Saturday, March 05, 2016

// // Leave a Comment

Syiah Liwath Sodomi Dubur Tempat Eek [Goresan Pena Tanya Syiah Part 28]

Syiah Liwath Sodomi Dubur Tempat Eek

Ajaran agama Syiah Rafidhah sungguh benar-benar menjijikan, yakni hanya demi memuaskan hasrat nafsu syahwatnya, mereka (Syiah Rafidhah) ridha untuk melakukan hal-hal yang melampaui batas meskipun Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengharamkannya. Salah satu ajaran agama Syiah Rafidhah yang menjijikan tersebut adalah Sodomi Dubur.


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحِي مِنْ الْحَقِّ لَا تَأْتُوا النِّسَاءَ فِي أَدْبَارِهِنَّ
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, janganlah kalian menyetubuhi para isteri pada Duburnya.”
[Ahmad no.20855, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.21755, Syaikh Hamzah Ahmad Zain]

" الْوَطْءُ فِي الدُّبُرِ " حَرَامٌ فِي كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى ذَلِكَ عَامَّةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ: مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَغَيْرِهِمْ؛ فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ فِي كِتَابِهِ:
“Menyetubuhi Dubur” adalah haram dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam serta seluruh para Imam kaum Muslimin baik dari kalangan Shahabat dan Tabi’in serta selainnya. Sesungguhnya Allah telah berfirman di dalam Kitab-Nya,

{نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ}
“Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok tanam-mu itu bagaimana saja yang kamu kehendaki.” [QS. Al-Baqarah : 223]

وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ: أَنَّ الْيَهُودَ كَانُوا يَقُولُونَ إذَا أَتَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ فِي قُبُلِهَا مِنْ دُبُرِهَا جَاءَ الْوَلَدُ أَحْوَلَ فَسَأَلَ الْمُسْلِمُونَ عَنْ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ:
Sugguh telah tsabit di dalam ash-Shahih bahwasanya orang-orang Yahudi biasa mengatakan, bila seorang laki-laki menyetubuhi isterinya pada kemaluannya melalui arah Duburnya, maka anak yang terlahir akan juling matanya. Lantas, kaum Muslimin bertanya mengenai hal tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu Allah menurunkan ayat ini

{نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ}
“Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok tanam-mu itu bagaimana saja yang kamu kehendaki.” [QS. Al-Baqarah : 223]

و " الْحَرْثُ " مَوْضِعُ الزَّرْعِ. وَالْوَلَدُ إنَّمَا يُزْرَعُ فِي الْفَرْجِ لَا فِي الدُّبُرِ {فَأْتُوا حَرْثَكُمْ} وَهُوَ مَوْضِعُ الْوَلَدِ.
Adapun makna [الْحَرْثُ] adalah tempat bercocok tanam, yakni anak akan tumbuh dari (hubungan) di farji (kemaluan) dan bukan di Dubur. “Maka datangilah lahan tempat bercocok tanam-mu itu,” yakni di tempat (tumbuhnya) anak.

{أَنَّى شِئْتُمْ} أَيْ مِنْ أَيْنَ شِئْتُمْ: مِنْ قُبُلِهَا وَمِنْ دُبُرِهَا وَعَنْ يَمِينِهَا وَعَنْ شِمَالِهَا. فَاَللَّهُ تَعَالَى سَمَّى النِّسَاءَ حَرْثًا؛ وَإِنَّمَا رَخَّصَ فِي إتْيَانِ الحروث وَالْحَرْثُ إنَّمَا يَكُونُ فِي الْفَرْجِ. وَقَدْ جَاءَ فِي غَيْرِ أَثَرٍ:
Sedangkan [أَنَّى شِئْتُمْ] maknanya adalah (terserah) bagaimana saja yang kamu kehendaki baik dari arah depan atau belakang dan atau juga dari arah samping kanan ataupun kirinya. Allah Ta’ala menyebut wanita sebagai lahan yang dibolehkan untuk didatangi lahannya, yakni pada farji (kemaluan). Sungguh telah datang sebuah atsar yang lain, yakni

أَنَّ الْوَطْءَ فِي الدُّبُرِ هُوَ اللُّوطِيَّةُ الصُّغْرَى وَقَدْ ثَبَتَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: {إنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنْ الْحَقِّ لَا تَأْتُوا النِّسَاءَ فِي حُشُوشِهِنَّ}
Bahwasanya menyetubuhi (isteri) pada Dubur adalah termasuk Liwath Sughra (kecil), dan telah tsabit juga dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, janganlah kalian menyetubuhi para isteri pada Duburnya.”

" و " الْحُشُّ " هُوَ الدُّبُرُ وَهُوَ مَوْضِعُ الْقَذَرِ وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ حَرَّمَ إتْيَانُ الْحَائِضِ مَعَ أَنَّ النَّجَاسَةَ عَارِضَةٌ فِي فَرْجِهَا فَكَيْفَ بِالْمَوْضِعِ الَّذِي تَكُونُ فِيهِ النَّجَاسَةُ الْمُغَلَّظَةُ: و " أَيْضًا " فَهَذَا مِنْ جِنْسِ اللِّوَاطِ وَمَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَد وَأَصْحَابِهِ أَنَّ ذَلِكَ حَرَامٌ لَا نِزَاعَ بَيْنَهُمْ وَهَذَا هُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ مَالِكٍ وَأَصْحَابِهِ
Adapun makna [الْحُشُّ] adalah Dubur, yakni tempat yang kotor. Allah Subhanah telah mengharamkan untuk menyetubuhi wanita haidh yang terdapat najis (yang bersifat sementara) pada farjinya, lalu bagaimana lagi dengan tempat yang padanya terdapat najis mughaladzah. Serta juga (menyetubuhi Dubur) termasuk jenis Liwath. Dan menurut madzhab Abu Hanifah, Syafi’iyyah dan Ahmad beserta para sahabatnya bahwasanya (menyetubuhi Dubur) adalah haram tanpa ada perselisihan di antara mereka. Serta yang nampak, (pendapat) ini (yakni haramnya menyetubuhi Dubur) adalah madzhabnya Malik beserta para sahabatnya.

[Majmu’ al-Fatawa 32/237-268, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

أَنَّ يَهُودَ كَانَتْ تَقُولُ إِذَا أُتِيَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ دُبُرِهَا فِي قُبُلِهَا ثُمَّ حَمَلَتْ كَانَ وَلَدُهَا أَحْوَلَ قَالَ فَأُنْزِلَتْ
{ نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ }
وَزَادَ فِي حَدِيثِ النُّعْمَانِ عَنْ الزُّهْرِيِّ إِنْ شَاءَ مُجَبِّيَةً وَإِنْ شَاءَ غَيْرَ مُجَبِّيَةٍ غَيْرَ أَنَّ ذَلِكَ فِي صِمَامٍ وَاحِدٍ
Bahwasanya orang-orang Yahudi biasa mengatakan apabila seorang wanita disetubuhi melalui arah Duburnya (belakang) (namun tetap) pada qubul (farji/kemaluan), maka ia akan melahirkan seorang anak yang juling matanya. Sehingga turunlah ayat,

{نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ}
“Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok tanam-mu itu bagaimana saja yang kamu kehendaki.” [QS. Al-Baqarah : 223]
Di dalam hadits an-Nu’man dari az-Zuhri terdapat sebuah tambahan, “Jika ia menghendaki isterinya menungging (maka boleh) dan jika menghendaki tidak menungging (maka boleh juga), melainkan yang demikian itu pada lubang yang satu.” [Muslim no.2593]

والصمام بِكَسْرِ الصَّادِ أَيْ ثَقْبٌ وَاحِدٌ وَالْمُرَادُ بِهِ القبل قال الْعُلَمَاءُ وَقَوْلُهُ تَعَالَى فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ أَيْ مَوْضِعُ الزَّرْعِ مِنَ الْمَرْأَةِ وَهُوَ قُبُلُهَا الَّذِي يُزْرَعُ فِيهِ الْمَنِيُّ لِابْتِغَاءِ الْوَلَدِ
[والصمام] yakni lubang yang satu, maksudnya adalah qubul (farji/kemaluan). Para Ulama (menafsirkan) firman-Nya Ta’ala, “Maka datangilah lahan tempat bercocok tanam-mu itu bagaimana saja yang kamu kehendaki.” Yakni tempat bercocok tanam pada seorang wanita, yaitu pada qubulnya (farji/kemaluan) sebagai tempat ditanamnya air mani guna mengharapkan anak.

فَفِيهِ إِبَاحَةُ وَطْئِهَا فِي قُبُلِهَا إِنْ شَاءَ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهَا وَإِنْ شَاءَ مِنْ وَرَائِهَا وَإِنْ شَاءَ مَكْبُوبَةً وَأَمَّا الدُّبُرُ فَلَيْسَ هُوَ بِحَرْثٍ وَلَا مَوْضِعَ زَرْعٍ وَمَعْنَى قَوْلُهُ أَنَّى شِئْتُمْ أَيْ كَيْفَ شِئْتُمْ
Dan di dalam (hadits ini) terdapatnya (dalil) bolehnya menyetubuhi (isteri) pada qubulnya (farji/kemaluan), jika mau maka dapat dilakukan dari arah depan atau dari arah belakang dan atau juga dengan menungging. Adapun Dubur bukanlah lahan dan bukan pula tempat bercocok tanam. Sedangkan makna firman-Nya, “Bagaimana saja yang kamu kehendaki.” Yakni (terserah) bagaimananya sesuai dengan kehendak kalian.

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ الَّذِينَ يُعْتَدُّ بِهِمْ عَلَى تَحْرِيمِ وَطْءِ الْمَرْأَةِ فِي دُبُرِهَا حَائِضًا كَانَتْ أَوْ طَاهِرًا لِأَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ مَشْهُورَةٍ كَحَدِيثِ مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا
Para Ulama yang dijadikan rujukan telah sepakat mengenai haramnya menyetubuhi seorang wanita pada Duburnya baik dalam keadaan haidh ataupun dalam keadaan suci dengan berdasarkan hadits-hadits yang banyak serta masyhur, seperti hadits “Terlaknatlah bagi orang yang menyetubuhi isterinya pada Duburnya.”
[Syarah Shahih Muslim 10/6, Imam an-Nawawi]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Terlaknatlah bagi orang yang menyetubuhi isterinya pada Duburnya.”
[Abu Daud no.1847, Hasan : Shahih Abu Dawud no.2162, Syaikh al-Albani]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلًا أَوْ امْرَأَةً فِي الدُّبُرِ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada laki-laki yang menyetubuhi laki-laki lainnya dan (menyetubuhi) wanita pada Duburnya.”
Abu ‘Isa (Imam at-Tirmidzi) berkata, “Hadits ini Hasan Gharib.”
[Tirmidzi no.1086, Hasan : Shahih Tirmidzi no.1165, Syaikh al-Albani]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haidh atau (menyetubuhi) wanita pada duburnya, dan (mendatangi) seorang dukun seraya membenarkan perkataannya, maka sungguh ia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.”
[Ibnu Majah no.631, Shahih : Shahih Ibnu Majah no.528, Syaikh al-Albani]

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (222) نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (223)
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. [QS. Al-Baqarah : 222]
Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok tanam-mu itu bagaimana saja yang kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. [QS. Al-Baqarah : 223]

وَقَوْلُهُ: {مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ} قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَمُجَاهِدٌ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ: يَعْنِي الفَرْج
Firman-Nya, “Di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah farji (kemaluan). [Tafsir Ibnu Katsir 1/588]

وَفِيهِ دَلَالَةٌ حِينَئِذٍ عَلَى تَحْرِيمِ الْوَطْءِ فِي الدُّبُرِ، كَمَا سَيَأْتِي تَقْرِيرُهُ قَرِيبًا
Dan di dalam ayat ini terdapatnya dalil diharamkannya menyetubuhi (isteri) pada Dubur, sebagaimana yang akan dibahas sebentar lagi. [Tafsir Ibnu Katsir 1/588]

وَقَوْلُهُ: {نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ} قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: الْحَرْثُ مَوْضِعُ الْوَلَدِ {فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ} أَيْ: كَيْفَ شئْتم مُقْبِلَةً وَمُدْبِرَةً فِي صِمام وَاحِدٍ، كَمَا ثَبَتَتْ بِذَلِكَ الْأَحَادِيثُ
Firman-Nya, “Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam,” Ibnu ‘Abbas berkata, “[الْحَرْثُ] adalah tempat mengandung anak (rahim). “Maka datangilah lahan tempat bercocok tanam-mu itu bagaimana saja yang kamu kehendaki,” Yakni bagaimananya (terserah) sesuai kehendak kalian baik dari arah depan ataupun dari arah belakang (namun tetap) pada lubang yang satu, sebagaimana yang telah tsabit di dalam banyak hadits. [Tafsir Ibnu Katsir 1/588]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: {نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ} فِي أُنَاسٍ مِنَ الْأَنْصَارِ، أَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلُوهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "آتِهَا عَلَى كُلِّ حَالٍ، إِذَا كَانَ فِي الْفَرْجِ"
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, ayat “Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam,” diturunkan mengenai beberapa orang Shahabat Anshar yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seraya bertanya kepada beliau. Lantas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Setubuhilah (isteri) dengan cara bagaimanapun selama masih pada farji (kemaluan).” [Ahmad no.2289, Hasan Lighairihi : Musnad Imam Ahmad no.2414, Syaikh Syu’aib al-Arnauth]
[Tafsir Ibnu Katsir 1/590]

لِمَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ أَيْضًا عَنْ عَلِيِّ بْنِ عُثْمَانَ النُّفَيْلِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عِيسَى، عَنِ الْمُفَضَّلِ بْنِ فَضَالَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ الطَّوِيلِ، عَنْ كَعْبِ بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِي النَّضْرِ: أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَالَ لِنَافِعٍ مَوْلَى ابْنِ عُمَرَ:
An-Nasa’i meriwayatkan juga dari ‘Aliy bin ‘Utsman an-Nufailiy dari Sa’id bin ‘Isa dari al-Mufadhdhal bin Fadhalah dari ‘Abdillah bin Sulaiman ath-Thawil dari Ka’ab bin ‘Alqamah dari Abi an-Nadhr bahwa ia berkata kepada Nafi’ Maula Ibnu ‘Umar,

إِنَّهُ قَدْ أَكْثَرَ عَلَيْكَ الْقَوْلَ: إِنَّكَ تَقُولُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ إِنَّهُ أَفْتَى أَنْ تُؤْتَى النِّسَاءُ فِي أَدْبَارِهِنَّ قَالَ: كَذَبُوا عَلَيَّ، وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ كَيْفَ كَانَ الْأَمْرُ: إِنَّ ابْنَ عُمَرَ عَرَضَ الْمُصْحَفَ يَوْمًا وَأَنَا عِنْدَهُ، حَتَّى بَلَغَ:
“Sesungguhnya telah banyak beredar bahwa engkau telah menceritakan mengenai Ibnu ‘Umar yang pernah memberikan fatwa dibolehkannya menyetubuhi isteri-isteri pada Dubur mereka. Lantas ia (Nafi’) berkata, “Mereka telah berdusta atas namaku, akan tetapi akan aku ceritakan kepadamu perkara yang sebenarnya. Pada suatu hari, Ibnu ‘Umar sedang membaca Mushaf, adapun aku sedang berada di sisinya, hingga sampai bacaan,

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ
“Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok tanam-mu itu bagaimana saja yang kamu kehendaki.” [QS. Al-Baqarah : 223]

فَقَالَ: يَا نافعُ، هَلْ تَعْلَمُ مِنْ أَمْرِ هَذِهِ الْآيَةِ؟ قُلْتُ:لَا. قَالَ: إِنَّا كُنَّا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ نُجبِّي النِّسَاءَ، فَلَمَّا دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ وَنَكَحْنَا نِسَاءَ الْأَنْصَارِ، أَرَدْنَا مِنْهُنَّ مِثْلَ مَا كُنَّا نُرِيدُ فَإِذَا هُنَّ قَدْ كَرِهْنَ ذَلِكَ وَأَعْظَمْنَهُ، وَكَانَتْ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ قَدْ أَخَذْنَ بِحَالِ الْيَهُودِ، إِنَّمَا يُؤْتَيْنَ عَلَى جَنُوبِهِنَّ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ:
Lalu ia (Ibnu ‘Umar) berkata, “Wahai Nafi’, apakah engkau mengetahui siapa yang diperintahkan pada ayat ini?” Aku (Nafi’) menjawab, “Aku tidak tahu.” Maka (Ibnu ‘Umar) berkata, “Sesungguhnya kami kaum Quraisy terbiasa menyetubuhi isteri-isteri dengan posisi menungging (dari arah belakang namun tetap pada farji). Tatkala kami memasuki kota Madinah dan menikahi para wanita Anshar, kami menghendaki dari mereka seperti yang kami inginkan. Tetapi mereka tidak menyukainya dan menganggap sebagai permasalahan yang besar, dikarenakan para wanita Anshar telah terbiasa dengan kebiasaan orang-orang Yahudi, yaitu menyetubuhi dari arah depan mereka. Lalu Allah menurunkan ayat,

{نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ}.
“Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok tanam-mu itu bagaimana saja yang kamu kehendaki.” [QS. Al-Baqarah : 223]

وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ،
Sanadnya Shahih.
[Tafsir Ibnu Katsir 1/592]

قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الدَّارِمِيِّ فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ يَعْقُوبَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَبِي الْحُبَابِ قَالَ: قُلْتُ لِابْنِ عُمَرَ:
Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ad-Darimiy berkata di dalam musnadnya, telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepadaku al-Laits dari al-Harits bin Ya’qub dari Sa’id bin Yasar Abi al-Hubab, ia berkata, aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Umar,

مَا تَقُوُلُ فِي الْجَوَارِي، أَنُحْمِضُ لَهُنَّ؟ قَالَ: وَمَا التَّحْمِيضُ؟ فَذَكَرَ الدُّبر. فَقَالَ: وَهَلْ يَفْعَلُ ذَلِكَ أَحَدٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟
“Apa pendapatmu mengenai tentang budak perempuan, apakah boleh ditahmidh?” Lantas (Ibnu ‘Umar) berkata, “Apa itu tahmidh?” (Sa’id bin Yasar Abi al-Hubab) menjawab, “(Tahmidh) adalah menyetubuhi di Dubur.” Kemudian (Ibnu ‘Umar) berkata, “Apakah ada dari kaum Muslimin yang melakukannya?”

وَكَذَا رَوَاهُ ابْنُ وَهْبٍ وَقُتَيْبَةُ، عَنِ اللَّيْثِ، بِهِ. وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ وَنَصٌّ صَرِيحٌ مِنْهُ بِتَحْرِيمِ ذَلِكَ، فَكُلُّ مَا وَرَدَ عَنْهُ مِمَّا يَحْتَمِلُ وَيَحْتَمِلُ فَهُوَ مَرْدُودٌ إِلَى هَذَا الْمُحْكَمِ
Dan begitu pula dengan riwayat Ibnu Wahb dan Qutaibah dari al-Laits dengan (redaksi tersebut di atas). Sanadnya Shahih dan ini merupakan nash yang jelas darinya (Ibnu ‘Umar) mengenai haramnya (menyetubuhi Dubur). Oleh karena itu, setiap (riwayat) yang datang darinya mengenai pembolehan atau mengandung kemungkinan pembolehan, maka tertolak berdasarkan hukum ini.

[Tafsir Ibnu Katsir 1/597]

وَقَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ زِيَادٍ النَّيْسَابُورِيُّ: حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ حُصَيْنٍ، حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ رَوْحٍ: سَأَلْتُ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ:
Abu Bakar bin Ziyad an-Naisaburiy berkata, telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Hushain, telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Ruh, aku pernah bertanya kepada Malik bin Anas,

مَا تَقُولُ فِي إِتْيَانِ النِّسَاءِ فِي أَدْبَارِهِنَّ: قَالَ: مَا أَنْتُمْ قَوْمٌ عَرَبٌ. هَلْ يَكُونُ الْحَرْثُ إِلَّا مَوْضِعَ الزَّرْعِ، لَا تَعْدُو الْفَرْجَ.
قُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، إِنَّهُمْ يَقُولُونَ: إِنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ؟! قَالَ: يَكْذِبُونَ عَلَيَّ، يَكْذِبُونَ عَلَيَّ.
“Apa pendapatmu mengenai menyetubuhi isteri-isteri pada Dubur mereka.” Lantas (Imam Malik) berkata, “Bukankah kalian adalah bangsa ‘Arab? Bukankah al-Hartsu adalah tempat bercocok tanam, janganlah kalian melampaui batas kepada selain farji (kemaluan).
Lalu aku berkata, “Wahai Aba ‘Abdillah, sesungguhnya mereka telah berkata bahwa engkau telah berpendapat demikian? (yakni boleh menyetubuhi Dubur)” Kemudian (Imam Malik) berkata, “Mereka telah berdusta atas namaku, mereka telah berdusta atas namaku.”

فَهَذَا هُوَ الثَّابِتُ عَنْهُ، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَصْحَابِهِمْ قَاطِبَةً. وَهُوَ قَوْلُ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، وَأَبِي سَلَمَةَ، وَعِكْرِمَةَ، وَطَاوُسٍ، وَعَطَاءٍ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، وَعُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، وَمُجَاهِدِ بْنِ جَبْرٍ وَالْحَسَنِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ السَّلَفِ: أَنَّهُمْ أَنْكَرُوا ذَلِكَ أَشَدَّ الْإِنْكَارِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُطْلِقُ عَلَى فَاعِلِهِ الْكُفْرَ، وَهُوَ مَذْهَبُ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ
Ini adalah riwayat yang Tsabit darinya (Imam Malik). Dan ia juga pendapatnya Abu Hanifah, asy-Syafi’iy, Ahmad bin Hanbal beserta seluruh sahabat mereka. Begitu pula ia merupakan pendapatnya Sa’id bin Musayyib, Abi Salamah, ‘Ikrimah, Thawus, ‘Atha’, Sa’id bin Jubair, ‘Urwah bin Zubair, Mujahid bin Jabr, al-Hasan dan lainnya yang berasal dari kalangan Salaf. Mereka mengingkari dengan pengingkaran yang sangat keras, bahkan sebagian mereka ada yang menganggap kufur orang yang melakukannya, serta ia juga merupakan pendapatnya Jumhur para Ulama.

[Tafsir Ibnu Katsir 1/598]

وما نسب إلى مالك وأصحابه من هذا باطل وهم مبرءون من ذلك، لأن إباحة الإتيان مختصة بموضع الحرث، لقوله تعالى:" فأتوا حرثكم"، ولأن الحكمة في خلق الأزواج بث النسل، فغير موضع النسل لا يناله مالك النكاح، وهذا هو الحق.
Adapun pendapat yang dinisbatkan kepada Malik dan para sahabatnya, maka bathil dan mereka berlepas diri hal yang demikian. Hal ini dikarenakan pembolehan bersetubuh (dengan isteri) hanya pada tempat bercocok tanam dengan berdasarkan firman-Nya Ta’ala, “Maka datangilah lahan tempat bercocok tanam-mu itu.” Dan juga, hikmah diciptakannya pasangan adalah untuk menyebarkan keturunan. Oleh karena itu, selain tempat (lahirnya) keturunan adalah tidak termasuk sesuatu yang dapat dimiliki dari pernikahan. Dan inilah yang benar.

وقد قال أصحاب أبي حنيفة: إنه عندنا ولائط الذكر سواء في الحكم، ولأن القذر والأذى في موضع النجو أكثر من دم الحيض، فكان أشنع. وأما صمام البول فغير صمام الرحم
Para sahabat Abu Hanifah berkata, “Menurut pendapat kami perbuatan tersebut adalah Liwath yang memiliki hukum yang sama. Dikarenakan kotoran dan penyakit itu lebih banyak terdapat pada (Dubur) daripada darah haidh, maka ia lebih tercela. Adapun lubang air pipis bukanlah lubang rahim.”

[Tafsir al-Qurthubi 3/94]

وقد حرم الله تعالى الفرج حال الحيض لأجل النجاسة العارضة. فأولى أن يحرم الدبر لأجل النجاسة اللازمة
Allah Ta’ala telah mengharamkan farji (kemaluan) ketika haidh dikarenakan adanya najis yang nampak (yang bersifat sementara). Jika demikian, maka (Allah) akan mengharamkan Dubur karena adanya najis yang permanen.

وقال مالك لابن وهب وعلي بن زياد لما أخبراه أن ناسا بمصر يتحدثون عنه أنه يجيز ذلك، فنفر من ذلك، وبادر إلى تكذيب الناقل فقال: كذبوا علي، كذبوا علي، كذبوا علي! ثم قال: ألستم قوما عربا؟ ألم يقل الله تعالى:" نساؤكم حرث لكم"؟ وهل يكون الحرث إلا في موضع المنبت
Malik berkata kepada Ibnu Wahab dan ‘Aliy bin Ziyad, tatkala mereka berdua mengabarkan kepada (Malik) bahwasanya orang-orang Mesir memberitakan bahwa dirinya membolehkannya (menyetubuhi Dubur). Lantas (Imam Malik) langsung mengingkarinya dengan menyatakan bahwa orang yang menukil pendapatnya tersebut telah berdusta, seraya berkata, “Mereka telah berdusta atas namaku, mereka telah berdusta atas namaku, mereka telah berdusta atas namaku!” Kemudian (Imam Malik) berkata, “Bukankah kalian bangsa ‘Arab? Dan bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, “Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam.” Bukankah bercocok tanam itu hanya di tempat yang dapat menumbuhkan.”

وما استدل به المخالف من أن قوله عز وجل:" أنى شئتم" شامل للمسالك بحكم عمومها فلا حجة فيها، إذ هي مخصصة بما ذكرناه، وبأحاديث صحيحة حسان وشهيرة رواها عن رسول الله صلى الله عليه وسلم اثنا عشر صحابيا بمتون مختلفة، كلها متواردة على تحريم إتيان النساء في الأدبار، ذكرها أحمد بن حنبل في مسنده، وأبو داود والنسائي والترمذي وغيرهم
Adapun dalil yang dipegang oleh para penyelisih, yaitu firman-Nya ‘Azza wa Jalla, “Bagaimana saja yang kamu kehendaki.” Yakni mencakup beberapa jalur dengan keumuman hukumnya, namun ia tidak dapat dijadikan hujjah. Dikarenakan ia telah ditakhsish oleh (dalil) yang telah kami sebutkan beserta hadits-hadits yang Shahih, Hasan serta Masyhur yang riwayatnya berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yakni sebanyak 12 orang Shahabat dengan matan yang beragam. (Riwayat tersebut) semuanya menyatakan akan haramnya menyetubuhi isteri-isteri pada Duburnya. Hal tersebut telah diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Abu Dawud, an-Nasa’iy dan at-Tirmidziy serta selainnya.

[Tafsir al-Qurthubi 3/94-95]

وقد روي عن ابن عمر خلاف هذا، وتكفير من فعله، وهذا هو اللائق به رضي الله عنه. وكذلك كذب نافع من أخبر عنه بذلك، كما ذكر النسائي، وقد تقدم. وأنكر ذلك مالك واستعظمه، وكذب من نسب ذلك إليه.
Dan telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dalam menyelisihi (pembolehan menyetubuhi Dubur) serta pengkafiran bagi pelakunya. Ini merupakan suatu pendapat yang layak berasal darinya Radhiyallahu ‘anhu. Dan begitu pula dengan Nafi’ yang mendustakan khabar yang (diklaim) darinya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh an-Nasa’iy sebelumnya. Serta, Malik juga mengingkari dan menganggapnya sebagai suatu perkara yang besar, dan ia (Imam Malik) mendustakan orang yang menisbatkan (pendapat tersebut) kepada dirinya.
[Tafsir al-Qurthubi 3/95]

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الَّذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا هِيَ اللُّوطِيَّةُ الصُّغْرَى
Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda mengenai orang yang menyetubuhi isterinya pada Duburnya sebagai Liwath Sughra (kecil).
[Ahmad no.6672, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.6967, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

قَالَ سُئِلَ قَتَادَةُ عَنْ الَّذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا فَقَالَ قَتَادَةُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هِيَ اللُّوطِيَّةُ الصُّغْرَى
قَالَ قَتَادَةُ وَحَدَّثَنِي عُقْبَةُ بْنُ وَسَّاجٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ وَهَلْ يَفْعَلُ ذَلِكَ إِلَّا كَافِرٌ
Qatadah ditanya mengenai orang yang meyetubuhi isterinya pada Duburnya, lantas Qatadah berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda, “Perbuatan tersebut termasuk Liwath Sughra (kecil).”
Qatadah berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Uqbah bin Wassaj dari Abu Darda’, ia berkata, “Tidak ada yang melakukan perbuatan tersebut kecuali orang kafir.”
[Ahmad no.6673, Shahih : Musnad Imam Ahmad no.6968, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:" تلك اللوطية الصغرى" يعنى إتيان المرأة في دبرها. وروي عن طاوس أنه قال: كان بدء عمل قوم لوط إتيان النساء في أدبارهن
Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Itu adalah Liwath Sughra (kecil).” Yakni menyetubuhi isteri pada Duburnya. Dan diriwayatkan pula dari Thawus bahwasanya ia berkata, “Awal perbuatan kaum Luth adalah menyetubuhi para wanita pada Dubur-Dubur mereka.”
[Tafsir al-Qurthubi 3/95-96]

Namun Syiah Rafidhah yang telah melakukan Liwath Sughra dengan men-Sodomi Dubur para wanita Syiah malah menuduh ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu sebagai laki-laki yang di-Sodomi.

إن عمر بن الخطاب كان مُصاباً بداء في دُبُرِهِ لا يهدأُ إلا بماءِ الرجال
الأنوار النعمانية 1/63
Sesungguhnya Umar bin al-Khaththab terjangkiti sebuah penyakit pada Duburnya yang tidak akan sembuh kecuali dengan air mani laki-laki.
[Al-Anwar an-Nu’maniyyah, Ni’matullah al-Jazairiy Pendeta Syiah Rafidhah]

Hingga akhirnya, mereka (Syiah Liwath Rafidhah) menjadi terhina sebelum menuju kebinasaan, yaitu dengan men-Sodomi Dubur yakni Anus Tempat Keluarnya Eek.

Syiah Liwath Sodomi Dubur Tempat Eek

870. السؤال:
هل الجماع من الدبر حرام أم حلال؟ ولماذا؟ وهل الدبر مكان خروج الفضلات والقبل هو مكان خروج البول؟
الجواب:
الجماع من الدبر مكروه ولكنه جائز مع رضا الزوجة والمراد بالدبر هو ما ذكرت.
استفتاءات - السيد السيستاني - الصفحة ٢٢٤
870. Pertanyaan:
Apakah Jima’ dengan (men-Sodomi) Dubur itu adalah haram ataukah halal? Dan kenapa? Lalu apakah (yang dimaksud dengan) Dubur itu adalah Tempat Keluarnya Eek? Dan qubul itu adalah tempat keluarnya pipis?
Jawab:
Jima’ dengan (men-Sodomi) Dubur adalah makruh, akan tetapi (Sodomi Dubur) diperbolehkan jika diridhai oleh wanita (Syiah). Adapun apa yang dimaksud dengan Dubur adalah seperti apa yang telah (engkau) katakan (yakni Tempat Keluarnya Eek).
[Istifta’at 224, As-Sistani Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/755_استفتاءات-السيد-السيستاني/الصفحة_224]

مسألة 11 - المشهور الأقوى جواز وطء الزوجة دبرا على كراهية شديدة،
تحرير الوسيلة - السيد الخميني - ج ٢ - الصفحة ٢٤١
Permasalahan 11
Yang Masyhur lagi kuat adalah diperbolehkannya (men-Sodomi) wanita (Syiah) melalui Dubur (yakni Anus Tempat Keluarnya Eek) dengan sangat makruh.
[Tahrir al-Wasilah 2/241, Khomeini Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/718_تحرير-الوسيلة-السيد-الخميني-ج-٢/الصفحة_241]

قلت: الرجل يأتي امرأته في دبرها؟ قال: ذلك له،
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٥ - الصفحة ٥٤٠
Aku bertanya mengenai seorang laki-laki (Syiah) yang mendatangi wanita (Syiah) dengan (men-Sodomi) Duburnya (yakni Anus Tempat Keluarnya Eek).
Lantas ia menjawab, “(Boleh) bagi dirinya.”
[Al-Kaafiy 5/540, al-Kulainiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1126_الكافي-ج-٥/الصفحة_0?pageno=540#top]

قلت الرجل يأتي امرأته في دبرها؟ قال: نعم ذلك له
تهذيب الأحكام - الشيخ الطوسي - ج ٧ - الصفحة ٤١٥
تهذيب الأحكام - الشيخ الطوسي - ج ٧ - الصفحة ٤١٦
Aku bertanya, “Terdapat seorang laki-laki (Syiah) yang mendatangi wanita (Syiah) dengan (men-Sodomi) Duburnya (yakni Anus Tempat Keluarnya Eek)?”
Lalu (Imam Syiah) menjawab, “Iya boleh baginya.”
[Tahdzib al-Ahkam 7/415-416, ath-Thusiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1167_تهذيب-الأحكام-الشيخ-الطوسي-ج-٧/الصفحة_0?pageno=415#top]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1167_تهذيب-الأحكام-الشيخ-الطوسي-ج-٧/الصفحة_416#top]

سألت أبا عبد الله (عليه السلام) عن الرجل يأتي المرأة في دبرها؟ قال: لا بأس به
وسائل الشيعة (آل البيت) - الحر العاملي - ج ٢٠ - الصفحة ١٤٧
Aku bertanya kepada Aba ‘Abdillah (‘alaihi Salam) mengenai seorang laki-laki (Syiah) yang mendatangi wanita (Syiah) dengan (men-Sodomi) Duburnya (yakni Anus Tempat Keluarnya Eek)?
Lalu ia menjawab, “Tidaklah mengapa.”
[Wasail asy-Syiah 20/147, al-Hurr al-‘Amiliy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1206_وسائل-الشيعة-آل-البيت-الحر-العاملي-ج-٢٠/الصفحة_145]

سألت أبا عبد الله عليه السلام عن الرجل يأتي المرأة في دبرها قال: لا بأس إذا رضيت،
تهذيب الأحكام - الشيخ الطوسي - ج ٧ - الصفحة ٤١٤
Aku bertanya kepada Aba ‘Abdillah ‘alaihi Salam mengenai seorang laki-laki (Syiah) yang mendatangi wanita (Syiah) dengan (men-Sodomi) Duburnya (yakni Anus Tempat Keluarnya Eek).
Lantas ia menjawab, “Tidaklah mengapa jika (wanita Syiah) meridhainya.”
[Tahdzib al-Ahkam 7/414, ath-Thusiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1167_تهذيب-الأحكام-الشيخ-الطوسي-ج-٧/الصفحة_414#top]

Bahkan Syiah Liwath Rafidhah berani berdusta atas nama Ahlul Bayt dengan menakwil firman Allah Ta’ala dengan takwilan yang bathil, bahwasanya Nabi Luth ‘alaihi Salam telah menawarkan puteri-puteri negerinya untuk di-Sodomi Duburnya oleh kaum Sodom.

سألت أبا الحسن الرضا (عليه السلام) عن اتيان الرجل المرأة من خلفها؟ فقال: أحلتها آية من كتاب الله، قول لوط: ﴿هؤلاء بناتي هن أطهر لكم﴾ وقد علم أنهم لا يريدون الفرج
وسائل الشيعة (آل البيت) - الحر العاملي - ج ٢٠ - الصفحة ١٤٦
Aku bertanya kepada Abu al-Hasan ar-Ridha (‘alaihi Salam) mengenai seorang laki-laki (Syiah) yang menyetubuhi seorang wanita (Syiah) melalui arah belakangnya?
Lantas ia menjawab, “Ia halal dengan ayat Kitabullah, yakni tatkala Luth berkata,

هؤلاء بناتي هن أطهر لكم
“Inilah puteri-puteri (negeri)-ku, mereka lebih suci bagimu.” [QS. Hud : 78]
Sungguh ia (Luth) telah mengetahui bahwasanya yang diinginkan oleh mereka (kaum Sodom) adalah bukan farji (namun Dubur, yakni Anus wanita Syiah Tempat Keluarnya Eek).
[Wasail asy-Syiah 20/146, al-Hurr al-‘Amiliy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1206_وسائل-الشيعة-آل-البيت-الحر-العاملي-ج-٢٠/الصفحة_144#top]

Sehingga, mereka (Syiah Liwath Rafidhah) akan memuaskan hasrat nafsu syahwatnya di dalam berbagai kesempatan, meskipun pada saat melakukan ibadah puasa maka mereka (Syiah Liwath Rafidhah) akan melakukan Sodomi Dubur yakni Tempat Keluarnya Eek.

إذا أتى الرجل المرأة في دبرها فلم ينزلا فلا غسل عليهما، وإن أنزل فعليه الغسل، ولا غسل عليها
وسائل الشيعة (الإسلامية) - الحر العاملي - ج ١ - الصفحة ٤٨١
Jika seorang laki-laki (Syiah) mendatangi seorang wanita (Syiah) dengan (men-Sodomi) Duburnya (yakni Anus Tempat Keluarnya Eek) namun tidak mengeluarkan air mani, maka keduanya tidak wajib mandi. Adapun jika ia (laki-laki Syiah) mengeluarkan air mani, maka bagi laki-laki (Syiah) tersebut wajib mandi, sedangkan wanita (Syiah)-nya tidak diwajibkan mandi.
[Wasail asy-Syiah 1/481, al-Hurr al-‘Amiliy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1217_وسائل-الشيعة-الإسلامية-الحر-العاملي-ج-١/الصفحة_507]

إذا أتى الرجل المرأة في دبرها وهي صائمة لم ينقض صومها وليس عليها غسل
الحدائق الناضرة - المحقق البحراني - ج ٣ - الصفحة ٩
Jika seorang laki-laki (Syiah) mendatangi seorang wanita (Syiah) dengan (men-Sodomi) Duburnya (yakni Anus Tempat Keluarnya Eek) sedangkan wanita (Syiah) tersebut sedang dalam keadaan berpuasa, maka puasa wanita (Syiah) tersebut tidaklah batal dan baginya juga tidak wajib mandi.
[Al-Hadaiq an-Nadhirah 3/9, al-Bahraniy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/236_الحدائق-الناضرة-المحقق-البحراني-ج-٣/الصفحة_9]

Oleh karena itu, Syiah Rafidhah yang melakukan Liwath Sodomi Dubur yakni Tempat Keluarnya Eek, adalah berasal dari thinah kaum Muslimin. namun pada hari Kiamat, mereka (Syiah Liwath Rafidhah) meyakini bahwa Allah akan mengambil keburukan mereka (Syiah Liwath Rafidhah) serta mengembalikannya kepada kaum Muslimin.

فما رأيته من شيعتنا من زنا, أو لواط, أو ترك صلاة, أو صيام, أو حج, أو جهاد, أو خيانة, أو كبيرة من هذه الكبائر فهو من طينة الناصب
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٥ - الصفحة ٢٣١
Adapun apa yang engkau lihat dari Syiah kita yang melakukan zina, Liwath (Sodomi Dubur yakni Anus Tempat Keluarnya Eek), meninggalkan shalat, (meninggalkan) puasa, (meninggalkan) haji, (meninggalkan) jihad, dan berkhianat, serta melakukan salah satu dosa besar dari dosa-dosa besar tersebut adalah berasal dari thinah (tanah liat) Nashibi.
[Bihar al-Anwar 5/231, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1436_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٥/الصفحة_233]

إذا كان يوم القيامة نزع الله عز وجل مسحة الايمان منهم فردها إلى شيعتنا،
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٥ - الصفحة ٢٤٨
Tatkala pada hari Kiamat, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mengambil cercah keimanan dari mereka (Nashibi) dan mengembalikannya kepada Syiah kita.
[Bihar al-Anwar 5/248, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1436_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٥/الصفحة_0?pageno=248#top]

قلت: جعلت فداك تؤخذ حسناتهم فترد إلينا؟ وتؤخذ سيئاتنا فترد إليهم؟ قال: إي والله الذي لا إله إلا هو
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٥ - الصفحة ٢٤٨
Lalu aku pun berkata, “Aku menjadi tebusanmu, apakah (Allah) akan mengambil kebaikan dari mereka (Nashibi) dan mengembalikannya kepada kita (Syiah)? Serta mengambil keburukan kami (Syiah Liwath Sodomi Dubur, yakni Anus Tempat Keluarnya Eek) dan mengembalikannya kepada mereka (Nashibi)?”
Lantas (Imam Syiah) berkata, “Iya demi Allah yang tidak Ilah (yang berhak disembah) selain Dia.”
[Bihar al-Anwar 5/248, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1436_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٥/الصفحة_0?pageno=248#top]