Friday, September 23, 2016

// // Leave a Comment

Haji Alternatif Syiah ke Karbala Irak

Haji Alternatif Syiah ke Karbala Irak
Haji Alternatif Syiah ke Karbala Irak
KARBALA, Iraq (AhlulBayt News Agency) - Barred from Makkah by Saudi authorities, masses of Iranian Shiite faithful have converged on the holy Iraqi city of Karbala for an alternative pilgrimage.

KARBALA, Irak (Syiah News Agency)- Dicoret dari Makkah oleh pemerintah Saudi, gerombolan orang-orang Iran yang beragama Syiah berkumpul menuju kota Suci Irak, yakni Karbala, untuk melakukan Haji alternatif.

The row that has prevented Iranians taking part in this year’s hajj pilgrimage is diverting hundreds of thousands to the shrine of Imam Hussein, one of the holiest sites in Shiite Islam.

Pertengkaran yang mencoret orang-orang Iran dalam mengambil bagian dalam tahun Haji ini mengakibatkan beralihnya ratusan ribu orang menuju Kuil Imam Husain, yang merupakan salah satu situs paling suci di dalam agama Syiah.

“I expect the number of pilgrims to reach a million, about 75 percent of them Iranians,” Adel al-Mussawi, a shrine official, told AFP.

“Aku memperkirakan bahwasanya jumlah (peserta Haji alternative) tersebut mencapai jutaan, yakni sekitar 75 persennya adalah orang-orang Iran,” kata Adel al-Mussawi, yang merupakan penjaga Kuil, kepada AFP.

Not all of those had planned to travel to Makkah but many of the 64,000 Iranians who were allocated places for this year’s hajj ended up in the holy Iraqi city this weekend.

Tidak semua dari mereka telah merencanakan untuk melakukan perjalanan ke Makkah, namun sebanyak 64.000 orang-orang Iran yang memang mendapatkan alokasi untuk melaksanakan Haji tahun ini, harus berakhir di kota Suci Irak pada minggu ini.

One of the lands which has gained superiority over other lands and has become a source of blessings and favors is Karbala, the place where the body of the Doyen of Martyrs, Imam al-Husayn (as), lies.

Salah satu tempat yang mendapatkan kelebihan daripada tempat-tempat lain dan telah menjadi sumber keberkatan serta kenikmatan, ia adalah Karbala, yakni tempat dimana jasad seorang Syuhada yang terkenal, yaitu Imam al-Husain (as), terkubur.

“Karbala is normal for us. We always come here. This year they have blocked the path (to Makkah) and no one can go,” said Shukrullah, a white-haired Iranian pilgrim sitting on a rug near one of the gates to the mausoleum.

“Karbala adalah merupakan (tempat) yang biasa bagi kami (untuk melakukan ritual). Kami selalu datang ke sini. Tahun ini, mereka (Arab Saudi) telah memblokade jalan (menuju Makkah) dan tidak ada seorang pun yang dapat pergi menuju (Makkah),” kata Shukrullah, seorang pe-Haji yang memiliki rambut berwarna putih yang berkebangsaan Iran yang sedang duduk di karpet dekat dengan salah satu pintu gerbang makam.

“It’s our duty to come here. This is an Islamic country. It’s good,” he said.

“Ini adalah kewajiban bagi kami untuk datang ke sini (Karbala). Negeri ini adalah negeri Syiah, dan ini adalah kebaikan,” katanya.

Iran has accused Riyadh of incompetence and of failing to investigate the 2015 disaster or take satisfactory precautions for this year’s pilgrimage.

Iran telah menuduh Riyadh mengenai ketidakmampuan serta kegagalan dalam menginvestigasi bencana 2015 atau mengambil tindakan pencegahan yang memuaskan untuk tahun Haji ini.

“The Saudi-Iranian conflict has forced Iranians to come to Karbala to visit the shrine of Imam Hussein,” Mussawi said, adding: “For the Shiites, this is worth 70 hajj.”

“Konflik Saudi-Iran telah memaksa orang-orang Iran untuk datang ke Karbala dalam rangka mengunjungi Kuil Imam Husain,” kata Mussawi, ia menambahkan: “Sedangkan untuk orang-orang yang beragama Syiah, (mengunjungi Kuil Karbala) memiliki nilai yang sama dengan 70 x Haji.”

For the city, which lies about 80 kilometres (50 miles) southwest of Baghdad, the extra influx of pilgrims is nothing out of the ordinary.

Adapun mengenai kota (Karbala), ia berada sekira 80 kilometer (50 mil) sebelah barat daya dari Baghdad, Sedangkan masuknya tambahan pe-Haji bukanlah sesuatu yang luar biasa.

– 10-year wait –

- 10 tahun menunggu -

“We have prepared transport, accommodation and security. We are used to handling bigger occasion such as Arbaeen so we can handle this,” Karbala Governor Aqeel al-Turaihi told AFP.

“Kami telah mempersiapkan transport, akomodasi dan keamanan. Kami sudah terbiasa menangani perayaan yang lebih besar seperti Arba’in, oleh karena itu kami dapat menghandle (Haji alternative) ini,” kata Aqeel al-Turaihi Gubernur Karbala kepada AFP.

In the Friday sermon read by his representative Abdul Mahdi al-Karbalai, Iraq’s top Shiite cleric Ali al-Sistani appealed for respect and tolerance among all Muslims.

Pada khutbah Jum’at yang dibacakan oleh wakilnya Abdul Mahdi al-Karbalai, yakni Ali al-Sistani yang merupakan Pendeta Syiah Irak yang terkenal, menyerukan penghormatan dan toleransi di antara kaum Muslimin.

Yet resentment ran deep in the ranks of the Iranian faithful who were barred from Makkah, where the hajj got under way on Saturday.

Namun kebencian semakin tertanam di dalam hati orang-orang Iran yang dicoret dari Makkah, yang dimana Haji tersebut berlangsung pada hari Sabtu.

“Last year, how many people were killed from all over the world? They (Saudi Wahhabis) killed all of them, but no one did anything to them,” said Shukrullah, sheltering from the midday sun with his family near lockers where the faithful leave their shoes before entering the mausoleum.

“Tahun lalu, berapa banyak orang yang terbunuh yang berasal dari seluruh dunia? Mereka (Saudi Wahabi) telah membantai mereka, akan tetapi tidak ada seorang pun yang melakukan sesuatu kepada mereka,” kata Shukrullah, yang sedang berteduh dari teriknya matahari dengan keluarganya dekat dengan loker-loker yang dimana orang-orang yang beragama Syiah meletakkan sepatunya sebelum memasuki Makam.

Unlike Shukrullah, Nasirah, a woman from the Iranian city of Ahvaz, has not yet performed the hajj and predicted that the substitution trip to Karbala could become a habit.

Tidak seperti Shukrullah, Nasirah, yaitu seorang wanita Iran yang berasal dari kota Ahwaz, yang belum pernah melaksanakan Haji, ia memprediksikan bahwa peralihan perjalanan menuju Karbala dapat dijadikan suatu kebiasaan.

“In Iran, the pilgrims… pay to get a visa and go to hajj. We in Iran wait a long time to get a chance to go. It can take 10 or 15 years,” she said.

“Di Iran, Para Haji… harus membayar visa, sehingga baru dapat pergi Haji. Kami di Iran harus menunggu lama untuk mendapatkan kesempatan berangkat. Hal ini dapat memakan waktu sekira 10 atau 15 tahun lamanya,” katanya.

“So I said let’s go for Arafah day in Karbala,” Nasirah said, referring to a prayer performed by Shiites in Saudi Arabia’s Arafat plain on the second day of hajj.

“Sehingga aku mengatakan, ayo kita pergi untuk hari Arafah di Karbala,” kata Nasirah, yakni berdasarkan dengan doa yang dilakukan oleh orang-orang Syiah di tempat Arafahnya Saudi Arabia yakni pada hari kedua Haji.

“If we are in Karbala, it’s the house of God, it can be considered hajj for us. So for the next few years, we will be coming to Karbala — what can we do?”

“Jika kita berada di Karbala, yang merupakan Baitullah, hal ini dapat dianggap Haji bagi kami. Oleh karena itu untuk tahun-tahun berikutnya, kami pastinya akan datang kembali ke Karbala – lalu apa lagi yang bisa kami perbuat?”

[http://en.abna24.com/service/middle-east-west-asia/archive/2016/09/11/778258/story.html]