Wednesday, April 29, 2015

// // Leave a Comment

Syiah Hizbut Tatar Bantai Khilafah Islam [Goresan Pena Tanya Syiah Part 21]

Syiah Hizbut Tatar Bantai Khilafah Islam

Syiah Rafidhah merupakan sebuah agama yang telah terbiasa menjalin kerjasama dengan kaum kafirin dalam membantai kaum Muslimin. Sehingga menjadikan Syiah Rafidhah sebagai golongan mereka, yaitu hizbul kuffar, yang senantiasa akan memberikan pertolongan dan bantuan kepada musuh-musuh Islam. Seperti kerjasama yang dijalin oleh Syiah Rafidhah Iran dengan Amerika dalam membantai kaum Muslimin di Afghanistan dan Irak.

Pengkhianatan Syiah Rafidhah tersebut sebelumnya telah Tanya Syiah Goreskan Pena Part [3] Kerjasama Militer Syiah - Amerika.


Wakil Presiden Bidang Hukum dan Parlemen Iran Mohammad Ali Abtahi
Menit 00:40
Ini adalah bantuan utama Iran yang pertama membantu Amerika menjatuhkan Taliban dan al-Qaeda (di Afghanistan). Ia adalah mustahil tanpa bantuan Iran.

Presiden Iran Mohammad Khatami
Menit 01:02
Taliban merupakan musuh kami, Amerika menyatakan bahwa Taliban juga merupakan musuh mereka. Jika mereka menjatuhkan Taliban, ia akan memenuhi kehendak Iran.
Menit 02:45
Saya memberitahunya, mari kita mengulangi pengalaman Afghanistan di Irak.
[http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=G7gPCEvbk7Q]

Pengkhianatan tersebut sebelumnya pernah diperingatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah, tatkala Tatar yang kafir datang menyerang Khurasan (Afghanistan dan sekitarnya) serta Irak.

وَهُمْ يَسْتَعِينُونَ بِالْكُفَّارِ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، فَقَدْ رَأَيْنَا وَرَأَى الْمُسْلِمُونَ أَنَّهُ إِذَا ابْتُلِيَ الْمُسْلِمُونَ بِعَدُوٍّ كَافِرٍ كَانُوا مَعَهُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، كَمَا جَرَى لِجَنْكِزْخَانَ مَلِكِ التَّتَرِ الْكُفَّارِ، فَإِنَّ الرَّافِضَةَ أَعَانَتْهُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ.
وَأَمَّا إِعَانَتُهُمْ لِهُولَاكُو ابْنِ ابْنِهِ لَمَّا جَاءَ إِلَى خُرَاسَانَ وَالْعِرَاقِ وَالشَّامِ فَهَذَا أَظْهَرُ وَأَشْهَرُ مِنْ أَنْ يَخْفَى عَلَى أَحَدٍ، فَكَانُوا بِالْعِرَاقِ وَخُرَاسَانَ مِنْ أَعْظَمِ أَنْصَارِهِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا ، وَكَانَ وَزِيرُ الْخَلِيفَةِ بِبِغَدْادَ الَّذِي يُقَالُ لَهُ ابْنُ الْعَلْقَمِيِّ مِنْهُمْ ، فَلَمْ يَزَلْ يَمْكُرُ بِالْخَلِيفَةِ وَالْمُسْلِمِينَ،
Mereka (Syiah Rafidhah) (telah terbiasa) meminta pertolongan kepada orang-orang kafir dalam (menghadapi) kaum Muslimin. Sungguh kita dan kaum Muslimin telah melihat bahwasanya tatkala kaum Muslimin diserang oleh musuh dari kalangan kaum kafirin, maka mereka (Syiah Rafidhah) akan bersamanya (kaum kafirin) dalam (menghadapi) kaum Muslimin. Sebagaimana yang telah terjadi pada Jenghis Khan yang merupakan raja Tatar yang kafir, dan sesungguhnya Rafidhah (Syiah)-lah yang menolongnya dalam (menghadapi) kaum Muslimin.
Dan juga mereka (Syiah Rafidhah) telah membantu Hulaku Khan yang merupakan anaknya (Jenghis Khan), tatkala datang (menyerang) Khurasan dan Irak serta Syam, (bantuan) tersebut telah masyhur dan tidak tersembunyi atas seorang pun. Mereka (Syiah Rafidhah) yang berada di Irak dan Khurasan adalah termasuk penolong terbesarnya secara dzahir dan bathin. Sedangkan Wazir (Menteri) sang Khalifah yang berada di Baghdad yang bernama Ibnul ‘Alqamiy adalah berasal dari kalangan mereka (Syiah Rafidhah). Ia (Ibnul ‘Alqamiy) senantiasa melakukan makar terhadap Khalifah dan kaum Muslimin.
[Majmu’ Fatawa 5/155, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

Karena mereka (Syiah Rafidhah) mengharapkan kemuliaan dari kaum kafirin, sehingga kecintaan-lah yang akan timbul di dalam hati para penganut agama Syiah Rafidhah tersebut terhadap daulah kuffar, dengan menaruh kedengkian terhadap negeri-negeri Islam.



George W. Bush
00:52  Aku (Bush) meyakinkan ia (Abdul Aziz al-Hakim Syiah), bahwa Amerika mendukung kinerjanya dan kinerja Perdana Mentri untuk menyatukan negara.

02:03  Aku (Bush) berkata kepadanya (Abdul Aziz al-Hakim Syiah), bahwa kami (Bush) tidak puas degan laju kemajuan di Irak.

02:10  Oleh karena itu, kami (Bush & Amerika) menginginkan untuk melanjutkan kerjasama dengan pemerintah berdaulat Irak dalam rangka menyelesaikan tujuan bersama kami (Bush Amerika & Abdul Aziz al-Hakim Syiah).

Abdul Aziz al-Hakim Syiah
03:11  Pertemuanku (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) dengan presiden Bush hari ini adalah untuk menampilkan komitmen bersama untuk melanjutkan dialog dan perundingan di antara kami (Bush Amerika & Abdul Aziz al-Hakim Syiah).

03:28  Dan juga atas dasar keyakinan kami (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) bahwa permasalahan Irak adalah kepentingan bersama.

06:16  Kepentingan Amerika, kepentingan Irak, kepentingan regional, mereka semua saling berhubungan. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kami (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) ketika berhadapan dengan permasalahan ini, kami (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) melihat (dalam kacamata) kepentingan rakyat Irak. Jika kami tidak melakukannya, maka seluruh permasalahan ini dapat menjadi bumerang dan bisa merugikan kepentingan regional, Amerika Serikat dan juga Irak.

08:15  Kami (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) menghargai seluruh pengorbanan yang telah dilakukan dalam rangka pembebasan dan kebebasan Irak. Pengorbanan yang telah dilakukan oleh rakyat Irak serta juga negara-negara sahabat, dan (negara) yang berada di list teratas (dalam pengorbanan) adalah pengorbanan Amerika Serikat.

09:59  Terima kasih banyak tuan Presiden (Bush) untuk mengizinkan saya (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) (dengan memberikan) kesempatan bertemu dengan anda (Bush). Saya (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) akan mengambil kesempatan ini juga untuk berterima kasih kepada rakyat Amerika dan simpati mereka terhadap Irak yang telah menolong Irak dengan menyingkirkan kediktatoran yang brutal dan untuk menikmati kebebasan dan hak asasi (manusia).
[http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=EFyXjmriabQ]

Lagi-lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah telah memperingatkan kaum Muslimin akan buruknya sifat Syiah Rafidhah tersebut dalam mencintai kaum kafirin, demi meraih kemuliaan dengan membantu mereka (kaum kafirin) dalam membantai kaum Muslimin di Irak.

وَالرَّافِضَةِ تُحِبُّ التَّتَارَ وَدَوْلَتَهُمْ؛ لِأَنَّهُ يَحْصُلُ لَهُمْ بِهَا مِنْ الْعِزِّ مَا لَا يَحْصُلُ بِدَوْلَةِ الْمُسْلِمِينَ. وَالرَّافِضَةُ هُمْ مُعَاوِنُونَ لِلْمُشْرِكِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى عَلَى قِتَالِ الْمُسْلِمِينَ وَهُمْ كَانُوا مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ فِي دُخُولِ التَّتَارِ قَبْلَ إسْلَامِهِمْ إلَى أَرْضِ الْمَشْرِقِ بِخُرَاسَانَ وَالْعِرَاقِ وَالشَّامِ وَكَانُوا مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ مُعَاوَنَةً لَهُمْ عَلَى أَخْذِهِمْ لِبِلَادِ الْإِسْلَامِ وَقَتْلِ الْمُسْلِمِينَ وَسَبْيِ حَرِيمِهِمْ. وَقَضِيَّةُ ابْنِ العلقمي
Rafidhah (Syiah) sangat mencintai bangsa Tatar beserta daulah mereka (Tatar), dikarenakan mereka (Syiah Rafidhah) mendapatkan kemuliaan yang tidak didapatkan dari daulah kaum Muslimin. Rafidhah (Syiah) adalah penolong bagi kaum Musyrikin, Yahudi dan Nashrani dalam membantai kaum Muslimin. Dan mereka-lah (Syiah Rafidhah) yang menjadi penyebab terbesar masuknya bangsa Tatar, yakni sebelum ke-Islaman mereka (Tatar), ke wilayah Timur, yaitu Khurasan dan Irak serta Syam. Dan (juga) mereka (Syiah Rafidhah) termasuk gerombolan penolong terbesar bagi mereka (Tatar) dalam merampas negeri-negeri Islam dan membantai kaum Muslimin serta menawan para wanita (Muslimah) mereka, (seperti) kasus Ibnul ‘Alqamiy.
[Majmu’ Fatawa 28/527-528, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

الْوَزِيرُ ابْنُ الْعَلْقَمِيِّ الرَّافِضِيُّ قَبَّحَهُ اللَّهُ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، الْوَزِيرُ مؤيد الدين أبو طالب بن العلقمي، وزير المستعصم البغدادي، وخدمة في زمان الْمُسْتَنْصِرِ أُسْتَاذَ دَارِ الْخِلَافَةِ مُدَّةً طَوِيلَةً، ثُمَّ صار وزير المستعصم وزير سوء على نفسه وعلى الخليفة وعلى المسلمين،
وكان رافضيا خبيثا ردئ الطَّوِيَّةِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ،
ثُمَّ مَالَأَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ الكفار هولاكو خان، حتى فعل ما فعل بالإسلام وأهله مما تقدم ذكره، ثم حصل له بعد ذلك من الإهانة والذل على أيدي التتار
Wazir Ibnul ‘Alqamiy ar-Rafidhiy –semoga Allah memburukkannya-, yakni (namanya) adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Aliy bin Abi Thalib. (gelarnya) adalah Wazir Mu-ayyiduddin Abu Thalib Ibnul ‘Alqamiy, yaitu seorang Wazirnya al-Musta’shim al-Baghdadiy. Ia (Ibnul ‘Alqamiy) mengabdi pada masa (pemerintahan) al-Mustanshir sebagai kepala istana Khilafah dalam kurun waktu yang lama. Kemudian menjadi Wazirnya al-Musta’shim yang merupakan Wazir yang buruk terhadap dirinya sendiri, Khalifah dan kaum Muslimin.
Ia (Ibnul ‘Alqamiy) adalah seorang Rafidhiy (Syiah) yang sangat licik dan keji terhadap Islam dan pemeluknya.
Kemudian menolong Hulaku Khan dalam (menghadapi) Islam dan pemeluknya, hingga melakukan dengan perlakuan terhadap Islam dan pemeluknya sebagaimana (yang akan dikisahkan nantinya). Kemudian selanjutnya, ia (Ibnul ‘Alqamiy) mendapatkan penghinaan dan penindasan selama Tatar berkuasa.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/246, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Ibnul ‘Alqamiy dalam pengkhinatannya tersebut tidaklah dilakukan secara sendirian, namun ia (Ibnul ‘Alqamiy) ditemani oleh seorang pengkhianat lainnya yang bernama Nashiruddin ath-Thusiy.

النصير الطوسي محمد بن عَبْدِ اللَّهِ الطُّوسِيُّ، كَانَ يُقَالُ لَهُ الْمَوْلَى نَصِيرُ الدِّينِ، وَيُقَالُ الْخَوَاجَا نَصِيرُ الدِّينِ
An-Nashir ath-Thusiy Muhammad bin ‘Abdillah ath-Thusiy, ia dikenal dengan nama al-Maula Nashiruddin atau juga dengan nama al-Khawaja Nashiruddin.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/313, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Bahkan ia (Nashiruddin ath-Thusiy) merupakan seorang Syiah yang diidolakan dan dikagumi oleh Khomeini sang Pendeta Syiah Rafidhah.

ويشعر الناس بالخسارة أيضًا بفقدان الخواجة نصير الدين الطوسي وأمثاله ممن قدموا خدمات جليلة للإسلام
الخميني - الحكومة الإسلامية - 128
Dan manusia juga merasakan kerugian dengan kehilangan al-Khawajah Nashiruddin ath-Thusiy dan semisalnya yang telah memberikan khidmat (pengabdian) yang besar terhadap Islam (Syiah Rafidhah).
[Al-Hukumah al-Islamiyyah 128, Khomeini Pendeta Syiah Rafidhah]

Pengabdian ath-Thusiy tersebut terhadap agama Syiah Rafidhah telah diabadikan oleh seorang Pendeta Syiah Rafidhah dalam membantai Khalifah :

نصير الدين الطوسي
استيزاره للسلطان المحتشم هولاكو خان ، ومجيئه في موكب السلطان المؤيد مع كمال الاستعداد إلى دار السلام بغداد لإرشاد العباد وإصلاح البلاد ، بإبادة ملك بني العباس ،
الخوانساري - روضات الجنات - ج 6 ص 279
Nashiruddin ath-Thusiy
Ia (Nashiruddin ath-Thusiy) membawa keluar Sulthan al-Muhtasyim Hulaku Khan, dan kedatangannya (Nashiruddin ath-Thusiy) bersama pasukan Sulthan (Hulaku Khan) yang dikuatkan dengan kekuatan penuh menuju Darus Salam Baghdad untuk memberi petunjuk kepada para hamba dan memperbaiki negeri-negeri dengan membantai Raja Bani al-‘Abbas.
[Raudhat al-Jannat 6/279, al-Khawansariy Pendeta Syiah Rafidhah]

Nashiruddin ath-Thusiy merupakan orang yang memprovokasi Hulaku Khan agar menyerang Baghdad dan membantai sang Khalifah, sebagaimana yang telah diakui oleh sebuah media propaganda Syiah Rafidhah.

Syiah Hizbut Tatar Bantai Khilafah Islam

Khajah Nashiruddin Tusi

Ia adalah Muhammad putra Muhammad putra Hasan Tusi. Ia juga disebut dengan Abu Ja’far, juga Nashiruddin. Lahir di dunia pada hari sabtu 11 Jumadil Awal 597 H. yang bertepatan pada 18 Februari 1201. Beliau lahir di Tus. Keluarganya, sebagaimana yang disebutkan oleh para sejarawan, berasal dari Johrud.

Ayah beliau adalah Muhammad bin Hasan, seorang alim, faqih dan ahli hadis yang terkenal di Tus. Karena beliau bermazhab Syiah, Khajah Nashiruddin Tusi juga bermazhab Syiah. Ia sejak kecil berguru pada ustad-ustad dan ulama Syiah. [Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, halaman 15]

Satu perkara yang sangat sensitif dalam kehidupan Khajah di waktu itu adalah peranannya dalam menjatuhkan kekhilafahan Al Mu’tashim Billah, khalifah terakhir dinasti Abbasiyah. Mengenai masalah ini disebutkan dalam beberapa kitab sejarah bahwa setelah Hulaku Khan menguasai benteng-benteng dan istana-istana Ismailiyun di Qazvin, ia pergi ke Hamadan. Ia ragu-ragu untuk mengirim pasukan dalam rangka menyerang Baghdad; oleh karena itu ia mulai meminta pertimbangan dan musyawarah. Hisamuddin Munajim (salah satu ahli nujumnya) berkata kepada Hulaku Khan bahwa tidak baik untuk menyerang istana Baghdad; karena setiap raja yang berniat menyerang dinasti Abbasiyah pasti tidak mendapatkan apa-apa. [Muhammad Mudarisi (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, halaman 36]

Akan tetapi Khajah berkata kepadanya bahwa tidak akan terjadi apa-apa selain tergulingkannya khalifah dan digantikan dengan Hulaku Khan. Lalu ia menjelaskan bahwa banyak tokoh besar Islam yang telah syahid dan tidak timbul keburukan apa-apa. [Muhammad Mudarisi (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, halaman 36]

Ketika Hulaku Khan membabi buta dan benar-benar mendesak untuk membunuh khalifah, banyak yang mencegahnya dan berkata bahwa mengotori pedang dengan darah khalifah akan menimbulkan gejolak dan kebangkitan umum. [Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, halaman 24]

Hisamuddin Munajim berkata, “Jika khalifah terbunuh, alam semesta akan menjadi gelap dan akan terlihat pertanda-pertanda kiamat.” [Muhammad Mudarisi (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, halaman 38]

Hulaku Khan mulai gugup mendengar perkataannya lalu bermusyawarah dengan Khajah Nashiruddin. Khajah berkata, “Peredaran alam semesta bertumpu pada tabiatnya. Banyak orang-orang yang lebih mulia dari Khalifah Bani Abbas yang terbunuh tapi alam semesta tetap terjaga…” [Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, halaman 24]

Hulaku Khan menyukai pendapatnya dan akhirnya khalifah terbunuh. Setelah itu Khajah diperintahkan Hulaku Khan untuk mendeklarasikan kemenangannya. [Hauzah Maya Media Propaganda Syiah Rafidhah]

Pengkhianatan yang dilakukan oleh Syiah Rafidhah akan terus berlanjut hingga seluruh kaum Muslimin yang mencintai para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam binasa di seluruh dunia. Sehingga mereka (Syiah Rafidhah) akan menimpakan berbagai fitnah kepada kaum Muslimin dengan menumpahkan darah dan merampas harta orang-orang Islam.

خَمْسِينَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ
Tahun 450 Hijriyyah

فيها كنت فتنة الخبيث البساسيري، وهو أرسلان التركي
Pada tahun ini terjadi fitnah buruk al-Basasiriy, yang (bernama) Arsalan at-Turkiy.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/95, al-Hafizh Ibnu Katsir]

أَرْسَلَانُ أَبُو الْحَارِسِ الْبَسَاسِيرِيُّ التُّرْكِيُّ كَانَ مِنْ مماليك بهاء الدَّوْلَةِ، وَكَانَ أَوَّلًا مَمْلُوكًا لِرَجُلٍ مِنْ أَهْلِ مَدِينَةِ بَسَا ، فَنُسِبَ إِلَيْهِ فَقِيلَ لَهُ الْبَسَاسِيرِيُّ، وتلقب بالملك المظفر، ثُمَّ كَانَ مُقَدَّمًا كَبِيرًا عِنْدَ الْخَلِيفَةِ الْقَائِمِ بِأَمْرِ اللَّهِ، لَا يَقْطَعُ أَمْرًا دُونَهُ، وَخُطِبَ لَهُ عَلَى مَنَابِرِ الْعِرَاقِ كُلِّهَا، ثُمَّ طَغَى وبغى وتمرد، وعتا وخرج على الخليفة والمسلمين ودعا إلى خلافة الفاطميين،
Arsalan Abu al-Haris al-Basasiriy at-Turkiy, ia merupakan budaknya Baha-uddaulah. Awalnya ia merupakan budaknya seorang lelaki dari penduduk kota Basa, lalu dinisbatkan kepadanya sehingga ia disebut Basasiriy dan bergelar Malik al-Mudzhaffar. Kemudian ia menjadi pemuka besar di sisi Khalifah al-Qaim Biamrillah, yang di mana (Khalifah) tidak memutuskan suatu perkara tanpa dirinya (al-Basasiriy), dan (disampaikanlah) khutbah atas (namanya) di atas mimbar-mimbar seluruh wilayah Irak. Lantas ia menjadi lalim, menindas, membangkang dan tiran serta memberontak kepada Khalifah dan kaum Muslimin dengan menyeru kepada Khilafah al-Fathimiyyin (Syiah).
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/103, al-Hafizh Ibnu Katsir]

فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْأَحَدِ الثَّامِنِ مِنْ ذِي الْقَعْدَةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ جاء الْبَسَاسِيرِيُّ إِلَى بَغْدَادَ وَمَعَهُ الرَّايَاتُ الْبِيضُ الْمِصْرِيَّةُ، وعلى رأسه أعلام مكتوب عليها اسم الْمُسْتَنْصِرُ بِاللَّهِ أَبُو تَمِيمٍ مَعَدٌّ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ،
Pada hari Ahad tanggal 8 Dzulqa’dah di tahun ini (450 H), al-Basasiriy datang ke Baghdad  dengan membawa bendera-bendera putih Mesir. Di atas bendera-bendera tersebut tertuliskan nama al-Mustanshir Billah Abu Tamim Ma’ad Amirul Mukminin (Syiah al-Fathimiyyah).

فتلقاه أهل الكرخ الرافضة وسألوه أن يجتاز من عندهم، فدخل الكرخ وخرج إلى مشرعة الزاويا، فخيم بها والناس إذ ذاك في مجاعة وضر شديد، وَنَزَلَ قُرَيْشُ بْنُ بَدْرَانَ فِي نَحْوٍ مِنْ مِائَتَيْ فَارِسٍ عَلَى مَشْرَعَةِ بَابِ الْبَصْرَةِ، وَكَانَ الْبَسَاسِيرِيُّ، قَدْ جَمَعَ الْعَيَّارِينَ وَأَطْمَعَهُمْ فِي نَهْبِ دَارِ الْخِلَافَةِ، وَنَهَبَ أَهْلُ الْكَرْخِ دُورَ أَهْلِ السُّنَّةِ بِبَابِ الْبَصْرَةِ، وَنُهِبَتْ دَارُ قَاضِي الْقُضَاةِ الدامغاني،
Lalu penduduk al-Karkh Rafidhah (Syiah) menyambutnya (al-Basasiriy) dan memintanya untuk mampir ke tempat mereka. Lantas ia (al-Basasiriy) memasuki al-Karkh dan keluar menuju Masyra’ah az-Zawiya serta mendirikan perkemahan di sana, dan pada saat itu manusia sedang mengalami paceklik dan kesulitan yang amat sangat. Sedangkan Quraisy bin Badran singgah bersama sekitar 200 pasukan berkuda di Masyra’ah Bab al-Bashrah. Al-Basasiriy pun juga mengumpulkan orang-orang yang sedang kesulitan dan memberi mereka makan untuk (membantu) dalam merampas kediaman Khalifah. Sementara penduduk al-Karkh merampas rumah-rumah Ahlus Sunnah di Bab al-Bashrah, termasuk yang dirampas adalah rumahnya Qadhi al-Qudhah ad-Damaghaniy.

وتملك أكثر السجلات والكتب الحكمية، وبيعت للعطارين، ونهبت دور المتعلقين بخدمة الخليفة، وَأَعَادَتِ الرَّوَافِضُ الْأَذَانَ بِحَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ، وأذن به في سائر نواحي بغداد في الجمعات والجماعات وخطب ببغداد للخليفة المستنصر العبيدي، على منابرها وغيرها، وَضُرِبَتْ لَهُ السِّكَّةُ عَلَى الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ،
Serta menyita banyak catatan dan kitab-kitab pemerintahan dengan menjualnya kepada para pedagang minyak wangi. Dan dirampas juga rumah-rumah orang yang terkait dalam melayani Khalifah, lalu Rawafidh (Syiah Rafidhah) mengembalikan adzan dengan “Hayya ‘ala khairil ‘amal.” Adzannya tersebut dikumandangkan di seluruh (Masjid) wilayah Baghdad pada saat (shalat) Jum’at dan (shalat) jama’ah serta (disampaikan) khutbah atas (nama) Khalifah al-Mustanshir al-‘Ubaidiy (Syiah al-Fathimiyyah) di atas mimbar-mimbarnya (Baghdad) dan selainnya. Lalu dicetaklah koin (uang) dengan atas (namanya) pada (koin) emas dan perak.

[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/96, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وَأُمًّا الْبَسَاسِيرِيُّ وَمَا اعْتَمَدَهُ فِي بَغْدَادَ: فَإِنَّهُ رَكِبَ يَوْمَ عِيدِ الْأَضْحَى وَأَلْبَسَ الْخُطَبَاءَ والمؤذنين البياض، وكذلك أصحابه، وعلى رأسه الألوية المصرية، وخطب للخليفة المصري، والروافض في غاية السرور، والأذان بسائر الْعِرَاقِ بِحَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ، وَانْتَقَمَ الْبَسَاسِيرِيُّ مِنْ أَعْيَانِ أَهْلِ بَغْدَادَ انْتِقَامًا عَظِيمًا،
Adapun al-Basasiriy dan perilakunya di Baghdad, ia berkendara pada hari ‘Idul ‘Adha dan (memerintahkan) para khatib dan muadzin mengenakan (pakaian) putih, dan begitu juga dengan sahabat-sahabatnya, serta di atas kepalanya (terikat) bendera Mesir (Syiah al-Fathimiyyah). Tatkala khutbah (disampaikan) dengan atas (nama) Khalifah Mesir (Syiah al-Fathimiyyah), maka Rawafidh (Syiah Rafidhah) merasa sangat gembira, sehingga adzan di seluruh Irak (dikumandangkan) dengan “Hayya ‘ala khairil ‘amal.” Al-Basasiriy pun membalas dendam kepada para pembesar penduduk Baghdad dengan pembalasan yang sangat dahsyat.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/97, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Kemudian al-Basasiriy berhasil dibunuh setahun kemudian.

ثمان وخمسين وأربعمائة
Tahun 458 Hijriyyah

فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَغْلَقَ أَهْلُ الْكَرْخِ دَكَاكِينَهُمْ وأحضروا نساء ينحن على الحسين، كما جرت به عادتهم السالفة في بدعتهم المتقدمة المخالفة، فَحِينَ وَقَعَ ذَلِكَ أَنْكَرَتْهُ الْعَامَّةُ، وَطَلَبَ الْخَلِيفَةُ أبا الغنائم وأنكر عليه ذلك.
Pada hari ‘Asyura, penduduk al-Karkh menutup toko-toko mereka dan menghadirkan para wanita untuk meratapi al-Husain sebagaimana yang menjadi kebiasaan para pendahulu mereka dalam bid’ah yang menyelisihi (sunnah). Tatkala (bid’ah) ini terjadi maka masyarakat umum mengingkarinya dan Khalifah memanggil Abu al-Ghunaim seraya mengingkarinya (bid’ah ratapan).

فاعتذر إليه بأنه لم يعلم به، وأنه حين علم أَزَالَهُ، وَتَرَدَّدَ أَهْلُ الْكَرْخِ إِلَى الدِّيوَانِ يَعْتَذِرُونَ من ذلك، وخرج التوقيع بكفر من سب الصحابة وأظهر الْبِدَعَ.
Lalu ia (Abu al-Ghunaim) meminta maaf kepadanya (Khalifah) bahwasanya ia tidak mengetahuinya dan jika ia mengetahuinya maka ia akan menghentikannya. Lantas penduduk al-Karkh pun berdatangan ke  kantor (pemerintahan) dan meminta maaf atas perbuatan tersebut. Lalu dikeluarkanlah keputusan kafir bagi yang mencaci Shahabat dan menampakkan kebid’ahan.

[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/114, al-Hafizh Ibnu Katsir]

إحدى وثمانين وأربعمائة
Tahun 481 Hijriyyah

فِيهَا كَانَتْ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ بَيْنَ الرَّوَافِضِ وَالسُّنَّةِ بِبَغْدَادَ
Pada tahun ini terjadi fitnah yang besar antara Rawafidh (Syiah Rafidhah) dengan Sunnah di Baghdad.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/165, al-Hafizh Ibnu Katsir]

ثنتين وثمانين وأربعمائة
Tahun 482 Hijriyyah

وَفِيهَا كَانَتْ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ بَيْنَ الرَّوَافِضِ وَالسُّنَّةِ، وَرَفَعُوا الْمَصَاحِفَ، وَجَرَتْ حروب طويلة، وقتل فيها خَلْقٌ كَثِيرٌ، نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي الْمُنْتَظَمِ مِنْ خَطِّ ابْنِ عَقِيلٍ: أنَّه قُتِلَ فِي هَذِهِ السَّنَةِ قَرِيبٌ مِنْ مِائَتَيْ رَجُلٍ، قَالَ. وَسَبَّ أَهْلُ الْكَرْخِ الصَّحَابَةَ وَأَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عليه وسلم، فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى من فعل ذلك من أهل الكرخ، وإنما حكيت هذا ليعلم مَا فِي طَوَايَا الرَّوَافِضِ مِنَ الْخُبْثِ وَالْبُغْضِ لدين الإسلام وأهله، ومن العداوة الْبَاطِنَةِ الْكَامِنَةِ فِي قُلُوبِهِمْ، لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَشَرِيعَتِهِ.
Pada tahun ini terjadi fitnah besar antara Rawafidh (Syiah Rafidhah) dengan Sunnah, mereka mengangkat mushaf dan terjadi pertempuran yang berkelanjutan dengan menewaskan banyak orang. Ibnul Jauziy menukilkan di dalam (kitab) al-Muntadzham dari redaksi Ibnu ‘Aqil bahwasanya yang terbunuh pada tahun ini berjumlah sekitar 200 orang, ia berkata, “Penduduk al-Karkh mencaci para Shahabat dan isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam." –semoga laknat Allah menimpa penduduk al-Karkh yang telah melakukan perbuatan tersebut.- Aku mengisahkan peristiwa ini agar dapat mengetahui hakikat Rawafidh (Syiah Rafidhah) yang berupa kebusukan dan kebencian kepada Islam dan pemeluknya, serta permusuhan yang tersembunyi di dalam hati-hati mereka (Syiah Rafidhah) terhadap Allah dan Rasul-Nya beserta syari’at-Nya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/166, al-Hafizh Ibnu Katsir]

ثمان وعشرين وستمائة
Tahun 628 Hijriyyah

وَذَكَرَ ابْنُ الْأَثِيرِ كَلَامًا طَوِيلًا مَضْمُونُهُ خُرُوجُ طَائِفَةٍ مِنَ التَّتَارِ مَرَّةً أُخْرَى مِنْ بِلَادِ مَا وَرَاءَ النَّهْرِ، وَكَانَ سَبَبُ قُدُومِهِمْ هَذِهِ السَّنَةَ أَنَّ الْإِسْمَاعِيلِيَّةَ كَتَبُوا إِلَيْهِمْ يُخْبِرُونَهُمْ بِضَعْفِ أَمْرِ جَلَالِ الدِّينِ بْنِ خُوَارَزْمِ شَاهْ، وَأَنَّهُ قَدْ عَادَى جَمِيعَ الْمُلُوكِ حَوْلَهُ حَتَّى الْخَلِيفَةَ،
Ibnu al-Atsir menyampaikan penjelasan yang panjang mengenai keluarnya sekelompok Tatar sekali lagi yang berasal dari negeri yang berada di balik sungai. Penyebab kedatangan mereka pada tahun ini adalah bahwasanya al-Isma’iliyyah (Syiah) mengirimkan surat kepada mereka (Tatar) dengan mengabarkan tentang melemahnya amir Jalaluddin bin Khuwarizmi Syah, dan bahwasanya ia (Jalaluddin bin Khuwarizmi Syah) memusuhi raja-raja yang berada di sekitarnya, termasuk Khalifah.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/150, al-Hafizh Ibnu Katsir]

أثنين وأربعين وستمائة
Tahun 642 Hijriyyah

فِيهَا اسْتَوْزَرَ الْخَلِيفَةُ الْمُسْتَعْصِمُ بِاللَّهِ مُؤَيِّدَ الدِّينِ أَبَا طَالِبٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيِّ بن محمد العلقمي المشؤم على نفسه، وعلى أهل بغداد، الذي لَمْ يَعْصِمِ الْمُسْتَعْصِمَ فِي وِزَارَتِهِ، فإنَّه لَمْ يَكُنْ وَزِيرَ صِدْقٍ وَلَا مَرْضِيَّ الطَّرِيقَةِ، فَإِنَّهُ هُوَ الَّذِي أَعَانَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي قَضِيَّةِ هولاكو وَجُنُودِهِ قَبَّحَهُ اللَّهُ وَإِيَّاهُمْ،
Pada tahun ini Khalifah al-Musta’shim Billah mengangkat Mu-ayyiduddin Abu Thalib Muhammad bin Ahmad bin ‘Aliy bin Muhammad al-‘Alqamiy sebagai Wazir (Menteri), yang menjadi petaka bagi dirinya sendiri dan penduduk Baghdad. Ia (Ibnul ‘Alqamiy) tidak melindungi al-Musta’shim sebagai Wazirnya, namun sesungguhnya ia (Ibnul ‘Alqamiy) bukanlah Wazir yang jujur dengan perilakunya yang buruk. Sesungguhnya ia (Ibnul ‘Alqamiy) telah menolong Hulaku Khan dan pasukannya dalam menghadapi kaum Muslimin. –Semoga Allah memburukkannya (Ibnul ‘Alqamiy) dan juga kepada mereka (Tatar)-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/192, al-Hafizh Ibnu Katsir]

سِتٍّ وَخَمْسِينَ وستَّمائة
Tahun 656 Hijriyyah

وكان قدوم هلاكو خان بِجُنُودِهِ كُلِّهَا، وَكَانُوا نَحْوَ مِائَتَيْ أَلْفِ مُقَاتِلٍ - إِلَى بَغْدَادَ فِي ثَانِي عَشَرَ الْمُحَرَّمِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ، وَهُوَ شَدِيدُ الْحَنَقِ عَلَى الْخَلِيفَةِ بِسَبَبِ مَا كَانَ تَقَدَّمَ مِنَ الْأَمْرِ الَّذِي قَدَّرَهُ اللَّهُ وَقَضَاهُ وَأَنْفَذَهُ وَأَمْضَاهُ، وَهُوَ إن هلاكو لما كان أول بروزه من همدان مُتَوَجِّهًا إِلَى الْعِرَاقِ أَشَارَ الْوَزِيرُ مُؤَيِّدُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلْقَمِيِّ عَلَى الْخَلِيفَةِ بِأَنْ يَبْعَثَ إِلَيْهِ بِهَدَايَا سَنِيَّةٍ لِيَكُونَ ذَلِكَ مُدَارَاةً لَهُ عَمَّا يُرِيدُهُ مِنْ قَصْدِ بِلَادِهِمْ فَخَذَّلَ الْخَلِيفَةَ عَنْ ذَلِكَ دُوَيْدَارُهُ الصَّغِيرُ أَيْبَكُ وَغَيْرُهُ، وَقَالُوا إِنَّ الْوَزِيرَ إِنَّمَا يُرِيدُ بِهَذَا مُصَانَعَةَ مَلِكِ التَّتَارِ بِمَا يَبْعَثُهُ إِلَيْهِ مِنَ الْأَمْوَالِ، وَأَشَارُوا بأن يبعث بشئ يسير،
Hulaku Khan beserta seluruh pasukannya, yang berjumlah sekitar 200.000 pasukan, tiba di Baghdad pada tanggal 12 bulan Muharram tahun ini. Ia sangat marah kepada Khalifah dengan sebab peristiwa di masa lalu yang sesuai dengan ketetapan dan takdir Allah. Hulaku Khan pertama kali muncul dari Hamadan menuju Irak, Wazir Mu-ayyiduddin Muhammad bin al-‘Alqamiy menyarankan Khalifah untuk mengirimkan kepadanya (Hulaku Khan) berbagai hadiah yang mewah untuk membujuknya agar mengurungkan niatnya yang memiliki tujuan dari negeri mereka (menuju Irak). Duwaidarah ash-Shaghir Aybak dan lainnya melarang Khalifah berlaku demikian (mengirimkan hadiah mewah) seraya berkata, “Sesungguhnya Wazir (Ibnul ‘Alqamiy) hendak mendapatkan (hati) raja Tatar dengan mengirimkan harta kepadanya (Hulaku Khan). Lalu (Khalifah) menerima saran mereka (Duwaidarah ash-Shaghir Aybak dan lainnya) dengan mengirimkan (hadiah) yang kurang bernilai.

فأرسل شيئاً من الهدايا فاحتقرها هلاكو خان، وَأَرْسَلَ إِلَى الْخَلِيفَةِ يَطْلُبُ مِنْهُ دُوَيْدَارَهُ الْمَذْكُورَ، وسليمان شاه، فلم يبعثهما إليه ولا بالا بِهِ حَتَّى أَزِفَ قُدُومُهُ، وَوَصَلَ بَغْدَادَ بِجُنُودِهِ الْكَثِيرَةِ الْكَافِرَةِ الْفَاجِرَةِ الظَّالِمَةِ الْغَاشِمَةِ، مِمَّنْ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَأَحَاطُوا بِبَغْدَادَ من ناحيتها الغربية والشرقية، وجيوش بَغْدَادَ فِي غَايَةِ الْقِلَّةِ وَنِهَايَةِ الذِّلَّةِ، لَا يبلغون عشرة آلاف فارس، وهم وَبَقِيَّةُ الْجَيْشِ، كُلُّهُمْ قَدْ صُرِفُوا عَنْ إِقْطَاعَاتِهِمْ حَتَّى اسْتَعْطَى كَثِيرٌ مِنْهُمْ فِي الْأَسْوَاقِ وَأَبْوَابِ المساجد، وأنشد فيهم الشعراء قصائد يرثون لهم وَيَحْزَنُونَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ،
Maka dikirimlah hadiah tersebut, lantas Hulakhu Khan pun memandang hina. Lalu ia (Hulaku Khan) mengirim utusan kepada Khalifah agar menyerahkan Duwaidarah dan Sulayman Syah. Namun (Khalifah) tidak menyerahkan keduanya kepadanya (Hulaku Khan), hingga (Tatar) datang menyerbu. Lalu tibalah pasukannya (Hulaku Khan) yang besar, kafir, fajir, dzhalim, kejam dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, di Baghdad. Mereka (Tatar) mengepung Baghdad dari arah barat dan timur, sedangkan pasukan Baghdad jumlahnya sangat sedikit dan melemah, yakni tidak sampai 10.000 pasukan berkuda. Sementara pasukan yang tersisa, seluruhnya telah dipecat sebagai (pasukan) hingga mengemis, yang di mana kebanyakannya mereka (mengemis) di pasar-pasar dan pintu-pintu Masjid. Lalu disenandungkanlah untuk mereka berbagai syair yang bertujuan untuk memberikan simpati dan duka cita atas Islam dan pemeluknya.

وَذَلِكَ كُلُّهُ عَنْ آرَاءِ الْوَزِيرِ ابْنِ الْعَلْقَمِيِّ الرَّافِضِيِّ، وَذَلِكَ أنَّه لَمَّا كَانَ فِي السَّنة الْمَاضِيَةِ كَانَ بَيْنَ أهل السنة والرافضة حرب عظيمة نهبت فيها الكرخ ومحلة الرَّافِضَةِ حَتَّى نُهِبَتْ دَوْرُ قَرَابَاتِ الْوَزِيرِ، فَاشْتَدَّ حَنَقُهُ عَلَى ذَلِكَ، فَكَانَ هَذَا ممَّا أَهَاجَهُ عَلَى أَنْ دَبَّرَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ مَا وَقَعَ مِنَ الْأَمْرِ الْفَظِيعِ الَّذِي لَمَّ يُؤَرَّخْ أَبْشَعُ مِنْهُ مُنْذُ بُنِيَتْ بَغْدَادُ، وَإِلَى هَذِهِ الْأَوْقَاتِ،
Semua (kebijakan) itu adalah berasal dari pendapatnya Wazir Ibnul ‘Alqamiy ar-Rafidhiy (Syiah). (Kebijakan) tersebut (diterapkan) pada tahun lalu tatkala terjadi pertempuran yang besar antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah (Syiah) dengan dijarahnya al-Karkh yang merupakan wilayahnya Rafidhah (Syiah), bahkan dijarah (juga) rumah-rumah kerabat Wazir (Ibnul ‘Alqamiy), sehingga ia (Ibnul ‘Alqamiy) sangat mendendam. (Tragedi) inilah yang menyebabkan (Ibnul ‘Alqamiy) merencanakan (kebijakan) tersebut terhadap Islam dan pemeluknya, sehingga terjadilah berbagai kekejaman yang belum pernah tercatat (dalam sejarah) mengenai kejadian buruk tersebut sejak dibangunnya Baghdad hingga saat ini.

وَلِهَذَا كَانَ أَوَّلُ مَنْ بَرَزَ إِلَى التتار هو، فخرج بأهله وأصحابه وخدمه وحشمه، فاجتمع بالسلطان هلاكو خان لعنه الله،
Oleh karena itu, orang yang pertama kali yang menemui Tatar adalah ia (Ibnul ‘Alqamiy), lantas ia (Ibnul ‘Alqamiy) keluar bersama keluarganya, para sahabatnya, pelayannya dan rombongannya, lalu mereka bergabung dengan Sulthan Hulaku Khan. –Semoga Allah melaknatnya-

ثُمَّ عَادَ فَأَشَارَ عَلَى الْخَلِيفَةِ بِالْخُرُوجِ إِلَيْهِ وَالْمُثُولِ بَيْنَ يَدَيْهِ لِتَقَعَ الْمُصَالَحَةُ عَلَى أَنْ يَكُونَ نِصْفُ خَرَاجِ الْعِرَاقِ لِهَمْ وَنِصْفُهُ لِلْخَلِيفَةِ، فَاحْتَاجَ الْخَلِيفَةُ إِلَى أَنْ خَرَجَ فِي سَبْعِمِائَةِ راكب من القضاة والفقهاء والصوفية ورؤس الْأُمَرَاءِ وَالدَّوْلَةِ وَالْأَعْيَانِ، فَلَمَّا اقْتَرَبُوا مِنْ مَنْزِلِ السلطان هولاكو خان حُجِبُوا عَنِ الْخَلِيفَةِ إِلَّا سَبْعَةَ عَشَرَ نَفَسًا، فَخَلَصَ الْخَلِيفَةُ بِهَؤُلَاءِ الْمَذْكُورِينَ، وَأُنْزِلَ الْبَاقُونَ عَنْ مَرَاكِبِهِمْ وَنُهِبَتْ وَقُتِلُوا عَنْ آخِرِهِمْ،
Kemudian ia (Ibnul ‘Alqamiy) kembali seraya menyarankan Khalifah untuk keluar menemuinya (Hulaku Khan) agar terjadi perjanjian damai dengan (syarat) setengah penghasilan Irak diserahkan kepada mereka (Tatar) dan setengahnya lagi untuk Khalifah. Lalu keluarlah Khalifah beserta 700 orang berkendara yang terdiri dari Qadhi, Fuqaha, kaum Shufi, dan kepala pasukan beserta pejabat pemerintahan. Tatkala mereka mendekati tempat singgah Sulthan Hulaku Khan, mereka (rombongan) dihalangi dari Khalifah kecuali 17 orang saja. Lantas Khalifah bersama (17 orang) tersebut (menemui Hulaku Khan), lalu diturunkanlah (rombongan) sisanya dari kendaraan yang kemudian (kendaraannya) dirampas dan mereka dibantai seluruhnya.

وَأُحْضِرَ الْخَلِيفَةُ بين يدي هلاكو فَسَأَلَهُ عَنْ أَشْيَاءَ كَثِيرَةٍ فَيُقَالُ إِنَّهُ اضْطَرَبَ كَلَامُ الْخَلِيفَةِ مِنْ هَوْلِ مَا رَأَى مِنَ الْإِهَانَةِ وَالْجَبَرُوتِ، ثُمَّ عَادَ إِلَى بَغْدَادَ وَفِي صحبته خوجة نصير الدين الطوسي، وَالْوَزِيرُ ابْنُ الْعَلْقَمِيِّ وَغَيْرُهُمَا، وَالْخَلِيفَةُ تَحْتَ الْحَوْطَةِ وَالْمُصَادَرَةِ، فَأَحْضَرَ مِنْ دَارِ الْخِلَافَةِ شَيْئًا كَثِيرًا مِنَ الذَّهَبِ وَالْحُلِيِّ وَالْمَصَاغِ وَالْجَوَاهِرِ وَالْأَشْيَاءِ النَّفِيسَةِ، وقد أشار أولئك الملأ من الرافضة وغيرهم من المنافقين على هولاكو أَنْ لَا يُصَالِحَ الْخَلِيفَةَ، وَقَالَ الْوَزِيرُ مَتَى وَقَعَ الصُّلْحُ عَلَى الْمُنَاصَفَةِ لَا يَسْتَمِرُّ هَذَا إِلَّا عَامًا أَوْ عَامَيْنِ ثُمَّ يَعُودُ الْأَمْرُ إِلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ قَبْلَ ذَلِكَ، وَحَسَّنُوا لَهُ قَتْلَ الْخَلِيفَةِ،
Tatkala Khalifah dihadapkan kepada Hulaku Khan, maka ia (Hulaku Khan) bertanya kepadanya (Khalifah) mengenai banyak hal, bahkan dikatakan bahwasanya suara Khalifah bergemetar ketika melihat penghinaan dan kebengisan (Hulaku Khan). Kemudian (Khalifah) kembali ke Baghdad yang ditemani oleh Khawajah Nashiruddin ath-Thusiy dan Wazir Ibul ‘Alqamiy beserta selainnya, yang di mana saat itu Khalifah berada dalam pengawalan (pasukan Tatar). Lantas diambillah banyak sekali dari kediaman Khilafah berupa emas, perhiasan, perabotan, mutiara dan barang-barang berharga lainnya. Segerombolan Rafidhah (Syiah) dan selainnya dari kalangan munafik menyarankan Hulaku Khan untuk tidak mengambil perjanjian damai dengan Khalifah. Wazir (Ibnul ‘Alqamiy) berkata, “Jika terjadi perdamaian dengan (pembagian hasil Irak) yang sama (50:50) janganlah dilanjutkan melainkan hanya setahun atau dua tahun saja, kemudian perkaranya kembali seperti sebelumnya (menguasai Irak seluruhnya)”. Lantas mereka menghasutnya (Hulaku Khan) untuk membunuh Khalifah.

فَلَمَّا عَادَ الْخَلِيفَةُ إِلَى السُّلْطَانِ هُولَاكُو أَمْرَ بِقَتْلِهِ، وَيُقَالُ إِنَّ الَّذِي أشار بقتله الوزير ابن العلقمي، والمولى نصير الدين الطُّوسِيُّ، وَكَانَ النَّصِيرُ عِنْدَ هُولَاكُو قَدِ اسْتَصْحَبَهُ فِي خِدْمَتِهِ لَمَّا فَتَحَ قِلَاعَ الْأَلْمُوتِ، وَانْتَزَعَهَا مِنْ أَيْدِي الْإِسْمَاعِيلِيَّةِ،
Ketika Khalifah kembali menuju Sulthan Hulaku Khan, maka ia (Hulaku Khan) memerintahkan untuk membunuhnya (Khalifah). Dikatakan bahwasanya orang yang menyarankan membunuhnya (Khalifah) adalah Wazir Ibnul ‘Alqamiy dan Maula Nashiruddin ath-Thusiy. An-Nashir berada di sisi Hulaku dengan menemaninya dalam rangka mengabdi kepadanya tatkala (Hulaku Khan) menaklukkan benteng-benteng al-Alamut dan merebutnya dari tangan Ismailiyyah.

وَكَانَ النَّصِيرُ وَزِيرًا لِشَمْسِ الشُّمُوسِ وَلِأَبِيهِ مِنْ قَبْلِهِ عَلَاءِ الدِّينِ بْنِ جلال الدين، وكانوا ينسبون إلى نزار بن المستنصر العبيدي، وانتخب هولاكو النَّصِيرَ لِيَكُونَ فِي خِدْمَتِهِ كَالْوَزِيرِ الْمُشِيرِ، فَلَمَّا قدم هولاكو وتهيب من قتل الخليفة هون عليه الوزير ذَلِكَ فَقَتَلُوهُ رَفْسًا، وَهُوَ فِي جُوَالِقَ لِئَلَّا يقع على الارض شئ مِنْ دَمِهِ، خَافُوا أَنْ يُؤْخَذَ بِثَأْرِهِ فِيمَا قيل لهم، وقيل بل خنق، ويقال بل أغرق فالله أعلم،
An-Nashir adalah Wazirnya Syams asy-Syumus dan sebelumnya merupakan (Wazir) ayahnya, yakni ‘Ala-uddin bin Jalaluddin, mereka menisbatkan (diri) kepada Nazar bin al-Mustanshir al-‘Ubaidiy. Hulaku memilih an-Nashir agar menjadi pelayannya seperti layaknya seorang Wazir penasihat. Tatkala Hulaku datang, ia (Hulaku Khan) khawatir untuk membunuh Khalifah. Lantas Wazir (Nashiruddin ath-Thusiy) pun menguatkan (hatinya) untuk membunuhnya segera, pada saat itu (Khalifah) sedang berada di atas pelananya, (pembunuhannya) agar jangan sampai darahnya jatuh ke atas tanah, mereka takut akan terjadi balas dendam menurut keyakinan mereka. Ada yang mengatakan (Khalifah mati) dicekik, dan ada pula yang mengatakan (Khalifah mati) ditenggelamkan. –Wallahu a’lam-

فباؤوا بِإِثْمِهِ وَإِثْمِ مَنْ كَانَ مَعَهُ مِنْ سَادَاتِ الْعُلَمَاءِ وَالْقُضَاةِ وَالْأَكَابِرِ وَالرُّؤَسَاءِ وَالْأُمَرَاءِ وَأُولِي الْحَلِّ والعقد ببلاده
Sehingga mereka (Ibnul ‘Alqamiy dan ath-Thusiy Syiah Rafidhah) menanggung dosanya (Hulaku Khan) dan dosa mereka (dalam membunuh) orang-orang yang mulia yang berasal dari kalangan Ulama, Qadhi, tokoh, ketua dan para panglima serta orang-orang penting yang merupakan (Ahlul) Halli wal ‘Aqdi di negerinya (Baghdad).

وَمَالُوا عَلَى الْبَلَدِ فَقَتَلُوا جَمِيعَ مَنْ قَدَرُوا عَلَيْهِ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ وَالْمَشَايِخِ وَالْكُهُولِ وَالشُّبَّانِ وَدَخَلَ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فِي الْآبَارِ وَأَمَاكِنِ الْحُشُوشِ، وَقُنِيِّ الْوَسَخِ، وَكَمَنُوا كَذَلِكَ أَيَّامًا لَا يَظْهَرُونَ، وكان الجماعة من الناس يجتمعون إلى الْخَانَاتِ وَيُغْلِقُونَ عَلَيْهِمُ الْأَبْوَابَ فَتَفْتَحُهَا التَّتَارُ إِمَّا بالكسر وإما بِالنَّارِ، ثُمَّ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ فَيَهْرُبُونَ مِنْهُمْ إِلَى أعالي الأمكنة فيقتلونهم بالأسطحة، حَتَّى تَجْرِيَ الْمَيَازِيبُ مِنَ الدِّمَاءِ فِي الْأَزِقَّةِ، فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.
Setelah itu mereka menyerang negeri (Baghdad) dengan membantai seluruhnya baik laki-laki, perempuan, anak-anak dan orang tua serta paruh baya ataupun remaja. Manusia banyak yang masuk ke dalam sumur-sumur dan tempat pembuangan kotoran (spiteng) sehingga mendapatkan kotoran, mereka bersembunyi selama beberapa hari tanpa menampakkan (diri). Terdapat sejumlah manusia berkumpul di sebuah rumah penginapan dan menutup pintunya, namun Tatar membukanya baik dengan mendobraknya ataupun membakarnya. Lantas mereka (Tatar) masuk menyerang mereka hingga mereka (melarikan diri) ke tempat-tempat yang tinggi. Akhirnya mereka (Tatar) membantainya di atas atap hingga talang (rumahnya) mengalirkan darah ke gang-gang jalan. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-

وَكَذَلِكَ فِي الْمَسَاجِدِ وَالْجَوَامِعِ وَالرُّبَطِ، وَلَمْ يَنْجُ مِنْهُمْ أَحَدٌ سِوَى أَهْلِ الذِّمَّةِ مِنَ الْيَهُودِ والنَّصارى وَمَنِ الْتَجَأَ إِلَيْهِمْ وَإِلَى دَارِ الْوَزِيرِ ابْنِ الْعَلْقَمِيِّ الرَّافِضِيِّ وَطَائِفَةٍ مِنَ التُّجَّارِ أَخَذُوا لَهُمْ أَمَانًا، بَذَلُوا عَلَيْهِ أَمْوَالًا جَزِيلَةً حَتَّى سَلِمُوا وَسَلِمَتْ أموالهم. وعادت بغداد بعد ما كَانَتْ آنَسَ الْمُدُنِ كُلِّهَا كَأَنَّهَا خَرَابٌ لَيْسَ فيها إِلَّا الْقَلِيلُ مِنَ النَّاسِ، وَهُمْ فِي خَوْفٍ وَجُوعٍ وَذِلَّةٍ وَقِلَّةٍ،
Dan begitu juga di Masjid-Masjid Jami’ dan pondok, tidak ada yang dapat melarikan diri seorang pun, namun (yang selamat) adalah orang-orang (kafir) dzimmi dari kalangan Yahudi dan Nashrani, sedangkan orang-orang yang dapat melarikan diri pergi menuju ke rumah Wazir Ibnul ‘Alqamiy ar-Rafidhiy (Syiah), dan (juga terdapat) sekelompok pedagang yang telah mendapatkan dari mereka (Tatar) sebuah jaminan keamanan, mereka (para pedagang) telah menyerahkan harta yang berjumlah besar, sehingga mereka selamat dan begitu pula dengan hartanya. Sebelumnya Baghdad merupakan kota yang paling aman, namun sekarang telah hancur yang di dalamnya hanya terdapat sedikit manusia. Mereka dalam keadaan ketakutan, kelaparan, terhina, dan lemah.

وَكَانَ الْوَزِيرُ ابْنُ الْعَلْقَمِيِّ قَبْلَ هَذِهِ الْحَادِثَةِ يَجْتَهِدُ فِي صَرْفِ الْجُيُوشِ وإسقاط اسمهم مِنَ الدِّيوَانِ، فَكَانَتِ الْعَسَاكِرُ فِي آخِرِ أَيَّامِ الْمُسْتَنْصِرِ قَرِيبًا مِنْ مِائَةِ أَلْفِ مُقَاتِلٍ، مِنْهُمْ من الأمراء من هو كالملوك الأكابر الأكاسر، فَلَمْ يَزَلْ يَجْتَهِدُ فِي تَقْلِيلِهِمْ إِلَى أَنْ لم يبق سوى عَشَرَةُ آلَافٍ، ثُمَّ كَاتَبَ التَّتَارَ وَأَطْمَعَهُمْ فِي أخذ البلاد، وسهل عليهم ذلك، وحكى لَهُمْ حَقِيقَةَ الْحَالِ، وَكَشَفَ لَهُمْ ضَعْفَ الرِّجَالِ، وَذَلِكَ كُلُّهُ طَمَعًا مِنْهُ أَنْ يُزِيلَ السُّنَّةَ بالكلية، وأن يظهر البدعة الرافضة وَأَنْ يُقِيمَ خَلِيفَةً مَنَ الْفَاطِمِيِّينَ، وَأَنْ يُبِيدَ العلماء والمفتيين، وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ، وَقَدْ رَدَّ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ، وَأَذَلَّهُ بَعْدَ الْعِزَّةِ الْقَعْسَاءِ، وَجَعَلَهُ حوشكاشا للتتار بعد ما كَانَ وَزِيرًا لِلْخُلَفَاءِ، وَاكْتَسَبَ إِثْمَ مَنْ قُتِلَ ببغداد مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْأَطْفَالِ،
Sebelum peristiwa ini, Wazir Ibnul ‘Alqamiy berusaha untuk memecat pasukan dan mengurangi jumlah mereka dari kantor (pemerintahan). (Jumlah) pasukan di akhir masa pemerintahan al-Mustanshir adalah mendekati 100.000 pasukan, yang terdiri dari para panglima yang setara dengan raja-raja besar. (Ibnul ‘Alqamiy) terus berusaha untuk mengurangi (jumlah) mereka hingga tidak tersisa kecuali hanya 10.000 pasukan saja. Kemudian mengirimkan surat kepada Tatar dan membujuknya untuk merampas negeri (Baghdad), dan ia (Ibnul ‘Alqamiy) juga memudahkan (jalan) bagi mereka (Tatar) serta menceritakan segala rahasia dengan membeberkan kepada mereka (Tatar) mengenai kelemahan pasukan. Semua itu dilakukan atas dasar ambisinya (Ibnul ‘Alqamiy) dalam menghilangkan Sunnah secara keseluruhan, menyebarkan bid’ah Rafidhah (Syiah) dan hendak mendirikan kekhalifahan yang berasal dari al-Fathimiyyin (Syiah), serta melenyapkan para Ulama dan Mufti. Akan tetapi, Allah Mahakuasa untuk menjalankan urusan-Nya. Maka berbaliklah menjadi bumerang (baginya), dan terhina setelah berjaya. (Allah) menjadikannya (Ibnul ‘Alqamiy) sebagai antek Tatar yang sebelumnya menjadi Wazirnya Khalifah. Ia (Ibnul ‘Alqamiy) telah mendapatkan dosa atas pembantaian di Baghdad dari kalangan laki-laki dan wanita serta anak-anak.

[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/233-235, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وَقَدِ اخْتَلَفَ النَّاس فِي كَمِّيَّةِ مَنْ قُتِلَ بِبَغْدَادَ مِنَ المسلمين في هذه الوقعة.
فَقِيلَ ثَمَانُمِائَةِ أَلْفٍ، وَقِيلَ أَلْفُ أَلْفٍ وَثَمَانُمِائَةِ أَلْفٍ، وَقِيلَ بَلَغَتِ الْقَتْلَى أَلْفَيْ أَلْفِ نَفْسٍ، فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
Manusia berselisih mengenai jumlah orang yang terbunuh di Baghdad yang berasal dari kalangan kaum Muslimin di peristiwa ini.
Ada yang mengatakan 800.000 jiwa, ada pula yang mengatakan 1.800.000 jiwa, serta ada juga yang mengatakan mencapai 2.000.000 jiwa. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzhim-

وَكَانَ دُخُولُهُمْ إِلَى بَغْدَادَ فِي أَوَاخِرِ الْمُحَرَّمِ، وَمَا زَالَ السَّيْفُ يَقْتُلُ أَهْلَهَا أربعين يوماً، وَكَانَ قَتْلُ الْخَلِيفَةِ الْمُسْتَعْصِمِ بِاللَّهِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ يوم الأربعاء رابع عشر صفر وعفي قَبْرُهُ، وَكَانَ عُمْرُهُ يَوْمئِذٍ سِتًّا وَأَرْبَعِينَ سَنَةً وَأَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ ، وَمُدَّةُ خِلَافَتِهِ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً وَثَمَانِيَةُ أَشْهُرٍ وَأَيَّامٌ ، وَقُتِلَ مَعَهُ وَلَدُهُ الْأَكْبَرُ أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ، وَلَهُ خَمْسٌ وَعِشْرُونَ سَنَةً، ثُمَّ قُتِلَ وَلَدُهُ الْأَوْسَطُ أَبُو الْفَضْلِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَلَهُ ثَلَاثٌ وَعِشْرُونَ سَنَةً، وَأُسِرَ وَلَدُهُ الْأَصْغَرُ مُبَارَكٌ وَأَسِرَتْ أَخَوَاتُهُ الثَّلَاثُ فَاطِمَةُ وَخَدِيجَةُ وَمَرْيَمُ، وَأُسِرَ مِنْ دَارِ الْخِلَافَةِ مِنَ الْأَبْكَارِ مَا يُقَارِبُ أَلْفَ بِكْرٍ فِيمَا قِيلَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.
(Tatar) memasuki Baghdad pada akhir bulan Muharram, sementara pedang-pedang terus membantai penduduknya selama 40 hari. Khalifah al-Musta’shim Billah Amirul Mukminin terbunuh pada hari Rabu tanggal 14 Shafar dan makamnya tidak berbekas. Ia berusia 46 tahun 4 bulan, dan ia menjadi Khalifah selama 15 tahun 8 bulan. Dan yang ikut terbunuh bersamanya adalah anaknya yang terbesar, yakni Abu al-‘Abbas Ahmad yang berusia 25 tahun. Kemudian ikut terbunuh juga anaknya yang tengah, yakni Abu al-Fadhl ‘Abdurrahman yang berusia 23 tahun. Sedangkan anaknya yang paling kecil, yakni Mubarak, telah tertawan. Ketiga saudarinya, yakni Fathimah dan Khadijah serta Maryam ikut tertawan juga. Dan juga yang tertawan di kediaman Khalifah yang berasal dari kalangan gadis sekitar 1.000 gadis. –Wallahu a’lam fainna lillahi wa inna ilaihi raji’un-

وَقُتِلَ أُسْتَاذُ دَارِ الْخِلَافَةِ الشَّيْخِ مُحْيِي الدِّين يُوسُفَ بْنِ الشَّيْخِ أَبِي الْفَرَجِ بْنِ الْجَوْزِيِّ، وَكَانَ عدو الوزير، وقتل أولاده الثلاثة: عبد الله، وعبد الرحمن، وعبد الكريم، وأكابر الدولة واحداً بعد واحده، منهم الديودار الصَّغِيرُ مُجَاهِدُ الدِّينِ أَيْبَكُ، وَشِهَابُ الدِّينِ سُلَيْمَانُ شَاهْ، وَجَمَاعَةٌ مِنْ أُمَرَاءِ السُّنَّةِ وَأَكَابِرِ الْبَلَدِ.
Terbunuh juga kepala istana Khalifah, yakni Syaikh Muhyiddin Yusuf bin Syaikh Abu al-Faraj bin al-Jauziy, ia adalah musuhnya Wazir (Ibnul ‘Alqamiy). Serta ikut terbunuh juga ketiga anaknya, yakni ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman serta ‘Abdulkarim. Para pejabat pemerintahan (ikut terbunuh juga) satu persatu, mereka adalah Duwaidar ash-Shaghir Mujahiduddin Aybak dan Syihabuddin Sulayman Syah serta sejumlah Umara Sunnah dan tokoh negeri (Baghdad).

وَكَانَ الرَّجُلُ يُسْتَدْعَى بِهِ مِنْ دَارِ الْخِلَافَةِ من بنى العباس فيخرج بأولاده ونسائه فَيُذْهَبُ بِهِ إِلَى مَقْبَرَةِ الْخَلَّالِ، تُجَاهَ الْمَنْظَرَةِ فَيُذْبَحُ كَمَا تُذْبَحُ الشَّاةُ، وَيُؤْسَرُ مَنْ يَخْتَارُونَ مِنْ بَنَاتِهِ وَجَوَارِيهِ.
Terdapat seorang laki-laki yang dipanggil dari kediaman Khalifah yang berasal dari Bani al-‘Abbas, lantas ia keluar bersama anak-anak dan isteri-isterinya, lalu dibawa ke pemakaman al-Khallal berhadapan dengan balkon (istana) dan disembelih seperti menyembelih domba. Kemudian dipilihlah (oleh Tatar) para puterinya dan pelayan wanitanya.

وَقُتِلَ شَيْخُ الشُّيُوخِ مُؤَدِّبُ الْخَلِيفَةِ صَدْرُ الدِّين عَلِيُّ بْنُ النَّيَّارِ، وَقُتِلَ الْخُطَبَاءُ وَالْأَئِمَّةُ، وَحَمَلَةُ الْقُرْآنِ، وَتَعَطَّلَتِ الْمَسَاجِدُ وَالْجَمَاعَاتُ وَالْجُمُعَاتُ مُدَّةَ شُهُورٍ بِبَغْدَادَ،
Dan dibunuh juga Syaikh asy-Syuyukh, seorang pendidik Khalifah yakni Shadruddin ‘Aliy bin Nayyar. Dibantai juga para Khatib, Imam, penghafal al-Qur’an. Sehingga Masjid-Masjid tidak dapat menyelenggarakan (shalat) Jama’ah dan (shalat) Jum’at selama beberapa bulan di Baghdad.

وَأَرَادَ الْوَزِيرُ ابْنُ الْعَلْقَمِيِّ قَبَّحَهُ اللَّهُ وَلَعَنَهُ أَنْ يُعَطِّلَ الْمَسَاجِدَ وَالْمَدَارِسَ وَالرُّبَطَ بِبَغْدَادَ وَيَسْتَمِرَّ بِالْمَشَاهِدِ وَمَحَالِّ الرَّفْضِ، وَأَنْ يَبْنِيَ لِلرَّافِضَةِ مَدْرَسَةً هَائِلَةً يَنْشُرُونَ عِلْمَهُمْ وَعَلَمَهُمْ بِهَا وَعَلَيْهَا، فَلَمْ يُقَدِّرْهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى ذَلِكَ، بَلْ أَزَالَ نِعْمَتَهُ عَنْهُ وَقَصَفَ عُمْرَهُ بَعْدَ شُهُورٍ يَسِيرَةٍ مِنْ هَذِهِ الْحَادِثَةِ، وَأَتْبَعَهُ بِوَلَدِهِ فَاجْتَمَعَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالدَّرْكِ الْأَسْفَلِ من النَّار.
Wazir Ibnul ‘Alqamiy –semoga Allah memburukkannya dan melaknatnya- hendak mengosongkan Masjid-Masjid dan madrasah serta pondok di Baghdad, kemudian terus berlanjut dengan (menghancurkan) tempat-tempat monumen. Selanjutnya ia (Ibnul ‘Alqamiy) hendak mendirikan bagi Rafidhah (Syiah) sebuah madrasah yang sangat besar untuk menyebarkan ilmu (keyakinan) mereka (Syiah Rafidhah). Namun Allah Ta’ala tidak menakdirkan ambisinya tersebut. Bahkan (Allah) menghilangkan kenikmatan darinya dan memendekkan umurnya setelahnya (hanya) beberapa bulan dengan segera dari peristiwa ini. Kemudian ia (Ibnul ‘Alqamiy) diikuti oleh anaknya (dalam kematian), sehingga keduanya dikumpulkan di lapisan terbawah dari Neraka. –Wallahu a’lam-

ولما انقضى الأمر المقدر وَانْقَضَتِ الْأَرْبَعُونَ يَوْمًا بَقِيَتْ بَغْدَادُ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا لَيْسَ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا الشَّاذُّ مِنَ النَّاسِ، وَالْقَتْلَى فِي الطُّرُقَاتِ كَأَنَّهَا التُّلُولُ، وَقَدْ سقط عليهم المطر فتغيرت صورهم وأنتنت من جيفهم البلد، وَتَغَيَّرَ الْهَوَاءُ فَحَصَلَ بِسَبَبِهِ الْوَبَاءُ الشَّدِيدُ حَتَّى تَعَدَّى وَسَرَى فِي الْهَوَاءِ إِلَى بِلَادِ الشَّامِ، فَمَاتَ خَلْقٌ كَثِيرٌ مِنْ تَغَيُّرِ الْجَوِّ وَفَسَادِ الرِّيحِ، فَاجْتَمَعَ عَلَى النَّاسِ الْغَلَاءُ وَالْوَبَاءُ وَالْفِنَاءُ وَالطَّعْنُ وَالطَّاعُونُ، فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.
Ketika perkara yang telah ditakdirkan tersebut telah berakhir (setelah berlalu) selama 40 hari, sehingga yang tersisa dari Baghdad hanyalah kekosongan penghuninya dari seorang pun melainkan hanya beberapa saja. (Mayat-mayat) yang dibantai tergeletak di jalan-jalan laksana bukit (yang menumpuk). Kemudian turunlah hujan kepada mereka (mayat), sehingga jasad mereka berubah dan (mengeluarkan) bau busuk di kota. Udara pun juga berubah, sehingga terjadi wabah yang sangat dahsyat, hingga mengganggu dan mencemarkan udara di negeri Syam. Banyak manusia yang meninggal akibat perubahan udara dan angin yang tercemar. Dengan demikian, terkumpullah (masalah) bagi manusia, yaitu lonjakan harga, wabah, fitnah dan penyakit. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-

ولما نودي ببغداد بالأمان خرج من تحت الأرض من كان بالمطامير والقنى والمقابر كَأَنَّهُمُ الْمَوْتَى إِذَا نُبِشُوا مِنْ قُبُورِهِمْ، وَقَدْ أَنْكَرَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَلَا يَعْرِفُ الْوَالِدُ وَلَدَهُ وَلَا الْأَخُ أَخَاهُ، وَأَخَذَهُمُ الْوَبَاءُ الشَّدِيدُ فَتَفَانَوْا وتلاحقوا بمن سبقهم من القتلى، واجتمعوا تَحْتَ الثَّرَى بِأَمْرِ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى، اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الحسنى.
Tatkala diumumkan bahwasanya Baghdad telah aman, maka keluarlah dari bawah tanah pemakaman dan kanal serta pekuburan, mereka seperti orang mati yang bangkit dari kuburnya. Sebagian mereka mengingkari sebagian lainnya, orang tua tidak mengenali anaknya, sesama saudara (juga tidak saling mengenali). Wabah yang sangat ganas menyerang mereka, sehingga mereka tidak dapat (hidup) lebih lama dengan menyusul orang-orang yang sebelumnya, yakni tewas. Mereka berkumpul di tempat peristirahatan dengan perintah Yang Maha Mengetahui segala rahasia. –Allahu laa ilaha illa huwa lahul asma-ul husna-

وكان رحيل السلطان المسلط هولاكو خان عَنْ بَغْدَادَ فِي جُمَادَى الْأُولَى مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ إِلَى مَقَرِّ مُلْكِهِ، وَفَوَّضَ أَمْرَ بَغْدَادَ إلى الأمير علي بهادر، فوض إليه الشحنكية بها وإلى الوزير ابن العلقمي فلم يمهله الله ولا أهمله، بَلْ أَخَذَهُ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ، فِي مُسْتَهَلِّ جُمَادَى الْآخِرَةِ عَنْ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ سَنَةً، وَكَانَ عِنْدَهُ فَضِيلَةٌ فِي الْإِنْشَاءِ وَلَدَيْهِ فَضِيلَةٌ فِي الأدب، ولكنه كان شيعياً جلداً رافضياً خبيثاً، فمات جهداً وَغَمًّا وَحُزْنًا وَنَدَمًا،
Sulthan Hulaku Khan pergi meninggalkan Baghdad pada bulan Jumadil Ula di tahun ini ke pusat kerajaannya. Ia (Hulaku Khan) menyerahkan kepemimpinan Baghdad kepada Amir ‘Aliy Bahadur, dan menyerahkan kepada anteknya yakni Wazir Ibnul ‘Alqamiy, namun Allah menelantarkannya, bahkan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa langsung memberinya (balasan) pada awal bulan Jumadil Akhir di usianya ke 63 tahun (yaitu kebinasaan). Ia (Ibnul ‘Alqamiy) memiliki keunggulan dalam tulisan dan juga memiliki keunggulan dalam sastra. Namun ia (Ibnul ‘Alqamiy) adalah seorang Syiah yang keras, Rafidhah Khabits. Ia (Ibnul ‘Alqamiy) mati dalam keadaan stress dan menyesal serta merasa bersalah.

[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/235-237, al-Hafizh Ibnu Katsir]

ثمان وخمسين وستمائة
Tahun 658 Hijriyyah

اسْتَهَلَّتْ هَذِهِ السَّنَةُ بِيَوْمِ الْخَمِيسِ وَلَيْسَ لِلنَّاسِ خليفة، وملك العراقين وخراسان وغيرها من بلاد المشرق للسلطان هولاكو خان ملك التتار،
Pada awal tahun ini, yakni pada hari Kamis, manusia tidak memiliki seorang Khalifah. Sedangkan yang berkuasa di 2 (kota) Irak dan Khurasan serta lainnya adalah yang berasal dari timur, yaitu Sultan Hulaku Khan raja Tatar.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/253, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وَبَيْنَمَا النَّاسُ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ وَقَدْ تَوَاتَرَتِ الْأَخْبَارُ بِقَصْدِ التَّتَارِ بِلَادَ الشَّامِ إِذْ دَخَلَ جيش المغول صحبة ملكهم هولاكو خان وَجَازُوا الْفُرَاتَ عَلَى جُسُورٍ عَمِلُوهَا، وَوَصَلُوا إِلَى حَلَبَ فِي ثَانِي صَفَرٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ، فحاصروها سبعة أيام ثم افتتحوها بالأمان، ثم غدروا بأهلها وَقَتَلُوا مِنْهُمْ خَلْقًا لَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا اللَّهُ عزوجل، وَنَهَبُوا الْأَمْوَالَ، وَسَبَوُا النِّسَاءَ وَالْأَطْفَالَ، وَجَرَى عَلَيْهِمْ قَرِيبٌ مِمَّا جَرَى عَلَى أَهْلِ بَغْدَادَ، فَجَاسُوا خلال الديار وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أذلة، فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.
Tatkala manusia dalam kondisi seperti ini (ketiadaan Khalifah), terdapat khabar bahwasanya Tatar bergerak menuju Syam. Datanglah pasukan Mongol yang dipimpin oleh rajanya, yakni Hulaku Khan yang menyeberangi sungai Eufrat dengan jembatan buatannya. Mereka (Tatar) tiba di Halab pada tanggal 2 di bulan Shafar tahun ini, mereka (Tatar) mengepungnya (Halab) selama 7 hari, kemudian menaklukkannya dengan perjanjian damai. Lalu mereka (Tatar) mengkhianati penduduknya (Halab) dan membantai mereka dengan sangat banyak yang tidak ada yang mengetahui (jumlah)-nya melainkan hanya Allah ‘Azza wa Jal. Mereka (Tatar) merampas harta, menawan para wanita dan anak-anak. Kejadian yang dialami mereka (penduduk Halab) (tidak beda jauh) dengan apa yang dialami oleh penduduk Baghdad. Mereka (Tatar) berkeliaran di negeri-negeri dengan menghinakan orang-orang yang memiliki kehormatan. –Inna lillahi wa inna liahi raji’un-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/253, al-Hafizh Ibnu Katsir]

أَرْسَلَ هُولَاكُو وَهُوَ نَازِلٌ عَلَى حَلَبَ جَيْشًا مَعَ أَمِيرٍ مِنْ كبار دولته يقال له كتبغانوين، فوردوا دِمَشْقَ فِي آخِرِ صَفَرٍ فَأَخَذُوهَا سَرِيعًا مِنْ غير ممانعة ولا مدافع
Pada saat (Hulaku Khan) sedang bermarkas di Halab, Hulaku Khan mengirimkan sebuah pasukan yang dipimpin oleh (panglima) besar negerinya yang bernama Kitbugha Nuyin. Mereka tiba di Damaskus pada akhir bulan Shafar, kemudian mereka menaklukkan (Damaskus) dengan cepat tanpa keberatan dan tanpa perlawanan.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/253-254, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وَقْعَةُ عَيْنِ جَالُوتَ
Pertempuran ‘Ain Jalut

فِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ، فَمَا مَضَتْ سِوَى ثَلَاثَةُ أيَّام حَتَّى جَاءَتِ الْبِشَارَةُ بِنُصْرَةِ الْمُسْلِمِينَ على التتار بعين جالوت
Pada 10 (hari) terakhir di bulan Ramadhan tahun ini (658 H), yakni tiga hari kemudian (dalam 10 hari terakhir tersebut), datanglah sebuah berita mengenai kemenangan kaum Muslimin atas Tatar di ‘Ain Jalut.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/255, al-Hafizh Ibnu Katsir]

عَيْنِ جَالُوتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ الْخَامِسَ والعشرين من رمضان، فاقتتلوا قتالاً عظيماً، فَكَانَتِ النُّصْرَةُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ لِلْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ، فَهَزَمَهُمُ المسلمون هزيمة هائلة وقتل أمير المغول كتبغانوين وجماعة من بيته، وقد قيل إن الذي قتل كتبغانوين الْأَمِيرُ جَمَالُ الدِّينِ آقُوشُ الشَّمْسِيُّ، وَاتَّبَعَهُمُ الْجَيْشُ الإسلامي يقتلونهم في كل موضع
(Pertempuran) ‘Ain Jalut terjadi pada hari Jum’at tanggal 25 bulan Ramadhan, maka terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Lantas (pertempuran) tersebut dimenangi oleh Islam dan pemeluknya –Alhamdulillah-. Kaum Muslimin berhasil mengalahkan mereka (Tatar) dengan kekalahan yang sangat besar, dan berhasil membunuh panglima Mongol, yakni Kitbugha Nuyin bersama keluarganya. Dikatakan orang yang berhasil membunuh Kitbugha Nuyin adalah Amir Jamaluddin Aqusy asy-Syamsiy. Kemudian pasukan Islam mengejar mereka seraya membantai mereka (Tatar) di setiap tempat.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/256, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وقتلت العامة وَسَطِ الْجَامِعِ شَيْخًا رَافِضِيًّا كَانَ مُصَانِعًا لِلتَّتَارِ عَلَى أَمْوَالِ النَّاسِ يُقَالُ لَهُ الْفَخْرُ مُحَمَّدُ بن يوسف بن محمد الْكَنْجِيُّ، كَانَ خَبِيثَ الطَّوِيَّةِ مَشْرِقِيًّا مُمَالِئًا لَهُمْ على أموال المسلمين قبحه الله،
Kemudian masyarakat umum membunuh seorang Syaikh sebuah Masjid (penganut) Rafidhah (Syiah) dikarenakan telah membantu Tatar dalam (merampas) harta-harta manusia, ia bernama al-Fakhr Muhammad bin Yusuf bin Muhammad al-Kanjiy. Ia adalah seorang yang keji dan licik dengan membantu mereka (Tatar) dalam (merampas) harta-harta kaum Muslimin. –semoga Allah memburukkannya-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/256, al-Hafizh Ibnu Katsir]

ثْنَتَيْنِ وَسِتِّينَ وستمائة
Tahun 662 Hijriyyah

وَفِيهَا قَدِمَ نَصِيرُ الدِّينِ الطُّوسِيُّ إِلَى بَغْدَادَ من جهة هولاكو، فَنَظَرَ فِي الْأَوْقَافِ وَأَحْوَالِ الْبَلَدِ،
Pada tahun ini Nashiruddin ath-Thusiy mendatangi Baghdad dari pihak Hulaku (Khan Tatar), untuk meninjau wakaf dan kondisi negeri.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/281, al-Hafizh Ibnu Katsir]

ثَلَاثٍ وستين وستمائة
Tahun 663 Hijriyyah

وَفِيهَا جَاءَتِ الْأَخْبَارُ بِأَنَّ سُلْطَانَ التَّتَارِ هُولَاكُو هَلَكَ إِلَى لَعْنَةِ اللَّهِ وَغَضَبِهِ فِي سَابِعِ رَبِيعٍ الْآخِرِ بِمَرَضِ الصَّرَعِ بِمَدِينَةِ مَرَاغَةَ، وَدُفِنَ بِقَلْعَةِ تَلَا وَبُنِيَتْ عَلَيْهِ قُبَّةٌ واجتمعت التتار على ولده أَبْغَا
Pada tahun ini tibalah sebuah khabar bahwasanya Sulthan Tatar, yakni Hulaku telah binasa menuju laknat dan murka Allah pada tanggal 7 bulan Rabi’ul Akhir, dengan terkena penyakit epilepsi di kota Maraghah. Ia dikuburkan di kastil Tala dan dibangunkan atasnya sebuah kubah, lalu Tatar bersepakat (mengangkat) anaknya, yakni Abgha.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/284-285, al-Hafizh Ibnu Katsir]

وَلَمَّا اسْتَقَرَّ أَمْرُ أَبْغَا عَلَى التَّتَارِ أَمَرَ بِاسْتِمْرَارِ وَزِيرِهِ نَصِيرِ الدِّينِ الطُّوسِيِّ،
Tatkala pemerintahan Abgha atas Tatar telah stabil, maka ia memerintahkan untuk menetapkan (tidak dilengserkan) Wazirnya, yakni Nashiruddin ath-Thusiy.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/293, al-Hafizh Ibnu Katsir]