Sunday, February 07, 2016

// // Leave a Comment

Lesbi Syiah Gay Iran Ganti Kelamin

Lesbi Syiah Gay Iran Ganti Kelamin


Di Iran, engkau tidak dapat menjadi seorang Gay, namun engkau dapat menjadi seorang Transgender.

Celah di dalam hukum menjadikan sebuah negara yang ketat dalam beragama dapat melakukan operasi penggantian jenis kelamin melebihi (negara) lain, selain Thailand.

Sepuluh tahun yang lalu, Tarane yang dikenal dengan nama Amir, yakni sebelum bertemu dengan seorang wanita di cafe yang telah melakukan operasi penggantian jenis kelamin.

Ia (Tarane) berkata, “Tatkala aku meninggalkan cafe tersebut, maka aku bukanlah lagi seorang Amir. Aku menyadari mengenai impianku selama ini.”

Di Iran, hubungan sesama jenis akan dihukum mati. Namun tidak ada hukum di dalam al-Qur’an dalam menentang operasi penggantian jenis kelamin, dan prosedurnya telah berkembang.

(Pendeta Syiah Yousef Saanei berkata), “Di dalam agama Islam, terdapat sebuah kaidah yang menyatakan bahwa segala hal adalah diperbolehkan kecuali terdapat hujjah yang kuat dalam menentangnya atau hukum yang melarangnya.”

(Tarane) berkata, “Aku tidak pernah merasa menyesal, namun tanpa dukungan dari sahabat-sahabatku maka aku tidak akan sanggup dalam menjalaninya pada tahun pertama. Ibuku hanya sekali saja menelepon rumah sakit untuk mengetahui apakah aku telah sadar/siuman dari operasi, tidak lebih dari itu.”

Kelompok HAM adalah (kelompok) yang kritis, mereka mengatakan bahwasanya orang-orang tidak boleh dipaksa untuk mengganti jenis kelaminnya agar tetap hidup.

[https://www.youtube.com/watch?v=3p6_YoMPPKk]

Iran is one of a handful of countries where homosexual acts are punishable by death. Clerics do, however accept the idea that a person may be trapped in a body of the wrong sex. So homosexuals can be pushed into having gender reassignment surgery - and to avoid it many flee the country.
Iran adalah salah satu dari sejumlah kecil negara yang menerapkan hukuman mati bagi perilaku homoseksual. Para Pendeta (Syiah) menerima gagasan bahwasanya seseorang bisa saja terjebak di dalam sebuah tubuh yang berjenis kelamin terbalik. Oleh karena itu, homoseksual dapat dipaksa untuk menjalani operasi penggantian kelamin, sehingga banyak yang meninggalkan negeri tersebut untuk menghindarinya.

Lesbi Syiah Gay Iran Ganti Kelamin

Growing up in Iran, Donya kept her hair shaved or short, and wore caps instead of headscarves. She went to a doctor for help to stop her period.
Tumbuh besar di Iran, Donya memelihara rambutnya agar tetap pendek ataupun dicukur, serta mengenakan topi bukan jilbab. Ia pergi ke dokter agar membantunya untuk menghentikan haidhnya.

"I was so young and I didn't really understand myself," she says. "I thought if I could stop getting my periods, I would be more masculine."
Ia (Donya) berkata, “Aku masih sangatlah muda, dan aku tidak dapat memahami mengenai jati diriku. Aku kira jika aku dapat menghentikan haidhku, maka aku akan menjadi lebih jantan.”

If police officers asked for her ID and noticed she was a girl, she says, they would reproach her: "Why are you like this? Go and change your gender."
Jika para petugas polisi meminta ID-nya dan menyadari bahwa ia adalah seorang wanita, maka mereka akan mencelanya dengan berkata, “Kenapa engkau (berpenampilan) seperti ini? Pergi sana dan ganti jenis kelaminmu.”

This became her ambition. "I was under so much pressure that I wanted to change my gender as soon as possible," she says.
Sehingga (mengganti jenis kelaminnya) menjadi ambisinya. “Aku berada di bawah tekanan yang amat sangat, sehingga aku menginginkan untuk mengganti kelaminku sesegera mungkin,” katanya.

For seven years Donya had hormone treatment. Her voice became deeper, and she grew facial hair. But when doctors proposed surgery, she spoke to friends who had been through it and experienced "lots of problems". She began to question whether it was right for her.
Selama tujuh tahun, Donya menjalani terapi hormon. Suaranya menjadi lebih berat, serta tumbuh rambut di wajahnya. Namun tatkala para dokter mengusulkan operasi, ia (Donya) berbicara (terlebih dahulu) kepada teman-temannya yang sudah pernah menjalaninya dan mengalami berbagai masalah. Ia (Donya) mulai bertanya apakah (operasi) tersebut tepat bagi dirinya.

"I didn't have easy access to the internet - lots of websites are blocked. I started to research with the help of some friends who were in Sweden and Norway," she says.
Ia (Donya) berkata, “Aku tidak memiliki akses ke internet dengan mudah, dikarenakan banyaknya website yang diblokir. Lalu aku mulai mencari dengan bantuan beberapa teman yang berada di Swedia dan Norwegia.”

"I got to know myself better... I accepted that I was a lesbian and I was happy with that."
“Aku harus mengetahui jati diriku dengan lebih baik... Kemudian aku menerimanya bahwasanya aku adalah seorang Lesbi dan aku pun bahagia.”

But living in Iran as an openly gay man or woman is impossible. Donya, now 33, fled to Turkey with her son from a brief marriage, and then to Canada, where they were granted asylum.
Namun hidup di Iran secara terbuka sebagai Gay baik laki-laki ataupun wanita adalah mustahil. Donya, sekarang berusia 33 tahun, melarikan diri ke Turki dengan anaknya yang berasal dari pernikahan singkatnya, lalu melarikan diri ke Canada, serta mendapatkan suaka.

It's not official government policy to force gay men or women to undergo gender reassignment but the pressure can be intense. In the 1980's the founder of the Islamic Republic, Ayatollah Khomeini, issued a fatwa allowing gender reassignment surgery - apparently after being moved by a meeting with a woman who said she was trapped in a man's body.
Hal ini bukanlah kebijakan resmi pemerintah untuk memaksa para Gay baik laki-laki ataupun wanita untuk menjalani (operasi) penggantian kelamin, namun tekanan (pressure) akan lebih sering dilakukan. Pada tahun 1980, pendiri Republik Syiah, Ayatus-Syiah Khomeini, mengeluarkan sebuah fatwa untuk membolehkan operasi penggantian kelamin, sepertinya (fatwa tersebut dikeluarkan) setelah (Khomeini) diajak bertemu oleh seorang wanita yang mengatakan bahwasanya ia telah terjebak di dalam tubuh laki-laki.

Shabnam - not her real name - who is a psychologist at a state-run clinic in Iran says some gay people now end up being pushed towards surgery. Doctors are told to tell gay men and women that they are "sick" and need treatment, she says. They usually refer them to clerics who tell them to strengthen their faith by saying their daily prayers properly.
Shabnam, bukanlah nama sebenarnya, yang merupakan seorang psikolog di sebuah klinik yang dikelola oleh negara di Iran, ia berkata bahwa beberapa Gay saat ini sedang dipaksa untuk menjalani operasi (ganti kelamin). Para dokter diperintahkan untuk memberitahukan kepada para Gay baik laki-laki ataupun wanita bahwa mereka sedang “sakit” dan membutuhkan perawatan, katanya. Mereka (para dokter) biasanya merujuk mereka kepada para Pendeta Syiah yang di mana (para Pendeta Syiah) tersebut akan berkata kepada mereka untuk menguatkan iman mereka dengan berdoa di dalam sembahyang mereka sehari-sehari.

But medical treatments are also offered. And because the authorities "do not know the difference between identity and sexuality", as Shabnam puts it, doctors tell the patients they need to undergo gender reassignment.
Bahkan perawatan medispun juga ditawarkan, dikarenakan pihak pemerintah tidak dapat mengetahui perbedaan antara identitas dengan perbedaan kelamin, seperti yang dikatakan oleh Shabnam, para dokter memberitahukan kepada para pasien bahwasanya mereka perlu menjalani (operasi) penggantian kelamin.

In many countries this procedure involves psychotherapy, hormone treatment and sometimes major life-changing operations - a complex process that takes many years.
Di dalam banyak negara, prosedur ini melibatkan psikoterapi, terapi hormon dan kadangkala (harus melakukan) operasi perubahan besar dalam hidup yang merupakan proses yang kompleks yang dapat memakan waktu bertahun-tahun.

That's not always the case in Iran.
Hal tersebut tidaklah selalu terjadi di Iran.

"They show how easy it can be," Shabnam says. "They promise to give you legal documents and, even before the surgery, permission to walk in the street wearing whatever you like. They promise to give you a loan to pay for the surgery."
“Mereka menjelaskan bahwa hal tersebut (operasi penggantian kelamin) adalah suatu hal yang mudah,” kata Shabnam. “Mereka berjanji akan memberikan engkau dokumen-dokumen resmi, bahkan sebelum operasi (dilakukan), (engkau akan mendapatkan) izin untuk berjalan di jalanan dengan mengenakan (pakaian) yang engkau sukai. Mereka juga berjanji akan memberikan engkau sejumlah pinjaman untuk membayar operasi (ganti kelamin).

Supporters of the government's policy argue that transgender Iranians are given help to lead fulfilling lives, and have more freedom than in many other countries. But the concern is that gender reassignment surgery is being offered to people who are not transgender, but homosexual, and may lack the information to know the difference.
Para pendukung kebijakan pemerintah berpendapat bahwa para Transgender Iran diarahkan untuk menjalani kehidupan, serta memiliki kebebasan lebih dibandingkan dengan negara-negara lain. Namun yang menjadi kekhawatiran adalah operasi penggantian kelamin tersebut ditawarkan kepada orang-orang yang bukan Transgender, tapi (ditawarkan) kepada Homoseksual, dan mungkin saja mereka tidak memiliki informasi mengenai perbedaan (keduanya).

"I think a human rights violation is taking place," says Shabnam. "What makes me sad is that organisations that are supposed to have a humanitarian and therapeutic purpose can take the side of the government, instead of taking care of people."
“Menurutku telah terjadi pelanggaran HAM,” kata Shabnam. “Yang membuatku sedih adalah organisasi-organisasi tersebut seharusnya memiliki tujuan kemanusian dan terapi yang dapat berada di sisi pemerintah, namun bukannya mengurusi (kehidupan pribadi) orang-orang.”

Psychologists suggested gender reassignment to Soheil, a gay Iranian 21-year-old.
Psikolog menyarankan Soheil untuk melakukan (operasi) penggantian kelamin, yang merupakan seorang Gay Iran yang berusia 21 tahun.

Lesbi Syiah Gay Iran Ganti Kelamin

Then his family put him under immense pressure to go through with it.
Kemudian keluarganya menempatkannya di bawah tekanan yang sangat besar untuk melakukan (operasi ganti kelamin).

"My father came to visit me in Tehran with two relatives," he says. "They'd had a meeting to decide what to do about me... They told me: 'You need to either have your gender changed or we will kill you and will not let you live in this family.'"
“Ayahku mengunjungiku di Tehran dengan dua orang kerabat,” katanya. “Mereka telah melakukan pertemuan (keluarga) mengenai apa yang harus mereka lakukan terhadapku... Mereka berkata kepadaku, “Engkau harus mengganti jenis kelaminmu atau kami akan membunuhmu dan tidak akan membiarkan engkau hidup di keluarga ini.”

His family kept him at home in the port city of Bandar Abbas and watched him. The day before he was due to have the operation, he managed to escape with the help of some friends. They bought him a plane ticket and he flew to Turkey.
Keluarganya mengurungnya di rumah yang berada di kota pelabuhan Bandar Abbas seraya mengawasinya. Sehari sebelum dilaksanakan operasi (ganti kelamin), ia berhasil melarikan diri dengan pertolongan beberapa sahabatnya. Mereka membelikan sebuah tiket pesawat dan akhirnya ia terbang menuju Turki.

"If I'd gone to the police and told them that I was a homosexual, my life would have been in even more danger than it was from my family," he says.
“Jika aku pergi ke kepolisian dan memberitahukan kepada mereka bahwa aku adalah seorang Homoseksual, maka hidupku akan menjadi lebih berbahaya daripada saat bersama kaluargaku,” katanya.

There is no reliable information on the number of gender reassignment operations carried out in Iran.
Tidak adanya informasi yang dapat dipercaya mengenai jumlah operasi penggantian kelamin yang dilakukan di Iran.

Khabaronline, a pro-government news agency, reports the numbers rising from 170 in 2006 to 370 in 2010. But one doctor from an Iranian hospital told the BBC that he alone carries out more than 200 such operations every year.
Khabaronline, yang merupakan kantor berita pro pemerintah, melaporkan bahwa jumlah (operasi penggantian kelamin) meningkat dari 170 orang di tahun 2006 menjadi 370 orang di tahun 2010. Namun seorang dokter dari rumah sakit Iran memberitahukan kepada BBC bahwasanya ia sendiri telah melakukan lebih dari 200 operasi (ganti kelamin) setiap tahunnya.

Many, like Donya and Soheil, have fled. Usually they go to Turkey, where Iranians don't need visas. From there they often apply for asylum in a third country in Europe or North America. While they wait - sometimes for years - they may be settled in socially conservative provincial cities, where prejudice and discrimination are commonplace.
Banyak yang seperti Donya dan Soheil yang melarikan diri. Biasanya mereka pergi menuju Turki, yang di mana orang-orang Iran tidak membutuhkan visa. Dari sana mereka seringkali mengajukan suaka di negeri ketiga baik ke Eropa ataupun ke Amerika Utara. Pada saat mereka menunggu, kadangkala dapat (menunggu hingga) bertahun-tahun, mereka mungkin saja menetap secara sosial di berbagai kota daerah yang sederhana, yang di mana kecurigaan dan diskriminasi adalah suatu hal yang biasa.

Lesbi Syiah Gay Iran Ganti Kelamin

Arsham Parsi, who crossed from Iran to Turkey by train in 2005, says that while living in the city of Kayseri, in central Turkey, he was beaten up, and then refused hospital treatment for a dislocated shoulder, simply because he was gay. After that he didn't leave his house for two months.
Arsham Parsi, yang menyeberang dari Iran ke Turki melalui kereta api pada tahun 2005, ia berkata bahwa selama hidup di kota Kayseri di Turki bagian tengah, ia pernah dipukuli dan ditolak oleh rumah sakit untuk dirawat dikarenakan pergeseran tulang bahu, alasannya sangatlah sederhana yaitu dikarenakan ia adalah seorang Gay. Setelah itu ia tidak meninggalkan rumahnya selama dua bulan.

Later he moved to Canada and set up a support group, the Iranian Railroad for Queer Refugees. He says he receives hundreds of inquiries every week, and has helped nearly 1,000 people leave Iran over the past 10 years.
Kemudian ia pindah ke Canada serta mendirikan kelompok pendukung (Gay Iran), yaitu Iranian Railroad for Queer Refugees (IRQR). Ia berkata bahwa ia menerima ratusan permintaan (bantuan melarikan diri) tiap minggunya, dan ia telah membantu hampir 1.000 orang dalam meninggalkan Iran selama 10 tahun terakhir.

Some are fleeing to avoid gender reassignment surgery, but others have had treatment and find they still face prejudice. Parsi estimates that 45% of those who have had surgery are not transgender but gay.
Beberapa (dari mereka) melarikan diri untuk menghindari operasi penggantian kelamin, namun sebagiannya (memilih) untuk melakukan terapi dan masih saja mereka menghadapi kecurigaan. Parsi memperkirakan bahwa 45% yang melakukan operasi (ganti kelamin) adalah bukan Transgender namun Gay.

"You know when you are 16 and they say you're in the wrong body, and it's very sweet... you think. 'Oh I finally worked out what's wrong with me,'" he says.
“Ketika engkau berusia 16 tahun dan mereka berkata bahwa engkau berada di tubuh yang salah, dan (tubuhmu) tersebut sangatlah manis... kemudian engkau akan berpikir, “Oh, akhirnya aku meyadari bahwa terdapat sesuatu yang salah di dalam diriku,” katanya.

When one woman called him from Iran recently with questions about surgery, he asked her if she was transsexual or lesbian. She couldn't immediately answer - because no-one had ever told her what a "lesbian" was.
Tatkala seorang wanita memanggilnya dari Iran akhir-akhir ini dengan berbagai pertanyaan mengenai operasi (ganti kelamin), ia bertanya kepadanya apakah ia adalah seorang Transeksual atau Lesbi. Namun ia tidak dapat menjawabnya segera, dikarenakan tidak ada seorang pun yang pernah memberitahukannya mengenai apa itu Lesbi.

Marie, aged 37, is now staying in Kayseri after leaving Iran five months ago. She grew up as a boy, Iman, but was confused about her sexuality and was declared by an Iranian doctor to be 98% female.
Marie, berusia 37 tahun, saat ini tinggal di Kayseri setelah meninggalkan Iran sejak 5 bulan yang lalu. Ia tumbuh sebagai laki-laki, yakni bernama Iman, namun ia bingung mengenai jenis kelaminnya dan dinyatakan oleh dokter Iran bahwasanya ia adalah 98% wanita.

"The doctor told me that with the surgery he could change the 2% male features in me to female features, but he could not change the 98% female features to be male," she says.
“Sang dokter membertahukanku bahwa dengan operasi ia dapat mengubah fisik laki-lakinya yang 2% menjadi fisik seorang wanita, namun ia tidak dapat mengubah fisik wanitanya yang 98% menjadi (fisik) seorang laki-laki,” katanya.

After that, she thought she needed to change her gender.
Setelah itu, (dokter tersebut) menyarankan bahwasanya ia perlu mengganti jenis kelaminnya.

Hormone therapy seemed to bring positive changes. She grew breasts, and her body hair thinned. "It made me feel good," she says. "I felt beautiful. I felt more attractive to the kinds of partners I used to have."
Terapi hormon sepertinya membawa perubahan yang positif. (Dadanya) tumbuh payudara, serta rambut tubuhnya menipis. “Hal ini membuatku merasa lebih baik,” katanya. “Aku merasa cantik, dan aku merasa lebih menarik bagi pasanganku.”

But then she had the operation - and came away feeling "physically damaged".
Kamudian ia melakukan operasi (penggantian kelamin), akhirnya ia merasakan “hancur secara fisik.”

She had a brief marriage to a man but it broke down, and any hope she had that life would be better as a woman was short-lived.
Ia memiliki sebuah pernikahan yang singkat dengan seorang laki-laki, namun mereka bercerai, dan harapannya bahwa ia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik sebagai seorang wanita ternyata hanyalah sementara.

"Before the surgery people who saw me would say, 'He's so girly, he's so feminine,'" Marie says.
“Sebelum operasi (ganti kelamin), orang-orang yang melihatku akan berkata, “Ia cewek banget, ia wanita banget,” kata Marie.

"After the operation whenever I wanted to feel like a woman, or behave like a woman, everybody would say, 'She looks like a man, she's manly.' It did not help reduce my problems. On the contrary, it increased my problems...
“Setelah operasi (ganti kelamin), yakni setiap kali aku ingin menjadi seperti seorang wanita, atau berperilaku sebagai seorang wanita, maka orang-orang akan berkata, “Ia kelihatan seperti cowok, ia cowok banget.” Hal tersebut tidak membantu dalam mengurangi permasalahan-permasalahanku. Namun sebaliknya, hal tersebut malah menambah segala pemasalahanku.

[www.bbc.com/news/magazine-29832690]