Sunday, November 16, 2014

// // Leave a Comment

Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala [Goresan Pena Tanya Syiah Part 18]

Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala

Syiah Rafidhah pada bulan Muharram di setiap tahunnya memiliki sebuah ritual ratapan niyahah matam tathbir dalam rangka memperingati hari Syahidnya Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu, yakni di setiap tanggal 10, yaitu dengan menggebuk-gebuk dada atau mengkeplak-keplak kepala yang biasa dikenal dengan nama Sina Zani, dan ada pula yang lebih ekstrim lagi dalam memperingatinya, dengan memukulkan senjata tajam baik berupa pedang atau pun pisau yang terkenal dengan nama Qama Zani serta juga dengan rantai berpisau yang disebut dengan Zanjir Zani.

Di sisi lain, kaum Muslimin melaksanakan sebuah syariat yang sangat agung, yakni puasa sunah ‘Asyura yang telah diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Dan puasa hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya. [Muslim no.1976]

Namun syariat ini mendapatkan penolakan keras dari para penganut agama Syiah Rafidhah, dikarenakan menurut prasangkaan mereka (Syiah Rafidhah) bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika hijrah ke Madinah, beliau tiba di bulan Rabi’ul Awwal yang merupakan bulan ke-3 (tiga) dari bulan-bulan Hijriyah. Sedangkan puasa Asyura disyariatkan pada bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dari bulan-bulan Hijriyah. Sehingga sangat mustahil di bulan Rabi’ul Awwal dapat menemukan orang-orang Yahudi yang sedang berpuasa yang berimplikasi disyariatkannya puasa Asyura di bulan Muharram bagi kaum Muslimin.

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Setelah tiba di Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyura. Lalu beliau bertanya, “Ada apa (dengan hari) ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik, pada hari ini Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, sehingga Musa pun berpuasa.” Lantas beliau bersabda, “Aku lebih berhak untuk mengikuti Musa dari pada kalian, maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa (pada hari tersebut).” [Bukhari no.1865]

Sebenarnya dalam menjawab penolakan para penganut agama Syiah Rafidhah tersebut, dapat dijawab dalam 2 (dua) sisi, sebagaimana yang akan Tanya Syiah kutip dari kitab Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani Rahimahullah.

وَلَا شَكَّ أَنَّ قُدُومَهُ كَانَ فِي رَبِيعٍ الْأَوَّلِ فَحِينَئِذٍ كَانَ الْأَمْرُ بِذَلِكَ فِي أَوَّلِ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ وَفِي السَّنَةِ الثَّانِيَةِ فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ فَعَلَى هَذَا لَمْ يَقَعِ الْأَمْرُ بِصِيَامِ عَاشُورَاءَ إِلَّا فِي سَنَةٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ فوض الْأَمْرُ فِي صَوْمِهِ
Tidak diragukan lagi, bahwa tibanya beliau (di Madinah) adalah pada bulan Rabi’ul Awwal, dan ketika itu perintah (berpuasa) tersebut (diperintahkan) pada awal tahun ke-2 (dua). (Namun) pada tahun ke-2 (dua) diwajibkanlah (puasa) bulan Ramadhan, sehingga (perintah) melaksanakan puasa Asyura tersebut tidaklah terjadi melainkan berada dalam satu tahun, kemudian diserahkan ke (masing-masing orang) bagi yang hendak berpuasa.
[Fathul Bari 4/246, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

وَقَدِ اسْتُشْكِلَ ظَاهر الْخَبَر لَا قتضائه أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قُدُومِهِ الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَإِنَّمَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ فِي رَبِيعٍ الْأَوَّلِ
Khabar (hadits) tersebut terkesan isykal, yaitu menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang melaksanakan puasa ‘Asyura. Padahal beliau tiba di Madinah pada bulan Rabi’ul Awwal.

وَالْجَوَابُ عَنْ ذَلِكَ أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ أَوَّلَ عِلْمِهِ بِذَلِكَ وَسُؤَالِهِ عَنْهُ كَانَ بَعْدَ أَنْ قَدِمَ الْمَدِينَةَ لَا أَنَّهُ قَبْلَ أَنْ يَقْدَمَهَا عَلِمَ ذَلِكَ وَغَايَتُهُ أَنَّ فِي الْكَلَامِ حَذْفًا تَقْدِيرُهُ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَأَقَامَ إِلَى يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ فِيهِ صِيَامًا
Jawabnya, bahwa yang dimaksud awal beliau mengetahui hal tersebut dan pertanyaan tentangnya diajukan oleh beliau adalah setelah tiba di Madinah, bukan sebelum tiba (di Madinah) beliau telah mengetahuinya. Sehingga dalam redaksi ini terdapat kalimat yang tidak disebutkan dengan mentakdirkannya (mengasumsikannya), yaitu “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tiba di Madinah serta menetap hingga hari ‘Asyura dan mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa di (hari) tersebut.”

وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ أُولَئِكَ الْيَهُودُ كَانُوا يَحْسِبُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ بِحِسَابِ السِّنِينَ الشَّمْسِيَّةِ فَصَادَفَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ بِحِسَابِهِمُ الْيَوْمَ الَّذِي قَدِمَ فِيهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ
Mungkin juga, orang-orang Yahudi melakukan hal yang demikian dengan menghitung hari ‘Asyura dengan hisab (perhitungan) tahun Syamsiyyah, dan menjadikan hari ‘Asyura tersebut sesuai perhitungan mereka, yang bertepatan dengan hari tibanya (Nabi) Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di Madinah.

[Fathul Bari 4/247, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Dalam menyikapi jawaban yang ke-2 (dua), yaitu mengenai “orang-orang Yahudi melakukan hal yang demikian dengan menghitung hari ‘Asyura dengan hisab (perhitungan) tahun Syamsiyyah, dan menjadikan hari ‘Asyura tersebut sesuai perhitungan mereka.”

Tanya Syiah akan mengajak teman-teman untuk melakukan sebuah eksperimen kecil dalam membuktikan perhitungan tersebut.

Pada hari Senin, 8 Rabi’ul Awwal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam singgah di Quba.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tinggal di Quba selama empat hari; Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis.
Beliau berjalan menuju Madinah namun ketika di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf, waktu Jum’at sudah masuk, lalu beliau melakukan shalat Jum’at bersama mereka di Masjid.
Seusai shalat Jum’at, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memasuki kota Madinah.
[Ar-Rahiq al-Makhtum 236-238, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury]

Dengan data tersebut di atas, maka kita dapat menghitung tanggal tibanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan perhitungan sebagai berikut :
Senin = 8 Rabi’ul Awwal
Selasa = 9 Rabi’ul Awwal
Rabu = 10 Rabi’ul Awwal
Kamis = 11 Rabi’ul Awwal
Jum’at = 12 Rabi’ul Awwal
Sehingga kita dapat mengetahui bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tiba di Madinah pada hari Jum’at di tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun pertama Hijriyah.

Oleh karena itu, Tanya Syiah berusaha untuk mengkonversikan tanggal hijriyah tersebut ke dalam tanggal Masehi.

Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala
[www.islamicfinder.org/dateConversion.php?mode=hij-ger&day=12&month=3&year=1&date_result=1]

Dengan konversi tersebut di atas, Tanya Syiah dapat mengetahui bahwasanya tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun pertama Hijriyah sama dengan tanggal 23 September tahun 622 Masehi.

Setelah itu, Tanya Syiah mencoba kembali untuk mengkonversikan tanggal Masehi tersebut ke dalam tanggal menurut perhitungan Yahudi.

Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala
[www.hebcal.com/converter/?gd=23&gm=9&gy=622&g2h=1]

Dengan melakukan konversi kembali dari tanggal Masehi ke dalam tanggal Yahudi, maka Tanya Syiah mendapatkan tanggal 23 September tahun 622 Masehi sama dengan tanggal 10 Tishri tahun 4383.

Lalu ada apa dengan tanggal 10 Tishri menurut keyakinan Yahudi? Oleh karena itu Tanya Syiah akan mengutipnya dari sumber Yahudi.

Asyura (hari kesepuluh)
Hari berpuasa (yang dilakukan) di antara orang-orang Islam, dalam memperingati hari kesepuluh di bulan Muharram, dan yang berasal dari hari Yahudi dalam penebusan dosa, yang diselenggarakan pada tanggal 10 Tishri (Lev. xvi. 29, xxiii. 27). Namanya berasal dari Aram yang merupakan bentuk kata Ibrani “Asor” (kesepuluh), yang masih dapat ditemukan di dalam puisi liturgis untuk hari penebusan dosa ( , M. Sachs, "Festgebete der Israeliten," 4th ed., pt. iv. 88).
[www.jewishencyclopedia.com/articles/2007-ashura]

Yom Kippur - Hari penebusan dosa (Tishri 10) adalah hari yang paling suci di dalam tahun Yahudi. Hari tersebut adalah hari berpuasa yang di mana tidak ada aktifitas kerja dan sejenisnya masih dapat diizinkan.
[www.hebrew4christians.com/Holidays/Fast_Days/fast_days.html]

Yang menjadi esensi eksperimen kecil ini adalah untuk menguji tingkat validitas akan jawaban yang diberikan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani Rahimahullah tersebut di atas, yang ternyata memang tepat, yakni tibanya Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam di Madinah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan puasanya orang-orang Yahudi di tanggal 10 Tishri.

Bahkan di dalam kitab Syiah Rafidhah pun, terdapat riwayat bahwasanya puasa ‘Asyura tersebut telah disyari’atkan.

1 - صوموا العاشوراء التاسع والعاشر فإنه يكفر ذنوب سنة
2 - صام رسول الله صلى الله عليه وآله يوم عاشوراء
3 - صيام يوم عاشوراء كفارة سنة
الاستبصار - الشيخ الطوسي - ج ٢ - الصفحة ١٣٤
1 - Berpuasa ‘Asyura-lah kalian pada tanggal 9 (sembilan) dan 10 (sepuluh), karena sesungguhnya ia (puasa ‘Asyura) menghapuskan dosa-dosa selama setahun.
2 - Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi berpuasa pada hari ‘Asyura.
3 - Puasa hari ‘Asyura menghapuskan (dosa) selama setahun.
[Al-Istibshar 2/134, ath-Thusiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1158_الاستبصار-الشيخ-الطوسي-ج-٢/الصفحة_134]

وكيفما كان فالروايات الناهية غير نقية السند برمتها, بل هي ضعيفة بأجمعها, فليست لدينا رواية معتبرة يعتمد عليها ليحمل المعارض على التقية كما صنعه صاحب الحدائق.
وأما الروايات المتضمنة للأمر واستحباب الصوم في هذا اليوم فكثيرة, مثل صحيحة القداح: "  صيام يوم عاشوراء كفارة سنة " وموثقة مسعدة بن صدقة: " صوموا للعاشوراء التاسع والعاشر فإنه يكفر ذنوب سنة ", ونحوها غيرها, وهو مساعد للاعتبار نظرا إلى المواساة مع أهل بيت الوحي وما لا قوه في هذا اليوم العصيب من جوع وعطش وساير الآلام والمصائب العظام التي هي أعظم مما تدركه الأفهام والأوهام. فالأقوى استحباب الصوم في هذا اليوم
كتاب الصوم - السيد الخوئي - ج ٢ - الصفحة ٣٠٥
Adapun riwayat-riwayat yang mengenai pelarangan (puasa ‘Asyura), seluruhnya tidak memiliki sanad yang bersih, bahkan semua (sanadnya) dhaif. Kita tidak memiliki riwayat yang mu’tabar (dapat diterima) serta mu’tamad (dijadikan sandaran hujjah) mengenainya untuk membawa (riwayat) yang berseberangan (yakni, puasa ‘Asyura dilakukan) dalam taqiyyah, sebagaimana yang dibuat-buat oleh penulis al-Hadaiq.
Sedangkan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan perintah dan anjuran berpuasa di hari ini (‘Asyura) adalah banyak, sebagai contoh di dalam Shahihah al-Qidah, “Puasa hari ‘Asyura menghapuskan (dosa) selama setahun,” dan di dalam Muwatsaqah Masa’adah bin Shadaqah, “Berpuasa ‘Asyura-lah kalian pada tanggal 9 (sembilan) dan 10 (sepuluh), karena sesungguhnya ia (puasa ‘Asyura) menghapuskan dosa-dosa selama setahun.” Dan lain-lain. Hal ini dapat membantu dalam merenungkan rasa duka yang menimpa Ahlul Bayt yang tidak memiliki kekuatan pada hari yang sulit tersebut dari kelaparan, kehausan, dan mendapatkan kepedihan serta musibah yang besar yang tidak dapat terbayangkan. Sehingga yang terkuat adalah dianjurkannya berpuasa pada hari tersebut (‘Asyura).
[Kitab ash-Shaum 2/305, al-Khuiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/516_كتاب-الصوم-السيد-الخوئي-ج-٢/الصفحة_225]

Namun Syiah Rafidhah memilih untuk menolaknya (puasa ‘Asyura) dan meninggalkannya, serta menggantikannya dengan sebuah ritual yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu ritual ratapan niyahah matam tathbir.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Terdapat 4 (empat) perkara di umatku yang termasuk perbuatan jahiliyyah yang mereka belum meninggalkannya, yaitu : bangga terhadap kedudukan, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang-bintang, dan meratap (niyahah).”
Kemudian beliau melanjutkan, “Ratapan (niyahah), jika belum bertaubat sebelum kematiannya, maka akan dibangkitkan pada hari Kiamat dengan memakai pakaian yang terbuat dari ter (yakni hitam warnanya) dan baju dari kudis.” [Muslim no.1550]

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا إِلَى آخِرِهِ
فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ النِّيَاحَةِ وَهُوَ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ وَفِيهِ صِحَّةُ التَّوْبَةِ مَا لَمْ يَمُتِ الْمُكَلَّفُ وَلَمْ يَصِلْ إِلَى الْغَرْغَرَةِ
Sabdanya (Nabi) Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Ratapan (niyahah), jika belum bertaubat sebelum kematiannya, hingga akhir...”
Di dalamnya terdapat dalil atas haramnya ratapan (niyahah), dan ia merupakan ijma’ atasnya. Dan di dalam (hadits) ini menjelaskan bahwa sahnya taubat seorang mukallaf selama belum meninggal dan (nyawanya) belum sampai di kerongkongan.
[Syarah Shahih Muslim 6/235-236, Imam an-Nawawi]

تَحْرِيمُ النَّوْحِ وَعَظِيمُ قبحه والاهتمام بِإِنْكَارِهِ وَالزَّجْرِ عَنْهُ لِأَنَّهُ مُهَيِّجٌ لِلْحُزْنِ وَرَافِعٌ لِلصَّبْرِ وَفِيهِ مُخَالَفَةُ التَّسْلِيمِ لِلْقَضَاءِ وَالْإِذْعَانِ لِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى
Diharamkannya ratapan dikarenakan (ratapan) adalah sangat buruk dengan memberikan perhatian penuh seraya mengingkarinya serta mencelanya. Karena sesungguhnya ia (ratapan) dapat membangkitkan kesedihan dan menghilangkan kesabaran, dan di dalamnya terdapat rasa tidak menerima akan ketentuan dan kerelaan (mengikuti) perintah Allah Ta’ala.
[Syarah Shahih Muslim 6/237-238, Imam an-Nawawi]


وَأَمَّا تَعْبِيرُ الْمُصَنِّفِ بِالنَّوْحِ فَمُرَادُهُ مَا كَانَ مِنَ الْبُكَاءِ بِصِيَاحٍ وَعَوِيلٍ وَمَا يَلْتَحِقُ بِذَلِكَ مِنْ لَطْمِ خَدٍّ وَشَقِّ جَيْبٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْمَنْهِيَّاتِ
Dan ekspresi yang termasuk ratapan, yang dimaksudkan adalah tangisan yang disertai teriakan dan berteriak-teriak serta diiringi dengan menampar-nampar pipi, merobek-robek saku (baju) dan serta berbagai bentuk lainnya dari niyahah.
[Fathul Bari 3/152, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Bukanlah termasuk golongan kami, siapa saja yang menampar-nampar pipi, merobek-robek saku (baju) dan berteriak-teriak dengan teriakan jahiliyyah.” [Bukhari no.1212]

أَنَّهُ كَانَ بُكَاءً بِنَوْحٍ وَصِيَاحٍ وَلِهَذَا تَأَكَّدَ النَّهْيُ وَلَوْ كَانَ مُجَرَّدَ دَمْعِ الْعَيْنِ لَمْ يَنْهَ عَنْهُ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَهُ وَأَخْبَرَ أَنَّهُ لَيْسَ بِحَرَامٍ وَأَنَّهُ رَحْمَةٌ
Sedangkan tangisan yang disertai ratapan dan teriakan, maka sangat dilarang. Jika hanya sekedar linangan air mata, maka beliau tidak melarangnya dikarenakan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga melakukannya dan mengkhabarkan bahwasanya ia (linangan air mata) tidaklah haram, namun sesungguhnya ia (linangan air mata) adalah rasa kasih sayang.
[Syarah Shahih Muslim 6/236, Imam an-Nawawi]

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «دَعْهُنَّ يَبْكِينَ عَلَى أَبِي سُلَيْمَانَ مَا لَمْ يَكُنْ نَقْعٌ أَوْ لَقْلَقَةٌ» وَالنَّقْعُ: التُّرَابُ عَلَى الرَّأْسِ، وَاللَّقْلَقَةُ: الصَّوْتُ
‘Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Biarkan mereka menangisi Abu Sulaiman, selama tidak ada [نَقْعٌ] dan [لَقْلَقَةٌ].”
[نَقْعٌ] : Tanah di atas kepala. [لَقْلَقَةٌ] : Suara. [Shahih al-Bukhariy 2/80]

قَوْلُهُ مَا لَمْ يَكُنْ نَقْعٌ أَوْ لَقْلَقَةٌ بِقَافَيْنِ الْأُولَى سَاكِنَةٌ وَقَدْ فَسَّرَهُ الْمُصَنِّفُ بِأَنَّ النَّقْعَ التُّرَابُ أَيْ وَضْعُهُ عَلَى الرَّأْسِ وَاللَّقْلَقَةُ الصَّوْتُ أَيِ الْمُرْتَفِعُ
Perkataan, “selama tidak ada [نَقْعٌ] dan [لَقْلَقَةٌ].” Dengan 2 (dua) huruf qaf, sedangkan qaf yang awal disukunkan. Sang penulis (al-Bukhari) menafsirkan [نَقْعٌ] dengan tanah, yakni melumurkannya (tanah) ke atas kepala. Sedangkan [لَقْلَقَةٌ] (ditafsirkan) dengan suara, yakni (suara) yang tinggi.
[Fathul Bari 3/161, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Namun Syiah Rafidhah tidak hanya melumurkan tanah ke atas kepala, bahkan mereka (Syiah Rafidhah) melumurkan darahnya sendiri dengan memukul-mukulkan senjata tajam ke atas kepala mereka (Syiah Rafidhah) sendiri yang dikenal sebagai Tathbir.

Mereka (Syiah Rafidhah) beralasan bahwa ritual ratapan niyahah matam tathbir yang mereka lakukan merupakan ibadah kepada Allah Ta’ala dalam meluapkan kesedihan atas Syahidnya Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu. Padahal yang mereka (Syiah Rafidhah) lakukan adalah dilarang oleh Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beserta kesepakatan kaum Muslimin.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Al-Hasan dan al-Husain merupakan Sayyid pemuda Ahlul Jannah.”
[Tirmidzi no.3701, Shahih : Shahih Tirmidzi no.3768, Syaikh al-Albani]

مِثْلُ مَا ابْتَدَعَهُ كَثِيرٌ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ يَوْمَ عَاشُورًا فَقَوْمٌ يَجْعَلُونَهُ مَأْتَمًا يُظْهِرُونَ فِيهِ النِّيَاحَةَ وَالْجَزَعَ وَتَعْذِيبَ النُّفُوسِ وَظُلْمَ الْبَهَائِمِ وَسَبَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ وَالْكَذِبَ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ وَغَيْرَ ذَلِكَ مِنْ الْمُنْكَرَاتِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا بِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ.
Contoh berbagai bid’ah yang berasal dari mutaakhirin pada hari ‘Asyura, yakni suatu kaum menjadikannya hari berkabung (matam) dengan mengadakan di dalamnya sebuah ratapan (niyahah), kesedihan, menyiksa diri, menganiaya binatang-binatang, mengutuk orang yang telah wafat dari kalangan Wali Allah serta berdusta atas nama Ahlul Bayt dan lainnya dari perbuatan munkar yang dilarang oleh Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beserta kesepakatan kaum Muslimin.

وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِالشَّهَادَةِ فِي هَذَا الْيَوْمِ وَأَهَانَ بِذَلِكَ مَنْ قَتَلَهُ أَوْ أَعَانَ عَلَى قَتْلِهِ أَوْ رَضِيَ بِقَتْلِهِ وَلَهُ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ بِمَنْ سَبَقَهُ مِنْ الشُّهَدَاءِ فَإِنَّهُ وَأَخُوهُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَكَانَا قَدْ تَرَبَّيَا فِي عِزِّ الْإِسْلَامِ لَمْ يَنَالَا مِنْ الْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ وَالصَّبْرِ عَلَى الْأَذَى فِي اللَّهِ مَا نَالَهُ أَهْلُ بَيْتِهِ فَأَكْرَمَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى بِالشَّهَادَةِ تَكْمِيلًا لِكَرَامَتِهِمَا وَرَفْعًا لِدَرَجَاتِهِمَا وَقَتْلُهُ مُصِيبَةٌ عَظِيمَةٌ وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ قَدْ شَرَعَ الِاسْتِرْجَاعَ عِنْدَ الْمُصِيبَةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:
Sedangkan Allah Ta’ala memuliakan al-Husain Radhiyallahu ‘anhu dengan Syahadah (mati Syahid) pada hari ini (‘Asyura) dan menghinakan orang yang membunuhnya dan yang membantu atas pembunuhannya atau juga yang ridha dengan pembunuhannya. Padanya terdapat contoh yang baik dari para Syuhada yang mendahuluinya. Sesungguhnya ia (al-Husain) dan saudaranya (al-Hasan) adalah Sayyid pemuda Ahlul Jannah, keduanya tumbuh dalam kejayaan Islam, mereka berdua tidak mendapatkan hijrah, jihad, bersabar dalam gangguan di jalan Allah, sebagaimana yang telah dialami oleh Ahlul Baytnya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memuliakan keduanya dengan Syahadah (mati Syahid) sebagai penyempurna bagi kemuliaan, serta mengangkat derajat mereka berdua. Sedangkan pembunuhannya merupakan musibah yang besar, dan sungguh Allah Subhanahu telah mensyariatkan dengan istirja’ ketika mendapatkan musibah dengan firman-Nya Ta’ala :

{وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ} {الَّذِينَ إذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ} {أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ}
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS. Al-Baqarah : 155-157]

وَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " {مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ فَيَقُولُ: إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي واخلف لِي خَيْرًا مِنْهَا إلَّا آجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ واخلف لَهُ خَيْرًا مِنْهَا} ".
Dan terdapat di dalam Shahihain dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda, “Tidaklah seorang Muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali,” lalu berdoa, “Ya Allah, berikanlah kepadaku pahala dalam musibah ini, dan berilah aku pengganti yang lebih baik darinya.” Melainkan Allah akan memberikan pahala dalam musibah tersebut dan menggantikan baginya dengan yang lebih baik darinya.” [Muslim no.1525]

[Majmu’ Fatawa 4/511, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

لما ذكر الله هذا الابتلاء قال: (وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ) ، والخطاب للنبي صلي الله عليه وسلم، ولك من يبلغه هذا الخطاب، يعني: بشر يا محمد، وبشر يا من يبلغه هذا الكلام الصابرين الذين يصبرون على هذه البلوى فلا يقابلونها بالتسخط وإنما يقابلونها بالصبر. وأكمل من ذلك أن يقابلونها بالرضا، وأكمل من ذلك أن يقابلونها بالشكر.
Tatkala Allah menyebutkan ujian ini, Dia berfirman, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” Khithabnya ditujukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan bagi setiap orang yang sampai kepadanya khithab ini. Yakni, sampaikanlah berita gembira wahai Muhammad dan sampaikanlah berita gembira wahai orang yang sampai kepadanya kalimat ini kepada orang-orang yang bersabar yang di mana mereka bersabar atas ujian ini dengan tanpa menyambutnya dengan kemarahan, namun menerimanya dengan kesabaran. Dan untuk menyempurnakannya, hendaklah menerimanya dengan keridhaan. Dan lebih sempurnanya lagi adalah menerimanya dengan bersyukur.
[Syarah Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi 1/184, Syaikh al-‘Utsaimin]

فكل مسلم يبنغي له أن يحزنه قَتْلِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَإِنَّهُ مِنْ سَادَاتِ الْمُسْلِمِينَ، وَعُلَمَاءِ الصَّحَابَةِ وَابْنُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي هِيَ أَفْضَلُ بناته، وقد كان عابداً وشجاعاً وسخياً، ولكنه لَا يُحْسِنُ مَا يَفْعَلُهُ الشِّيعَةُ مِنْ إِظْهَارِ الْجَزَعِ وَالْحُزْنِ الَّذِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُ تَصَنُّعٌ وَرِيَاءٌ،
Setiap Muslim seharusnya bersedih atas terbunuhnya (al-Husain) Radhiyallahu ‘anhu. Sesungguhnya ia adalah Sayyid kaum Muslimin, Ulamanya para Shahabat dan anaknya puteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang di mana ia (Fathimah) merupakan puterinya yang paling utama. Ia (al-Husain) adalah seorang ahli ibadah dan pemberani serta murah hati. Akan tetapi, janganlah menampakkan perbuatan yang seperti dilakukan oleh Syiah dalam ketidak-sabaran dan kesedihan yang mungkin saja kebanyakannya dibuat-buat serta riya’.

وقد كان أبوه أفضل منه فقتل، وَهُمْ لَا يَتَّخِذُونَ مَقْتَلَهُ مَأْتَمًا كَيَوْمِ مَقْتَلِ الْحُسَيْنِ، فَإِنَّ أَبَاهُ قُتِلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ خَارِجٌ إِلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ فِي السَّابِعَ عَشَرَ مِنْ رَمَضَانَ سَنَةَ أَرْبَعِينَ،
Dan sungguh ayahnya (Aliy) lebih utama darinya (al-Husain), padahal ia (Aliy) juga terbunuh, namun mereka (Syiah Rafidhah) tidak menjadikan (hari) terbunuhnya sebagai hari berkabung (ma’tam) sebagaimana hari terbunuhnya al-Husain. Sesungguhnya ayahnya (Aliy) terbunuh pada hari Jum’at, sedangkan ia pergi keluar untuk shalat Fajar di tanggal 17 (tujuh belas) bulan Ramadhan tahun 40 (hijriyah).

وَكَذَلِكَ عُثْمَانُ كَانَ أَفْضَلَ مِنْ عَلِيٍّ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَقَدْ قُتِلَ وَهُوَ مَحْصُورٌ فِي دَارِهِ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ مِنْ شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ سَنَةَ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ، وَقَدْ ذُبِحَ مِنَ الْوَرِيدِ إِلَى الوريد، وَلَمْ يَتَّخِذِ النَّاسَ يَوْمَ قَتْلِهِ مَأْتَمًا، وَكَذَلِكَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ أَفْضَلُ مِنْ عُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، قُتِلَ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ صَلَاةَ الْفَجْرِ ويقرأ القرآن، وَلَمْ يَتَّخِذِ النَّاسُ يَوْمَ مَقْتَلِهِ مَأْتَمًا، وَكَذَلِكَ الصِّدِّيقُ كَانَ أَفْضَلَ مِنْهُ وَلَمْ يَتَّخِذِ النَّاسُ يَوْمَ وَفَاتِهِ مَأْتَمًا،
Dan begitu juga dengan ‘Utsman, yang di mana ia lebih utama dari ‘Aliy di sisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sungguh ia telah terkepung di rumahnya pada hari Tasyriq di bulan Dzulhijjah tahun 36 (tiga puluh enam) (hijriyah) dan terbunuh, namun manusia tidak menjadikan hari pembunuhan tersebut sebagai hari berkabung (ma’tam). Begitu pula dengan ‘Umar bin al-Khaththab, yang di mana ia lebih utama dari ‘Utsman dan ‘Aliy, namun telah terbunuh (juga) ketika sedang mendirikan shalat di mihrab, yakni shalat Fajar dan sedang membaca al-Qur’an, namun manusia tidak menjadikan hari pembunuhannya sebagai hari berkabung (ma’tam). Dan begitu jua dengan (Abu Bakar) ash-Shiddiq, yang di mana ia lebih utama darinya (‘Umar), namun manusia tidak menjadikan hari wafatnya sebagai hari berkabung (ma’tam).

وَرَسُولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدَ وَلَدِ آدَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَقَدْ قَبَضَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ كَمَا مَاتَ الأنبياء قبله، ولم يتخذ أحد يوم موتهم مَأْتَمًا يَفْعَلُونَ فِيهِ مَا يَفْعَلُهُ هَؤُلَاءِ الْجَهَلَةُ مِنَ الرَّافِضَةِ يَوْمَ مَصْرَعِ الْحُسَيْنِ،
Dan (lebih dari itu), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang seorang Sayyid anak keturunan Adam di dunia dan akhirat, sungguh Allah telah mencabut (nyawa) beliau sebagaimana wafatnya para Nabi sebelumnya, namun tidak ada seorang pun yang menjadikan hari wafatnya mereka (para Nabi) sebagai hari berkabung (ma’tam) seperti yang dilakukan oleh orang-orang Juhala dari kalangan Rafidhah (Syiah) pada saat hari kematian al-Husain.

[Al-Bidayah wa an-Nihayah 8/221, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Ritual ratapan niyahah yang dilakukan oleh Syiah Rafidhah, awalnya dilakukan pada masa dinasti Buwaih tahun 352 hijriyah.

ثُمَّ دخلت سنة ثنتين وخمسين وثلثمائة فِي عَاشِرِ الْمُحَرَّمِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ أَمَرَ مُعِزُّ الدَّوْلَةِ بْنُ بُوَيْهِ قَبَّحَهُ اللَّهُ أَنْ تغلق الأسواق وأن يلبس النساء المسوح من الشعر وأن يخرجن في الأسواق حاسرات عن وجوههن، ناشرات شعورهن يَلْطُمْنَ وُجُوهَهُنَّ يَنُحْنَ عَلَى الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ بن أبي طالب، وَلَمْ يُمْكِنْ أَهْلَ السُّنَّةِ مَنْعُ ذَلِكَ لِكَثْرَةِ الشيعة وظهورهم، وكون السلطان معهم.
Kemudian memasuki tahun 352 (hijriyah) hari ke-10 (sepuluh) di bulan Muharram pada tahun ini. Mu’iz ad-Daulah bin Buwaih –semoga Allah memburukkannya- memerintahkan agar pasar-pasar untuk ditutup, dan para wanita mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu, keluar dengan menampakkan wajah-wajah, dan mengurai rambut, serta menampar-nampar wajah mereka untuk memperingati al-Husain bin ‘aliy bin Abi Thalib, yang tidak memungkinkan Ahlus Sunnah untuk mencegah dari perbuatan tersebut, dikarenakan banyaknya Syiah dan Shulthan berada di pihak mereka.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/276, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Padahal, Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu di dalam riwayat Syiah Rafidhah, melarang untuk meratapi kematiannya (al-Husain).

وقال الحسين لأخته زينب في كربلاء
إذا قتلت فلا تشقي على الجيب ولا تخمشي وجهك بأظفارك ولا تنادي بالويل والثبور على شهادتي
الانتصار - العاملي - ج ٩ - الصفحة ٢٠٢
Al-Husain berkata kepada saudarinya, yakni Zainab di Karbala’,
“Jika aku terbunuh, maka janganlah engkau merobek-robek saku (pakaian)-mu dan mencakar-cakar wajahmu dengan kukumu, serta janganlah berteriak-teriak dengan (kalimat) celaka dan mengutuk atas kesyahidanku.”
[Al-Intishar 9/202, al-‘Amiliy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/4191_الانتصار-العاملي-ج-٩/الصفحة_195]

Bahkan di dalam riwayat mereka (Syiah Rafidhah), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun juga melarang niyahah (meratap).

إن رسول الله (صلى الله عليه وآله) قال:
إذا أنامت فلا تخمشي علي وجها ولا تنشري علي شعرا ولا تنادي بالويل ولا تقيمي علي نائحة
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٥ - الصفحة ٥٢٧
Sesungguhnya Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi) bersabda,
“Jika aku telah wafat, maka janganlah engkau mencakar-cakar wajah, mengurai rambut, dan berteriak-teriak dengan (kalimat) celaka, serta mengadakan ratapan (niyahah) atasku.”
[Al-Kaafiy 5/527, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1126_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٥/الصفحة_527]

لا تلطمن خدا ولا تخمشن وجها, ولا تنتفن شعرا, ولا تشققن جيبا, ولا تسودن ثوبا, ولا تدعين بويل
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٦٤ - الصفحة ١٨٧
Janganlah menampar-nampar pipi, mencakar-cakar wajah, mencabut-cabuti rambut, merobek-robek saku (pakaian), memakai (pakaian) hitam, berteriak-teriak dengan (kalimat) celaka.
[Bihar al-Anwar 64/187, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1495_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٦٤/الصفحة_189]

Kematian Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu tersebut terjadi dikarenakan pengkhianatan Syiah terhadap beliau dengan mengundangnya, namun malah membantainya di Karbala Irak.

بسم الله الرحمن الرحيم أما بعد: فإنه قد أتانا خبر فظيع قتل مسلم بن عقيل, وهانئ بن عروة, و عبد الله بن يقطر, وقد خذلنا شيعتنا,
الإرشاد - الشيخ المفيد - ج ٢ - الصفحة ٧٥
بسم الله الرحمن الرحيم
Amma ba’du,
Sesungguhnya telah sampai kabar buruk kepada kita mengenai terbunuhnya Muslim bin ‘Aqil, Hani’ bin ‘Urwah serta ‘Abdullah bin Yaqthur dan Syiah kita telah mengkhianati kita.
[Al-Irsyad 2/75, al-Mufid Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1295_الإرشاد-الشيخ-المفيد-ج-٢/الصفحة_75]

Padahal sebelum tragedi Karbala Irak terjadi, saudaranya Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu, yakni Muhammad bin ‘Aliy bin Abu Thalib yang dikenal dengan nama Ibnu al-Hanafiyyah, sempat memperingati beliau (al-Husain) akan sifat Khianat Syiah Kufah.

يا أخي إن أهل الكوفة من قد عرفت غدرهم بأبيك وأخيك
اللهوف في قتلى الطفوف - السيد ابن طاووس - الصفحة ٣٩
“Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau telah mengetahui akan pengkhianatan penduduk Kufah terhadap ayah (Aliy) dan saudaramu (al-Hasan).”
[Al-Lahuuf 39, Ibnu Thawus Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3705_اللهوف-في-قتلى-الطفوف-السيد-ابن-طاووس/الصفحة_0?pageno=39#top]

إن الكوفة كانت مهداً للشيعة
حياة الامام الحسين - باقر شريف القرشي - ج3 ص 12
“Sesungguhnya Kufah adalah tempat lahirnya Syiah.”
[Hayat al-Imam al-Husain 3/12, Baqir Pendeta Syiah Rafidhah]

Akhirnya Allah Ta’ala memuliakan Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu dengan Syahadah (mati Syahid) pada hari ‘Asyura di tangan Syiah.

وَلَا رَيْبَ فِي أَنَّ الْكُوفَةَ كَانُوا مِنْ شِيْعَةِ عَلِيٍّ وَأنَّ الَّذِينَ قَتَلُوا الْإِمَامَ الْحُسَيْنَ هُمْ شِيْعَتُهُ
الْملحمة الْحُسَيْنية - مُرْتَضى الْمُطَهِّري - ج1 ص 129
“Tidak ada keraguan bahwa orang-orang Kufah adalah Syiah ‘Aliy, dan bahwasanya yang membunuh Imam al-Husain adalah Syiah-nya.”
[Al-Malhamah al-Husainiyyah 1/129, Murtadha al-Muthahariy Pendeta Syiah Rafidhah]

بِأَنَّ مَقْتَلَ الْحُسَيْنِ عَلَى يَدِ الْمُسْلِمِينَ بَلْ علي يَدِ الشِّيعَةِ
الْملحمة الْحُسَيْنية - مُرْتَضى الْمُطَهِّري -  ج3 ص 94
“Bahwa sesungguhnya pembunuhan al-Husain adalah berada di tangan kaum Muslimin, bahkan di tangan Syiah.”
[Al-Malhamah al-Husainiyyah 3/94, Murtadha al-Muthahariy Pendeta Syiah Rafidhah]

Sedangkan yang memenggal kepala Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu adalah Syimr bin Dzu al-Jausyan yang seorang Syiah, sebagaimana yang diakui oleh media propaganda Syiah Rafidhah, yaitu IRIB Syiah Iran.

Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala
Syimr bin Dziljausyan
Syimr bin Dziljausyan pernah bergabung dengan Imam Ali bin Abi Thalib as di perang Shiffin
Dialah yang duduk di atas badan Imam Husein as dan menyembelih leher Imam Husein as.
Setelah peristiwa Karbala dan tercatat sebagai pemenggal kepala Imam Husein as, Syimr bin Dziljausyan dikejar-kejar oleh pasukan Mukhtar Tsaqafi dan ditangkap kemudian mendapat hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya terhadap keluarga Rasulullah Saw di Karbala. (Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 45, hal. 4, Muassasah al-Wafa, Beirut Lebanon, 1983)


Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 01:51 – 01:50
Sesungguhnya orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam pembunuhan al-Husain, yakni sekitar 90%-80% adalah pernah shalat di belakang Amirul Mukminin (‘Aliy).
Syimr dikenal sebagai Syiah Amirul Mukminin (‘Aliy).
Syimr yang telah membunuh al-Hussain. Ia pernah shalat di belakang Amirul Mukminin (‘Aliy).
[https://www.youtube.com/watch?v=h8u9vGHw0eU&feature=youtu.be]

Fathimah ash-Sughra Ahlul Bayt mengutuk Syiah Kufah Irak.

يا أهل الكوفة! يا أهل المكر والغدر والخيلاء, أنا أهل بيت ابتلانا الله بكم, وابتلاكم بنا, فجعل بلائنا حسنا,
فكذبتمونا, وكفرتمونا, ورأيتم قتالنا حلالا, وأموالنا نهبا,
ألا لعنة الله على الظالمين
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٢٧
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٢٨
Wahai penduduk Kufah, wahai tukang makar, pengkhianat dan sombong. Sesungguhnya kami Ahlul Bayt, Allah menguji kami dengan kalian dan Dia jadikan ujian ini sebagai kebaikan.
Kalian mendustai kami, mengkafirkan kami dan menurut pandangan kalian bahwa membantai kami adalah halal serta harta kami sebagai rampasan perang.
Laknat Allah (Terkutuklah) atas orang-orang dzalim.
[Al-Ihtijaj 2/27-28, ath-Thabrasiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_27#top]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_28#top]

زين العابدين
Zainal ‘Abidin (berkata),

أنا علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب عليهم السلام
“Aku adalah ‘Aliy bin al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thalib ‘alaihim Salam.”

لا غرو إن قتل الحسين فشيخه
“Tidaklah mengherankan bahwasanya pembunuhan al-Husain dikarenakan orang tuanya.”

قد كان خيرا من حسين وأكرم فلا تفرحوا يا أهل كوفان بالذي
“Sungguh ia lebih baik daripada Husain dan lebih mulia, janganlah kalian bergembira wahai penduduk Kufah dengan yang (kalian perbuat).”

أصيب حسين كان ذلك أعظم قتيل بشط النهر روحي فدائه
“(Yakni dalam) menyerang Husain yang merupakan pembantaian terbesar di sungai Syath, jiwaku sebagai tebusannya.”

جزاء الذي أرداه نار جهنم ثم قال رضينا منكم رأسا برأس
“Balasan yang menginginkan (kematian al-Husain) adalah Neraka Jahannam.” Kemudian (Zainal ‘Abidin) berkata kembali, “Kami hanya akan ridha dengan kalian apabila Kepala dibalas dengan Kepala.”

اللهوف في قتلى الطفوف - السيد ابن طاووس - الصفحة ٩٣
[Al-Lahuf 93, Ibnu Thawus Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3705_اللهوف-في-قتلى-الطفوف-السيد-ابن-طاووس/الصفحة_93#top]

Hingga akhirnya Syiah pun dikutuk menumbalkan kepalanya sendiri di setiap tahunnya di bulan Muharram, yakni di setiap tanggal 10. Karena Kepala harus dibalas dengan Kepala.

Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala
Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala
Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala
Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala
Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala
Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala
Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala
Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala