Thursday, December 25, 2014

// // Leave a Comment

Syiah Melaknat Abdullah Bin Saba Yahudi [Goresan Pena Tanya Syiah Part 19]

Syiah Melaknat Abdullah Bin Saba Yahudi

Syiah Rafidhah merupakan sebuah agama yang diciptakan oleh seorang Yahudi Munafiq Zindiq yang bernama Abdullah bin Saba’. Ia (Ibnu Saba’) mengaku sebagai seorang Muslim yang mencintai Ahlul Bayt, dan mengklaim adanya wasiat kekhalifahan bagi ‘Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, serta ghuluw terhadapnya, hingga mengangkatnya (‘Aliy) kepada tingkat Rububiyyah serta Uluhiyyah, yang bertujuan hendak merusak agama Islam.

" وَأَصْلُ الرَّفْضِ " مِنْ الْمُنَافِقِينَ الزَّنَادِقَةِ فَإِنَّهُ ابْتَدَعَهُ ابْنُ سَبَأٍ الزِّنْدِيقُ وَأَظْهَرَ الْغُلُوَّ فِي عَلِيٍّ بِدَعْوَى الْإِمَامَةِ وَالنَّصِّ عَلَيْهِ وَادَّعَى الْعِصْمَةَ لَهُ
Dan asal Rafidhah (Syiah) adalah berasal dari kaum Munafiq Zindiq, sesungguhnya ia (Rafidhah) ciptaannya Ibnu Saba’ az-Zindiq yang menampakkan ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap ‘Aliy dengan mengklaim al-Imamah (hanya milik ‘Aliy) serta terdapat nash mengenainya, dan Ia (Ibnu Saba’) juga mengklaim kema’shuman baginya (‘Aliy).
[Majmu’ al-Fatawa 4/435, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَبْدَأَ الرَّفْضِ إنَّمَا كَانَ مِنْ الزِّنْدِيقِ: عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبَأٍ؛ فَإِنَّهُ أَظْهَرَ الْإِسْلَامَ وَأَبْطَنَ الْيَهُودِيَّةَ وَطَلَبَ أَنْ يُفْسِدَ الْإِسْلَامَ
Dan telah disebutkan oleh kalangan Ahli Ilmu bahwasanya penciptaan Rafidhah (Syiah) berasal dari kaum Zindiq, yakni ‘Abdullah bin Saba’, dan sesungguhnya ia (Ibnu Saba’) menampakkan ke-Islaman dan menyembunyikan agama Yahudinya, serta ia (Ibnu Saba’) berhasrat hendak merusak agama Islam.
[Majmu’ al-Fatawa 28/483, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

Akhirnya, Syiah Ibnu Saba’ yang dikenal dengan nama Sabaiyyah dihukum oleh Imam ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu dengan cara dibakar, dikarenakan kekafiran yang dilakukan oleh mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah).

وأخبار عبد الله ابن سبأ شهيرة في التواريخ وليس له رواية ولله الحمد وله أتباع يقال لهم السبائية معتقدون إلهية علي بن أبي طالب وقد أحرقهم علي بالنار في خلافته
Khabar mengenai ‘Abdullah bin Saba’ ini terkenal di dalam kitab-kitab sejarah, dan ia (Ibnu Saba’) tidak memiliki satu riwayat (hadits) pun –walhamdulillah-. Ia (Ibnu Saba’) memiliki pengikut yang disebut sebagai Sabaiyyah yang meyakini Uluhiyyah ‘Aliy bin Abi Thalib, lantas ‘Aliy pun membakar mereka (Sabaiyyah) dengan api pada masa kekhalifahannya.
[Lisan al-Mizan 3/290, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
Didatangkanlah kepada ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu sekelompok orang-orang Zindiq, lalu ia (‘Aliy) membakar mereka. Kemudian berita tersebut sampai kepada Ibnu ‘Abbas, lantas ia (Ibnu ‘Abbas) berkata, “Seandainya (yang menghukum) adalah aku, maka aku tidak akan membakar mereka dikarenakan terdapat larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yakni “Janganlah kalian mengadzab dengan adzab Allah.” Namun aku tetap akan membunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ia.” [Bukhari no.6411]

وَزَعَمَ أَبُو الْمُظَفَّرِ الْإِسْفَرَايِنِيُّ فِي الْمِلَلِ وَالنِّحَلِ أَنَّ الَّذِينَ أَحْرَقَهُمْ عَلِيٌّ طَائِفَةٌ مِنَ الرَّوَافِضِ ادَّعَوْا فِيهِ الْإِلَهِيَّةَ وَهُمُ السَّبَائِيَّةُ وَكَانَ كَبِيرُهُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَبَأٍ يَهُودِيًّا ثُمَّ أَظْهَرَ الْإِسْلَامَ وَابْتَدَعَ هَذِهِ الْمَقَالَةَ
Abu al-Mudhaffar al-Isfarainiy menyatakan di dalam (kitab) al-Milal wan Nihal, “Bahwasanya orang-orang yang dibakar oleh ‘Aliy adalah sekelompok dari Rawafidh (Syiah) yang mengklaim pada dirinya (‘Aliy) terdapat Uluhiyyah, mereka adalah as-Sabaiyyah dan tokoh besar mereka adalah ‘Abdullah bin Saba’ yang seorang Yahudi. Kemudian menampakkan ke-Islaman serta mengada-adakan perkataan ini.”

وَهَذَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ أَصْلُهُ مَا رُوِّينَاهُ فِي الْجُزْءِ الثَّالِثِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي طَاهِرٍ الْمُخَلِّصِ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَرِيكٍ الْعَامِرِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
Hal ini mungkin asalnya berdasarkan apa yang diriwayatkan pada juz yang ketiga dari hadits Abu Thahir al-Mukhallish dari jalur ‘Abdullah bin Syarik al-‘Amiry dari ayahnya, ia berkata,

قِيلَ لِعَلِيٍّ إِنَّ هُنَا قَوْمًا عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ يَدَّعُونَ أَنَّكَ رَبَّهُمْ
Dikatakan kepada ‘Aliy, “Sesungguhnya di sini terdapat suatu kaum yang berada di pintu masjid dengan mengklaim bahwasanya engkau adalah Rabb mereka.”

فَدَعَاهُمْ فَقَالَ لَهُمْ وَيْلَكُمْ مَا تَقُولُونَ
Lantas (‘Aliy) pun memanggil mereka seraya berkata, “Celaka kalian, apa yang kalian katakan.”

قَالُوا أَنْتَ رَبُّنَا وَخَالِقُنَا وَرَازِقُنَا
Mereka berkata, “Engkau adalah Rabb kami, pencipta kami dan pemberi rizki kami.”

فَقَالَ وَيْلَكُمْ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ مِثْلُكُمْ آكُلُ الطَّعَامَ كَمَا تَأْكُلُونَ وَأَشْرَبُ كَمَا تَشْرَبُونَ إِنْ أَطَعْتُ اللَّهَ أَثَابَنِي إِنْ شَاءَ وَإِنْ عَصَيْتُهُ خَشِيتُ أَنْ يُعَذِّبَنِي فَاتَّقُوا اللَّهَ وَارْجِعُوا فَأَبَوْا
Lalu (‘Aliy) berkata, “Celaka kalian, sesungguhnya aku adalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah maka Dia akan memberikanku pahala Insya Allah, dan jika aku bermaksiat kepadanya maka aku takut Dia akan mengadzabku. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan ruju’lah kalian.” Namun mereka enggan (ruju’).

فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ غَدَوْا عَلَيْهِ فَجَاءَ قَنْبَرٌ فَقَالَ قَدْ وَاللَّهِ رَجَعُوا يَقُولُونَ ذَلِكَ الْكَلَامَ فَقَالَ أَدْخِلْهُمْ فَقَالُوا كَذَلِكَ
Keesokan harinya mereka berangkat menuju kepadanya (‘Aliy), kemudian Qanbar datang seraya berkata, “Demi Allah, mereka telah kembali dan berkata dengan perkataan tersebut.” Lantas (‘Aliy) berkata, “Biarkanlah mereka masuk.” Namun mereka mengatakan dengan perkataan yang sama.

فَلَمَّا كَانَ الثَّالِثُ قَالَ لَئِنْ قُلْتُمْ ذَلِكَ لَأَقْتُلَنَّكُمْ بِأَخْبَثِ قِتْلَةٍ فَأَبَوْا إِلَّا ذَلِكَ
Tatkala (memasuki) hari ketiga, (‘Aliy) berkata, “Jika kalian masih tetap mengatakan perkataan tersebut, niscaya aku akan membunuh kalian dengan pembunuhan yang paling buruk.” Namun mereka enggan (berhenti berkata dengan perkataan kufur).

فَقَالَ يَا قَنْبَرُ ائْتِنِي بِفَعْلَةٍ مَعَهُمْ مرورهم فَخُدَّ لَهُمْ أُخْدُودًا بَيْنَ بَابِ الْمَسْجِدِ وَالْقَصْرِ وَقَالَ احْفِرُوا فَأَبْعِدُوا فِي الْأَرْضِ وَجَاءَ بِالْحَطَبِ فَطَرَحَهُ بِالنَّارِ فِي الْأُخْدُودِ وَقَالَ إِنِّي طَارِحُكُمْ فِيهَا أَوْ تَرْجِعُوا فَأَبَوْا أَنْ يَرْجِعُوا
Kemudian (‘Aliy) berkata, “Wahai Qanbar, bawakanlah kepadaku alat galian dan pekerjanya, lalu buatkanlah parit-parit untuk mereka di antara pintu masjid dan istana.” (‘Aliy) pun melanjutkan perkataannya, “Galilah dan dalamkanlah di dalam tanah.” Lantas ia (‘Aliy) membawa kayu bakar, lalu menyulutnya dengan api di dalam parit-parit tersebut seraya berkata, “Sungguh aku akan melempar kalian ke dalamnya (api di parit) atau kalian (memilih untuk) ruju’.” Namun mereka enggan ruju’.

فَقَذَفَ بِهِمْ فِيهَا حَتَّى إِذَا احْتَرَقُوا قَالَ إِنِّي إِذَا رَأَيْتُ أَمْرًا مُنْكَرًا أَوْقَدْتُ نَارِي وَدَعَوْتُ قَنْبَرَا وَهَذَا سَنَدٌ حَسَنٌ
Maka (‘Aliy) pun melemparkan mereka ke dalamnya (parit yang berapi) hingga membakar mereka, lantas (‘Aliy) berkata, “Sesungguhnya jika aku melihat perkara kemungkaran, maka aku akan menyalakan api dan memanggil Qanbar.” Sanadnya hasan.

[Fathul Bari 12/270, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Bahkan di dalam riwayat Syiah Rafidhah terdapat suatu kaum yang memanggil ‘Aliy Radhiyallahu anhu dengan sebutan Rabb yang akhirnya mereka dibakar hingga tewas.

أبي عبد الله عليه السلام قال: أتى قوم أمير المؤمنين عليه السلام فقالوا: السلام عليك يا ربنا فاستتابهم فلم يتوبوا فحفر لهم حفيرة وأوقد فيها نارا وحفر حفيرة أخرى إلى جانبها وأفضى ما بينهما فلما لم يتوبوا ألقاهم في الحفيرة وأوقد في الحفيرة الأخرى [نارا] حتى ماتوا
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٧ - الصفحة ٢٥٩
Aba ‘Abdillah ‘alaihi Salam berkata, “Suatu kaum mendatangi Amirul Mukminin ‘alaihi Salam seraya berkata, “Assalamu ‘alaika wahai Rabb kami.” Lantas (‘Aliy) pun meminta mereka bertaubat, namun mereka enggan bertaubat. Kemudian ia (‘Aliy) menggalikan untuk mereka sebuah galian dan menyalakan api di dalamnya, serta menggali sebuah galian di sisi lainnya dengan menyambungkan kedua galian tersebut. Tatkala mereka tidak mau bertaubat juga, maka ia (‘Aliy) melemparkan mereka ke dalam galian tersebut serta menyalakan api di galian kedua hingga tewas.
[Al-Kafiy 7/259, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1128_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٧/الصفحة_259]

Sedangkan Rububiyyah adalah hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pencipta dan Pemberi Rizki.

الرب
Ar-Rabb

وهو اسم عظيم لله جل وعلا, تكرر وروده في القرآن الكريم في مقامات عديدة وسياقات متنوعة تزيد على خمسمائة مرة, قال الله تعالى:
Ia (ar-Rabb) adalah nama Allah Jalla wa ‘Ala yang agung, yang disebutkan secara berulang-ulang di dalam al-Qur’an al-Karim dengan jumlah yang banyak, yakni dalam berbagai konteks dengan lebih dari 500 kali.
Allah Ta’ala berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” [QS. Al-Fatihah : 2]

وقال تعالى:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” [QS. Al-An’aam : 162]

وقال تعالى:
قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ
“Katakanlah, “Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu.” [QS. Al-An’aam : 164]

وقال تعالى:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [QS. At-Takwir : 29]

وقال تعالى:
سَلامٌ قَوْلا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ
“(Kepada mereka dikatakan), “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang.” [QS. Yasin : 58]

ومعنى الرب: أي ذو الربوبية على خلقه أجمعين خلقًا وملكًا و تصرفًا وتدبيرًا, وهو من الأسماء الدالة على جملة معانٍ لا على معنى واحد
Makna “ar-Rabb” adalah, yakni memiliki Rububiyyah atas semua makhluk-Nya secara penciptaan, kekuasaan, pengaturan, dan perbuatan. Ia (Rabb) termasuk nama yang menunjukkan akan sejumlah makna, bukan hanya satu makna.

بل إن هذا الاسم إذا أُفرد تناول في دلالاته سائر أسماء الله الحسنى وصفاته العليا, وفي هذا يقول العلامة ابن القيم رحمه الله: (إن الرب هو القادر الخالق البارئ المصوِّر الحيُّ القيّوم العليم السميع البصير المحسن المنعم الجواد, المعطي المانع, الضار النافع, المقدِّم المؤخِّر, الذي يُضل من يشاء ويهدي من يشاء, ويُسعد من يشاء ويُشقي من يشاء, ويُعزُّ من يشاء ويُذلُّ من يشاء, إلى غير ذلك من معاني ربوبيته التي له منها ما يستحقُّه من الأسماء الحسنى)
Bahkan nama ini jika (disebutkan) sendirian, maka mencakup semua nama-nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia lainnya. Dalam hal ini, al-‘Alamah Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya “ar-Rabb” adalah Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mencipta, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Membentuk Rupa, Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat, Yang Maha Berbuat Kebaikan lagi Pemberi Nikmat serta Dermawan, Yang Maha Pemberi lagi Mencegah, Yang dapat Mendatangkan Mudharat serta Manfaat, Yang Maha Mendahulukan dan Mengakhirkan, Yang menyesatkan siapa saja yang Dia Kehendaki dan Memberi Hidayah kepada siapa saja yang Dia Kehendaki, Yang Memberikan Kebahagiaan kepada siapa saja yang Dia Kehendaki dan menyengsarakan bagi siapa saja yang Dia Kehendaki, Yang Memuliakan bagi siapa saja yang Dia Kehendaki dan Menghinakan bagi siapa saja yang Dia Kehendaki, dan selainnya dari makna Rububiyyah-Nya yang dengannya Dia berhak memiliki nama-nama yang baik.” [Bada’ al-Fawaid 2/249, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah]

[Fiqh al-Asma’ al-Husna 79-80, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr]

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Sesungguhnya Rabb kamu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. [QS. Al-A’raaf : 54]

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab, “Semuanya diciptakan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” [QS. Az-Zukhruf : 9]

يَقُولُ تَعَالَى: وَلَئِنْ سَأَلْتَ -يَا مُحَمَّدُ-هَؤُلَاءِ الْمُشْرِكِينَ بِاللَّهِ الْعَابِدِينَ مَعَهُ غَيْرَهُ: {مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ} أَيْ: لَيَعْتَرِفُنَّ بِأَنَّ الْخَالِقَ لِذَلِكَ هُوَ اللَّهُ [تَعَالَى] وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَهُمْ مَعَ هَذَا يَعْبُدُونَ مَعَهُ غَيْرَهُ مِنَ الْأَصْنَامِ وَالْأَنْدَادِ.
Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu bertanya –wahai Muhammad- kepada orang-orang Musyrikin (dalam menyekutukan) Allah, yang menyembah sesuatu yang lain bersama-Nya, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka (kaum Musyrikin) akan menjawab, “Semuanya diciptakan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” Yakni mereka (kaum Musyrikin) akan mengakui bahwa yang menciptakan (langit dan bumi) adalah Allah Ta’ala Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Namun mereka juga menyembah bersama-Nya dengan sesuatu yang lain, baik berupa berhala-berhala ataupun sekutu-sekutu.
[Tafsir Ibnu Katsir 7/219, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وَلَوْ أَنْجَى هَذَا التَّوْحِيدُ وَحْدَهُ، لِأَنْجَى عُبَّادَ الْأَصْنَامِ، وَالشَّأْنُ فِي تَوْحِيدِ الْإِلَهِيَّةِ الَّذِي هُوَ الْفَارِقُ بَيْنَ الْمُشْرِكِينَ وَالْمُوَحِّدِينَ.
Seandainya Tauhid yang pertama ini (yakni Tauhid Rububiyyah) dapat menyelamatkan, niscaya para penyembah berhala dapat terselamatkan. Akan tetapi yang terpenting adalah Tauhid Uluhiyyah yang merupakan pembeda antara orang-orang Musyrikin dan orang-orang Muwahid (mentauhidkan Allah).
[Madarijus Salikin 1/336, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah]

وَفِي الْحَدِيثِ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يزيد بْنِ السَّكَنِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ فِي هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ: {وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ} وَ {الم * اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} [آل عمران: 1، 2] "
Di dalam sebuah hadits dari Syahr bin Hausyab, dari Asma’ bin Yazid bin as-Sakan, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda, “Nama Allah yang paling agung itu terdapat di dalam dua ayat ini :
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
“Dan Ilah-mu adalah Ilah Yang Maha Esa, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Baqarah : 163]

الم * اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Alif laam miim, Allah, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.” [QS. Ali ‘Imran : 1-2] [Abu Daud no.1278, Hasan : Shahih Abu Daud no.1496, Syaikh al-Albani]

ثُمَّ ذَكَرَ الدَّلِيلَ عَلَى تَفَرُّدِهِ بِالْإِلَهِيَّةِ [بتفرده] بخلق السموات وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ مِمَّا ذَرَأَ وَبَرَأَ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ الدَّالَّةِ عَلَى وَحْدَانِيَّتِهِ
Kemudian Dia menyebutkan dalil yang menunjukkan keesaan-Nya dalam Uluhiyyah dengan adanya penciptaan langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya, serta berbagai makhluk yang menunjukkan keesaan-Nya.

[Tafsir Ibnu Katsir 1/474, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Namun Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah masih belum dapat mencapai tingkat Tauhid selanjutnya, yakni Tauhid Uluhiyyah. Bahkan mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah) tidak lulus dalam tingkat Tauhid yang pertama, yakni Tauhid Rububiyyah.

أبا عبد الله عليه السلام يقول في قوله
Aba ‘Abdilah ‘alaihi Salam berkata di dalam firman-Nya,

وأشرقت الأرض بنور ربها
“Dan terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Rabb-nya.” [QS. Az-Zumar : 69]

قال رب الأرض يعني إمام الأرض
(Abu Abdillah) berkata, “Rabb bumi adalah Imam bumi.”

تفسير القمي - علي بن إبراهيم القمي - ج ٢ - الصفحة ٢٥٣
[Tafsir al-Qummiy 2/253, ‘Aliy bin Ibrahim al-Qummiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/2338_تفسير-القمي-علي-بن-إبراهيم-القمي-ج-٢/الصفحة_0?pageno=253#top]

Padahal, hanya Allah-lah yang memiliki bumi, Rabb semesta alam.

فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam.” [QS. Al-Jaatsiyah : 36]

Pada hari ini, Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah telah melakukan pengingkaran dalam mengambil keyakinannya dari Abdullah bin Saba’ al-Yahudi dalam hal Rububiyyah para Imam Syiah, bahkan mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah) berusaha untuk menghilangkan eksistensi seorang Ibnu Saba’ yang di mana para pendeta Syiah Rafidhah telah terang benderang melakukan pelaknatan terhadapnya (Ibnu Saba’), seperti ath-Thusi dan al-Hilli serta Ibnu Dawud, sebagaimana yang diakui oleh IRIB media propaganda Syiah Rafidhah Iran.

Syiah Melaknat Abdullah Bin Saba Yahudi

Meski banyak sejarahwan yang menafikan keberadaan orang bernama Abdullah bin Saba' namun sejumlah kitab dan data sejarah, mengakui adanya orang dengan nama itu. Hanya saja, dia disebut dengan tegas sebagai orang kafir dan sesat. Para ulama (Pendeta Syiah Rafidhah) seperti Syekh Thusi, Allamah Hilli dan Ibnu Daud termasuk di antara sekian ulama (Pendeta Syiah Rafidhah) besar dalam sejarah Islam (Syiah Rafidhah) yang melaknat Ibnu Saba' dan menyebutnya sebagai pembohong dan kafir. Meski demikian, masih ada sejumlah kalangan yang memasukkan Abdullah bin Saba' ke dalam kelompok tokoh-tokoh penting sejarah Islam, salah satunya adalah pembuat film serial ‘Muawiyah, Hasan dan Husein'.

Yang menarik, Allamah Thabathabai (Pendeta Syiah Rafidhah), penulis kitab tafsir al-Mizan sekitar 60 tahun dalam sebuah artikel menyatakan bahwa isu Ibnu Saba' bukan hanya dituduhkan oleh kelompok Sunni fanatik, tetapi juga disebarluaskan oleh kalangan orientalis dan pendukung Wahabisme untuk tujuan-tujuan busuk mereka. Allamah mengatakan, "Jika satu atau dua abad yang lalu kisah fiktif Abdullah bin Saba' bisa ditemukan secara singkat dalam buku-buku sejarah, kini kondisinya sudah berubah. Kisah ini sengaja dibesar-besarkan tanpa ada dorongan untuk melakukan penelitian terhadap kebenaran atau kebohongannya.

Para ulama (Pendeta Syiah Rafidhah) mengatakan, fiktif dan tidaknya tokoh bernama Abdullah bin Saba', tidak ada kaitan antara aliran Syiah dengannya. Apalagi, para ulama (Pendeta Syiah Rafidhah) besar Syiah secara tegas menyebut Ibnu Saba' sebagai orang terlaknat, pembohong dan kafir. Thaha Husein, cendekiawan Mesir mengatakan, membesar-besarkan tokoh bernama Abdullah bin Saba' adalah kejahatan terhadap sejarah. (IRIB Indonesia)

Berikut adalah pelaknatan yang dilakukan oleh para Pendeta Syiah Rafidhah (ath-Thusi, al-Hilli & Ibnu Dawud) terhadap Abdullah bin Saba’, yang bersumber dari Kitab Suci mereka (Syiah Rafidhah).

1 - قال الكشي: عبد الله بن سبأ كان يدعي النبوة وأن عليا هو الله!! فاستتابه ثلاثة أيام فلم يرجع, فأحرقه بالنار
رجال الكشي: ٩٨ / ٤٨
1 - Al-Kisyi (Pendeta Syiah Rafidhah) berkata, “’Abdullah bin Saba’ telah menyerukan Nubuwwah dan sesungguhnya ‘Aliy adalah Allah!! Maka (‘Aliy) pun memintanya untuk bertaubat dalam 3 (tiga) hari, namun ia (Ibnu Saba’) tidak mau ruju’, lantas (‘Aliy) pun membakarnya dengan api.”

2 - قال الشيخ الطوسي في رجاله في باب أصحاب أمير المؤمنين: عبد الله بن سبأ الذي رجع إلى الكفر وأظهر الغلو
رجال الطوسي: باب أصحاب علي: ٥١ / ٧٦
2 – Asy-syaikh ath-Thusi (Pendeta Syiah Rafidhah) berkata di dalam kitab Rijal-nya dalam bab sahabat-sahabatnya Amirul Mukminin, “’Abdullah bin Saba’ yang kembali kepada kekafiran dan menampakkan keghuluwan (berlebih-lebihan).”

3 - وقال العلامة الحلي: غال ملعون, حرقه أمير المؤمنين بالنار, كان يزعم أن عليا إله وأنه نبي, لعنه الله
الخلاصة للعلامة: القسم الثاني الباب الثاني: عبد الله: ٢٣٦
3 – Al-‘alamah al-Hilli (Pendeta Syiah Rafidhah) berkata, “Orang yang ghuluw lagi terlaknat, Amirul Mukminin membakarnya dengan api. Ia (Ibnu Saba’) mengklaim bahwasanya ‘Aliy adalah Ilah dan ia (Ibnu Saba’) adalah Nabi. Semoga Allah melaknatnya.

4 - وقال ابن داود: عبد الله بن سبأ رجع إلى الكفر وأظهر الغلو 
رجال ابن داود: القسم الثاني: ٢٥٤ / ٢٧٨
4 – Ibnu Dawud (Pendeta Syiah Rafidhah) berkata, “’Abdullah bin Saba’ kembali kepada kekafiran dan menampakkan keghuluwan (berlebih-lebihan).”

5 - وذكر الشيخ حسن بن زين الدين في التحرير الطاووسي: غال ملعون حرقه أمير المؤمنين (عليه السلام) بالنار 
التحرير الطاووسي: ١٧٣
5 – Syaikh Husain bin Zain ad-Din (Pendeta Syiah Rafidhah) menyebutkan di dalam kitab at-Tahrir ath-Thawusiy, “Orang yang ghuluw lagi terlaknat, Amirul Mukminin (‘alaihi Salam) membakarnya dengan api.”

أضواء على عقائد الشيعة الإمامية - الشيخ جعفر السبحاني - الصفحة ٧٩
[Adhwa’ ‘ala ‘Aqaid asy-Syiah al-Imamiyyah 79, Ja’far as-Subhaniy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/4132_أضواء-على-عقائد-الشيعة-الإمامية-الشيخ-جعفر-السبحاني/الصفحة_75]

Mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah) terbagi 2 (dua) dalam menyikapi eksistensi ‘Abdullah bin Saba’ tersebut, yaitu :
1. Menolaknya.
2. Menerimanya dengan mengecilkan perannya dan menafikan (meniadakan) hubungannya dengan keyakinan Syiah Rafidhah.

Untuk menjawab point yang pertama, yakni Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah menolak eksistensi ‘Abdullah bin Saba’, maka Tanya Syiah akan membawakan beberapa riwayat yang berasal dari agama mereka sendiri (yakni Kitab Suci Syiah Rafidhah).

عبد الله بن سبأ
170 - عن أبي جعفر عليه السلام ان عبد الله بن سبأ كان يدعى النبوة ويزعم أن أمير المؤمنين عليه السلام هو الله  (تعالى عن ذلك) فبلغ ذلك أمير المؤمنين عليه السلام فدعاه وسأله؟ فأقر بذلك وقال نعم أنت هو، وقد كان ألقي في روعي أنك أنت الله وأني نبي. فقال له أمير المؤمنين عليه السلام: ويلك قد سخر منك الشيطان فارجع عن هذا ثكلتك أمك وتب، فأبى فحبسهه أيام فلم يتب، فأحرقه بالنار وقال: ان الشيطان استهواه، فكان يأتيه ويلقى في روعه ذلك.
Abdullah bin Saba’
170 - Dari Abu Ja’far ‘alaihi Salam, bahwasanya Abdullah bin Saba’ telah menyerukan Nubuwwah dan mengklaim bahwa Amirul Mukminin ‘alaihi Salam adalah Allah (Maha Tinggi Allah atas tuduhan tersebut). Ketika beritanya telah sampai kepada Amirul Mukminin ‘alaihi Salam, maka beliau memanggilnya dan bertanya kepadanya dengan mengkonfirmasikannya dan ia (Abdullah bin Saba') berkata, “Benar, engkau adalah Dia (Allah), telah dibisikkan di dalam hatiku bahwa engkau adalah Allah dan aku adalah Nabi.” Amirul Mukminin ‘alaihi Salam berkata kepadanya, “Celakalah engkau, Syaithan telah menundukkanmu. Rujuklah dari perkataan tersebut, binasalah Ibumu dan bertaubatlah.” Kemudian ia menolak (bertaubat), maka dipenjaralah ia selama sehari, namun belum bertaubat juga. Maka beliau membakarnya dengan api dan berkata, “Sesungguhnya Syaithan telah menguasainya, ia (Syaithan) datang kepadanya dan membisikkan di dalam hatinya dengan perkataan tersebut.”

171 - عن هشام بن سالم، قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول وهو يحدث أصحابه بحديث عبد الله بن سبأ وما ادعى من الربوبية في أمير المؤمنين علي بن أبي طالب، فقال: انه لما ادعى ذلك فيه استتابه أمير المؤمنين عليه السلام فأبي أن يتوب فأحرقه بالنار
اختيار معرفة الرجال - الشيخ الطوسي - ج ١ - الصفحة ٣٢٣
171 – Dari Hisyam bin Salam, ia berkata, aku mendengar Abu Abdillah ‘alaihi Salam berkata, sedangkan ia sedang menceritakan kepada sahabatnya tentang Abdullah bin Saba’ yang menyerukan Rububiyyah atas Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Kemudian ia (Abu Abdillah) berkata, “Sesungguhnya ia (Abdullah bin Saba’) yang menyerukan hal tersebut (Rububiyyah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib), Amirul Mukminin memintanya untuk bertaubat. Kemudian ia menolak bertaubat, maka beliau membakarnya dengan api.”
[Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal 1/323, ath-Thusi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/2932_اختيار-معرفة-الرجال-الشيخ-الطوسي-ج-١/الصفحة_346#top]

172 - عن أبان بن عثمان، قال سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: لعن الله عبد الله بن سبأ أنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين عليه السلام وكان والله أمير المؤمنين عليه السلام عبدا لله طائعا، الويل لمن كذب علينا وأن قوما يقولون فينا ما لا نقوله في أنفسنا، نبرأ إلى الله منهم نبرأ إلى الله منهم 
172 - Dari Aban bin Utsman berkata, aku mendengar Abu Abdillah ‘alaihi Salam berkata, “Semoga Allah melaknat Abdullah bin Saba’, sesungguhnya ia menyerukan Rububiyyah atas Amirul Mukminin ‘alaihi Salam. Demi Allah, Amirul Mukminin ‘alaihi Salam adalah hamba Allah yang taat. (Neraka) Wail bagi orang yang berdusta atas nama kami, bahwasanya ada suatu kaum yang berkata mengenai kami yang di mana kami tidak pernah mengatakannya di dalam diri kami. Kami berlepas diri kepada Allah dari mereka, kami berlepas diri kepada Allah dari mereka.

173 - قال علي بن الحسين عليهما السلام لعن الله من كذب علينا، اني ذكرت عبد الله بن سبأ فقامت كل شعرة في جسدي، لقد ادعى أمرا عظيما ماله لعنه الله، كان علي عليه السلام والله عبدا لله صالحا، أخو رسول الله، ما نال الكرامة من الله الا بطاعته لله ولرسوله، وما نال رسول الله (ص) الكرامة من الله الا بطاعته لله
173 - Berkata Ali bin al-Hasan ‘alaihima Salam, “Semoga laknat Allah atas orang yang berdusta atas nama kami, sesungguhnya ketika aku menyebutkan Abdullah bin Saba’  maka berdirilah setiap bulu kuduk di tubuhku. Ia (Abdullah bin Saba’) menyerukan suatu perkara yang besar yang baginya laknat Allah. Sesungguhnya Ali ‘alaihi Salam adalah orang yang shalih, saudara Rasulullah, yang mendapatkan kedudukan dari Allah melainkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendapatkan kedudukan dari Allah melainkan dengan ketaatan kepada Allah.

174 - قال أبو عبد الله عليه السلام انا أهل بيت صديقون لا نخلو من كذاب يكذب علينا ويسقط صدقنا بكذبه علينا عند الناس, كان رسول الله صلى الله عليه وآله أصدق الناس لهجة وأصدق البرية, وكان مسيلمة يكذب عليه.
وكان أمير المؤمنين عليه السلام أصدق من برأ الله بعد رسول الله, وكان الذي يكذب عليه ويعمل في تكذيب صدقه ويفترى على الله الكذب عبد الله بن سبأ
الكشي وذكر بعضي أهل العلم أن عبد الله بن سبأ كان يهوديا فأسلم ووالى عليا عليه السلام, وكان يقول وهو على يهوديته في يوشع بن نون وصي موسى بالغلو, فقال في اسلامه بعد وفات رسول الله صلى الله عليه وآله في علي عليه السلام مثل ذلك.
وكان أول من شهر بالقول بفرض امامة علي وأظهر البراءة من أعدائه وكاشف مخالفيه وكفرهم, فمن هيهنا قال من خالف الشيعة أصل التشيع والرفض مأخوذ من اليهودية.
اختيار معرفة الرجال - الشيخ الطوسي - ج ١ - الصفحة ٣٢٤
174 – Berkata Abu Abdillah ‘alaihi Salam, “Kami adalah Ahlul Bait yag merupakan orang-orang yang jujur, senantiasa ada para pendusta yang berdusta atas nama kami, maka runtuhlah kejujuran kami dengan kedustaannya atas nama kami di sisi manusia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi adalah manusia yang paling jujur perkataannya dan makhluk yang paling jujur, sedangkan Musailamah telah berdusta atas namanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam).
Dan Amirul Mukminin ‘alaihi Salam adalah orang yang paling jujur yang telah dibersihkan oleh Allah sepeninggal Rasulullah. Sedangkan orang-orang yang berdusta atas namanya dan mengamalkan kedustaannya dengan membenarkannya, yang dengan kedustaannya tersebut ia telah melawan Allah. Pendusta tersebut adalah Abdullah bin Saba’.
Di dalam al-Kasysyi, sebagian Ahli Ilmu menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang masuk Islam dan menolong Ali ‘alaihi Salam. Ketika ia masih menjadi seorang Yahudi, ia berkata mengenai Yusya’ bin Nun yang menjadi penerusnya Musa dengan ghuluw (berlebih-lebihan). Kemudian dalam ke-Islamannya sepeninggal wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi mengenai Ali ‘alaihi Salam, ia berkata yang sama (Ali menjadi penerus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan ghuluw).
(Ia adalah) orang yang pertama kali yang menyerukan dengan perkataan bahwa Imamah selanjutnya adalah (milik) Ali dan menampakkan bara’ah (berlepas diri) dari musuh-musuhnya dan memeranginya atas orang-orang yang menyelisihinya serta mengkafirkan mereka. Sehingga dari sinilah, orang-orang yang menyelisihi Syiah berkata, “Asalnya Tasyayu’ dan Rafidhah  diambil dari Yahudi.”

[Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal 1/324, ath-Thusi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/2932_اختيار-معرفة-الرجال-الشيخ-الطوسي-ج-١/الصفحة_347#top]

Sedangkan dalam menjawab point yang ke-2 (dua), yakni mereka (Syiah Rafidhah) menerima eksistensi Abdullah bin Saba’ namun dengan mengecilkan perannya dan menafikan (meniadakan) hubungannya dengan keyakinan Syiah Rafidhah.

Maka dari riwayat-riwayat Syiah Rafidhah tersebut di atas, kita dapat mengetahui bahwasanya Abdullah bin Saba’ bertindak ghuluw terhadap Imam-nya dengan memberikan sifat-sifat Rububiyyah pada diri mereka. Sedangkan Ahlul Bayt berlepas diri dari Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah yang suka berdusta aka (also known as) Taqiyyah yang mengatas-namakan Ahlul Bayt.

Mereka (Syiah Rafidhah) yang sebagai pengikut Ibnu Saba’ atau Sabaiyyah meyakini bahwa Imam mereka adalah Rabb.

Syiah Melaknat Abdullah Bin Saba Yahudi

قال الله تعالى:  (يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ) أي ربكم الذي هو الإمام
Allah Ta’ala berfirman, “Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu.” [QS. Ar-Ra’d : 2]
Yakni Rabbmu [رَبِّكُمْ] adalah Imam.
[Mishbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah 145, Khomeini Pendeta Syiah Rafidhah]

Padahal di dalam riwayat mereka (Syiah Rafidhah) bahwasanya Imam ‘Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu melarang untuk memanggil beliau dengan sebutan Rabb.

اعلم يا باذر أنا عبد الله عز وجل وخليفته على عباده لا تجعلونا أربابا
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٦ - الصفحة ٢
Ketahuilah wahai Badzar, aku adalah seorang hamba Allah ‘Azza wa Jalla dan khalifah-Nya atas hamba-hamba-Nya, maka janganlah kalian menjadikan kami sebagai Rabb-Rabb.
[Bihar al-Anwar 26/2, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1457_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٦/الصفحة_4]

Namun Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah telah membangkang dan akan selalu membangkang. Hingga akhirnya, Imam Syiah Rafidhah yang terakhir akan muncul di akhir zaman di Iran yang mengaku sebagai Rabb, yakni di Khurasan Tehran, Khurasan Utara, Khurasan Razavi, Khurasan Selatan, Sijan, Khuza dan Karman. Ia bernama al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah sang Imam Zaman yang juling matanya, keriting rambutnya, berasal dari timur, dapat membangkitkan orang mati dengan jelmaan syaithan dari bangsa jin, mendatangkan makanan dan air dari dalam tanah, mendatangkan perbendaharaan kekayaan, berjalan dengan cepat bagai awan hujan yang ditiup angin, waktu terasa lama, yang di mana saat ini sedang dalam masa ghaibah hingga nantinya muncul dengan kemarahan serta diikuti oleh Yahudi dan ‘Ajam Persia serta jin, sebagaimana yang telah Tanya Syiah Goreskan Pena Part [14] Al Qaim Imam Mahdi Syiah Dajjal.

وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنْ يَقُولَ لِأَعْرَابِيٍّ أَرَأَيْتَ إِنْ بَعَثْتُ لَكَ أَبَاكَ وَأُمَّكَ أَتَشْهَدُ أَنِّي رَبُّكَ فَيَقُولُ نَعَمْ فَيَتَمَثَّلُ لَهُ شَيْطَانَانِ فِي صُورَةِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَقُولَانِ يَا بُنَيَّ اتَّبِعْهُ فَإِنَّهُ رَبُّكَ
Dan di antara fitnahnya (Dajjal) adalah ia akan berkata kepada seorang Arab, “Bagaimana pendapatmu, jika aku membangkitkan ayah dan ibumu (yang telah mati) untukmu, apakah engkau akan bersaksi bahwa aku adalah Rabbmu?” Dia menjawab, “Ya.” Kemudian dua Syaithan menjelma menjadi ayah dan ibunya, maka keduanya berkata, “Wahai anakku! Ikutilah ia, sesungguhnya dia adalah Rabbmu.”
[Ibnu Majah no.4067, Shahih : Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no.7753, Syaikh al-Albani]

 وَيَأْتِي الرَّجُلَ قَدْ مَاتَ أَخُوهُ وَمَاتَ أَبُوهُ فَيَقُولُ أَرَأَيْتَ إِنْ أَحْيَيْتُ لَكَ أَبَاكَ وَأَحْيَيْتُ لَكَ أَخَاكَ أَلَسْتَ تَعْلَمُ أَنِّي رَبُّكَ فَيَقُولُ بَلَى فَتَمَثَّلَ لَهُ الشَّيَاطِينُ نَحْوَ أَبِيهِ وَنَحْوَ أَخِيهِ
Ia (Dajjal) akan mendatangi seseorang yang telah mati yang merupakan saudaranya dan ayahnya, Kemudian ia (Dajjal) berkata, “Bagaimana pendapatmu jika aku bangkitkan ayahmu dan saudaramu untukmu, apakah engkau akan mengakui bahwa aku adalah Rabbmu?” Dia menjawab, “Ya.” Kemudian Syaithan menjelma menjadi ayahnya dan saudaranya.
[Ahmad no.26298, Hasan : Musnad Imam Ahmad no.27451, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya di awal bahwa,
Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dilakukan Allah Subhanahu wa Ta’ala baik, mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta mengimani bahwasanya Dia adalah Raja, Penguasa, dan Rabb yang mengatur segala sesuatu.
[Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah 146, al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas]

Mulai dari sini, Tanya Syiah akan mengurai benang merah yang menunjukkan bahwasanya Syiah Rafidhah adalah kelompok Sabaiyyah, yakni pengikut Abdullah bin Saba’ dalam memberikan Rububiyyah dan bahkan Uluhiyyah serta Asma’ wa Shifat kepada Imam-Imam mereka (Syiah Rafidhah).

[1] Rububiyyah


[-] Imam Syiah Rafidhah adalah Rabb yang memiliki cahaya yang ditampakkan kepada Nabi Musa ‘alaihi Salam.

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, “Ya Rabb-ku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Rabb berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Rabb-nya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” [QS. Al-A’raaf : 143]


Hussain al-Fahid Pendeta Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah
Menit 01:50 – 02:10

فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا
“Tatkala Rabb-nya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.” [QS. Al-A’raaf : 143]

Bagaimana penampakkannya? Terdapat riwayat dari Amirul Mukminin, ia berkata, “Sesungguhnya yang ditampakkan kepada Musa adalah dzarrah dari dzarrah cahayaku (‘Aliy).”
[https://www.youtube.com/watch?v=XloobBC5Xks&list=UUBeJUiGXz4aii-mL0wOUwvA]

Maha Suci Allah dari perkataan kufur Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah tersebut di atas.

[-] Imam Syiah Rafidhah adalah Rabb yang jika berkata, “Jadilah,” maka jadilah ia.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah,” maka terjadilah ia.” [QS. Yaasin : 82]

فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Maka Mahasuci (Allah) yang di Tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” [QS. Yaasin : 83]

وَقَوْلُهُ: {فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ} أَيْ: تَنْزِيهٌ وَتَقْدِيسٌ وَتَبْرِئَةٌ مِنَ السُّوءِ لِلْحَيِّ القيوم، الذي بيده مقاليد السموات وَالْأَرْضِ، وَإِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ
Firman-Nya, “Maka Mahasuci (Allah) yang di Tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” Yakni, Allah Mahasuci, berlepas dari segala bentuk keburukan. Dia Mahahidup, lagi terus-menerus mengurusi makhluk-Nya. Di Tangan-Nya-lah berada kendali langit dan bumi. Kepada-Nya-lah kembali segala sesuatu.
[Tafsir Ibnu Katsir 6/596, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Allah Mahasuci dan berlepas dari segala keburukan yang dilontarkan oleh Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah.

يا ابن آدم أنا أقول للشئ كن فيكون, أطعني فيما أمرتك أجعلك تقول للشئ كن فيكون
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٩٠ - الصفحة ٣٧٦
Wahai bani Adam, Aku berkata kepada sesuatu, “Jadilah,” maka jadilah ia. Oleh karena itu, taatilah Aku dengan apa yang Aku perintahkan kepadamu, niscaya Aku akan menjadikan engkau (Imam Syiah) (dapat) berkata kepada sesuatu, “Jadilah,” maka jadilah ia.
[Bihar al-Anwar 90/376, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1521_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٩٠/الصفحة_0?pageno=376#top]


Pendeta Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah
Menit 00:30 – 00:40
Imam, di tangannya-lah berada kendali alam semesta, dan segala sesuatu. Dan jika (Imam) berkata kepada sesuatu, “Jadilah,” maka jadilah ia.
[https://www.youtube.com/watch?v=glstxbtiwWQ]

[-] Imam Syiah Rafidhah adalah Rabb yang menghidupkan dan mematikan yang senantiasa hidup serta tidak akan pernah mati.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ
“Dan bertawakkal-lah kepada Allah Yang Maha Hidup (Kekal), Yang tidak mati.” [QS. Al-Furqaan : 58]

لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” [QS. Al-Hadiid : 2]

ونحن خزان الله في أرضه وسمائه, وأنا أحيي وأنا أميت وأنا حي لا أموت
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٣٩ - الصفحة ٣٤٧
Kami (Imam) adalah penjaga Allah di bumi dan langit, akulah (‘Aliy) yang menghidupkan dan akulah (‘Aliy) yang mematikan serta aku (‘Aliy) akan senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati.
[Bihar al-Anwar 39/347, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1470_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٣٩/الصفحة_349]

[-] Imam Syiah Rafidhah adalah Rabb yang awal dan yang akhir, yang zhahir dan yang bathin serta mengetahui segala sesuatu.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” [QS. Al-Hadiid : 3]

فلما طلعت الشمس قال عليه السلام: السلام عليك يا خلق الله الجديد المطيع له, فسمعوا دويا من السماء وجواب قائل يقول: وعليك السلام يا أول يا آخر يا ظاهر يا باطن يا من هو بكل شئ عليم
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤١ - الصفحة ١٨٠
Ketika matahari terbit, (‘Aliy) ‘alaihi Salam berkata, “Assalamu ‘alaiki wahai makhluk Allah yang senantiasa baru dan taat kepada-Nya.” Lalu terdengar suara keras dari langit dengan jawaban, “Wa ‘alaikassalam wahai yang awal dan yang akhir, yang zhahir dan yang bathin, dan yang mengetahui segala sesuatu.”
[Bihar al-Anwar 41/180, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1472_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤١/الصفحة_0?pageno=180#top]

[-] Imam Syiah Rafidhah adalah Rabb pada hari Kiamat, yang di mana para makhluk akan kembali kepada Imam dan Imam akan menghisab mereka, serta memasukkan ke Surga dan Neraka sesuai dengan kehendak Imam Syiah Rafidhah.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ
وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ
لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
وَقَالَ قَرِينُهُ هَذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ
أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ
“Dan ditiuplah Sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman.”
“Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang Malaikat penggiring dan seorang Malaikat penyaksi.”
“Sesungguhnya kamu dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.”
“Dan yang menyertainya, dia berkata, “Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.”
“Allah berfirman, “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam Neraka semua orang kafir yang sangat ingkar dan keras kepala.” [QS. Qaaf : 20-24]

وَالظَّاهِرُ أَنَّهَا مُخَاطَبَةٌ مَعَ السَّائِقِ وَالشَّهِيدِ، فَالسَّائِقُ أَحْضَرَهُ إِلَى عَرْصَةِ الْحِسَابِ، فَلَمَّا أَدَّى الشَّهِيدُ عَلَيْهِ، أَمَرَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى بِإِلْقَائِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ.
Secara dzahir bahwasanya (ayat “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam Neraka”) tersebut ditujukan pada (Malaikat) penggiring dan penyaksi. (Malaikat) penggiring (bertugas) membawanya ke tempat penghisaban, tatkala (Malaikat) penyaksi telah menunaikan (tugasnya), Allah Ta’ala memerintahkan keduanya untuk melemparkannya ke dalam Neraka Jahannam, seburuk-buruknya tempat kembali.”
[Tafsir Ibnu Katsir 7/402, al-Hafizh Ibnu Katsir]


Pendeta Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah
Aliy bin Abi Thalib ‘alaihi Salam adalah Rabb kita pada hari Kiamat.
Dalilnya dari Imam Ma’shum, “Makhluk akan kembali kepada kalian (Imam) dan kalian (Imam) akan menghisab mereka.”
Aliy bin Abi Thalib pada hari Kiamat adalah Rabb dari Rabb-Rabb.
Bagi kalian yang menyelisihinya, maka Insya Allah pada hari Kiamat, ‘Aliy bin Abi Thalib akan membalas dendam dengan melemparkan kalian ke dalam Neraka Jahannam, seburuk-buruknya tempat kembali.
Dan Insya Allah, ia (‘Aliy) akan memasukkan Syiah ke dalam Surga dan yang menyelisihinya ke dalam Neraka.
[https://www.youtube.com/watch?v=zZYtuhRPMJk&list=UUBeJUiGXz4aii-mL0wOUwvA]

وإياب الخلق إليكم وحسابهم عليكم
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٩٧ - الصفحة ٣٤٤
Makhluk akan kembali kepada kalian (Imam) dan kalian (Imam) akan menghisab mereka.
[Bihar al-Anwar 97/344, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1528_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٩٧/الصفحة_346]

قال أبو عبد الله عليه السلام: إذا كان يوم القيامة وضع منبر يراه جميع الخلائق, يقف عليه رجل يقوم ملك عن يمينه وملك عن يساره, فينادي الذي عن يمينه: يا معشر الخلائق, هذا علي بن أبي طالب يدخل الجنة من شاء, وينادي الذي عن يساره: يا معشر الخلائق هذا علي بن أبي طالب عليه السلام صاحب النار يدخلها من شاء 
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٣٩ - الصفحة ١٩٨
Abu ‘Abdillah ‘alaihi Salam berkata, “Pada saat hari Kiamat diletakanlah sebuah mimbar yang dapat dilihat oleh seluruh makhluk. Lantas berdirilah seorang laki-laki yang di mana terdapat Malaikat di sebelah kanannya dan Malaikat di sebelah kirinya. Lalu berserulah (Malaikat) yang berada di sebelah kanannya, “Wahai sekalian makhluk, ini adalah ‘Aliy bin Abi Thalib yang akan memasukkan ke Surga siapa saja yang ia kehendaki.” Kemudian berserulah (Malaikat) yang berada di sebelah kirinya, “Wahai sekalian makhluk, ini adalah ‘Aliy bin Abi Thalib ‘alaihi Salam sang pemilik Neraka, yang di mana ia akan memasukkan ke Neraka siapa saja yang ia kehendaki.”
[Bihar al-Anwar 39/198, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1470_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٣٩/الصفحة_200]

[2] Uluhiyyah


Tauhid Uluhiyyah dikatakan juga Tauhiidul ‘Ibaadah yang berarti mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdoa, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (meminta pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan), dan segala apa yang disyariatkan dan diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya, dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.
[Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah 152, al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas]

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Ilah apa pun yang lain. Tidak Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” [QS. Al-Qashash : 88]

وَقَوْلُهُ: {وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ} أَيْ: لَا تَلِيقُ الْعِبَادَةُ إِلَّا لَهُ وَلَا تَنْبَغِي الْإِلَهِيَّةُ إِلَّا لِعَظَمَتِهِ.
Firman-Nya, “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Ilah apa pun yang lain. Tidak Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia.” Yakni, tidak ada yang pantas untuk diibadahi kecuali Dia. Dan tidaklah patut Uluhiyyah (hak peribadahan) melainkan karena ke-Maha Agung-Nya.
[Tafsir Ibnu Katsir 6/261, al-Hafizh Ibnu Katsir]

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” [QS. Al-Faatihah : 5]

وَقَالَ الضَّحَّاكُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ} يَعْنِي: إِيَّاكَ نُوَحِّدُ وَنَخَافُ وَنَرْجُو يَا رَبَّنَا لَا غَيْرَكَ {وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} عَلَى طَاعَتِكَ وَعَلَى أُمُورِنَا كُلِّهَا.
Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, “Hanya kepada-Mu kami beribadah,” Yakni hanya Engkau semata yang kami Tauhidkan (esakan), kami takuti dan kami harapkan wahai Rabb kami, bukan selain-Mu.” “Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan,” dalam mentaati-Mu dan dalam segala urusan kami.”

وَقَالَ قَتَادَةُ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُخْلِصُوا لَهُ الْعِبَادَةَ وَأَنْ تَسْتَعِينُوهُ عَلَى أَمْرِكُمْ.
Qatadah berkata, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Dia memerintahkan kepada kalian agar mengikhlaskan ibadah dan meminta pertolongan kepada-Nya dalam segala urusan kalian.”

[Tafsir Ibnu Katsir 1/135, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Namun Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah menyerahkan Tauhid Uluhiyyah (hak peribadahan dalam hal istighatsah/minta pertolongan di saat sulit) kepada selain Allah, yakni kepada Imam mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah).


Pendeta Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah
Shalat Istighatsah dengan Fathimah az-Zahra, sujudlah kalian sembari berdoa, “Wahai maulaku Fathimah, tolonglah aku,” sebanyak 100 (seratus) kali. Itulah yang namanya Tauhid.
[https://www.youtube.com/watch?v=Z4h0Wzv-Eyk]

عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إذا كانت لك حاجة إلى الله وضقت بها ذرعا, فصل ركعتين فإذا سلمت كبر الله ثلاثا, وسبح تسبيح فاطمة عليها السلام, ثم اسجد وقل مائة مرة: يا مولاتي فاطمة أغيثيني, ثم ضع خدك الأيمن على الأرض, وقل مثل ذلك, ثم عد إلى السجود وقل ذلك مائة مرة وعشر مرات
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٩٩ - الصفحة ٢٥٤
Dari Abi ‘Abdillah ‘alaihi Salam, ia berkata, “Apabila engkau memiliki sebuah hajat (keperluan) kepada Allah dan merasa tertekan dalam kelelahan (menunggu dikabulkannya). Maka shalatlah 2 (dua) raka’at, dan ketika engkau salam, bertakbirlah 3 (tiga) kali serta bertasbihlah dengan tasbih Fathimah ‘alaiha Salam. Kemudian sujudlah sembari berdoa sebanyak 100 (seratus) kali, “Wahai maulaku Fathimah, tolonglah aku.” Lalu letakkan pipimu yang kanan ke atas tanah seraya berdoa dengan doa yang seperti tadi (Wahai maulaku Fathimah, tolonglah aku). Selanjutnya kembali bersujud dengan berdoa (Wahai maulaku Fathimah, tolonglah aku) sebanyak 110 (seratus sepuluh) kali.
[Bihar al-Anwar 99/254, al-Majlisiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1530_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٩٩/الصفحة_256]

Karena Imam mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah) adalah Ilah yang mahakuasa.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dia-lah Allah yang tidak ada Ilah (yang berhak disembah dengan benar) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” [QS. Al-Hasyr : 23]

فاطمة الزهراء عليها السلام.
بل كائن إلهي جبروتي ظهر على هيئة امرأة.
حوار مع فضل الله حول الزهراء (س) - السيد هاشم الهاشمي - الصفحة ٩٥
Fathimah az-Zahra’ ‘alaiha Salam.
Bahkan ia (Fathimah az-Zahra) adalah Ilah Yang Mahakuasa yang muncul dalam bentuk seorang wanita.
[Hiwar Ma’a Fadhl Allah Haul az-Zahra’ 95, Hasyim al-Hasyimiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/4289_حوار-مع-فضل-الله-حول-الزهراء-س-السيد-هاشم-الهاشمي/الصفحة_87]


Pendeta Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah
Menit 04:06 – 04:18
Sesungguhnya (terdapat) hadits mengenainya (Fathimah az-Zahra), yakni hadits (Fathimah az-Zahra) adalah seorang wanita yang berwujud Malaikat, Ilah Yang Mahakuasa yang muncul di dunia ini dalam bentuk seorang manusia.

Wahid al-Khurasani Pendeta Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah
Menit 06:53 – 07:00
Fathimah adalah nama dari Asmaa-ul Husna.

[https://www.youtube.com/watch?v=kKFfqIsW7fc&list=UUBeJUiGXz4aii-mL0wOUwvA]

[3] Asma’ wa Shifat


[-] Imam Syiah Rafidhah adalah Asmaa-ul Husna.

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Hanya milik Allah Asmaa-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Nama-Nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. Al-A’raaf : 180]

وَقَالَ الْعَوْفِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ} قَالَ: إِلْحَادُ الْمُلْحِدِينَ: أَنْ دَعَوُا "اللات في أسماء الله.
Al-‘Aufiy menuturkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman-Nya Ta’ala, “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Nama-Nama-Nya.” Ia berkata, “Penyimpangan orang-orang yang menyimpang dalam menyebut (nama) “al-Laata” di dalam Nama-Nama Allah.”

وَقَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ: {وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ} قَالَ: اشْتَقُّوا "اللَّاتَ" مِنَ اللَّهِ، وَاشْتَقُّوا "الْعُزَّى" مِنَ الْعَزِيزِ.
Ibnu Juraij menuturkan dari Mujahid, “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Nama-Nama-Nya.” Ia berkata, “Mereka mengambil (nama) “al-Laata” dari (nama) Allah, dan mengambil (nama) “’al-Uzza” dari (nama) “al-‘Aziz”.

وَقَالَ قَتَادَةُ: {يُلْحِدُونَ} يُشْرِكُونَ.
Qatadah berkata, “Orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran dalam (menyebut) Nama-Nama-Nya) adalah orang-orang Musyrik.

[Tafsir Ibnu Katsir 3/515-516, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Namun kaum Musyrikin dari kalangan Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah telah melakukan penyimpangan dari kebenaran dalam menyebut nama-nama Imam mereka di dalam Nama-Nama Allah Ta’ala.

عن أبي عبد الله عليه السلام في قول الله عز وجل: " ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها " قال: نحن والله الأسماء الحسنى التي لا يقبل الله من العباد عملا إلا بمعرفتنا
الكافي - الشيخ الكليني - ج ١ - الصفحة ١٤٣
الكافي - الشيخ الكليني - ج ١ - الصفحة ١٤٤
Dari Abi ‘Abdillah ‘alaihi Salam dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Hanya milik Allah Asmaa-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husna itu.” Ia (Abu ‘Abdillah) berkata, “Kami, demi Allah adalah Asmaa-ul Husna yang di mana Allah tidak akan menerima amal seorang hamba, kecuali dengan mengenal kami.”
[Al-Kaafiy 1/143-144, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1122_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-١/الصفحة_0?pageno=143#top]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1122_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-١/الصفحة_192#top]


Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 00:50 – 01:53
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Hanya milik Allah Asmaa-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husna itu.” [QS. Al-A’raaf : 180]

Dan kita telah mengetahui bahwa huruf lam di sini adalah huruf lam untuk kepemilikan, yakni Asmaul Husna adalah milik Allah dan bukan termasuk Dzat Allah.

Dan jika nama-nama ini adalah makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah, maka tidak ada isykal dan bahkan lebih dari itu makhluk yang termulia serta pemimpin makhluk adalah pemimpin manusia yang mulia yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalih. Dan setelah Nabi adalah Amirul Mukminin (‘Aliy), kemudian Ahlul Bayt Salamullah Ta’ala ‘alaihim.

Bahkan lebih dari itu, kita memohon dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui pemimpin makhluk ini, sehingga menjadikan mereka sebagai pemimpin nama-nama ini (Asmaul Husna).

Hal ini dikarenakan nama-nama ini adalah makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah.

Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 02:40 – 03:20
Ketika kita berkata, “Ya ‘Aliy,” maka sama saja mengatakan, “Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Tidak ada khilafiyah selamanya.

[https://www.youtube.com/watch?v=ZjpnEjrpGvo]

Oleh karena itu, kita dapat melihat mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah) mengganti nama Allah dengan nama para Imam mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah).

Syiah Melaknat Abdullah Bin Saba Yahudi

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” [QS. Al-Baqarah : 156]

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS. Al-Baqarah : 157]


Pendeta Syiah Rafidhah
إنا للحسين وإنا إليه راجعون
“Sesungguhnya kami adalah milik al-Husain dan kepada al-Husain kami kembali.”
“Sesungguhnya kami adalah milik Muhammad dan kepada Muhammad kami kembali.”
“Sesungguhnya kami adalah milik (Fathimah) az-Zahra’ dan kepada (Fathimah) az-Zahra’ kami kembali.”
“Sesungguhnya kami adalah milik al-Hasan dan kepada al-Hasan kami kembali.”
“Sesungguhnya kami adalah milik ‘Aliy dan kepada ‘Aliy kami kembali.”
[https://www.youtube.com/watch?v=p7K8x5JRxX4&list=UUBeJUiGXz4aii-mL0wOUwvA]

Dan begitu juga, mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah) senantiasa berdzikir dengan nama Aliy Radhiyallahu ‘anhu.


Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 00:50 – 01:05
Ketika kita (Syiah) akan mati, maka kita (Syiah) berkata, “Ya Ali.” Dan ketika kita (Syiah) di dalam kubur, maka kita (Syiah) akan berkata, “Ya Ali.” Serta ketika kita (Syiah) dibangkitkan dari kubur, maka kita (Syiah) akan berkata, “Ya Ali.” Demi Allah, ketika kita (Syiah) dimasukkan ke dalam surga, kita (Syiah) akan berteriak, “Ya Ali.”
[https://www.youtube.com/watch?v=Kh4VvEhTBd0]

Bahkan ketika menjelang kematiannya (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah), mereka akan meminta tolong kepada ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu dengan berkata, “Ya Ali Madad (wahai Ali tolonglah aku).”


Syiah Rafidhah ketika akan mati berkata, “Labbaika Ya Husain, Labbaiki Ya Zainab, Ya Zahra, Ya Ali Madad (tolonglah aku).”
[https://www.youtube.com/watch?v=XfxB1YQAhQM]

Hal ini dikarenakan mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah) meyakini para Imam mereka adalah Asmaa-ul Husna, sehingga mereka akan mengganti nama-nama Allah dengan nama-nama Imam mereka (Syiah Rafidhah).

Bahkan mereka (Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah) mengatakan bahwasanya jika menyebut nama Allah tanpa Aliy, maka itulah kesyirikan.


Ali Kurani Pendeta Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah
Menit 00:45 – 00:50
Ya Allah tanpa ya Aliy adalah syirik, dan ya Ali adalah Tauhid yang shahih.
[https://www.youtube.com/watch?v=u0OI2g5guCk&feature=youtu.be]

Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Nama-Nama-Nya, nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

[-] Imam Syiah Rafidhah adalah Wajah Allah yang tidak akan musnah.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Ilah apa pun yang lain. Tidak Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” [QS. Al-Qashash : 88]

وَقَوْلُهُ: {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ} : إِخْبَارٌ بِأَنَّهُ الدَّائِمُ الْبَاقِي الْحَيُّ الْقَيُّومُ، الَّذِي تَمُوتُ الْخَلَائِقُ وَلَا يَمُوتُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ * وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ} [الرَّحْمَنِ: 26، 27] ، فعبر بالوجه عن الذات،
Firman-Nya, “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah.” Ini merupakan sebuah khabar bahwasanya Dia adalah abadi, hidup dan Maha berdiri sendiri, yang mematikan para makhluk dan tidak pernah mati, sebagaimana firman Ta’ala,
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. [QS. Ar-Rahmaan : 26-27] (Allah) mengungkapkan Dzat dengan Wajah.
[Tafsir Ibnu Katsir 6/261, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Namun Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah Musyrik, meyakini bahwa Imam mereka yakni ‘Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu adalah wajah Allah yang tidak akan musnah.

نحن حجة الله, ونحن باب الله, ونحن لسان الله, ونحن وجه الله
الكافي - الشيخ الكليني - ج ١ - الصفحة ١٤٥
Kami (Imam) adalah hujjah Allah, kami (Imam) adalah pintu Allah, kami (Imam) adalah lisan Allah, kami (Imam) adalah wajah Allah.
[Al-Kaafiy 1/145, al-Kulayniy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1122_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-١/الصفحة_193#top]

Syiah Melaknat Abdullah Bin Saba Yahudi

Imam Shadiq as dalam menafsirkan ayat, “Segala sesuatu akan musnah, kecuali wajah Allah...” berkata, “Yang dimaksud dengan Wajah Allah dalam ayat ini adalah Ali as.”
[Kecuali Ali hal.22, Abbas Rais Kermani]

Bahkan keyakinan ini telah tersebar di Indonesia dan dijual bebas bukunya.


Penulis : Abbas Rais Kermani
Penerjemah : Musa Shahab & M. Ilyas
Penyunting : Abu Ali & Anis M
Penerbit : Citra
Tebal : 400 halaman
Ukuran : 15.5 x 23 cm
Harga : Rp 59.500,-
Salah satu hadis mengenai keutamaan Imam Ali, yang disoal sebagian pihak di Tanah Air, adalah hadis dari diriwayatkan oleh Imam Shadiq as. Ketika ditanya makna ayat 88 surah al-Qashash [28], Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya (Allah), beliau menjawab, “Yang dimaksud dengan wajah Allah dalam ayat ini adalah Ali as.”
[ICC Jakarta (Pusat Kebudayaan Iran Syiah Jakarta)]

Sehingga bertebaranlah keyakinan Syiah Rafidhah as-Sabaiyyah di Indonesia.

Syiah Melaknat Abdullah Bin Saba Yahudi

Hasan Intizhar
SUDAH PAHAM BELUM, ALLAH ITU ADALAH ALI!... bagius...

Syiah Melaknat Abdullah Bin Saba Yahudi

Diar Anwar
ALLAH ITU ADALAH ALI.
BUKU YG BAGUS,

Diar Anwar
ALLAH ITU JUGA MUHAMMAD.

Sugeng Iwan
Alhamdulillah..bisa menyembah IMAM ‘ALI as

Syiah Melaknat Abdullah Bin Saba Yahudi

Haydar Ali
Yaa Rasulallah.. aku bersujud kepada mu
Yaa Fathimah.. aku bersujud kepada mu
Yaa Ali.. aku bersujud kepada mu