Sunday, August 31, 2014

// // Leave a Comment

Hizbullah Syiah Hizbul Ganja

Hizbullah Syiah Hizbul Ganja

July 8, 2001
Hizbullah Peringatkan Pemerintah Libanon Untuk Tidak Menghancurkan Tanaman Narkoba di Libanon Selatan


Sebuah program pemerintah Libanon dimulai minggu ini untuk membasmi tanaman narkoba di lembah Beqa' menyebabkan meningkatnya konflik antara Hizbullah dan pemerintah Libanon. Hizbullah, yang menganggap dirinya sebagai pembela petani narkoba di wilayah tersebut, keluar secara terbuka untuk melawan terhadap rencana pemerintah dan mengancam akan melakukan kekerasan jika mereka mencoba untuk menerapkannya.

Posisi Pemerintah Libanon

Sebuah review yang dilakukan oleh aparat keamanan Libanon bidang ganja di lembah Beqa' memperkirakan daerah yang menjadi ladang ganja adalah sebesar 45.000 dunam (ukuran kepemilikan tanah) persegi.[1] Telah didesak oleh tekanan internasional dan ketakutan bahwa bantuan ke Libanon mungkin akan dirugikan, pertemuan kabinet darurat diselenggarakan pada 11:30pm, 2 Juli 2001, dan dihadiri oleh Perdana Menteri Rafiq Al- Hariri, Menteri Dalam Negeri Michel Al-Murr, Menteri Kehakiman Samir Al-Jisr, Menteri Pertahanan Khalil Al-Harawi, dan Sekretaris Kabinet Dr. Suheil Buji.

Setelah pertemuan, pernyataan resmi dikeluarkan mengenai rencana pemerintah, Menteri Dalam Negeri Michel Al-Murr menjelaskan : "Kami memutuskan untuk menyusun rencana dengan partisipasi dari semua aparat pemerintah terkait untuk membasmi semua tanaman ganja. Situasi sosial-ekonomi yang sulit dari para petani yang memelihara tanaman ganja ini akan dipertimbangkan. Namun, mencabut tanaman ganja ini penting karena mereka merusak reputasi Libanon.

Secara historis, kita tahu bahwa negara-negara yang berjanji kepada kita untuk membantu meningkatkan tanaman alternatif -ketika kami sebelumnya membicarakan hal ini- telah tidak (menepati) sesuai dengan komitmen mereka, meskipun kita memenuhi (persyaratannya). Kami tidak siap rakyat menjadi kelaparan hanya demi menyenangkan seseorang. Di sisi lain, kami juga tidak siap untuk mengotori reputasi daerah kami hanya untuk menenangkan orang lain. Kami akan mempertimbangkan kedua isu tersebut dalam rangka untuk mencapai solusi."

"Aku ingin menekankan kepada media asing yang akhir-akhir ini mengikuti permasalahan ini, bahwa ada perbedaan antara seorang petani miskin yang tidak bisa memberi makan anak-anaknya kecuali dengan membudidayakan tanaman ganja ini, dengan pengedar narkoba dan distributornya. Dalam enam bulan terakhir, kami telah menangkap lebih dari 1.600 pengedar narkoba. Kami menggunakan langkah-langkah keras terhadap pengedar narkoba tersebut. Penjara kami telah diisi oleh orang-orang tersebut (pengedar narkoba) dan kami menghadapi kelompok-kelompok mafia ini dengan sangat serius. Di sisi lain, petani hanyalah seorang petani dan bukan pengedar narkoba ataupun seorang mafia, dan kita harus mengambil situasinya sebagai pertimbangan..."

Al-Murr ditanya bagaimana para petani bisa dilindungi? : "Perdana Menteri dan Menteri Pertanian akan menyusun rencana untuk mendukung tanaman alternatif di wilayah tersebut..."

Al-Murr menambahkan : "Media asing telah mendorong tindakan dalam memerangi tanaman ganja tersebut dan kita tidak boleh lupa bahwa di balik itu terdapat kekuatan politik. Oleh karena itu, kita harus mempertimbangkan negara-negara penyumbang dan janji-janji mereka di saat kami memenuhi komitmen kami untuk kesejahteraan petani."[2]

Namun, sumber yang dekat dengan pemerintah mengatakan bahwa tidak ada niat untuk membayar kompensasi atas pemberantasan tanaman ganja tersebut, bahkan sebaliknya, akan ada kegiatan pemerintah dengan organisasi internasional untuk mendukung tanaman alternatif. Sumber-sumber resmi mengatakan pemberantasan tanaman ganja akan dilakukan dalam beberapa hari dan paling lambat waktu panen pada pertengahan September.[3]

Para pejabat senior Libanon mengatakan kepada Al-Nahar bahwa Libanon tidak akan mengangkat masalah ini dengan utusan Amerika Serikat yaitu William Burns kecuali dia mengangkat masalah ini pertama kali, dalam hal ini Libanon akan menuntut kompensasi sama dengan yang diberikan kepada Turki, Pakistan dan Maroko sebagai imbalan atas perjuangan mereka melawan ganja.[4]

Posisi Hizbullah

Setelah pernyataan pemerintah Libanon tersebut, kepala Hizbullah Perencanaan Dewan, Hussein Musawi, menyatakan bahwa Hizbullah menentang posisi pemerintah dan menyarankan agar pemerintah membeli tanaman ganja dari petani : "Kami siap untuk mencapai kesepakatan dengan Perdana Menteri, Menteri dalam Negeri dan Menteri Kehakiman. Aku memberitahu negara : "Silakan membeli ganja, anda tidak perlu menggunakan cara-cara militer ataupun helikopter. Orang-orang kami layak dihormati, bukan dihinakan. Kami harus berada di sisi orang-orang ini (petani ganja), dan kami akan melakukannya. Di manakah negara, ketika ganja itu ditanam? Mengapa mereka datang untuk memberantas ganja tersebut pada bulan Juni dan tidak pada bulan Februari atau Maret ketika ganja itu ditanam? Kirim helikopter dan tank-tank ke selatan [yaitu, melawan Israel] dan bukan untuk (memberantas) ladang ganja."[5]

Musawi juga membahas petani ganja : "Jangan percaya janji-janji negara, minta kompensasi untuk ganja sebelum mereka mencabutnya. Jika salah satu dari mereka kehilangan akal sehatnya dan bersikeras mencabutnya, lawan mereka. Wanita kami adalah ksatria, anak-anak kami adalah pejuang. Blokir jalan dengan tubuh kalian, tetapi tidak mengangkat senjata melawan petugas keamanan karena mereka adalah anak-anak kita."[6]

Musawi lanjut menegur pemerintah Libanon : "Jangan mempermalukan kami dengan menghadirkan kami sebagai pembela ganja, karena kami tidak dapat melihat buldoser menghancurkan pekerjaan petani setiap tahun."[7]

"Tujuan dari keputusan pemerintah adalah untuk mempermalukan Hizbullah. Akan tetapi Hizbullah terlalu pintar untuk membiarkan orang lain mempermalukan Hizbullah dan Hizbullah tahu kapan dan bagaimana melindungi rakyatnya."[8]

Anggota parlemen Libanon yang mewakili Ba'albec dan wilayah Al-Haramil di lembah Beqa’ Utara melakukan rapat untuk membahas keputusan pemerintah dan mengeluarkan pernyataan mengutuk kebijakan dalam mengabaikan masalah di wilayah tersebut. Mereka menuntut agar pemerintah menyusun rencana keseluruhan untuk membangun kembali perekonomian daerah, yakni bekerjasama dengan masyarakat internasional dan negara-negara penyumbang, yang sama dengan apa yang dilakukan di Turki dan Maroko, dengan menekankan bahwa memberikan petani dengan dua pilihan -kelaparan atau pertanian ganja- adalah tidak dapat diterima. Mereka menganggap pemerintah bertanggung jawab dalam mendorong para petani untuk memanen ganja dengan melihat tahun lalu dan penanaman ganja tahun ini yaitu dengan memotong subsidi untuk pertanian tebu."[9]

Kesimpulan

Ini bukan pertama kalinya Hizbullah bentrok dengan pemerintah Libanon atas masalah ganja. Pada bulan Maret 2001, pemerintah Libanon menyebarkan selebaran peringatan kepada petani dari menanam ganja dan menuntut kepala desa untuk melaporkan kegiatan tersebut. Anggota parlemen Hizbullah menyalahkan negara, yaitu "Menggunakan ancaman dan penindasan terhadap orang miskin."[10]

*Yotam Feldner is MEMRI’s Director of Media Analysis.


[1] Al-Mustaqbal, July 3, 2001.
[2] Al-Safeer, July 3, 2001.
[3] Al-Mustaqbal, July 3, 2001.
[4] Al-Nahar, July 4 2001.
[5] Al-Sharq Al-Awsat, July 4, 2001.
[6] Al-Anwar, July 3, 2001.
[7] Al-Anwar, July 3, 2001.
[8] Al-Nahar, July 4, 2001.
[9] Al-Sharq Al-Awsat, July 4, 2001.
[10] albawaba.com, July 4, 2001.

[www.memri.org/report/en/0/0/0/0/0/0/475.htm]