Monday, December 28, 2015

// // Leave a Comment

Imam Mashum Syiah Nabi Agama Imamiyyah [Goresan Pena Tanya Syiah Part 27]

Imam Mashum Syiah Nabi Agama Imamiyyah

Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat mengklaim bahwasanya para Imam Syiah adalah Ma’shum, yakni tidak pernah lupa dan tersalah serta terbebas dari dosa, baik dosa besar ataupun dosa kecil. Mereka (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) menisbatkan ajarannya kepada Ahlul Bayt, namun Ahlul Bayt berlepas diri dari mereka.

Mereka (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) hendak menempatkan para Imam Syiah sebagai Nabi, meskipun mereka tidak menyebutnya sebagai Nabi. Bahkan mereka (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) mengklaim bahwa para Imam Syiah memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada para Nabi. Dan lebih dari itu, mereka (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) juga mengklaim bahwasanya para Pendeta Besarnya memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada Nabi-Nabi Bani Israil, dikarenakan mereka telah menerima Ilmu dari para Imam al-Ma’shum.

وَقَدْ اتَّفَقَ سَلَفُ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا وَسَائِرُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى أَنَّ الْأَنْبِيَاءَ أَفْضَلُ مِنْ الْأَوْلِيَاءِ الَّذِينَ لَيْسُوا بأنبياء
Salaful Ummah dan para Imam serta para Wali Allah Ta’ala lainnya telah sepakat bahwasanya para Nabi adalah lebih utama daripada para Wali yang bukan Nabi.
[Majmu’ al-Fatawa 11/221, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

Allah Ta’ala telah berfirman bahwasanya para Nabi adalah lebih utama di atas umat manusia.

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (83)
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabb-mu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-An’aam : 83]

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (84)
Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [QS. Al-An’aam : 84]

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ (85)
Zakariya, Yahya, ‘Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih. [QS. Al-An’aam : 85]

وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ (86)
Dan Isma’il, Ilyasa’, Yunus, dan Luth masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat. [QS. Al-An’aam : 86]

وَهُوَ أَنَّ الْأَنْبِيَاءَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ مَعْصُومُونَ فِيمَا يُخْبِرُونَ بِهِ عَنْ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَفِي تَبْلِيغِ رِسَالَاتِهِ بِاتِّفَاقِ الْأُمَّةِ وَلِهَذَا وَجَبَ الْإِيمَانُ بِكُلِّ مَا أُوتُوهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى
Bahwasanya para Nabi Shalawatullah ‘alaihim adalah orang-orang yang Ma’shum mengenai apa yang dikhabarkan oleh mereka (para Nabi) dari Allah Subhanah dalam menyampaikan risalah-Nya dengan kesepakatan umat. Oleh karena itu, (Allah) mewajibkan Iman terhadap setiap apa yang dibawa oleh (Nabi) sebagaimana firman-Nya Ta’ala,

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إلَى إبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Katakanlah (hai orang-orang Mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” [QS. Al-Baqarah : 136]

[Majmu’ al-Fatawa 10/289-290, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

وَلَا نِزَاعَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ أَنَّ الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعْصُومٌ فِيمَا بَلَّغَهُ عَنْ اللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ مَعْصُومٌ فِيمَا شَرَعَهُ لِلْأُمَّةِ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ
Kaum Muslimin tidak berbeda pendapat bahwasanya Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah seorang yang Ma’shum mengenai apa yang disampaikan oleh beliau dari Allah Ta’ala. Sehingga beliau adalah seorang yang Ma’shum mengenai apa yang disyari’atkan oleh beliau kepada umat ini dengan Ijma’ (kesepakatan) kaum Muslimin.
[Majmu’ al-Fatawa 33/28, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا} [سُورَةُ النِّسَاءِ: 59]
Firman-Nya Ta’ala,
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (yakni Al-Qur’an) dan Rasul (yakni Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. An-Nisaa’ : 59]

فَأَمَرَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ التَّنَازُعِ بِالرَّدِّ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ، وَلَوْ كَانَ لِلنَّاسِ مَعْصُومٌ غَيْرُ الرَّسُولِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَأَمَرَهُمْ بِالرَّدِّ إِلَيْهِ ، فَدَلَّ الْقُرْآنُ عَلَى أَنَّهُ لَا مَعْصُومَ إِلَّا الرَّسُولُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -
Allah telah memerintahkan orang-orang Mukmin yang berlainan pendapat agar mengembalikannya kepada Allah dan Rasul. Seandainya terdapat seseorang yang Ma’shum di antara manusia selain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka niscaya (Allah) sudah memerintahkan mereka untuk mengembalikan kepadanya. Jadi Al-Qur’an telah menunjukkan bahwasanya tidak ada yang Ma’shum selain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
[Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 3/381, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

هؤلاء الروافض -والعياذ بالله- لهم أصول معروفة عندهم، ومن أقبح أصولهم: الإمامة التي تتضمن عصمة الإمام، وأنه لا يقول خطأ، وأن مقام الإمامة أرفع من مقام النبوة؛ لأن الإمام يتلقى عن الله مباشرة، والنبي بواسطة الرسول، وهو جبريل،
(Syiah) Rafidhah –Wal ‘Iyadzubillah- memiliki ushul yang ma’ruf di sisi mereka. Dan di antara ushul mereka yang paling buruk adalah mengenai Imamah yang mencakup ke-Ma’shuman bagi para Imam, dan sesungguhnya (Imam Ma’shum) tidak pernah berkata salah. Sedangkan kedudukan Imamah adalah lebih tinggi daripada kedudukan Nubuwwah (Nabi), dikarenakan para Imam bertemu dengan Allah secara langsung, adapun Nabi melalui perantaraan utusan, yaitu Jibril.

[Majmu’ Fatawa wa Rasail 8/447, Syaikh ‘Utsaimin]

Sehingga Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat telah menyelisihi Al-Qur’an yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wahyukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yakni dengan menetapkan keutamaan para Imam Syiah di atas para Nabi.

نقطع بتكفير غلاة الرافضة فِي قولهم إنّ الْأَئِمَّة أفضل مِن الْأَنْبِيَاء
Kami menetapkan dengan kekafiran bagi Ghulat Rawafidh (Syiah Rafidhah) yang mengatakan bahwasanya para Imam adalah lebih utama daripada para Nabi.
[Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa 2/290, Imam al-Qadhi ‘Iyadh]

Mereka (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) sangat Ghuluw terhadap Ahlul Bayt dengan menyatakan ke-Ma’shuman bagi Ahlul Bayt, serta mengeluarkan isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari ruang lingkup Ahlul Bayt.

وأهل بيته في الأصل هم " نساؤه صلى الله عليه وسلم وفيهن الصديقة عائشة رضي الله عنهن جميعا كما هو صريح قوله تعالى في ( الأحزاب)
Ahlul Bayt pada asalnya adalah isteri-isteri beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan di antara (isteri-isteri Nabi) adalah ash-Shiddiqah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhunna jami’an sebagaimana secara (sharih) jelas (disebutkan) di dalam firman-Nya Ta’ala, yakni di dalam surat Al-Ahzaab.
[Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 4/359, Syaikh al-Albani]

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32)
Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. [QS. Al-Ahzaab : 32]

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [QS. Al-Ahzaab : 33]

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا (34)
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Ahzaab : 34]

وتخصيص الشيعة (أهل البيت) في الآية بعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم دون نسائه صلى الله عليه وسلم من تحريفهم لآيات الله تعالى انتصارا لأهوائهم كما هو مشروح في موضعه، وحديث الكساء وما في معناه غاية ما فيه توسيع دلالة الآية ودخول علي وأهله فيها كما بينه الحافظ ابن كثير وغيره،
Syiah mengkhususkan Ahlul Bayt di dalam ayat tersebut (di atas) hanya sebatas ‘Aliy, Fathimah dan al-Hasan serta al-Husain Radhiyallahu ‘anhum saja tanpa menyertakan isteri-isteri beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, itu adalah merupakan penyimpangan mereka terhadap ayat-ayat Allah Ta’ala dalam rangka membantu hawa nafsu mereka (Syiah), sebagaimana yang akan dijelaskan pada tempatnya. Adapun hadits al-Kisa’ dan yang semakna dengannya, tujuannya adalah dalam rangka perluasan penunjukkan ayat dengan memasukkan ‘Aliy dan keluarganya ke dalam (ayat tersebut) sebagaimana yang telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dan selainnya.
[Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 4/359-360, Syaikh al-Albani]

وَقَوْلُهُ: {وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ} ، نَهَاهُنَّ أَوَّلًا عَنِ الشَّرِّ ثُمَّ أَمَرَهُنَّ بِالْخَيْرِ، مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ -وَهِيَ: عِبَادَةُ اللَّهِ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ -وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَهِيَ: الْإِحْسَانُ إِلَى الْمَخْلُوقِينَ،
Firman-Nya, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” Pada awal (ayat), (Allah) melarang mereka (isteri-isteri Nabi) berbuat keburukan. Kemudian (Allah) memerintahkan mereka (isteri-isteri Nabi) untuk berbuat kebaikan, seperti mendirikan shalat yang merupakan penghambaan kepada Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan menunaikan zakat yang merupakan perbuatan ihsan kepada makhluk.
[Tafsir Ibnu Katsir 6/410]

وَقَوْلُهُ: {إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا}
Firman-Nya, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

وَهَذَا نَصٌّ فِي دُخُولِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ الْبَيْتِ هَاهُنَا؛ لِأَنَّهُنَّ سَبَبُ نُزُولِ هَذِهِ الْآيَةِ
Nash ini menyatakan masuknya isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai Ahlul Bayt, dikarenakan merekalah (isteri-isteri Nabi) yang menjadi penyebab turunnya ayat ini.

[Tafsir Ibnu Katsir 6/410]

وَرَوَى ابْنُ جَرِيرٍ: عَنْ عِكْرِمة أَنَّهُ كَانَ يُنَادِي فِي السُّوقِ: {إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا} ، نَزَلَتْ فِي نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاصَّةً
Ibnu Jarir meriwayatkan dari ‘Ikrimah bahwa ia menyeru di pasar (dengan membaca ayat), “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Diturunkan kepada isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam secara khusus.

وَهَكَذَا رَوَى ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ قَالَ:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَرْبٍ الْمَوْصِلِيُّ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَاب، حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ يَزِيدَ النَّحْوِيِّ، عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: {إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ} قَالَ: نَزَلَتْ فِي نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خاصة
Demikian pula apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, ia berkata, ‘Aliy bin Harb al-Maushiliy telah menceritakan kepada kami, Zaid bin al-Hubab telah menceritakan kepada kami, Husain bin Waqid telah menceritakan kepada kami, dari Yazid an-Nahwiy, dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman-Nya, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt.” Ia berkata, “Diturunkan kepada isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam secara khusus.”

وَقَالَ عِكْرِمَةُ: مَنْ شَاءَ بَاهَلْتُهُ أَنَّهَا نَزَلَتْ فِي أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
‘Ikrimah berkata, “Barangsiapa yang bersedia, marilah bermubahalah. Sesungguhnya (ayat tersebut) turun kepada isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

فَإِنْ كَانَ الْمُرَادُ أَنَّهُنَّ كُنّ سَبَبَ النُّزُولِ دُونَ غَيْرِهِنَّ فَصَحِيحٌ، وَإِنْ أُرِيدَ أَنَّهُنَّ الْمُرَادُ فَقَطْ دُونَ غَيْرِهِنَّ، فَفِي هَذَا نَظَرٌ؛ فَإِنَّهُ قَدْ وَرَدَتْ أَحَادِيثُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ أَعَمُّ مِنْ ذَلِكَ
Jika yang dimaksudkan bahwa mereka (isteri-isteri Nabi) yang menjadi penyebab turunnya (ayat tersebut) bukan selainnya, maka itulah yang Shahih. Adapun jika yang dimaksud bahwa mereka (isteri-isteri Nabi) saja yang dituju (oleh ayat tersebut) bukan selainnya, maka (pendapat) tersebut harus diteliti kembali. Dikarenakan terdapat hadits-hadits yang menunjukkan bahwa pengertiannya adalah lebih luas.

[Tafsir Ibnu Katsir 6/410-411]

ثُمَّ الَّذِي لَا يَشُكُّ فِيهِ مَنْ تَدَبَّر الْقُرْآنَ أَنَّ نِسَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَاخِلَاتٌ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا} ، فَإِنَّ سِيَاقَ الْكَلَامِ مَعَهُنَّ
Kemudian tidak ada keraguan di dalamnya jika kita mentadabburi Al-Qur’an bahwasanya isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam termasuk di dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Dikarenakan konteks firman (Allah) tersebut sedang (menyeru) mereka (isteri-isteri Nabi).

وَلِهَذَا قَالَ تَعَالَى بَعْدَ هَذَا كُلِّهِ: {وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ} أَيِ: اعْمَلْنَ بِمَا يُنْزِلُ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ. قَالَهُ قَتَادَةُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ،
Oleh karena itu, setelah (ayat) ini (Allah) Ta’ala berfirman, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu).” Yakni, amalkanlah apa yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya di rumah-rumah kalian berupa Al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah dan selainnya.

وَاذْكُرْنَ هَذِهِ النِّعْمَةَ الَّتِي خُصِصْتُنَّ بِهَا مِنْ بَيْنِ النَّاسِ، أَنَّ الْوَحْيَ يَنْزِلُ فِي بُيُوتِكُنَّ دُونَ سَائِرِ النَّاسِ، وَعَائِشَةُ [الصِّدِّيقَةُ] بِنْتُ الصِّدِّيقِ أَوْلاهُنَّ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ، وَأَحْظَاهُنَّ بِهَذِهِ الْغَنِيمَةِ، وَأَخَصَّهُنَّ مِنْ هَذِهِ الرَّحْمَةِ الْعَمِيمَةِ، فَإِنَّهُ لَمْ يَنْزِلْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الوحيُ فِي فِرَاشِ امْرَأَةٍ سِوَاهَا، كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ
Ingatlah nikmat yang (Allah) tentukan secara khusus bagi (isteri-isteri Nabi) di antara manusia, yaitu berupa wahyu yang diturunkan di rumah-rumah kalian bukan selainnya. Adalah ‘Aisyah ash-Shiddiqah binti ash-Shiddiq yang merupakan wanita yang paling banyak dalam meraih nikmat tersebut, serta wanita yang paling khusus dalam meraih rahmat yang tiada taranya. Dikarenakan tidak ada wahyu yang turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di tempat tidur isteri beliau selain (di tempat tidurnya ‘Aisyah), sebagaimana yang dinyatakan oleh beliau Shalawatullah wa Salamuhu ‘alaihi.

[Tafsir Ibnu Katsir 6/415]

وَلَكِنْ إِذَا كَانَ أَزْوَاجُهُ من أهل بَيْتِهِ، فَقَرَابَتُهُ أَحَقُّ بِهَذِهِ التَّسْمِيَةِ
Apabila isteri-isteri beliau adalah Ahlul Bayt beliau, maka kerabat beliau lebih berhak untuk dinamakan (Ahlul Bayt).
[Tafsir Ibnu Katsir 6/415-416]

قوله تعالى: (وأقمن الصلاة وآتين الزكاة وأطعن الله ورسوله) أي فيما أمر ونهى (إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت) قال الزجاج: قيل يراد به نساء النبي صلى الله عليه وسلم وقيل: يراد به نساؤه وأهله الذين هم أهل بيته
Firman-Nya Ta’ala, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” Yakni, (mentaati) perintah dan (menjauhi) larangan. “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt.” Az-Zujaz berkata, “Yang dimaksud adalah isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” Namun (ada yang mengatakan) bahwa yang dimaksud adalah isteri-isteri beliau dan keluarganya yang merupakan Ahlul Bayt beliau.
[Tafsir al-Qurthubi 14/182]

قوله تعالى:" واذكرن ما يتلى في بيوتكن من آيات الله والحكمة" هذه الألفاظ تعطي أن أهل البيت نساؤه. وقد اختلف أهل العلم في أهل البيت، من هم؟
Firman-Nya Ta’ala, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu).” Lafazh (ayat) ini menyatakan bahwa Ahlul Bayt itu adalah isteri-isteri beliau (Nabi). Namun Ahlul Ilmu berselisih mengenai siapa saja mereka yang termasuk Ahlul Bayt?

فقال عطاء وعكرمة وابن عباس: هم زوجاته خاصة، لا رجل معهن. وذهبوا إلى أن البيت أريد به مساكن النبي صلى الله عليه وسلم، لقوله تعالى:" واذكرن ما يتلى في بيوتكن".
‘Atha’, ‘Ikrimah dan Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa (Ahlul Bayt) dikhususkan bagi isteri-isteri beliau (Nabi), yang di mana tidak adanya laki-laki di dalamnya. Mereka juga berpendapat bahwa yang dimaksud al-Bayt di sini adalah tempat tinggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yakni dengan firman-Nya Ta’ala, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu.”

وقالت فرقة منهم الكلبي: هم علي وفاطمة والحسن والحسين خاصة، وفي هذا أحاديث عن النبي عليه السلام، واحتجوا بقوله تعالى:" ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم"
Berkata sekelompok lainnya, yakni seperti al-Kalbiy, berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ‘Aliy, Fathimah, al-Hasan dan al-Husain secara khusus, yang terdapat di dalam hadits-hadits Nabi ‘alaihi Salam. Dan diperkuat dengan firman-Nya Ta’ala, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu.”

بالميم ولو كان للنساء خاصة لكان" عنكن ويطهركن"، إلا أنه يحتمل أن يكون خرج على لفظ الأهل، كما يقول الرجل لصاحبه: كيف أهلك، أي امرأتك ونساؤك، فيقول: هم بخير
Yakni dengan mim (dhamir kum [كُمْ]), seandainya dikhususkan bagi isteri-isteri (Nabi) maka akan menggunakan nun (dhamir kunna [كُنَّ] yaitu menjadi, [عنكن ويطهركن]. Mungkin saja ia tidak berlaku bagi lafazh Ahlu, sebagaimana pertanyaan seorang laki-laki kepada sahabatnya, “Bagaimana keadaan keluargamu [أهلك].” Yakni isteri-isterimu dan wanita-wanitamu (mu’annats). Niscaya ia akan menjawab, “Mereka [هم] baik-baik saja.” (bukan menggunakan dhamir mu’annatas yakni [هُنَّ], namun menggunakan dhamir mudzakkar yaitu [هم]).

قال الله تعالى:" أتعجبين من أمر الله رحمت الله وبركاته عليكم أهل البيت" [هود: «1» ] 73. والذي يظهر من الآية أنها عامة في جميع أهل البيت من الأزواج وغيرهم. وإنما قال:" ويطهركم" لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم وعليا وحسنا وحسينا كان فيهم، وإذا اجتمع المذكر والمؤنث غلب المذكر، فاقتضت الآية أن الزوجات من أهل البيت، لأن الآية فيهن، والمخاطبة لهن يدل عليه سياق الكلام. والله أعلم.
Allah Ta’ala berfirman, “(Para Malaikat itu berkata): “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu [عليكم], hai Ahlul Bayt.” [QS. Hud : 73]
Yang nampak dari ayat ini adalah (bersifat) umum untuk seluruh Ahlul Bayt, yakni isteri-isteri dan selainnya. Adapun firman-Nya, [ويطهركم] (penggunaan dhamir kum [كُمْ]) dikarenakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘Aliy, Hasan dan Husain termasuk di dalamnya. Apabila mudzakkar dan mu’annats (disebutkan) secara bersamaan, maka yang diunggulkan adalah mudzakkar. Ayat ini menunjukkan bahwa isteri-isteri (Nabi) adalah termasuk Ahlul Bayt, dikarenakan ayat ini berkaitan dengan mereka (isteri-isteri Nabi). Dan seruan dalam konteks ayat tersebut adalah ditujukan untuk mereka (isteri-isteri Nabi). -Wallahu a’lam-

أما أن أم سلمة قالت: نزلت هذه الآية في بيتي، فدعا رسول الله صلى الله عليه وسلم عليا وفاطمة وحسنا وحسنا، فدخل معهم تحت كساء خيبري وقال: (هؤلاء أهل بيتي) - وقرأ الآية- وقال: (اللهم أذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا)
Ummu Salamah pernah berkata, “Ayat ini turun di rumahku, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memanggil ‘Aliy, Fathimah, Hasan dan Husain, seraya menyelimuti mereka dengan Kisa’ Khaibar seraya bersabda, “Mereka ini adalah Ahlul Bayt-ku.” Lalu beliau membaca ayat (QS. Al-Ahzaab : 33) dan berdoa, “Ya Allah, hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka dengan sebersih-bersihnya.”

فقالت أم سلمة: وأنا معهم يا رسول الله؟ قال: (أنت على مكانك وأنت على خير)
Lantas Ummu Salamah berkata, “Apakah aku juga bersama mereka wahai Rasulullah?” Lalu beliau bersabda, “Engkau berada pada tempatmu, dan engkau akan berada pada kebaikan.”

أخرجه الترمذي وغيره وقال: هذا حديث غريب.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya, ia berkata, “Hadits ini Gharib.”

وقال القشيري: وقالت أم سلمة أدخلت رأسي في الكساء وقلت: أنا منهم يا رسول الله؟ قال: (نعم).
Al-Qusyairiy berkata, Ummu Salamah berkata, “Aku memasukkan kepalaku di dalam Kisa’ tersebut seraya berkata, “Apakah aku juga termasuk wahai Rasulullah?” Lalu beliau pun menjawab, “Iya.”

[Tafsir al-Qurthubi 14/182-183]

Ada pula riwayat dengan sanad Hasan yang sangat penting untuk diketahui, yang menunjukkan bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha masuk ke kain tersebut setelah orang-orang yang berselimut itu keluar darinya. Bisa jadi riwayat ini memberikan pengertian bahwa Ummu Salamah tidak boleh berada dalam satu selimut bersama ‘Aliy bin Abi Thalib, hingga kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memasukkannya ke kain itu setelah orang-orang yang berselimut itu keluar darinya.

Diriwayatkan dari Syahr, ia mengatakan:

سَمِعْتُ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ جَاءَ نَعْيُ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ لَعَنَتْ أَهْلَ الْعِرَاقِ فَقَالَتْ: قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ، غَرُّوهُ وَذَلُّوهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ،
Aku mendengar Ummu Salamah, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ketika mendengar berita kematian al-Husain bin ‘Aliy, ia melaknat penduduk Irak seraya mengatakan, “Mereka membunuhnya, semoga Allah melaknat mereka. Mereka menyerang dan menghinakannya, semoga Allah melaknat mereka.

فَإِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَتْهُ فَاطِمَةُ غُدَيَّةً بِبُرْمَةٍ قَدْ صَنَعَتْ لَهُ فِيهَا عَصِيدَةً، تَحْمِلُهَا فِي طَبَقٍ لَهَا حَتَّى وَضَعَتْهَا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَقَالَ لَهَا: «أَيْنَ ابْنُ عَمِّكِ؟» قَالَتْ: هُوَ فِي الْبَيْتِ، قَالَ: «اذْهَبِي فَادْعِيهِ، وَائْتِينِي بِابْنَيْهِ» ،
Sebab, aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam didatangi oleh Fathimah yang membawa bubur dalam kuali batu, lalu ditaruh di piringnya, kemudian hidangannya tersebut diletakkannya di hadapan beliau. (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) bertanya, “Mana sepupumu (yakni suaminya, ‘Aliy bin Abi Thalib)?” (Fathimah) menjawab, “Ia di rumah.” Beliau bersabda, “Pergi dan panggillah ia kemari bersama kedua putranya (al-Hasan dan al-Husain).”

قَالَتْ: فَجَاءَتْ تَقُودُ ابْنَيْهَا كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِيَدٍ، وَعَلِيٌّ يَمْشِي فِي أَثَرِهِمَا، حَتَّى دَخَلُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَجْلَسَهُمَا فِي حِجْرِهِ، وَجَلَسَ عَلِيٌّ عَلَى يَمِينِهِ، وَجَلَسَتْ فَاطِمَةُ عَلَى يَسَارِهِ،
Fathimah datang kembali dengan menggandeng kedua putranya, sedangkan ‘Aliy berjalan di belakang mereka, hingga sampai di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian beliau memangku kedua cucunya itu, sedangkan 'Aliy duduk di sebelah kanan beliau sementara Fathimah di sebelah kiri beliau.

قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: فَاجْتَبَذَ كِسَاءً خَيْبَرِيًّا كَانَ بِسَاطًا لَنَا عَلَى الْمَنَامَةِ فِي الْمَدِينَةِ، فَلَفَّهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيعًا، فَأَخَذَ بِشِمَالِهِ طَرَفَيِ الْكِسَاءِ، وَأَلْوَى بِيَدِهِ الْيُمْنَى إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ أَهْلُ بَيْتِي أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا، اللَّهُمَّ أَهْلِي أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا، اللَّهُمَّ أَهْلُ بَيْتِي أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا» ،
Selanjutnya beliau menghela selembar kain sangat lebar dari Khaibar yang biasa dijadikan alas tidur kami di Madinah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyelubungi mereka dengan memegangi kedua ujung kain tersebut dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya ditengadahkan untuk berdoa kepada Rabb-nya Yang Mahaagung lagi Mahamulia, “Ya Allah, mereka adalah Ahlul Bayt-ku, hilangkanlah kotoran dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.” (sebanyak 3x)

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَسْتُ مِنْ أَهْلِكَ؟ قَالَ: «بَلَى، فَادْخُلِي فِي الْكِسَاءِ» ، قَالَتْ: فَدَخَلْتُ فِي الْكِسَاءِ بَعْدَمَا قَضَى دُعَاءَهُ لِابْنِ عَمِّهِ عَلِيٍّ وَابْنَيْهِ وَابْنَتِهِ فَاطِمَةَ
Maka, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah aku termasuk keluargamu?” Beliau menjawab, “Tentu saja. Masuklah ke dalam kain ini.” Aku pun masuk ke dalam kain itu seusai beliau mendoakan sepupunya (yakni) 'Aliy serta kedua putranya, dan putrinya (yakni) Fathimah.”

[Fadha’il ash-Shahabah no.1170 dengan sanad Hasan, Imam Ahmad bin Hanbal]
[Khawarij & Syiah dalam Timbangan Ahlu Sunnah wal Jama’ah 195-196, Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi]

وقال الثعلبي: هم بنو هاشم، فهذا يدل على أن البيت يراد به بيت النسب، فيكون العباس وأعمامه وبنو أعمامه منهم.
Ats-Tsa’labiy berkata, “Mereka (Ahlul Bayt) adalah bani Hasyim.” Dengan demikian yang dimaksud al-Bayt adalah Bayt an-Nasab, sehingga al-‘Abbas dan paman hingga anak-anak pamannya adalah termasuk (Ahlul Bayt).

وروي نحوه عن زيد بن أرقم رضي الله عنهم أجمعين
Terdapat riwayat yang serupa yang berasal dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

وعلى قول الكلبي يكون قوله:" واذكرن" ابتداء مخاطبة الله تعالى، أي مخاطبة أمر الله عز وجل أزواج النبي صلى الله عليه وسلم، على جهة الموعظة وتعديد النعمة بذكر ما يتلى في بيوتهن من آيات الله تعالى والحكمة.
Menurut pendapat al-Kalbiy mengenai firman-Nya, “Dan ingatlah.” (Ayat tersebut) adalah merupakan awal seruan Allah Ta’ala, yakni seruan perintah Allah ‘Azza wa Jalla kepada isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk memperingatkan serta menghitung nikmat dengan mengingat ayat-ayat Allah Ta’ala dan al-Hikmah yang telah dibacakan dan di rumah-rumah mereka (isteri-isteri Nabi).

قال أهل العلم بالتأويل:" آيات الله" القرآن. و" الحكمة" السنة.
Para Ahli Takwil (Tafsir) berkata, “Ayat-ayat Allah.” (Tafsirnya) adalah Al-Qur’an. Dan, “Hikmah.” (Tafsirnya) adalah as-Sunnah.

والصحيح أن قوله:" واذكرن" منسوق على ما قبله. وقال" عنكم" لقوله" أهل" فالأهل مذكر، فسماهن وإن كن إناثا باسم التذكير فلذلك صار" عنكم".
Yang Shahih mengenai firman-Nya, “Dan ingatlah.” Yakni adalah masih satu rangkaian dengan (ayat) sebelumnya. Sedangkan firman-Nya [عنكم] (menggunakan dhamir kum [كُمْ]) adalah (tempat kembalinya) berada pada firman-Nya [أهل] (yaitu [عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ]), sedangkan Ahlu adalah mudzakkar, meskipun maknanya adalah mu’annats namun berisim mudzakkar, sehingga berubah menjadi [عنكم].

ولا اعتبار بقول الكلبي وأشباهه، فإنه توجد له أشياء في هذا التفسير ما لو كان في زمن السلف الصالح لمنعوه من ذلك وحجروا عليه.
Pendapat al-Kalbiy dan para sahabatnya adalah tidak dianggap. Seandainya pendapat dalam penafsiran tersebut didapati pada zaman Salaf ash-Shalih, maka niscaya mereka akan menolaknya dan meninggalkannya.

فالآيات كلها من قوله:" يا أيها النبي قل لأزواجك"- إلى قوله-" إن الله كان لطيفا خبيرا" منسوق بعضها على بعض، فكيف صار في الوسط كلاما منفصلا لغيرهن!
Karena ayat-ayat tersebut (bermula) dari firman-Nya,

يا أيها النبي قل لأزواجك
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu.” [QS. Al-Ahzaab : 28]
Hingga firman-Nya,

إن الله كان لطيفا خبيرا
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Ahzaab : 34]
(QS. Al-Ahzaab : 28,29,30,31,32,33,34) adalah satu rangkaian yang berkaitan antara satu sama lain. Lalu bagaimana mungkin terjadi, yaitu terdapat kalimat di tengah-tengahnya membahas yang tidak ada kaitannya dengan mereka (isteri-isteri Nabi)!

وإنما هذا شي جرى في الأخبار أن النبي عليه السلام لما نزلت عليه هذه الآية دعا عليا وفاطمة والحسن والحسين، فعمد النبي صلى الله عليه وسلم إلى كساء فلفها عليهم، ثم ألوى بيده إلى السماء فقال: (اللهم هؤلاء أهل بيتي اللهم أذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا).
Adapun mengenai khabar bahwasanya Nabi ‘alaihi Salam, tatkala diturunkannnya ayat ini kepada beliau, maka beliau memanggil ‘Aliy, Fathimah, al-Hasan dan al-Husain. Lantas Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Sallam menyelimuti mereka dengan Kisa’, kemudian berdoa, “Ya Allah, mereka adalah Ahlul Bayt-ku. Ya Allah, hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.”

فهذه دعوة من النبي صلى الله عليه وسلم لهم بعد نزول الآية، أحب أن يدخلهم في الآية التي خوطب بها الأزواج، فذهب الكلبي ومن وافقه فصيرها لهم خاصة، وهي دعوة لهم خارجة من التنزيل.
Doa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam kepada mereka adalah setelah turunnya ayat. Beliau menginginkan untuk memasukkan mereka ke dalam ayat yang ditujukan bagi isteri-isteri (Nabi). Lalu bagaimana mungkin al-Kalbiy dan lainnya berpendapat bahwa (ayat) tersebut khusus bagi mereka saja, padahal doa untuk mereka (menginformasikan) bahwa mereka tidak termasuk dari turunnya ayat tersebut.

[Tafsir al-Qurthubi 14/183-184]

فَالْجَوَابُ مِنْ وَجْهَيْنِ: الْأَوَّلُ: هُوَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ أَنَّ الْآيَةَ الْكَرِيمَةَ شَامِلَةٌ لَهُنَّ وَلِعَلِيٍّ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَفَاطِمَةَ، وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ عَلَى تَغْلِيبِ الذُّكُورِ عَلَى الْإِنَاثِ فِي الْجُمُوعِ وَنَحْوِهَا، كَمَا هُوَ مَعْلُومٌ فِي مَحَلِّهِ.
Adapun jawabannya dapat (dijawab) dari 2 sisi, yaitu :
1. Sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa ayat yang mulia tersebut mencakup mereka (isteri-isteri Nabi), ‘Aliy, al-Hasan, al-Husain dan Fathimah. Para ahli bahasa Arab telah sepakat untuk mengunggulkan mudzakkar di atas mu’annats tatkala disebutkan secara bersamaan. Sebagaimana suatu hal yang maklum (dapat ditemui) di dalam berbagai (ayat).

الْوَجْهُ الثَّانِي: هُوَ أَنْ مِنْ أَسَالِيبِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ الَّتِي نَزَلَ بِهَا الْقُرْآنُ أَنَّ زَوْجَةَ الرَّجُلِ يُطْلَقُ عَلَيْهَا اسْمُ الْأَهْلِ، وَبِاعْتِبَارِ لَفْظِ الْأَهْلِ تُخَاطَبُ مُخَاطَبَةَ الْجَمْعِ الْمُذَكَّرِ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى فِي مُوسَى: فَقَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا [20 \ 10] ، وَقَوْلُهُ: سَآتِيكُمْ [27 \ 7] ، وَقَوْلُهُ: لَعَلِّي آتِيكُمْ [20 \ 10] ، وَالْمُخَاطَبُ امْرَأَتُهُ
2. Di antara uslub bahasa Arab yang di mana Al-Qur’an turun dengannya (bahasa Arab) bahwasanya isteri seseorang juga disebut dengan nama Ahlu. Sehingga ditinjau dari sisi lafazh Ahlu, maka (isteri) dapat diseru dengan seruan kaum mudzakkar, seperti firman-Nya mengenai Musa, “Lalu dia (Musa) berkata kepada Ahlu-nya, Tinggallah kamu (di sini) ([امْكُثُوا] mudzakkar).” [QS. Thaahaa : 10] Dan firman-Nya, “Aku (Musa) kelak akan membawa kepadamu ([سَآتِيكُمْ] mudzakkar).” [QS. An-Naml : 7] Dan juga firman-Nya, “Mudah-mudahan aku (Musa) dapat membawa kepadamu ([آتِيكُمْ] mudzakkar).” [QS. Thaahaa : 10]
Padahal yang diseru (oleh Nabi Musa) adalah isterinya (mu’annats).
[Adhwa’ al-Bayan 6/238, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi]

{إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا} [الأحزاب: 33] لِأَنَّ مَا قَبْلَ الْآيَةِ وَبَعْدَهَا فِي الزَّوْجَاتِ فَأَشْعَرَ ذَلِكَ بِإِرَادَتِهِنَّ وَأَشْعَرَ تَذْكِيرُ الْمُخَاطَبِينَ بِهَا بِإِرَادَةِ غَيْرِهِنَّ
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [QS. Al-Ahzaab : 33]
Dikarenakan sebelum dan sesudah ayat tersebut berkaitan dengan isteri-isteri (Nabi), maka (ayat tersebut) menginformasikan bahwa yang dimaksud adalah mereka (isteri-isteri Nabi), serta juga menginformasikan bahwa yang dimaksud dengan seruan mudzakkar adalah (ditujukan juga untuk) selain mereka (isteri-isteri Nabi).
[Nail al-Authar 2/336, Imam asy-Syaukani]

[سُورَةُ الْأَحْزَابِ: 30 - 34]
وَيَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَزْوَاجَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، فَإِنَّ السِّيَاقَ إِنَّمَا هُوَ فِي مُخَاطَبَتِهِنَّ ، وَيَدُلُّ عَلَى أَنَّ قَوْلَهُ: {لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ} عَمَّ غَيْرَ أَزْوَاجِهِ، كَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَحَسَنٍ وَحُسَيْنٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ -، لِأَنَّهُ ذَكَرَهُ بِصِيغَةِ التَّذْكِيرِ لَمَّا اجْتَمَعَ الْمُذَكَّرُ وَالْمُؤَنَّثُ،
[QS. Al-Ahzaab : 30-34]
Hal tersebut menunjukkan bahwa isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam adalah Ahlul Bayt beliau. Dikarenakan konteks (ayat) tersebut diserukan untuk mereka (isteri-isteri Nabi). Dan juga menunjukkan bahwa firman-Nya,

لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ
“Hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt.” [QS. Al-Ahzaab : 33]
(Ayat tersebut) mencakup selain isteri-isteri beliau, seperti ‘Aliy, Fathimah, Hasan dan Husain Radhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, (Allah) menyebutkan dengan bentuk mudzakkar tatkala mudzakkar dan mu’annats (disebutkan) secara bersamaan.

[Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 4/23-24, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - دَعَا لَهُمْ بِأَنْ يُذْهِبَ عَنْهُمْ الرِّجْسَ وَيُطَهِّرَهُمْ تَطْهِيرًا. وَغَايَةُ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ دَعَا لَهُمْ بِأَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُتَّقِينَ الَّذِينَ أَذْهَبَ اللَّهُ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرَهُمْ؛ وَاجْتِنَابُ الرِّجْسِ وَاجِبٌ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، وَالطَّهَارَةُ مَأْمُورٌ بِهَا كُلُّ مُؤْمِنٍ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendoakan mereka agar (Allah) menghilangkan dosa dari mereka dan membersihkan mereka sebersih-bersihnya. Tujuannya adalah mendoakan kebaikan bagi mereka untuk menjadi orang-orang yang bertakwa yang Allah hilangkan dosa dari mereka dan membersihkan mereka. Menjauhi dosa adalah wajib bagi orang-orang Mukmin dan thaharah (bersuci) adalah diperintahkan bagi setiap Mukmin. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

{مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ} [سُورَةُ الْمَائِدَةِ: 6]
“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” [QS. Al-Maa-idah : 6]

وَقَالَ: {خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا} [سُورَةُ التَّوْبَةِ: 103].
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” [QS. At-Taubah : 103]

وَقَالَ تَعَالَى: {إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ} [سُورَةُ الْبَقَرَةِ: 222].
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” [QS. Al-Baqarah : 222]

فَغَايَةُ هَذَا أَنْ يَكُونَ هَذَا دُعَاءً لَهُمْ بِفِعْلِ الْمَأْمُورِ وَتَرْكِ الْمَحْظُورِ.
وَالصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَدْ أَخْبَرَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَنَّهُ:
Puncak dari perkara ini adalah doa bagi mereka untuk mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Adalah (Abu Bakar) ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu yang Allah khabarkan mengenainya bahwasanya ia (Abu Bakar),

{الْأَتْقَى - الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى - وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى - إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى - وَلَسَوْفَ يَرْضَى} [سُورَةُ اللَّيْلِ 17 - 21].
“Orang yang paling takwa, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabb-nya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” [QS. Al-Lail : 17-21]

وَأَيْضًا فَإِنَّ السَّابِقِينَ الْأَوَّلِينَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
Demikian juga dengan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) (as-Sabiqunal Awwalun) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.

{وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [سُورَةُ التَّوْبَةِ: 100]
“Dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [QS. At-Taubah : 100]

لَا بُدَّ أَنْ يَكُونُوا قَدْ فَعَلُوا الْمَأْمُورَ وَتَرَكُوا الْمَحْظُورَ، فَإِنَّ هَذَا الرِّضْوَانَ وَهَذَا الْجَزَاءَ إِنَّمَا يُنَالُ بِذَلِكَ. وَحِينَئِذٍ فَيَكُونُ ذَهَابُ الرِّجْسِ عَنْهُمْ وَتَطْهِيرُهُمْ مِنَ الذُّنُوبِ بَعْضَ صِفَاتِهِمْ.
Pastinya mereka telah mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Dikarenakan keridhaan dan balasan dapat diraih dengan cara demikian, sehingga hilanglah dosa dari mereka, dan kebersihan mereka dari dosa-dosa adalah merupakan sebagian dari sifat mereka.

فَمَا دَعَا بِهِ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِأَهْلِ الْكِسَاءِ هُوَ بَعْضُ مَا وَصَفَ بِهِ السَّابِقِينَ الْأَوَّلِينَ.
Maka doa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada Ahlul Kisa’ adalah merupakan sebagian dari apa yang (Allah) sifatkan bagi as-Sabiqunal Awwalun.

وَالنَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - دَعَا لِغَيْرِ أَهْلِ الْكِسَاءِ بِأَنْ يُصَلِّيَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَدَعَا لِأَقْوَامٍ كَثِيرِينَ بِالْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الدُّعَاءِ بِذَلِكَ وَلَمْ يَلْزَمْ أَنْ يَكُونَ مَنْ دَعَا لَهُ بِذَلِكَ أَفْضَلَ مِنَ السَّابِقِينَ الْأَوَّلِينَ.
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendoakan juga kepada selain Ahlul Kisa’ agar Allah memberikan shalawat untuk mereka serta mendoakan kaum-kaum yang yang banyak dengan Surga dan pengampunan serta selainnya dari doa-doa yang lebih agung. Namun tidak serta merta menjadikan orang yang didoakan tersebut lebih utama daripada as-Sabiqunal Awwalun.

وَلَكِنَّ أَهْلَ الْكِسَاءِ لَمَّا كَانَ قَدْ أَوْجَبَ عَلَيْهِمِ اجْتِنَابَ الرِّجْسِ وَفِعْلَ التَّطْهِيرِ، دَعَا لَهُمُ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِأَنْ يُعِينَهُمْ عَلَى فِعْلِ مَا أَمَرَهُمْ بِهِ، لِئَلَّا يَكُونُوا مُسْتَحِقِّينَ لِلذَّمِّ وَالْعِقَابِ، وَلِيَنَالُوا الْمَدْحَ وَالثَّوَابَ.
Akan tetapi Ahlul Kisa’ telah diwajibkan atas mereka untuk menjauhi dosa dan mengerjakan (amalan) yang membersihkan. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendoakan mereka agar dapat membantu mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Sehingga mereka tidak menjadi orang yang pantas dicela dan dihukum, namun sebaliknya mereka mendapatkan pujian dan pahala.

[Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 5/14-15, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam selalu mengingatkan Fathimah Radhiyallahu ‘anha untuk senantiasa mendirikan shalat, dikarenakan Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari Ahlul Bayt dan membersihkannya sebersih-bersihnya.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَمُرُّ بِبَيْتِ فَاطِمَةَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْفَجْرِ فَيَقُولُ الصَّلَاةَ يَا أَهْلَ الْبَيْتِ
{ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمْ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا }
Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terbiasa melewati rumahnya Fathimah selama 6 bulan. Tatkala beliau keluar untuk shalat Fajar (Shubuh), maka beliau berseru, “Shalatlah wahai Ahlul Bayt, (seraya membaca firman Allah), “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
[Ahmad no.13231, Hasan : Musnad Imam Ahmad no.13663, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

وَالتَّطْهِيرُ عَنِ الذَّنْبِ إِمَّا بِأَنْ لَا يَفْعَلَهُ الْعَبْدُ، وَإِمَّا بِأَنْ يَتُوبَ مِنْهُ كَمَا فِي قَوْلِهِ: {خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا} [سُورَةُ التَّوْبَةِ: 103]
Adapun pembersihan dosa (dapat dilakukan) oleh seorang hamba dengan tidak mengerjakan (dosa tersebut) dan atau juga dengan bertaubat dari (dosa tersebut), sebagaimana firman-Nya, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” [QS. At-Taubah : 103]
[Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 7/80, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

Sehingga teman-teman dapat mengetahui dengan pasti bahwa pembersihan dosa dapat dilakukan dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya, yaitu dengan mendirikan shalat serta menunaikan zakat, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya pada QS. Al-Ahzaab : 33.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [QS. Al-Ahzaab : 33]

(Adapun) Ihwal para tentara Perang Badar, yang berjumlah tiga ratus tiga belas orang, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ
“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit [لِيُطَهِّرَكُمْ] dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu [رِجْزَ] syaithan.” [QS. Al-Anfaal : 11]

Ayat ini (QS. Al-Anfaal : 11) tidak menetapkan ke-Ma’shuman bagi mereka, meskipun redaksi yang digunakan dalam firman Allah, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan [الرِّجْسَ] dari kamu, hai Ahlul Bayt dan [وَيُطَهِّرَكُمْ] kamu sebersih-bersihnya.” [QS. Al-Ahzaab : 33] tidak berbeda dari redaksi dalam firman Allah mengenai para tentara Perang Badar, “Dan menghilangkan dari kamu [رِجْزَ] syaithan.” [QS. Al-Anfaal : 11]

Kata ar-Rijz dan ar-Rijs mempunyai arti yang sama, yakni kotoran. Penyucian dalam kedua ayat tersebut pun mempunyai pengertian yang sama. Akan tetapi adalah hawa nafsu yang menjadikan ayat pertama sebagai dalil ke-Ma’shuman, sedangkan ayat kedua tidak.

Anehnya, Ulama (Pendeta) Syiah berpegang pada ayat pertama itu dan mengarahkan pengertian penyucian tersebut kepada orang-orang yang berselimut untuk menetapkan ke-Ma’shuman bagi mereka, seraya melupakan kenyataan bahwa beberapa ayat lain juga mengandung penyucian yang dimaksudkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyatakan kesucian para Shahabat. Akan tetapi mereka malah mencaci dan mengkafirkan para Shahabat tersebut. Mereka memusuhi dan mencaci-maki orang-orang yang dinyatakan suci oleh Allah Subahnahu wa Ta’ala dalam firman-Nya.

[Khawarij & Syiah dalam Timbangan Ahlu Sunnah wal Jama’ah 202, Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi]

(Berikut adalah) beberapa bukti bahwa ayat ath-Tathhir dan hadits al-Kisa’ tidak mengandung pengertian Imamah, ataupun ke-Ma’shuman :

Pertama, seandainya ayat ath-Tathhir dan hadits al-Kisa’ tersebut menunjukkan Imamah Amirul Mukminin ‘Aliy bin Abi Thalib, al-Hasan, dan al-Husain, seperti yang diklaim sekelompok orang, berarti Fathimah Radhiyallahu ‘anha juga berhak atas Imamah, dikarenakan ia termasuk di antara orang-orang yang diselimuti kain lebar, padahal salah satu syarat dan ketentuan Imamah adalah bukan perempuan.

Lagipula, andaikan ayat ath-Tathhir dan hadits al-Kisa’ tersebut dijadikan dalil, berarti semua isteri Nabi yang tercakup dalam ayat tersebut berhak atas ke-Ma’shuman dan Imamah, juga Fathimah yang tercakup dalam hadits tersebut.

Di samping itu, seandainya hadits al-Kisa’ dijadikan dalil, berarti kesembilan Imam yang lain harus dicoret dari daftar orang-orang yang berhak atas Imamah dan ke-Ma’shuman. Sebab, hadits tersebut hanya mencakup tiga Imam saja (‘Aliy bin Abi Thalib dan kedua putranya al-Hasan dan al-Husain).

Maka, jelaslah bahwa ayat ath-Tathhir dan hadits al-Kisa’ tersebut tidak menunjukkan pengertian Imamah ataupun ke-Ma’shuman.

[Khawarij & Syiah dalam Timbangan Ahlu Sunnah wal Jama’ah 204, Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi]

Namun Ahlul Bayt yang diklaim oleh Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat sebagai Imam al-Ma’shum, menafsirkan ar-Rijs dengan as-Syak (ragu-ragu). Sebagaimana yang tertera di dalam kitab suci mereka (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat).

عن أبي عبد الله عليه السلام في قول الله عز وجل: " إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا " قال: الرجس هو الشك
معاني الأخبار - الشيخ الصدوق - الصفحة ١٣٨
Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihi Salam mengenai firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan ar-Rijs dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [QS. Al-Ahzaab : 33]
(Abu ‘Abdillah) berkata, “Ar-Rijs (maknanya) adalah as-Syak (ragu-ragu).”
[Ma’aniy al-Akhbar 138, ash-Shaduq Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1148_معاني-الأخبار-الشيخ-الصدوق/الصفحة_232]

Namun Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat malah menetapkan ke-Ma'shuman bagi para Imam Syiah, yakni seperti Ma'shumnya para Nabi 'alaihim Salam.


وثبوت عصمة الأنبياء والأئمة وجوبا عن الكبائر والصغائر. والقول بالتولي والتبري قولا، وفعلا، وعقدا، إلا في حال التقية
(Syiah) menetapkan ke-Ma’shuman bagi para Nabi dan Imam, serta harus (terpelihara) dari dosa-dosa besar dan kecil. Ketentuan tersebut tidaklah boleh ditolak, baik dengan perkataan, perbuatan dan keyakinan, kecuali dalam keadaan Taqiyyah.
[Milal wa an-Nihal 1/146, Imam asy-Syahrastani]

أسامي الأئمة الاثني عشر عند الإمامية:
المرتضى، والمجتبى، والشهيد، والسجاد، والباقر، والصادق، والكاظم، والرضي، والتقي، والنقي، والزكي، والحجة القائم المنتظر
(Adapun) Nama-nama para Imam (Syiah) Itsna ‘Asyariyyah yang (diklaim) oleh (Syiah) al-Imamiyyah di antaranya yaitu :
1. ‘Aliy bin Abi Thalib (al-Murtadha).
2. Al-Hasan bin ‘Aliy (al-Mujtaba).
3. Al-Husain bin ‘Aliy (asy-Syahid).
4. ‘Aliy Zainal ‘Abidin bin al-Husain (as-Sajjad).
5. Muhammad bin ‘Aliy (al-Baqir).
6. Ja’far bin Muhammad (ash-Shadiq).
7. Musa bin Ja’far (al-Kazhim).
8. ‘Aliy bin Musa (ar-Ridha).
9. Muhammad al-Jawad bin ‘Aliy (at-Taqiy).
10. ‘Aliy al-Hadiy bin Muhammad (an-Naqiy).
11. Al-Hasan al-‘Askariy bin ‘Aliy (az-Zakiy).
12. Muhammad bin al-Hasan (al-Hujjah al-Qaim al-Muntazhar).
[Al-Milal wa an-Nihal 1/173, Imam asy-Syahrastani]

Namun para Ahlul Bayt telah berlepas diri dari Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat dalam mengklaim bahwasanya Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat adalah pengikutnya Ahlul Bayt serta menisbatkan diri kepada mereka (Ahlul Bayt).

عَنْ عَلِيٍّ: يَا أَهْلَ العِرَاقِ، أَحِبُّوْنَا حُبَّ الإِسْلاَمِ، وَلاَ تُحِبُّوْنَا حُبَّ الأَصْنَامِ، فَمَا زَالَ بِنَا حُبُّكُم حَتَّى صَارَ عَلَيْنَا شَيْناً
Dari ‘Aliy (Zainal ‘Abidin as-Sajjad yang diklaim sebagai Imam ke-4) (ia berkata), “Wahai (Syiah) Irak, cintailah kami seperti mencintai Islam. Janganlah kalian mencintai kami seperti mencintai berhala, sehingga tidak tersisa lagi kecintaan kalian terhadap kami hingga berubah menjadi cela bagi kami.
[Siyar A’lam an-Nubala’ 4/389-390, al-Hafizh adz-Dzahabi]

أَنَّ جَعْفَرَ بنَ مُحَمَّدٍ أَتَاهُم وَهُم يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَرْتَحِلُوا مِنَ المَدِيْنَةِ، فَقَالَ:
إِنَّكُم - إِنْ شَاءَ اللهُ - مِنْ صَالِحِي أَهْلِ مِصرِكُم، فَأَبلِغُوهُم عَنِّي: مَنْ زَعَمَ أَنِّي إِمَامٌ مَعصُومٌ، مُفتَرَضُ الطَّاعَةِ، فَأَنَا مِنْهُ بَرِيْءٌ، وَمَنْ زَعَمَ أَنِّي أَبْرَأُ مِنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَأَنَا مِنْهُ بَرِيْءٌ
Bahwasanya Ja’far bin Muhammad (ash-Shadiq yang diklaim sebagai Imam ke-6) mendatangi mereka tatkala mereka hendak melakukan perjalanan dari Madinah seraya berkata, “Sesungguhnya kalian –Insya Allah- adalah termasuk dari orang-orang yang shalih bagi kota kalian. Sampaikanlah kepada mereka dariku, yakni barangsiapa yang mengklaim bahwasanya aku adalah seorang Imam yang Ma’shum yang harus ditaati, maka aku bertabara’ (berlepas diri) darinya. Dan barangsiapa yang mengklaim bahwasanya aku bertabara’ (berlepas diri) dari Abu Bakar dan ‘Umar, maka aku bertabara’ (berlepas diri) darinya.”
[Siyar A’lam an-Nubala’ 6/259, al-Hafizh adz-Dzahabi]

فَمَنْ جَعَلَ بَعْدَ الرَّسُولِ مَعْصُومًا يَجِبُ الْإِيمَانُ بِكُلِّ مَا يَقُولُهُ فَقَدْ أَعْطَاهُ مَعْنَى النُّبُوَّةِ، وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ لَفْظَهَا
(Oleh karena itu), barangsiapa yang menjadikan seseorang (menjadi) Ma’shum setelah Rasul, sehingga mewajibkan untuk mengimani setiap perkataannya. Sungguh ia telah memberikannya dengan sebuah makna Nubuwwah (ke-Nabian), meskipun ia tidak memberikannya dengan sebuah lafazh (Nabi).
[Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 6/188, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

Adapun riwayat yang menyatakan bahwa Ulama umat ini seperti Nabi bani Israil adalah tidak memiliki asal-usulnya.

466 - " علماء أمتي كأنبياء بني إسرائيل ".
لا أصل له. باتفاق العلماء
466 – “Ulama umatku seperti para Nabi bani Israil.” (Riwayat tersebut) tidak memiliki asal-usulnya dengan kesepakatan para Ulama.
[Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah 1/679, Syaikh al-Albani]

قال ابْن عقيل الظاهر أن من وضع مذهب الرافضة قصد الطعن فِي أصل الدين والنبوة
Ibnu ‘Aqil berkata, “Nampak sekali bahwasanya yang mendesign madzhab (Syiah) Rafidhah adalah bermaksud untuk mencemarkan Ushuluddin dan Nubuwwah (ke-Nabian).
[Talbis Iblis 1/88, Imam Ibnul Jauzi]

Syiah Rafidhah Ghulat generasi awal, yakni Abdullah bin Saba’, sebelumnya telah memberikan sifat ke-Ma’shuman bagi ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu dengan Ghuluw.

" وَأَصْلُ الرَّفْضِ " مِنْ الْمُنَافِقِينَ الزَّنَادِقَةِ فَإِنَّهُ ابْتَدَعَهُ ابْنُ سَبَأٍ الزِّنْدِيقُ وَأَظْهَرَ الْغُلُوَّ فِي عَلِيٍّ بِدَعْوَى الْإِمَامَةِ وَالنَّصِّ عَلَيْهِ وَادَّعَى الْعِصْمَةَ لَهُ
Dan asal Rafidhah (Syiah) adalah berasal dari kaum munafiq zindiq, sesungguhnya ia (Rafidhah) ciptaannya Ibnu Saba’ az-zindiq yang menampakkan Ghuluw terhadap ‘Aliy dengan mengklaim al-Imamah (hanya milik ‘Aliy) serta terdapat nash mengenainya, dan ia (Ibnu Saba’) juga mengklaim ke-Ma’shuman baginya (‘Aliy).
[Majmu’ al-Fatawa 4/435, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

عن أبي الجلاس سمعت عليا يقول لعبد الله ابن سبأ والله ما أفضى إلي بشيء كتمه أحدا من الناس ولقد سمعت يقول: "إن بين يدي الساعة ثلاثين كذابا وإنك لأحدهم"
Dari Abu al-Jalas, aku mendengar ‘Aliy berkata kepada ‘Abdullah bin Saba’, “Demi Allah, beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatu pun yang beliau sembunyikan dari manusia, sungguh aku telah mendengar beliau bersabda, “Sesungguhnya dekatnya hari Kiamat adalah terdapatnya 30 (tiga puluh) Pendusta.” Dan sesungguhnya engkau (‘Abdullah bin Saba’) adalah termasuk salah seorang dari mereka.”
[Lisan al-Mizan 3/290, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani]

‘Abdullah bin Saba’ merupakan salah satu Dajjal Pendusta yang mengklaim sebagai Nabi dan ‘Aliy adalah Rabb. Hingga akhirnya muncullah al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Majusi sang Imam Zaman si Kisra Hamba Yazdan yang mengaku sebagai Rabb di Iran negeri Syiah sarang Dajjal, serta diikuti oleh Yahudi dan Jin yang dapat menyerupakan dirinya sebagai manusia yang bangkit (Raj’ah) dari kematian. Sebagaimana yang telah Tanya Syiah Goreskan Pena Part [14] Al Qaim Imam Mahdi Syiah Dajjal.

عبد الله بن سبأ
170 - عن أبي جعفر عليه السلام ان عبد الله بن سبأ كان يدعى النبوة ويزعم أن أمير المؤمنين عليه السلام هو الله  (تعالى عن ذلك) فبلغ ذلك أمير المؤمنين عليه السلام فدعاه وسأله؟ فأقر بذلك وقال نعم أنت هو، وقد كان ألقي في روعي أنك أنت الله وأني نبي.
‘Abdullah bin Saba’
170 - Dari Abu Ja’far ‘alaihi Salam, bahwasanya Abdullah bin Saba’ telah menyerukan Nubuwwah dan mengklaim bahwa Amirul Mukminin ‘alaihi Salam adalah Allah (Maha Tinggi Allah atas tuduhan tersebut). Ketika beritanya telah sampai kepada Amirul Mukminin ‘alaihi Salam, maka beliau memanggilnya dan bertanya kepadanya dengan mengkonfirmasikannya dan ia (Abdullah bin Saba') berkata, “Benar, engkau adalah Dia (Allah), telah dibisikkan di dalam hatiku bahwa engkau adalah Allah dan aku (Abdullah bin Saba’) adalah Nabi.”
[Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal 1/323, ath-Thusi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/2932_اختيار-معرفة-الرجال-الشيخ-الطوسي-ج-١/الصفحة_346#top]

Ajaran ke-Ma’shuman bagi selain para Nabi telah diserukan oleh ‘Abdullah bin Saba’ yang dilanjutkan dakwahnya oleh para pengikutnya, yakni as-Sabaiyyah, yang berasal dari kalangan Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat. Serta mereka (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) menisbatkan keyakinannya ke dalam Agama Imamiyyah bukan Agama Islam.

الكتاب: الاعتقادات في دين الإمامية
المؤلف: الشيخ الصدوق
Kitab : Keyakinan-keyakinan (al-I’tiqadat) di dalam Agama al-Imamiyah.
Penulis : ash-Shaduq (Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat)
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1135_الاعتقادات-في-دين-الإمامية-الشيخ-الصدوق]

Dan di antara keyakinan Agama Imamiyyah adalah menetapkan ke-Ma’shuman bagi para Imam yang pada diri mereka tidak terdapat sifat lupa.

اعتقادنا في الأنبياء والرسل والأئمة والملائكة صلوات الله عليهم أنهم معصومون مطهرون من كل دنس، وأنهم لا يذنبون ذنبا، لا صغيرا ولا كبيرا
الاعتقادات في دين الإمامية - الشيخ الصدوق - الصفحة ٩٦
Keyakinan kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) mengenai para Nabi, Rasul dan Imam ‘alaihim Salam, bahwasanya mereka adalah Ma’shum yang disucikan dari segala kotoran. Mereka tidak melakukan dosa, baik dosa besar ataupun dosa kecil.
[Al-I’tiqadat fi Din al-Imamiyyah 96, ash-Shaduq Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1135_الاعتقادات-في-دين-الإمامية-الشيخ-الصدوق/الصفحة_96]

لأن الأئمة الذين لا نتصور فيهم السهو أو الغفلة،
Dikarenakan para Imam, tidak dapat kita gambarkan pada diri mereka terdapat (sifat) lupa dan lalai.
[Al-Hukumah al-Islamiyyah 91, Khomeini Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]

Namun Ahlul Bayt yang diklaim oleh Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat sebagai Imam, yakni ar-Ridha, melaknat Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat al-Kadzab yang mengklaim bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak pernah lupa. Lalu bagaimana mungkin para Imam Syiah yang hanyalah manusia biasa tidak memiliki sifat lupa? Apakah para Imam Syiah lebih utama daripada para Nabi?

أول درجة في الغلو نفي السهو عن النبي صلى الله عليه وآله الإمام عليه السلام
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ١٧ - الصفحة ١١٠
Tahapan pertama dalam Ghuluw adalah menafikan (meniadakan) (sifat) lupa bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi al-Imam ‘alaihi Salam.
[Bihar al-Anwar 17/110, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1448_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-١٧/الصفحة_112]

إن الغلاة والمفوضة لعنهم الله ينكرون سهو النبي صلى الله عليه وآله
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ١٧ - الصفحة ١٠٢
Sesungguhnya Ghulat dan Mufawidhah –semoga Allah melaknat mereka- mengingkari (sifat) lupa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi.
[Bihar al-Anwar 17/102, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1448_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-١٧/الصفحة_104]

قلت للرضا عليه السلام: يا ابن رسول الله إن في الكوفة قوما يزعمون أن النبي صلى الله عليه وآله لم يقع عليه السهو في صلاته، فقال: كذبوا لعنهم الله إن الذي لا يسهو هو الله لا إله إلا هو
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٥ - الصفحة ٣٥٠
Aku berkata kepada ar-Ridha (‘Aliy bin Musa ar-Ridha yang diklaim sebagai Imam ke-8) ‘alaihi Salam, “Wahai keturunan Rasulullah, sesungguhnya di Kufah terdapat gerombolan yang mengklaim bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi tidak pernah lupa di dalam shalatnya.” Lantas (‘Aliy bin Musa ar-Ridha) berkata, “Mereka telah berdusta, semoga Allah melaknat mereka. Sesungguhnya yang tidak pernah lupa adalah Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia.”
[Bihar al-Anwar 25/350, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1456_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٥/الصفحة_352#top]

Padahal para Ahlul Bayt mengakui bahwa mereka yang diklaim sebagai Imam Syiah tidak dapat terlepas dari dosa dan kesalahan, yakni tidak Ma’shum. Sebagaimana yang tercantum di dalam kitab suci mereka (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat).

سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول
إنا لنذنب ونسئ ثم نتوب إلى الله متابا
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٥ - الصفحة ٢٠٧
Aku mendengar Aba ‘Abdillah (Ja’far ash-Shadiq yang diklaim sebagai Imam ke-6) ‘alaihi Salam berkata, “Sesungguhnya kami melakukan dosa dan kesalahan, kemudian kami bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat.”
[Bihar al-Anwar 25/207, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1456_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٥/الصفحة_0?pageno=207#top]

فلا تكفوا عن مقالة بحق أو مشورة بعدل، فإني لست في نفسي بفوق أن أخطئ، ولا آمن ذلك من فعلي
نهج البلاغة - خطب الإمام علي (ع) - ج ٢ - الصفحة ٢٠١
“Janganlah kalian berhenti dalam menyuarakan kebenaran ataupun bermusyawarah dengan orang yang lurus, dikarenakan diriku (‘Aliy bin Abi Thalib yang diklaim sebagai Imam pertama) tidak terlepas dari kesalahan dan tidak merasa aman dari perbuatanku.”
[Nahjul Balaghah 2/201]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1108_نهج-البلاغة-خطب-الإمام-علي-ع-ج-٢/الصفحة_201]

فوالله ما نحن إلا عبيد الذي خلقنا واصطفانا، ما نقدر على ضر ولا نفع، وإن رحمنا فبرحمته، وإن عذبنا فبذنوبنا، والله مالنا على الله من حجة ولا معنا من الله براءة، وإنا لميتون ومقبورون ومنشرون ومبعوثون وموقوفون ومسؤولون.
ويلهم مالهم لعنهم الله! لقد آذوا الله وآذوا رسوله صلى الله عليه وآله وسلم في قبره وأمير المؤمنين وفاطمة والحسن والحسين وعلي بن الحسين ومحمد بن علي صلوات الله عليهم،
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٥ - الصفحة ٢٨٩
Demi Allah, kami (Ja’far ash-Shadiq yang diklaim sebagai Imam ke-6) tidak lain adalah hamba dari Yang Menciptakan kami dan memilih kami, yang di mana kami tidak dapat memberikan kemudharatan ataupun menolaknya. Jika Dia merahmati kami maka itu dikarenakan Kasih-Sayang-Nya, dan jika Dia mengadzab kami maka itu karena dosa-dosa kami.
Demi Allah, kami (Ja’far ash-Shadiq yang diklaim sebagai Imam ke-6) tidak memiliki hujjah dari Allah dan kami tidak memiliki kemampuan apapun dari Allah. Sesungguhnya kami akan menjadi mayit dan dikubur, dibangkitkan dan dikumpulkan di Mahsyar serta dimintai (pertanggung-jawaban).
Celakalah mereka, semoga Allah melaknat mereka! Sungguh mereka telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa Salam di kuburnya, Amirul Mukminin (‘Aliy), Fathimah, al-Hasan, al-Husain, ‘Aliy bin al-Husain serta Muhammad bin ‘Aliy Shalawatullah ‘alaihim.
[Bihar al-Anwar 25/289, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1456_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٥/الصفحة_291]

Hingga akhirnya, para pendeta besar Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat kebingungan dalam memecahkan kontradiksi tersebut di atas dengan berkata,

وبالجملة المسألة في غاية الاشكال لدلالة كثير من الاخبار والآيات على صدور السهو عنهم عليهم السلام
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٥ - الصفحة ٣٥١
Seluruh masalah ini sangatlah Isykal (ganjil), dikarenakan sangat banyaknya khabar dan informasi mengenai kelupaan mereka (Imam Ma’shum) ‘alaihim Salam.
[Bihar al-Anwar 25/351, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1456_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٥/الصفحة_0?pageno=351#top]

Namun, Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat tetap membangkang dari ajaran Ahlul Bayt dengan menetapkan ke-Ma’shuman bagi para Imam dan mengingkari sifat lupa para Imam.

ذهبت الإمامية والإسماعيلية إلى أن الإمام يجب أن يكون معصوما
كشف المراد في شرح تجريد الاعتقاد (قسم الإلهيات) (تحقيق السبحاني) - العلامة الحلي - الصفحة ١٨٦
(Syiah) al-Imamiyyah dan (Syiah) al-Isma’iliyyah berpendapat bahwa para Imam diwajibkan Ma’shum.
[Kasyf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I’tiqad 186, al-Hulliy Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/4018_كشف-المراد-في-شرح-تجريد-الاعتقاد-قسم-الإلهيات-تحقيق-السبحاني-العلامة-الحلي/الصفحة_179]

Dan barangsiapa yang mengingkari Imamah al-Qaim al-Masih ad-Dajjal Imam Mahdi al-Muntazhar Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Majusi sang Imam Zaman si Kisra Hamba Yazdan (Imam ke-12), maka ia telah mengingkari ke-Nabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

الأئمة من بعدي اثنا عشر، أولهم أمير المؤمنين علي بن أبي طالب وآخرهم القائم
الاعتقادات في دين الإمامية - الشيخ الصدوق - الصفحة ١٠٤
Para Imam setelahku ada 12, yaitu yang pertama adalah Amirul Mukminin ‘Aliy bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.
[Al-I’tiqadat fi Din al-Imamiyyah 104, ash-Shaduq Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1135_الاعتقادات-في-دين-الإمامية-الشيخ-الصدوق/الصفحة_104]

واعتقدنا فيمن جحد إمامة أمير المؤمنين علي بن أبي طالب والأئمة من بعده - عليهم السلام - أنه بمنزلة من جحد نبوة جميع الأنبياء
واعتقادنا فيمن أقر بأمير المؤمنين وأنكر واحدا من بعده من الأئمة أنه بمنزلة من أقر بجميع الأنبياء وأنكر نبوة محمد صلى الله عليه وآله وسلم
Keyakinan kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) bahwa orang yang tidak mempercayai Imamah Amirul Mukminin ‘Aliy bin Abi Thalib dan para Imam setelahnya –‘alaihim Salam- adalah seperti tidak mempercayai Nubuwwah (ke-Nabian) seluruh Nabi.
Dan keyakinan kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) bahwa orang yang mengakui (Imamah) Amirul Mukminin namun mengingkari salah seorang dari para Imam setelahnya adalah seperti mengakui seluruh Nabi namun mengingkari Nubuwwah (ke-Nabian) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa Sallam.
[Al-I’tiqadat fi Din al-Imamiyyah 104, ash-Shaduq Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1135_الاعتقادات-في-دين-الإمامية-الشيخ-الصدوق/الصفحة_104]

Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat hendak menempatkan kedudukan para Imam Syiah sebagai Nabi dengan menetapkan ke-Ma’shuman bagi mereka (Imam Syiah). Dan barangsiapa yang mengingkari Imamah Syiah maka kafir, dikarenakan mengingkari Imamah Syiah lebih buruk daripada mengingkari Nubuwwah (ke-Nabian).

إن الأئمة القائمين مقام الأنبياء في تنفيذ الأحكام وإقامة الحدود وحفظ الشرائع وتأديب الأنام معصومون كعصمة الأنبياء،
أوائل المقالات - الشيخ المفيد - الصفحة ٦٥
Sesungguhnya para Imam yang diangkat memiliki maqam (kedudukan) para Nabi dalam melaksanakan hukum-hukum, menegakkan hudud dan memelihara syari’at serta mengatur umat. Mereka (para Imam) adalah Ma’shum sebagaimana Ma’shumnya para Nabi.
[Awail al-Maqalat 65, al-Mufid Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1292_أوائل-المقالات-الشيخ-المفيد/الصفحة_0?pageno=65#top]

ودفع الإمامة كفر كما أن دفع النبوة كفر لان الجهل بهما على حد واحد
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٣٢ - الصفحة ٣٢١
Menolak Imamah adalah kafir sebagaimana menolak Nubuwwah (ke-Nabian) adalah kafir, dikarenakan jahil akan keduanya memiliki penghukuman yang sama (yaitu kafir).
[Bihar al-Anwar 32/321, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1463_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٣٢/الصفحة_0?pageno=321#top]

الإمامة لطف عام، والنبوة لطف خاص لامكان خلو الزمان من نبي حي بخلاف الامام لما سيأتي، وإنكار اللطف العام شر من إنكار اللطف الخاص
الإمام علي بن أبي طالب (ع) - أحمد الرحماني الهمداني - الصفحة ٤٩٨
(Al-Hulliy Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat berkata) bahwasanya al-Imamah adalah kebaikan umum, sedangkan Nubuwwah (ke-Nabian) adalah kebaikan khusus, dikarenakan bisa saja terdapat zaman yang di mana tidak ada seorang Nabi yang hidup, (hal) ini berbeda dengan para Imam (yang akan dijelaskan) nantinya. Adapun mengingkari kebaikan umum (Imamah) adalah lebih buruk daripada mengingkari kebaikan khusus (Nabi).
[Al-Imam ‘Aliy bin Abi Thalib 498, Ahmad ar-Rahamani al-Hamdani Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1638_الإمام-علي-بن-أبي-طالب-ع-أحمد-الرحماني-الهمداني/الصفحة_470]

Oleh karena itu, akal mereka (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) -padahal mereka tidak memiliki otak sama sekali- tidak dapat membedakan antara Imamah dengan Nubuwwah (ke-Nabian).

وإنما منع الشرع من تسمية أئمتنا بالنبوة دون أن يكون العقل مانعا من ذلك لحصولهم على المعنى الذي حصل لمن ذكرناه من الأنبياء
أوائل المقالات - الشيخ المفيد - الصفحة ٣١٤
Dan sesungguhnya dilarang secara syara’ menyebut para Imam dengan Nubuwwah (Nabi), meskipun secara akal tidak terlarang, dikarenakan mereka (para Imam) memiliki makna yang dimiliki oleh para Nabi sebagaimana yang (akan) kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) jelaskan.
[Awail al-Maqalat 314, al-Mufid Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1292_أوائل-المقالات-الشيخ-المفيد/الصفحة_309]

Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat tidak menyebut para Imam Syiah sebagai Nabi hanya untuk memelihara Khatamul Anbiya’ (penutup para Nabi), meskipun mereka menempatkan kedudukan para Imam Syiah seperti Nabi.

ولا نعرف جهة لعدم اتصافهم بالنبوة إلا رعاية جلالة خاتم الأنبياء، ولا يصل عقولنا إلى فرق بين بين النبوة والإمامة
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٦ - الصفحة ٨٢
Sejauh pengetahuan kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) untuk tidak (menyebut) mereka (Imam) dengan Nubuwwah (Nabi), melainkan demi memelihara kemuliaan Khatam al-Anbiya’ (penutup para Nabi). Akal kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) tidak dapat membedakan antara Nubuwwah (Nabi) dengan Imamah.
[Bihar al-Anwar 26/82, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1457_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٦/الصفحة_0?pageno=82#top]

وحاصله إنا لم نجتمع معهم على إله ولا على نبي ولا على إمام وذلك أنهم يقولون إن ربهم هو الذي كان محمد صلى الله عليه وآله نبيه وخليفته بعده أبو بكر ونحن لا نقول بهذا الرب ولا بذلك النبي بل نقول إن الرب الذي خليفة نبيه أبو بكر ليس ربنا ولا ذلك النبي نبينا
Kesimpulannya adalah bahwa kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) tidak bersepakat dengan mereka mengenai Ilah, Nabi dan Imam. Sesungguhnya mereka mengakui bahwasanya Rabb mereka yang telah menjadikan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalih sebagai Nabi-Nya dan (telah menjadikan pula) Abu Bakar sebagai Khalifahnya sepeninggal beliau. Adapun kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) tidak mengakui Rabb dan Nabi tersebut, bahkan Rabb yang menjadikan Abu Bakar sebagai Khalifah bukanlah Rabb kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) dan begitu pula dengan Nabi tersebut bukanlah Nabi kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat).
[Al-Anwar an-Nu’maniyyah 2/278, Ni’matullah al-Jazairiy Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]

Oleh karena itu mereka (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) memiliki “Nabi” sendiri yang keutamaannya melebihi para Nabi Shalawatullah ‘alaihim ajma’in. Dikarenakan para Nabi adalah Syiah (pengikut)-nya “Nabi” Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat.

تفضيلهم عليهم السلام على الأنبياء
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٦ - الصفحة ٢٦٧
Pengutamaan mereka (para Imam) ‘alaihim Salam di atas para Nabi.
[Bihar al-Anwar 26/267, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1457_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٦/الصفحة_0?pageno=267#top]


Ali al-Korani Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat
Menit 01:18 – 01:25
Dan Aqidah kita (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) bahwasanya Ahlul Bayt lebih utama daripada seluruh Nabi.

Yaseen al-Musawi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat
Menit 02:15 – 02:46
Akan tetapi ketika kita berkata dengan makna yang demikian, bukan berarti para Nabi lebih utama daripada para Imam.
Al-Majlisi (Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) berkata, “Syiah al-Imamiyyah bersepakat bahwa para Imam 12 adalah lebih utama daripada seluruh Nabi.” Yakni, lebih utama.
Kita (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) tidak memiliki perbedaan pendapat bahwa para Imam adalah lebih utama daripada para Nabi.
Jangan takut, jangan Taqiyyah.

[https://www.youtube.com/watch?v=SKETGM8wIAA&feature=youtu.be]

وكون أئمتنا عليهم السلام أفضل من سائر الأنبياء
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٦ - الصفحة ٢٩٧
Para Imam kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) ‘alaihim Salam adalah lebih utama daripada para Nabi.
[Bihar al-Anwar 26/297, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1457_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٦/الصفحة_299#top]

إن أئمة الشيعة الإثني عشر أفضل من الأنبياء والرسل عليهم السلام
Sesungguhnya para Imam Syiah Itsna ‘Asyariyyah (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) adalah lebih utama daripada para Nabi dan Rasul ‘alaihim Salam.
[Al-Anwar an-Nu’maniyyah 3/308, Ni’matullah al-Jazairiy Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]

Oleh karena itu, adanya para Nabi adalah untuk menjadi Syiah (pengikut) Ahlul Bayt dan mencintai mereka (Ahlul Bayt).


Abdul Halim al-Gazi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat
Menit 00:50 – 00:60
Para Nabi adalah Syiah (Pengikut) Ahlul Bayt.
Lalu bagaimana bisa, kita membandingkan Syiah (pengikut) dengan Asl (sebab penciptaan).
Para Nabi adalah Syiah (Pengikut) Ahlul Bayt.
[https://www.youtube.com/watch?v=SKETGM8wIAA&feature=youtu.be]

العزم إنما صاروا أولى العزم بحبهم صلوات الله عليهم
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٦ - الصفحة ٢٦٧
(Nabi Ulul) ‘Azmi dinamakan demikian dikarenakan mencintai (para Imam) Shalawatullah ‘alaihim.
[Bihar al-Anwar 26/267, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1457_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٦/الصفحة_0?pageno=267#top]

Sehingga para “Nabi” Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat lebih berilmu daripada para Nabi.

انهم اعلم من الأنبياء عليهم السلام
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٢٦ - الصفحة ١٩٤
Sesungguhnya mereka (para Imam) lebih berilmu daripada para Nabi ‘alaihi Salam.
[Bihar al-Anwar 26/194, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1457_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٢٦/الصفحة_0?pageno=194#top]

لو كنت بين موسى والخضر لأخبرتهما أني أعلم منهما
الكافي - الشيخ الكليني - ج ١ - الصفحة ٢٦١
Seandainya aku berada di antara Musa dan Khidhir, maka niscaya aku sudah mengabarkan kepada mereka berdua bahwasanya aku (Imam Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) lebih berilmu daripada mereka berdua.
[Al-Kafiy 1/261, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1122_الكافي-الشيخ-الكليني-ج-١/الصفحة_309#top]

Keutamaan “Nabi” Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat dapat diraih dikarenakan ‘Aliy bin Abi Thalib yang diklaim sebagai Imam Syiah telah menemui Allah ‘Azza wa Jalla sebanyak 12 kali secara langsung, yang di mana para Nabi Shallallahu ‘alahim wa Salam diberikan wahyu melalui perantara, yaitu Jibril ‘alaihi Salam.

قال أمير المؤمنين علي بن أبي طالب عليه السلام
ولقد وفدت إلى ربي اثني عشر وفادة، فعرفني نفسه وأعطاني مفاتيح الغيب
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٣٩ - الصفحة ٣٥٠
Amirul Mukminin ‘Aliy bin Abi Thalib ‘alaihi Salam berkata,
“Sungguh aku (‘Aliy yang diklaim sebagai Imam Syiah yang pertama) telah benar-benar menghadap Rabb-ku sebanyak 12 kali, lalu Dia memperkenalkan Diri-Nya seraya memberikan kepadaku kunci-kunci ghaib.”
[Bihar al-Anwar 39/350, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1470_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٣٩/الصفحة_352]

Oleh karena itu si Khomeini yang merupakan Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat meyakini bahwa para Imam Syiah memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh Malaikat yang didekatkan dan tidak pula oleh Nabi yang diutus.

قال الإمام الخميني
وان من ضروريات مذهبنا أن لائمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب ولا نبي مرسل
الحكومة الاسلامية: 52
الولاية التكوينية لآل محمد (ع) - السيد علي عاشور - الصفحة ٥٩
Al-Imam al-Khumainiy (Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) berkata,
Dan di antara yang terpenting dalam madzhab kami, bahwa Imam-Imam kami memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh Malaikat yang didekatkan dan tidak pula oleh Nabi yang diutus. [Al-Hukumah al-Islamiyyah 52, Khomeini Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[Al-Wilayah at-Takwiniyyah li Aali Muhammad 59, ‘Aliy ‘Asyur Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/4256_الولاية-التكوينية-لآل-محمد-ع-السيد-علي-عاشور/الصفحة_52]

Setelah si Khomeini yang merupakan Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat mendoktrin Syiah (pengikut)-nya bahwa Imam mereka memiliki kedudukan yang sangat tinggi, selanjutnya ia (Khomeini) akan mendoktrin Syiah (pengikut)-nya untuk mempercayai bahwa para Fuqaha, salah satunya adalah Khomeini, memiliki kedudukan melebihi Nabi bani Israil dengan mendapatkan ilmu dari Imam al-Ma’shum yang senantiasa terpelihara bagi mereka.

نحن نعتقد أن المنصب الذي منحه الأئمة للفقهاء لا يزال محفوظًا لهم، لأن الأئمة الذين لا نتصور فيهم السهو أو الغفلة،
Kami (Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) meyakini bahwa kedudukan yang diberikan oleh para Imam kepada para Fuqaha’ (Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat) senantiasa terpelihara bagi mereka. Dikarenakan para Imam tidak dapat kita gambarkan pada diri mereka terdapat (sifat) lupa dan lalai.
[Al-Hukumah al-Islamiyyah 91, Khomeini Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]

" علماء أمتي خير من أنبياء بني إسرائيل "] قال (عليه السلام): " علماء أمتي خير من أوصياء بني إسرائيل " وفي رواية أخرى:
" علماء أمتي كأنبياء بني إسرائيل
جامع الشتات - الخواجوئي - الصفحة ١٥٧
“Ulama umatku lebih baik daripada para Nabi bani Israil.” ‘Alaihi Salam berkata, “Ulama umatku lebih baik daripada para penerima wasiat bani Israil.” Pada riwayat lainnya, “Ulama umatku seperti para Nabi bani Israil.”
[Jami’ asy-Syatat 157, al-Khawaju’i Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/4039_جامع-الشتات-الخواجوئي/الصفحة_157]

Hingga akhirnya, Khomeini dinobatkan sebagai Pendeta Besar Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat yang memiliki kedudukan yang lebih utama daripada Nabi bani Israil.


Asad Moh’d Qaseer Pendeta Syiah Rafidhah al-Imamiyyah Ghulat
Menit 00:28
Tidak ada keraguan bahwa Imam Khomeini adalah lebih utama daripada Nabi bani Israil.
[https://www.youtube.com/watch?v=qPZP0K5teiY]

-Syiah Memang Dajjal-