Saturday, June 21, 2014

// // Leave a Comment

Jalal Syiah Menghina Aisyah Isteri Nabi




Aisyah itu sangat pencemburu, kalau mau mencontoh istri yang pencemburu contohlah Aisyah, begitu cemburunya sampai ada-lah beberapa perilaku Aisyah itu yang menyedihkan hati Nabi, kadang-kadang cemburunya disusul dengan manuver-manuver, manuver itu apa bahasa....bahasa arabnya makar, disusul dengan beberapa makar. pernah datang seorang perempuan, kalau saya tidak salah namanya Juwairiyah, dia adalah anak seorang pemimpin yang kemudian bergabung masuk Islam, dan pemimpin itu menghadiahkannya kepada Nabi Shallallahu alihi wa alihi wa Sallam. 

Dalam Al-Qur'an kan ada ayat [Dan Kalau Perempuan itu menghadiahkan dirinya kepadamu hai Nabi], jadi bolehlah Nabi memilihnya kalau ia kehendaki waktu itu Aisyah membaca wahyu itu kemudian dia datang menemui Nabi “Betapa cepatnya Tuhanmu memenuhi hawa nafsumu” jadi itu dikatakannya kepada Nabi, bayangkan jadi itu seorang Nabi mau berhadapan dengan seorang istri yang melakukan blasfemi, jadi blasfemi itu, saya mohon maaf saya emang agak ilmiah. Blasfemi itu ucapan-ucapan yang merendahkan Tuhan yang diucapkan sebetulnya oleh orang-orang kafir, di rumah ada sebuah buku yang berjudul “Sejarah Blasfemi Sepanjang Zaman sejak zaman yunani dulu sampai zaman modern”, orang-orang yang mengecam dan mencaci Tuhan, tentu saya tidak ingin memasukkan Aisyah dalam salah satu riwayat itu, tapi dia itu berkata kepada Rasulullah karena cemburunya, “Betapa cepatnya Tuhan memenuhi hawa nafsumu”.

Ceritanya nih Juwairiyah itu datang, dan sudah menyebar berita tentang kecantikan Juwairiyah itu, dan seperti biasa Aisyah merasa tidak enak, sama ketika Rasulullah mau menikah dengan Ummu Salamah dan menyebarlah berita tentang kecantikan Ummu Salamah, kata Aisyah, [Fahazintu huznan syadida] “Aku merasa sedih luar biasa” karena Rasulullah ingin menikah dengan Ummu Salamah yang dikenal cantik dan masih muda lagi, Cuma punya 2 atau 3 orang anak, jadi Ummu Salamah itu luar biasa, dari yang cantik jelita dan masih muda berubah dalam cerita kaum muslimin di Indonesia menjadi perempuan tua yang wajahnya jelek, sampai ia menyerahkan haknya katanya kepada Aisyah, karena ia tidak bisa melayani Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wa Sallam, itu cerita di Indonesia. Saya enggak tahu sumbernya dari mana, kayaknya dari imajinasi para ustadz yang tidak pernah kering. 

Jadi pada waktu itu Asiyah sangat tidak enak mendengar Rasulullah menikah dengan Ummu Salamah, kemudian kata Aisyah sendiri, “Lalu aku mencoba mencari tahu”, ia mencoba ingin bertemu dengan Ummu Salamah [Fa Idzan] kata Aisyah “Tiba-tiba aku saksikan bahwa Ummu Salamah lebih cantik dari apa yang diberitakan orang”, jadi diberitakan orang cantik dia, begitu melihatnya ia lebih cantik dari apa yang diceritakan orang, [Ajmalu mimma aushafuh] “Lebih cantik dari apa yang mereka sifatkan tentang Ummu Salamah” 

Aisyah itu adalah orang yang sangat pencemburu, dan ketika ia datang, ditemuinya Juwiriyah itu dengan baik dia temui, dan ketika bertemu dengannya, berbaik-baikanlah, pura-pura baik, kemudian dia berkata, “nantinya kalau kamu sudah menikah dengan Nabi dan misalnya Nabi mau mendekati kamu atau menyentuh kamu,  nabi itu paling seneng jika kamu mengucapkan doa ini [A’udzu Billahi Minka] “Aku berlindung kepada Allah daripada engkau”, lalu setelah itu, begitu mendengar itu dan ketika berdua bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan Rasulullah mau memegeng tangannya ia berkata seperti yang diajarkan Aisyah “Aku berlindung kepada Allah daripada engkau” dan kemudian Rasulullah mengirimkan Juwairiyah kepada keluarganya kembali dan katanya dia meninggal karena penderitaan hatinya, ditolak oleh Rasulullah, disuruh pergi, itu karena makarnya.

Karena itu di dalam Al-Qur’an [Inna Kaidasy Syaithoni Kana Dha’ifa] “Tipuan setan itu lemah” tapi tentang perempuan [Inna Kaidakunna La’azhim] dalam surat Yusuf “Sesungguhnya tipuan kalian itu dahsyat” perempuan-perempuan itu dahsyat dan setan aja lemah, tipuan perempuan jauh lebih dahsyat dari tipuan setan.

Kemudian Jalal melanjutkan

Dan ini mungkin ini agak mengejutkan kepada anda karena cerita ini tidak sama dengan cerita yang didengar oleh para ustadz yang lain, tapi mau diberitahukan atau tidak ya? Pokoknya di antara Istri Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wa Sallam, saya lagi mencari kata-kata yang paaaling halus (begitu intonasi suaranya), ……..Aisyah itu perempuan yang tidak begitu cantik, jadi berbeda dengan riwayat kita bahwa Aisyah adalah Istri Nabi yang paling cantik, kulitnya item, dan dia sering menghias wajahnya dengan akar kayu yang kemerah-merahan untuk memerahi sebagaimana kebiasaan orang-orang kulit hitam sampai sekarang menghiasi mukanya dengan ….(tidak jelas)…dan Aisyah senangnya dengan sejenis kayu pencelup yang kalau diusapkan dan dogosokkan di sini (pipi) akan menjadi merah, sehingga kayu itu disebut Humairo, kayu yang kemerah-merahan dan Rasulullah memanggil Aisyah dengan tanda kemerah-merahan di wajahnya karena bekas goresan kayu itu, jadi dia memanggilnya Ya Humairo.

Sekarang menjadi berubah juga cerita kita sekarang, Humairo artinya kulitnya putiiih, sehingga kalau kepanasan dia berubah kemerah-merahan karena itu Rasulullah memanggilnya “Sayang Ya Humairo”. Sehingga ada seorang istri mendirikan sebuah perusahaan, kebutulan istri itu kulitnya putih, lalu dia dirikan perusahaannya dengan nama Humairo.

[http://www.youtube.com/watch?v=M-10pmqq4uY&feature=player_embedded]

Sengaja kami kutip ceramah Jalal agak panjang untuk memperlihatkan kepada kaum Muslimin bagaimana akhlak Jalal kepada ibunda kaum Mukminin, Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Bagaimana buruknya akhlak Jalal kepada Istri Nabi kita yang sangat tercinta.

Saksikanlah wahai Ibunda kami, Aisyah, bahwa Jalaluddin Rakhmat –jika dia mukmin- maka dia telah bersikap kurang ajar terhadap anda, durhaka kepada Ibunda kaum Mukminin, mana ada kaum Mukminin yang berani mencela Ibundanya?
[Wa Azwajuhu Ummahatuhum], ‘Dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka (kaum Mukminin)’

Oleh karena itu di jauh-jauh hari Nabi telah memperingatkan kepada kita jika memungkinkan ada peluang untuk menganggap buruk seorang Sahabat agar jangan dicela [La Tasubbu Ash-haaby] “Jangan kamu cela sahabatku”, bagaimana lagi jika Aisyah yang dicela yang menyandang tiga gelar sekaligus yang memiliki keistimewaan yang sangat tinggi di sisi Allah,

Pertama, sebagai seorang Sahabat. Ayat-ayat dan hadits Nabi banyak sekali yang memuji dan menyanjung para Sahabat berjuang di sisi Nabi.

Kedua, sebagai seorang Ahlul Bait, di mana Allah berfirman [Innama Yuridullahu Liyudzhiba ‘Ankum Ar-Rijsa Ahlal Baiti Wa Yuthahhirokum Tath-hira] “Sesugguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan agar Allah menyucikan kamu sesuci-sucinya”.

Ketiga, sebagai seorang Istri tercinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, pendamping setia Nabi kita, bahkan hingga nafas terakhir Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Aisyah berada di dadanya.

Cara seperti ini adalah sarana untuk merusak tatanan ajaran Islam, merusak citra Sahabat, Ahlul Bait dan kehormatan Istri Rasulullah, padahal beliau termasuk di antara para perawi hadits Nabi yang meriwayatkan ribuan hadits tentang ajaran Islam yang sangat penting. Hingga jika Aisyah dianggap tidak kredibel dan tidak dipercaya lagi bahkan dianggap kafir oleh orang Syiah hilanglah ribuan hadits yang menjadi syariat agama kita, hilanglah banyak ucapan-perbuatan Nabi, bahkan akan hilang hadits yang menceritakan keutamaan Ali, Fathimah, Hasan dan Husain; Hadis Kisa’ yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

Padahal ketika bertiup fitnah yang sangat kencang dan berita bohong perzinahan Aisyah Radhiyallahu ‘anha dengan Shafwan bin Mu’aththol Radhiyallahu ‘anhu yang dihembuskan oleh kaum munafik, Allah sendiri yang langsung membela Ibunda kita, Allah menurunkan sepuluh ayat dalam surat an-Nur yang dibaca oleh kaum Muslimin sejak hari itu hingga hari kiamat, membela keluarga Nabi dari mulut-mulut busuk kaum munafikin, Allah menyatakan bahwa berita perzinahan Aisyah dengan Shafwan adalah sebuah kebohongan yang sangat besar, dan tuduhan zina ini dikira hal yang remeh oleh sebagian orang namun di sisi Allah itu adalah sebuah masalah yang sangat besar, gembong penyebarnya akan disediakan adzab yang sangat pedih, dan tiga orang Sahabat yang ikut bicara dan menggosip dicambuk sebanyak 80 kali. Allah cemburu istri Nabi-Nya dituduh berzina, tidakkah kita cemburu melihat Ibunda kita dicela-cela? Jadilah Ansharullah, penolong-penolong agama Allah wahai kaum Muslimin.

Tanggapan Singkat


Ada beberapa kesalahan fatal yang dilakukan Jalal dalam ceramahnya di atas,

“Aisyah istri Nabi yang sangat pencemburu”, kalimat cemburu ini sampai diulangi enam kali untuk menunjukkan dan menggambarkan bagaimana rendahnya martabat Aisyah; seakan-akan Aisyah dalam gambaran Jalal di atas adalah seorang istri yang jahat dan licik. Digambarkan Aisyah itu memiliki beberapa perilaku yang menyakiti hati Nabi.

Beberapa gambaran buruknya perilaku Aisyah menurut Jalal: Hanya karena cinta, Aisyah berpura-pura baik kepada Juwairiyah, hanya karena cinta Aisyah tega mengajarkan doa yang salah kepada Juwairiyah, dan hanya karena cinta Aisyah mengucapkan kata-kata yang isinya merendahkan Tuhan, bahkan hampir saja -kalau tidak dikatakan sudah memvonis kafir Aisyah- Jalal memasukkan Aisyah ke dalam golongan orang kafir, namun ia hiasi perkataannya,

Blasfemi itu ucapan-ucapan yang merendahkan Tuhan yang diucapkan sebetulnya oleh orang-orang kafir, di rumah ada sebuah buku yang berjudul “Sejarah Blasfemi Sepanjang Zaman sejak zaman yunani dulu sampai zaman modern, orang-orang yang mengecam dan mencaci Tuhan, tentu saya tidak ingin memasukkan Aisyah dalam salah satu riwayat itu,”

Ini sebenarnya sudah merupakan isyarat vonis takfir kepada Aisyah, karena pertama dikatakan “Aisyah itu melakukan blasfemi” kemudian dikatakan “Blasfemi itu ucapan-ucapan yang merendahkan Tuhan yang diucapkan sebetulnya oleh orang-orang kafir” namun sengaja ia bumbuhi dengan kalimat “tentu saya tidak ingin memasukkan Aisyah dalam salah satu riwayat itu”

Sungguh kasihan kepakarannya dalam ilmu komunikasi justru digunakannya sebagai kendaraan untuk menyesatkan manusia.

Juwairiyah seorang wanita yang dimaksudkan oleh Jalal yang telah membuat Aisyah cemburu adalah ternyata bukan Juwairiyah -di sinilah kami menangkap ketidaksucian niat Jalaluddin Rakhmat dalam mengkaji, padahal yang akan dibicarakan adalah kehormatan seorang Istri Nabi yang mulia- dan bukan juga termasuk Istri Nabi, kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim….nama wanita tersebut adalah Juniyyah…bukan Juwairiyah…

Dari hamzah bin Abu Sa’id bahwasanya Abu Sa’id pernah bersama Nabi di sebuah kebun, kemudian didatangkan padanya Juniyyah, kemudian diantar ke kebun milik Umaimah binti Nu’man bin Syarahbil, ia berada di atas kendaraannya, kemudian Rasulullah menemuinya, Nabi bersabda: hibahkanlah dirimu untukku, ia menjawab: apakah seorang ratu menghibahkan dirinya kepada rakyat?, kemudian nabi ingin meletakkan tangannya agar ia bersikap tenang, lalu wanita tadi berkata: saya berlindung kepada Allah darimu. Rasulullah bersabda: engkau telah berlindung dengan sebuah doa perlindungan, lalu Nabi keluar dan berkata kepada Abu Sa’id: wahai Abu Said pulangkan ia kekeluarganya.

Di dalam Zaadul Ma’ad dijelaskan bahwa Nabi belum menikahinya, Nabi hanya ingin melamarnya, namun karena wanita itu tidak tahu siapa yang diajaknya bicara ia berkata kurang sopan….( Zaadul Ma’ad, Juz 5 hal 289)

Hadis ini menunjukkan bahwa kisah yang disampaikan oleh Jalaluddin Rakhmat adalah kisah yang tidak ada dasarnya….bandingkanlah detail cerita kisah di atas dengan cerita Jalaluddin Rakhmat, dalam hadis ini nama Aisyah sama sekali tidak disebutkan. Aisyah tidak terlibat sama sekali dengan kejadian ini. Mungkin inilah kebiasaan orang-orang Syiah, selalu mencari-cari jalan untuk bisa dijadikan alasan mencela dan menghina Sahabat dan Istri Nabi, meskipun itu dengan berbohong. Bahkan saking kurang ajarnya, Jalaluddin Rakhmat menyamakan tipu daya Aisyah dengan tipu daya setan, bahkan katanya tipu daya wanita itu lebih besar dan lebih jahat.

Adapun ucapan “Blasfemi” yang diucapkan oleh Aisyah adalah riwayat shahih, dijelaskan oleh Ibnu Hajar bahwa ucapan Aisyah, “Saya tidak melihat Tuhanmu melainkan cepat memenuhi hawa nafsumu” adalah bentuk kecemburuan Aisyah yang sangat tinggi, dan ini bukanlah sifat buruk bagi wanita yang dimadu, sifat ini adalah sebuah fitrah. Dan penyandaran kalimat “hawa nafsumu” itu tidak dimaksudkan sebagai syahwat, tapi sebagai kemauan, karena Nabi tidak berbicara sesuai dengan hawa nafsunya, semua perkataannya adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadanya. Jikalau Aisyah mengucapkan “Saya tidak melihat Tuhanmu melainkan cepat memenuhi apa saja yang engkau ridhai” niscaya lebih baik, akan tetapi cemburu seperti ini dimaafkan. (Maktabah Syamilah, Fathul Bari, Juz 9 hal 165)

Beginilah sikap ulama kita –Ibnu Hajar Al Asqalani- yang adil dan berhati-hati serta menjauhkan lisannya dari penyifatan buruk kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha dalam menjelaskan sebuah hadits, karena ini menyangkut kehormatan keluarga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Tanggapan Syaikh Mamduh Kepada Pencela Aisyah Radhiyallahu ‘anha


Berikut kami kutipkan pembelaan Syaikh mamduh dari majalah Qiblati kepada Ibunda kaum Mukminin, Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika terjadi suatu peristiwa dimana seorang alim Syiah, Yasir Al-Habib mengutuk Aisyah Radhiyallahu ‘anha, itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan (1431H/ 2010) di London,

“Kami kira perayaan tersebut mereka merayakan kemenangan kaum muslimin atas orang-orang musyrik dalam peperangan Badar, akan tetapi kami dikejutkan bahwa orang-orang musyrik dan orang-orang kafir telah selamat dari lisan-lisan mereka, karena dialihkan untuk melaknat wanita suci, lagi disucikan dari langit ke tujuh. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan tentangnya sepuluh ayat dalam surat an-Nur (24) yang menjelaskan sucinya ‘Aisyah dari tuduhan orang-orang munafik. Kemudian datanglah orang-orang zindiq itu dengan mengatasnamakan cinta kepada Ahlul Bait, menuduh kehormatan Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang suci, dan menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melalui pelecehan mereka terhadap Istri yang paling beliau cintai. Mereka dengan lantangnya mengatakan bahwa Istri Nabi yang tercinta itu telah kafir, murtad, serta berada dalam dasar neraka Jahannam!!

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (٥٧)
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab (33): 57)

Wahai bangsa Indonesia, wahai bangsa Malaysia, wahai umat Islam, Istri kekasih kalian, al-Mushthafa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah dihinakan sementara kalian semua diam??!!!

Sesungguhnya, saya mengatakannya dengan jujur kepada seluruh ulama dan awamnya kaum Muslimin, jika kita tidak melakukan sesuatu maka sesungguhnya kita telah ikut serta dalam kejahatan tersebut. Maka wajib bagi kita memiliki peran dalam membela Ibunda kita, kekasih Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Masing-masing sesuai dengan kemampuan, kedudukan dan jabatannya. Hendaknya semua tahu bahwa kita akan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kita akan dihisab akan keteledoran kita, atau karena kita mendahulukan kemaslahatan duniawi atas kehormatan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka celaka bagi setiap orang yang meremehkan hukuman dan kemurkaan Allah. Secara khusus, hendaknya para ulama berhati-hati. Maka apakah yang akan kita jawab kepada kekasih kita, penghulu kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam saat beliau nanti bertanya kepada kita pada hari kiamat, apa yang telah kalian lakukan untuk membela kehormatanku?!

Maka jawaban apakah kiranya yang telah kita siapkan untuk pertanyaan tersebut?? Wahai setiap penanggung jawab, saya tahu bahwa Anda semua akan ditanya di hadapan Allah tentang sebaik-baik makhluk-Nya setelah para Anbiya`? Siapakah yang memiliki keutamaan (jasa) kepada kita setelah Allah, dan Rasul-Nya, yang karenanya sekarang ini kita menjadi kaum muslimin, dan bagi kita sorga dengan izin Allah jika amal kita baik?! Bukankah para Sahabat dan Ummahatul Mukminin yang telah menjaga Islam serta menyampaikannya kepada orang setelah mereka hingga sampai kepada kita ini…?! Seandainya bukan karena (sebab) mereka niscaya kita tidak akan mendapatkan petunjuk, dan tidak akan shalat, kita akan menjadi para penyembah berhala, api, pohon, dan sapi…! Maka apakah seperti ini kita membalas budi dan jasa mereka?!

Sesungguhnya saya mendorong perhatian Anda untuk bangkit dalam rangka membela kehormatan Nabi dan kekasih Anda, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Bangsa Arab telah bangkit, melakukan satu bagian dari kewajiban mereka terhadap tragedi ini. Dan sekarang kami ingin Anda menyempurnakan kewajiban tersebut, dan melakukan peran Anda. Anda semua tidaklah lebih kecil kecemburuan atau kecintaannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan Ummahatul Mukminin dari bangsa Arab dan selain mereka.

Sesungguhnya saya sangat optimis dengan kebaikan penduduk Indonesia –maupun yang lainnya- dalam membela kehormatan Ibunda kita, dan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Bapak dan ibu saya sebagai tebusannya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Siapa saja bisa mengcopy makalah ini dari website Qiblati untuk kemudian menyebarkannya di antara manusia di setiap tempat. Dan wajib ada satu jejak bagi kita dalam membela Ibunda kita. Demi Allah, seandainya ada seseorang yang berbicara tentang kehormatan Ibunda kita sendiri, niscaya kita tidak akan diam, lalu bagaimana dengan Ibunda kaum Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang lebih baik dari ibu kita semua?!

Wahai bunda, janganlah bersedih…!
Engkau adalah kehormatan kami
Kehormatan Nabi kami…
Bunda, janganlah bersedih…!
Janganlah bersedih…!
Kami, Umat Islam; anak-anakmu
Siap berkorban membelamu

Agar saya bisa memotong jalan atas sebagian orang-orang Syi’ah yang akan mengingkari perbuatan tersebut sebagai taqiyyah (kepura-puraan) dan kedustaan, maka sesungguhnya saya mengatakan dengan jujur bahwa setiap tidak menyebut nama ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha sama sekali. Apakah Anda tahu sebabnya? Jawabannya adalah agar mereka tidak terpaksa mengatakan Radhiyallahu ‘anha kepada beliau.

Agar saya bisa menetapkan kejujuran ucapan saya, saya menantang setiap Yayasan Resmi Syi’ah di Indonesia atau yang lain di dunia untuk mengeluarkan satu penjelasan yang di dalamnya diterangkan bahwa Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha adalah ibu mereka, dan bahwa beliau adalah wanita Mukminah dan penghuni Surga. Sesungguhnya saya, dengan ucapan ini ingin menelanjangi aqidah satu kaum yang berdiri di atas kedustaan dan penipuan. Saya ingin menjelaskan kepada orang-orang yang terperdaya dari para penyeru kepada toleransi dan pendekatan tentang satu hakikat yang tersamarkan, serta aqidah rusak milik para penentang al-Qur`an dan Sunnah tersebut. Sesungguhnya saya berpegang dengan tuntutan saya ini, dan tuntutan inilah yang nantinya akan menetapkan kepada kaum muslimin secara umum jika saya benar atau dusta. Sebagai penguat ucapan saya, al-Mujamma’ al-‘Alami Liahlil Bait (Majelis Internasional untuk Ahlul Bait), demi meredakan kemarahan kita, terpaksa mengeluarkan satu pernyataan yang di dalamnya terdapat celaan terhadap tragedi tersebut tanpa memberikan pembelaan terhadap Ummul Mukminin dengan anggapan bahwa hilah (kilah) mereka, serta kedustaan mereka akan bisa menipu kita. Bahkan penjelasan mereka hanyalah bersifat umum, serta tidak menyebut nama ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha sama sekali. Apakah Anda tahu sebabnya? Jawabannya adalah agar mereka tidak terpaksa mengatakan Radhiyallahu ‘anha kepada beliau. Tenanglah wahai para pengurus Majelis Internasional untuk Ahlul Bait, kami telah tersadar untuk kalian dengan izin Allah. Kalian mau mengucapkan Radhiyallahu ‘anha terhadapnya atau kalian mengakui bahwa dia adalah Ibunda kaum Mukminin, dan bahwa dia berada di Surga, atau saya nasihatkan kepada kalian semua untuk menulis dalam penjelasan kalian itu satu ungkapan “untuk orang-orang yang tertipu saja”.

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata dalam tafsir surat an-Nur (24): ‘Para ulama Rahimahumullah, telah sepakat bahwa siapa yang mencaci dan menuduhnya dengan tuduhan yang dituduhkan kepadanya, maka dia kafir, karena menentang al-Qur`an.’ (Tafsirul Qur`anul ‘Azhim, (2/276)), beliau juga menyebutkan ijma’ tersebut dalam al-Bidayah wan-Nihayah (8/92).

Al-Qadhi Abu Ya’la Rahimahullah berkata, ‘Siapa yang menuduh zina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensucikannya, maka dia telah kafir, tanpa ada khilaf (perselisihan),’ (as-Sharimul Maslul (566-567))

Imam as-Subkiy Rahimahullah berkata, ‘Adapun fitnah terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha,wal’iyadzu billah, maka itu mewajibkan pembunuhan karena dua perkara; salah satunya adalah bahwa al-Qur`an telah bersaksi akan kebersihannya dari tuduhan tersebut, maka mendustakannya adalah kekufuran, dan menfitnahnya termasuk kedustaan terhadapnya; yang kedua, bahwa dia adalah Istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, menfitnahnya berarti menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan menghina beliau adalah kekufuran.’ (Fatawa as-Subki, (2/592))

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata dalam Syarah Shahih Muslim (17/117-118), ‘Kebersihan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dari tuduhan zina, adalah sebuah kebersihan secara qath’i dengan nas al-Qur`an yang mulia, seandainya seseorang yang meragukannya wal’iyadzu billah, maka dia menjadi kafir, lagi murtad berdasarkan ijma’ seluruh kaum muslimin.’

Ibnu Qudamah al-Maqdisiy Rahimahullah berkata dalam Lum’atul I’tiqad (29), ‘Termasuk sunnah adalah mengucapkan Radhiyallahu ‘anha kepada Istri-Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Ummahatul Mukminin (Ibunda kaum Mukmin) yang suci dan dibebaskan dari segala keburukan. Yang paling utama dari mereka adalah Khadijah binti Khuwailid, dan ‘Aisyah as-Shiddiqah binti ash-Shiddiq yang dibebaskan oleh Allah di dalam kitab-Nya, Istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di dunia dan akhirat. Maka barangsiapa menuduhnya dengan apa-apa yang Allah telah membebaskannya, maka dia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung.’

As-Suyuthi Rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Iklil fi Istinbathit Tanzil (19), ‘Para ulama telah berdalil dengannya –ayat ifk- bahwa siapa yang menuduhnya, maka dia dibunuh karena kedustaannya terhadap nash al-Qur`an. Para ulama berkata, ‘Menuduh ‘Aisyah adalah sebuah kekufuran, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bertasbih kepada dirinya sendiri saat menyebutnya, seraya berfirman [سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ] Maha Suci Engkau, ini adalah sebuah kebohongan yang nyata. Sebagaimana Dia bertasbih, mensucikan Dzat-Nya saat menyebutkan apa yang orang-orang musyrik mensifati-Nya dengan istri dan anak.”

Ini adalah ucapan orang-orang dahulu dari para imam semuanya, di dalamnya terdapat penjelasan jelas bahwa umat ini telah sepakat bahwa siapa yang mencaci Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, serta menuduhnya dengan apa yang dituduhkan oleh para penuduh maka sesungguhnya dia telah kafir, di mana dia mendustakan Allah, terhadap berita berlepas dirinya ‘Aisyah dari tuduhan itu, berikut kesuciannya Radhiyallahu ‘anha, dan sebagai hukumannya adalah dibunuh karena murtad dari agama Islam.

Bahkan para imam kaum Muslimin telah mengungkapkan bahwa hanya sekedar membenci para Sahabat saja telah kafir. Mereka berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (٢٩)
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath (48): 29)

Imam Malik Rahimahulloh, dari ayat ini mengambil istinbath hukum akan kekafiran orang yang membenci para Sahabat, dikarenakan mereka menjengkelkan para sahabat, dan siapa yang menjengkelkan para sahabat maka dia kafir. Imam syafi’i dan lainnya pun menyetujuinya. (As-Showa’iqul Muhriqah(317), Tafsir Ibnu Katsir (4/204))

Jika Imam Malik, dan Imam Syafi’i Rahimahullah, serta selain mereka dari para Imam –mudah-mudahan Allah merahmati mereka, mengungkapkan bahwa hanya sekedar membenci para Sahabat adalah kekufuran, maka bagaimana pula dengan mengkafirkan mereka, melaknat, mencaci, serta menuduh mereka dengan perbuatan keji?!!

Ya Allah, atasMulah urusan Yasir al-Habib yang keji itu, dan orang-orang yang mengikuti jalannya. Lumpuhkan tubuhnya dan bisukan lisannya. Jadikanlah dia berharap mati, dan tidak menemuinya. Ya Allah, tampakkanlah kepada kami keajaiban kekuasaan-Mu pada dirinya. Turunkanlah kepadanya hukuman dan balasan-Mu yang tidak akan tertolak dari kaum pendosa. Ya Allah kuasakanlah atasnya tentara-tentara langit dan bumi. Ya Allah jadikanlah dia sebagai satu tanda, dan pelajaran bagi orang-orang yang mengambil pelajaran. Adzablah dia ya Allah sebagai azab dari yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa. Ya Allah, potonglah tubuhnya sepotong demi sepotong, dan janganlah Engkau mematikannya hingga dia merasakan azab setiap anggota tubuhnya. Ya Allah, kami memohon kepadaMu untuk mengabulkan, Ya Jabbar, Ya ‘Azhim, Ya Qowiyu, Ya ‘Azizu, wahasbunallahu wani’mal wakil.

Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kepada seluruh keluarga beliau, terutama para Ummahatul Mukminin, dan kepada seluruh para Sahabat semuanya. (AR/http://qiblati.com/pesta-tasyakuran-syiah.html)*

[www.lppimakassar.com/2012/08/jalaluddin-rakhmat-aisyah-itu.html]