Wednesday, October 29, 2014

// // Leave a Comment

Qama Zani Syiah Lukai Kepala dg Pisau

Qama Zani Syiah Lukai Kepala dg Pisau


Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 01:30 – 01:55
Qama Zani adalah bentuk dari bekam, yakni bekam kepala adalah termasuk salah satu bentuk bekam yang terbaik.
Namun kami tidak hanya menyebutnya sebagai “praktek medis”. (Sebagai contoh) jika kita berpuasa, maka kita melakukannya dikarenakan mengikuti perintah Allah. bukan dikarenakan memperoleh manfaat fisik dalam melakukannya.
Kita tidak seharusnya mencampurkan permasalahan kesehatan dengan keyakinan beragama (Syiah Rafidhah).

Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 03:20 – 03:38
Beberapa tahun yang lalu, mereka bertanya kepada salah satu Marji’ besar di Isfahan.
Pertanyaan : Apa hukumnya Qama Zani?
Jawab : Hal ini (Qama Zani) merupakan kecintaan yang tidak bisa diputuskan hukumnya.

Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 03:39 – 03:55
Dan permasalahan Qama Zani, aku, selama hidupku yang lebih dari 70 tahun, tidak pernah mendengar seorang Marji’, bahkan seorang pun yang mengatakan bahwa hal ini (Qama Zani) adalah haram.

[https://www.youtube.com/watch?v=GknfI5IdV_A&feature=youtu.be]

استفتاءات (بهجت)؛ ج‌4، ص: 539
قمه‌زنى
6383.
نظر مباركتان را در مورد قمه‌زنى بيان فرماييد. ج. حكمش به عنوان اوّلى عدم ضرر رساندن به خود يا ديگرى است، به حدّى كه حرام باشد؛ پس اگر مضرّ نباشد و مفسده‌اى هم بر آن مترتب نباشد فى نفسه اشكال ندارد
Istiftaat (Bahjat Pendeta Syiah Rafidhah) 4/539
Qama Zani
Pertanyaan 6383 : Bagaimana pandangan anda mengenai permasalahan Qama Zani (memukulkan pisau Qama ke kepala)?
Jawab : Hukum awalnya adalah tidak ada kemudharatan yang menimpa dirinya dan yang lainnya sampai ke batas keharaman. Oleh karena itu (Qama Zani), jika tidak memudharatkan dan tidak menimbulkan mafsadah, maka pada dasarnya adalah tidak masalah (halal).
[https://www.facebook.com/notes/sang-pencinta/fatwa-ayt-bahjat-ra-ttg-qameh-zanitatbir/653069404742969]
Read More

Saturday, October 25, 2014

// // Leave a Comment

Tathbir Syiah Lukai Kepala dengan Pedang Fatwa Syiraziy

Tathbir Syiah Lukai Kepala dengan Pedang


س: ما هو حكم التطبير شرعاً؟
ج: مستحب.
Pertanyaan : Apa hukumnya Tathbir (memukulkan senjata tajam ke kepala) secara syari’at?
Jawab : Dianjurkan.

س: ما هو حكم التطبير وجرح الرؤوس بالقامات والسيوف؟
ج: جائز, بل مستحب مؤكد.
Pertanyaan : Apa hukumnya Tathbir (memukulkan senjata tajam ke kepala) serta melukai kepala dengan pisau (qama) ataupun dengan pedang?
Jawab : Diperbolehkan, bahkan sangat dianjurkan.

[Syiraziy Pendeta Syiah Rafidhah]
[www.alshirazi.com/rflo/s_shirazi/esteftaa_shaaer/2.htm]
Read More
// // Leave a Comment

Ratapan Asyura Syiah Iran Masuk Neraka

Ratapan Asyura Syiah Iran Masuk Neraka

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Terdapat 4 (empat) perkara di umatku yang termasuk perbuatan jahiliyyah yang mereka belum meninggalkannya, yaitu : bangga terhadap kedudukan, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang-bintang, dan meratap (niyahah).”
Kemudian beliau melanjutkan, “Ratapan (niyahah), jika belum bertaubat sebelum kematiannya, maka akan dibangkitkan pada hari Kiamat dengan memakai pakaian yang terbuat dari ter (yakni hitam warnanya) dan baju dari kudis.” [Muslim no.1550]
Read More

Sunday, October 19, 2014

// // Leave a Comment

Syiah Bantai Husain Asyura Karbala Irak [Goresan Pena Tanya Syiah Part 17]

Syiah Bantai Husain Asyura Karbala Irak

Karbala adalah sebuah tempat di mana Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu tewas terbunuh, yang merupakan cucu kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ia telah menjadi korban pengkhianatan dan pembunuhan oleh Syiah yang berasal dari Irak.
Read More

Sunday, October 12, 2014

// // Leave a Comment

Syiah Bunuh Imam al Husain Ahlul Bait

Syiah Bunuh Imam al Husain Ahlul Bait


Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 00:45 – 00:50
Sehingga kita (Syiah Rafidhah) menjadi seperti orang-orang Kufah (Syiah) yang mengundang Imam (al-Hussain) dan meninggalkannya.

Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 00:51 – 01:00
Kejahatan pertama adalah mereka (Syiah) mengajaknya (al-Hussain) untuk menjadi pemimpin mereka dan penyelamat mereka. Kemudian mereka (Syiah) menyerangnya dan membunuhnya.

Menit 01:30 – 01:45
Al-Hussain tidak dilempar ke dalam sumur (seperti kisah Nabi Yusuf atas pengkhianatan saudaranya), namun ia dibunuh.
Mereka (Syiah) berkata kepadanya untuk datang, kami tidak memiliki pemimpin, buah-buahan telah matang. Bersegeralah datang, karena sesungguhnya engkau akan mendapatkan pasukan yang besar.

Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 01:51 – 01:50
Sesungguhnya orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam pembunuhan al-Hussain, yakni sekitar 90%-80% adalah pernah shalat di belakang Amirul Mukminin (‘Aliy).
Syimr dikenal sebagai Syiah Amirul Mukminin (‘Aliy).
Syimr yang telah membunuh al-Hussain. Ia pernah shalat di belakang Amirul Mukminin.

[https://www.youtube.com/watch?v=h8u9vGHw0eU&feature=youtu.be]

وَلَا رَيْبَ فِي أَنَّ الْكُوفَةَ كَانُوا مِنْ شِيْعَةِ عَلِيٍّ وَأنَّ الَّذِينَ قَتَلُوا الْإِمَامَ الْحُسَيْنَ هُمْ شِيْعَتُهُ
الْملحمة الْحُسَيْنية - مُرْتَضى الْمُطَهِّري - ج1 ص 129
“Tidak ada keraguan bahwa orang-orang Kufah adalah Syiah ‘Aliy, dan bahwasanya yang membunuh Imam al-Husain adalah Syiah-nya.”
[Al-Malhamah al-Husainiyyah 1/129, Murtadha al-Muthahariy Pendeta Syiah Rafidhah]

بِأَنَّ مَقْتَلَ الْحُسَيْنِ عَلَى يَدِ الْمُسْلِمِينَ بَلْ علي يَدِ الشِّيعَةِ
الْملحمة الْحُسَيْنية - مُرْتَضى الْمُطَهِّري -  ج3 ص 94
“Bahwa sesungguhnya pembunuhan al-Husain adalah berada di tangan kaum Muslimin, bahkan di tangan Syiah.”
[Al-Malhamah al-Husainiyyah 3/94, Murtadha al-Muthahariy Pendeta Syiah Rafidhah]
Read More

Wednesday, October 01, 2014

// // Leave a Comment

Syiah Hina Haji Sebagai Kera Dan Babi

Syiah Hina Haji Sebagai Kera Dan Babi


Pendeta Syiah Rafidhah Menit 00:07 – 02:12

Imam al-Baqir pada suatu hari yakni di saat pelaksanaan Haji, beliau melihat ke Ka’bah.
Imam melihat orang-orang sedang melakukan thawaf di Baitullah al-Haram seraya mengucapkan dengan keras “Labbaik....”
Abu Bashir berada di sebelah Imam, Abu Bashir adalah seorang yang buta, sehingga ia hanya bisa mendengar suara.
Ia (Abu Bashir) berkata kepada Imam, “Wahai Sayyidku, keturunan Rasulullah, Masya Allah di tahun ini banyak sekali orang-orang yang melakukan Haji.”
Imam menjawab, “Ada apa?”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Ada banyak Jama’ah Haji di sini dan banyak sekali suaranya.”
Kemudian Imam berkata kepadanya, “Meskipun terdapat banyak suara, namun sedikit Jama’ah Hajinya.”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Kenapa? Bukankah orang-orang ini datang ke Ka’bah untuk beribadah?”
Imam berkata, “Wahai Abu Bashir, apakah engkau menginginkan bukti yang nyata?”
Ia (Abu Bashir) menjawab, “Iya.”
Berdasarkan riwayat, bahwasanya Imam memintanya untuk mendekat kepadanya. Setelah itu Imam meletakkan tangannya ke matanya serta mengusapnya, seraya berkata, “Ya Allah, kembalikanlah penglihatannya.”
Sehingga Abu Bashir dapat melihat dan memandang orang-orang yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah. Imam pun bertanya kepada Abu Bashir, “Apa yang engkau lihat dan apa yang engkau pandang?” -Lihatlah riwayat yang ajib ini, yakni keutamaan Ahlul Bayt-
Jadi Imam bertanya kepadanya apa yang dilihatnya.
Ia (Abu Bashir) berkata, “Wahai Sayyidku, aku melihat Kera-Kera dan Babi-Babi, dan di antara mereka terdapat bintang-bintang yang cemerlang yang sedang tawaf di Ka’bah.”
Imam berkata, “Bintang-bintang tersebut adalah Syiah kita.”

[https://www.youtube.com/watch?v=YcF2PFGmfjM]

عن أبي بصير قال: حججت مع أبي عبد الله عليه السلام فلما كنا في الطواف قلت له: جعلت فداك يا ابن رسول الله، يغفر الله لهذا الخلق؟ فقال: يا أبا بصير إن أكثر من ترى قردة وخنازير, قال: قلت له: أرنيهم قال: فتكلم بكلمات ثم أمر يده على بصري فرأيتهم قردة وخنازير فهالني ذلك,
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٧ - الصفحة ٧٩
Dari Abu Bashir, ia berkata :
Aku pernah melaksanakan Haji bersama Abu ‘Abdillah ‘alaihi Salam, tatkala kami melakukan thawaf aku bertanya kepadanya, “Aku sebagai tebusanmu wahai keturunan Rasulullah, apakah Allah akan mengampuni orang-orang ini?”
Kemudian ia (Abu ‘Abdillah) menjawab, “Wahai Abu Bashir, kebanyakan orang-orang yang engkau lihat adalah Kera-Kera dan Babi-Babi.”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Aku berkata kepadanya, perlihatkanlah mereka kepadaku.”
Lalu ia (Abu ‘Abdillah) berkata dengan suatu kalimat, kemudian mengusapkan tangannya ke penglihatanku (Abu Bashir), sehingga aku (Abu Bashir) melihat mereka (dalam bentuk) Kera-Kera dan Babi-Babi, maka aku pun terkejut (melihatnya).
[Bihar al-Anwar 47/79, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1478_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٧/الصفحة_0?pageno=79#top]
Read More
// // Leave a Comment

Khomeini Hina Aisyah Khabits Kotor Najis

Khomeini Hina Aisyah Khabits Kotor Najis

وأما سائر الطوائف من النصاب بل الخوارج فلا دليل على نجاستهم وإن كانوا أشد عذابا من الكفار, فلو خرج سلطان على أمير المؤمنين عليه السلام لا بعنوان التدين بل للمعارضة في الملك أو غرض آخر كعائشة وزبير وطلحة ومعاوية وأشباههم أو نصب أحد عداوة له أو لأحد من الأئمة عليهم السلام لا بعنوان التدين بل لعداوة قريش أو بني هاشم أو العرب أو لأجل كونه قاتل ولده أو أبيه أو غير ذلك لا يوجب ظاهرا شئ منها نجاسة ظاهرية. وإن كانوا أخبث من الكلاب والخنازير لعدم دليل من إجماع أو أخبار عليه
كتاب الطهارة - السيد الخميني - ج ٣ - الصفحة ٣٣٧
Sedangkan kelompok-kelompok lainnya yang berasal dari kalangan Nawashib, bahkan Khawarij sekalipun, tidak terdapat dalil akan kenajisan mereka, meskipun mereka mendapatkan adzab yang lebih pedih dari kaum Kuffar. Seandainya seorang Shulthan memberontak terhadap Amirul Mukminin (Aliy) ‘alaihi Salam yang bukan bertujuan (alasan) agama, namun (bertujuan) sebagai oposisi dalam (merebut) kepemimpinan atau memiliki tujuan lainnya seperti ‘Aisyah, Zubair, Thalhah serta Mu’awiyyah dan yang semisalnya. Begitu juga yang memusuhi dengan sebuah permusuhan terhadapnya (Aliy) atau yang (memusuhi) seseorang yang berasal dari para Imam ‘alaihim Salam yang bukan bertujuan (alasan) agama, namun untuk memusuhi Quraisy atau Bani Hasyim atau ‘Arab atau juga dikarenakan ia (Aliy) telah membunuh anaknya atau ayahnya atau yang selainnya. Meskipun tidak dianggap secara dzhahir sebagai najis yang nampak, namun sesungguhnya mereka itu lebih Khabits/Kotor/Najis dari anjing-anjing dan babi-babi, dikarenakan tidak adanya dalil dari ijma’ dan riwayat mengenainya.
[Kitab ath-Thaharah 3/337, al-Khumainiy (Khomeini) Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/496_كتاب-الطهارة-السيد-الخميني-ج-٣/الصفحة_336]
Read More