Saturday, November 21, 2015

// // Leave a Comment

Wasiat Nabi Nash Imamah Syiah [Goresan Pena Tanya Syiah Part 26]

Wasiat Nabi Nash Imamah Syiah

Syiah Rafidhah mengklaim bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan Wasiat Imamah (Kekhilafahan) kepada ‘Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu dengan berdasarkan Nash, namun sebaliknya ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu pun membantahnya dengan hujjah atas kedustaan mereka. Hingga akhirnya Syiah pun berpecah-belah dalam menentukan Imamah selanjutnya dengan saling mencela antara satu dengan lainnya, bahkan ada juga Syiah yang mencela ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu dikarenakan ia (‘Aliy) enggan mengambil hak Khilafahnya.

فَعُلِمَ أَنَّ مَا تَدَّعِيهِ الرَّافِضَةُ مِنَ النَّصِّ، هُوَ مِمَّا لَمْ يَسْمَعْهُ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَقْوَالِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَا قَدِيمًا وَلَا حَدِيثًا. وَلِهَذَا كَانَ أَهْلُ الْعِلْمِ بِالْحَدِيثِ يَعْلَمُونَ بِالضَّرُورَةِ كَذِبَ هَذَا النَّقْلِ
Telah diketahui bahwasanya Rafidhah telah mengklaim (Imamah/Khilafah) dengan berdasarkan Nash. Dan (Nash) tersebut adalah tidak pernah didengar oleh seorang pun dari kalangan Ahlul Ilmu di dalam bidang hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam baik dahulu maupun pada masa sekarang. Oleh karena itu, Ahlul Ilmu di dalam bidang hadits mengetahui secara pasti atas kedustaan riwayat tersebut.
[Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 7/50, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjelang wafatnya di atas pangkuan Isteri beliau yang paling dicintainya baik di dunia dan di akhirat, yakni ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidaklah pernah memilih salah seorang pun dari para Shahabat untuk menjadi Khalifah sepeninggal beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ صَحِيحٌ إِنَّهُ لَمْ يُقْبَضْ نَبِيٌّ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ ثُمَّ يُخَيَّرَ فَلَمَّا نَزَلَ بِهِ وَرَأْسُهُ عَلَى فَخِذِي غُشِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَأَشْخَصَ بَصَرَهُ إِلَى سَقْفِ الْبَيْتِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى فَقُلْتُ إِذًا لَا يَخْتَارُنَا
Bahwasanya ‘Aisyah berkata,
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam keadaan sehat, beliau pernah bersabda, “Sesungguhnya tidaklah seorang Nabi diwafatkan hingga melihat tempatnya di Surga, kemudian ia disuruh memilih.” tatkala (ajalnya) tiba, sementara kepala beliau sedang berada di atas pangkuanku, maka beliau pun pingsan. Kemudian beliau sadar seraya memandang ke atas atap rumah lalu mengucapkan, “Allahumma ar-Rafiqal A’la (Ya Allah, aku memilih teman di tempat yang tertinggi).” Lantas aku (‘Aisyah) berkata, “Jika demikian, maka beliau tidak memilih kami.” [Bukhari no.4104]

وَكَأَنَّ عَائِشَةَ أَشَارَتْ إِلَى مَا أَشَاعَتْهُ الرَّافِضَةُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى إِلَى عَلِيٍّ بِالْخِلَافَةِ وَأَنْ يُوَفِّيَ دُيُونَهُ
Seolah-olah ‘Aisyah mengisyaratkan dengan apa yang telah digembor-gemborkan oleh Rafidhah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan Wasiat kepada ‘Aliy dengan Khilafah dan melunasi hutang-hutangnya.
[Fathul Bari 8/150, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

ذَكَرُوا عِنْدَ عَائِشَةَ
أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ وَصِيًّا فَقَالَتْ مَتَى أَوْصَى إِلَيْهِ وَقَدْ كُنْتُ مُسْنِدَتَهُ إِلَى صَدْرِي أَوْ قَالَتْ حَجْرِي فَدَعَا بِالطَّسْتِ فَلَقَدْ انْخَنَثَ فِي حَجْرِي فَمَا شَعَرْتُ أَنَّهُ قَدْ مَاتَ فَمَتَى أَوْصَى إِلَيْهِ
Mereka menyebutkan di hadapan ‘Aisyah bahwasanya ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhuma adalah penerima Wasiat, lantas (‘Aisyah) pun berkata, “Kapan beliau memberikan Wasiat kepadanya (‘Aliy) sementara aku menyandarkan beliau ke dadaku, atau berkata di atas pangkuanku. Kemudian beliau meminta bejana hingga beliau pun jatuh di atas pangkuanku namun aku tidak menyadari bahwa beliau telah wafat. Lalu kapankah beliau memberikan Wasiat kepadanya (‘Aliy).” [Bukhari no.2536]

قَوْلُهُ ذَكَرُوا عِنْدَ عَائِشَةَ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ وَصِيًّا قَالَ الْقُرْطُبِيُّ كَانَتْ الشِّيعَةُ قَدْ وَضَعُوا أَحَادِيثَ فِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِالْخِلَافَةِ لِعَلِيٍّ فَرَدَّ عَلَيْهِمْ جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ ذَلِكَ وَكَذَا مَنْ بَعْدَهُمْ فَمِنْ ذَلِكَ مَا اسْتَدَلَّتْ بِهِ عَائِشَةُ كَمَا سَيَأْتِي وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ عَلِيًّا لَمْ يَدَّعِ ذَلِكَ لِنَفْسِهِ وَلَا بَعْدَ أَنْ وَلِيَ الْخِلَافَةَ وَلَا ذَكَرَهُ أَحَدٌ من الصَّحَابَة يَوْم السَّقِيفَة وَهَؤُلَاء تَنَقَّصُوا عَلِيًّا مِنْ حَيْثُ قَصَدُوا تَعْظِيمَهُ لِأَنَّهُمْ نَسَبُوهُ مَعَ شَجَاعَتِهِ الْعُظْمَى وَصَلَابَتِهِ فِي الدِّينِ إِلَى الْمُدَاهَنَةِ وَالتَّقِيَّةِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ طَلَبِ حَقِّهِ مَعَ قُدْرَتِهِ عَلَى ذَلِكَ
Perkataannya, “Mereka menyebutkan di hadapan ‘Aisyah bahwasanya ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhuma adalah penerima Wasiat.”
Al-Qurthubiy berkata, “Syiah telah memalsukan sejumlah hadits yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan Wasiat Khilafah kepada ‘Aliy. Sehingga sejumlah Shahabat menolak (klaim) mereka (Syiah) dan begitu pula dengan (para Ulama) sesudah mereka (menolak klaim Syiah). Adapun dalil yang dikemukakan oleh ‘Aisyah sebagaimana yang akan (dijelaskan) nantinya bahwa ‘Aliy tidak mengklaim bagi dirinya dan juga setelah (‘Aliy) menjadi Khilafah (‘Aliy pun tidak pernah mengklaim Wasiat Khilafah), serta tidak ada seorang pun Shahabat yang menyebutkannya (Wasiat Khilafah) pada hari as-Saqifah. Gerombolan (Syiah) ini telah melecehkan ‘Aliy yakni pada saat mereka hendak mengagungkannya, dikarenakan mereka telah menisbatkan (‘Aliy) dengan keberanian yang sangat hebat dan ketegarannya dalam beragama telah melakukan Mudahanah (kepura-puraan) dan Taqiyyah serta tidak mau menuntut haknya meskipun ia mampu melakukannya.”

وَقَالَ غَيْرُهُ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُمْ ذَكَرُوا عِنْدَهَا أَنَّهُ أَوْصَى لَهُ بِالْخِلَافَةِ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ فَلِذَلِكَ سَاغَ لَهَا إِنْكَارُ ذَلِكَ وَاسْتَنَدَتْ إِلَى مُلَازَمَتِهَا لَهُ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ إِلَى أَنْ مَاتَ فِي حِجْرِهَا وَلَمْ يَقَعْ مِنْهُ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَسَاغَ لَهَا نَفْيُ ذَلِكَ
Selainnya berkata, “Yang nampak bahwasanya mereka menyebutkan di hadapannya (‘Aisyah) bahwa (‘Aliy) adalah penerima Wasiat Khilafah, yakni pada saat sakit yang menghantarkan (beliau) pada kematiannya. Oleh karena itu, pengingkaran (‘Aisyah) ini dapat diterima dengan berdasarkan pendampingan (‘Aisyah) terhadap beliau yakni pada saat sakitnya (beliau) yang menghantarkan (beliau) pada kematiannya. Sedangkan beliau wafat di atas pangkuannya (‘Aisyah) yang di mana tidak terjadi adanya (Wasiat Khilafah), sehingga penafian (‘Aisyah) dapat diterima.”

[Fathul Bari 5/361-362, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

وَقَدْ أخرج أَحْمد وبن مَاجَهْ بِسَنَدٍ قَوِيٍّ وَصَحَّحَهُ مِنْ رِوَايَةِ أَرْقَمَ بن شُرَحْبِيل عَن بن عَبَّاسٍ فِي أَثْنَاءِ حَدِيثٍ فِيهِ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ أَبَا بَكْرٍ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ قَالَ فِي آخِرِ الْحَدِيثِ مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يُوصِ
Ahmad dan Ibnu Majah telah meriwayatkan dengan sanad yang kuat dan menshahihkannya, dari riwayat Arqam bin Syurahbil dari ‘Abbas yakni pada hadits mengenai perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu pada saat sakitnya beliau, kepada Abu Bakar untuk menjadi (Imam) shalat, hingga disebutkan pada akhir hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat dengan tidak berWasiat.

وَسَيَأْتِي فِي الْوَفَاةِ النَّبَوِيَّةِ عَنْ عُمَرَ مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَسْتَخْلِفْ
Dan pada pembahasan wafatnya an-Nabawiyyah dari ‘Umar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat dengan tidak menunjuk (Khilafah).

وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّلَائِلِ مِنْ طَرِيقِ الْأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ لَمَّا ظَهَرَ يَوْمَ الْجَمَلِ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَعْهَدْ إِلَيْنَا فِي هَذِهِ الْإِمَارَةِ شَيْئًا الْحَدِيثَ
Serta Ahmad dan al-Baihaqiy juga meriwayatkan di dalam (kitab) ad-Dalail dari jalur al-Aswad bin Qais dari ‘Amr bin Abi Sufyan dari ‘Aliy bahwasanya tatkala ia (‘Aliy) unggul dalam perang Jamal, ia (‘Aliy) berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah menjanjikan kepada kami mengenai pemerintahan (Khilafah) ini.”

[Fathul Bari 5/362, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Namun terdapat hadits-hadits Maudhu’/Palsu yang disebarkan oleh Syiah Rafidhah dalam mendukung klaimnya yang dusta mengenai Wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

وَقَدْ أَخْرَجَ الْعُقَيْلِيُّ وَغَيْرُهُ فِي الضُّعَفَاءِ فِي تَرْجَمَةِ حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مَرْوَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ سَلْمَانَ أَنَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلَّا بَيَّنَ لَهُ مَنْ يَلِي بَعْدَهُ فَهَلْ بَيَّنَ لَكَ قَالَ نَعَمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَمَنْ طَرِيقِ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ عَنْ أَشْيَاخٍ مِنْ قَوْمِهِ عَنْ سَلْمَانَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ وَصِيُّكَ قَالَ وَصِيِّي وَمَوْضِعُ سِرِّي وَخَلِيفَتِي عَلَى أَهْلِي وَخَيْرُ مَنْ أُخَلِّفُهُ بَعْدِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَمَنْ طَرِيقِ أَبِي رَبِيعَةَ الْإِيَادِيِّ عَنِ بن بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَفَعَهُ لِكُلِّ نَبِيٍّ وَصِيٌّ وَإِنَّ عَلِيًّا وَصِيِّي وَوَلَدِي وَمِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَفَعَهُ أَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَعَلِيٌّ خَاتَمُ الْأَوْصِيَاءِ أَوْرَدَهَا وَغَيرهَا بن الْجَوْزِيّ فِي الموضوعات
Al-‘Uqailiy dan selainnya meriwayatkan di dalam (kitab) adh-Dhu’afa’ (hadits-hadits Dhaif) tatkala membahas biografi Hakim bin Jubair dari jalur ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan dari Abu Hurairah dari Salman bahwasanya ia berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan akan menjelaskan kepadanya siapa yang akan memegang pemerintahan (Khilafah) sepeninggalnya, maka apakah (Allah) telah menjelaskannya kepadamu?” Lalu beliau bersabda, “Benar, ia adalah ‘Aliy bin Abi Thalib.”
Dan dari jalur Jarir bin ‘Abdul Hamid dari para Syaikh kaumnya dari Salman, aku berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah penerima Wasiatmu?” Lalu beliau bersabda, “Penerima Wasiatku, tempat rahasiaku, dan Khalifahku atas keluargaku serta sebaik-baiknya orang sepeninggalku adalah ‘Aliy bin Abi Thalib.”
Serta dari jalur Abu Rabi’ah al-Iyadiy dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, ia memarfu’kannya, yakni “Bagi setiap Nabi terdapat penerima Wasiat, dan sesungguhnya ‘Aliy-lah penerima Wasiat dan anakku.”
Juga dari jalur ‘Abdullah bin Saib dari Abu Dzar, ia memarfu’kannya, yakni “Aku adalah penutup para Nabi dan ‘Aliy adalah penutup para penerima Wasiat.”
(Riwayat tersebut) dan selainnya telah dicantumkan oleh Ibnul Jauziy di dalam (kitab) al-Maudhu’at (hadits-hadits Maudhu’/Palsu).
[Fathul Bari 8/150, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Adapun salah satu hadits Shahih yang diklaim oleh Syiah Rafidhah seraya mentakwilnya sebagai Nash Imamah ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu, adalah sebuah hadits yang berada di dalam kitab Shahih Muslim mengenai kedudukan ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada ‘Aliy, “Kedudukanmu di sisiku adalah seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku.” [Muslim no.4418]

وَاسْتُدِلَّ بِحَدِيثِ الْبَابِ عَلَى اسْتِحْقَاقِ عَلِيٍّ لِلْخِلَافَةِ دُونَ غَيْرِهِ مِنَ الصَّحَابَةِ فَإِنَّ هَارُونَ كَانَ خَلِيفَةَ مُوسَى وَأُجِيبَ بِأَنَّ هَارُونَ لَمْ يَكُنْ خَلِيفَةَ مُوسَى إِلَّا فِي حَيَاتِهِ لَا بَعْدَ مَوْتِهِ لِأَنَّهُ مَاتَ قَبْلَ مُوسَى بِاتِّفَاقٍ أَشَارَ إِلَى ذَلِكَ الْخَطَّابِيُّ
Hadits pada bab ini dijadikan dalil atas haknya ‘Aliy dalam Khilafah bukan selainnya yang berasal dari kalangan Shahabat, dikarenakan Harun adalah Khalifah Musa. Maka (klaim) ini dapat dijawab bahwasanya Harun tidaklah menjadi seorang Khalifahnya Musa melainkan hanya pada masa hidupnya (Musa) saja, yakni bukan setelah wafatnya (Musa). Dikarenakan ia (Harun) wafat sebelum wafatnya Musa dengan kesepakatan Ahli Sejarah, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh al-Khaththabiy.
[Fathul Bari 7/74, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

وَهَذَا لَا يُوجب لَهُ فضلا على من سواهُ وَلَا اسْتِحْقَاق الْإِمَامَة بعده عَلَيْهِ السَّلَام لِأَن هَارُون لم يل أَمر نَبِي إِسْرَائِيل بعد مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَام وَإِنَّمَا ولي الْأَمر بعد مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام يُوشَع بن نون فَتى مُوسَى وَصَاحبه الي سَافر مَعَه فِي طلب الْخضر عَلَيْهِمَا السَّلَام كَمَا ولي الْأَمر بعد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم صَاحبه فِي الْغَار الَّذِي سَافر مَعَه إِلَى الْمَدِينَة
(Hadits) ini tidaklah memberikan keutamaan bagi ‘Aliy atas (Shahabat) lainnya, dan tidak pula hak Imamah sepeninggal beliau ‘alaihi Salam. Dikarenakan Harun tidak memimpin Bani Israil sepeninggal Musa ‘alaihima Salam, akan tetapi yang memimpin sepeninggal Musa ‘alaihi Salam adalah Yusya’ bin Nun yang membantu Musa dan yang menemaninya ketika safar bersamanya dalam rangka mencari Khidhir ‘alaihima Salam, sebagaimana (Abu Bakar) Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang memimpin sepeninggal beliau yang safar bersamanya ke Madinah.

وَإِذا لم يكن عَليّ نَبيا كَمَا كَانَ هَارُون نَبيا وَلَا كَانَ هَارُون خَليفَة بعد موت مُوسَى على بني إِسْرَائِيل فقد صَحَّ أَن كَونه رَضِي الله عَنهُ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم بِمَنْزِلَة هَارُون من مُوسَى إِنَّمَا هُوَ فِي الْقَرَابَة فَقَط وَأَيْضًا فَإِنَّمَا قَالَ لَهُ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم هَذَا القَوْل إِذا اسْتَخْلَفَهُ على الْمَدِينَة فِي غَزْوَة تَبُوك
Jika ‘Aliy bukan seorang Nabi sebagaimana Harun yang seorang Nabi, dan Harun bukanlah seorang Khalifah atas Bani Israil selepas wafatnya Musa. Sehingga dapat dikatakan bahwa kedudukan ‘Aliy (di sisi) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah seperti (kedudukan) Harun (di sisi) Musa, yakni hanya hubungan kekerabatan saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda seperti itu kepadanya (‘Aliy) adalah tatkala beliau menunjuknya untuk (menjaga) Madinah pada saat perang Tabuk.

[Al-Fashl fi Al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal 4/78, Imam Ibnu Hazm]

ثمَّ قد اسْتخْلف عَلَيْهِ السَّلَام قبل تَبُوك وَبعد تَبُوك على الْمَدِينَة فِي أَسْفَاره رجَالًا سوى عَليّ رَضِي الله عَنهُ فصح أَن هَذَا الِاسْتِخْلَاف لَا يُوجب لعَلي فضلا على غَيره وَلَا ولَايَة الْأَمر بعده كَمَا لم يُوجب ذَلِك لغيره من المستخلفين
Kemudian beliau ‘alaihi Salam telah menunjuk juga orang-orang selain ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu sebelum dan sesudah perang Tabuk untuk (menjaga) Madinah dalam beberapa perjalanan beliau. Sehingga dapat dikatakan bahwa penunjukan tersebut tidaklah mengharuskan keutamaan bagi ‘Aliy di atas selainnya dan juga (tidaklah mengharuskan) kepemimpinan sepeninggal beliau sebagaimana pula tidak mengharuskan (Imamah/Khilafah) bagi selain (‘Aliy) yang ditunjuk (untuk menjaga Madinah).”
[Al-Fashl fi Al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal 4/78, Imam Ibnu Hazm]

Sejarah telah mencatatkan bahwa bukan hanya Shahabat ‘Aliy saja yang pernah beliau tunjuk untuk menggantikannya ketika beliau safar. Ada beberapa Shahabat lain yang pernah ditunjuk oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mewakili beliau dalam mengurus kota Madinah. Berikut nama-nama Shahabat yang pernah mendapat kehormatan itu :
1. ‘Abdullah bin Ummi Maktum, pada perang al-Far.
2. Sa’ad bin Ubadah, pada perang Waddan atau Abwaa’.
3. Zaid bin Haritsah, pada perang Badr pertama.
4. Abu Lubabah Basyir bin ‘Abdul Munzir al-Ausy, pada perang Badr al-Kubra.
5. Sibaa’ bin Urfuthah al-Ghifari, pada perang Bani Sulaim dan tatkala beliau berangkat ke daerah Daumatul Jandal.
6. ‘Utsman bin ‘Affan, pada perang Dzi Amrin melawan Bani Ghathafan.
7. Numailah bin ‘Abdullah al-Laitsy atau Abu Dzar al-Ghifaary, ketika Nabi berumrah dan akhirnya menjalin perjanjian Hudaibiyyah dengan orang-orang Quraisy.
8. Abu Dzar al-Ghifaary atau Numailah bin ‘Abdullah al-Laitsy pada perang Bani Musthaliq.
9. Abu Rihm Kultsum bin Hushain al-Ghifaary, pada Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah).
10. As-Saaib bin ‘Utsman bin Mazh’un, pada perang Buwaath.
[Air Mata Buaya Penganut Syiah 212-213, Ustadz Muhammad Arifin Baderi]

قَالَ الْقَاضِي هَذَا الْحَدِيثُ مِمَّا تَعَلَّقَتْ بِهِ الرَّوَافِضُ وَالْإِمَامِيَّةُ وَسَائِرُ فِرَقِ الشِّيعَةِ فِي أَنَّ الْخِلَافَةَ كَانَتْ حَقًّا لِعَلِيٍّ وَأَنَّهُ وَصَّى لَهُ بِهَا قَالَ ثُمَّ اخْتَلَفَ هَؤُلَاءِ فَكَفَّرَتِ الرَّوَافِضُ سَائِرَ الصَّحَابَةِ فِي تَقْدِيمِهِمْ غَيْرَهُ وَزَادَ بَعْضُهُمْ فَكَفَّرَ عَلِيًّا لِأَنَّهُ لَمْ يَقُمْ فِي طَلَبِ حَقِّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَؤُلَاءِ أَسْخَفُ مَذْهَبًا وَأَفْسَدُ عَقْلًا مِنْ أَنْ يُرَدَّ قَوْلُهُمْ أَوْ يُنَاظَرَ
Al-Qadhiy berkata, “Inilah hadits yang dijadikan (dalil) oleh Rafidhah dan Imamiyyah serta firqah Syiah lainnya bahwasanya Khilafah adalah haknya ‘Aliy dan ia merupakan Wasiat baginya (‘Aliy), kemudian mereka (Syiah Rafidhah) pun berselisih. Rawafidh (Syiah Rafidhah) mengkafirkan para Shahabat yang memilih mereka (Abu Bakar dan ‘Umar serta ‘Utsman) (sebelum) (‘Aliy). Bahkan sebagiannya lagi mengkafirkan ‘Aliy dikarenakan ia (‘Aliy) tidak menuntut haknya. Pernyataan mereka ini adalah pendapat bodoh dan rusaknya akal yang tidak perlu dibantah atas perkataan mereka ataupun mendebat mereka.”

وَقَالَ الْقَاضِي وَلَا شَكَّ فِي كُفْرِ مَنْ قَالَ هَذَا لِأَنَّ مَنْ كَفَّرَ الْأُمَّةَ كُلَّهَا وَالصَّدْرَ الْأَوَّلَ فَقَدْ أَبْطَلَ نَقْلَ الشَّرِيعَةِ وَهَدَمَ الْإِسْلَامَ
Al-Qadhiy berkata kembali, “Tidak diragukan lagi bahwa kafirnya orang yang berkata demikian, dikarenakan barangsiapa yang mengkafirkan umat seluruhnya, terlebih lagi (generasi) awal (Shahabat Nabi), maka ia telah membatalkan riwayat Syar’iyyah serta merubuhkan Islam.”

[Syarah Shahih Muslim 15/174, Imam an-Nawawi]

وهذا الحديث لاحجة فِيهِ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ بَلْ فِيهِ إِثْبَاتُ فَضِيلَةٍ لِعَلِيٍّ وَلَا تَعَرُّضَ فِيهِ لِكَوْنِهِ أَفْضَلَ مِنْ غَيْرِهِ أَوْ مِثْلَهُ وَلَيْسَ فِيهِ دَلَالَةٌ لِاسْتِخْلَافِهِ بَعْدَهُ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا قَالَ هَذَا لِعَلِيٍّ حِينَ اسْتَخْلَفَهُ فِي الْمَدِينَةِ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ وَيُؤَيِّدُ هَذَا أَنَّ هَارُونَ الْمُشَبَّهَ بِهِ لَمْ يَكُنْ خَلِيفَةً بَعْدَ مُوسَى بَلْ تُوُفِّيَ فِي حَيَاةِ مُوسَى وَقَبْلَ وَفَاةِ مُوسَى بِنَحْوِ أَرْبَعِينَ سَنَةٍ عَلَى مَا هُوَ مَشْهُورٌ عِنْدَ أَهْلِ الْأَخْبَارِ وَالْقَصَصِ قَالُوا وَإِنَّمَا اسْتَخْلَفَهُ حِينَ ذَهَبَ لِمِيقَاتِ رَبِّهِ لِلْمُنَاجَاةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Dan hadits ini bukanlah merupakan hujjah bagi salah satu dari mereka (firqah Syiah), namun di dalamnya terdapat penetapan keutamaan bagi ‘Aliy serta tidak menerangkan lebih utamanya (‘Aliy) daripada (para Shahabat) lainnya, dan bukan pula sebagai dalil Kekhilafahan sepeninggal beliau (Nabi), dikarenakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada ‘Aliy tatkala beliau menunjuknya (‘Aliy) untuk (menjaga) Madinah pada saat perang Tabuk. Hal ini dapat dipahami bahwa Harun memiliki kesamaan (dengan ‘Aliy dalam kedudukan) yang tidak menjadi Khalifah sepeninggal Musa, bahkan ia (Harun) wafat pada saat Musa masih hidup, yakni sebelum wafatnya Musa (dalam rentang waktu) sekitar 40 tahun. (Kisah) tersebut masyhur di sisi Ahlul Akhbar dan Sejarah. Mereka (Ahlul Akhbar dan Sejarah) berkata, “(Musa) menunjuknya (Harun) yakni tatkala ia (Musa) pergi bermunajat kepada Rabb-nya pada waktu yang telah ditentukan.” Wallahu A’lam
[Syarah Shahih Muslim 15/174, Imam an-Nawawi]

Oleh karena itu, tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjelang wafatnya, al-‘Abbas menyarankan ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhuma untuk meminta Wasiat Khilafah kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sehingga teman-teman dapat mengetahui secara pasti bahwa klaim Syiah Rafidhah mengenai Nash Imamah/Khilafah bagi ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu baik di Ghadir Khum (Insya Allah akan diGoreskan Pena mengenai Ghadir Khum di lain kesempatan) ataupun hadits yang telah ditakwil sebelumnya oleh Rafidhah adalah bathil, dikarenakan ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu tidak pernah memiliki keyakinan secuil pun di dalam hatinya bahwa ia (‘Aliy) adalah penerima Wasiat Imamah/Khilafah yang hak sepeninggal beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجَعِهِ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ فَقَالَ النَّاسُ يَا أَبَا حَسَنٍ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللَّهِ بَارِئًا فَأَخَذَ بِيَدِهِ عَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ لَهُ أَنْتَ وَاللَّهِ بَعْدَ ثَلَاثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَإِنِّي وَاللَّهِ لَأَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ يُتَوَفَّى مِنْ وَجَعِهِ هَذَا إِنِّي لَأَعْرِفُ وُجُوهَ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عِنْدَ الْمَوْتِ اذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْنَسْأَلْهُ فِيمَنْ هَذَا الْأَمْرُ إِنْ كَانَ فِينَا عَلِمْنَا ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِنَا عَلِمْنَاهُ فَأَوْصَى بِنَا فَقَالَ عَلِيٌّ إِنَّا وَاللَّهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعَنَاهَا لَا يُعْطِينَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَسْأَلُهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bahwasanya ‘Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu keluar dari sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada waktu sakit yang beliau wafat karenanya. Manusia bertanya, “Wahai Abu Hasan, bagaimana keadaan Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” Lalu (‘Aliy) menjawab, “Alhamdulillah keadaannya baik.” Lantas ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib menarik tangannya seraya berkata kepadanya (‘Aliy), “Demi Allah, engkau setelah tiga (hari) ini akan menjadi ‘Abdul ‘Asha (kiasan bahwa ‘Aliy akan diperintah oleh orang lain). Demi Allah, sesungguhnya aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan wafat karena sakitnya ini. Sungguh aku mengetahui wajah-wajah Bani ‘Abdul Muththalib pada saat menjelang wafatnya, maka pergilah bersama kami menuju Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kita bertanya kepada beliau mengenai siapa yang akan menangani perkara ini. Jika (perkara ini) berada pada kita, maka kita telah mengetahuinya. Dan jika berada pada selain kita, maka kita pun dapat mengetahuinya dan beliau dapat berWasiat untuk kita.” Kemudian ‘Aliy berkata, “Demi Allah, jika kita bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengenai (perkara ini) dan beliau mencegahnya, maka niscaya manusia tidak akan memberikan (perkara ini) sepeninggal beliau. Demi Allah, aku tidak akan bertanya mengenai (perkara ini) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” [Bukhari no.4092]

قَوْلُهُ هَذَا الْأَمْرُ أَيِ الْخِلَافَةُ
Perkataannya, “Perkara ini.” Maksudnya adalah al-Khilafah.
[Fathul Bari 8/143, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Dan begitu pula dengan ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu meyakini bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah berWasiat kepada seorang pun untuk menjadi Khalifah sepeninggal beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ حَضَرْتُ أَبِي حِينَ أُصِيبَ فَأَثْنَوْا عَلَيْهِ وَقَالُوا جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَالَ رَاغِبٌ وَرَاهِبٌ قَالُوا اسْتَخْلِفْ فَقَالَ أَتَحَمَّلُ أَمْرَكُمْ حَيًّا وَمَيِّتًا لَوَدِدْتُ أَنَّ حَظِّي مِنْهَا الْكَفَافُ لَا عَلَيَّ وَلَا لِي فَإِنْ أَسْتَخْلِفْ فَقَدْ اسْتَخْلَفَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ وَإِنْ أَتْرُكْكُمْ فَقَدْ تَرَكَكُمْ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ حِينَ ذَكَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ مُسْتَخْلِفٍ
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, aku hadir tatkala ayahku ditusuk, maka mereka (para Shahabat) memujinya seraya berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” Ia (‘Umar) berkata, “Aku berharap dan juga cemas.” Mereka berkata, “Tunjuklah (Khalifah) sebagai penggantimu.” Lalu (‘Umar) berkata, “Apakah aku akan ikut bertanggung jawab mengenai perkara kalian baik sewaktu hidup ataupun sesudah mati, aku ingin perananku di dalam (Kekhilafahan) cukup, yakni tidak kurang dan tidak lebih. Jika aku menunjuk (Khalifah) sebagai penggantiku, maka orang yang lebih baik dariku, yakni Abu Bakar, telah menunjuk (Khalifah) sebagai penggantinya. Dan apabila aku membiarkan kalian (memilih), maka orang yang lebih baik dariku, yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah membiarkan kalian (memilih).” Lalu ‘Abdullah berkata, “Sehingga aku pun mengetahui bahwa tatkala ia (‘Umar) menyebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ia (‘Umar) tidak akan menunjuk (Khalifah setelahnya) sebagai penggantinya.” [Muslim no.3399]

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَنُصَّ عَلَى خَلِيفَةٍ وَهُوَ إِجْمَاعُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَغَيْرِهِمْ قَالَ الْقَاضِي وخالف في ذلك بكر بن أُخْتِ عَبْدِ الْوَاحِدِ فَزَعَمَ أَنَّهُ نَصَّ عَلَى أبي بكر وقال بن رَاوَنْدِيِّ نَصَّ عَلَى الْعَبَّاسِ وَقَالَتِ الشِّيعَةُ وَالرَّافِضَةُ عَلَى عَلِيٍّ وَهَذِهِ دَعَاوَى بَاطِلَةٌ وَجَسَارَةٌ عَلَى الِافْتِرَاءِ وَوَقَاحَةٌ فِي مُكَابَرَةِ الْحِسِّ وَذَلِكَ لِأَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعُوا عَلَى اخْتِيَارِ أَبِي بَكْرٍ وَعَلَى تَنْفِيذِ عَهْدِهِ إِلَى عُمَرَ وَعَلَى تَنْفِيذِ عَهْدِ عُمَرَ بِالشُّورَى وَلَمْ يُخَالِفْ فِي شَيْءٍ مِنْ هَذَا أَحَدٌ وَلَمْ يَدَّعِ عَلِيٌّ وَلَا الْعَبَّاسُ وَلَا أَبُو بَكْرٍ وَصِيَّةً فِي وَقْتٍ مِنَ الْأَوْقَاتِ وَقَدِ اتَّفَقَ عَلِيٌّ وَالْعَبَّاسُ عَلَى جَمِيعِ هَذَا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ مَانِعَةٍ مِنْ ذِكْرِ وَصِيَّةٍ لَوْ كَانَتْ فَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ كَانَ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ وَصِيَّةٌ فَقَدْ نَسَبَ الْأُمَّةَ إِلَى اجْتِمَاعِهَا عَلَى الْخَطَأِ وَاسْتِمْرَارِهَا عَلَيْهِ وَكَيْفَ يَحِلُّ لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ أَنْ يَنْسِبَ الصَّحَابَةَ إِلَى الْمُوَاطَأَةِ عَلَى الْبَاطِلِ فِي كُلِّ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ لَنُقِلَ فَإِنَّهُ مِنَ الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ
Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak men-Nashkan Khalifah, dan perkara ini adalah Ijma’ Ahlus Sunnah dan lainnya. Al-Qadhiy berkata, “Bakar anak saudarinya ‘Abdil Wahid menyelisihinya dengan mengklaim bahwasanya terdapat Nash (Khalifah) bagi Abu Bakar. Sedangkan Ibnu Rawandi mengklaim adanya Nash (Khalifah) bagi ‘Abbas. Adapun Syiah dan Rafidhah (mengklaim terdapatnya Nash Khalifah) bagi ‘Aliy. Ini adalah klaim yang bathil, lancang dalam berdusta serta egois. Hal ini disebabkan karena para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum bersepakat dalam memilih Abu Bakar, dan juga meneruskan pemerintahan (setelahnya) kepada ‘Umar, dan ‘Umar meneruskan pemerintahan (setelahnya) dengan Syura’ (musyawarah) yang tidak ada seorang pun yang menentangnya. ‘Aliy dan ‘Abbas serta Abu Bakar tidak pernah mengklaim Wasiat pada setiap waktu, bahkan ‘Aliy dan ‘Abbas bersepakat atas semua ini tanpa adanya penghalang darurat dalam menyebutkan Wasiat. Barangsiapa yang mengklaim bahwa salah seorang dari mereka ada yang menerima Wasiat, maka ia telah menuduh umat ini seluruhnya telah keliru dan terus dalam (kekeliruan). Lalu bagaimana dihalalkan bagi Ahlul Kiblat untuk menuduh para Shahabat berkonspirasi dalam kebathilan pada seluruh keadaan tersebut. Jika seandainya memang ada, maka niscaya akan sampai kepada kita dikarenakan hal tersebut adalah perkara-perkara yang penting.
[Syarah Shahih Muslim 12/205-206, Imam an-Nawawi]

وَإِنْ كَانَ فِي التَّنْصِيصِ عَلَى إِمَامَةِ أَبِي بَكْرٍ فِي مَرَضِهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ أَحَقُّ بِالْخِلَافَةِ فَهُوَ بِطَرِيقِ الِاسْتِنْبَاطِ لَا النَّصِّ وَلَوْلَا قَرِينَةُ كَوْنِهِ فِي مَرَضِ الْمَوْتِ مَا قَوِيَ
Adapun Nash Imamah Abu Bakar (menjadi Imam shalat) pada saat sakitnya beliau (Nabi), yakni mengisyaratkan bahwa ia (Abu Bakar) adalah lebih berhak atas Khilafah. Namun hal tersebut adalah berdasarkan Istimbath bukan Nash, seandainya tidak ada Qarinah dengan kondisi sakit yang menghantarkan wafatnya (Nabi) maka (isyaratnya tersebut) tidaklah kuat.
[Fathul Bari 11/60, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

وَكَذَا فِيهِ رَدٌّ عَلَى مَنْ زَعَمَ مِنَ الرَّاوَنْدِيَّةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَصَّ عَلَى الْعَبَّاسِ وَعَلَى قَوْلِ الرَّوَافِضِ كُلِّهَا أَنَّهُ نَصَّ عَلَى عَلِيٍّ وَوَجْهُ الرَّدِّ عَلَيْهِمْ إِطْبَاقُ الصَّحَابَةِ عَلَى مُتَابَعَةِ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ عَلَى طَاعَتِهِ فِي مُبَايَعَةِ عُمَرَ ثُمَّ عَلَى الْعَمَلِ بِعَهْدِ عُمَرَ فِي الشُّورَى وَلَمْ يَدَّعِ الْعَبَّاسُ وَلَا عَلِيٌّ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَهِدَ لَهُ بِالْخِلَافَةِ
Di dalam hadits ini terdapat bantahan atas orang-orang yang mengklaim dari kalangan ar-Rawandiyyah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam men-Nashkan (Khilafah) kepada al-‘Abbas, dan juga dengan perkataan Rawafidh bahwasanya (Nabi) men-Nashkan (Khilafah) atas ‘Aliy. Pernyataan mereka tersebut telah dibantah oleh kesepakatan para Shahabat untuk mengikuti Abu Bakar, kemudian menaatinya untuk membai’at ‘Umar, lalu melakukan ketetapan ‘Umar tentang Syura. Sementara itu, al-‘Abbas dan ‘Aliy tidak mengklaim bahwasanya (masing-masing dari mereka) telah ditunjuk oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjadi Khalifah.
[Fathul Bari 13/208, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

Namun para Syiah mengklaim bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan Wasiat kepada ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu. Hingga ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu pun membantah mereka dengan hujjah.

خَطَبَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ مَنْ زَعَمَ أَنَّ عِنْدَنَا شَيْئًا نَقْرَؤُهُ إِلَّا كِتَابَ اللَّهِ وَهَذِهِ الصَّحِيفَةَ قَالَ وَصَحِيفَةٌ مُعَلَّقَةٌ فِي قِرَابِ سَيْفِهِ فَقَدْ كَذَبَ فِيهَا أَسْنَانُ الْإِبِلِ وَأَشْيَاءُ مِنْ الْجِرَاحَاتِ وَفِيهَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةُ حَرَمٌ مَا بَيْنَ عَيْرٍ إِلَى ثَوْرٍ فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا وَذِمَّةُ الْمُسْلِمِينَ وَاحِدَةٌ يَسْعَى بِهَا أَدْنَاهُمْ وَمَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا
‘Aliy bin Abi Thalib berkhutbah di hadapan kami dengan berkata, “Barangsiapa yang mengklaim bahwa kami memiliki sesuatu yang kami membacanya selain Kitabullah dan Shahifah (lembaran) ini –Perawi mengatakan Shahifahnya tersebut tergantung di sarung pedang- maka sungguh ia telah berdusta. Di dalamnya (Shahifah) tertulis umur unta (yang disembelih) dan (hewan-hewan) sembelihan lainnya. Di dalamnya juga terdapat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengenai Madinah, yakni (tanah) haram antara ‘Air hingga Tsaur, barangsiapa yang berbuat sesuatu yang diada-adakan di dalamnya atau melindungi pelakunya, maka baginya laknat Allah dan Malaikat beserta manusia seluruhnya, Allah tidak akan menerima amalan ibadah fardhu dan sunnahnya pada hari Kiamat. Jaminan kaum Muslimin adalah sama dan berlaku bagi orang yang paling rendah (derajatnya) dari mereka. Dan barangsiapa yang mengklaim orang lain sebagai ayahnya atau (mengklaim) orang lain sebagai tuannya, maka baginya laknat Allah dan Malaikat beserta manusia seluruhnya, Allah tidak akan menerima amalan ibadah fardhu dan sunnahnya pada hari Kiamat. [Muslim no.2433]

هَذَا تَصْرِيحٌ مِنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ بِإِبْطَالِ مَا تَزْعُمُهُ الرَّافِضَةُ وَالشِّيعَةُ وَيَخْتَرِعُونَهُ مِنْ قَوْلِهِمْ إِنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ أَوْصَى إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُمُورٍ كَثِيرَةٍ مِنْ أَسْرَارِ الْعِلْمِ وَقَوَاعِدِ الدِّينِ وَكُنُوزِ الشَّرِيعَةِ وَأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَصَّ أَهْلَ الْبَيْتِ بِمَا لَمْ يُطْلِعْ عَلَيْهِ غَيْرَهُمْ وَهَذِهِ دَعَاوَى بَاطِلَةٌ وَاخْتِرَاعَاتٌ فَاسِدَةٌ لَا أَصْلَ لَهَا وَيَكْفِي فِي إِبْطَالِهَا قَوْلُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ هَذَا
Hal ini merupakan penegasan dari ‘Aliy Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu dalam membatalkan klaimnya Rafidhah dan Syiah. Mereka (Syiah Rafidhah) mengada-adakan dalam perkataannya bahwa ‘Aliy Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu diberikan Wasiat oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan banyak hal, (seperti) rahasia-rahasia ilmu, kaidah-kaidah agama, dan sumber-sumber hukum syari’ah. Dan bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberikan secara khusus kepada Ahlul Bayt yang tidak disampaikan kepada selainnya. Ini adalah klaim yang diada-adakan yang bathil serta merusak, yang tidak memiliki sumber asalnya sama sekali. Dan cukuplah dengan bantahan ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu tersebut dalam membatalkannya.
[Syarah Shahih Muslim 9/143, Imam an-Nawawi]

وظهر في زمانه الخوارج عليه مثل الأشعث بن قيس، ومسعود بن فدكي التميمي، وزيد بن حصين الطائي وغيرهم. وكذلك ظهر في زمانه الغلاة في حقه مثل عبد الله بن سبإ وجماعة معه. ومن الفريقين ابتدأت البدعة والضلالة،
والاختلاف في الإمامة على وجهين:
أحدهما: القول بأن الإمامة تثبت بالاتفاق والاختيار.
والثاني: القول بأن الإمامة تثبت بالنص والتعيين.
Pada masanya (pemerintahan ‘Aliy) muncullah Khawarij seperti al-Asy’ats bin Qais, Mas’ud bin Fudakiy at-Tamimiy dan Zaid bin Hushain ath-Tha’iy serta lainnya. Dan begitu pula pada masanya (pemerintahan ‘Aliy) muncullah Ghulat ‘Abdullah bin Saba beserta gerombolannya. Sehingga dari 2 kelompok tersebut lahirlah Bid’ah dan kesesatan.
Lalu perpecahan setelahnya terbagi menjadi 2, yaitu : Pertama, perselisihan dalam hal Imamah. Kedua, perselisihan dalam hal Ushul.
Adapun perselisihan dalam hal Imamah terdiri dari 2 macam : Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa Imamah ditetapkan melalui kesepakatan dan pemilihan. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa Imamah ditetapkan melalui Nash serta penunjukkan (ta’yin).
[Al-Milal wa an-Nihal 1/26 dengan sedikit diringkas, Imam asy-Syahrastani]

الشيعة هم الذين شايعوا عليا رضي الله عنه على الخصوص. وقالوا بإمامته وخلافته نصا ووصية، إما جليا، وإما خفيا. واعتقدوا أن الإمامة لا تخرج من أولاده، وإن خرجت فبظلم يكون من غيره، أو بتقية من عنده. وقالوا: ليست الإمامة قضية مصلحية تناط باختيار العامة وينتصب الإمام بنصبهم، بل هي قضية أصولية، وهي ركن الدين، لا يجوز للرسل عليهم السلام إغفاله وإهماله، ولا تفويضه إلى العامة وإرساله
Syiah dalam (pengertian) khusus adalah mereka yang mendukung ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu, mereka (Syiah) berpendapat mengenai Imamah dan Khilafah (ditetapkan) dengan berdasarkan Nash dan Wasiat, baik secara jelas ataupun tersembunyi. Mereka (Syiah) berkeyakinan bahwa Imamah tidak boleh keluar dari (jalur) keturunannya (‘Aliy), jika (Imamah) keluar dari (jalur) selain (keturunan ‘Aliy) maka ia merupakan kezhaliman atau merupakan Taqiyyah dari (keturunan ‘Aliy). Mereka (Syiah) berkata, “Imamah bukanlah suatu permasalahan yang mengandung sebuah mashlahat yang dapat dipercayakan kepada masyarakat umum dengan memilih serta menunjuk Imam. Bahkan ia merupakan suatu permasalahan Ushuliyyah dan Rukun Agama, sehingga tidak diperbolehkan bagi Rasul ‘alaihim Salam untuk melupakan dan menyia-nyiakannya, serta tidak boleh dicampuri oleh masyarakat umum seraya menunjuknya.”

ويجمعهم القول بوجوب التعيين والتنصيص، وثبوت عصمة الأنبياء والأئمة وجوبا عن الكبائر والصغائر. والقول بالتولي والتبري قولا، وفعلا، وعقدا، إلا في حال التقية
Mereka (Syiah) seluruhnya berkata mengenai wajibnya (Imamah) dengan ditunjuk (ta’yin) dan serta sudah di-Nashkan, dengan menetapkan kema’shuman bagi para Nabi dan Imam, serta harus (terpelihara) dari dosa-dosa besar dan kecil. Ketentuan tersebut tidaklah boleh ditolak, baik dengan perkataan, perbuatan dan keyakinan, kecuali dalam keadaan Taqiyyah.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/146, Imam asy-Syahrastani]

Dikarenakan tidak adanya Nash mengenai Imamah/Khilafah sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka Syiah pun berpecah-belah dengan saling mengklaim bahwa Nash Imamah/Khilafah tersebut berada pada firqah mereka (Syiah). Dan Ahlul Bayt pun berlepas diri dari klaim bathil Syiah Rafidhah.

Namun dalam membaca firqah-firqah Syiah tersebut, sebaiknya teman-teman juga melihat chart firqah Syiah yang akan disertakan/dilampirkan di sela-sela Goresan yang bertujuan untuk mempermudah dalam memahaminya.

ومن قالوا إن الإمامة تثبت بالنص، اختلفوا بعد علي رضي الله عنه، فمنهم من قال إنه نص على ابنه محمد بن الحنفية، وهؤلاء هم الكيسانية، ثم اختلفوا بعده، فمنهم من قال إنه لم يمت، ويرجع فيملأ الأرض عدلا، ومنهم من قال إنه مات، وانتقلت الإمامة بعده إلى ابنه أبي هاشم،
Mereka (Syiah) yang berpendapat bahwa Imamah ditetapkan dengan berdasarkan Nash telah berselisih sepeninggal ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu.
Sebagian mereka (Syiah) berpendapat bahwa (Imamah) di-Nashkan kepada anaknya (‘Aliy), yakni Muhammad bin al-Hanafiyyah, mereka ini adalah (Syiah) al-Kisaniyyah.
Kemudian mereka (Syiah) berselisih setelah (wafat)-nya, sebagian mereka (Syiah) berpendapat bahwa (Muhammad bin al-Hanafiyyah) tidak mati dan akan kembali (Raj’ah) sehingga bumi akan dipenuhi dengan keadilan.
Sebagiannya lagi berpendapat bahwa ia mati sehingga Imamah berpindah setelahnya kepada anaknya, yakni Abu Hasyim.

وافترق هؤلاء، فمنهم من قال الإمامة بقيت في عقبه وصية بعد وصية، ومنهم من قال إنها انتقلت إلى غيره، واختلفوا في ذلك الغير،
Setelah itu mereka (Syiah) berpecah-belah, sebagian mereka (Syiah) berpendapat bahwa Imamah dilanjutkan oleh penerus Wasiat setelah diberi Wasiat. Sebagian mereka (Syiah) berpendapat sesungguhnya (Imamah) berpindah kepada yang lainnya, (namun) mereka (Syiah) berselisih (Imamah) (berpindah) kepada siapa.

فمنهم من قال هو بنان بن سمعان النهدي، ومنهم من قال هو علي بن عبد الله بن عباس، ومنهم من قال هو عبد الله بن حرب الكندي، ومنهم من قال هو عبد الله بن معاوية بن عبد الله بن جعفر بن أبي طالب،
Sebagian lagi berpendapat bahwa (Imamah berpindah) kepada Banan bin Sam’an an-Nahdiy.
Sebagian lagi berpendapat bahwa (Imamah berpindah) kepada ‘Aliy bin ‘Abdullah bin ‘Abbas.
Sebagian lagi berpendapat bahwa (Imamah berpindah) kepada ‘Abdullah bin Harb al-Kindiy.
Sebagian lagi berpendapat bahwa (Imamah berpindah) kepada ‘Abdullah bin Mu’awiyyah bin ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/26-27, Imam asy-Syahrastaniy]

وأما من لم يقل بالنص على محمد بن الحنفية فقال بالنص على الحسن والحسين رضي الله عنهما،
Namun ada (Syiah) yang berpendapat bahwa Muhammad bin al-Hanafiyyah adalah tidak berdasarkan Nash, namun yang berdasarkan Nash adalah al-Hasan dan al-Husain Radhiyallahu ‘anhuma.

ثم اختلفوا، فمنهم من أجرى الإمامة في أولاد الحسن، فقال بعده بإمامة ابنه الحسن، ثم ابنه عبد الله، ثم ابنه محمد، ثم أخيه إبراهيم الإمامين،
Kemudian mereka (Syiah) pun berselisih, sebagian mereka (Syiah) berpendapat bahwa Imamah berada pada keturunan al-Hasan, sepeninggalnya (al-Hasan) Imamah (berpindah) kepada anaknya yakni al-Hasan, kemudian (Imamah berpindah) kepada anaknya yakni ‘Abdullah, lalu (Imamah berpindah) kepada anaknya yakni Muhammad, selanjutnya (Imamah berpindah) kepada saudaranya yakni Ibrahim.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/27 dengan sedikit diringkas, Imam asy-Syahrastaniy]

ومن هؤلاء من يقول برجعة محمد الإمام، ومنهم من أجرى الوصية في أولاد الحسين وقال بعده بإمامة ابنه علي بن الحسين زيد العابدين نصا عليه. ثم اختلفوا بعده، فقالت الزيدية بإمامة ابنه زيد.
Di antara mereka (Syiah) ada yang berpendapat bahwa Muhammad (bin al-Hanafiyyah) akan kembali hidup (Raj’ah) sebagai Imam.
Sebagian mereka (Syiah) berpendapat bahwa terdapatnya Wasiat kepada keturunan al-Husain dengan berkata bahwa sepeninggalnya (al-Husain) maka Imamah berada pada anaknya yakni ‘Aliy bin al-Husain (Zainal) ‘Abidin dengan berdasarkan Nash. Kemudian mereka (Syiah) pun berselisih.
Sedangkan (Syiah) Zaidiyyah berpendapat bahwa Imamah berada pada anaknya yakni Zaid.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/27, Imam asy-Syahrastaniy]

وأما الإمامية فقالوا بإمامة محمد بن علي الباقر نصا عليه، ثم بإمامة جعفر بن محمد الصادق وصية إليه، ثم اختلفوا بعده في أولاده: من المنصوص عليه؟
Adapun (Syiah) al-Imamiyyah, mereka (Syiah) berpendapat bahwa Imamah berada pada Muhammad bin ‘Aliy al-Baqir dengan berdasarkan Nash. Kemudian Imamah (berpindah) kepada Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq dengan berdasarkan Wasiat. Kemudian mereka (Syiah) pun berselisih sepeninggalnya (Ja’far ash-Shadiq), siapa dari anaknya yang (akan menjadi Imam) dengan berdasarkan Nash?

وهم خمسة: محمد، وإسماعيل، وعبد الله، وموسى، وعلي. فمنهم من قال بإمامة محمد وهم العمارية، ومنهم من قال بإمامة إسماعيل وأنكر موته في حياة أبيه وهم المباركية،
Mereka (anak-anak Ja’far ash-Shadiq) berjumlah 5 orang, yaitu :
1. Muhammad
2. Isma’il
3. ‘Abdullah
4. Musa
5. ‘Aliy
Mereka (Syiah) yang berpendapat Imamah berada pada Muhammad dinamakan (Syiah) al-‘Umariyyah.
Sedangkan mereka (Syiah) yang berpendapat Imamah berada pada Isma’il dengan mengingkari kematiannya di masa ayahnya masih hidup dinamakan (Syiah) al-Mubarakiyyah.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/27, Imam asy-Syahrastaniy]

ومنهم من ساق الإمامة في أولاده نصا بعد نص إلى يومنا هذا، وهم الإسماعيلية، ومنهم من قال بإمامة عبد الله الأفطح، وقال برجعته بعد موته لأنه مات ولم يعقب، ومنهم من قال بإمامة موسى نصا عليه
Sebagian mereka (Syiah) berpendapat bahwa Imamah akan turun kepada keturunannya (Isma’il) dengan berdasarkan Nash dan berlaku sampai hari ini, mereka dinamakan (Syiah) al-Isma’iliyyah.
Sebagian mereka (Syiah) berpendapat bahwa Imamah berada pada ‘Abdullah al-Afthah yang akan kembali hidup (Raj’ah) setelah kematiannya dikarenakan ia mati namun tidak memiliki keturunan.
Sebagian lagi berpendapat bahwa Imamah berada pada Musa dengan berdasarkan Nash.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/28, Imam asy-Syahrastaniy]

ومنهم من توقف في موته وهم الممطورة، ومنهم من قطع بموته، وساق الإمامة إلى ابنه علي بن موسى الرضا، وهم القطعية. ثم هؤلاء اختلفوا في كل ولد بعده،
Sebagian mereka (Syiah) bertawaquf (tidak berkomentar) mengenai kematiannya (Musa), mereka dinamakan (Syiah) al-Mamthurah.
Dan di antara mereka (Syiah) ada yang memastikan kematiannya, sehingga Imamah turun kepada anaknya yakni ‘Aliy bin Musa ar-Ridha, mereka dinamakan (Syiah) al-Qath’iyyah. Kemudian mereka (Syiah) pun berselisih mengenai (Imamah) anaknya sepeninggalnya.

فالاثنا عشرية ساقوا الإمامة من على الرضا إلى ابنه محمد، ثم إلى ابنه علي، ثم إلى ابنه الحسن، ثم إلى ابنه محمد القائم المنتظر الثاني عشر، وقالوا: هو حي لم يمت، ويرجع فيملأ الدنيا عدلا، كما ملئت جورا. وغيرهم ساقوا الإمامة إلى الحسن العسكري، ثم قالوا بإمامة أخيه جعفر، وقالوا بالتوقف عليه، أو قالوا بالشك في حال محمد، ولهم خبط طويل في سوق الإمامة، والتوقف، والقول بالرجعة بعد الموت، والقول بالغيبة، ثم بالرجعة بعد الغيبة
Sedangkan (Syiah) Itsna ‘Asyariyyah berpendapat bahwa Imamah turun dari ‘Aliy ar-Ridha kepada anaknya yakni Muhammad, kemudian anaknya yakni ‘Aliy, lalu anaknya yakni al-Hasan, selanjutnya anaknya yang bernama Muhammad al-Qaim al-Muntazhar (yang merupakan Imam) ke-12.
Mereka (Syiah) berkata, “Ia (‘Aliy bin Muhammad) senantiasa hidup dan tidak mati, ia akan kembali hidup (Raj’ah) dan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) dipenuhi dengan ketidak-adilan.
Sebagian lainnya berpendapat bahwa Imamah turun kepada al-Hasan al-‘Askariy, lalu Imamah (berpindah) kepada saudaranya yakni Ja’far.
Sementara yang lainnya bertawaquf atau meragukan perihal Muhammad (al-Qaim al-Muntazhar).
Bagi mereka (Syiah) Imamah terus berlanjut dan sebagian lagi bertawaquf, sebagian lainnya berpendapat bahwa (al-Hasan al-‘Askariy) akan kembali hidup (Raj’ah) setelah kematiannya, serta ada yang berpendapat bahwa (al-Hasan al-‘Askariy) sedang dalam masa al-Ghaibah dan akan kembali setelah Ghaibahnya.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/28, Imam asy-Syahrastaniy]

وهم خمس فرق: كيسانية، وزيدية، وإمامية، وغلاة، وإسماعيلية
Mereka (Syiah) terbagi menjadi 5 firqah, yaitu :
1. (Syiah) al-Kisaniyyah
2. (Syiah) az-Zaidiyyah
3. (Syiah) al-Imamiyyah
4. (Syiah) al-Ghaliyyah
5. (Syiah) al-Isma’iliyyah
[Al-Milal wa an-Nihal 1/147, Imam asy-Syahrastani]

Wasiat Nabi Nash Imamah Syiah

1- الكيسانية:
أصحاب كيسان، مولى أمير المؤمنين علي بن أبي طالب كرم الله وجهه، وقيل تلمذ للسيد محمد بن الحنفية رضي الله عنه
1 – (Syiah) al-Kisaniyyah
(Syiah al-Kisaniyyah) merupakan pengikutnya Kisan, ia adalah pelayan Amirul Mukminin ‘Aliy bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah. Dikatakan bahwa ia adalah murid dari Sayyid Muhammad bin al-Hanafiyyah Radhiyallahu ‘anhu.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/147, Imam asy-Syahrastani]


Wasiat Nabi Nash Imamah Syiah

"أ" المختارية:
أصحاب المختار بن أبي عبيد الثقفي، كان خارجيا، ثم صار زبيريا، ثم صار شيعيا وكيسانيا، قال بإمامة محمد بن الحنفية بعد أمير المؤمنين علي رضي الله عنهما
a. (Syiah) al-Mukhtar
(Syiah al-Mukhtar) adalah pengikutnya al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid ats-Tsaqafiy, dahulu ia adalah seorang Khawarij kemudian berubah menjadi (pengikut) Zubairiyyah, lalu berubah menjadi Syiah dan al-Kisaniyyah. Ia mengakui Imamah Muhammad bin al-Hanafiyyah setelah Amirul Mukminin ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhuma.

محمد بن الحنفية على ذلك تبرأ منه
Namun Muhammad bin al-Hanafiyyah bertabara’ (berlepas diri) darinya (al-Mukhtar).

[Al-Milal wa an-Nihal 1/147-148 dengan sedikit diringkas, Imam asy-Syahrastani]

"ب" الهاشمية:
أتباع أبي هاشم بن محمد بن الحنفية. قالوا بانتقال محمد بن الحنفية إلى رحمة الله ورضوانه، وانتقال الإمامة منه إلى ابنه أبي هاشم
b. (Syiah) al-Hasyimiyyah
(Syiah al-Hasyimiyyah) adalah pengikut Abu Hasyim bin Muhammad al-Hanafiyyah. Mereka (Syiah) berpendapat tatkala Muhammad bin al-Hanafiyyah pulang ke Rahmatullah, maka Imamah berpindah darinya kepada anaknya yakni Abu Hasyim.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/150, Imam asy-Syahrastani]

واختلفت بعد أبي هاشم شيعته خمس فرق:
Sepeninggal Abu Hasyim, Syiah berselisih menjadi 5 firqah :

1- فرقة قالت إن أبا هاشم مات منصرفا من الشام بأرض الشراة، وأوصى إلى محمد بن علي بن عبد الله بن عباس،
1. Firqah yang berpendapat bahwa Abu Hasyim wafat dalam perjalanannya dari Syam di sebuah tempat yang bernama asy-Syarah. Lalu (Abu Hasyim) meWasiatkan kepada Muhammad bin ‘Aliy bin ‘Abdullah bin ‘Abbas.

2- وفرقة قالت إن الإمامة بعد موت أبي هاشم لابن أخيه الحسن بن علي بن محمد بن الحنفية.
2. Firqah yang berpendapat bahwa Imamah setelah wafatnya Abu Hasyim menjadi milik anak saudaranya (keponakan) yakni al-Husain bin ‘Aliy bin Muhammad bin al-Hanafiyyah.

3- وفرقة قالت: لا، بل إن أبا هاشم أوصى إلى أخيه علي بن محمد، وعلي أوصى إلا ابنه الحسن، فالإمامة عندهم في بني الحنفية لا تخرج إلى غيرهم.
3. Firqah yang berpendapat (Imamah) bukan (milik al-Husain bin ‘Aliy bin Muhammad bin al-Hanafiyyah), namun Abu Hasyim telah meWasiatkan kepada saudaranya yakni ‘Aliy bin Muhammad, lalu ia meWasiatkan kepada anaknya yakni al-Husain. Mereka (Syiah) berpendapat bahwa Imamah hanya berada di Bani al-Hanafiyyah, bukan kepada selainnya.

4- وفرقة قالت: إن أبا هاشم أوصى إلى عبد الله بن عمرو بن حرب الكندي،
4. Firqah yang berpendapat bahwa sesungguhnya Abu Hasyim telah meWasiatkan (Imamah) kepada ‘Abdullah bin ‘Amr bin Harb al-Kindiy.

وقالوا: بإمامة عبد الله بن معاوية بن عبد الله بن جعفر بن أبي طالب
5. (Firqah) yang berpendapat bahwa Imamah milik ‘Abdullah bin Mu’awiyyah bin ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/151-152 dengan diringkas, Imam asy-Syahrastani]

"جـ" البيانية:
أتباع بيان بن سمعان التميمي، قالوا بانتقال الإمامة من أبي هاشم إليه
c. (Syiah) al-Bayaniyyah
(Syiah al-Bayaniyyah) adalah pengikut Bayan bin Sam’an at-Tamimiy, mereka (Syiah) berkata Imamah berpindah dari Abu Hasyim kepadanya.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/152, Imam asy-Syahrastani]

"د" الرازمية:
أتباع رزام بن رزم، ساقوا الإمامة من علي إلى ابنه محمد، ثم إلى ابنه هاشم، ثم منه إلى علي بن عبد الله بن عباس بالوصية، ثم ساقوها إلى محمد بن علي وأوصى محمد إلى ابنه: إبراهيم
d. (Syiah) ar-Rizamiyyah
(Syiah ar-Rizamiyyah) adalah pengikutnya Rizam bin Rizam, menurut mereka (Syiah) Imamah berpindah dari ‘Aliy kepada anaknya yakni Muhammad, kemudian (Imamah) pindah kepada anaknya yakni Abu Hasyim, lalu (Imamah) pindah darinya kepada ‘Aliy bin Abdullah bin ‘Abbas dengan Wasiat, selanjutnya (Imamah) berpindah kepada Muhammad bin ‘Aliy dan diWasiatkan oleh Muhammad kepada anaknya yang bernama Ibrahim.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/153, Imam asy-Syahrastani]

2- الزيدية:
أتباع زيد بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب رضي الله عنهم، ساقوا الإمامة في أولاد فاطمة رضي الله عنها، ولم يجوزوا ثبوت الإمامة في غيرهم، إلا أنهم جوزوا أن يكون كل فاطمي عالم شجاع سخي خرج بالإمامة، أن يكون إماما واجب الطاعة، سواء كان من أولاد الحسن، أو من أولاد الحسين رضي الله عنهما. وعن هذا جوز قوم منهم إمامة محمد وإبراهيم الإمامين ابني عبد الله بن الحسن بن الحسن
2 – (Syiah) az-Zaidiyyah
(Syiah az-Zaidiyyah) adalah pengikut Zaid bin ‘Aliy bin al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhum. Menurut mereka (Syiah), Imamah hanya berada pada keturunan Fathimah Radhiyallahu ‘anha dan tidak boleh menetapkan Imamah kepada selain mereka. Namun mereka (Syiah) membolehkan setiap Fathimiy (keturunan Fathimah) yang ‘alim, berani serta pemurah dan telah menyatakan Imamah (bagi dirinya), maka Imam tersebut wajib untuk ditaati, baik yang berasal dari keturunan al-Hasan maupun al-Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Oleh karena itu diperbolehkan Imamah Muhammad dan Ibrahim yang keduanya merupakan keturunan ‘Abdullah bin al-Hasan bin al-Hasan.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/154-155, Imam asy-Syahrastani]

فقال: كان علي بن أبي طالب رضي الله عنه أفضل الصحابة، إلا أن الخلافة فوضت إلى أبي بكر لمصلحة رأوها،
(Zaid) berkata, “’Aliy bin abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu adalah Shahabat yang paling utama, namun Khilafah berada pada Abu Bakar demi kemaslahatan.”
[Al-Milal wa an-Nihal 1/155, Imam asy-Syahrastani]

وهم أصناف ثلاثة: جارودية، وسليمانية، وبترية. والصالحية
(Syiah az-Zaidiyyah) terbagi menjadi 3 (firqah), yaitu :
a. (Syiah) Jarudiyyah
b. (Syiah) Sulaimaniyyah
c. (Syiah) Batriyyah dan (Syiah) ash-Shalihiyyah.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/157, Imam asy-Syahrastani]


Wasiat Nabi Nash Imamah Syiah

أ" الجارودية:
أصحاب أبي الجارود زياد بن أبي زياد.
a. (Syiah) al-Jarudiyyah
(Syiah al-Jarudiyyah) adalah pengikutnya Abu Jarud Ziyad bin Abi Ziyad.

فساق بعضهم الإمامة من علي إلى الحسن، ثم إلى الحسين، ثم إلى علي بن الحسين زين العابدين، ثم إلى ابنه زيد بن علي، ثم منه إلى الإمام محمد بن عبد الله بن الحسن بن الحسن بن علي بن أبي طالب،
Sebagian mereka (Syiah) berpendapat bahwa Imamah berpindah dari ‘Aliy kepada al-Hasan, kemudian kepada al-Husain, lalu kepada ‘Aliy bin al-Husain Zainal ‘Abidin, selanjutnya kepada anaknya yakni Zaid bin ‘Aliy, kemudian darinya (pindah) kepada al-Imam Muhammad bin ‘Abdullah bin al-Hasan bin al-Hasan bin ‘Aliy bin Abi Thalib.

والذين قالوا بإمامة محمد بن عبد الله الإمام، اختلفوا فمنهم من قال إنه لم يقتل وهو بعد حي؛ وسيخرج فيملأ الأرض عدلا، ومنهم من أقر بموته، وساق الإمامة إلى محمد بن القاسم بن علي بن عمر بن علي بن الحسين بن علي
Mereka (Syiah) yang berpendapat Imamah Muhammad bin ‘Abdullah sebagai Imam, mereka (Syiah) pun berselisih.
Sebagiannya berpendapat bahwa ia (Muhammad bin ‘Abdullah) tidaklah terbunuh namun ia akan keluar untuk memenuhi bumi dengan keadilan.
Sebagiannya lagi menyatakan kematiannya, sehingga Imamah berpindah kepada Muhammad bin al-Qasim bin ‘Aliy bin ‘Umar bin ‘Aliy bin al-Husain bin ‘Aliy.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/157-158 dengan diringkas, Imam asy-Syahrastani]

"ب" السليمانية:
أصحاب سليمان بن جرير
b. (Syiah) as-Sulaimaniyyah
(Syiah as-Sulaimaniyyah) adalah pengikutnya Sulaiman bin Jarir.

وأثبت إمامة أبي بكر وعمر رضي الله عنهما حقا باختيار الأمة حقا اجتهاديا
(Syiah as-Sulaimaniyyah) mengakui sahnya Imamah Abu Bakar dan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma dengan pemilihan yang dilakukan oleh masyarakat umum melalui ijtihad.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/159 dengan diringkas, Imam asy-Syahrastani]

"جـ" الصالحية والبترية:
الصالحية أصحاب الحسن بن صالح بن حي، والبترية. أصحاب كثير النوي الأبتر
c. Syiah ash-Shalihiyyah dan Syiah al-Batriyyah
Syiah ash-Shalihiyyah adalah pengikutnya al-Hasan bin Shalih bin Hay, dan Syiah al-Batriyyah adalah pengikutnya Katsir an-Nawa al-Abtar.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/161, Imam asy-Syahrastani]

3- الإمامية:
هم القائلون بإمامة علي رضي الله عنه بعد النبي عليه السلام؛ نصا ظاهرا، وتعيينا
3 – (Syiah) al-Imamiyyah
(Syiah al-Imamiyyah) adalah mereka yang berpendapat bahwa Imamah ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu sepeninggal Nabi ‘alaihi Salam dengan berdasarkan Nash yang jelas serta penunjukkan (ta’yin).
[Al-Milal wa an-Nihal 1/162, Imam asy-Syahrastani]

ثم إن الإمامية لم يثبتوا في تعيين الأئمة بعد: الحسن، والحسين، وعلي بن الحسين رضي الله عنهم على رأي واحد، بل اختلافاتهم أكثر من اختلافات الفرق كلها، حتى قال بعضهم: إن نيفا وسبعين فرق من الفرق المذكورة في الخبر هو في الشيعة خاصة
Kemudian (Syiah) al-Imamiyyah tidak satu pendapat dalam menetapkan secara ta’yin (penunjukkan) setelah al-Hasan, al-Husain, dan ‘Aliy bin al-Husain Radhiyallahu ‘anhum. Bahkan mereka (Syiah) seluruhnya berselisih lebih banyak daripada perselisihan dalam firqah (Syiah), hingga sebagian mereka (Syiah) berkata, “Sesungguhnya jumlah perselisihan dalam masalah ini mencapai 70 firqah yang hanya khusus terjadi di kalangan Syiah.”
[Al-Milal wa an-Nihal 1/165, Imam asy-Syahrastani]

وهم متفقون في الإمامة وسوقها إلى جعفر بن محمد الصادق رضي الله عنه، ومختلفون في المنصوص عليه بعده من أولاده، إذ كانت له خمسة أولاد، وقيل ستة: محمد، وإسحاق، وعبد الله، وموسى، وإسماعيل. وعلى. ومن ادعى منهم النص والتعيين: محمد، وعبد الله، وموسى، وإسماعيل.
Mereka (Syiah) bersepakat bahwa Imamah berlanjut kepada Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq Radhiyallahu ‘anhu, namun mereka (Syiah) berselisih sepeninggalnya (Ja’far) mengenai Nash (Imamah) keturunannya. Ia (Ja’far) memiliki 5 orang anak, namun ada yang mengatakan 6 yaitu :
1. Muhammad
2. Ishaq
3. ‘Abdullah
4. Musa
5. Isma’il
6. ‘Aliy
Adapun yang diklaim (sebagai Imam) dari mereka dengan berdasarkan penunjukan (ta’yin) adalah sebagai berikut :
1. Muhammad
2. ‘Abdullah
3. Musa
4. Isma’il
[Al-Milal wa an-Nihal 1/165, Imam asy-Syahrastani]


Wasiat Nabi Nash Imamah Syiah

"أ" الباقرية، والجعفرية الواقفة:
أتباع: محمد بن الباقر بن علي زين العابدين، وابنه جعفر الصادق، قالوا بإمامتهما وإمامة والدهما زين العابدين، إلا أن منهم من توقف على واحد منهما، وما ساق الإمامة إلى أولادهما
a. (Syiah) al-Baqiriyyah dan (Syiah) al-Ja’fariyyah
(Syiah al-Baqiriyyah dan Syiah al-Ja’fariyyah) adalah pengikut Muhammad al-Baqir bin ‘Aliy Zainal ‘Abidin dan anaknya yakni Ja’far ash-Shadiq. Mereka (Syiah) mengakui Imamah keduanya dan Imamah pendahulu (ayah dan kakek) mereka berdua yaitu Zainal ‘Abidin. Sebagian mereka (Syiah) berpendapat bahwa (Imamah) terhenti pada salah satu di antara mereka (Muhammad atau Ja’far), namun ada juga yang berpendapat bahwa Imamah akan berlanjut kepada keturunan mereka berdua.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/165, Imam asy-Syahrastani]

وهو من جانب الأب ينتسب إلى شجرة النبوية، ومن جانب الأم ينتسب إلى أبي بكر الصديق رضي الله عنه. وقد تبرأ عما كان ينسب إليه بعض الغلاة وبرئ منهم، ولعنهم وبرئ من خصائص مذاهب الرافضة وحماقاتهم من القول بالغيبة والرجعة، والبداء، والتناسخ، والحلول والتشبيه.
Adapun nasabnya (Ja’far ash-Shadiq) dari pihak ayah bersambung kepada pohon an-Nabawiyyah, sedangkan nasabnya (Ja’far ash-Shadiq) dari pihak ibu bersambung kepada Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu. Ia (Ja’far ash-Shadiq) bertabara’ (berlepas diri) dari gerombolan yang menisbatkan diri kepadanya baik dari kalangan (Syiah) Ghulat dengan berlepas diri dari mereka ataupun dari kalangan (Syiah) Rafidhah dengan melaknat dan berlepas diri dari mereka, yakni mereka (Syiah Rafidhah Ghulat) memiliki ajaran yang bodoh, yaitu al-Ghaibah, ar-Raj’ah, al-Bada’, at-Tanasukh, dan al-Hulul serta at-Tasybih. Akan tetapi, setelah (wafat)-nya (Ja’far ash-Shadiq) Syiah pun berpecah-belah.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/166, Imam asy-Syahrastani]


Wasiat Nabi Nash Imamah Syiah

"ب" الناووسية:
أتباع رجل يقال له: ناووس، وقيل نسبوا إلى قرية ناوسا. قالت إن الصادق حي بعد، ولن يموت حتى يظهر فيظهر أمره. وهو القائم المهدي
b. (Syiah) an-Nawusiyyah
(Syiah an-Nawusiyyah) adalah pengikut seseorang yang bernama Nawus, dikatakan bahwa ia dinisbatkan dengan desa Nawus. Ia (Nawus) berkata bahwa ash-Shadiq masih hidup dan tidak mati hingga ia akan muncul dan menampakkan perkaranya, ia (ash-Shadiq) adalah al-Qaim al-Mahdi.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/166, Imam asy-Syahrastani]

"جـ" الأفطحية:
قالوا: بانتقال الإمامة من الصادق إلى ابنه عبد الله الأفطح
c. (Syiah) al-Afthahiyyah
(Syiah al-Afthahiyyah) berpendapat bahwa Imamah berpindah dari ash-Shadiq kepada anaknya yakni ‘Abdullah al-Afthah.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/167, Imam asy-Syahrastani]

"د" الشميطية:
أتباع يحيى بن أبي شميط
d. (Syiah) asy-Syumaithiyyah
(Syiah asy-Syumaithiyyah) adalah pengikutnya Yahya bin Abu Syumaith.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/167, Imam asy-Syahrastani]

"هـ" الإسماعيلية الواقفة:
قالوا إن الإمام بعد جعفر إسماعيل نصا عليه باتفاق من أولاده،
e. (Syiah) al-Isma’iliyyah al-Waqifah
(Syiah al-Isma’iliyyah al-Waqifah) berpendapat bahwa Imamah sepeninggal Ja’far berada pada Isma’il dengan berdasarkan Nash dan kesepakatan dari anak-anaknya (Ja’far).
[Al-Milal wa an-Nihal 1/167, Imam asy-Syahrastani]

فالإمام بعد إسماعيل: محمد بن إسماعيل؛ وهؤلاء يقال لهم المباركية. ثم منهم من وقف على محمد بن إسماعيل وقال برجعته بعد غيبته.
Kemudian Imamah sepeninggal Isma’il adalah berada pada Muhammad bin Isma’il, mereka dinamakan (Syiah) al-Mubarakiyyah. Lalu sebagian mereka (Syiah) berpendapat bahwa (Imamah) berhenti hanya pada Isma’il dan akan kembali (Raj’ah) setelah Ghaibah.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/168, Imam asy-Syahrastani]

والإسماعيلية المشهورة في الفرق منهم هم الباطنية
Adapun (Syiah) al-Isma’iliyyah yang masyhur adalah (Syiah) al-Bathiniyyah.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/168, Imam asy-Syahrastani]

"و" الموسوية، والمفضلية:
فرقة واحدة قالت بإمامة موسى بن جعفر نصا عليه بالاسم
f. (Syiah) al-Musawiyyah dan (Syiah) al-Mufadhaiyyah
Firqah ini hanya satu yang mengakui Imamahnya Musa bin Ja’far dengan berdasarkan Nash beserta menyebut namanya.

فمنهم من توقف في موته وقال: لا ندري أمات أم لم يمت! ويقال لهم الممطورة؛
Sebagian mereka (Syiah) bertawaquf mengenai kematiannya (Musa bin Ja’far) dengan berkata, “Kami (Syiah) tidak mengetahui apakah ia sudah mati atau belum,” sehingga mereka dinamakan dengan (Syiah) al-Mamthurah.

ومنهم من قطع بموته ويقال لهم القطعية.
Sebagiannya lagi memastikan kematiannya, sehingga mereka dinamakan sebagai (Syiah) al-Qath’iyyah.

ومنهم من توقف عليه، وقال إنه لم يمت، وسيخرج بعد الغيبة، ويقال لهم الواقفة
Sebagian yang lain berpendapat bahwa (Imamah) berhenti pada (Musa bin Ja’far), bahwasanya ia (Musa bin Ja’far) tidak mati dan akan keluar setelah al-Ghaibah (menghilang), mereka dinamakan (Syiah) al-Waqifah.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/168-169 dengan diringkas, Imam asy-Syahrastani]

"ز" الاثنا عشرية:
إن الذين قطعوا بموت موسى الكاظم بن جعفر الصادق وسموا قطعية، ساقوا الإمامة بعده في أولاده، فقالوا: الإمام بعد موسى الكاظم: ولده علي الرضا، ومشهده بطوس. ثم بعده: محمد التقي الجواد أيضا، وهو في مقابر قريش ببغداد. ثم بعده: علي بن محمد النقي؛ ومشهده بقم. وبعده: الحسن العسكري الزكي. وبعده: ابنه محمد القائم المنتظر
g. (Syiah) Itsna ‘Asyariyyah
(Syiah Itsna ‘Asyariyyah) memastikan kematian Musa al-Kazhim bin Ja’far ash-Shadiq, mereka dinamakan juga sebagai (Syiah) al-Qath’iyyah. Lalu Imamah sepeninggalnya turun kepada anaknya, mereka (Syiah) berkata, “Imam sepeninggal Musa al-Kazhim adalah anaknya yakni ‘Aliy ar-Ridha yang syahid di Thus. Kemudian setelahnya adalah Muhammad at-Taqiy al-Jawad yang juga (syahid) dan dikuburkan di pemakaman Baghdad. Kemudian setelahnya adalah ‘Aliy bin Muhammad an-Naqiy yang syahid di Qum. Lalu setelahnya adalah al-Hasan al-‘Askariy az-Zakiy, selanjutnya adalah anaknya yakni Muhammad al-Qaim al-Muntazhar.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/169, Imam asy-Syahrastani]

إلا أن الاختلافات التي وقعت في حال كل واحد من هؤلاء الاثنا عشر
Masing-masing mereka (Syiah) berselisih mengenai perihal (Imam) yang ke-12 ini (yakni Muhammad al-Qaim al-Muntazhar).
[Al-Milal wa an-Nihal 1/169, Imam asy-Syahrastani]

أن من الشيعة من قال بإمامة: أحمد بن موسى بن جعفر دون أخيه علي الرضا. ومن قال بعلي: شك أولا في محمد بن علي، إذ مات أبوه وهو صغير غير مستحق للإمامة
Di antara (firqah) Syiah ada yang berpendapat bahwa Imamah berada pada Ahmad bin Musa bin Ja’far bukan berada pada saudaranya yakni ‘Aliy Ridha.
Dan ada juga (Syiah) yang berpendapat (Imamah) berada pada ‘Aliy dengan meragukan (Muhammad bin ‘Aliy) yang pada awalnya (berpendapat) bahwa (Imamah) berada pada Muhammad bin ‘Aliy, yakni ketika ayahnya wafat dan ia masih kecil sehingga tidak memiliki hak Imamah.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/169, Imam asy-Syahrastani]

وثبت قوم على إمامته واختلفوا بعد موته أيضا، فقال قوم بإمامة موسى بن محمد. وقال قوم آخرون بإمامة علي بن محمد، ويقولون هو العسكري. واختلفوا بعد موته أيضا
Namun ada juga (Syiah) yang menetapkan Imamah baginya (Muhammad bin ‘Aliy), namun berselisih juga setelah kematiannya (Muhammad bin ‘Aliy).
Sebagiannya berpendapat bahwa Imamah berada pada Musa bin Muhammad.
Dan sebagian lainnya berpendapat bahwa Imamah berada pada ‘Aliy bin Muhammad yang dikenal dengan nama al-‘Askariy.
Akan tetapi, mereka (Syiah) berselisih kembali setelah wafatnya (‘Aliy bin Muhammad).
[Al-Milal wa an-Nihal 1/169-170, Imam asy-Syahrastani]

فقال قوم بإمامة جعفر بن علي، وقال قوم بإمامة محمد بن علي. وقال قوم بإمامة الحسن بن علي
Sebagiannya berpendapat bahwa Imamah berada pada Ja’far bin ‘Aliy.
Sebagian lagi berpendapat bahwa Imamah berada pada Muhammad bin ‘Aliy.
Sebagian lainnya berpendapat bahwa Imamah berada pada al-Hasan bin ‘Aliy.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/170, Imam asy-Syahrastani]

ولقبوا من قال بإمامة الحسن الحمارية، وقووا أمر جعفر بعد موت الحسن، واحتجوا بأن الحسن مات بلا خلف فبطلت إمامته، ولأنه لم يعقب،
Nama (Syiah) yang berpendapat bahwa Imamah berada pada al-Hasan adalah (Syiah) al-Humariyyah dengan mengakui perkara (Imamah) berada pada Ja’far setelah wafatnya al-Hasan. Tatkala al-Hasan wafat, ia tidak memiliki penerus, sehingga batallah Imamahnya dikarenakan ia tidak memiliki anak.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/170, Imam asy-Syahrastani]

من قال بإمامة الحسن وتفرقوا أصنافا كثيرة. فثبتت هذه الفرقة على إمامة جعفر، ورجع إليهم كثير ممن قال بإمامة الحسن
(Firqah) yang berpendapat bahwa Imamah berada pada al-Hasan pun berpecah-belah menjadi banyak firqah. Firqah (Syiah) tersebut menetapkan Imamah bagi Ja’far hingga banyak yang ruju’ (menarik pengakuan) akan Imamah al-Hasan.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/170, Imam asy-Syahrastani]

ثم قالوا بعد جعفر بعلي بن جعفر وفاطمة بنت علي أخت جعفر. وقال قوم بإمامة علي بن جعفر دون فاطمة السيدة. ثم اختلفوا بعد موت علي وفاطمة اختلافا كثيرا
Kemudian mereka (Syiah) berpendapat bahwa (Imamah) sepeninggal Ja’far berada pada ‘Aliy bin Ja’far dan Fathimah binti ‘Aliy yang merupakan saudarinya Ja’far.
Namun terdapat (firqah Syiah) yang hanya mengakui Imamah ‘Aliy bin Ja’far saja namun tidak mengakui (Imamah) Fathimah.
Kemudian mereka (Syiah) berselisih setelah wafatnya ‘Aliy dan Fathimah dengan perselisihan yang sangat banyak.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/170, Imam asy-Syahrastani]

وأما الذين قالوا بإمامة الحسن فافترقوا بعد موته إحدى عشرة فرقة
Adapun yang berpendapat bahwa Imamah berada pada al-Hasan, akhirnya mereka (Syiah) berpecah-belah setelah wafatnya (al-Hasan) menjadi 11 firqah.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/170, Imam asy-Syahrastani]

الفرقة الأولى: قالت إن الحسن لم يمت، وهو القائم ولا يجوز أن يموت ولا ولد له ظاهرا، لأن الأرض لا تخلو من إمام، وقد ثبت عندنا أن القائم له غيبتان، وهذه إحدى الغيبتين، وسيظهر ويعرف ثم يغيب غيبة أخرى.
Firqah pertama yang berpendapat bahwa al-Hasan tidak mati dan ia adalah al-Qaim yang tidak diperbolehkan mati meskipun secara zhahir tidak memiliki anak, dikarenakan bumi tidak boleh kosong dari Imam. Telah tsabit bagi kami (Syiah) bahwa al-Qaim akan Ghaib sebanyak 2 kali, dan ini adalah Ghaibah yang pertama kemudian ia akan muncul dan dikenal lalu terjadi Ghaibah kembali untuk kali kedua.

الثانية: قالت إن الحسن مات ولكنه يحيى وهو القائم، لأن رأينا أن معنى القائم هو القيام بعد الموت. فنقطع بموت الحسن ولا نشك فيه، ولا ولد له، فيجب أن يحيا بعد الموت
(Firqah) kedua yang berpendapat bahwa al-Hasan telah mati, akan tetapi ia akan hidup kembali dan menjadi al-Qaim. Dikarenakan menurut pendapat kami (Syiah) bahwa makna al-Qaim adalah bangkit setelah kematian. Kami (Syiah) (meyakini) kematian al-Hasan dan tidak meragukan (Imamah)-nya meskipun ia tidak memiliki anak, sehingga diharuskan (baginya) untuk hidup kembali selepas kematiannya.

الثالثة: قالت إن الحسن قد مات، وأوصى إلى جعفر أخيه، ورجعت الإمامة إلى جعفر.
(Firqah) ketiga yang berpendapat bahwa al-Hasan telah wafat dan meWasiatkan (Imamah) kepada Ja’far yakni saudaranya, sehingga al-Imamah kembali kepada Ja’far.

الرابعة: قالت إن الحسن قد مات، والإمام جعفر. وإنا كنا مخطئين في الائتمام به؛ إذ لم يكن إماما. فلما مات ولا عقب له تبينا أن جعفر كان محقا في دعواه، والحسن مبطلا.
(Firqah) keempat yang berpendapat bahwa al-Hasan telah wafat dan yang menjadi Imam adalah Ja’far. Sesungguhnya kami (Syiah) telah melakukan kesalahan dalam mengangkat (al-Hasan) sebagai Imam, sehingga ia (al-Hasan) bukanlah Imam. Tatkala (al-Hasan) wafat dan tidak memiliki keturunan, maka kami (Syiah) memahami bahwa klaimnya Ja’far adalah benar, dan (Imamah) al-Hasan pun batal.

 الخامسة: قالت إن الحسن قد مات، وكنا مخطئين في القول به. وإن الإمام كان محمد بن علي أخا الحسن وجعفر؛
(Firqah) kelima yang berpendapat bahwa al-Hasan telah wafat. Kami (Syiah) telah keliru dalam mengklaim, sehingga Imamah berada pada Muhammad bin ‘Aliy yang merupakan saudaranya al-Hasan dan Ja’far.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/170-171, Imam asy-Syahrastani]

السادسة: قالت إن الحسن كان له ابن، وليس الأمر على ما ذكروا أنه مات ولم يعقب، بل ولد له ولد قبل وفاة أبيه بسنتين فاستتر خوفا من جعفر وغيره من الأعداء، واسمه محمد وهو الإمام، القائم، الحجة، المنتظر
(Firqah) keenam yang berpendapat bahwa al-Hasan memiliki anak, perkaranya bukan seperti apa yang telah dirumorkan bahwasanya ia (al-Hasan) telah wafat tanpa memiliki keturunan. Bahkan anaknya tersebut lahir dua tahun sebelum kematian ayahnya namun (al-Hasan) menyembunyikannya dikarenakan takut dengan Ja’far dan selainnya dari kalangan musuh-musuhnya. Namanya adalah Muhammad dan ia adalah Imam, al-Qaim, al-Hujjah dan al-Muntazhar.

السابعة: قالت إن له ابنا، ولكنه ولد بعد موته بثمانية أشهر. وقول من ادعى أنه مات وله ابن باطل،
(Firqah) ketujuh yang berpendapat bahwa (al-Hasan) memiliki anak, namun ia lahir delapan bulan setelah wafatnya (al-Hasan). Adapun pendapat yang menyatakan bahwa ia (al-Hasan) tidak memiliki anak adalah bathil.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/171, Imam asy-Syahrastani]

الثامنة: قالت صحت وفاة الحسن، وصح أن لا ولد له، وبطل ما ادعى من الحيل في سرية له، فثبت أن الإمام بعد الحسن غير موجود،
(Firqah) kedelapan yang berpendapat bahwa wafatnya al-Hasan adalah benar, dan benar juga bahwasanya ia (al-Hasan) tidak memiliki anak. Maka klaim yang menyatakan bahwa semua itu dirahasiakan adalah bathil. Dan telah tsabit bahwa Imam setelah al-Hasan adalah tidak ada.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/171, Imam asy-Syahrastani]

التاسعة: قالت إن الحسن قد مات، وصح موته. وقد اختلف الناس هذه الاختلافات ولا ندري كيف هو؟ ولا نشك أنه قد ولد له ابن. ولا ندري قبل موته أو بعد موته؟
(Firqah) kesembilan yang berpendapat bahwa al-Hasan telah wafat dan benar mengenai kematiannya. Manusia pun telah berselisih yang kami (Syiah) tidak mengetahui (mana yang benar)? Dan kami tidak meragukan (al-Hasan) dalam memiliki seorang anak, namun kami (Syiah) tidak mengetahui (apakah anaknya lahir) sebelum atau sesudah wafatnya (al-Hasan).
[Al-Milal wa an-Nihal 1/171, Imam asy-Syahrastani]

العاشرة: قالت نعلم أن الحسن قد مات، ولا بد للناس من إمام؛ فلا تخلو الأرض من حجة، ولا ندري: من ولده؟ أم من ولد غيره؟
(Firqah) kesepuluh yang berpendapat bahwa kami (Syiah) telah mengetahui bahwasanya al-Hasan telah meninggal, namun manusia membutuhkan seorang Imam dikarenakan bumi tidak boleh kosong dari Hujjah (Imam). Akan tetapi, kami tidak mengetahui (apakah Imamah) berasal dari anaknya atau dari selain anaknya?

الحادية عشرة: فرقة توقفت في هذا التخابط وقالت: لا ندري على القطع حقيقة الحال،
(Firqah) kesebelas adalah firqah yang bertawaquf (tidak berkomentar) mengenai permasalahan tersebut dengan mengatakan bahwa kami (Syiah) tidak mengetahui permasalahan yang sebenarnya.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/172, Imam asy-Syahrastani]

4- الغالية:
هؤلاء هم الذين غلوا في حق أئمتهم حتى أخرجوهم من حدود الخليقية، وحكموا فيهم بأحكام الإلهية.
4 - (Syiah) al-Ghaliyah
Mereka (Syiah) adalah orang-orang yang Ghuluw dalam menetapkan (sifat) bagi para Imam hingga menghilangkan batas-batas (sifat) kemanusiaan. Mereka (Syiah) menempatkan kedudukan (para Imam) sebagai Ilah.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/173, Imam asy-Syahrastani]

وبدع الغلاة محضورة في أربع: التشبيه، والبداء، والرجعة، والتناسخ. ولهم ألقاب، وبكل بلد لقب، فيقال لهم بأصبهان: الخرمية، والكوذية، وبالري: المزدكية والسنباذية، وبأذربيجان الدقولية. وبموضع المحمرة، وبما وراء النهر: المبيضة.
وهم أحد عشر صنفا.
Bid’ah (Syiah) Ghulat berisi 4 hal, yaitu at-Tasybih, al-Bada’, ar-Raj’ah dan at-Tanasukh. Mereka (Syiah) semua memiliki nama yang berdasarkan dengan negerinya. Mereka (Syiah) yang berada di Ashbahan bernama al-Khuramiyyah dan al-Kudziyyah, sedangkan yang berada di Ray bernama al-Mazdakiyyah dan as-Sanbadziyyah, adapun yang berada di Adzarbaijan bernama ad-Daquliyyah, dan yang berada di al-Muharamah di balik sungai bernama al-Mubidhah. Mereka (Syiah) terdiri dari 11 kelompok.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/173-174, Imam asy-Syahrastani]


Wasiat Nabi Nash Imamah Syiah

"أ" السبائية:
أصحاب عبد الله بن سبإ الذي قال لعلي كرم الله وجهه: أنت، أنت، يعني أنت الإله، فنفاه إلى المدائن. زعموا أنه كان يهوديا فأسلم، وكان في اليهودية يقول في يوشع بن نون وصي موسى عليهما السلام مثل ما قال في علي رضي الله عنه. وهو أول من أظهر القول بالنص بإمامة علي رضي الله عنه ومنه انشعبت أصناف الغلاة.
a. (Syiah) as-Sabaiyyah
(Syiah as-Sabaiyyah) adalah pengikut ‘Abdullah bin Saba’ yang berkata kepada ‘Aliy Karamallahu Wajhah, “Engkau, engkau, yakni engkau adalah Ilah.” Lantas (‘Aliy) mengusirnya ke al-Madain. Ia adalah seorang Yahudi yang masuk Islam. Tatkala masih di dalam agama Yahudi ia berkata mengenai Yusya’ bin Nun menerima Wasiat (sebagai penerus) Musa ‘alaihima Salam, demikian juga ia berkata mengenai ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu. Ia adalah orang yang pertama kali yang berkata bahwa terdapatnya Nash mengenai Imamah ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian terbagi menjadi beberapa (Syiah) Ghulat.

زعم أن عليا حي لم يمت، ففيه الجزء الإلهي، ولا يجوز أن يستولى عليه وهو الذي يجيء في السحاب، والرعد صوته، والبرق تبسمه. وأنه سينزل إلى الأرض بعد ذلك فيملأ الأرض عدلا كما ملئت جورا.
Ia mengklaim bahwasanya ‘Aliy senantiasa hidup dan tidak mati, pada dirinya terdapat unsur Ilahi yang tidak mungkin musnah. Ia berada di awan, dan petir sebagai suaranya, kilat sebagai senyumannya serta ia akan turun ke bumi setelah itu bumi akan dipenuhi dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) dipenuhi dengan ketidakadilan.

وإنما أظهر ابن سبإ هذه المقالة بعد انتقال علي رضي الله عنه واجتمعت عليه جماعة، وهم أول فرقة قالت بالتوقف، والغيبة، والرجعة، وقالت بتناسخ الجزء الإلهي في الأئمة بعد علي رضي الله عنه.
Dan sesungguhnya ‘Abdullah bin Saba’ menyebarkan ajarannya setelah ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu tiada, yang (akhirnya) diterima oleh segerombolan orang. Mereka adalah kelompok (generasi) awal yang menganut at-Tawaquf, al-Ghaibah, ar-Raj’ah, dan at-Tanasukh unsur Ilahiyyah di dalam (tubuh) para Imam sepeninggal ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu.

[Al-Milal wa an-Nihal 1/174, Imam asy-Syahrastani]

"ب" الكاملية:
أصحاب أبي كامل. أكفر جميع الصحابة بتركها بيعة علي رضي الله عنه. وطعن في علي أيضا بتركه طلب حقه،
b. (Syiah) al-Kamiliyyah
(Syiah al-Kamiliyyah) adalah pengikutnya Abu Kamil. Ia mengkafirkan seluruh Shahabat yang tidak berbai’at kepada ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu dan ia juga mencela ‘Aliy dikarenakan (‘Aliy) tidak menuntut haknya.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/174, Imam asy-Syahrastani]

"جـ" العلبائية:
أصحاب العلباء بن ذراع الدوسي. وقال قوم: هو الأسدي. وكان يفضل عليا على النبي صلى الله عليه وسلم
c. (Syiah) al-‘Alabiyyah)
(Syiah al-‘Alabiyyah) adalah pengikutnya al-‘Alaba’ bin Dzar’i ad-Dusiy, dan ia berasal dari al-Asadiy. Ia mengutamakan ‘Aliy di atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/175, Imam asy-Syahrastani]

"د" المغيرية:
أصحاب المغيرة بن سعيد العجلي. ادعى أن الإمامة بعد محمد بن علي بن الحسين في: محمد النفس الزكية بن عبد الله بن الحسن بن الحسن،
d. (Syiah) al-Mughirah
(Syiah al-Mughirah) adalah pengikutnya al-Mughirah bin Sa’id al-‘Ajaliy. Ia mengklaim bahwa Imamah sepeninggal Muhammad bin ‘Aliy bin al-Husain berada pada Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah bin ‘Abdullah bin al-Hasan bin al-Hasan.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/176, Imam asy-Syahrastani]

"هـ" المنصورية:
أصحاب أبي منصور العجلي، وهو الذي عزا نفسه إلى أبي جعفر محمد بن علي الباقر في الأول، فلما تبرأ منه الباقر وطرده
e. (Syiah) al-Manshuriyyah
(Syiah al-Manshuriyyah) adalah pengikutnya Abu Manshur al-‘Ajaliy. Ia pada awalnya menyandarkan dirinya kepada Abu Ja’far Muhammad bin ‘Aliy al-Baqir, namun al-Baqir bertabara’ (berlepas diri) darinya seraya mengusirnya.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/178, Imam asy-Syahrastani]

"و" الخطابية:
أصحاب أبي الخطاب محمد بن أبي زينب الأسدي الأجدع مولى بني أسد، وهو الذي عزا نفسه إلى أبي عبد الله جعفر بن محمد الصادق رضي الله عنه
f. (Syiah) al-Khaththabiyyah
(Syiah al-Khaththabiyyah) adalah pengikutnya Abu al-Khaththab Muhammad bin Abu Zainab al-Asadiy al-Ajda’, budak bani Asad. Ia menyandarkan dirinya kepada Abu ‘Abdullah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq Radhiyallahu ‘anhu.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/179, Imam asy-Syahrastani]

"ز" الكيالية:
أتباع أحمد بن الكيال. وكان من دعاة واحد من أهل البيت بعد جعفر بن محمد الصادق وأظنه من الأئمة المستورين
g. (Syiah) al-Kayaliyyah
(Syiah al-Kayaliyyah) adalah pengikutnya Ahmad bin al-Kayal. Ia merupakan salah satu penyeru kepada Ahlul Bayt sepeninggal Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq. Dan ia diduga (mengklaim) bahwa (Imamah berada padanya) yang merupakan Imam yang Mastur (tersembunyi).
[Al-Milal wa an-Nihal 1/181, Imam asy-Syahrastani]

"ح" الهاشمية:
أصحاب الهاشمين: هشام بن الحكم صاحب المقالة في التشبيه، وهشام بن سالم الجواليقي الذي نسج على منواله في التشبيه.
وكان هشام بن الحكم من متكلمي الشيعة
h. (Syiah) al-Hisyamiyyah
(Syiah al-Hisyamiyyah) adalah pengikut dua al-Hisyam, yaitu Hisyam bin al-Hakam penganut aliran at-Tasybih, dan Hisyam bin Salim al-Juwaliqiy yang (ajarannya) meniru at-Tasybih.
Adapun Hisyam bin al-Hakam adalah termasuk seorang (Pendeta) Syiah.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/184, Imam asy-Syahrastani]

"ط" النعمانية:
أصحاب محمد بن النعمان أبي جعفر الأحوال، الملقب بشيطان الطاق. وهم الشيطانية أيضا.
والشيعة تقول: هو مؤمن الطاق.
i. (Syiah) an-Nu’maniyyah
(Syiah an-Nu’maniyyah) adalah pengikutnya Muhammad bin Nu’man Abu Ja’far al-Ahwal yang dijuluki sebagai Syaithan ath-Thaq dan pengikutnya juga (dijuluki) dengan asy-Syaithaniyyah.
Namun menurut orang-orang Syiah, ia (dijuluki) sebagai Mukmin ath-Thaq.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/186, Imam asy-Syahrastani]

"ي" اليونسية:
أصحاب يونس بن عبد الرحمن القمي مولى آل يقطين.
j. (Syiah) al-Yunusiyyah
(Syiah al-Yunusiyyah) adalah pengikutnya Yunus bin ‘Abdurrahman al-Qummiy, budaknya keluarga Yaqthin.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/188, Imam asy-Syahrastani]

"ك" النصيرية ، والإسحاقية:
من جملة غلاة الشيعة
k. (Syiah) an-Nushairiyyah dan (Syiah) al-Ishaqiyyah
(Syiah an-Nushairiyyah dan Syiah al-Ishaqiyyah) adalah termasuk Syiah Ghulat.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/188, Imam asy-Syahrastani]

5- الإسماعيلية:
بإثبات الإمامة لإسماعيل بن جعفر. وهو ابنه الأكبر المنصوص عليه
5 – (Syiah) al-Isma’iliyyah
(Syiah al-Isma’iliyyah) menetapkan Imamah berada pada Isma’il bin Ja’far dan ia adalah anaknya yang paling tua yang (Imamah)-nya berdasarkan Nash.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/191, Imam asy-Syahrastani]

وأشهر ألقابهم: الباطنية،
ولهم ألقاب كثيرة سوى هذه على لسان قوم قوم:
فبالعراق يسمون: الباطنية، والقرامطة، والمزدكية.
وبخراسان: التعليمية، والملحدة
Nama (Syiah al-Isma’iliyyah) yang masyhur adalah (Syiah) al-Bathiniyyah.
Dan banyak lagi nama (Syiah al-Isma’iliyyah) lainnya yang berdasarkan daerahnya, diantaranya yaitu :
Di Irak dinamakan dengan (Syiah) al-Bathiniyyah, (Syiah) al-Qaramithah, dan (Syiah) al-Mazdakiyyah.
Di Khurasan dinamakan dengan (Syiah) at-Ta’limiyyah dan (Syiah) al-Mulhidah.
[Al-Milal wa an-Nihal 1/192 dengan sedikit diringkas, Imam asy-Syahrastani]

Lihatlah! Firqah-firqah Syiah di atas yang saling mengklaim bahwasanya merekalah yang di-Nashkan sebagai Imam. Sungguh sangat rapuh kedustaan mereka (Syiah) dalam klaimnya bila dihadapkan dengan fakta historis bahwa Syiah saling berselisih dan berpecah-belah dalam mengklaim Nash Imamah. Dan Ahlul Bayt pun berlepas diri dari klaim bathil mereka (Syiah).