Tuesday, September 16, 2014

// // Leave a Comment

Imam Ali Haramkan Mutah

Imam Ali Haramkan Mutah

واما ما رواه محمد بن يحيى عن أبي جعفر عن أبي الجوزا عن الحسين بن علوان عن عمرو بن خالد عن زيد بن علي عن آبائه عن علي عليهم السلام قال: حرم رسول الله صلى الله عليه وآله يوم خيبر لحوم الحمر الأهلية ونكاح المتعة
تهذيب الأحكام - الشيخ الطوسي - ج ٧ - الصفحة ٢٥١
Muhammad bin Yahya meriwayatkan dari Abu Ja’far dari Abul Jauzaa dari al-Husain bin ‘Ulwan dari ‘Amru bin Khalid dari Zaid bin ‘Aliy dari ayah-ayahnya dari ‘Aliy ‘alaihim Salam, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi telah mengharamkan pada hari Khaibar daging keledai jinak dan nikah Mut’ah.
[Tahdzib al-Ahkam 7/251, ath-Thusiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1167_تهذيب-الأحكام-الشيخ-الطوسي-ج-٧/الصفحة_251]

Status Hadits Syiah Rafidhah : Shahih.

[-] Muhammad bin Yahya
شيخ أصحابنا في زمانه, ثقة, عين
رجال النجاشي - النجاشي - الصفحة ٣٥٣
Seorang Syaikh Shahabat kami pada zamannya, ia seorang Tsiqah ‘Ain.
[Rijal an-Najasyiy 353, an-Najasiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/2931_رجال-النجاشي-النجاشي/الصفحة_351#top]

[-] Abu Ja’far
أنه أحمد بن محمد بن عيسى "الثقة"
المفيد من معجم رجال الحديث - محمد الجواهري - الصفحة ٦٩٠
Ia adalah Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa, seorang yang Tsiqah.
[Al-Mufid min Mu’jam Rijal al-Hadits 690, Muhammad al-Jawahiriy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3021_المفيد-من-معجم-رجال-الحديث-محمد-الجواهري/الصفحة_0?pageno=690#top]

[-] Abul Jauzaa
المنبه بن عبد الله أبو الجوزاء التميمي: صحيح الحديث
المفيد من معجم رجال الحديث - محمد الجواهري - الصفحة ٦١٩
Al-Munabbih bin ‘Abdillah Abul Jauzaa at-Tamimiy : Shahihul Hadits.
[Al-Mufid min Mu’jam Rijal al-Hadits 619, Muhammad al-Jawahiriy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3021_المفيد-من-معجم-رجال-الحديث-محمد-الجواهري/الصفحة_0?pageno=619#top]

[-] Al-Husain bin ‘Ulwan
الكلبي عامي –ثقة-
المفيد من معجم رجال الحديث - محمد الجواهري - الصفحة ١٧٣
Al-Kalbiy ‘Aamiy –Tsiqah-.
[Al-Mufid min Mu’jam Rijal al-Hadits 173, Muhammad al-Jawahiriy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3021_المفيد-من-معجم-رجال-الحديث-محمد-الجواهري/الصفحة_0?pageno=173#top]

[-] ‘Amru bin Khalid
أن الرجل ثقة
معجم رجال الحديث - السيد الخوئي - ج ١٤ - الصفحة ١٠٣
Sesungguhnya ia adalah seorang laki-laki yang Tsiqah.
[Mu’jam Rijal al-Hadits 14/103, al-Khuiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3005_معجم-رجال-الحديث-السيد-الخوئي-ج-١٤/الصفحة_0?pageno=103#top]

[-] Zaid bin ‘Aliy adalah Imam Ahlul Bait.

Bagi Tanya Syiah tidak ada masalah jika kaum Rawafidh (Syiah Rafidhah) menghalalkan Mut’ah, agar mereka (Syiah Rafidhah) dikutuk selamanya hingga hari Kiamat sebagai Laki-Laki dan Wanita Syiah Pemut’ah yang Mut’ahan di mana mereka lahir sebagai Anak Mut’ah sehingga menjadi Ahlul Mut’ah.

Sedangkan bagi kaum Muslimin beserta Ahlul Bait telah ijma’ bahwasanya Mut’ah telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ لِفُلَانٍ إِنَّكَ رَجُلٌ تَائِهٌ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ
Dari ‘Aliy bin Abi Thalib, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak.”
Ia pernah mendengar Aliy bin Abi Thalib berkata kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang sesat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang kami... [sama dengan redaksi hadits yang di atas yaitu melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak]
[Muslim no.2510]

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ
Dari ‘Aliy, “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang nikah Mut’ah pada perang Khaibar dan (makan) daging keledai jinak.”
[Muslim no.2511]

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يُلَيِّنُ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَقَالَ مَهْلًا يَا ابْنَ عَبَّاسٍ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهَا يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
Dari ‘Aliy, bahwasanya ia mendengar Ibnu ‘Abbas lunak (tidak tegas) mengenai menikahi wanita secara Mut’ah. Lantas ia (‘Aliy) berkata, “Sebentar wahai Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarangnya pada perang Khaibar dan (makan) daging keledai jinak.”
[Muslim no.2512]

أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ لِابْنِ عَبَّاسٍ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
Bahwasanya ia telah mendengar ‘Aliy bin Abi Thalib berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak.”
[Muslim no.2513]

أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ
Bahwasanya ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang nikah Mut’ah dan (makan) daging keledai jinak pada masa Khaibar.
[Bukhari no.4723]

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ تَوَافَقَا فَعِشْرَةُ مَا بَيْنَهُمَا ثَلَاثُ لَيَالٍ فَإِنْ أَحَبَّا أَنْ يَتَزَايَدَا أَوْ يَتَتَارَكَا تَتَارَكَا فَمَا أَدْرِي أَشَيْءٌ كَانَ لَنَا خَاصَّةً أَمْ لِلنَّاسِ عَامَّةً قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَبَيَّنَهُ عَلِيٌّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَنْسُوخٌ
Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Siapa saja laki-laki dan wanita yang sepakat (Mut’ah) maka pergaulan di antara keduanya adalah 3 (tiga) malam. Jika keduanya ingin untuk melebihkan atau saling meninggalkan, maka keduanya dapat berpisah.” Aku (perawi) tidak tahu apakah itu dikhususkan untuk kami atau untuk manusia secara umum.” Abu Abdullah berkata, “’Aliy telah menjelaskan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa ia (Mut’ah) telah manskuh (dihapus).”
[Bukhari no.4725]

وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ تَحْرِيمُ الْمُتْعَةِ كَالْإِجْمَاعِ إِلَّا عَنْ بَعْضِ الشِّيعَةِ وَلَا يَصِحُّ عَلَى قَاعِدَتِهِمْ فِي الرُّجُوعِ فِي الْمُخْتَلِفَاتِ إِلَى عَلِيٍّ وَآلِ بَيْتِهِ فَقَدْ صَحَّ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهَا نُسِخَتْ
Al-Khaththabiy berkata, “Pengharaman Mut’ah berdasarkan ijma’ kecuali dari sebagian Syiah, namun (hal ini) tidak sesuai dengan kaidah mereka (Syiah) dalam mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada ‘Aliy dan Ahlul Baitnya. Dan telah Shahih dari ‘Aliy bahwasanya ia (Mut’ah) telah mansukh (dihapus).”
[Fathul Baariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]