفَةُ الْعِلْمِ], yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat mengetahuinya hanya setelah sesuatu itu terjadi. Sungguh mereka telah berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala wa Jalla, atas perkataan-perkataan mereka yang sangat bathil. Firqah tersebut dinamakan al-Qadariyyah dikarenakan mereka mengingkari takdir.

قَالَ أَصْحَابُ الْمَقَالَاتِ مِنَ الْمُتَكَلِّمِينَ وَقَدِ انْقَرَضَتِ الْقَدَرِيَّةُ الْقَائِلُونَ بِهَذَا الْقَوْلِ الشَّنِيعِ الْبَاطِلِ وَلَمْ يَبْقَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ عَلَيْهِ وَصَارَتِ الْقَدَرِيَّةُ فِي الْأَزْمَانِ الْمُتَأَخِّرَةِ تَعْتَقِدُ إِثْبَاتَ الْقَدَرِ وَلَكِنْ يَقُولُونَ الْخَيْرُ مِنَ اللَّهِ وَالشَّرُّ مِنْ غَيْرِهِ تَعَالَى اللَّهُ
Berkata penulis kitab al-Maqaalat dari Ahlul Kalam, “Masa kaum al-Qadariyyah yang mengatakan pendapat yang buruk dan bathil itu telah usai dan tidak tersisa satu pun dari Ahlul Kiblat yang mengikutinya. Namun, kaum al-Qadariyyah pada zaman-zaman belakangan ini berubah, mereka mulai menetapkan adanya takdir. Akan tetapi, mereka mengatakan, “Takdir yang baik dari Allah, sedangkan takdir yang buruk bukan dari-Nya Ta’ala.”

قَالَ الْإِمَامُ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ شَبَّهَهُمْ بِهِمْ لِتَقْسِيمِهِمُ الْخَيْرَ وَالشَّرَّ فِي حُكْمِ الْإِرَادَةِ كَمَا قَسَّمَتِ الْمَجُوسُ فَصَرَفَتِ الْخَيْرَ إِلَى يَزْدَانَ وَالشَّرَّ إِلَى أَهْرَمْنَ وَلَا خَفَاءَ بِاخْتِصَاصِ هَذَا الْحَدِيثِ بِالْقَدَرِيَّةِ
Imam (al-Haramain) berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kaum al-Qadariyyah adalah Majusi umat ini.” Sebab beliau menyerupakan mereka dengan kaum Majusi adalah karena mereka memilah perkara yang baik dan perkara yang buruk mengenai hukum kehendak (Allah), sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Majusi, mereka memalingkan kebaikan kepada Yazdan dan keburukan kepada Ahraman. Telah nyata terang benderang bahwa hadits tersebut memang dikhususkan untuk kaum al-Qadariyyah.

قَالَ الْخَطَّابِيُّ إِنَّمَا جَعَلَهُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجُوسًا لِمُضَاهَاةِ مَذْهَبِهِمْ مَذْهَبَ الْمَجُوسَ فِي قَوْلِهِمْ بِالْأَصْلَيْنِ النُّورِ وَالظُّلْمَةِ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخَيْرَ مِنْ فِعْلِ النُّورِ وَالشَّرَّ مِنْ فِعْلِ الظُّلْمَةِ فَصَارُوا ثَنَوِيَّةً وَكَذَلِكَ الْقَدَرِيَّةُ يُضِيفُونَ الْخَيْرَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالشَّرَّ إِلَى غَيْرِهِ وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى خَالِقُ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ جَمِيعًا لَا يَكُونُ شَيْءٌ مِنْهُمَا إِلَّا بِمَشِيئَتِهِ فَهُمَا مُضَافَانِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى خَلْقًا وَإِيجَادًا وَإِلَى الْفَاعِلَيْنِ لَهُمَا مِنْ عِبَادِهِ فِعْلًا وَاكْتِسَابًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Al-Khaththabi berkata, “Sesungguhnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjadikan mereka seperti kaum Majusi, dikarenakan madzhab mereka serupa dengan madzhabnya kaum Majusi mengenai dua sumber, yaitu cahaya dan kegelapan. Mereka berkeyakinan bahwa kebaikan adalah ciptaan cahaya, sedangkan keburukan adalah dari ciptaan kegelapan. Sehingga mereka menjadi orang-orang [ثَنَوِيَّةً]. Sama halnya dengan kaum al-Qadariyyah, mereka menisbatkan kebaikan kepada Allah Ta’ala, sedangkan keburukan kepada selain-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Pencipta seluruh kebaikan dan keburukan. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dunia, melainkan dengan kehendak-Nya. Jadi, kedua-duanya harus dinisbatkan kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan dan yang mengatur, serta dinisbatkan kepada orang-orang yang melakukannya dari hamba-Nya sebagai bentuk amal perbuatan dan usahanya. Wallahu a’lam.

قَوْلُهُ (قال يعنى بن عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ) هذا الذى قاله بن عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ظَاهِرٌ فِي تَكْفِيرِهِ الْقَدَرِيَّةَ قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ رَحِمَهُ اللَّهُ هَذَا فِي الْقَدَرِيَّةِ الْأُوَلِ الَّذِينَ نَفَوْا تَقَدُّمَ عِلْمِ اللَّهِ تَعَالَى بِالْكَائِنَاتِ قَالَ وَالْقَائِلُ بِهَذَا كَافِرٌ بِلَا خِلَافٍ وَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُنْكِرُونَ الْقَدَرَ هُمُ الْفَلَاسِفَةُ فِي الْحَقِيقَةِ
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Maka dia (Abdullah bin Umar) berkata, “Apabila kamu berjumpa dengan mereka, maka kabarkan kepada mereka bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari mereka, dan sesungguhnya mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, jika sekiranya salah seorang mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu menginfakkannya, niscaya Allah tidak akan menerima sampai dia beriman kepada takdir.” Yang dikatakan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma adalah jelas menunjukkan pengkafirannya terhadap kaum al-Qadariyyah.” Al-Qadhi Iyadh Rahimahullah berkata, “Hal tersebut berlaku pada kaum al-Qadariyyah pertama yang menafikan Ilmu Allah Ta’ala terhadap alam semesta.” Dia juga menambahkan bahwa orang yang mengatakan demikian adalah kafir tanpa ada perselisihan. Orang-orang yang mengingkari takdir, pada hakikatnya mereka adalah orang-orang filsafat.”

[Syarah Shahih Muslim 1/153-156, Imam an-Nawawi]

Namun agama Syiah Rafidhah al-Majusi memiliki rukun Islam dan Iman yang berbeda dengan kaum Muslimin jika dibandingkan dengan hadits Shahih Muslim di atas.

عن أبي جعفر (عليه السلام): قال: بني الاسلام على خمس: على الصلاة والزكاة والصوم والحج والولاية ولم يناد بشئ كما نودي بالولاية.
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٢ - الصفحة ١٨
Dari Abu Ja’far ‘alaihi Salam, dia mengatakan, “Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : shalat, zakat, puasa, haji, dan wilayah. Dan tidaklah diserukan dengan sangat keras sebagaimana penyeruannya terhadap wilayah.”
[al-Kaafi 2/18, al-Kulainy Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1123_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٢/الصفحة_18]

أصول الدين خمسة: التوحيد والعدل والنبوة والإمامة والمعاد
من المبدأ إلى المعاد في حوار بين طالبين - الشيخ المنتظري - الصفحة ١٨٥
Ushuluddin (pokok-pokok agama) ada lima perkara, yaitu : Tauhid, Adil, Nubuwwah, Imamah, Ma’ad (Kiamat).”
[Min al-Mabda' ila al-Ma'ad 185, al-Muntadzari Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/4433_من-المبدأ-إلى-المعاد-في-حوار-بين-طالبين-الشيخ-المنتظري/الصفحة_181]

Berikut adalah perbandingan perbedaan antara Rukun Islam dan Rukun Syiah Rafidhah al-Majusi :

No
Rukun Islam
Rukun Syiah Rafidhah al-Majusi
1
Syahadat
Shalat
2
Shalat
Zakat
3
Zakat
Puasa
4
Puasa
Haji
5
Haji
Wilayah

No
Rukun Iman
Rukun Syiah Rafidhah al-Majusi
1
Iman kepada Allah
Tauhid
2
Iman kepada Malaikat
Adil
3
Iman kepada Kitab
Nubuwwah
4
Iman kepada Rasul
Imamah
5
Iman kepada Kiamat
Ma’ad (Kiamat)
6
Iman kepada Takdir Baik & Buruk


Dari perbandingan di atas, sangat jelas sekali perbedaan rukun Islam dan Iman antara Aqidah kaum Muslimin dengan Aqidah Syiah Rafidhah al-Majusi. Dan sangat terlihat jelas pula bahwasanya Syiah Rafidhah al-Majusi tidak memasukkan Iman kepada takdir baik dan buruk ke dalam Aqidah mereka (Syiah Rafidhah al-Majusi), dikarenakan mereka (Syiah Rafidhah al-Majusi) adalah pengikut al-Qadariyyah. Di mana saat ini mereka (Syiah Rafidhah al-Majusi) menempuh jalan orang-orang Filsafat dalam membahas takdir Allah, sehingga banyak ditemukan para penganut agama Syiah Rafidhah al-Majusi adalah seorang peng-agung Filsafat, bahkan mereka telah mendirikan sebuah sekolah tinggi Filsafat di Jakarta.

Bahkan seorang penganut agama Syiah Rafidhah al-Majusi di facebook telah melakukan propagandanya dengan menyebarkan Aqidah Syiah Rafidhah al-Majusi dalam masalah takdir.

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi

Sedangkan kaum Muslimin telah menempuh jalan Salaf dalam mengimani takdir Allah, sebagaimana di dalam hadits Shahih Muslim di atas dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau (Ibnu Umar) berlepas diri dari kaum al-Qadariyyah yang berada di Bashrah Irak.

Sedangkan untuk pembahasan masalah takdir, Tanya Syiah tidak akan memperpanjang lebar. Teman-teman dapat mengunjungi search engine yufid dengan menelusurinya di address berikut : [yufid.com/]

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَكُونُ فِي أُمَّتِي أَوْ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ مَسْخٌ وَخَسْفٌ وَقَذْفٌ وَذَلِكَ فِي أَهْلِ الْقَدَرِ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Akan terjadi pada umatku atau di umat ini perubahan bentuk [مَسْخٌ], penenggelaman [خَسْفٌ] dan dilempari (batu) [قَذْفٌ]. Hal tersebut terjadi pada pengikut paham al-Qadariyah.”
[Ibnu Majah no.4051, Hasan : Shahih Ibnu Majah no.3298, Syaikh al-Albani]

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi

Iran terdiri dari dataran tinggi, kecuali pantai Laut Kaspia dan Provinsi Khuzestan. Iran merupakan salah satu negara yang paling banyak gunung-gunungnya di dunia, pemandangannya didominasi oleh jajaran pegunungan terjal yang memisahkan berbagai lembah sungai atau dataran tinggi antara satu dengan yang lainnya. Bagian barat yang terpadat penduduknya adalah yang paling banyak gunung-gunungnya, dengan jajaran (penggunungan) seperti Gunung Kaukasus, Zagros dan Alborz; yang terakhir adalah gunung tertinggi Iran, yaitu Gunung Damavand pada ketinggian 5.610 m (18.406 kaki), yang juga merupakan gunung tertinggi di daratan Eurasia barat Hindu Kush.
[en.wikipedia.org/wiki/Iran#Geography]

Iran negeri Syiah Rafidhah al-Majusi sarang Dajjal yang merupakan tempat asal mula agama Majusi / Zoroaster yang berada di arah Timur Madinah, di mana Aqidah Majusi / Zoroaster telah diadopsi oleh Syiah Rafidhah al-Majusi, telah ditimpa bencana dengan gempa-gempa yang memiliki intensitas dan kerusakan yang cukup tinggi di regional Timur Tengah.

Sejak tahun 1900, setidaknya 126.000 kematian telah dihasilkan dari gempa bumi di Iran.
[www.presstv.com/detail/140359.html]

Peta Peristiwa Gempa Bumi di Timur Tengah dari tahun 1900 sampai Maret 2012

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi
[earthquake.usgs.gov/earthquakes/world/middle_east/seismicity.php]

Jika dilihat dari peta seismicity regional Timur Tengah di atas, maka dapat diketahui bahwa Timurnya Madinah yaitu Iran negeri Syiah Rafidhah al-Majusi merupakan negeri yang sering tertimpa bencana gempa bumi.

Peta Peristiwa Gempa Bumi di Iran dari tahun 1900 sampai Maret 2012

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi
[earthquake.usgs.gov/earthquakes/world/iran/seismicity.php]

Gempa Bumi bersejarah di Iran
0856 12 22 - Damghan, Iran - Kematian 200.000
0893 03 23 - Ardabil, Iran - Kematian 150.000
1727 11 18 - Tabriz, Iran - Kematian 77.000
1755 06 07 - Kashan, Iran - Kematian 40.000
1909 01 23 - Silakhor, Iran (Persia) - M 7.3 Kematian 6.000
1923 05 25 - Torbat - e Heydariyeh, Iran - M 5,7 Kematian 2.200
1929 05 01 - Koppeh Dagh, Iran ( Persia ) - M 7,4 Kematian 3.800
1930 05 06 - Salmas, Iran ( Persia ) - M 7.2 Kematian 2.500
1947 08 05 - Pasni, Iran - M 7.3
1953 02 12 - Torud, Iran - M 6.5 Kematian 970
1957 07 02 - Mazandaran, Iran - M 7.1 Kematian 1.200
1957 12 13 - Sahneh, Iran - M 7.1 Kematian 1.130
1962 09 01 - Qazvin, Iran - M 7.1 Kematian 12.225
1965 02 10 - Bostanabad - e Bala, Iran - M 5.1 Kematian 20
1968 08 31 - Dasht - e Bayaz, Iran - M 7.3 Kematian 12.000
1972 04 10 - Iran selatan - M 7.1 Kematian 5054
1976 11 24 - wilayah perbatasan Turki - Iran - M 7.3 Kematian 5.000
1978 09 16 - Iran - M 7,8 Kematian 15.000
1981 06 11 - Iran selatan - M 6,9 Kematian 3.000
1981 07 28 - Iran selatan - M 7.3 Kematian 1.500
1990 06 20 - Iran barat - M 7.4 Kematian 50.000
1997 05 10 - Iran utara - M 7.3 Kematian 1.567
1998 03 14 - Iran utara - M 6.6
2002 06 22 - Iran barat - M 6.5 Kematian 261
2003 08 21 - Iran tenggara - M 5.9
2003 12 26 - Iran tenggara - M 6.6 Kematian 31.000
2004 05 28 - Iran utara - M 6.3 Kematian 35
2005 02 22 – Iran pusat - M 6.4 Kematian 612
2005 11 27 - Iran selatan - M 6.0 Kematian 13
2006 03 31 - Iran barat - M 6,1 Kematian 70
[earthquake.usgs.gov/earthquakes/world/historical_country.php#iran]

Iran pula, yaitu negeri Syiah Rafidhah al-Majusi yang telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dalam hal Mut’ah, di mana mereka (Syiah Rafidhah al-Majusi) telah mempraktekkanya dengan legal di negerinya (Syiah Rafidhah al-Majusi). Lalu apa bedanya antara Mut’ah yang telah diharamkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dengan zina? Di mana zina harus di hukum rajam dengan dilempari batu.


Notaris Mut’ah Syiah Rafidhah al-Majusi Iran
Menit 00:50
Saya menyatakan bahwa Ny.Nasrin adalah istri Mut’ahnya Shahram untuk selama periode satu tahun dengan mahar 5 koin emas.

Menit 01:20
Jika engkau membayar satu juta Toman, aku dapat mencarikanmu seorang istri (Mut’ah) hari ini. Seperti Afsaneh, Homeyra, Soraya atau Marjan, salah satu dari mereka dapat menjadi istri mut’ahmu.

[http://www.youtube.com/watch?v=_QiA9lm49LQ]

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI – Kantor notaris atau kantor urusan hukum di Iran, yang biasanya menerima pendaftaran nikah dan urusan sipil, kini memiliki layanan baru, yaitu mencari perempuan-perempuan yang bersedia menjalani nikah mut'ah (kawin kontrak).

Hal ini diungkapkan oleh koran Iran berbahasa Parsi, Mellat, dalam laporan yang dipublikasikan awal pekan ini. "Kantor-kantor notaris ini biasanya mendokumentasikan perkawinan permanen maupun perkawinan sementara. Namun kini memiliki layanan baru, yaitu mencari para wanita yang bersedia dinikah mut'ah," tulis Mellat, sebagaimana dilansir Al-Arabiya, Rabu (8/6).

Menurut Mellat, kantor-kantor tersebut mendapatkan pembayaran uang di muka dalam menyediakan wanita-wanita yang sesuai dengan spesifikasi si peminat, baik yang untuk nikah mut'ah atau nikah permanen. "Nominal uang yang diminta tiap kantor untuk mencari pasangan kaum pria ini, bervariasi antara satu dan lainnya, sesuai tingkat kesulitan pencarian wanita yang bersangkutan," jelas Mellat.

Statistik menunjukkan bahwa pelaku nikah mut'ah atau kawin kontrak terbesar adalah warga kota Qum. Kota yang dianggap suci dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama, yang sebagian besar lulusannya menjadi ulama Syiah ternama. Studi lain menunjukkan bahwa orientasi warga Iran untuk melakukan nikah mut'ah lebih besar ketimbang melakukan pernikahan yang permanen.

[http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/06/09/lmiu7r-aha-kawin-kontrak-di-iran-lebih-ngetren-ketimbang-nikah-permanen]

Hingga akhirnya negeri Syiah Rafidhah al-Majusi yang merupakan Pusat atau Central Spiritual Mut’ah di dunia, telah terinfeksi virus yang mematikan yaitu HIV-AIDS.

Ada lebih dari 100.000 penderita AIDS di Iran, kata seorang anggota Komisi Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan Parlemen Iran.

“Kementerian Kesehatan Iran telah mengumumkan bahwa ada 20.000 penderita AIDS di negara ini, tetapi menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah sebenarnya seharusnya lima sampai tujuh kali lipat, hingga mencapai 100.000 orang,” kata kantor berita Fars yang dikutip oleh Wakil ketua Komisi Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan Majlis Iran, Hossein Ali Shahriari, seperti yang dikatakannya pada hari Minggu.

[http://edition.presstv.ir/detail/112423.html]

Di mana tiap tahunnya, Syiah Rafidhah al-Majusi Persia Iran yang terinfeksi virus HIV-AIDS terus meningkat.


Menit 00:00 – 00:30
Sebuah pertemuan yang berlangsung di Kementerian Kesehatan Iran untuk menandai hari AIDS dunia. Ulama (Pendeta Syiah Rafidhah), pasien (Syiah Rafidhah Iran) dan perwakilan organisasi internasional dan LSM menghadiri konferensi tersebut untuk mendiskusikan langkah-langkah dalam memerangi penyebaran penyakit (AIDS Syiah Iran) yang mematikan di Iran dan di seluruh dunia dengan motto "Getting to Zero". Dalam penyampaiannya di konferensi, Menteri Kesehatan Iran menyatakan keprihatinannya mengenai jumlah pasien HIV-AIDS (Syiah Iran) yang sedang “booming” di Iran. Sayyid Hassan Hashemi mengatakan bahwa saat ini penyebab utama AIDS di Iran telah bergeser dari penyalahgunaan narkoba menuju ke kontak seksual yang tidak aman.

Menit 00:31 – 00:54
Sayyed Hassan Hashemi (Menteri Kesehatan Iran)
Menurut perhitungan kami sepertinya dari tahun 2005 ke tahun 2006 mengenai jumlah pasien AIDS yang merupakan pecandu narkoba yang saling berbagi jarum suntikan diperkirakan telah menurun, tapi sayangnya jumlahnya telah meningkat pada kelompok pasien lainnya. Ia menyalahkan para pasien dalam menolak untuk mengumumkan penyakit mereka. Dan pemerintah juga menyalahkan diri kami sendiri akan penderitaan ini.

Menit 00:55 – 01:10
Para ahli mengatakan bahwa meskipun peringatan pemerintah mengenai jumlah penderita HIV AIDS di Iran masih jauh di bawah rata-rata secara global. Iran juga merupakan salah satu dari sedikitnya negara di dunia yang memberikan kebebasan dari biaya perawatan medis kepada pasien HIV-AIDS yang merupakan susunan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menit 01:27 – 01:45
Setiap tahunnya pada hari AIDS dunia, pasien Iran yang positif HIV mengadakan tarif amal secara simbolis di sela-sela acara. Sembari menampilkan beberapa keterampilan mereka, mereka mencoba untuk mengubah citra negatif yang masih ada terhadap mereka di masyarakat. Beberapa pasien percaya bahwa masyarakat masih mengetahui sedikit tentang mereka.

Menit 02:10 – 02:20
Mengenai jumlah pasti dari penderita AIDS di Iran saat ini tidak diketahui tetapi angka WHO menunjukkan peningkatan 50 persen yang mengejutkan dalam jumlah penderita AIDS di dunia antara tahun 2005 dan 2012.

[https://www.youtube.com/watch?v=3lNHuSd6Acw&list=UUBeJUiGXz4aii-mL0wOUwvA]

Hingga puncaknya, akan terjadi penenggelaman dan perubahan bentuk di Bashrah Najd Irak pada kaum al-Qadariyyah.

ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah berdoa, “Ya Allah, berkahilah di Syam kami, ya Allah, berkahilah di Yaman kami.” Para Shahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, dan di Najd [نَجْدِ] kami.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdoa, “Ya Allah, berkahilah di Syam kami, ya Allah, berkahilah di Yaman kami.” Para Shahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, dan di Najd [نَجْدِ] kami.’ dan seingatku pada kali ketiga, beliau bersabda, “Di sana akan terjadi Gempa Bumi [الزَّلَازِلُ] dan Fitnah-Fitnah [الْفِتَنُ], dan di sana akan muncul Tanduk Setan [قَرْنُ الشَّيْطَانِ].” [Bukhari no.6565]

وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ نَجْدٌ مِنْ جِهَةِ الْمَشْرِقِ وَمَنْ كَانَ بِالْمَدِينَةِ كَانَ نَجْدُهُ بَادِيَةَ الْعِرَاقِ وَنَوَاحِيهَا وَهِيَ مَشْرِقُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ
Berkata al-Khaththabi, “Najd [نَجْدٌ] berada di arah Timur [الْمَشْرِقِ] dan siapa saja yang berada di Madinah, maka Najdnya [بَادِيَةَ] adalah pedalaman Irak [الْعِرَاقِ] dan sekitarnya, dan ia (pedalaman Irak dan sekitarnya) adalah Timurnya [مَشْرِقُ] penduduk Madinah.”
[Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari 13/47, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

2494 - " ألا إن الفتنة ههنا، ألا إن الفتنة ههنا [قالها مرتين أو ثلاثا] ، من حيث
يطلع قرن الشيطان، [يشير [بيده] إلى المشرق، وفي رواية: العراق] ".
Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan muncul di sini! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan muncul di sini!” Beliau mengucapkannya dua atau tiga kali, yaitu dari tempat munculnya Tanduk Setan [قرن الشيطان]. Beliau mengarahkan (tangannya) ke Timur [المشرق]. Dalam sebuah riwayat disebutkan Irak [العراق].
[Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no.2494, Syaikh al-Albani]

سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ يَقُولُا يَا أَهْلَ الْعِرَاقِ مَا أَسْأَلَكُمْ عَنْ الصَّغِيرَةِ وَأَرْكَبَكُمْ لِلْكَبِيرَةِ سَمِعْتُ أَبِي عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُا
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْفِتْنَةَ تَجِيءُ مِنْ هَاهُنَا وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ وَأَنْتُمْ يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
Aku mendengar Salim bin Abdullah bin Umar berkata, “Wahai penduduk Irak [الْعِرَاقِ], aku tidak bertanya kepada kalian tentang perkara kecil dan tidak menempatkan kalian pada perkara besar.”
Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya fitnah akan muncul di sini -beliau menunjuk dengan tangannya ke arah Timur [الْمَشْرِقِ]- yaitu dari tempat munculnya Tanduk Setan [قَرْنَا الشَّيْطَانِ]. Sedangkan kalian saling menebas leher sebagian yang lain.” [Muslim no.5172]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا أَنَسُ إِنَّ النَّاسَ يُمَصِّرُونَ أَمْصَارًا وَإِنَّ مِصْرًا مِنْهَا يُقَالُ لَهُ الْبَصْرَةُ أَوْ الْبُصَيْرَةُ فَإِنْ أَنْتَ مَرَرْتَ بِهَا أَوْ دَخَلْتَهَا فَإِيَّاكَ وَسِبَاخَهَا وَكِلَاءَهَا وَسُوقَهَا وَبَابَ أُمَرَائِهَا وَعَلَيْكَ بِضَوَاحِيهَا فَإِنَّهُ يَكُونُ بِهَا خَسْفٌ وَقَذْفٌ وَرَجْفٌ وَقَوْمٌ يَبِيتُونَ يُصْبِحُونَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda kepadanya, “Wahai Anas, sesungguhnya manusia akan menempati banyak tempat, dan salah satu tempat tersebut dinamakan Bashrah [الْبَصْرَةُ], atau Bushairah [الْبُصَيْرَةُ]. Jika engkau melewati tempat tersebut, atau masuk ke dalamnya, maka hindarilah tempat-tempat yang tanahnya asin, beserta dermaganya, serta pasar-pasar dan para penguasanya. Hendaknya engkau menyusuri pinggiran tepi wilayahnya, karena di sana akan terjadi penenggelaman [خَسْفٌ], dilempar (batu) [قَذْفٌ] dan cuaca dingin [رَجْفٌ]. Suatu kaum bermalam di sana dan pagi harinya telah (dirubah bentuknya) menjadi Kera [قِرَدَةً] dan Babi [خَنَازِيرَ].”
[Abu Daud no.3753, Shahih : Shahih Abu Dawud no.4307, Syaikh al-Albani]

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي مَسْخٌ وَقَذْفٌ وَهُوَ فِي الزِّنْدِيقِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ”Akan terjadi pada umatku perubahan bentuk [مَسْخٌ] dan dilempari (batu) [قَذْفٌ]. Yaitu pada orang-orang Zindiq dan al-Qadariyah.”
[Ahmad no.5931, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.6208, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

Saat ini Najd Irak telah dikuasai oleh Iran Persia Rafidhah al-Majusi yang memiliki Aqidah Majusi / Zoroaster, dan bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam membunuhi kaum Muslimin di Irak, sebagaimana yang telah Tanya Syiah Goreskan Pena part [3] Kerjasama Militer Syiah - Amerika.

Di tahun 2006, yang menganut Syiah sekitar 85% dan Muslim Sunni 15%. Sejumlah kecil Kristiani Chaldean juga tinggal di Basrah.  Terdapat sisa-sisa aliran Gnostic Mandaeans, yang memiliki pusat area yang dahulu dikenal dengan nama Suk esh-Sheikh, dengan sebuah komunitas kecil yang memiliki pengikut 3000 orang atau kurang.
[en.wikipedia.org/wiki/Basra]

Syiah Rafidhah al-Majusi pengikut al-Qadariyyah, saat ini telah memiliki sifat-sifat Kera dan Babi, di antaranya adalah :

Memukul-mukul dada

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi


Syiah Indonesia sedang beribadah memukul-mukul dada.
[https://www.youtube.com/watch?v=IlS_NTewfzQ]

Mandi Lumpur

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi

Makan Kotoran Eek

Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi

فليس في بول المعصومين ودمائهم وأبوالهم وغائطهم استخباث و قذارة يوجب الاجتناب في الصلاة ونحوها كما هو معنى النجاسة ، ولا نتن في بولهم وغائطهم بـل هـــمــا كالمــسك الأذفـــــــر ، بــــــــــل مــــن شـــــرب بولهم وغائطهم ودمهم يـــــحـرم الله عليه الـــنــار واســتــوجــب دخول الجنّة 
Tidak ada pada air kencing para Imam ma'shum, darah, dan juga eek mereka suatu kebusukan ataupun kekotoran....Air kencing dan eek mereka tidak bau, malah baunya bagaikan bau misik yang semerbak. Bahkan barangsiapa yang meminum air kencing para imam, memakan eek mereka, juga darah mereka, maka Allah mengharamkan Neraka baginya dan wajib baginya masuk Surga.”

[Al-Anwar Al-Wilayah oleh Al-'Allamah Al-Hujjah Al Akhunid Mulla Zaenal Abidin Al Kalbayakani halaman 440]
[jaser-leonheart.blogspot.com/2012/05/apa-makanan-kaum-syiah.html]