Monday, August 24, 2015

// // Leave a Comment

Karma Syiah Rafidhah Generasi Mutah [Goresan Pena Tanya Syiah Part 24]

Karma Syiah Rafidhah Generasi Mutah

Nikah Mut’ah akhir-akhir ini mulai banyak dilakukan oleh para penganut agama Syiah Rafidhah di Indonesia, terutama kalangan pemuda dan misionarisnya. Praktek nikah Mut’ah tersebut telah menimbulkan keprihatinan, kekhawatiran, dan keresahan bagi para orang tua, Ulama, pendidik, tokoh masyarakat, dan umat Islam Indonesia pada umumnya, serta dipandang sebagai alat propaganda agama Syiah Rafidhah di Indonesia.


Oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia menetapkan bahwasanya nikah Mut’ah hukumnya adalah Haram, sebagaimana yang tertuang di dalam buku Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia pada halaman 350-355. Teman-teman dapat mendownloadnya di website resmi MUI dengan address sebagai berikut : mui.or.id/wp-content/uploads/2014/11/20.-Nikah-Mutah.pdf

Nikah Mut’ah itu pada dasarnya dilarang, kemudian dibolehkan sebagai Rukhshah (kelonggaran). Hal ini menunjukkan bahwa kebolehan tersebut adalah karena darurat, namun setelah hilangnya darurat tersebut, maka dilarang kembali oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

(وَعَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: «رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَامَ أَوْطَاسٍ فِي الْمُتْعَةِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ثُمَّ نَهَى عَنْهَا» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Dari Salamah bin al-Akwa’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberikan Rukhshah (kelonggaran) pada tahun Authas untuk melakukan Mut’ah selama 3 hari, kemudian beliau melarangnya.” Diriwayatkan oleh Muslim. [Muslim no.2499]

وَحَدِيثُ سَلَمَةَ هَذَا أَفَادَ أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - رَخَّصَ فِي الْمُتْعَةِ ثُمَّ نَهَى عَنْهَا، وَاسْتَمَرَّ النَّهْيُ، وَنُسِخَتْ الرُّخْصَةُ، وَإِلَى نَسْخِهَا ذَهَبَ الْجَمَاهِيرُ مِنْ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ
Berdasarkan hadits Salamah ini bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberikan Rukhshah (kelonggaran) untuk melakukan Mut’ah, kemudian beliau melarang darinya (Mut’ah). Larangan tersebut terus berlangsung, sedangkan Rukhshah (kelonggaran Mut’ah) tersebut telah Mansukh (dihapus). Mansukhnya (Mut’ah) adalah pendapatnya Jumhur (mayoritas) yang berasal dari kalangan Salaf (terdahulu) dan Khalaf (belakangan).

[Subulus Salam 2/184, Imam ash-Shan’ani]

Firman Allah Ta’ala,

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan bagi hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian, (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri dengan yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban dan tidaklah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [QS. An-Nisaa’ : 24]

وقد استدل الرافضة لإباحة المتعة بما لا يصلح دليلاً ومنه :
Rafidhah (Syiah) berdalil akan pembolehan Mut’ah dengan dalil yang tidak sesuai, yaitu :

قول الله تعالى : { فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة } النساء / 24
Firman Allah Ta’ala, “Maka isteri-isteri dengan yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna),” [QS. An-Nisaa’ : 24]

فقالوا : إن في الآية دليلاً على إباحة المتعة ، وقد جعلوا قوله تعالى { أجورهن } قرينة على أن المراد بقوله { استمتعتم } هو المتعة
Mereka (Syiah Rafidhah) berkata, “Sesungguhnya di dalam ayat ini terdapat sebuah dalil atas pembolehan Mut’ah. Mereka (Syiah Rafidhah) menjadikan firman Allah Ta’ala (yaitu kalimat) [أجورهن] “maharnya” sebagai qarinah atas maksud dari firman Allah (yang berkalimat) [استمتعتم] “kamu nikmati (campuri)” yaitu ia adalah Mut’ah.

والرد على هذا : أن الله تعالى ذكر قبلها ما يحرم على الرجل نكاحه من النساء ، ثم ذكر ما يحل له في هذه الآية ، وأمر بإعطاء المرأة المزوَّجة مهرها
Dan bantahan atas (klaim) ini adalah, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyebutkan sebelumnya mengenai apa yang diharamkan atas seorang laki-laki dalam menikahi para wanita. Kemudian (Allah Ta’ala) menyebutkan pula mengenai apa yang dihalalkan baginya di dalam ayat ini, dan memerintahkan untuk memberikan wanita yang dinikahinya tersebut dengan sebuah mahar.”

وقد عبَّر عن لذة الزواج هنا بالاستمتاع ، ومثله ما جاء في السنَّة من حديث أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " المرأة كالضِّلَع إن أقمتَها كسرتَها ، وإن استمتعتَ بها استمتعتَ بها وفيها عوج " رواه البخاري ( 4889 ) ومسلم ( 1468 )
(Allah Ta’ala) telah mengungkapkan mengenai kelezatan pernikahan dengan (kalimat) [الاستمتاع]. Hal ini serupa dengan apa yang datang dari as-Sunnah dari hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang wanita itu laksana tulang rusuk, jika engkau meluruskannya maka engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau menikmatinya [استمتعتَ] maka niscaya engkau akan menikmatinya [استمتعتَ], meskipun di dalamnya terdapat kebengkokan.” [Riwayat Bukhariy 4889 dan Muslim 1468]

وقد عبَّر عن المهر هنا بالأجر ، وليس المراد به المال الذي يُدفع للمتمتَّع بها في عقد المتعة ، وقد جاء في كتاب الله تعالى تسمية المهر أجراً في موضع آخر وهو قوله : { يا أيها النبي إنا أحللنا لك أزواجك اللاتي آتيت أجورهن } ، فتبيَّن أنه ليس في الآية دليل ولا قرينة على إباحة المتعة
Dan juga (Allah Ta’ala) mengungkapkan mengenai mahar dengan (kalimat) [الأجر]. Maksudnya di sini bukanlah sebuah harta yang dibayarkan untuk melakukan Tamattu’ dalam akad Mut’ah. Telah datang di dalam Kitabullah Ta’ala penamaan mahar dengan (kalimat) [أجراً] yaitu pada tempat (ayat) yang lain, yakni firman-Nya, “Hai Nabi, sesunguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya/maharnya [أجورهن].” [QS. Al-Ahzaab : 50] Sehingga menjadi jelaslah bahwasanya ayat ini (QS. An-Nisaa’ : 24) bukanlah dalil ataupun qarinah akan pembolehan Mut’ah.

[islamqa.info/ar/20738]

التاسعة- واختلف العلماء في معنى الآية، فقال الحسن ومجاهد وغيرهما: المعنى فما انتفعتم وتلذذتم بالجماع من النساء بالنكاح الصحيح
Kesembilan - Para Ulama berselisih mengenai makna ayat (QS. An-Nisaa’ : 24). Al-Hasan, Mujahid dan selain keduanya berkata, “Maknanya adalah manfaat dan kelezatan jima’ dengan para wanita yang (diraih) dengan Pernikahan yang Shahih.”
[Tafsir al-Qurthubiy 5/129]

قال ابن خويز منداد: ولا يجوز أن تحمل الآية على جواز المتعة، لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن نكاح المتعة وحرمه، ولأن الله تعالى قال: (فانكحوهن بإذن أهلهن) ومعلوم أن النكاح بإذن الأهلين هو النكاح الشرعي بولي وشاهدين، ونكاح المتعة ليس كذلك
Ibnu Khuwaiz Mandad berkata, “Tidak diperbolehkan menggunakan ayat tersebut (QS. An-Nisaa’ : 24) untuk membolehkan Mut’ah, dikarenakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang nikah Mut’ah dan mengharamkannya. Dan juga karena firman Allah Ta’ala,

فانكحوهن بإذن أهلهن
Karena itu kawinilah mereka dengan seizin wali mereka. [QS. An-Nisaa’ : 25]

Dan suatu hal yang maklum bahwasanya Nikah adalah seizin Walinya, dan itulah Nikah yang Syar’i dengan Wali dan dua orang saksi. Sedangkan nikah Mut’ah tidaklah demikian.

[Tafsir al-Qurthubiy 5/129-130]

Firman Allah Ta’ala,

والذين هم لفروجهم حافظون إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين
Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. [QS. Al-Mu’minuun : 5-6]

وليست المتعة نكاحا ولا ملك يمين
Mut’ah bukanlah termasuk Nikah dan bukan pula termasuk Budak/Jariah.
[Tafsir al-Qurthubiy 5/130]

Ayat ini (QS. Al-Mu’minuun : 5-6) jelas mengutarakan bahwa hubungan kelamin hanya dibolehkan kepada Wanita yang berfungsi sebagai Isteri atau Jariah. Sedangkan wanita yang diambil dengan jalan Mut’ah tidak berfungsi sebagai Isteri atau sebagai Jariah. Ia bukan Jariah, karena akad Mut’ah bukan akad Nikah, dengan alasan sebagai berikut :
1. Tidak saling mewarisi. Sedang akad nikah menjadi sebab memperoleh harta warisan.
2. Iddah Mut’ah tidak seperti iddah nikah biasa.
3. Dengan akad nikah menjadi berkuranglah hak seseorang dalam hubungan dengan kebolehan beristeri empat. Sedangkan tidak demikian halnya dengan Mut’ah.
4. Dengan melakukan Mut’ah, seseorang tidak dianggap menjadi Muhshan, karena wanita yang diambil dengan jalan Mut’ah tidak berfungsi sebagai Isteri, sebab Mut’ah itu tidak menjadikan wanita berstatus sebagai Isteri dan tidak pula berstatus Jariah. Oleh karena itu, orang yang melakukan Mut’ah termasuk di dalam firman Allah :

فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
“Barang siapa mencari selain dari pada itu, maka mereka itulah orang yang melampaui batas” [QS. al-Mukminin : 7]

[Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia 351-352]

Bahkan di dalam riwayat Syiah Rafidhah dijelaskan bahwasanya Mut’ah tidaklah menjadikan seseorang sebagai seorang yang Muhshan.

ونكاح المتعة لا يحصن بالأثر الصحيح عن أئمة آل محمد عليهم السلام
المقنعة - الشيخ المفيد - الصفحة ٧٧٦
Dan nikah Mut’ah tidaklah menjadikannya sebagai seorang yang Muhshan berdasarkan atsar yang shahih dari para Imam keluarga Muhammad ‘alaihim as-Salam.
[Al-Muqni’ah 776, al-Mufid Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/11_المقنعة-الشيخ-المفيد/الصفحة_763]

ونكاح المتعة عندنا لا يحصن على أصح الأقوال لأنه غير دائم ومعلق بأوقات محدودات
الانتصار - الشريف المرتضى - الصفحة ٥٢١
Nikah Mut’ah di sisi kami tidaklah menjadikannya sebagai seorang yang Muhshan berdasarkan perkataan-perkataan yang shahih, dikarenakan (Mut’ah) bukanlah Daim (Nikah Permanen) namun hanyalah sementara waktu yang dibatasi.
[Al-Intishar 521, al-Murtadha Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/17_الانتصار-الشريف-المرتضى/الصفحة_512]

قلت: فإن كانت عنده امرأة متعة أتحصنه؟ قال: لا إنما هو على الشئ الدائم عنده.
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٧ - الصفحة ١٧٨
Aku bertanya, “Jika ia memiliki seorang wanita Mut’ah, apakah ia termasuk Muhshan?” Beliau menjawab, “Bukan, sesungguhnya (Muhshan) itu adalah jika ia memiliki Daim (Nikah Permanen).”
[Al-Kaafiy 7/178, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1128_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٧/الصفحة_178]

عن أبي عبد الله عليه السلام في الرجل يتزوج المتعة أتحصنه؟ قال: لا إنما ذاك على الشئ الدائم عنده
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٧ - الصفحة ١٧٨
Dari Abi ‘Abdillah ‘alaihi Salam mengenai seorang laki-laki yang menikah Mut’ah, apakah ia termasuk Muhshan? Beliau menjawab, “Bukan, sesungguhnya (Muhshan) itu adalah jika ia memiliki Daim (Nikah Permanen).”
[Al-Kaafiy 7/178, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1128_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٧/الصفحة_178]

Oleh karena itu, sangatlah tidak tepat jika mereka (Syiah Rafidhah) berdalil dengan QS. An-Nisaa’ : 24 untuk melegalkan Mut’ah, dikarenakan ayat tersebut ditujukan untuk seorang yang Muhshan/Pernikahan Shahih/Nikah Daim/Menikah Permanen.

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami [وَالْمُحْصَنَاتُ], kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan bagi hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian, (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini [مُحْصِنِينَ] bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri dengan yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban dan tidaklah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [QS. An-Nisaa’ : 24]

ولو قلنا تنزلاًّ بدلالة الآية على إباحة المتعة فإننا نقول إنها منسوخة بما ثبت في السنة الصحيحة من تحريم المتعة إلى يوم القيامة
Seandainya kita beranggapan bahwa ayat ini (QS. An-Nisaa’ : 24) menunjukkan akan pembolehan Mut’ah, maka kita katakan bahwasanya ia (Mut’ah) adalah Mansukh (dihapus) dengan apa yang telah tsabit di dalam as-Sunnah ash-Shahihah dalam pengharaman Mut’ah hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat).
[islamqa.info/ar/20738]

وقال ابن العربي: وأما متعة النساء فهي من غرائب الشريعة، لأنها أبيحت في صدر الإسلام ثم حرمت يوم خيبر، ثم أبيحت في غزوة أو طاس، ثم حرمت بعد ذلك واستقر الأمر على التحريم، وليس لها أخت في الشريعة إلا مسألة القبلة، لأن النسخ طرأ عليها مرتين ثم استقرت بعد ذلك
Ibnul ‘Arabiy berkata, “Adapun Mut’ah dengan wanita merupakan keunikan Syari’ah, dikarenakan ia (Mut’ah) diperbolehkan pada permulaan Islam yang kemudian diharamkan pada tahun Khaibar. Lalu diperbolehkan kembali pada perang Authas, kemudian diharamkan lagi setelahnya, sehingga stabillah (tetap berlangsung) perkara pengharamannya. Tidak ada Syari’at yang menyerupainya kecuali masalah Kiblat, dikarenakan Naskh (penghapusan) atasnya terjadi 2 kali yang kemudian stabil (tetap berlangsung hukumnya) setelahnya.
[Tafsir al-Qurthubiy 5/130-131]

وَقَدْ رُويَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ القولُ بِإِبَاحَتِهَا لِلضَّرُورَةِ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى. وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ، وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْر، والسُّدِّي يَقْرَءُونَ:
Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan sejumlah Shahabat mengatakan mengenai pembolehannya (Mut’ah) jika dalam keadaan darurat (sebagaimana) yang diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah Ta’ala, bahwasanya Ibnu ‘Abbas, Ubay bin Ka’ab, Sa’id bin Jubair dan as-Suddiy membaca (qiraah dengan cara),

"فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ إِلَى أَجَلٍ مُسَمَّى فَآتَوْهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً". وَقَالَ مُجَاهِدٌ: نَزَلَتْ فِي نِكَاحِ الْمُتْعَةِ،
“Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka sampai batas waktu yang ditentukan, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.” Mujahid berkata, “(Ayat ini) diturunkan mengenai nikah Mut’ah.”

وَلَكِنَّ الْجُمْهُورَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ، وَالْعُمْدَةُ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ، عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] قَالَ:
Namun Jumhur (mayoritas) menyelisihinya, sedangkan yang dijadikan sandaran adalah apa yang terdapat di dalam ash-Shahihain dari Amirul Mukminin ‘Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَلِهَذَا الْحَدِيثِ أَلْفَاظٌ مُقَرَّرَةٌ هِيَ فِي كِتَابِ "الْأَحْكَامِ".
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang nikah Mut’ah, daging keledai peliharaan pada hari Khaibar.” Hadits ini memiliki berbagai lafazh yang merupakan bagian dari kitab al-Ahkam.

وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَة بْنِ مَعْبَدٍ الْجُهَنِيِّ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّهُ غَزَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتْحَ مَكَّةَ، فَقَالَ: "يَأَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرم ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ، وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا"
Di dalam Shahih Muslim dari ar-Rabi’ bin Sabrah bin Ma’bad al-Juhaniy, dari ayahnya bahwasanya ia ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada Fathu Makkah, beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya dahulu aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan Mut’ah dengan wanita. Dan (sekarang) Allah telah mengharamkannya (Mut’ah) hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat). Barangsiapa yang memiliki (perjanjian Mut’ah) dengan mereka (para wanita), maka lepaskanlah dan janganlah kalian mengambil kembali sedikitpun dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka.” [Muslim no.2502]

[Tafsir Ibnu Katsir 2/259]

قال أبو جعفر: وأولى التأويلين في ذلك بالصواب، تأويل من تأوَّله: فما نكحتموه منهن فجامعتموه، فآتوهن أجورهن = لقيام الحجة بتحريم الله متعة النساء على غير وجه النكاح الصحيح أو الملك الصحيح على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم.
Abu Ja’far (ath-Thabariy) berkata, “Takwil (tafsir) (QS. An-Nisaa’ : 24) yang paling benar dari kedua takwil (tafsir) tersebut adalah, “Maka isteri yang telah kalian Nikahi di antara mereka lalu melakukan jima’ (mencampuri/menikmati) dengannya (isteri), maka berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna).” Dikarenakan telah datang Hujjah dengan pengharaman Allah atas Mut’ah dengan para wanita tanpa Pernikahan yang Shahih (Nikah Daim) atau kepemilikan yang Shahih (Budak/Jariah) berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

9044 - حدثنا ابن وكيع قال، حدثنا أبي، عن عبد العزيز بن عمر بن عبد العزيز قال، حدثني الرَّبيع بن سبرة الجهني، عن أبيه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: استمتعوا من هذه النساء = والاستمتاع عندنا يومئذ التزويج
9044 – Ibnu Waki’ telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ubay telah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, ia berkata, ar-Rabi’ bin Sabrah al-Juhaniy telah menceritakan kepadaku dari ayahnya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “[استمتعوا] Istimta’ (bersenang-senang)-lah kalian dengan para wanita ini.” [والاستمتاع] Istimta’ di sisi kami pada saat itu adalah Pernikahan. [Ahmad no.14810, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.15287, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

وقد دللنا على أن المتعة على غير النكاح الصحيح حرام،
Telah kami tunjukkan bahwa Mut’ah bukanlah Pernikahan yang Shahih, (namun Mut’ah) adalah Haram.

وأما ما روي عن أبيّ بن كعب وابن عباس من قراءتهما: (فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى) ، فقراءة بخلاف ما جاءت به مصاحف المسلمين
Adapun apa yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu ‘Abbas mengenai Qira’ah mereka berdua, yaitu, “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka sampai batas waktu yang ditentukan,” Qira’ah tersebut menyelisihi apa yang ada di dalam Mushaf-Mushaf kaum Muslimin.

[Tafsir ath-Thabariy 8/178-179]

قَالَ الْمَازِرِيُّ ثَبَتَ أَنَّ نِكَاحَ الْمُتْعَةِ كَانَ جَائِزًا فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ ثُمَّ ثَبَتَ بِالْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْمَذْكُورَةِ هُنَا أَنَّهُ نُسِخَ وَانْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى تَحْرِيمِهِ وَلَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُسْتَبْدِعَةِ وَتَعَلَّقُوا بِالْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ وَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهَا مَنْسُوخَةٌ فَلَا دَلَالَةَ لَهُمْ فِيهَا وَتَعَلَّقُوا بِقَوْلِهِ تَعَالَى
Al-Maziriy berkata, “Telah tsabit bahwasanya nikah Mut’ah dahulu diperbolehkan pada masa permulaan Islam, lalu ditetapkan dengan hadits-hadits shahih tersebut di sini bahwasanya ia (Mut’ah) adalah Mansukh (dihapus) dan (terjadi) Ijma’ mengenai keharamannya. Tidaklah ada yang menyelisihinya kecuali sekelompok Mubtadi’ yang dengan bersandar pada hadits-hadits yang berkaitan dengannya (Mut’ah). Padahal kami telah menyebutkan bahwasanya ia (Mut’ah) telah Mansukh (dihapus), sedangkan tidak ada dalil bagi mereka mengenainya (pembolehan Mut’ah). Mereka bersandar kepada firman-Nya Ta’ala,

فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن
“Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna),” [QS. An-Nisaa’ : 24]

وفي قراءة بن مَسْعُودٍ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ إِلَى أَجَلٍ وقراءة بن مَسْعُودٍ هَذِهِ شَاذَّةٌ لَا يُحْتَجُّ بِهَا
Dalam Qira’ah Ibnu Mas’ud (disebutkan), “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka sampai batas waktu.” Qira’ah Ibnu Mas’ud ini adalah (Qira’ah) Syadzdzah (asing), sehingga tidak dapat dijadikan hujjah.”

[Syarah Shahih Muslim 9/179, Imam an-Nawawi]

Hadits Shahih riwayat Imam Muslim Rahimahullah,

سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ يَقُولُا
كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَنَا نِسَاءٌ فَقُلْنَا أَلَا نَسْتَخْصِي فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْأَةَ بِالثَّوْبِ إِلَى أَجَلٍ ثُمَّ قَرَأَ عَبْدُ اللَّهِ
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ }
Aku pernah mendengar ‘Abdullah berkata,
“Kami pernah berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tanpa membawa isteri, lalu kami berkata, bolehkah kami mengebiri diri ini? Maka beliau melarang kami dari perbuatan yang demikian. Kemudian beliau memberikan Rukhshah (kelonggaran) kepada kami untuk menikahi wanita dengan (mahar) pakaian hingga batas waktu tertentu.”
Kemudian Abdullah membaca (ayat),

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al-Maa-idah : 87]
[Muslim no.2493]

قال أبو حاتم البستي في صحيحه: قولهم للنبي صلى الله عليه وسلم (ألا نستخصي) دليل على أن المتعة كانت محظورة قبل أن أبيح لهم الاستمتاع، ولو لم تكن محظورة لم يكن لسؤالهم عن هذا معنى، ثم رخص لهم في الغزو أن ينكحوا المرأة بالثوب إلى أجل ثم نهى عنها عام خيبر، ثم أذن فيها عام الفتح، ثم حرمها بعد ثلاث، فهي محرمة إلى يوم القيامة
Abu Hatim al-Bustiy berkata di dalam Shahihnya, “Bolehkah kami mengebiri diri ini?” (Ini) adalah dalil bahwasanya Mut’ah itu dilarang sebelum diperbolehkan bagi mereka untuk bersenang-senang. Seandainya (Mut’ah) tidak terlarang maka niscaya mereka tidak akan bertanya seperti itu. Kemudian diberikanlah Rukhshah (kelonggaran) bagi mereka dalam peperangan untuk menikahi seorang wanita dengan (mahar) sebuah pakaian sampai batas waktu, lalu dilarang darinya (Mut’ah) pada saat tahun Khaibar. Selanjutnya diizinkan kembali untuk (Mut’ah) pada tahun al-Fath (Fathul Makkah), lalu diharamkan setelah (hari) ketiga. Dan pengharamannya tersebut (berlangsung) hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat).
[Tafsir al-Qurthubiy 5/130]

قَوْلُهُ (رَخَّصَ لنا أن ننكح المرأة بالثوب) أي بالثوب وَغَيْرِهِ مِمَّا نَتَرَاضَى بِهِ قَوْلُهُ (ثُمَّ قَرَأَ عَبْدُ اللَّهِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تحرموا طيبات ما أحل الله لكم) فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ كَانَ يَعْتَقِدُ إِبَاحَتَهَا كقول بن عباس وأنه لم يبلغه نسخها
Perkataannya Hadits“Beliau memberikan rukhshah (kelonggaran) kepada kami untuk menikahi wanita dengan (mahar) pakaian.” Yaitu dengan pakaian atau selainnya yang diridhainya. Perkataannya, “Lalu ‘Abdullah membaca (ayat), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu.” Ini adalah isyarat bahwasanya ia (Abdullah) beranggapan akan bolehnya (Mut’ah) sebagaimana pendapatnya Ibnu ‘Abbas, dikarenakan belum sampai kepadanya akan Mansukhnya (Mut’ah).
[Syarah Shahih Muslim 9/182, Imam an-Nawawi]

وَقَدْ تقدم فِي أَوَائِل النِّكَاح حَدِيث بن مَسْعُودٍ فِي سَبَبِ الْإِذْنِ فِي نِكَاحِ الْمُتْعَةِ وَأَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا غَزَوُا اشْتَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْعُزْبَةُ فَأَذِنَ لَهُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ فَلَعَلَّ النَّهْيَ كَانَ يتَكَرَّر فِي كل موطن بَعْدَ الْإِذْنِ فَلَمَّا وَقَعَ فِي الْمَرَّةِ الْأَخِيرَةِ أَنَّهَا حُرِّمَتْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَمْ يَقَعْ بَعْدَ ذَلِكَ إِذْنٌ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Pada awal pembahasan mengenai nikah, yakni hadits Ibnu Mas’ud tentang sebab adanya izin nikah Mut’ah, yaitu tatkala mereka sedang berperang maka mereka akan sangat tersiksa (jauh dari isteri), sehingga mereka diizinkan untuk melakukan nikah Mut’ah. Mungkin saja pelarangan (Mut’ah) terjadi di setiap tempat setelah sebelumnya telah diizinkan. Ketika terjadi (pelarangan Mut’ah) untuk terakhir kalinya maka (Mut’ah) diharamkan hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat). Sehingga tidak ada lagi pemberian izin setelahnya. -Wallahu A’lam-
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/170, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

وَإِنَّمَا فِيهِ مُجَرَّدُ النَّهْيِ فَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ التَّمَتُّعَ مِنَ النِّسَاءِ كَانَ حَلَالًا وَسَبَبُ تَحْلِيلِهِ مَا تَقَدَّمَ فِي حَدِيث بن مَسْعُودٍ حَيْثُ قَالَ كُنَّا نَغْزُو وَلَيْسَ لَنَا شَيْءٌ ثُمَّ قَالَ فَرَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْأَةَ بِالثَّوْبِ
Sehingga dapat diambil (kesimpulan) darinya bahwa nikah Mut’ah dengan wanita adalah halal dan sebab kehalalannya adalah sebagaimana yang terdahulu di dalam hadits Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Kami pernah berperang tanpa membawa sesuatu, kemudian beliau memberikan Rukhshah (kelonggaran) kepada kami untuk menikahi wanita dengan (mahar) pakaian.”

فَأَشَارَ إِلَى سَبَبِ ذَلِكَ وَهُوَ الْحَاجَةُ مَعَ قِلَّةِ الشَّيْءِ وَكَذَا فِي حَدِيثِ سهل بن سعد الَّذِي أخرجه بن عَبْدِ الْبَرِّ بِلَفْظِ إِنَّمَا رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمُتْعَةِ لِعُزْبَةٍ كَانَتْ بِالنَّاسِ شَدِيدَةٍ ثُمَّ نَهَى عَنْهَا فَلَمَّا فُتِحَتْ خَيْبَرَ وَسَّعَ عَلَيْهِمْ مِنَ الْمَالِ وَمِنَ السَّبْيِ فَنَاسَبَ النَّهْيُ عَنِ الْمُتْعَةِ لِارْتِفَاعِ سَبَبِ الْإِبَاحَةِ وَكَانَ ذَلِكَ مِنْ تَمَامِ شُكْرِ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَى التَّوْسِعَةِ بَعْدَ الضِّيقِ
Ia (‘Abdullah bin Mas’ud) telah mengisyaratkan mengenai sebabnya adalah kebutuhan mendesak dan sedikitnya sesuatu. Demikian juga di dalam hadits Sahal bin Sa’ad yang dikeluarkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dengan lafazh, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan Rukhshah (kelonggaran) untuk melakukan Mu’tah dikarenakan manusia terasa sangat tersiksa, lalu beliau melarangnya (Mut’ah).” Tatkala Khaibar ditaklukkan, maka mereka pun mendapatkan keluasan baik berbagai harta dan para tawanan wanita. Sehingga menyebabkan pelarangan Mut’ah, dikarenakan telah hilang sebab pembolehannya. Itulah termasuk kesempurnaan syukur nikmat kepada Allah dengan diberikannya keluasan setelah kesempitan.

[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/171, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

Namun Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah memilih pendapat bahwasanya pada perang Khaibar tidak terdapat pengerjaan dan pengharaman Mut’ah, hal ini dikarenakan tidak adanya seorang Shahabat yang melakukan Mut’ah dengan wanita Yahudi.

وَقِصَّةُ خَيْبَرَ لَمْ يَكُنْ فِيهَا الصَّحَابَةُ يَتَمَتَّعُونَ بِالْيَهُودِيَّاتِ، وَلَا اسْتَأْذَنُوا فِي ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا نَقَلَهُ أَحَدٌ قَطُّ فِي هَذِهِ الْغَزْوَةِ، وَلَا كَانَ لِلْمُتْعَةِ فِيهَا ذِكْرٌ الْبَتَّةَ، لَا فِعْلًا وَلَا تَحْرِيمًا، بِخِلَافِ غَزَاةِ الْفَتْحِ؛ فَإِنَّ قِصَّةَ الْمُتْعَةِ كَانَتْ فِيهَا فِعْلًا وَتَحْرِيمًا مَشْهُورَةً، وَهَذِهِ الطَّرِيقَةُ أَصَحُّ
Pada kisah Khaibar, para Shahabat tidak ada yang melakukan Mut’ah dengan wanita-wanita Yahudi. Dan juga mereka tidak meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk melakukannya, serta tidak pernah ada seorang pun yang menukilkannya (Mut’ah terjadi) pada perang ini. Bahkan pada (perang Khaibar) tidak disebutkan sama sekali mengenai Mut’ah, yaitu tidak ada yang mengerjakannya atau mengharamkannya. (Hal ini) berbeda dengan perang al-Fath (Fathul Makkah), Karena kisah Mut’ah telah dilakukan dengan pengharamannya yang Masyhur. Dan ini adalah thariqah yang tepat.
[Zadul Ma’ad 3/305, Imam Ibnul Qayyim]

Dari pemaparan Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya Mut’ah dahulu dilakukan kepada para wanita kafir saja seperti para wanita Yahudi.

إن المتعة إنما أبيحت في الإسلام لمدة ثلاثة أيام ثم حرمت، وكانت مع الكافرات
Sesungguhnya Mut’ah diperbolehkan di dalam Islam hanya selama 3 hari yang kemudian diharamkan, dan (Mut’ah dilakukan) terhadap para wanita kafir saja.
[Min al-Qalbi ila al-Qalbi 75, Syaikh ‘Utsman bin Muhammad al-Khamis]

Akan tetapi pernyataan Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah tersebut, yakni pada perang Khaibar tidak terdapat pengerjaan dan pengharaman Mut’ah, maka dapat dijawab dengan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani Rahimahullah sebagai berikut.

وَزَاد بن الْقَيِّمِ فِي الْهَدْيِ أَنَّ الصَّحَابَةَ لَمْ يَكُونُوا يَسْتَمْتِعُونَ بِالْيَهُودِيَّاتِ يَعْنِي فَيَقْوَى أَنَّ النَّهْيَ لَمْ يَقَعْ يَوْمَ خَيْبَرَ أَوْ لَمْ يَقَعْ هُنَاكَ نِكَاحُ مُتْعَةٍ لَكِنْ يُمْكِنُ أَنْ يُجَابَ بِأَنَّ يَهُودَ خَيْبَرَ كَانُوا يُصَاهِرُونَ الْأَوْسَ وَالْخَزْرَجَ قَبْلَ الْإِسْلَامِ فَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ مِنْ نِسَائِهِمْ مَنْ وَقَعَ التَّمَتُّعُ بِهِنَّ فَلَا يَنْهَضُ الِاسْتِدْلَالُ بِمَا قَالَ
Ibnul Qayyim menambahkan di dalam (kitab) al-Hadyi (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad) bahwasanya, “Para Shahabat tidak ada yang melakukan Mut’ah dengan wanita-wanita Yahudi.” Yakni menguatkan bahwa pelarangan (Mut’ah) tidak terjadi pada hari Khaibar atau tidak ada kejadian nikah Mut’ah. Akan tetapi mungkin saja dapat dijawab bahwa Yahudi Khaibar memiliki hubungan besan dengan (suku) Aus dan Khazraj sebelum Islam, yang kemungkinan para wanita mereka (Aus dan Khazraj yang berada di Khaibar) yang melakukan Mut’ah. Sehingga tidak dapat dijadikan dalil dengan apa yang dikatakan (oleh Ibnul Qayyim).
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/170, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

أَوْ كَانَتِ الْإِبَاحَةُ إِنَّمَا تَقَعُ فِي الْمَغَازِي الَّتِي يَكُونُ فِي الْمَسَافَةِ إِلَيْهَا بُعْدٌ وَمَشَقَّةٌ وَخَيْبَرُ بِخِلَافِ ذَلِكَ لِأَنَّهَا بِقُرْبِ الْمَدِينَةِ فَوَقَعَ النَّهْيُ عَنِ الْمُتْعَةِ فِيهَا إِشَارَةٌ إِلَى ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ تَقَدُّمِ إِذْنٍ فِيهَا ثُمَّ لَمَّا عَادُوا إِلَى سَفْرَةٍ بَعِيدَةِ الْمُدَّةِ وَهِيَ غَزَاةُ الْفَتْحِ وَشَقَّتْ عَلَيْهِمُ الْعُزُوبَةُ أَذِنَ لَهُمْ فِي الْمُتْعَةِ لَكِنْ مُقَيَّدًا بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فَقَطْ دَفْعًا لِلْحَاجَةِ ثُمَّ نَهَاهُمْ بَعْدَ انْقِضَائِهَا عَنْهَا كَمَا سَيَأْتِي مِنْ رِوَايَةِ سَلَمَةَ
Atau juga pembolehan (Mut’ah) hanya terjadi pada saat peperangan-peperangan yang memiliki jarak yang jauh dan penuh dengan kesulitan. Sedangkan Khaibar berbeda dengan kondisi tersebut, dikarenakan (Khaibar) berada dekat dengan Madinah, sehingga terjadilah pelarangan Mut’ah sebagai isyarat kepada makna tersebut meskipun tidak adanya izin sebelumnya. Kemudian ketika mereka kembali melakukan perjalanan yang cukup jauh, yaitu perang al-Fath (Fathul Makkah), dan sangat menyiksa mereka. Maka mereka diizinkan kembali untuk melakukan Mut’ah, namun diberi batasan hanya selama tiga hari sekedar kebutuhan saja. Kemudian setelah itu beliau melarang mereka sebagaimana yang akan disebutkan dalam riwayat Salamah.
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/171, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

Hadits Shahih riwayat Imam Muslim Rahimahullah,

عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ أَوْطَاسٍ فِي الْمُتْعَةِ ثَلَاثًا ثُمَّ نَهَى عَنْهَا
Dari Iyas bin Salamah dari ayahnya, ia berkata,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberikan rukhshah (kelonggaran) pada tahun Authas untuk melakukan Mut’ah selama 3 (hari), kemudian beliau melarangnya.” [Muslim no.2499]

عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ الْجُهَنِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ
أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُتْعَةِ عَامَ الْفَتْحِ حِينَ دَخَلْنَا مَكَّةَ ثُمَّ لَمْ نَخْرُجْ مِنْهَا حَتَّى نَهَانَا عَنْهَا
Dari ‘Abdul Malik bin ar-Rabi’ bin Sabrah al-Juhainiy dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kepada kami untuk melakukan Mut’ah pada saat al-Fath (Fathul Makkah) ketika kami memasuki Makkah, kemudian tidaklah kami keluar darinya (Makkah) melainkan beliau telah melarangnya (Mut’ah). [Muslim no.2503]

عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ
Dari ar-Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya,
Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang nikah Mut’ah. [Muslim no.2505]

عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى يَوْمَ الْفَتْحِ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ
Dari ar-Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya,
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada hari al-Fath (Fathul Makkah) melarang dari melakukan Mut’ah dengan wanita. [Muslim no.2506]

وَذَكَرَ مُسْلِمٌ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ إِبَاحَتَهَا يَوْمَ أَوْطَاسَ وَمِنْ رِوَايَةِ سَبْرَةَ إِبَاحَتُهَا يَوْمَ الْفَتْحِ وَهُمَا وَاحِدٌ ثَمَّ حُرِّمَتْ يَوْمَئِذٍ وَفِي حَدِيثِ عَلِيٍّ تَحْرِيمُهَا يَوْمَ خَيْبَرَ وَهُوَ قَبْلَ الْفَتْحِ
Dan disebutkan oleh Muslim dari Salamah bin al-Akwa’ mengenai pembolehannya (Mut’ah) adalah pada hari Authas, dan dari apa yang diriwayatkan oleh Sabrah mengenai pembolehannya (Mut’ah) adalah pada hari al-Fath (Fathul Makkah), namun kedua (hadits Authas & al-Fath) tersebut (sebenarnya) adalah satu (peristiwa), kemudian diharamkan pada hari itu juga. Sedangkan di dalam hadits ‘Aliy, diharamkannya (Mut’ah) adalah pada hari Khaibar, yakni sebelum al-Fath (Fathul Makkah).
[Syarah Shahih Muslim 9/180, Imam an-Nawawi]

قَوْلُهُ (رَخَّصَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ أَوْطَاسَ فِي الْمُتْعَةِ ثَلَاثًا ثُمَّ نَهَى عَنْهَا) هَذَا تَصْرِيحٌ بِأَنَّهَا أُبِيحَتْ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَهُوَ وَيَوْمُ أَوْطَاسَ شَيْءٌ وَاحِدٌ
Perkataannya, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberikan rukhshah (kelonggaran) pada tahun Authas untuk melakukan Mut’ah selama 3 (hari), kemudian beliau melarangnya.” Ini menegaskan bahwasanya (Mut’ah) dibolehkan pada Fathu Makkah, yaitu pada hari Authas yang merupakan satu (peristiwa).
[Syarah Shahih Muslim 9/184, Imam an-Nawawi]

قَالَ وَمَنْ قَالَ مِنَ الرُّوَاةِ كَانَ فِي غَزْوَةِ أَوْطَاسَ فَهُوَ مُوَافِقٌ لِمَنْ قَالَ عَامَ الْفَتْحِ
(As-Suhailiy) berkata, “Barangsiapa dari para perawi yang mengatakan (Mansukh) terjadi pada perang Authas, maka ia selaras dengan (perawi) yang mengatakan (Mansukh) terjadi pada tahun al-Fath (Fathul Makkah).”
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/169, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

قَالَ الْمَازِرِيُّ وَاخْتَلَفَتِ الرِّوَايَةُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ فِي النَّهْيِ عَنِ الْمُتْعَةِ فَفِيهِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهَا يَوْمَ خَيْبَرَ وَفِيهِ أَنَّهُ نَهَى عَنْهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَإِنْ تَعَلَّقَ بِهَذَا مَنْ أَجَازَ نِكَاحَ الْمُتْعَةِ وَزَعَمَ أَنَّ الْأَحَادِيثَ تَعَارَضَتْ وَأَنَّ هَذَا الِاخْتِلَافَ قَادِحٌ فِيهَا قُلْنَا هَذَا الزَّعْمُ خَطَأٌ وَلَيْسَ هَذَا تَنَاقُضًا لِأَنَّهُ يَصِحُّ أَنْ يَنْهَى عَنْهُ فِي زَمَنٍ ثُمَّ يَنْهَى عَنْهُ فِي زَمَنٍ آخَرَ تَوْكِيدًا أَوْ لِيَشْتَهِرَ النَّهْيُ وَيَسْمَعَهُ مَنْ لَمْ يَكُنْ سَمِعَهُ أَوَّلًا فَسَمِعَ بَعْضُ الرُّوَاةِ النَّهْيَ فِي زَمَنٍ وَسَمِعَهُ آخَرُونَ فِي زَمَنٍ آخَرَ فَنَقَلَ كُلٌّ مِنْهُمْ مَا سَمِعَهُ وَأَضَافَهُ إِلَى زَمَانِ سَمَاعِهِ هَذَا كَلَامُ الْمَازِرِيِّ
Al-Maziriy berkata, “Terdapat perbedaan riwayat di dalam Shahih Muslim mengenai pelarangan Mut’ah. Di dalam (Shahih Muslim disebutkan) bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarangnya (Mut’ah) pada hari Khaibar, dan di dalam (Shahih Muslim juga disebutkan) bahwa beliau melarangnya (Mut’ah) pada hari Fathul Makkah. Oleh karena itu dengan berdasarkan (2 hadits) ini oleh yang membolehkan nikah Mut’ah dengan mengklaim bahwasanya hadits-hadits tersebut adalah Ta’arudh (saling bertentangan), sehingga pertentangan ini (melemahkan hadits) itu sendiri. Maka kita katakan, klaim ini adalah salah dan ia bukanlah termasuk (hadits) yang Tanaqudh (saling bertentangan), dikarenakan yang benar adalah beliau melarangnya (Mut’ah) pada waktu tertentu dan melarangnya lagi pada waktu yang lain sebagai penegasan atau untuk memasyhurkan (diketahui secara luas) mengenai pelarangan (Mut’ah) bagi yang belum pernah mendengarnya sebelumnya. Sehingga sebagian perawi mendengar pelarangan tersebut pada waktu tertentu dan (perawi) lainnya mendengarnya pada waktu yang lain, lalu setiap dari mereka yang mendengarnya (meriwayatkan) dengan disertai keterangan waktunya.” Ini adalah perkataan al-Maziriy.
[Syarah Shahih Muslim 9/179, Imam an-Nawawi]

قَالَ النَّوَوِيُّ: الصَّوَابُ أَنَّ تَحْرِيمَهَا وَإِبَاحَتَهَا وَقَعَ مَرَّتَيْنِ فَكَانَتْ مُبَاحَةً قَبْلَ خَيْبَرَ ثُمَّ حُرِّمَتْ فِيهَا ثُمَّ أُبِيحَتْ عَامَ الْفَتْحِ، وَهُوَ عَامُ أَوْطَاسٍ ثُمَّ حُرِّمَتْ تَحْرِيمًا مُؤَبَّدًا، وَإِلَى هَذَا التَّحْرِيمِ ذَهَبَ أَكْثَرُ الْأَمَةِ، وَذَهَبَ إلَى بَقَاءِ الرُّخْصَةِ جَمَاعَةٌ مِنْ الصَّحَابَةِ، وَرُوِيَ رُجُوعُهُمْ وَقَوْلُهُمْ بِالنَّسْخِ، وَمِنْ أُولَئِكَ ابْنُ عَبَّاسٍ رُوِيَ عَنْهُ بَقَاءُ الرُّخْصَةِ ثُمَّ رَجَعَ عَنْهُ إلَى الْقَوْلِ بِالتَّحْرِيمِ
An-Nawawiy berkata, “Yang benar, bahwasanya pengharaman dan pembolehan (Mut’ah) tersebut terjadi 2 kali, yaitu dibolehkan sebelum Khaibar lalu diharamkan ketika di (Khaibar). Kemudian dibolehkan kembali pada tahun al-Fath (Fathul Makkah), yaitu tahun Authas, lalu diharamkan kembali dengan pengharaman untuk selama-lamanya.” Pengharaman ini merupakan pendapat mayoritas Imam, dan terdapat sejumlah Shahabat berpendapat mengenai rukhshah (Mut’ah) tersebut tetap berlaku, namun mereka (para Shahabat) telah ruju’ (meralat) dari pendapatnya bahwasanya (Mut’ah) telah Mansukh (dihapus). Sebagaimana yang terjadi pada Ibnu ‘Abbas, diriwayatkan darinya mengenai rukhshah (Mut’ah) tetap berlaku lalu ia ruju’ (meralat) dari (pendapat)-nya dengan mengharamkannya (Mut’ah).

قَالَ الْبُخَارِيُّ: بَيَّنَ عَلِيٌّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ مَنْسُوخٌ،
Al-Bukhariy berkata, “Aliy Radhiyallahu ‘anhu telah menjelaskan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya (Mut’ah) adalah Mansukh (dihapus). [Bukhari no.4725]

[Subulus Salam 2/184, Imam ash-Shan’ani]

وَقَالَ النَّوَوِيُّ الصَّوَابُ أَنَّ تَحْرِيمَهَا وَإِبَاحَتَهَا وَقَعَا مَرَّتَيْنِ فَكَانَتْ مُبَاحَةً قَبْلَ خَيْبَرَ ثُمَّ حُرِّمَتْ فِيهَا ثُمَّ أُبِيحَتْ عَامَ الْفَتْحِ وَهُوَ عَامُ أَوْطَاسَ ثُمَّ حُرِّمَتْ تَحْرِيمًا مُؤَبَّدًا قَالَ وَلَا مَانِعَ مِنْ تَكْرِيرِ الْإِبَاحَةِ وَنَقَلَ غَيْرُهُ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْمُتْعَةَ نُسِخَتْ مَرَّتَيْنِ
An-Nawawiy berkata, “Yang benar, bahwasanya pengharaman dan pembolehan (Mut’ah) tersebut terjadi 2 kali, yaitu dibolehkan sebelum Khaibar lalu diharamkan ketika di (Khaibar). Kemudian dibolehkan kembali pada tahun al-Fath (Makkah), yaitu tahun Authas, lalu diharamkan kembali dengan pengharaman untuk selama-lamanya.” (An-Nawawiy) berkata pula, “Tidak ada penghalang akan terjadinya pembolehannya (Mut’ah) untuk beberapa kali.” Dan selainnya menukilkan dari asy-Syafi’iy bahwasanya Mut’ah adalah Mansukh (dihapus) sebanyak 2 kali.”
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/170, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

قَالَ الشَّافِعِيُّ: لَا أَعْلَمُ شَيْئًا حُرِّمَ ثُمَّ أُبِيحَ ثُمَّ حُرِّمَ إِلَّا الْمُتْعَةَ
Asy-Syafi’iy berkata, “Tidaklah aku mengetahui sesuatu yang diharamkan kemudian diperbolehkan lalu diharamkan kembali kecuali Mut’ah.”
[Zadul Ma’ad 3/305, Imam Ibnul Qayyim]

وَالصَّوَابُ الْمُخْتَارُ أَنَّ التَّحْرِيمَ وَالْإِبَاحَةَ كَانَا مَرَّتَيْنِ وَكَانَتْ حَلَالًا قَبْلَ خَيْبَرَ ثُمَّ حُرِّمَتْ يَوْمَ خَيْبَرَ ثُمَّ أُبِيحَتْ يوم فتح مكة وهو يوم أوطاس لا تصالهما ثُمَّ حُرِّمَتْ يَوْمَئِذٍ بَعْدَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ تَحْرِيمًا مُؤَبَّدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Yang benar dan yang terpilih adalah bahwasanya pengharaman dan pembolehannya (Mut’ah) terjadi dua kali. Pembolehannya terjadi sebelum Khaibar lalu diharamkan pada hari Khaibar, kemudian dibolehkan kembali pada hari Fathu Makkah, yakni hari Authas, dikarenakan keduanya (Fathul Makkah dan Authas) (hari peristiwanya) tidak terputus, kemudian diharamkan pada hari itu juga (setelah) tiga hari, lalu diharamkan untuk selama-lamanya hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat).
[Syarah Shahih Muslim 9/181, Imam an-Nawawi]

Hadits Shahih riwayat Imam Muslim Rahimahullah,

حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَقَالَ أَلَا إِنَّهَا حَرَامٌ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَانَ أَعْطَى شَيْئًا فَلَا يَأْخُذْهُ
Ar-Rabi’ bin Sabrah al-Juhaniy telah menceritakan kepadaku dari ayahnya,
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang Mut’ah seraya bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya ia (Mut’ah) adalah haram mulai dari hari kalian ini hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat). Barangsiapa yang telah memberikan sesuatu (mahar), maka janganlah mengambilnya kembali.” [Muslim no.2509]

وَقد اعْترف بن حَزْمٍ مَعَ ذَلِكَ بِتَحْرِيمِهَا لِثُبُوتِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهَا حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَأَمِنَّا بِهَذَا الْقَوْلِ نَسْخَ التَّحْرِيمِ وَالله أعلم
Ibnu Hazm telah mengakui mengenai pengharaman (Mut’ah), dikarenakan telah tsabit sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya ia (Mut’ah) haram hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat).” Ia (Ibnu Hazm) juga mengatakan, “Pernyataan ini menolak pendapat yang memansukhkan pengharaman (Mut’ah).” Wallahu a’lam
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/174, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

وَالْقَوْلُ بِأَنَّ إبَاحَتَهَا قَطْعِيٌّ، وَنَسْخَهَا ظَنِّيٌّ غَيْرُ صَحِيحٍ لِأَنَّ الرَّاوِينَ لِإِبَاحَتِهَا رَوَوْا نَسْخَهَا
Sedangkan perkataan bahwasanya pembolehannya (Mut’ah) adalah qath’iy dan penghapusannya (Mut’ah) adalah dzhanniy adalah tidak benar, dikarenakan para perawi yang membolehkan (Mut’ah), mereka juga meriwayatkan penghapusan (Mut’ah).
[Subulus Salam 2/185, Imam ash-Shan’ani]

قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ رَوَى حَدِيثَ إِبَاحَةِ الْمُتْعَةِ جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ فَذَكَرَهُ مُسْلِمٌ مِنْ رِوَايَةِ بن مسعود وبن عَبَّاسٍ وَجَابِرٍ وَسَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ وَسَبْرَةَ بْنِ مَعْبَدٍ الْجُهَنِيِّ وَلَيْسَ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ كُلِّهَا أَنَّهَا كَانَتْ فِي الْحَضَرِ وَإِنَّمَا كَانَتْ فِي أَسْفَارِهِمْ فِي الْغَزْوِ عِنْدَ ضَرُورَتِهِمْ وَعَدَمِ النِّسَاءِ مَعَ أَنَّ بِلَادَهُمْ حَارَّةٌ وَصَبْرَهُمْ عَنْهُنَّ قَلِيلٌ وَقَدْ ذَكَرَ فِي حديث بن أَبِي عُمَرَ أَنَّهَا كَانَتْ رُخْصَةً فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ لِمَنِ اضْطُرَّ إِلَيْهَا كَالْمَيْتَةِ وَنَحْوِهَا وَعَنِ بن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا نَحْوُهُ
Al-Qadhi Iyadh berkata, “Periwayatan hadits pembolehan Mut’ah adalah berasal dari beberapa Shahabat yang disebutkan oleh Muslim yang berasal dari riwayat Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Salamah bin al-Akwa dan Sabrah bin Ma’bad al-Juhaniy. Dan tidaklah hadits-hadits ini (disampaikan) pada saat bermukim, melainkan (disampaikan) pada saat mereka dalam (keadaan) safar untuk berperang, yakni bagi mereka yang membutuhkan (darurat) dan tidak membawa isteri-isteri, ditambah lagi negeri mereka sangat panas dan mereka hanya memiliki sedikit kesabaran (karena jauh) dari isteri. Dan juga disebutkan di dalam hadits Ibnu Abi ‘Umar (‘Amrah) bahwasanya (Mut’ah) merupakan rukhshah (kelonggaran) pada masa permulaan Islam bagi orang yang membutuhkan sebagaimana (memakan) bangkai dan lain sebagainya. Serta (terdapat juga riwayat) dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma yang semakna dengannya.”
[Syarah Shahih Muslim 9/179-180, Imam an-Nawawi]

قال أبو جعفر الطحاوي: كل هؤلاء الذين رووا عن النبي صلى الله عليه وسلم إطلاقها أخبروا أنها كانت في سفر، وأن النهي لحقها في ذلك السفر بعد ذلك، فمنع منها، وليس أحد منهم يخبر أنها كانت في حضر، وكذلك روي عن ابن مسعود
Abu Ja’far ath-Thahawiy berkata, “Mereka semua yang meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa (Mut’ah) dilakukan pada saat safar, lalu pelarangan (Mut’ah) datang setelahnya pada saat (itu) juga, hingga beliau pun melarangnya. Tidak ada seorang pun di antara mereka mengabarkan bahwasanya (Mut’ah) dilakukan pada saat (mukim). Itulah yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud.”
[Tafsir al-Qurthubiy 5/131]

Hadits Shahih riwayat Imam Muslim Rahimahullah,

جَاءَهُ رَجُلٌ فَاسْتَفْتَاهُ فِي الْمُتْعَةِ فَأَمَرَهُ بِهَا فَقَالَ لَهُ ابْنُ أَبِي عَمْرَةَ الْأَنْصَارِيُّ مَهْلًا قَالَ مَا هِيَ وَاللَّهِ لَقَدْ فُعِلَتْ فِي عَهْدِ إِمَامِ الْمُتَّقِينَ قَالَ ابْنُ أَبِي عَمْرَةَ إِنَّهَا كَانَتْ رُخْصَةً فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ لِمَنْ اضْطُرَّ إِلَيْهَا كَالْمَيْتَةِ وَالدَّمِ وَلَحْمِ الْخِنْزِيرِ ثُمَّ أَحْكَمَ اللَّهُ الدِّينَ وَنَهَى عَنْهَا
Terdapat seorang laki-laki mendatangi (Khalid) untuk meminta fatwa mengenai Mut’ah, lalu ia memerintahkan untuk melakukannya. Lantas Ibnu Abi ‘Amrah al-Anshariy berkata kepadanya, “Tunggu dulu,” Lalu (Khalid) berkata, “Ada masalah apa. Demi Allah ia (Mut’ah) pernah dilakukan pada masa Imam al-Muttaqin.” Ibnu Abi ‘Amrah berkata, “Sesungguhnya ia (Mut’ah) merupakan Rukhshah (kelonggaran) pada masa permulaan Islam yang (diperbolehkan) bagi orang-orang yang sangat membutuhkan, (diibaratkan) seperti (makan) bangkai, darah dan daging babi. Kemudian Allah (menetapkan) hukum dalam agama dan melarangnya (Mut’ah).” [Muslim no.2508]

وَعِنْدِ مُسْلِمٍ مِنْ طَرِيقِ الزُّهْرِيِّ عَنْ خَالِدِ بْنِ المُهَاجر أَو بن أَبِي عُمْرَةَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ رَجُلٌ يَعْنِي لِابْنِ عَبَّاسٍ وَصَرَّحَ بِهِ الْبَيْهَقِيُّ فِي رِوَايَتِهِ إِنَّمَا كَانَتْ يَعْنِي الْمُتْعَةَ رُخْصَةً فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ لِمَنِ اضْطُرَّ إِلَيْهَا كَالْمَيْتَةِ وَالدَّمِ وَلَحْمِ الْخِنْزِيرِ وَيُؤَيِّدُهُ مَا أَخْرَجَهُ الْخَطَّابِيُّ وَالْفَاكِهِيُّ مِنْ طَرِيقِ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ لَقَدْ سَارَتْ بِفُتْيَاكَ الرُّكْبَانُ وَقَالَ فِيهَا الشُّعَرَاءُ يَعْنِي فِي الْمُتْعَةِ فَقَالَ وَاللَّهِ مَا بِهَذَا أَفْتَيْتُ وَمَا هِيَ إِلَّا كَالْمَيْتَةِ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِلْمُضْطَرِّ
Di dalam (riwayat) Muslim dari jalan az-Zuhriy dari Khalid bin Muhajir atau Ibnu Abi ‘Amrah al-Anshariy, ia berkata, “Seorang laki-laki berkata, yakni kepada Ibnu ‘Abbas,” dan dinyatakan secara sharih oleh al-Baihaqiy dalam riwayatnya, “Sesungguhnya ia, yakni Mut’ah, merupakan rukhshah (kelonggaran) pada masa permulaan Islam yang (diperbolehkan) bagi orang-orang yang sangat membutuhkan, (diibaratkan) seperti (makan) bangkai, darah dan daging babi.” Hal ini dikuatkan oleh riwayat al-Khaththabiy dan al-Fakihiy dari jalan Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Sungguh fatwa engkau telah dimanfaatkan oleh rombongan perjalanan dengan membuat berbagai syair, yakni mengenai Mut’ah.” Lantas (Ibnu ‘Abbas) berkata, “Demi Allah, bukan begitu fatwaku, namun ia (Mut’ah) melainkan seperti bangkai yang tidak halal kecuali bagi yang terpaksa.”
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/171, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

وَهَذِهِ كَانَتْ طَرِيقَةَ ابْنِ عَبَّاسٍ حَتَّى كَانَ يُفْتِي بِهَا وَيَقُولُ: (هِيَ كَالْمَيْتَةِ وَالدَّمِ وَلَحْمِ الْخِنْزِيرِ، تُبَاحُ عِنْدَ الضَّرُورَةِ وَخَشْيَةِ الْعَنَتِ) ، فَلَمْ يَفْهَمْ عَنْهُ أَكْثَرُ النَّاسِ ذَلِكَ وَظَنُّوا أَنَّهُ أَبَاحَهَا إِبَاحَةً مُطْلَقَةً، وَشَبَّبُوا فِي ذَلِكَ بِالْأَشْعَارِ، فَلَمَّا رَأَى ابْنُ عَبَّاسٍ ذَلِكَ رَجَعَ إِلَى الْقَوْلِ بِالتَّحْرِيمِ
Ini adalah thariqahnya Ibnu ‘Abbas hingga ia berfatwa dengan mengatakan, “Ia (Mut’ah) adalah seperti bangkai, darah dan daging babi, yang boleh dilakukan tatkala darurat dan takut akan berbuat dosa.” Sebagian besar manusia tidak memahaminya dan menyangka bahwa ia (Ibnu ‘Abbas) membolehkan (Mut’ah) dengan pembolehan secara mutlak, sehingga mereka membuat berbagai syair. Ketika Ibnu ‘Abbas melihatnya, maka ia pun ruju’ (meralat) pendapatnya dengan mengharamkan (Mut’ah).
[Zadul Ma’ad 3/305, Imam Ibnul Qayyim]

وَأَمَّا بن عَبَّاسٍ فَرُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ أَبَاحَهَا وَرُوِيَ عَنْهُ أَنه رَجَعَ عَن ذَلِك
Adapun apa yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya ia membolehkannya (Mut’ah), namun diriwayatkan pula darinya bahwa ia telah ruju’ (meralat)-nya.
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

قَالَ الْخَطَّابِيُّ وَيُحْكَى عَنِ بن جُرَيْجٍ جَوَازُهَا وَقَدْ نَقَلَ أَبُو عَوَانَةَ فِي صَحِيحه عَن بن جُرَيْجٍ أَنَّهُ رَجَعَ عَنْهَا بَعْدَ أَنْ رَوَى بِالْبَصْرَةِ فِي إِبَاحَتِهَا ثَمَانِيَةَ عَشَرَ حَدِيثًا
Al-Khaththabiy berkata, “Telah dinukil dari Ibnu Juraij mengenai pembolehannya.” Namun, Abu ‘Awanah menukilkan di dalam Shahihnya mengenai Ibnu Juraij, bahwasanya ia (Ibnu Juraij) telah ruju’ (meralat)-nya setelah meriwayatkan di Bashrah mengenai kebolehannya sebanyak 18 hadits.
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

Hadits Shahih riwayat Imam Bukhari Rahimahullah,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَسَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ قَالَا
كُنَّا فِي جَيْشٍ فَأَتَانَا رَسُولُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّهُ قَدْ أُذِنَ لَكُمْ أَنْ تَسْتَمْتِعُوا فَاسْتَمْتِعُوا
وَقَالَ ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ حَدَّثَنِي إِيَاسُ بْنُ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ تَوَافَقَا فَعِشْرَةُ مَا بَيْنَهُمَا ثَلَاثُ لَيَالٍ فَإِنْ أَحَبَّا أَنْ يَتَزَايَدَا أَوْ يَتَتَارَكَا تَتَارَكَا فَمَا أَدْرِي أَشَيْءٌ كَانَ لَنَا خَاصَّةً أَمْ لِلنَّاسِ عَامَّةً قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَبَيَّنَهُ عَلِيٌّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَنْسُوخٌ
Dari Jabir bin ‘Abdullah dan Salamah al-Akwa’, mereka berdua berkata,
Tatkala kami berada di dalam pasukan, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendatangi kami seraya berkata, “Sesungguhnya telah diizinkan bagi kalian untuk melakukan nikah Mut’ah, maka lakukanlah nikah Mut’ah.”
Ibnu Abi Dzi’b berkata, telah menceritakan kepadaku Iyas bin Salamah bin al-Akwa’ dari ayahnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Siapa saja laki-laki dan wanita yang sepakat (Mut’ah) maka pergaulan di antara keduanya adalah 3 (tiga) malam. Jika keduanya ingin untuk melebihkan atau saling meninggalkan, maka keduanya dapat berpisah.” Aku (perawi) tidak tahu apakah itu dikhususkan untuk kami atau untuk manusia secara umum.” Abu Abdullah berkata, “Aliy telah menjelaskan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa ia (Mut’ah) telah Manskuh (dihapus).” [Bukhari no.4725]

Hadits Shahih riwayat Imam Muslim Rahimahullah,

حَدَّثَنِي الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ
أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنْ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا
Ar-Rabi’ bin Sabrah al-Juhaniy telah menceritakan kepadaku bahwasanya ayahnya telah menceritakan kepadanya,
Sesungguhnya ia pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada saat beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya dahulu aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan Mut’ah dengan wanita. Dan (sekarang) Allah telah mengharamkannya (Mut’ah) hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat). Barangsiapa yang memiliki (perjanjian Mut’ah) dengan mereka (para Wanita), maka lepaskanlah dan janganlah kalian mengambil kembali sedikitpun dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka.” [Muslim no.2502]

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عَنَدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهَا وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا) وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ التَّصْرِيحُ بِالْمَنْسُوخِ وَالنَّاسِخِ فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ مِنْ كَلَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَحَدِيثِ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَفِيهِ التَّصْرِيحُ بِتَحْرِيمِ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَأَنَّهُ يَتَعَيَّنُ تَأْوِيلُ قَوْلِهِ فِي الْحَدِيثِ السَّابِقِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَمَتَّعُونَ إِلَى عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَبْلُغْهُمُ النَّاسِخُ
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Dahulu aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan Mut’ah dengan wanita. Dan (sekarang) Allah telah mengharamkannya (Mut’ah) hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat). Barangsiapa yang memiliki (perjanjian Mut’ah) dengan mereka (para Wanita), maka lepaskanlah dan janganlah kalian mengambil kembali sedikitpun dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka.” Di dalam hadits ini menegaskan Mansukhnya (Mut’ah), (hadits ini seperti) salah satu hadits dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (yang lain) yaitu sebagaimana hadits, “Dahulu aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur, namun (sekarang) berziarahlah.” Dan (hadits Muslim no.2502) ini menegaskan pula akan keharaman nikah Mut’ah hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat), serta mentakwil perkataan yang berada di dalam hadits (yang akan dihadirkan di bawah ini), yakni mereka melakukan nikah Mu’tah sampai pada masa Abu Bakar dan ‘Umar, (dikarenakan) belum sampai kepada mereka bahwasanya (Mut’ah) telah Mansukh.
[Syarah Shahih Muslim 9/186, Imam an-Nawawi]

Hadits Shahih riwayat Imam Muslim Rahimahullah,

أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ قَالَ عَطَاءٌ
نَعَمْ اسْتَمْتَعْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ
Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, ‘Atha’ telah berkata,
“Ya, kami pernah melakukan nikah Mut’ah pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Abu Bakar dan ‘Umar.” [Muslim no.2496]

قَوْلُهُ (اسْتَمْتَعْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ) هَذَا مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّ الَّذِي اسْتَمْتَعَ فِي عَهْدِ أَبِي بكر وعمر لم يبلغه النسخ
Perkataannnya, “Kami pernah melakukan nikah Mut’ah pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Abu Bakar dan ‘Umar.” Mungkin orang yang melakukan nikah Mut’ah pada masa Abu Bakar dan ‘Umar tersebut belum sampai kepadanya mengenai Mansukhnya (Mut’ah).
[Syarah Shahih Muslim 9/183, Imam an-Nawawi]

Hadits Shahih riwayat Imam Muslim Rahimahullah,

سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا
كُنَّا نَسْتَمْتِعُ بِالْقَبْضَةِ مِنْ التَّمْرِ وَالدَّقِيقِ الْأَيَّامَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ حَتَّى نَهَى عَنْهُ عُمَرُ فِي شَأْنِ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ
Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah berkata,
“Kami pernah melakukan nikah Mut’ah selama beberapa hari dengan (mahar) beberapa genggam kurma dan tepung pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan (masa) Abu Bakar, sampai ‘Umar melarangnya (Mut’ah) pada kasus ‘Amr bin Huraits.” [Muslim no.2497]

قُلْتُ وَتَمَامُهُ أَنْ يُقَالَ لَعَلَّ جَابِرًا وَمَنْ نُقِلَ عَنْهُ اسْتِمْرَارُهُمْ عَلَى ذَلِكَ بَعْدَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَنْ نَهَى عَنْهَا عُمَرُ لَمْ يَبْلُغْهُمُ النَّهْيُ وَمِمَّا يُسْتَفَادُ أَيْضًا أَنَّ عُمَرَ لَمْ يَنْهَ عَنْهَا اجْتِهَادًا وَإِنَّمَا نَهَى عَنْهَا مُسْتَنِدًا إِلَى نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدِ وَقَعَ التَّصْرِيح عَنهُ بذلك فِيمَا أخرجه بن مَاجَهْ مِنْ طَرِيقِ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَفْصٍ عَنْ بن عُمَرَ قَالَ لَمَّا وَلِيَ عُمَرُ خَطَبَ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ لَنَا فِي الْمُتْعَةِ ثَلَاثًا ثُمَّ حَرَّمَهَا
Aku (Ibnu Hajar) katakan, untuk menyempurnakannya dikatakan mungkin saja Jabir dan orang-orang yang dinukilkan darinya dalam terus mengerjakan (Mut’ah) setelah (masa) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hingga pelarangan (Mut’ah) pada (masa) ‘Umar belum sampai kepada mereka mengenai pelarangan (Mut’ah). Dan yang harus diperhatikan pula bahwa ‘Umar tidaklah melakukan pelarangannya (Mut’ah) tersebut berdasarkan ijtihad, namun pelarangannya (Mut’ah) tersebut berdasarkan pelarangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hal ini disebutkan secara sharih (jelas) mengenainya yang (riwayatnya) dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari jalan Abu Bakr bin Hafsh dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Tatkala ‘Umar (memegang) tampuk pemerintahan, ia berkhutbah dengan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengizinkan kami untuk melakukan Mut’ah sebanyak 3 (hari) lalu beliau mengharamkannya.” [Ibnu Majah no.1953, Hasan : Shahih Ibnu Majah no.1611, Syaikh al-Albani]
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/172, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

قَالَ الطَّحَاوِيُّ خَطَبَ عُمَرُ فَنَهَى عَنِ الْمُتْعَةِ وَنَقَلَ ذَلِكَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِ ذَلِكَ مُنْكِرٌ وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى مُتَابَعَتِهِمْ لَهُ عَلَى مَا نَهَى عَنْهُ
Ath-Thahawiy berkata, “Umar berkhutbah untuk melarang Mut’ah dengan menukil (larangan) tersebut dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya dengan sebuah pengingkaran. Hal ini menunjukkan mereka (para Shahabat) mengikutinya (‘Umar) mengenai pelarangannya (Mut’ah).”
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/174, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

وَأَمَّا جَابِرٌ فَمُسْتَنَدُهُ قَوْلُهُ فَعَلْنَاهَا وَقَدْ بَيَّنْتُهُ قَبْلُ وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ أَبِي نُصْرَةَ عَنْ جَابِرٍ عِنْدَ مُسْلِمٍ فَنَهَانَا عُمَرُ فَلَمْ نَفْعَلْهُ بَعْدُ فَإِنْ كَانَ قَوْلُهُ فَعَلْنَا يَعُمُّ جَمِيعَ الصَّحَابَةِ فَقَوْلُهُ ثُمَّ لَمْ نَعُدْ يَعُمُّ جَمِيعَ الصَّحَابَةِ فَيَكُونُ إِجْمَاعًا
Adapun landasan Jabir adalah perkataannya “Kami melakukannya (Mut’ah).” Maka telah aku jelaskan sebelumnya. Dan di dalam riwayat Abu Nusrah (Nadhrah) dari Jabir yang dikutip oleh Muslim, “Umar melarang kami dan kami pun tidak lagi melakukannya (Mut’ah) setelah (pelarangan)-nya.” Jika perkataannya, “Kami melakukannya (Mut’ah),” adalah mencakup semua Shahabat, maka perkataan, “Kami pun tidak lagi melakukannya (Mut’ah) setelah (pelarangan)-nya,” adalah mencakup semua Shahabat juga, sehingga terjadi Ijma’.
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/174, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

وَإِنَّمَا قَالَ جَابِرٌ فَعَلْنَاهَا وَذَلِكَ لَا يَقْتَضِي تَعْمِيمَ جَمِيعِ الصَّحَابَةِ بَلْ يَصْدُقُ عَلَى فِعْلِ نَفْسِهِ وَحْدَهُ
(Atau juga) perkataan Jabir, yaitu “Kami melakukannya (Mut’ah),” adalah perbuatan yang tidak mengharuskan untuk menggeneralisir semua Shahabat, bahkan dapat dianggap hanya untuk perbuatannya sendiri.
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/174, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ تَحْرِيمُ الْمُتْعَةِ كَالْإِجْمَاعِ إِلَّا عَنْ بَعْضِ الشِّيعَةِ وَلَا يَصِحُّ عَلَى قَاعِدَتِهِمْ فِي الرُّجُوعِ فِي الْمُخْتَلِفَاتِ إِلَى عَلِيٍّ وَآلِ بَيْتِهِ فَقَدْ صَحَّ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهَا نُسِخَتْ
Al-Khaththabiy berkata, “Pengharaman Mut’ah berdasarkan Ijma’ kecuali dari sebagian Syiah, namun (hal ini) tidak sesuai dengan kaidah mereka (Syiah) dalam mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada ‘Aliy dan Ahlul Baitnya. Dan telah Shahih dari ‘Aliy bahwasanya ia (Mut’ah) telah Mansukh (dihapus).”
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

Telah Shahih dari ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia (Mut’ah) telah Mansukh (dihapus) sebagaimana hadits-hadits berikut ini,

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ
Dari ‘Aliy, “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang nikah Mut’ah pada perang Khaibar dan (makan) daging keledai jinak.” [Muslim no.2511]

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يُلَيِّنُ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَقَالَ مَهْلًا يَا ابْنَ عَبَّاسٍ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهَا يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
Dari ‘Aliy, bahwasanya ia mendengar Ibnu ‘Abbas lunak (tidak tegas) mengenai menikahi wanita secara Mut’ah. Lantas ia (‘Aliy) berkata, “Sebentar wahai Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarangnya pada perang Khaibar dan (makan) daging keledai jinak.” [Muslim no.2512]

أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ لِابْنِ عَبَّاسٍ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
Bahwasanya ia telah mendengar ‘Aliy bin Abi Thalib berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak.” [Muslim no.2513]

أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ
Bahwasanya ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang nikah Mut’ah dan (makan) daging keledai jinak pada masa Khaibar. [Bukhari no.4723]

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ لِفُلَانٍ إِنَّكَ رَجُلٌ تَائِهٌ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ
Dari ‘Aliy bin Abi Thalib, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak.”
Ia pernah mendengar Aliy bin Abi Thalib berkata kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang sesat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang kami... [sama dengan redaksi hadits (yang di atas)] [Muslim no.2510]

Hadits Shahih riwayat Imam Muslim Rahimahullah,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ قَامَ بِمَكَّةَ فَقَالَ إِنَّ نَاسًا أَعْمَى اللَّهُ قُلُوبَهُمْ كَمَا أَعْمَى أَبْصَارَهُمْ يُفْتُونَ بِالْمُتْعَةِ يُعَرِّضُ بِرَجُلٍ فَنَادَاهُ فَقَالَ إِنَّكَ لَجِلْفٌ جَافٍ فَلَعَمْرِي لَقَدْ كَانَتْ الْمُتْعَةُ تُفْعَلُ عَلَى عَهْدِ إِمَامِ الْمُتَّقِينَ يُرِيدُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَجَرِّبْ بِنَفْسِكَ فَوَاللَّهِ لَئِنْ فَعَلْتَهَا لَأَرْجُمَنَّكَ بِأَحْجَارِكَ
‘Abdullah bin Zubair pernah tinggal di Makkah, ia berkata, “Sesungguhnya ada manusia, semoga Allah membutakan hati mereka sebagaimana membutakan mata mereka, yang berfatwa mengenai Mut’ah, ia menyindir seseorang. Lantas orang tersebut memanggil beliau seraya berkata, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang tidak mengerti. Demi umurku, sungguh Mut’ah pernah dilakukan pada masa Imam al-Muttaqin,” maksudnya adalah (masa) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Lalu Ibnu Zubair berkata kepadanya, “Cobalah engkau lakukan. Demi Allah, jika engkau melakukannya maka niscaya aku akan merajam engkau dengan batu.” [Muslim no.2508]

قَوْلُهُ (فَوَاللَّهِ لَئِنْ فَعَلْتَهَا لَأَرْجُمَنَّكَ بِأَحْجَارِكَ) هَذَا مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ أَبْلَغَهُ النَّاسِخَ لَهَا وَأَنَّهُ لَمْ يَبْقَ شَكٌّ فِي تَحْرِيمِهَا فَقَالَ إِنْ فَعَلْتَهَا بَعْدَ ذَلِكَ وَوَطِئْتَ فِيهَا كُنْتَ زَانِيًا وَرَجَمْتُكَ بِالْأَحْجَارِ الَّتِي يُرْجَمُ بِهَا الزَّانِي
Perkataannya, “Demi Allah, jika engkau melakukannya maka niscaya aku akan merajam engkau dengan batu.” Ini dapat dipahami bahwasanya ia telah menyampaikan mengenai akan Mansukhnya (Mut’ah), dan tidak ada keraguan mengenai pengharamannya (Mut’ah). Sehingga ia berkata jika engkau melakukan (Mut’ah) setelahnya berarti engkau telah berzina dan aku akan merajam engkau dengan batu-batu yang biasa dipakai untuk merajam pelaku zina.
[Syarah Shahih Muslim 9/188, Imam an-Nawawi]

وَأَخْرَجَ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ عُمَرَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّهُ خَطَبَ فَقَالَ: «إنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَذِنَ لَنَا فِي الْمُتْعَةِ ثَلَاثًا ثُمَّ حَرَّمَهَا وَلَا أَعْلَمُ أَحَدًا تَمَتَّعَ، وَهُوَ مُحْصَنٌ إلَّا رَجَمْته بِالْحِجَارَةِ»
Dan Ibnu Majah meriwayatkan dari ‘Umar dengan sanad Shahih, bahwasanya ia (‘Umar) berkhutbah dengan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengizinkan kami untuk melakukan Mut’ah sebanyak 3 (hari) lalu beliau mengharamkannya. Tidaklah aku mengetahui seorang pun yang melakukan Mu’tah, sedangkan ia telah menikah, niscaya aku akan merajamnya dengan batu. [Ibnu Majah no.1953, Hasan : Shahih Ibnu Majah no.1611, Syaikh al-Albani]

وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: «نَهَانَا عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَمَا كُنَّا مُسَافِحِينَ» . إسْنَادُهُ قَوِيٌّ
Ibnu ‘Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang kami darinya (Mut’ah) dan kami bukanlah Pezina.” Sanadnya kuat.

[Subulus Salam 2/184-185, Imam ash-Shan’ani]

وَنَقَلَ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ هِيَ الزِّنَا
Al-Baihaqiy menukil dari Ja’far bin Muhammad bahwasanya ia ditanya mengenai Mut’ah, lalu ia menjawab, “Ia (Mut’ah) adalah Zina.”
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

قلت: هذا هو المفهوم من عبارة النحاس، فإنه قال: وإنما المتعة أن يقول لها: أتزوجك يوما- أو ما أشبه ذلك- على أنه لا عدة عليك ولا ميراث بيننا ولا طلاق ولا شاهد يشهد على ذلك، وهذا هو الزنى بعينه ولم يبح قط في الإسلام، ولذلك قال عمر: لا أوتى برجل تزوج متعة إلا غيبته تحت الحجارة
Aku (al-Qurthubiy) berkata, “Dari ucapan an-Nuhas ini dapat dipahami bahwa (Mut’ah) adalah (seorang laki-laki) berkata kepadanya (wanita), “Aku menikahimu sehari atau lebih dengan (perjanjian) tidak ada iddah bagimu, tidak saling mewarisi di antara kita, dan tidak ada thalaq, serta tidak adanya saksi yang menyaksikan (Mut’ah). Ini adalah bentuk Zina yang tidak diperbolehkan di dalam Islam. Oleh karena itu, ‘Umar berkata, “Tidaklah didatangkan kepadaku seorang laki-laki yang menikah Mut’ah melainkan aku akan menghukumnya dengan lemparan batu.”
[Tafsir al-Qurthubiy 5/132]

قَالَ الْقَاضِي وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ مَنْ نَكَحَ نِكَاحًا مُطْلَقًا وَنِيَّتُهُ أَنْ لَا يَمْكُثَ مَعَهَا إِلَّا مُدَّةً نَوَاهَا فَنِكَاحُهُ صَحِيحٌ حَلَالٌ وَلَيْسَ نِكَاحُ مُتْعَةٍ وَإِنَّمَا نِكَاحُ الْمُتْعَةِ مَا وَقَعَ بِالشَّرْطِ الْمَذْكُورِ وَلَكِنْ قَالَ مَالِكٌ لَيْسَ هَذَا مِنْ أَخْلَاقِ النَّاسِ وَشَذَّ الْأَوْزَاعِيُّ فَقَالَ هُوَ نِكَاحُ مُتْعَةٍ وَلَا خَيْرَ فِيهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Al-Qadhiy berkata, “Mereka (para Ulama) telah Ijma’ (bersepakat) bahwasanya orang yang menikah dengan nikah Muthlaq (tanpa batas waktu) dan berniat (di dalam hati) untuk tidak akan bersama (wanita yang dinikahinya) kecuali dalam waktu tertentu saja, maka nikahnya adalah sah serta halal, itu bukanlah nikah Mu’tah. Dikarenakan nikah Mut’ah terjadi dengan syarat sebagaimana yang telah disebutkan.” Akan tetapi Malik berkata, “Itu bukanlah akhlaq seorang manusia.” Namun al-Auza’iy menyendiri dengan berpendapat, “Itu adalah nikah Mut’ah dan tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya.” Wallahu a’lam.
[Syarah Shahih Muslim 9/182, Imam an-Nawawi]

قَالَ عِيَاضٌ وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ شَرْطَ الْبُطْلَانِ التَّصْرِيحُ بِالشَّرْطِ فَلَوْ نَوَى عِنْدَ الْعَقْدِ أَنْ يُفَارِقَ بَعْدَ مُدَّةٍ صَحَّ نِكَاحُهُ إِلَّا الْأَوْزَاعِيُّ فَأَبْطَلَهُ
Iyadh berkata, “Mereka telah Ijma’ bahwa syarat batalnya (nikah Mut’ah) adalah adanya syarat yang secara jelas (diucapkan). Seandainya ia berniat (di dalam hati) pada saat akad (nikah) untuk meninggalkan (wanita tersebut) setelah beberapa waktu kemudian, maka nikahnya tetap sah, kecuali al-Auza’iy membatalkannya.”
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

وَوَقَعَ الْإِجْمَاعُ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى تَحْرِيمِهَا مِنْ جَمِيعِ الْعُلَمَاءِ إِلَّا الرَّوَافِضَ وَكَانَ بن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ بِإِبَاحَتِهَا وَرُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ رَجَعَ عَنْهُ
Para Ulama telah Ijma’ mengenai keharamannya (Mut’ah) kecuali Rawafidh (Syiah Rafidhah). Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu berpendapat mengenai pembolehannya (Mut’ah) dan diriwayatkan pula darinya bahwasanya ia (Ibnu ‘Abbas) telah ruju’ (meralat) pendapatnya.
[Syarah Shahih Muslim 9/181, Imam an-Nawawi]

قَالَ بن الْمُنْذِرِ جَاءَ عَنِ الْأَوَائِلِ الرُّخْصَةُ فِيهَا وَلَا أَعْلَمُ الْيَوْمَ أَحَدًا يُجِيزُهَا إِلَّا بَعْضُ الرَّافِضَةِ
Ibnu al-Mundzir berkata, “Telah (disebutkan keterangan) dari orang terdahulu mengenai Rukhshah (kelonggaran) mengenainya (Mut’ah), namun tidaklah aku mengetahuinya pada hari ini seorang pun yang membolehkannya (Mut’ah) kecuali sebagian Rafidhah (Syiah).”
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

وَقَالَ عِيَاضٌ ثُمَّ وَقَعَ الْإِجْمَاعُ مِنْ جَمِيعِ الْعُلَمَاءِ عَلَى تَحْرِيمِهَا إِلَّا الرَّوَافِضَ
Iyadh berkata, “Kemudian terjadi Ijma’ dari seluruh Ulama mengenai haramnya (Mut’ah) kecuali Rawafidh (Syiah Rafidhah).”
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

وَقَالَ الْقُرْطُبِيُّ الرِّوَايَاتُ كُلُّهَا مُتَّفِقَةٌ عَلَى أَنَّ زَمَنَ إِبَاحَةِ الْمُتْعَةِ لَمْ يَطُلْ وَأَنَّهُ حَرُمَ ثُمَّ أَجْمَعَ السَّلَفُ وَالْخَلَفُ عَلَى تَحْرِيمِهَا إِلَّا مَنْ لَا يُلْتَفَتُ إِلَيْهِ مِنَ الرَّوَافِضِ
Al-Qurthubiy berkata, “Riwayat-riwayat yang ada seluruhnya sepakat menyatakan bahwa zaman pembolehan Mut’ah tidak berlangsung lama, lalu diharamkan. Kemudian para Salaf (terdahulu) dan Khalaf (belakangan) telah Ijma’ mengenai pengharamannya (Mut’ah), kecuali orang-orang yang tidak menaruh perhatian mengenainya (pengharaman Mut’ah) dari kalangan Rawafidh (Syiah Rafidhah).”
[Fathul Baariy Syarah Shahih al-Bukhariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy]

Bahkan para Ahlul Bayt di dalam riwayat agama Syiah Rafidhah memerintahkan untuk meninggalkan Mut’ah dan berpaling darinya (Mut’ah).

سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقول في المتعة: دعوها أما يستحيي أحدكم أن يرى في موضع العورة فيحمل ذلك على صالحي إخوانه وأصحابه
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٥ - الصفحة ٤٥٣
Aku mendengar Aba ‘Abdillah ‘alaihi Salam berkata mengenai Mut’ah, “Tinggalkanlah ia (Mut’ah), tidakkah salah seorang (di antara) kalian merasa malu tatkala terlihat auratnya. Apalagi hal tersebut terjadi kepada orang-orang shalih yang merupakan saudara-saudaranya dan sahabat-sahabatnya.”
[Al-Kaafiy 5/453, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1126_الكافي-ج-٥/الصفحة_0?pageno=453#top]

كتب أبو الحسن - عليه السلام - إلى بعض مواليه: لا تلحوا في المتعة إنما عليكم إقامة السنة ولا تشتغلوا بها
رسالة المتعة - الشيخ المفيد - الصفحة ١٤
Abu al-Hasan ‘alaihi Salam menulis surat kepada sebagian pengikutnya, “Janganlah mendesakku mengenai (permasalahan) Mut’ah. Sesungguhnya (yang harus dilakukan) oleh kalian hanyalah menegakkan Sunnah dan janganlah kalian menyibukkan darinya (Mut’ah).”
[Risalah al-Mut’ah 14, al-Mufid Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/15_رسالة-المتعة-الشيخ-المفيد/الصفحة_13]

عبد الله ابن عمير فقال: يسرك أن نساءك وبناتك وأخواتك وبنات عمك يفعلن، قال: فأعرض عنه أبو جعفر (عليه السلام) حين ذكر نساءه وبنات عمه
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٥ - الصفحة ٤٤٩
‘Abdullah bin ‘Umair berkata, “Apakah engkau akan senang apabila para wanitamu, puteri-puterimu dan saudari-saudarimu serta anak-anak perempuan pamanmu melakukan (Mut’ah).” Maka berpalinglah Abu Ja’far ‘alaihi Salam darinya tatkala disebutkan para wanita dan puteri-puteri pamannya.
[Al-Kaafiy 5/449, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1126_الكافي-ج-٥/الصفحة_0?pageno=449]

عن أبي الحسن - عليه السلام - في المتعة قال: وما أنت وذاك قد أغنى الله عنها، قلت: إنما أردت أن أعلمها قال: هي في كتاب علي - عليه السلام -.
رسالة المتعة - الشيخ المفيد - الصفحة ١٤
Dari Abu al-Hasan ‘alaihi Salam mengenai Mut’ah, “Apa urusanmu mengenainya (Mut’ah), sungguh Allah telah mencukupkan darinya (tidak membutuhkan Mut’ah).” Aku berkata, “Sesungguhnya aku hanya ingin mengetahuinya saja.” Lantas beliau berkata, “Ia ada di dalam kitabnya ‘Aliy ‘alaihi Salam.”
[Risalah al-Mut’ah 14, al-Mufid Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/15_رسالة-المتعة-الشيخ-المفيد/الصفحة_13]

Adapun apa yang diriwayatkan dari ‘Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu di dalam kitab agama Syiah Rafidhah adalah berisi pengharaman Mut’ah.

واما ما رواه محمد بن يحيى عن أبي جعفر عن أبي الجوزا عن الحسين بن علوان عن عمرو بن خالد عن زيد بن علي عن آبائه عن علي عليهم السلام قال: حرم رسول الله صلى الله عليه وآله يوم خيبر لحوم الحمر الأهلية ونكاح المتعة
تهذيب الأحكام - الشيخ الطوسي - ج ٧ - الصفحة ٢٥١
Muhammad bin Yahya meriwayatkan dari Abu Ja’far dari Abul Jauzaa dari al-Husain bin ‘Ulwan dari ‘Amru bin Khalid dari Zaid bin ‘Aliy dari ayah-ayahnya dari ‘Aliy ‘alaihim Salam, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi telah mengharamkan pada hari Khaibar daging keledai jinak dan nikah Mut’ah.”
[Tahdzib al-Ahkam 7/251, ath-Thusiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1167_تهذيب-الأحكام-الشيخ-الطوسي-ج-٧/الصفحة_251]

Lihatlah! riwayat agama Syiah Rafidhah di atas mengenai pengharaman Mut’ah (perbuatan keji) oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari jalan ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu yang merupakan Ahlul Bayt. Namun di sisi lain, mereka (Syiah Rafidhah) malah menyakiti hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan menuduh Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah ‘alaiha Salam sebagai Ahlul Bayt yang melakukan al-Faahisyah (perbuatan keji), namun kalimat al-Faahisyah ditakwil oleh Syiah Rafidhah dengan pernikahan antara Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah ‘alaiha Salam dengan Thalhah Radhiyallahu ‘anhu. Ini adalah bentuk hinaan keji yang dilontarkan oleh mereka (Syiah Rafidhah) terhadap Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah ‘alaiha Salam yang merupakan Ahlul Bayt dari kalangan isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang di mana Allah Ta’ala telah melarang untuk menikahi isteri-isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sepeninggal beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat sebagaimana di dalam firman-Nya Ta’ala,

وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا
“Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” [QS. Al-Ahzaab : 53]

Karma Syiah Rafidhah Generasi Mutah

Van Harry
Wkwkwk.. Aisah itu wanita gatel, tahu gak kenapa ia dijuluki ‘humaira’(yg selalu merah)?
Karena selama hidupnya dia selalu Menstruasi terus, Tapi saya percaya kok kalo aisah adalah wanita selingkuhan tholhah dan zubair
wkwkwkwk
[Facebook Penganut agama Syiah Rafidhah]

فقال لي: ما ترى من الخيانة في قول الله عز وجل " فخانتاهما " ما يعني بذلك إلا الفاحشة وقد زوج رسول الله (صلى الله عليه وآله) فلانا
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٢ - الصفحة ٤٠٢
Lalu beliau pun bertanya kepadaku, “Apa pendapatmu mengenai (kalimat) “Khianat” di dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

فخانتاهما
“Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya.” [QS. At-Tahriim : 10]
Yakni maknanya tidak lain adalah al-Faahisyah, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi telah menikahi kedua Fulanah tersebut.”
[Al-Kaafiy 2/402, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1123_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٢/الصفحة_402]

عائشة
جمعت من خيانة حتى أخذت منها أربعين دينارا
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٣٢ - الصفحة ٢٧٦
‘Aisyah
(‘Aisyah) mengumpulkan dari Khianat hingga memperoleh darinya sebanyak 40 dinar.
[Bihar al-Anwar 32/276, al-Majlisiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1463_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٣٢/الصفحة_272]

(ضرب الله مثلا للذين كفروا امرأة نوح وامرأة لوط كانتا تحت عبدين من عبادنا صالحين فخانتاهما) فقال والله ما عنى بقوله فخانتاهما إلا الفاحشة وليقيمن الحد على فلانة فيما أتت في طريق وكان فلان يحبها فلما أرادت ان تخرج إلى... قال لها فلان لا يحل لك ان تخرجي من غير محرم فزوجت نفسها من فلان
تفسير القمي - علي بن إبراهيم القمي - ج ٢ - الصفحة ٣٧٧
“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya.” [QS. At-Tahriim : 10]
Lalu beliau berkata, “Demi Allah, makna firman-Nya, “Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya,” (maknanya) tidak lain adalah al-Faahisyah dan karenanyalah ditegakkan hukuman hadd atas fulanah tersebut tatkala ia (fulanah) datang di sebuah jalan, namun terdapat seorang fulan yang mencintainya (fulanah). Ketika ia (fulanah) hendak keluar menuju... Fulan tersebut berkata kepadanya (fulanah), “Tidaklah dihalalkan bagi engkau untuk keluar (safar) tanpa bersama mahram,” Akhirnya dirinya (fulanah) dinikahi oleh fulan tersebut.”
[Tafsir al-Qummiy 2/377, ‘Aliy bin Ibrahim al-Qummiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/2338_تفسير-القمي-ج-٢/الصفحة_0?pageno=377]

بيان: قوله: أربعة، أي أبو بكر وعمر وبنتاهما، قوله: إلا الفاحشة، لعلها مؤولة بمحض التزويج قوله: وليقيمن الحد، أي القائم (عليه السلام) في الرجعة، كما سيأتي، والمراد بفلان طلحة
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٢ - الصفحة ٢٤١
Penjelasan :
Perkataan, “Yang empat,” yakni Abu Bakar dan ‘Umar beserta kedua puteri mereka.
Perkataan, “(Maknanya) tidak lain adalah al-Faahisyah,” kemungkinan (al-Faahisyah) dapat ditakwil dengan hanya pernikahan.
Perkataan, “Dan karenanyalah ditegakkan hukuman hadd,” yakni (ditegakkan) oleh al-Qaim ‘alaihi Salam pada saat Raj’ah, sebagaimana yang akan datang (penjelasannya).
Dan yang dimaksud dengan “Fulan” adalah Thalhah.
[Bihar al-Anwar 22/241, al-Majlisiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1453_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٢/الصفحة_243]

أما لو قام قائمنا لقد ردت إليه الحميراء حتى يجلدها الحد، وحتى ينتقم لابنه محمد فاطمة عليها السلام منها
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٣١ - الصفحة ٦٤٠
Tatkala al-Qaim kami bangkit, maka al-Humaira’ akan dihidupkan kembali (Raj’ah) kepadanya (al-Qaim) hingga mencambuknya (al-Humaira’) sebagai hukuman hadd dan pembalasan dendam bagi anaknya Muhammad, yakni Fathimah ‘alaiha Salam darinya (al-Humaira’).
[Bihar al-Anwar 31/640, al-Majlisiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1462_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٣١/الصفحة_625]

Karma Syiah Rafidhah Generasi MutahKarma Syiah Rafidhah Generasi MutahKarma Syiah Rafidhah Generasi Mutah
[http://www.tanyasyiah.com/2014/02/caci-maki-syiah-rafidhah-indonesia.html]

Bahkan lebih dari itu, mereka (Syiah Rafidhah) telah menuduh Ahlul Bayt, yaitu ‘Aisyah dan ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhuma, melakukan tidur bersama di dalam satu selimut.

علي بن أبي طالب عليه السلام
وسافرت مع رسول الله صلى الله عليه وآله ليس له خادم غيري، وكان له لحاف ليس له لحاف غيره ومعه عائشة وكان رسول الله صلى الله عليه وآله ينام بيني وبين عائشة ليس علينا ثلاثتنا لحاف غيره، فإذا قام إلى صلاة الليل يحط بيده اللحاف من وسطه بيني وبين عائشة حتى يمس اللحاف الفرش الذي تحتنا
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٠ - الصفحة ٢
‘Aliy bin Abi Thalib ‘alaihi Salam
Aku (‘Aliy) melakukan safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi, namun beliau tidak memiliki seorang pun pembantu selain diriku (‘Aliy). Waktu itu beliau hanya memiliki satu selimut saja dan tidak ada selimut lainnya, sedangkan beliau membawa serta ‘Aisyah. Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi (tidur) maka beliau tidur di antara aku (‘Aliy) dan ‘Aisyah, kami bertiga tidak memiliki selain satu selimut tersebut. Ketika beliau bangun untuk mengerjakan shalat malam, maka beliau menekan tengah-tengah selimut antara aku (‘Aliy) dan ‘Aisyah dengan tangannya hingga selimut tersebut menyentuh tikar yang menjadi alas kami.
[Bihar al-Anwar 40/2, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1471_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٠/الصفحة_4]

Akhirnya, mereka (Syiah Rafidhah) mendapatkan balasan yang setimpal sebagai Pemut’ah Syiah Kotor (PSK) yang melakukan Kawin Mut’ah yang dikenal dengan nama Pelacur/Pezina serta menjadi Generasi Mut’ah Unggulan yang memiliki Brand Ahlul Mut’ah hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat).

سألت أبا عبد الله عليه السلام عن المتعة فقال: لا تدنس نفسك بها
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ١٠٠ - الصفحة ٣١٨
Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah ‘alaihi Salam mengenai Mut’ah, lantas ia menjawab, “Janganlah engkau Kotori dirimu dengannya (Mut’ah).”
[Bihar al-Anwar 100/318, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1531_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-١٠٠/الصفحة_320]

عن أبي عبد الله عليه السلام قال:
ما تفعلها عندنا إلا الفواجر
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ١٠٠ - الصفحة ٣١٨
Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihi Salam (mengenai Mut’ah), ia berkata :
“Tidaklah seorang Wanita (Syiah) melakukannya (Mut’ah) di sisi kami kecuali para Wanita (Syiah) Pelacur/Pezina.”
[Bihar al-Anwar 100/318, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1531_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-١٠٠/الصفحة_320]

جاء عبد الله بن عمير الليثي إلى أبي جعفر (عليه السلام) فقال له: ما تقول في متعة النساء؟ فقال: أحلها الله في كتابه وعلى لسان نبيه (صلى الله عليه وآله) فهي حلال إلى يوم القيامة 
‘Abdullah bin ‘Umair al-Laitsiy mendatangi Abu Ja’far ‘alaihi Salam seraya bertanya kepadanya (Abu Ja’far), “Apa pendapatmu mengenai Mut’ah dengan wanita?” Lantas beliaupun menjawab, “Allah telah menghalalkannya (Mut’ah) di dalam Kitab-Nya dan lisan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi, dan ia (Mut’ah) adalah Halal hingga Yaumil Qiyamah (hari Kiamat).”
[Al-Kaafiy 5/449, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1126_الكافي-ج-٥/الصفحة_0?pageno=449]

Oleh karena itu, Syiah Rafidhah membolehkan Mut’ah dengan seorang Wanita Syiah Pelacur/Pezina di dalam kitab suci mereka (agama Syiah Rafidhah).

قلت لأبي عبد الله (عليه السلام): إني أكون في بعض الطرقات فأرى المرأة الحسناء ولا آمن أن تكون ذات بعل أو من العواهر؟ قال: ليس هذا عليك إنما عليك أن تصدقها في نفسها
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٥ - الصفحة ٤٦٢
Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah (alaihi Salam), “Aku pernah berada di tengah perjalanan kemudian aku melihat seorang Wanita (Syiah) yang cantik, namun aku merasa tidak aman (was-was) jika Wanita (Syiah) tersebut telah memiliki suami atau seorang Wanita Pelacur? Lantas ia menjawab, “Itu bukan urusanmu, sesungguhnya bagimu hanya mempercayainya saja mengenai diri Wanita (Syiah) tersebut.”
[Al-Kaafiy 5/462, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1126_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٥/الصفحة_462]

سألت أبا عبد الله - عليه السلام - في المرأة تزني عليها أيتمتع بها؟ قال: أرأيت ذلك؟ قلت: لا, ولكنها ترمى به قال: نعم يتمتع بها
رسالة المتعة - الشيخ المفيد - الصفحة ١٢
“Aku bertanya kepada Aba ‘Abdillah –‘alaihi Salam- mengenai seorang wanita (Syiah) yang melakukan Zina, dapatkah aku melakukan Mut’ah dengannya?” Lalu beliau berkata, “Apakah engkau melihatnya (berzina)?” Jawabku, “Tidak, namun ia dituduh (berzina).” Lantas beliau menjawab, “Iya, lakukanlah Mut’ah dengannya.”
[Risalah al-Mut’ah 12, al-Mufid Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/15_رسالة-المتعة-الشيخ-المفيد/الصفحة_11]

سؤال 861: رجل يعرف زانية ولكنه لا يعرف بأنها مشهورة أو غير مشهورة, فهل يجوز التمتع بها؟
الخوئي: لا بأس ما لم يعلم بالوصف (أهي مشهورة أم غير مشهورة؟)
صراط النجاة - الميرزا جواد التبريزي - ج ١ - الصفحة ٣١٨
Soal 861 : Terdapat seorang laki-laki yang mengetahui wanita (Syiah) Pezina, namun ia tidak mengetahui apakah wanita tersebut terkenal atau tidak terkenal (dalam berzina). Apakah diperbolehkan melakukan Mut’ah dengannya?
Jawab al-Khuiy : Tidaklah mengapa (melakukan Mut’ah) selama tidak diketahui perihalnya (apakah ia terkenal atau tidak terkenal (dalam berzina)).
[Shirath an-Najah 1/318, al-Mirza Jawad at-Tibriziy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/777_صراط-النجاة-الميرزا-جواد-التبريزي-ج-١/الصفحة_311]

لا بأس أن يتمتع الرجل بالفاجرة
مختلف الشيعة - العلامة الحلي - ج ٧ - الصفحة ٢٣٧
“Tidaklah mengapa seorang laki-laki melakukan Mut’ah dengan seorang wanita Pelacur (Syiah).”
[Mukhtalif asy-Syiah 7/237, al-Hilliy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/100_مختلف-الشيعة-العلامة-الحلي-ج-٧/الصفحة_236]

سأل عمار وانا عنده عن الرجل يتزوج الفاجرة متعة قال: لا بأس
تهذيب الأحكام - الشيخ الطوسي - ج ٧ - الصفحة ٢٥٣
‘Ammar bertanya, sedangkan aku (Zurarah) berada di sisi beliau (Imam), (‘Ammar bertanya) mengenai seorang laki-laki yang melakukan kawin Mut’ah dengan seorang wanita Pelacur (Syiah). Lalu beliau menjawab, “Tidaklah mengapa.”
[Tahdzib al-Ahkam 7/253, ath-Thusiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1167_تهذيب-الأحكام-الشيخ-الطوسي-ج-٧/الصفحة_253]

ولا بأس أن يتمتع الإنسان بالفاجرة
السرائر - ابن إدريس الحلي - ج ٢ - الصفحة ٦٢١
“Dan tidaklah mengapa seorang laki-laki melakukan Mut’ah dengan wanita Pelacur (Syiah).”
[As-Sarair 2/621, Ibn Idris al-Hilliy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/50_السرائر-ابن-إدريس-الحلي-ج-٢/الصفحة_620]

Bahkan seorang Pendeta Syiah Rafidhah Kontemporer, yang bernama Khomeini, juga membolehkan untuk melakukan Mut’ah dengan seorang Wanita Syiah Pelacur/Pezina.

يجوز التمتع بالزانية على كراهية خصوصا لو كانت من العواهر والمشهورات بالزنا، وإن فعل فليمنعها من الفجور
تحرير الوسيلة - السيد الخميني - ج ٢ - الصفحة ٢٩٢
Diperbolehkan melakukan Mut’ah dengan Wanita (Syiah) Pezina dengan makruh, khususnya jika Wanita (Syiah) tersebut merupakan seorang Wanita (Syiah) Pelacur dan terkenal dengan perbuatan Zina. Namun jika ia (Laki-Laki Syiah) melakukannya (Mut’ah), maka laranglah ia (Wanita Syiah) dari perbuatan Melacur/Zina.
[Tahrir al-Wasilah 2/241, Khumainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/718_تحرير-الوسيلة-السيد-الخميني-ج-٢/الصفحة_0?pageno=292#top]

Sehingga, para penganut agama Syiah Rafidhah yang berasal dari negeri Arab, berbondong-bondong menuju Puncak Bogor Indonesia demi meraih Puncak Kenikmatan Mut’ah dengan para Pelacur/Pezina.


Dialog Syiah Arab Transaksi Mut’ah
Menit 02:05 – 02:55
[-] Itu adalah kontrak (Mut’ah ala Syiah) dengan Rini, kami (Syiah Arab) telah memberinya (Rini) sebanyak 2 juta rupiah.
Besok ia (Rini) akan mendapatkan 6 juta (lagi), itu adalah kontrak (Mut’ah ala Syiah) di antara kami.
Namun dengan ini (kontrak Mut’ah ala Syiah), ia (Rini) dapat serius (dalam melayari bahtera rumah tangga Mut’ah ala Syiah).
[-] Kami tidak ingin melakukannya (Sex) dengan cara yang haram, Engkau tahu haram dalam bahasa Arab? Kami ingin melakukannya (Sex) dengan cara yang halal.
[-] Aku memiliki masalah yang lebih besar, tapi engkau tidak akan mengerti, 2 isteri tidaklah mencukupi.
[https://www.youtube.com/watch?v=CSGFM0IvZ0k]

Dari dialog tersebut di atas, terdapat sebuah ciri-ciri bahwasanya ia adalah seorang penganut agama Syiah Rafidhah, yaitu “Ingin melakukannya (Sex) dengan cara yang halal.” Dikarenakan hanya Syiah Rafidhahlah yang menghalalkan Mut’ah.

ليس منا من لم يؤمن بكرتنا، ويستحل متعتنا
من لا يحضره الفقيه - الشيخ الصدوق - ج ٣ - الصفحة ٤٥٨
Bukanlah termasuk dari golongan kami (Syiah) yang tidak beriman kepada kebangkitan kami (Raj’ah) dan kehalalan Mut’ah kami (Syiah).
[Man La Yahdhuruhu al-Faqih 3/458, ash-Shaduq Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1151_من-لا-يحضره-الفقيه-الشيخ-الصدوق-ج-٣/الصفحة_458]

Mereka (Syiah Rafidhah) dapat berhubungan intim Mut’ah dengan para wanita Pemut’ah Syiah Kotor (wanita PSK) dengan durasi selama satu jam.


Pendeta Syiah Rafidhah al-Majusi Persia Iran
Menit 04:45 – 05:00
“Berapa lama periode kawin Mut’ah yang terpendek?” Tanya seseorang.
Dijawab oleh Pendeta Syiah Rafidhah, “Minimum bisa Satu Jam atau kurang, Satu Jam, mungkin juga Setengah Jam. Selama periode ini (satu jam atau kurang) mereka dapat memiliki hubungan sah (hubungan intim suami istri kawin Mut’ah), hal tersebut tidaklah bermasalah.”
[http://www.youtube.com/watch?v=dPc8wqJKoNk]

هل يجوز أن يتمتع الرجل بالمرأة ساعة أو ساعتين؟ فقال: الساعة والساعتان لا يوقف على حدهما ولكن العرد والعردين واليوم واليومين والليلة وأشباه ذلك
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٥ - الصفحة ٤٥٩
“Apakah diperbolehkan bagi seorang laki-laki (Syiah) untuk melakukan Mut’ah dengan seorang wanita (Syiah) hanya selama Satu atau Dua Jam?” Beliau menjawab, “Satu atau Dua Jam itu sulit diketahui kapan berakhirnya, akan tetapi (Mut’ahlah) hanya dengan Satu kali atau Dua kali (berhubungan intim) badan atau (Mut’ah) hanya Satu atau Dua hari atau juga hanya semalam saja atau yang semisalnya (jelas waktunya).”
[Al-Kaafiy 5/459, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1126_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٥/الصفحة_459]

Dan setelah selesai berhubungan intim Mut’ah selama satu jam, maka Syiah Rafidhah segera memalingkan wajahnya tanpa melihat para wanita Pemut’ah Syiah Kotor (wanita PSK) tersebut.

سألت أبا عبد الله (عليه السلام) عن الرجل يتزوج المرأة على عرد واحد، فقال:
لا بأس ولكن إذا فرغ فليحول وجهه ولا ينظر
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٥ - الصفحة ٤٦٠
Aku bertanya kepada Aba ‘Abdillah ‘alaihi Salam mengenai seorang laki-laki (Syiah) yang mengawini seorang wanita (Syiah) hanya untuk Satu kali (berhubungan intim) badan. Lantas beliau menjawab, “Tidaklah mengapa, namun jika ia (laki-laki Syiah) telah selesai (berhubungan intim Mut’ah) maka palingkanlah wajahnya tanpa melihat (wanita Syiah tersebut).”
[Al-Kaafiy 5/460, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1126_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٥/الصفحة_460#top]

Selanjutnya mereka (Syiah Rafidhah) akan melakukan pembayaran atas Sewaan Rental si wanita Pemut’ah Syiah Kotor (wanita PSK) tersebut dengan bayaran yang telah disepakati.

ذكرت له المتعة أهي من الأربع؟ فقال: تزوج منهن ألفا فإنهن مستأجرات
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٥ - الصفحة ٤٥٢
Aku bertanya kepadanya mengenai Mut’ah yaitu apakah (Wanita Syiah Mut’ah) termasuk dari (Wanita yang boleh dinikahi dengan maksimal) empat? Kemudian beliau menjawab, “Kawinilah mereka (Wanita Pemut’ah Syiah) sebanyak 1.000 (seribu) (Wanita Pemut’ah Syiah), karena sesungguhnya mereka (Wanita Pemut’ah Syiah) adalah Wanita Bayaran/Sewaan/Rental.”
[Al-Kafiy 5/452, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1126_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٥/الصفحة_452]

عن أبي جعفر (عليه السلام) في المتعة قال: ليست من الأربع لأنها لا تطلق ولا ترث وإنما هي مستأجرة
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٥ - الصفحة ٤٥١
Dari Abu Ja’far (‘alaihi Salam) dalam hal Mut’ah, ia berkata, “(Wanita Syiah Pemut’ah) bukanlah termasuk dari yang empat (maksimal menikahi wanita), dikarenakan ia (Wanita Syiah Pemut’ah) (berpisah) tanpa talaq dan tidak mendapatkan waris. Dan sesungguhnya ia (Wanita Syiah Pemut’ah) hanyalah seorang Wanita Bayaran/Sewaan/Rental.”
[Al-Kafiy 5/451, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1126_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-٥/الصفحة_451]

جعلت فداك أهي من الأربع؟ قال: ليست من الأربع إنما هي إجارة
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ١٠٠ - الصفحة ٣١٥
Aku menjadi tebusanmu, apakah ia (Wanita Syiah Pemut’ah) termasuk dari (Wanita yang boleh dinikahi dengan maksimal) empat? Beliau menjawab, “Ia (Wanita Syiah Pemut’ah) bukanlah yang termasuk dari yang empat, sesungguhnya ia (Wanita Syiah Pemut’ah) hanyalah seorang Wanita Bayaran/Sewaan/Rental.”
[Bihar al-Anwar 100/315, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1531_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-١٠٠/الصفحة_317]

Hingga akhirnya, terjadilah peristiwa yang mencengangkan di Iran, negeri Syiah Sarang Dajjal yang merupakan Central atau Pusat Spiritual Mut’ah di dunia, tatkala Mut’ah yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya menyebar ke seluruh penjuru negeri, yaitu :

[1] Penyebaran Virus HIV AIDS Syiah Iran yang berjumlah 100.000 jiwa sebagaimana yang telah Tanya Syiah Goreskan Pena Part [5] HIV AIDS Syiah Iran Tertinggi di Timur Tengah.

[2] Peringatan Syahidnya Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu di tangan Syiah sebagaimana yang telah Tanya Syiah Goreskan Pena Part [17] Syiah Bantai Husain Asyura Karbala Irak, mereka (Syiah Rafidhah) mencambuk dirinya sendiri dengan rantai berpisau sebagai hukuman Hadd sebagaimana yang telah Tanya Syiah Goreskan Pena Part [18] Kutukan Ratapan Asyura Syiah Tumbalkan Kepala.

[3] Gempa Bumi yang memBenamkan ke dalam Bumi serta Tertimpa Reruntuhan Bangunan (Batu) sebagai hukuman Rajam sebagaimana yang telah Tanya Syiah Goreskan Pena Part [11] Syiah Majusi Qadariyyah Dibenam Bumi.

Adapun jika terdapat seseorang yang diustadzkan dengan membolehkan Mut’ah di luar negeri, maka dikhawatirkan pada dirinya terdapat Tasyayu’ yang cenderung kepada Rafidhah dengan menghujat Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yakni Mu’awiyyah Radhiyallahu ‘anhu, dan merendahkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dengan alasan kritikan ilmiyyah serta meremehkan Shahih al-Bukhari. Namun di sisi lain, ia menyanjung Hizbus-Syiah Libanon seraya mengagung-agungkan Pendeta Besar Syiah Rafidhah Khamenei Takfiri Rahbar Iran.