Monday, September 01, 2014

// // Leave a Comment

Pabrik Narkoba Hizbullah Syiah Hizbul Ganja

Pabrik Narkoba Hizbullah Syiah Hizbul Ganja

Hizbullah dan Skandal Captagon

 
MTV, (saluran) televisi Lebanon, mengungkapkan terdapat skandal narkoba di mana para kerabat dari anggota parlemen yang disebut sebagai Hizbullah telah ikut terlibat. MTV mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya pada hari Rabu, 7 Maret, 2012 yang mengatakan bahwasanya Imad al-Moqdad dan Hesham serta Jihad al-Moussawi, yaitu kerabat anggota parlemen Hizbullah yakni Hussein Moussawi, masih bersembunyi setelah mereka dituduh dalam pabrikasi dan (kegiatannya) yang berhubungan dengan pil-pil obat-obatan Captagon. Setelah penyitaan yang dilakukan oleh bea cukai Libanon atas dua mesin yang diimpor dari China, yang digunakan untuk memproduksi pil-pil Captagon, Marwan Saad seorang produsen ahli narkoba yang dikenal sebagai "Dokter" telah ditangkap. Seorang agen bea cukai di pelabuhan Beirut juga ditangkap setelah penyitaan lima ton kafein dan 2330 liter ether (bahan campuran narkoba) yang telah diimpor dan bahan-bahannya yang kemudian disembunyikan. Interogasi polisi terhadap Marwan Saad menyebabkan penangkapan lebih lanjut terhadap sepuluh orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut termasuk dua bersaudara dari wakil Hizbullah (di parlemen) yaitu Hussein Moussawi, dua tersangka lainnya yakni al-Moqdad, dan lainnya adalah Moussa, Ismaiil, Al Zein, Fakhry dll... termasuk penangkapan di wilayah Bekaa atas seseorang yang mengaku bahwa ia mencampur bahan kimia untuk memproduksi pil-pil narkotika. Sebelum berita ini (dibuat), Hassan Sabra, pemilik jurnal al-Shiraa telah menerbitkan artikel yang mengundang perhatian mengenai pabrikasi pil-pil narkotika dan jaringan penyelundupan di bawah penyamaran yang disebut sebagai Hizbullah.

[ireport.cnn.com/docs/DOC-759849]



Pabrik Narkoba Hizbullah Syiah Hizbul Ganja.
[https://www.youtube.com/watch?v=dbPtZ4u-bWI]

Pemerintah Lebanon telah menyergap produksi Captagon dan operasi yang berhubungan dengannya. Keunikan kasus ini terletak pada fakta bahwasanya pengedar narkoba tersebut adalah seorang Pendeta bersurban (Syiah Rafidhah).

Beberapa bulan yang lalu seorang pejabat bea cukai mengharapkan kedatangan ke Libanon atas dua mesin untuk membuat cokelat. Seorang karyawan yang terlibat dalam proses pengiriman dari China mengatakan kepadanya bahwa (mesin-mesin) tersebut dirancang untuk memproduksi narkoba. Ahmad memberitahukan kepada unit kontrol bea cukai. (Sehingga) agen bea cukai mampu menyita dua mesin yang digunakan untuk memproduksi obat yang dikenal sebagai Captagon dan importirnya adalah Marwan S., telah ditangkap.

Importir tersebut dikenal sebagai "dokter" telah menarik perhatian para penyidik. Sehingga investigasi paralel dilakukan di Kantor Pusat Pengawasan Obat untuk memverifikasi identitasnya. Jika orang tersebut adalah orang yang mereka duga, maka pasukan keamanan telah mendapatkan jackpot dikarenakan ia merupakan salah satu orang yang paling dicari atas terlibatnya dalam pembuatan narkoba di Libanon.

Ternyata benar saja, interogasi mengungkapkan bahwasanya Marwan S. diduga sebagai "dokter." Dia mengaku bahwa dia memproduksi narkoba dan mengedarkan bahan baku narkoba yang dibuat, dan mesinnya digunakan dalam proses tersebut. Ternyata salah satu mesin yang disita (sebenarnya) akan dibawa ke Bekaa, sedangkan mesin lainnya (akan dibawa) ke Utara.

Informasi yang diberikan oleh "dokter" menyebabkan penyitaan lima ton kafein cair dan 2.330 liter ether yang digunakan untuk membuat Captagon. Hal ini juga memberikan kontribusi terhadap penangkapan agen bea cukai di Pelabuhan Beirut yang bernama Pierre H. yang sepertinya mengimpor bahan-bahan yang disita serta menyembunyikannya. Seorang pensiunan ahli kimia dengan Pasukan Keamanan Dalam Negeri juga ditangkap dan 100 kilogram kafein yang ia membelinya dari "dokter" telah disita (juga) di rumahnya.

Tiga tersangka yang ditangkap telah mengakui bahwa sekitar 10 orang telah terlibat dengan mereka dalam operasi pembuatan narkoba.

Surat perintah penyidikan dan investigasi yang diterbitkan dan cabang Bekaa Kantor Pengawasan Narkoba mampu menangkap Ahmad Z. dan saudaranya yakni Mahdi di kota Iaat.

Ahmad mengakui mencampur bahan kimia untuk memproduksi narkoba untuk Imad M. dan rekannya, yakni seorang Syaikh (ulama Islam Pendeta Syiah Rafidhah) yang disebut Hashem M. dari kota Nabi Shit.

Kemudian ditentukanlah bahwasanya saudara sang Syaikh (Pendeta Syiah Rafidhah) yakni Jihad sedang mempersiapkan untuk menerima campuran dan mengembalikannya sebagai "pil-pil yang ditandai dengan logo Captagon."

Ahmad juga mengatakan bahwa ia mendapatkan bahan baku dari Marwan S., yang dikenal sebagai "dokter," dan biasanya ia memberikan pil-pil tersebut kepada dua orang yang berasal dari kota Ersal, yang pada selanjutnya diselundupkan oleh mereka.

Kebetulan, Arab Saudi merupakan konsumen terbesar dari tablet-tablet Captagon (yang diedarkan oleh Syiah Rafidhah Hizbul Ganja).

Memperluas investigasi atas Ahmad menyebabkan penyitaan empat ton bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan tablet-tablet Captagon yang disembunyikan di sebuah gudang di Iaat milik Nazir Kh.

Yang terakhir ditangkap namun ia membantah hubungannya dengan operasi pabrikasi dengan mengatakan bahwa ia menyewakan gudang untuk Ahmad Z. dan saudara iparnya yakni Hussein AM.

Kemudian rumah Zulfiqar M., sopir sang syaikh (Pendeta Syiah Rafidhah), digerebek dan beberapa alat pembuatan narkoba disita serta bahan baku yang digunakan dalam proses pabrikasi tersebut, tetapi Zulfiqar berhasil melarikan diri.

Pada saat yang sama, pasukan keamanan menerima informasi bahwa sebuah sekolah agama (hauzah ilmiyyah - sekolah Islam (Syiah Rafidhah) seminari atau tradisional pendidikan tinggi) di Bekaa yang terletak di kawasan al-Asira sedang digunakan sebagai penyamaran untuk memproduksi narkoba dan terhubung langsung dengan sang Syaikh (Pendeta Syiah Rafidhah).

Sekolah tersebut telah menerima lisensi dari mufti Bekaa, Syaikh Khalil Shuqair, tetapi kemudian dicabut kembali.

Sehingga operasi pengawasan dimulai dalam berkoordinasi dengan pimpinan Hizbullah. Pihak yang berada di dalam Hizbullah mengambil tugas sebagai verifikasi informasi.

Penyelidikan dari mereka yang ditangkap dan informasi yang dikumpulkan oleh pasukan keamanan menyebabkan penemuan sebuah gudang yang berisi pabrik kimia untuk memproduksi narkoba di daerah antara el-Tiro dan Choueifat. Gudang digerebek dan mesin-mesin untuk memproduksi narkoba serta bahan obat-obatan kimia telah ditemukan.

Seorang pejabat keamanan mengatakan bahwa pabrik tersebut memiliki skala yang sama seperti pabrik kokain besar di Columbia. Pasukan keamanan menemukan bahwa (pabrik) tersebut milik Haidar Th. yang ditangkap setelah ia dijebak.

Haidar mengatakan bahwa ia memproduksi dasar amfetamin dengan seorang guru kimia yakni Farouk M. (yang bekerja) untuk sang Syaikh (Pendeta Syiah Rafidhah) dan Imad M., mengungkapkan bahwa terdapat seorang Syaikh (Pendeta Syiah Rafidhah) lainnya, yang bernama Abbas N., yang mengangkut bahan baku ke pabrik dan menerima barang-barang yang telah diproduksi. Setelah “operasi sengatan”, guru kimia tersebut ditangkap di Haret Hreik dan Syaikhnya (Pendeta Syiah Rafidhah) (ditangkap) di pos pemeriksaan Dahr al-Baydar.

Para penyidik mulai menginterogasi mereka yang baru ditangkap. Sang Syaikh (Pendeta Syiah Rafidhah), yang menolak untuk melepas sorban kepala agamanya (Syiah Rafidhah) selama interogasi, mengatakan bahwa "ada perintah agama yang membolehkan penggunaan [Captagon]-nya karena merupakan perangsang, bukan narkoba."

Guru kimia dibenarkan telah terlibat dalam pembuatan narkoba dengan mengatakan "negara telah menyia-nyiakan kami." Ia mengaku membuat sekitar $ 1,5 juta dalam waktu yang singkat.

Penyelidikan juga mengungkapkan bahwa Haidar Th. dan Farouk M. telah memproduksi narkoba di gudang ini sejak tahun 2007, dengan menghasilkan $ 300 untuk setiap kilogram dasar amfetamin. Keduanya mengaku membuat sekitar $ 1,5 juta dari manufaktur narkoba untuk Syaikh Hashem (Pendeta Syiah Rafidhah) dan rekannya Imad M.

Namun pasukan keamanan tidak bisa menangkap Syaikh Hashem (Pendeta Syiah Rafidhah), saudaranya yakni Jihad ataupun Imad M. Ternyata ia telah melarikan diri satu jam sebelum rumahnya digerebek dan terdapat informasi yang bertentangan tentang keberadaannya. Ada rumor bahwa ia melarikan diri ke Turki atau Irak.

Marwan S. dilepaskan oleh Pengadilan Kriminal Baabda dengan imbalan jaminan moneter. Informasi yang beredar di Bekaa menunjukkan bahwa dua bersaudara buronan tersebut pernah meninggalkan Libanon dan bahwasanya Hizbullah sedang berusaha keras untuk membantu dalam penangkapan mereka.

Hizbullah memberitahukan kepada kehakiman dan keamanan bahwa (Hizbullah) tidak memberikan perlindungan politik bagi siapapun dan orang-orang yang berkaitan dengan pengejaran mereka yang terlibat tanpa memperhatikan jabatan mereka atau hubungan keluarga apapun yang beberapa dari mereka mungkin saja memiliki hubungan dengan para pejabat (Hizbullah) di partai.

[english.al-akhbar.com/node/8244]